Anda di halaman 1dari 14

Tugas Review Anatomi Fisiologi Manusia

Sistem Reproduksi

Disusun Oleh : Henny Oktavianti Wijaya 1111102000094 Farmasi - 2D

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif Hidyatullah Jakarta 2012

Sistem Reproduksi
Fungsi sistem reproduksi yaitu memperbanyak spesies. Fungsi normal sistem reproduksi tidak ditujukkan untuk homeostasis dan tidak penting bagi kelangsungan hidup individu, tetapi penting bagi kelangsungan hidup spesies. Melalui sistem reproduksilah cetak biru genetik yang kompleks dari tiap-tiap spesies dapat bertahan melebihi masa hidup tiap-tiap aggota spesies tersebut.

Sistem Reproduksi Pria

Organ Makro (luar)


1. Penis
Penis (dari bahasa Latin yang artinya ekor, akar katanya sama dengan phallus, yang berarti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang ronggarongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu

rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi). Fungsi penis secara adalah sebagai alat pembuangan sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi

2. Skrotum Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat seratserat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Fungsi skrotum adalah menyangga dan melindungi testis. Karena menggantung di luar tubuh, skrotum juga membuat suhu testis lebih rendah dari suhu dalam tubuh agar testis dapat membuat sperma dengan baik.

Organ Mikro (Dalam)


1. Testis Testis dibentuk didalam abdomen fetus kira-kira 28 minggu kehidupan intrauteri, dan turun kedalam skrotum dan ditopang oleh funiculus spermaticus sebelum lahir. Testis diselubungi oleh kapsul pelindung fibrosa yang disebut tunika albuginea dan ditutup lagi oleh membran serosa yang disebut tunika vaginalis. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang. Fungsi testis yaitu memproduksi sperma (spermatozoa) dan memproduksi hormon seperti testosteron. 2. Epididimis Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.

3. Vas deferens Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis). 4. Ductus ejaculatorius Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra 5. Uretra Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih. 6. Vesicula seminalis Merpukan kantong-kantong kecil yang berbentuk tidak teratur, panjangnya 5cm dan terletak diantara dasar vesica urinaria dan rectum. Fungsi vesicula seminalis adalah mensekresi cairan yang kental berwarna kekuningan yang ditambahkan pada sperma untuk membentuk cairan seminal. Cairan tersebut mengandung glukosa dan bahan lain untuk memberi nutrien (makan) kepada sperma. Masingmasing vesicula bermuara pada ductus seminalis yang bergabung dengan vas deferens pada sisi yang sesuai untuk membentuk ductus ejaculatorius. 7. Kelenjar prostat Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi terbesar. Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma. 8. Kelenjar bulbouretra / cowper Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

Hormon Pada Pria


Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan. 1. Testoteron Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder. 2. LH (Luteinizing Hormone) LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron. 3. FSH (Follicle Stimulating Hormone) FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi. 4. Estrogen Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma. 5. Hormon Pertumbuhan Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

Sistem Reproduksi Wanita


Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva, yang merupakan celah paling luar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari Mons Pubis. Mons Pubis / Mons Veneris merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak mengandung jaringan lemak. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbui oleh rambut. Di bawah Mons Pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar). Dibawah labium mayor terdapat lipatan labium minor (bibir kecil). Labium mayor dan labium

minor berfungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut Klitoris.

Organ Makro (luar)

1. Vulva Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina. 2. Mons pubis / mons veneris Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis. 3. Labia mayora Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior). 4. Labia minora Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf. 5. Clitoris Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus

clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria.Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif. 6. Vestibulum Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis. 7. Introitus / orificium vagina Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae).Bentuk himen postpartum disebut parous. Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para. Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna. 8. Vagina Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid. Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan). Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri. 9. Perineum Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

Organ mikro (dalam)

1. Ovarium Ovarium berjumlah sepasang, berbentuk oval, dengan panjang 3-4 cm. ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pingang. Ovarium berperan untuk menghasilkan ovum (sel telur) dan hormone estrogen dan progesterone. 2. Oviduk (Tuba Falopi) Merupakan saluran telur dengan panjang 10 cm. bagian pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut infundib ulum. Pada infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fibrae) yang berfungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovum. Oviduk berfungsi menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus. 3. Uterus (Rahim) Merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut dengan Serviks / Leher Rahim. Berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot bila terjadi fertilasi. Uterus terdiri dari dinding yang berupa apisan aringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah.

4. Vagina

Merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam wanita. Vagina bermuara pada vulva yang merupakan alat kopulasi pada wanita. Vagina mempunyai dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa bagian otot, dan bagian terdalam berupa jarinagn ikat berserat. Lender yang ada pada vagina dihasilkan oleh kelenjar Bartholin.

Hormon-Hormon Pada Wanita.


1. Estrogen Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma. 2. Progesterone Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG. 3. Gonadotropin Releasing Hormone GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. 4. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone) Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.

Siklus Menstruasi

Menstruasi atau haid adalah pendarahan secara periodic dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endomtrium pada saat ovum tidak dibuahi. Siklus menstruasi berlangsung kira0kira 28 hari. Siklus ini terjadi mulai dari menarche hingga menopause dan dibagi dalam 4 fase, yaitu : a. Fase Pertama : Menstruasi (hari ke 1-5) Terjadi bila ovum tidak dbuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum menghentikan produksi hormone estrogen dan progesterone. Turunnya kadar kedua hormone tersebut menyebabkan peluruhan dinding uterus (Endometrium) sehingga menjadi pendarahan. Volume darah yang dikeluarkan 50 ml. b. Fsase Kedua : Pra Ovulasi (hari ke 6-13) Setelah menstruasi berakhir, lupotalamus mengeluarkan hormone gonadotropin yang merangsang pengeluaran FSH untuk merangsang pembentukan folikel primer hingga menjadi folikel de Graaf. Selama pertumbuhannya, folikel melepas hormone estrogen yang menyebabkan pembentukan kembali sel-sel penyusun endometrium. Peningkatan kadar estrogen mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifat basa agar sifat asam pada serviks dapat dinetralisir. c. Fase ketiga : Ovulasi (hari ke-14) Peningkatan kadar estrogen pada fase pra-ovulasi memperlambat pelepasan FSH dari Hipofisis. Penurunan kadar FSH menyebabkan pelepasan LH yang merangsang pelepasan ovum dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut Ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan ovum dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. d. Fase Keempat : Pasca Ovulasi (hari ke 15-24)

Folikel de Graaf yang ditinggalkan ovum akan berkerut dan menjadi korpus liteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen dan prodgresteron yang saling mendukung untuk menebalkan endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah di dalamnya. Selain itu juga meragang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Bila tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan menjadi korpus albikan yang menyebabkan turunnya produksi estrogen dan progresteron. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif melepaskan FSH dan LH sehingga fase pasca ovulasi akan bersambung kembali dengan fase menstruasi.

Fertilisasi
Fertilisasi (pembuahan) adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita,terjadi diampulla tuba fallopi. Bagian ini adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama kira-kira 24 jam. Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom. Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin. Pada fertilisasi mencakup 3 fase : 1. penembusan korona radiata 2. penembusan zona pelusida 3. fusi oosit dan membrane sel sperma

fase 1 : penembusan korona radiata Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona. Fase 2 : penembusan zona pelusida Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif tempat tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida tetapi hanya satu yang menembus oosit. Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma Segera setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah hilang pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertingal di permukaan oosit. Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang berbeda : 1. reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit. a. selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain b. zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah

penambatan dan penetrasi sperma dengan cara ini terjadinya polispermi dapat dicegah. 2. melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive. Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita. 3. penggiatan metabolic sel telur. Factor penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awal embriogenesis. Sementara itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus wanita maupun pria (keduanya haploid) harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak,masing-masing sel dalam zigot tahap 2 sel tersebut akan mempunyai DNA separuh dari jumlah DNA normal. Segera sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal.23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah membelah memanjang pada sentromer, dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak kearah kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak kearah kutub yang berlawanan, muncullah satu alur yang dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2 bagian. Hasil utama pembuahan 1. pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah dan separuhnya dari ibu. Olah karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom baru yang berbeda dari kedua orang tuanya. 2. penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawa X akan menghasilkan satu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menghasilkan satu mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kromosom mudigah tersebut ditentukan pada saat pembuahan. 3. dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan,oosit biasanya akan berdegenerasi 24 jamsetelah ovulasi.

Daftar Pustaka
Hardjopranjoto,Soehartjo.2000.Embriologi.Jakarta:Graha Usaha Verrals, Sylvia. 1997. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran Wibowo, S. Daniel. 2002. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta:Grasindo Corwin, J. Elizabeth. 2009. Buku Saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran