Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Keberhasilan suatu industri ditentukan dari produktivitas industri tersebut yaitu perbandingan antara produk yang dihasilkan dengan segala upaya dan pengorbanan yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut. Sehingga semakin kecil pengorbanan yang diberikan semakin produktif pula industri tersebut. Pengorbanan tersebut dapat berupa biaya, tenaga, maupun waktu. Yang harus dilakukan agar memperoleh produktivitas yang tinggi adalah dengan membuat seluruh elemen dalam industri bekerja secara efektif dan efisien. Efektif dapat berarti tepat sasaran dan efisien adalah kemampuan untuk mendapat hasil yang paling maksimal dengan pengorbanan paling minimal. Salah satu cara untuk membuat suatu sistem bekerja secara efektif dan efisien adalah dengan ditetapkannya waktu kerja standar karena waktu merupakan salah satu faktor penting dalam industri yang tentu saja akan berhubungan dengan biaya. Dengan ditetapkannya suatu waktu kerja standar, para pekerja dapat bekerja sesuai standar yang ada sehingga memudahkan pengontrolan dan juga memiliki standar penilaian produktivitas. Terdapat 2 macam metode untuk menghitung waktu kerja, secara langsung yang biasa disebut Direct Time Study (DTS) dan tidak langsung. Dalam praktikum ini, praktikan menggunakan perhitungan waktu kerja secara langsung dengan metode Stopwatch time study dengan alasan metode ini mudah dilakukan karena hanya membutuhkan stopwatch dan observasi langsung. 1.2 Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum stopwatch time study ini adalah: 1. Praktikan dapat menentukan waktu normal, waktu standar dari suatu aktivitas kerja. 2. Dapat menghitung output standar dari suatu aktivitas kerja dengan memperhitungkan faktor performansi kerja (performance rating) dan faktor kelonggaran (allowance). 1.3 Alat dan Bahan Praktikum Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Tamiya Stopwatch Kamera Lembar kerja Alat tulis 1.4 Prosedur Pelaksanaan Praktikum 1. Salah satu anggota kelompok menjadi subjek yang akan melaksanakan aktivitas kerja merakit tamiya.

2. 3. 4. 5. 6.

7.

Satu orang anggota kelompok sebagai pencatat waktu dan satu orang yang lain sebagai pemotret (dokumentasi). Menyiapkan alat dan bahan praktikum. Subjek mencoba merakit tamiya terlebih dahulu. Membagi aktivitas kerja merakit tamiya menjadi beberapa elemen kerja. Subjek merakit tamiya, sementara pencatat waktu melakukan pencatatan waktu untuk setiap elemen kerja. Hasil pengukuran waktu dicatat pada lembar kerja praktikum. Dilakukan pengulangan sebanyak 15 kali untuk kedua metode pencatatan waktu yang digunakan yaitu Snapback Method dan ContinuousTtiming Method.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Stopwatch Time Study Stopwatch time study adalah sistem pegukuran waktu kerja yang diperkenalkan oleh Frederic W. Taylor pada abad 19 yang lalu (Mayers, 1992). Stopwatch time study juga dikenal dengan nama Direct Time Study (DTS) yaitu suatu teknik mengukur waktu kerja menggunakan stopwatch dan observasi langsung saat kerja dilakukan. Dalam Stopwatch time study terdapat 2 metode yang biasa digunakan dalam pengukuran waktu kerja, yaitu: 1. Snapback Timing Method Adalah metode untuk menghitung waktu elemen kerja dengan menyetel stopwatch dari posisi nol setiap kali elemen kerja dilakukan. Sehingga metode ini disebut juga dengan repetitive timing atau pengukuran waktu berulang. Kelemahan dari metode ini adalah terlalu sering menyetel ulang stopwatch sehingga waktu yang digunakan untuk mengukur menjadi lebih lama. Kelebihan dari metode ini adalah kita tidak perlu menghitung lagi untuk mengetahui waktu dari tiap elemen kerja. 2. Continuous Timing Method Adalah metode yang menghitung waktu elemen kerja dengan membiarkan satu siklus kerja berjalan dari awal hingga akhir kemudian baru dihitung di akhir pengukuran. Kelemahan dari metode ini adalah kita perlu jeli dalam melihat perpindahan tiap elemen kerja dan kita juga perlu menghitung lagi untuk mengetahui waktu tiap elemen kerja. Sebenarnya sudah ada stopwatch yang dapat mencatat waktu pengukuran setiap kali kita menekan tombol split atau lap (tergantung jenis stopwatch yang digunakan). Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengukuran waktu standar menggunakan stopwatch time study adalah sebagai berikut: 1. Menentukan metode standar apa yang akan digunakan. 2. Membagi aktivitas kerja yang akan dilakukan menjadi beberapa elemen kerja, kegiatan ini disebut elemental breakdown. 3. Mengukur waktu tiap elemen untuk mengetahui waktu keseluruhan aktivitas kerja sekaligus menentukan performa standar atau yang disebut dengan performa rating guna menentukan waktu normal. 4. Mengecek keseragaman dan kecukupan data. 5. Menentukan waktu standar dengan memperhitungkan waktu normal dan kelonggaran (allowance). Untuk menghitung waktu standar, dapat menggunakan rumus:

Tstd = Tn(1 + Apfd)

Sedangkan untuk menghitung waktu normal dapat menggunakan rumus:

Tn = Tobs x PR Kegunaan waktu standar: 1. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja beserta upahnya. 2. Menjadwalkan produksi dan anggaran. 3. Mengontrol kinerja seorang karyawan. 4. Menjadi tolak ukur atau acuan untuk meningkatkan performansi. 5. Memacu agar karyawan bekerja lebih efektif dan efisien. Dengan mengetahui waktu standar dapat diketahui pula output standar: =

2.2 Tes Keseragaman dan Kecukupan Data Data yang telah dikumpulkan perlu melalui 2 tahap sebelum diolah untuk menentukan waktu standar. 2 tahap tersebut adalah: 1. Tes Keseragaman Data Data-data yang diperoleh akan di periksa apakah seragam atau tidak (ada data yang terlalu menyimpang dari data pada umumnya). Untuk memeriksa apakah data-data tersebut layak dimasukkan ke dalam perhitungan, terlebih dahulu menentukan peta kontrol yang berisi Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB) dari data yang ada. Rumus mencari BKA dan BKB adalah sebagai berikut: Batas Kontrol Atas = X + ks Batas Kontrol Bawah = X - ks
s

X X
N 1

Ket.:
X

N s k

= Data yang di observasi = Jumlah pengamatan yang dilakukan = Standar deviasi = Derajat kepercayaan

Bila ada data yang terletak diluar jangkauan batas kontrol atas dan bawah yang telah dihitung, maka data tersebut tidak perlu dimasukkan dalam perhitungan.

2.

Tes kecukupan data Setelah memeriksa keseragaman data, perlu dilakukan tes kecukupan data untuk mengetahui apakah obervasi yang dilakukan sudah cukup untuk menetapkan suatu standar. Tes kecukupan data dapat dihitung menggunakan rumus: ( )

Ket.: N = Jumlah pengamatan yang dilakukan (setelah melalui tes keseragaman data) N = Jumlah data minimum yang diperlukan z = Tingkat ketelitian k = Indeks kepercayaan x = Data observasi (Nilai k bergantung dari tingkat kepercayaan yang digunakan) Bila N N maka data yang diambil sudah mencukupi batas minimum sehingga tidak perlu penambahan data, namun bila N < N maka perlu dilakukan penambahan data dengan menguji beberapa sampel lagi. 2.3 Tingkat Ketelitian dan Tingkat Kepercayaan Data yang diambil seharusnya berjumlah sangat banyak agar dapat mencerminkan populasi yang sebenarnya, namun dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, tenaga, dan lain-lain maka jumlah sampel yang diambil tidak begitu banyak. Oleh karena itu perlu ditetapkan suatu batas maksimum penyimpangan data sampel dengan data yang sebenarnya atau yang disebut dengan tingkat ketelitian dan juga perlu ditetapkan seberapa besar keyakinan penguji bahwa data yang diambil dapat mewakili data yang sebenarnya atau yang disebut dengan tingkat kepercayaan. Tingkat ketelitian dan tingkat kepercayaan sebenarnya sangat dipengaruhi jumlah sampel yang diambil. Semakin banyak sampel yang digunakan maka tingkat ketelitian akan semakin kecil dan tingkat kepercayaan akan semakin besar. Hal itu berarti data yang diambil semakin mendekati data yang sebenarnya. Perhitungan tingkat ketelitian (z) bergantung dari tingkat kepercayaan (k) yang dipakai. Untuk menghitung tingkat ketelitian data dapat menggunakan rumus:
X

Dimana: z = Tingkat ketelitian s = Standar deviasi sampel X = Rata-rata sampel N = Jumlah sampel

Menurut Nugroho, W.A (2008) nilai k ditentukan bilamana tingkat kepercayaan yang digunakan adalah: 0% sampai 68 % maka nilai k = 1 69% sampai 95 % maka nilai k = 2 96% sampai 99 % maka nilai k = 3 2.4 Performance Rating Menentukan performa seseorang sebenarnya bersifat subjektif, tergantung standar apa yang digunakan oleh si penilai. Namun, para ahli sudah berusaha membuat beberapa metode untuk menentukan performa seorang karyawan agar didapati suatu acuan yang tidak asal-asalan dan tidak terlalu subjektif walaupun sebenarnya dalam metode-metode tersebut dibutuhkan penilaian dari yang menilai yang tentunya masih bersifat subjektif. Pada umumnya, performa kerja seseorang diukur menggunakan persentase. Bila orang tersebut bekerja secara normal, maka performa orang tersebut adalah 100% atau p = 1. Bila orang tersebut bekerja lebih lambat dari keadaan normal, maka performa orang tersebut kurang dari 100% atau p > 1 dan bila orang tersebut bekerja lebih cepat dari keadaan normal, maka dapat ditentukan bahwa performa orang tersebut lebih besar dari 100% atau p < . Terdapat 4 metode yang umum dipakai dalam menghitung performance rating, yaitu: 1. Metode Speed Rating Metode Speed Rating menggunakan kecepatan kerja sebagai acuan dalam memberikan nilai performansi kepada seorang karyawan dengan membandingkannya dengan konsep kenormalan menurut yang pemberi nilai. Tentunya metode ini bersifat sangat subjektif. Tetapi metode ini adalah metode tercepat dan termudah yang paling sering dilakukan. 2. Metode Synthetic Rating Metode Synthetic Rating adalah metode pengukuran waktu kerja yang berdasarkan data yang sudah ada (predetermined time value) kemudian performance rating dihitung menggunakan rumus: R = P/A Ket.: R = Performance rating P = Predetermined time (menit) A = Rata-rata waktu elemen kerja yang diobservasi (menit) 3. Metode Schumard Metode Schumard merupakan metode dalam performance rating yang memberikan penilaian dalam kelas-kelas performance. Kelas-kelas tersebut memiliki nilai sendiri-sendiri. Tabel 2.1 Tabel Penyesuaian Menurut Schumard Kelas Penyesuaian (%) Super fast 100 Fast+ 95 Fast 90

FastExcellent Good+ Good GoodNormal Fair+ Fair FairPoor 4.

85 80 75 70 65 60 55 50 45 40

Sumber:Perancangan Teknik Kerja Sutalaksana, I.Z, dkk, 2006 dalam Manurung, 2009

Metode Westing House Dalam praktikum ini, praktikan menggunakan Metode Westing House, yaitu suatu metode menentukan performa kerja seseorang dengan mempertimbangkan 4 hal, sebagai berikut: a. Kemampuan (skill), diartikan sebagai kemampuan pekerja untuk mengikuti aturan kerja yang telah ditetapkan. b. Usaha (effort), diartikan sebagai kesungguhan dan upaya yang diberikan oleh pekerja saat melakukan aktivitas kerja. c. Kondisi (conditions), kondisi fisik lingkungan kerja, seperti kebisingan, pencahayaan, tata letak ruangan, dan sebagainya. d. Keseragaman atau konsistensi (consistency), kestabilan kerja yang dihasilkan oleh pekerja. Untuk kategori skil, memiliki standar penilaian sebagai berikut: Penilaian Super skill Keterangan Secara bawahan cocok sekali dengan bawahannya. Bekerja dengan sempurna. Tampak seperti telah terlatih dengan baik. Gerakan-gerakannya sangat halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakangerakan mesin. Perpidahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancar. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis). Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang baik. Percaya diri sendiri. Tampak cocok dengan pekerjaanya. Terlihat telah terlatih dengan baik. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

Excellent

1. 2. 3. 4.

5. 6. 7. 8. 9.

pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan. Gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dikerjakan tanpa kesalahan. Menggunakan peralatan dengan baik. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu. Bekerjanya cepat tetapi halus. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi.

Good

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kualitas hasil baik. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerjaan lain yang keterampilannya lebih rendah. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap. Tidak memerlukan banyak pengawasan. Tidak keragu-raguan. Bekerja stabil. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik. Gerakan-gerkannya cepat.

Average

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang perencanaan. Tampak sebagai pekerja yang cakap. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiadanya keragu-raguan. Mengkoordinasikan tangan dan pikiran dengan cukup baik. Tampak cukup terlatih dan mengetahui seluk-beluk pekerjaannya. Bekerja cukup teliti. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

Fair

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Tampak terlatih tapi belum cukup baik. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan gerakan. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup. Tampak sepert tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan dipekerjaan itu cukup lama. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan

8. 9.

sendiri. Jika tidak bekerja dengan sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakangerakannya.

Poor

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran. Gerakan-gerakannya kaku. Kelihatan tidak yakin pada urutan-urutan gerakan. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yng bersangkutan. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaan. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja. Sering melakukan kesalahan-kesalahan. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri.

Untuk kategori effort, memiliki standar penilaian sebagai berikut: Penilaian Super skill Keterangan Kecepatan sangat berlebihan. Usaha sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja.

1. 2. 3.

Excellent

1. 2.

Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi. Gerakan-gerakan lebih ekonomis daripada operatoroperator biasa. 3. Penuh perhatian pada pekerjaannya. 4. Banyak memberi saran-saran. 5. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang. 6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu. 7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari. 8. Bangga atas kelebihannya. 9. Gerakan-gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali. 10. Bekerjanya sistematis. 11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen keelemen lainnya tidak terlihat.

Good

1. 2.

Bekerja berirama. Saat-saat menganggur sangat sedikit bahkan kadangkadang tidak ada. 3. Penuh perhatian pada pekerjaannya. 4. Senang pada pekerjaannya. 5. Kecepatan baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari. 6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu. 7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang hati. 8. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja. 9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi. 10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.

Average

1. 2. 3. 4. 5.

Tidak sebaik good, tetapi lebih baik dari poor. Bekerja dengan stabil. Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya. Set up dilaksanakan dengan baik. Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan.

Fair

1. 2.

Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya. 3. Kurang sungguh-sungguh. 4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya. 5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku. 6. Alat-alat yang dipaki tidak selalu yang terbaik. 7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya. 8. Terlampau hati-hati. 9. Sistematika kerjanya sedang-sedang saja. 10. Gerakan-gerakannya tidak terencana.

Poor

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Banyak membuang-buang waktu. Tidak memperhatikan adanya minat bekerja. Tidak mau menerima saran-saran. Tampak malas dan lambat bekerja. Melakuka gerakan-gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat-alat dan bahan-bahan. Tempat kerjanya tidak diatur rapi. Tidak peduli pada cocok/ baik tidaknya peralatan yang dipakai. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur. Set up kerjanya terlihat tidak baik.

Untuk kategori condition, tidak dapat diberi standar penilaian karena kondisi lingkungan fisik tiap pekerjaan berbeda satu dengan yang lainnya, karena semua itu tergantung jenis pekerjaan yang dilakukan. Misalnya untuk pekerjaan A kondisi dengan cahaya redup sangat baik, namun tidak demikian dengan pekerjaan B yang membutuhkan cahaya yang cukup. Namun intinya, kondisi-kondisi yang mendukung suatu aktivitas akan mendapat nilai yang baik pula. Untuk kategori consistency, juga hanya tergantung dari si pemberi nilai, karena pada kenyataannya waktu yang dibutuhkan pekerja untuk melakukan satu siklus berubah-rubah, sehingga untuk menentukan nilainya hanya bergantung pada standar penilaian subjektif si pemberi nilai. Setelah semua kategori diberi penilaian menurut kelas-kelas yang ada, kemudian hasil penilaian tersebut dicocokkan ke dalam tabel standar.
Tabel 2.1 Performance Rating Sistem Westing House Skill Effort Condition Consistency +0.15 A1 Superskill +0.16 A1 Superskill +0.06 A Ideal +0.04 A Ideal +0.13 A2 +0.12 A2 +0.11 B1 Excellent +0.08 B2 +0.06 C1 Good +0.03 C2 0.00 D Average -0.05 E1 Fair -0.10 E2 +0.10 B1 Excellent +0.08 B2 +0.05 C1 Good +0.02 C2 0.00 D Average -0.04 E1 Fair -0.08 E2 +0.04 B Excellent +0.03 B Excellent

+0.02 C Good

+0.01 C Good

0.00 D Average -0.03 E Fair

0.00 D Average -0.02 E Fair

-0.16 F1 Poor -0.12 F1 Poor -0.07 F Poor -0.04 F Poor (Sumber : Wignjosoebroto, Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu)

Setelah angka untuk tiap kategori dijumlah, kita dapat menentukan performance rating dengan rumus 1 + angka hasil perhitungan Westing House. 2.5 Allowance Kelonggaran atau allowance adalah waktu yang diberikan kepada pekerja untuk tidak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan tersebut dalam satu siklus kerja. Tujuan dari pemberian waktu kelonggaran ini adalah untuk memberikan rasa aman pada para pekerja agar produktivitas tidak menurun dan stamina tetap terjaga. Menurut Manurung (2009) macam-macam kelonggaran yang diberikan tersebut adalah: 1. Personal allowance Adalah kelonggaran yang berhubungan dengan diri fisik dan psikologi pekerja. Misalnya waktu kelonggaran yang diberikan kepada seorang pekerja untuk ke kamar kecil, untuk menghilangkan rasa haus, dan sebabaginya.

Kebutuhan-kebutuhan ini mutlak diperlukan bagi seorang pekerja agar perasaan aman dan nyaman tetap terjaga. 2. Delay allowance Adalah kelonggaran yang diberikan kepada pekerja untuk menghadapi sesuatu yang terjadi diluar dugaan. Misalnya untuk menerima telepon penting, dipanggil oleh atasan saat bekerja, terjadi kecelakaan saat bekerja, diajak mengobrol oleh rekan kerja, dan sebagainya yang bersifat mendadak dan tidak selalu mutlak diperlukan. 3. Fatigue allowance Adalah kelonggaran yang diberikan kepada pekerja untuk melakukan istirahat sejenak akibat kelelahan. Istirahat yang dimaksud dapat hanya berupa peregangan otot, berdiri untuk mengatasi kesemutan, memijat-mijat pundak, dan sebagainya.

BAB III HASIL DAN PENGOLAHAN DATA

3.1 Hasil Praktikum Dalam praktikum merakit tamiya, praktikan telah membagi kegiatan tersebut menjadi 5 elemen kerja, yaitu: 1. Memasang velg ke ban.

2. Pemasangan ban depan ke ash dan ke badan tamiya.

3. Pemasangan ban belakang ke badan tamiya beserta penghubung roda depan dan belakang.

4. Merakit dinamo

5. Memasang dinamo ke badan tamiya dan finishing

3.2 Hasil dan Pengolahan Data untuk Metode Snapback Dengan menggunakan metode Snapback diperoleh data pengukuran sebagai berikut:
Tabel 3.1Data Waktu Elemen Kerja menggunakan Metode Snapback (detik) Percobaan ke1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Rata-rata 12.6 14.9 12 11.8 11.6 11 15.7 11.4 12.4 10.5 11.6 12.7 11.8 10.1 10.4 12.03333 2 20.4 28.9 16.2 25.2 21.2 14.7 15.5 14.8 15 17.5 18.2 21.1 20.9 12.6 17.4 18.64 Elemen Kerja 3 32.4 26.1 25.3 30.8 28.7 26 26 21.2 25.6 25.7 26.9 25.3 27.1 26.2 26.5 26.65333 4 16.7 16 16.2 16.5 15 14 8.5 15.4 10.2 11.3 11.4 14.6 12.8 15.3 11.8 13.71333 5 32.2 25.6 20.1 22.2 19.6 20.8 18.8 19.4 20.5 21.4 19.1 22.5 17.1 18.6 19.1 21.13333 Total siklus kerja 114.3 111.5 89.8 106.5 96.1 86.5 84.5 82.2 83.7 86.4 87.2 96.2 89.7 82.8 85.2 92.17333

3.2.1 Penentuan Performance Rating Selama perhitungan waktu elemen kerja menggunakan metode Snapback, operator menunjukkan kinerja (berdasarkan Westing House) sebagai berikut:
Tabel 3.2 Hasil Penentuan Performance Rating metode Snapback menggunakan Westing House

Fair skill (E1 = -0.05)

Average effort (C2 = 0.00)

Average condition (D = 0.00)

Good consistency (C = +0.01) Total Performance rating

Karena operator tampak terlatih walaupun belum cukup baik karena terkadang terjadi beberapa kesalahan sehingga membuang waktu. Karena operator mengatur tempat kerjanya terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan. Operator juga mengerti akan kebaikan dari pengukuran waktu dan juga menerima masukan dengan senang hati. Karena operator memilih tempat bekerja diluar ruangan sehingga saat menjelang sore, operator mengalami penurunan produktivitas akibat penerangan yang kurang dan akibatnya harus berpindah ke dalam ruangan agar mendapat penerangan yang cukup dan nyaman di mata. Meja untuk meletakkan bagian-bagian tamiya kurang besar. Karena sangat jarang operator melakukan kesalahan dan dalam semua percobaan cukup konsisten dalam bekerja. -0.05 + 0.00 + 0.00 + 0.01 = -0.04 1+ (-0.04) = 0.96

3.2.2 Tes Keseragaman Data Berikut adalah hasil tes keseragaman data untuk elemen kerja yang waktunya diukur menggunakan metode Snapback: Dengan menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% (k = 2) didapatkan data:
Tabel 3.3 Hasil Tes Keseragaman Data pada Metode Snapback Percobaan ke1 12.6 14.9 12 11.8 11.6 11 15.7 8 11.4 9 10 11 12 13 14 15 Rata-rata 12.4 10.5 11.6 12.7 11.8 10.1 10.4 12.033 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Ket. Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Tidak seragam Seragam Elemen Kerja 2 20.4 28.9 16.2 25.2 21.2 14.7 15.5 Seragam 14.8 15 17.5 18.2 21.1 20.9 12.6 17.4 18.64 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam 21.2 25.6 25.7 26.9 25.3 27.1 26.2 26.5 26.653 Ket. Seragam Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam 26 Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam 3 32.4 26.1 25.3 30.8 28.7 26 Ket. Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam

1 2 3 4 5 6 7

Standar Deviasi (s) BKA BKB Jumlah observasi yang sah

1.54164 15.11662 8.950045 14

4.3749 27.38979 9.890208 14

2.55619 31.7657 21.54096 13

Tabel 3.4 Hasil Tes Keseragaman Data pada Metode Snapback (lanjutan) Percobaan keElemen Kerja 4 1 16.7 2 3 4 5 6 7 8.5 8 9 10 11 12 13 14 15 Rata-rata Standar Deviasi (s) BKA BKB Jumlah observasi yang sah 15.4 10.2 11.3 11.4 14.6 12.8 15.3 11.8 13.71333 2.55199 18.81732 8.609348 14 16 16.2 16.5 15 14 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Ket. Seragam 5 32.2 25.6 20.1 22.2 19.6 20.8 18.8 19.4 20.5 21.4 19.1 22.5 17.1 18.6 19.1 21.13333 3.67261 28.47856 13.7881 14 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Ket. Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam

Tabel 3.5Data Waktu Elemen Kerja pada Metode Snapback (detik) yang baru Percobaan ke1 1 12.6 2 20.4 Elemen Kerja 3 4 16.7 5 -

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 x Rata-rata x2 (x)2 S

14.9 12 11.8 11.6 11 11.4 12.4 10.5 11.6 12.7 11.8 10.1 10.4 164.8 11.707 1958.8 27159.04 1.2048

16.2 25.2 21.2 14.7 15.5 14.8 15 17.5 18.2 21.1 20.9 12.6 17.4 250.7 17.715 4644.49 62850.49 3.45487

26.1 25.3 30.8 28.7 26 26 25.6 25.7 26.9 25.3 27.1 26.2 26.5 346.2 26.630 9248.28 119854.4 1.546709

16 16.2 16.5 15 14 15.4 10.2 11.3 11.4 14.6 12.8 15.3 11.8 197.2 13.884 2839.76 38887.84 2.18486

25.6 20.1 22.2 19.6 20.8 18.8 19.4 20.5 21.4 19.1 22.5 17.1 18.6 19.1 284.8 19.938 5851.26 81111.04 2.1052

3.2.3 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Konsep tingkat ketelitian dan tes kecukupan data perlu diperhatikan dengan lebih seksama agar tidak membingungkan. - Bila jumlah observasinya tetap (fix), maka tingkat ketelitian dapat dihitung menggunakan rumus:
X

Sebaliknya, bila tingkat ketelitian yang dianggap tetap (fix), maka jumlah observasi yang seharusnya dilakukan dapat dihitung menggunakan rumus: ( )

Berikut adalah hasil perhitungan tingkat ketelitian (z) dan tes kecukupan data (N) untuk elemen kerja 1 sampai 5 dengan menggunakan metode Snapback dalam pengukuran waktu kerjanya.
Tabel 3.6 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 1 Metode Snapback Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 14

15.56 16 observasi

Tabel 3.7 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 2 Metode Snapback Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 14

55.3 56 observasi

Tabel 3.8 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 3 Metode Snapback Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 13

4.98 5 observasi

Tabel 3.9 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 4 Metode Snapback Tingkat ketelitian yang akan Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 didapat bila N = 14 36 observasi

Tabel 3.10 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 5 Metode Snapback Tingkat ketelitian yang akan Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 didapat bila N = 14

15.9 16 observasi

3.2.4 Perhitungan Waktu Normal, Waktu Standar, dan Output Standar Berdasarkan data yang telah diolah, didapatkan waktu observasi untuk merakit 1 buah tamiya adalah 83.69 detik (kurang lebih 1 menit 24 detik). Dari waktu observasi dapat dihitung waktu normal, waktu standar, serta output standar dalam merakit sebuah tamiya dengan memperhitungkan performance rating yang telah ditentukan yaitu 0.96 dan allowance standar sebesar 15%, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.11 Perhitungan Waktu Normal, Waktu Standar, dan Output StandarMetode Snapback Waktu Normal Waktu Standar Output Standar Tn = Tobs x PR Tstd = Tn(1 + Apfd) Ostd = 1/Tstd = 89.874 x 0.96 = 83.69 (1 + 0.15) = 1/96.24 = 83.69 detik = 96.24 detik = 0.0104 unit/detik = 0.0104 x 3600/jam = 37.44 unit/jam 37 unit/jam

3.3 Hasil dan Pengolahan Data untuk Metode Continuous Timing Dengan menggunakan metode Continuous Timing diperoleh data pengukuran sebagai berikut:
Tabel 3.1Data Waktu Elemen Kerja menggunakan Metode Continuous (detik) Percobaan ke1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10.6 11.7 11.2 12.2 11.1 8.5 9.8 9.4 12.9 10.9 2 23.7 13.7 14.2 12.8 12.9 14.5 13.8 15.7 21.2 15.4 Elemen Kerja 3 29.6 28.5 26.7 32.1 21.9 26.7 22.4 21.2 24.9 36.9 4 14.6 19.2 16 42.8 25.1 13.4 16.6 17.4 28.3 15.7 5 28.9 24.8 21.2 24.3 20.8 20.6 18.9 20.1 16.3 15.1 Total siklus kerja 107.4 97.9 89.3 124.2 91.8 83.7 81.5 83.8 103.6 94

11 12 13 14 15 Rata-rata

8.7 9.4 11 8.7 8.8 10.32667

16.4 15.5 15.4 15.9 16 15.80667

20.8 27 30.4 21.2 24.6 26.32667

16.6 18 15.8 18 18.8 19.75333

32.9 15.9 23.4 14.9 22.9 21.4

95.4 85.8 96 78.7 91.1 93.61333

3.3.1 Penentuan Performance Rating Selama perhitungan waktu elemen kerja menggunakan metode Continuous, operator menunjukkan kinerja (berdasarkan Westing House) sebagai berikut:
Tabel 3.2 Hasil Penentuan Performance Rating metode Continuous menggunakan Westing House Average Skill (D = 0.00) Efek learning curve menyebabkan operator lebih cakap dalam mengerjakan aktivitas dibandingkan sebelumnya (pengukuran menggunakan metode Snapback). Good effort (C2 = +0.02) Karena operator mengatur tempat kerjanya terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan. Operator juga mengerti akan kebaikan dari pengukuran waktu dan juga menerima masukan dengan senang hati. Good condition (C = +0.02) Karena tempat melakukan kegiatan merakit tamiya memiliki penerangan yang cukup, namun meja tempat meletakkan bagian-bagia tamiya terlalu kecil sehingga terkadang ada bagian yang terjatuh. Good consistency (C = +0.01) Karena sangat jarang operator melakukan kesalahan dan dalam semua percobaan cukup konsisten dalam bekerja. Total 0.00 + 0.02 + 0.02 + 0.01 = +0.05 Performance rating 1+ 0.05 = 1.05

3.3.2 Tes Keseragaman Data Berikut adalah hasil tes keseragaman data untuk elemen kerja yang waktunya diukur menggunakan metode Continuous: Dengan menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% (k = 2) didapatkan data:
Tabel 3.12 Hasil Tes Keseragaman Data yang menggunakan Metode Continuous Percobaan ke1 1 10.6 2 3 4 5 6 11.7 11.2 12.2 11.1 8.5 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Elemen Kerja Ket. Seragam 23.7 13.7 14.2 12.8 12.9 14.5 2 Ket. Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam 3 29.6 28.5 26.7 32.1 21.9 26.7 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Ket. Seragam

7 8 9 10

9.8 9.4 12.9 10.9

Seragam Seragam Seragam Seragam

13.8 15.7 21.2 15.4

Seragam Seragam Seragam Seragam

22.4 21.2 24.9 36.9

Seragam Seragam Seragam Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam

11 12 13 14 15 Rata-rata Standar Deviasi (s) BKA BKB Jumlah observasi yang sah

8.7 9.4 11 8.7 8.8 10.32667 1.39359 13.11385 7.539485

Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam

16.4 15.5 15.4 15.9 16 15.80667 2.95767 21.72201 9.891327

Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam

20.8 27 30.4 21.2 24.6 26.32 4.637 35.60074 17.0526

15

14

14

Tabel 3.13 Hasil Tes Keseragaman Data yang menggunakan Metode Continuous (lanjutan) Percobaan keElemen Kerja 4 1 2 3 4 42.8 5 6 7 8 9 10 11 16.6 12 13 14 15 Rata-rata Standar Deviasi (s) 18 15.8 18 18.8 19.75333 7.45768 Seragam Seragam Seragam Seragam 25.1 13.4 16.6 17.4 28.3 15.7 14.6 19.2 16 Ket. Seragam Seragam Seragam Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam 32.9 15.9 23.4 14.9 22.9 21.4 5.08429 5 28.9 24.8 21.2 24.3 20.8 20.6 18.9 20.1 16.3 15.1 Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Tidak seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Seragam Ket. Seragam Seragam Seragam Seragam

BKA BKB Jumlah observasi yang sah

34.66869 4.837979

31.56858 11.23142

14

14

Tabel 3.14Data Waktu Elemen Kerja menggunakan Metode Continuous (detik) yang baru Percobaan ke1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 x Rata-rata x2 (x)2 S 10.6 11.7 11.2 12.2 11.1 8.5 9.8 9.4 12.9 10.9 8.7 9.4 11 8.7 8.8 154.9 10.32667 1626.79 23994.01 1.393591 2 13.7 14.2 12.8 12.9 14.5 13.8 15.7 21.2 15.4 16.4 15.5 15.4 15.9 16 213.4 15.24286 3308.54 45539.56 2.070197 Elemen Kerja 3 29.6 28.5 26.7 32.1 21.9 26.7 22.4 21.2 24.9 20.8 27 30.4 21.2 24.6 358 25.57143 9335.82 128164 3.733925 4 14.6 19.2 16 25.1 13.4 16.6 17.4 28.3 15.7 16.6 18 15.8 18 18.8 253.5 18.10714 4799.71 64262.25 4.014869 5 28.9 24.8 21.2 24.3 20.8 20.6 18.9 20.1 16.3 15.1 15.9 23.4 14.9 22.9 288.1 20.57857 6148.89 83001.61 4.11567

3.3.3 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Konsep yang sama dengan metode Snapback mengenai tingkat ketelitian dan tes kecukupan data juga berlaku untuk metode Continuous. - Bila jumlah observasinya tetap (fix), maka tingkat ketelitian dapat dihitung menggunakan rumus:
X

Sebaliknya, bila tingkat ketelitian yang dianggap tetap (fix), maka jumlah observasi yang seharusnya dilakukan dapat dihitung menggunakan rumus:

Berikut adalah hasil perhitungan tingkat ketelitian (z) dan tes kecukupan data (N) untuk elemen kerja 1 sampai 5 dengan menggunakan metode Continuous dalam pengukuran waktu kerjanya.
Tabel 3.15 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 1 metode Continuous Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 15

27.2 28 observasi

Tabel 3.16 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 2 metode Continuous Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 14

19.9 20 observasi

Tabel 3.17 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 3 metode Continuous Tingkat ketelitian yang Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 akan didapat bila N = 14

29.4 30 observasi

Tabel 3.18 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 4 metode Continuous Tingkat ketelitian yang akan Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 didapat bila N = 14

74 observasi

Tabel 3.19 Tingkat Ketelitian dan Tes Kecukupan Data Elemen Kerja 5 metode Continuous Tingkat ketelitian yang akan Tes Kecukupan Data dengan z = 5% dan k=2 didapat bila N = 14

59.4 60 observasi

3.2.4 Perhitungan Waktu Normal, Waktu Standar, dan Output Standar Berdasarkan data yang telah diolah, didapatkan waktu observasi untuk merakit 1 buah tamiya adalah 89.827 detik (kurang lebih 1 menit 40 detik). Dari waktu observasi dapat dihitung waktu normal, waktu standar, serta output standar dalam merakit sebuah tamiya dengan memperhitungkan performance rating yang telah ditentukan yaitu 1.05 dan allowance standar sebesar 15%, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.11 Perhitungan Waktu Normal, Waktu Standar, dan Output StandarMetode Continuous Waktu Normal Waktu Standar Output Standar Tn = Tobs x PR Tstd = Tn(1 + Apfd) Ostd = 1/Tstd = 89.827 x 1.05 = 94.32 (1 + 0.15) = 1/108.47 = 94.32 detik = 108.47 detik = 0.00995 unit/detik = 0.00995 x 3600/jam = 35.8 unit/jam 36 unit/jam

BAB IV DAFTAR PUSTAKA Fred E. Meyers. 1992. Motion and Time Study Improving Work Methods and Management. Prentice Hall Inc Nugroho, W.A. 2008. Perancangan Ulang Alat Pengupas Kacang Tanah untuk Meminimalkan Waktu Pengupasan. (Ditulis Dalam Rangka Memenuhi Kewajiban Tugas Akhir untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta) Manurung, W.J.E. 2009. Usulan Perbaikan Metode Kerja Pada Proses Sortasi Rubber Smoke Sheet di Pabrik Karet PT. Perkebunan Nusantara III Gunung Para. (Ditulis Dalam Rangka Memenuhi Kewajiban Tugas Akhir untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara) Wignjosoebroto, Sritomo. 2000. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. Edisi Pertama, Cetakan Kedua. Surabaya: Guna Widya