Anda di halaman 1dari 3

Surat untuk Ayah di Ibukota Oleh: Annisa Desva Elia

Apa kabar Ayah? Apakah Ayah sehat? Terakhir kulihat ada kantung hitam besar menghiasi mata Ayah Aku tahu Ayah, pasti kau tak bisa tidur dengan nyenyak pasti kau lelah memikirkan Negeri yang aneh dan lucu ini Ayah, aku disini selalu mendoakan agar kau selalu sehat disana Walaupun aku tak pernah tahu rupa aslimu Walaupun hanya dari magic box ini aku mengenalmu Ayah, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu Mulai dari Negeri yang aneh ini sampai Ibu yang lelah menangis Aku terlalu mencintai Negeri yang terkenal indah ini, Ayah Negeri yang katanya zamrud khatulistiwa Negeri yang katanya sebuah Negeri cipratan surga Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi Negeri ramah-tamah yang rakyatnya hidup berdamai Negeri tolong-menolong yang rakyatnya hidup sejahtera Negeri yang subur, aman, damai, makmur, sentosa Apakah itu benar, Ayah? Apakah itu sebuah hikayat lama atau kesungguhan yang hanya tinggal cerita Aku menangis , Ayah Karena aku tak sempat merasakan Negeri yang dulu katanya sangat indah ini Yang aku tahu, Negeri ini sangat kejam Negeri yang katanya dipenuhi sampah khatulistiwa Negeri yang katanya dipenuhi orang-orang angker Atau Negeri para bedebah-nya A.M? Apakah itu benar, Ayah? Apakah semua orang di Negeri ini bedebah? Bahkan aku dan ayah adalah seorang bedebah? Ah... Aku tak mengerti, Ayah Negeri ini sangat aneh dan lucu Ya... Negeri ini sangat aneh, Ayah Kemaren, tetangga kita masuk penjara hanya karena mengambil semangka yang sudah jatuh hanya SEMANGKA, Ayah

semangka yang tidak ada nilainya jika dibandingkan uang kita yang dicuri penjahat berdasi itu dan anehnya mereka tak pernah menginjakkan kaki di penjara Ah Negeri ini sangat aneh, Ayah Hukum dapat dibeli di Negeri ini Hukum hanya berlaku bagi sang pencuri semangka, pisang, dan kakao Hanya bagi orang-orang yang tak sanggup membeli hukum Negeri ini sangat aneh, Ayah Yang aku pelajari di sekolah Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Tapi, kenapa begitu banyak TKI dan TKW yang berada di luar sana Yang rela berpisah dengan sanak saudara Yang mati sia-sia Tanpa upah Dan tanpa pembelaan yang berarti dari Negeri ini Sepertinya sebuah nyawa tak begitu berarti di Negeri ini Negeri ini sangat aneh, Ayah Kata Ibu Guru Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran Tapi, kenapa banyak temanku tak bisa melanjutkan sekolah Hanya karena tak ada biaya, ia terpaksa jadi pengamen Tak adakah yang bisa membantu, Ayah? Bukankah Negeri ini sangat kaya, Ayah? Atau Negeri hebat yang mendapat penghargaan ranking ke-1 terkorup Sehingga menjadi Negeri miskin yang tak mampu menyekolahkan generasi penerusnya Ah Negeri ini sangat aneh, Ayah Pendidikan dan kepintaran hanya untuk orang berduit Sementara kebodohan milik mereka yang tak berduit Yang sampai akhir hidupnya tetap menjadi orang bodoh dan miskin Bahkan di akhir hidupnya pun, Tak ada tempat yang mau menerima mereka untuk peristirahatan terakhir Pandam pekuburan itu mahal, Ayah Negeri ini sangat aneh, Ayah Katanya, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-sebesar kemakmuran rakyat Negara yang mana, Ayah? Negara asing? Bukankah semua ini milik Negeri ini, Ayah? Kenapa terlalu banyak orang asing yang menguasai hasil kekayaan alam Negeri ini, Ayah? Kenapa kita yang penduduk pribumi menjadi sangat miskin di Negeri sendiri? Kenapa kita yang penduduk pribumi menjadi jongos di Negeri sendiri? Apakah kita terlalu bodoh sehingga tak mampu menguasai itu semua?

Apakah Negeri ini hanya berumur sampai 30 tahun kedepan? Saat semua kekayaan alam ini habis Tak ada yang tersisa untuk anak-cucu kita Mereka untung, kita buntung, Ayah Apakah kita belum cukup puas dijajah Negara asing itu? Aku ingin mendengar jawabanmu, Ayah Ah Negeri ini sangat lucu, Ayah Yang aku tahu, Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara Negara yang mana, Ayah? Di Negeri ini orang kaya yang berduit dipelihara oleh Negara Yang kaya semakin kaya Yang miskin semakin miskin Begitulah motto hidup di Negeri ini, Ayah Dan akhirnya... Ibu terluka... Ibu menangis... Ibu Pertiwi menangis, Ayah Bukan karena syair lagunya yang memang seperti itu Tapi menyesal pernah melahirkan putra-putri seperti kami Putra-putri bodoh Putra-putri serakah Putra-putri yang tak kenal indahnya saling mengasihi Putra-putri yang tak bisa menjaga kesucian Negeri ini Cukup... Hentikan... Tak lihatkah kalian, Ibu kita sudah lelah menangis Tak punya rasa ibakah kalian? ........... Aku lelah menceritakan semua ini, Ayah Tak habis-habis rasanya Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi Dan aku lelah menulis surat ini, Ayah Surat yang tak pernah sekalipun kau baca.

Padang, 6 Juli 2011