Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Sistem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra. Sistem ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang merupakan hasil sisa metabolisme (Soewolo, 2003). Ginjal yang mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa proses, yaitu: 1) Filtrasi Glomerular, yaitu filtrasi plasma darah oleh Glomerulus 2) Reabsorpsi tubular, melakukan reabsorpsi (absorpsi kembali) secara selektif zat zat seperti garam, air, gula sederhana, asam amino dari tubulus ginjal ke kapiler peritubular. 3) Sekresi peritubular, sekresi zat zat dari kapiler darah ke dalam lumen tubulus, proses sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic dan ion hydrogen, yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat zat yang mungkin merugikan. Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir melalui uretra, meninggalkan tubuh melaluipenis (pria) dan vulva (wanita).

A. keasaman (pH) Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asambasa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obatobatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine. Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap
1

albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat. Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :

pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.

pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

B. Berat Jenis Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai 1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine. BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa.

C. Kandungan Kimia dalam Urin: Glukosa Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan
2

peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.

Protein Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria. Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.

Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan mukoprotein.

Bilirubin Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik.

Urobilinogen Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui

aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal. Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat. Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit lainnya, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. 1. Pemeriksaan Makroskopik Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin. Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yag akurat. Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria). Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

Merah Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.

Oranye Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.

Kuning Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.

Hijau Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.

Biru Tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.

Coklat Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.

A.

Hitam atau hitam kecoklatan Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.

2. Analisis Dipstik

Dipstick adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Urine dipstik merupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai penyakit. Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.

Prosedur:

Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan kelebihan urine dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual. Urine yang normal memiliki cirri-ciri antara lain: warnanya kuning atau kuing gading, transparan, pH berkisar dari 4,6-8,0 atau rata-rata 6, berat jenis 1,001-1,035, bila agak lama berbau seperti amoniak (Basoeki, 2000). Unsur-nsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang lebih dari 25-30 gram dalam urine. Urea ini merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia. Ekskresi urea meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti pada demam, diabetes, atau aktifitas korteks adrenal yang berlebihan. Jika terdapat penurunan produksi urea misalnya pada stadium akhir penyakit hati yang fatal atau pada asidosis karena sebagian dari nitrogen yang diubah menjadi urea dibelokkan ke pembentukan amoniak (Soewolo, 2003). Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (berkisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urine menjadi alkali karena perubahan urea menjadi ammonia dan kehilangan CO2 di udara. Urine menjadi alkali pada alkalosis seperti setelah banyak muntah. Pigmen utama pada urine adalah urokrom, sedikit urobilin dan hematofopirin (Soewolo, 2003). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urine sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urine. Selain urine juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam
7

mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urine sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urine sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urine dan mengubah zat-zat di dalam urine dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.

BAB III METODELOGI PRAKTIKUM

1. Uji Makroskopis Urin a. Tes Warna Alat dan Bahan Prosedur

: Urin, tabung reaksi :

Isilah tabung reaksi kira-kira setinggi 1cm, perhatikan warna urin pada sikap miring.

Warna dinyataka dengan : tidak berwarna, kuning muda, kuning tua, kuning, kuning campur merah, hijau, coklat, dan seperti susu.

b. Kejernihan Alat dan Bahan Prosedur

: Urin, tabung reaksi :

Isilah tabung reaksi kira-kira setinggi 1cm, perhatikan kejernihan urin pada sikap miring ke ara cahaya.

Kejernihan dinyatakan dengan : jernih, agak keruh, keruh dan sangat keruh.

c. Bau Urin Alat dan Bahan Prosedur : Urin, tabung reaksi :

Isilah tabung reaksi dengan urin, cium aroma urin. Harus dibedakan : bau yang semula ada, dan bau yang timbul dari urin tanpa pengawet. Urin yang normal memiliki bau seperti amoniak.

2. Tes Pemeriksaan Kimia Urin a. Uji pH, protein, dan glukosa dengan carik celup Alat dan Bahan Prosedur : Urin, tabung reaksi, strip uji :

Isilah tabung reaksi dengan urin. Masukkan carik celup sampai terendam urin, angkat.

Bandingkan wara pada carik celup dengan skala warna standar pada botol kemasan strip. b. Uji Reduksi Urin (Reaksi Benedict) Alat dan Bahan : Urin, 2 buah tabung reaksi, penjepit tabung, rak tabung, reagen Prosedur : benedict, api bunsen, dan pipet tetes.

Masukkan 5 ml reagen benedict ke dalam masing masing tabung reaksi ( 1 tabung blanko, 1 tabung uji). Tambahkan 5-8 tetes urin pada tabung uji. Panaskan tabung dan isinya sampai mendidih sambil digoyang-goyangkan. Angkat, goyangkan, bandingkan dengan blanko, dan baca hasilnya. Penilaian : Tanda + ++ +++ ++++ Keterangan Tetap biru jernih Hijau kekuning-kuningan dan keruh Kuning keruh Jingga atau warna lumpur Merah keruh

c. Pemeriksaan Berat Jenis Urin 1. Metode piknometer Alat dan Bahan : urin, aqua dest, piknometer, timbangan digital. Prosedur : Timbang berat pikno kosong (W1). Isi dengan aqua dest, timbang berat pikno+air (W2). Keringkan pikno. Isi dengan sampel urin, timbang berat pikno+urin (W3). Masing-masing lakuka sebanyak 3x, cari berat rata-rata. Hitung BJ dengan rumus 2. Metode Urinometer Alat dan Bahan : urin, gelas ukur 50mL, urinometer. Prosedur :

10

Tuang urin ke dalam gelas ukur hingga batas miniskus 50mL, buang busa pada lapisan atas dengan sepotong kertas saring. Masukkan urinometer yang sesuai ke dalam gelas ukur, putar urinometer supaya tidak menempel pada dinding gelas. Baja BJ urin dengan memperhatikan skala yang tertera pada urinometer. d. Pemeriksaan Protein Urin Alat dan Bahan Prosedur : urin, 2 buah tabung reaksi, pereaksi Asam sulfosalisilat 20% :

Masukkan kurang lebih 2mL urin ke dalam masing-masing tabung (1 blanko, 1 uji). masukkan beberapa tetes asam sulfosalisilat 20% ke dalam tabung uji, lalu kocok dan bandingkan. Penilaian : Tanda + ++ +++ ++++ Tidak ada kekeruhan Kekeruhan ringan tanpa butir-butir, kadar protein 0,01-0,05% Tampak butir-butir dan keruh, kadar protein 0,05-0,2% Kekeruhan berkeping-keping, kadar protein 0,2-0,5% Sangat keruh, berkeping-keping besar, bergumpal atau memadat, kadar protein >5% Keterangan

11

BAB IV HASIL & PEMBAHASAN

A. Tabel Hasil Pengamatan:


1. Uji Makroskopis Urin No 1 2 3 4 5 Nama Mahasiswa Ristia N Welly W Adi S Fathia Garnisa Nurul Khotimah Uji Warna Kuning keemasan Kuning Kuning Kuning Kuning Kejernihan Jernih Jernih Jernih Jernih Jernih Bau Urin Mirip Amoniak Mirip Amoniak Mirip Amoniak Mirip Amoniak Mirip Amoniak

2. Uji Kimia pada Urin


No 1 2 3 4 5 Nama Ristia N Welly W Adi S Fathia G Nurul K Berat Jenis (g/ml) Piknometer 1,0117 1,0018 1,0120 1,0052 1,0142 Urinometer 1,006 1,006 1,006 1,018 1,012 Uji Benedict + Tes Carik Celup Glukosa Protein 0,15 pH 6,5 6,5 7,5 6 7 Uji Protein (As.sulfosalisilat 20%) -

B. Pembahasan
Urinalisis merupakan istilah untuk tes urin secara umum, tes ini dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan seseorang, mendiagnosis kondisi medis, dan untuk mengetahui ada atau tidak adanya kelainan metabolisme dalam tubuh seseorang. Tes pada urinalisis terdiri dari dua, yaitu tes makroskopis urin dimana dilakukan pengamatan urin secara organoleptik (visual) meliputi uji warna, kejernihan, serta bau (aroma). Yang kedua adalah tes kimia urin, meliputi uji pH, pemeriksaan reduksi urin seperti uji terhadap glukosa dengan pereaksi
12

benedict, tes carik celup, berat jenis urin, serta pemeriksaan protein urin dengan pereaksi asam sulfosalisilat 20%. Urin mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat bersih, berwarna kuning atau kuning gading, bila agak lama berbau seperti amoniak. Bila tidak, maka ada maslah dalam tubuh seseorang. Kesehatan yang bermasalah biasanya ditunjukkan oleh kekeruhan, aroma yang tidak biasa, dan warna abnormal. Dari data tabel hasil praktikum makroskopis urin, kelima sampel urin yang digunakan menunjukkan hasil pengamatan makroskopis yang sesuai dengan teori, dimana semua urin berwarna kuning, jernih, dan berbau seperti amoniak. Tes pada urinalisis berikutnya adalah tes kimia urin. Selain memenuhi kriteria pada hasil uji makroskopis, urin dikataka normal jika memiliki pH berkisar antara 4,6 - 8,0 (ratarata 6) dengan berat jenis berkisar antara 1,001 1,0350. Berat jenis berbanding lurus dengan osmolalitas urin, yang mengukur konsentrasi zat terlarut dalam urin, juga mengukur kepadatan air seni yang dipakai untuk menilai kemampuan ginjal dalam memekatkan dan mengencarkan urin. Dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan metode piknometer dan dengan metode urinometer. Metode pinkometer lebih efektiv dan akurat dibandingkan dengan metode urinometer, karena pada metode urinometer perhitungannya menggunakan data hasil pembacaan skala, yang memungkinkan adanya perbedaan pembacaan skala dari setiap individu, sehingga dikatakan kurang akurat. Level pH pada urin mengindikasikan kadar asam di urin, jika pH urin tidak normal bisa bermakna gangguan ginjal atau pada saluran kencing. Untuk mengetahui pH pada urin dilakukan tes carik celup, yang menggunakan satu strip kertas uji yang dicelupkan ke dalam urin. Kertas tersebut mengandung zat atau bahan yang dapat bereaksi dengan urin yang akan menunjukkan hasil yang dapat diketahui dengan cara membandingkan dengan skala rujukan yang telah tersedia (biasanya menempel pada botol kemasan strip uji). Selain uji pH pada metode carik celup pun dapat dipakai untuk menguji protein albumin, strip uji mengandung indikator warna bromphenol blue yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, prostein, Bence-Jones, dan mukoprotein. Untuk mendeteksi adanya protein Bence-Jones diguakan pereaksi asam sulfosalisilat, dimana pereaksi ini akan bereaksi dengan protein, jika hasil uji didapatkan kekeruhan maka dapat dikatakan bahwa dalam urin tersebut mengandung protein Bence-Jones. Keberadaan protein dalam urin diindikasikan adanya gangguan atau penurunan fungsi ginjal dalam menyaring atau memfilter molekul-molekul besar. Seperti kita ketahui bahwa protein merupakan makromolekul yang seharusnya dapat tersaring dalam ginjal.

13

Sedangkan uji benedict dilakukan untuk mendeteksi keberadaan gula pereduksi, seperti glukosa. Molekul gula memiliki gugus aldehid/keton bebas yang mereduksi ion cupri menjadi cuprioksida yang tidak larut dalam air dan menyebabkan kekeruhan. Kekeruhan ini menandakan adanya glukosa dalam urin, yang mengindikasikan adanya penyakit diabetes mellitus pada tubuh seseorang. Dari data tabel hasil praktikum kimia urin, didapatkan hasil pengujian terhadap BJ dimana kelima sampel urin memiliki BJ normal atau ada dalam rentang BJ normal yaitu antara 1,001 1,0350. Dapat dikatakan bahwa kerja ginjal dalam memekatkan urin adalah normal / tidak ada gangguan. Untuk pengujian pH dengan carik celup didapatkan hasil yang normal, dimana pH dari semua sampel urin masuk dalam rentang pH normal yaitu antara 4,6 - 8,0 (rata-rata 6). Dapat dikatakan bahwa tidak ada kelainan pada ginjal atau saluran kencing. Untuk uji protein dengan tes carik celup didapatkan hasil positif pada sampel kelompok 4, dimana ditemukan protein dengan nilai sesuai skala yang ada yaitu sebesar 0,15. Dapat dikatakan bahwa adanya klainan pada ginjal sehingga ginjal telah mengalami penurunan fungsi dalam menyaring protein. Sedangkan untuk uji protein dengan pereaksi asam sulfosalisilat menunjukkan hasil negatif. Dapat dikatakan bahwa kelima sampel urin tidak mengandung protein Bence-Jones. Sedangkan untuk uji benedict, didapatkan hasil positif pada sampel urin kelompok 4. Ini menunjukkan adanya molekul glukosa yang terkandung dalam urin. Hal ini dapat mengindikasikan adanya potensi penyakit diabetes mellitus pada sukarelawan tersebut.

14

BAB V KESIMPULAN

Urinalisis adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang melalui serangkaian uji terhadap urin sebagai hasil sisa metabolisme. Uji pada urinalisis terdiri dari uji makroskopik urin meliputi uji terhadap warna, kejernihan, serta bau (aroma urin). Hal ini digunakan untuk mengetahui kenormalan urin berdasarkan visual. Urin yang normal memiliki warna kuning, jernih, dan berbau seperti amoniak. Jika hasil uji tidak menunjukkan demikian, maka dapat disimpulkan sementara bahwa terjadi kelainan metabolisme pada tubuh seseorang. Yang kedua adalah uji kimia pada urin, meliputi uji berat jenis, pH, glukosa, protein, dan reduksi gula pada urin. Uji berat jenis urin digunakan untuk mengukur kepadatan air seni serta untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. Urin yang normal memiliki BJ antara 1,001-1,035. Selanjutnya adalah uji pH pada urin, level pH pada urin mengindikasikan kadar asam di urin. Jika pH urin tidak normal bisa bermakna gangguan ginjal atau pada saluran kencing, pH normal urin berkisar antara 4,6-8,0. Lalu uji protein dengan pereaksi asam sulfo salisilat 20%, uji ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan ginjal dalam menyaring molekul. Yang terakhir adalah uji reduksi glukosa dengan pereaksi benedict. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya glukosa yang ditemukan pada urin, yang mengindikasikan penyakin diabetes mellitus. Dari hasil praktikum uji makroskopik pada urin, semua sampel urin menunjukkan hasil pengamatan makroskopis yang sesuai dengan teori, dimana semua urin berwarna kuning, jernih, dan berbau seperti amoniak. Sedangkan pada uji kimia urin, didapat BJ normal, yaitu antara 1,001-1,035. Begitupun dengan pH, semua sampel urin memiliki pH normal, yaitu antara 4,6-8,0. Pada uji reduksi urin dengan pereaksi benedict didapatkan hasil positif pada sampel urin kelompok 4, hal ini mengindikasikan adanya potensi diabetes mellitus pada tubuh sukarelawan. Pada uji protein dengan metode carik celup, didapatkan haasil positif pada sampel urin kelompok 4, hal ini berarti terdapat protein albumin pada sampel urin tersebut. Sedangkan pengujian protein dengan pereaksi Asam sulfosalisilat 20%
15

didapatkan hasil negatif pada semua sampel urin, dapat dikatakan bahwa semua sampel urin tersebut tidak mengandung protein Bence-Jones.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ivanhoesada.com/id/artikel/urinalisis

http://rudy-indranatan.blogspot.com/2011/12/laporan-urinalisis.html

http://labkesehatan.blogspot.com/2010/02/urinalisis-1.html

16