Anda di halaman 1dari 32

Astri Irma Shafitri (25-2011-004) Muhammad Juliarba (25-2011-) Rindu Wahyu Paramita (25-2011-017) Winona Maheswari R (25-2011-020) Dewi

Komalasari (25-2011-037)

Metode Analisis Titrimetri

Analisis

dengan metode titrimerik adalah metode analisis kuantitatif berdasarkan pada pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna dengan analit. Dimana titran adalah suatu zat yang digunakan untuk mentitrasi dan analit adalah zat yang akan ditentukan konsentrasinya.

Prosedur

analisis kimia yang didasarkan pada pengukuran jumlah larutan titran yang bereaksi dengan analit. Larutan titran : larutan yang digunakan untuk mentitrasi, biasanya digunakan suatu larutan standar Larutan standar: larutan yang telah diketahui konsentrasinya titrasi dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit titran ke dalam analit

Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secarastokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran, kimiawan dapat menggunakan bahan kimia, yaitu indikator, yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen tetapi bisa juga tidak. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir. Tentu saja diharapkan, bahwa titik akhir akhir ini sedekat mungkin dengan titik ekivalen.

Level volume titran


Klem aA + tT produk sejumlah a molekul analit A bereaksi dengan t molekul reagensia T (titran). Penambahan titran dilakukan sedikit demi sedikit melalui buret. Titik ekuivalen Titik dimana jumlah titran yang ditambahkan ekuivalen dengan jumlah analit secara stoikhiometri

buret

Stopcock

erlenmeyer
Larutan analit

Pengaduk magnet

Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskandengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangatmempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric adalah sebagai berikut :

1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat. 2. Reaksinya harus sederhana serta dapat

dinyatakan denganpersamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik. 3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalentercapai, baik secara kimia maupun secara fisika. 4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimiaatau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.

Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakanuntuk membakukan larutan standar misalnya arsen trioksida padapembakuan larutan iodium. Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer, dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar,misalnya larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium.

Larutan titran haruslah diketahui komposisi dan konsentrasinya.Idealnya kita harus memulai dengan larutan standar primer. Larutan standarprimer dibuat dengan melarutkan zat dengan kemurnian yang tinggi(standar primer) yang diketahui dengan tepat beratnya dalam suatu larutanyang diketahui dengan tepat volumnya. Apabila titran tidak cukup murni,maka perlu distandardisasi dengan standar primer.Standar yang tidak termasuk standar primer dikelompokkan sebagaistandar sekunder, contohnya NaOH; karena NaOH tidak cukup murni(mengandung air, natrium karbonat dan logamlogam tertentu) untukdigunakan sebagai larutan standar secara langsung, maka perlu distandardisai dengan asam yang merupakan standar primer misal: kaliumhidrogen ftalat (KHP)

Persyaratan standar primer :


1. 2. 3. 4. 5. 6. Kemurnian tinggi Stabil terhadap udara Bukan kelompok hidrat Tersedia dengan mudah Cukup mudah larut Berat molekul cukup besar

Contoh standar primer: Kalium hidrogen ftalat (KHP) KHC8H4O4 lebih sering digunakan berat ekuivalen tinggi (204,2 gram/ek)

kemurnian tinggi-stabilitas termal tinggi-reaksi dengan NaOH / KOH cepat

2-Furanic acid lebih kuat dari asam kalium ftalat

Larutan standar yang ideal untuk titrasi 1. Cukup stabil sehingga penentuan konsentrasi cukup dilakukan sekali 2. Bereaksi cepat dengan analit sehingga waktu titrasi dapat dipersingkat 3. Bereaksi sempurna dengan analit sehingga titik akhir yang memuaskandapat dicapai 4. Melangsungkan reaksi selektif dengan analit

Keakuratan hasil metode titrasi amat bergantung pada keakuratanpenentuan konsentrasi larutan standar. Untuk menentukan konsentrasisuatu larutan standar dapat digunakan 2 cara : 1. Dengan cara langsung, menimbang dengan tepat standar primer, melarutkannya dalam pelarut hingga volume tertentu. 2. Dengan standarisasi, yaitu titran yang akan ditentukan konsentrasinya digunakan untuk mentitrasi standar primer/sekunder yang telah diketahui beratnya.

Terkadang suatu reaksi berlangsung lambat dan tidak dapat diperolehtitik akhir yang tegas. Untuk itu metoda titrasi balik dapat digunakan untukmengatasinya. Caranya dengan menambahkan titran secara berlebih,setelah reaksi dengan analit berjalan sempurna, kelebihan titran ditentukandengan menitrasi dengan larutan standar lainnya. Dengan mengetahuimmol titran dan menghitung mmol yang tak bereaksi, akan diperoleh mmoltitran yang bereaksi dengan analit. T (mmol titran yang bereaksi) = mmol titran berlebih - mmol titrasibalik mg analit = T x faktor (mmol analit/mmol titran yang bereaksi) x BManalit

Untuk titrasi yang bersifat rutin, lebih disukai untuk menghitung titerdari titran. Titer adalah berat analit yang ekuivalen dengan 1 mL titran,biasanya dinyatakan dalam mgram. Satuannya= mg analit / mL titra

Konsentrasi Larutan
Molaritas (M) mol A = M= Liter larutan M=

mmol A mL larutan

mol
V

Untuk mencari gram zat terlarut: g = M x V x BM

Soal:
Hitung molaritas suatu larutan H2SO4 yang mempunyai densitas 1,30 g/ml dan mengandung 32,6% bobot SO3. BM SO3=80,06

Jawab: 1 liter larutan mengandung 1,30 g/ml x 1000ml/L x 0,326 = 424 g SO3 (424g) / (80,06 g/mol) M= = 5,3 mol/L 1 liter
Karena 1 mol SO3 menghasilkan dalam air maka ada 5,3 mol/L H2SO4 dalam larutan itu

Normalitas (N)

mek A N= = mL larutan Liter larutan gram ek ek = N= Berat Ekuivalen V

ek A

Untuk mencari gram zat terlarut: g = N x V x BE

Soal:

Hitung berapa gram Na2CO3 murni diperlukan untuk membuat 250 ml larutan 0,150 N. Natrium karbonat itu dititrasi dengan HCl menurut persamaan CO32- + 2H+ H2CO3 Jawab: tiap Na2CO3 bereaksi dengan 2H+ , oleh itu berat ekuivalennya setengah BMnya, 106/2 = 53 g/ek jadi, banyaknya Na2CO3 yang diperlukan: ek = g/BE g = (0,15 ek/L) x (0,25 L) x (53 g/ek) = 1,99 g

Persen Berat gram zat terlarut dalam 100 g larutan %= x 100% g zat terlarut + g pelarut
HCl pekat (BM 36,5) mempunyai densitas 1,19 g/ml dan mengandung 37% berat HCl. Berapa ml asam pekat ini harus diambil dan diencerkan menjadi 1 liter untuk membuat larutan 0,100 M g = M x V x BM = (0,100 mol/L) x (1 L) x (36,5 g/mol) = 3,65 gram dalam 1 ml HCl pekat terdapat 1,19 g/ml HCl x 0,37 = 0,44 g/ml

g zat terlarut

Berapa M HCl pekat? M = mol/L = g/(BM x V) gram HCl = (1,19 g/ml) x (1000ml/L) x 0,37 = 440 g/L M = 440 g / {(36,5 g/mol) x 1 L }= 12,055 M

ml =

3,65 g = 8,3 ml 0,44 g/ml M2 x V2 0,1 x 1 = V1= 12,055 M1 = 0,0083 L = 8,3 ml

untuk reaksi: 1. Asam-basa: berat (dalam gram) suatu zat yang diperlukan untuk bereaksi dengan 1 mol(1,008 gram) H+ 2. Redoks: berat (dalam gram) suatu zat yang diperlukan untukmemberikan atau bereaksidengan 1 mol elektron.

Titrasi

asam - basa titrasi redoks titrasi pembentukkan kompleks titrasi pengendapan

Titran

merupakan asam atau basa kuat

titrasi asam kuat - basa kuat titrasi basa kuat - asam kuat titrasi asam lemah - basa kuat

titrasi basa lemah - asam kuat


Indikator:

zat yang ditambahkan ke dalam larutan analit untuk mengetahui titik akhir titrasi

Perhatikan perubahan warna

Kurva Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat

pH 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Fenolftalein

Titik ekuivalen

Biru bromtimol Merah metil

10

20

30

40

50

60

70

ml NaOH

Perubahan

warna terjadi pada pH 8,3 - 10

Perubahan warna pada biru bromtimol

Perubahan

warna terjadi pada pH 6 - 7,6

Perubahan warna pada merah metil

Perubahan

warna terjadi pada pH 4,2 - 6,3

Kurva Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat

pH

12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 10 20 30 40

Titik ekuivalen

50

60

70

ml NaOH

Terima Kasih

Hitung konsentrasi molar etanol dalam suatu larutan aqueous yangmengandung 2,3 g C2H5OH (46,07 g/mol) dalam 3,5 L larutan. 2. Hitung konsentrasi molar analitik dan kesetimbangan dari spesisolut dalam suatu larutan aq yang mengandung 285 mg asam trikloro asetatCl3CCOOH (163,4 g/mol) dalam 10 mL (asam mengalami 73% ionisasi dalamair) 3. Hitung molaritas K+ dalam larutan aq yang mengandung 63,3 ppmK3Fe(CN)6 (329,2 g/mol) 4. 50 mL larutan HCl memerlukan 29,71 mL larutan Ba(OH)2 0,01963M untuk mencapai titik akhir dengan indikator bromokresol hijau. Hitungmolaritas HCl.
1.

5. Titrasi 0,2121 g Na2C2O4 ( 134,00 g/mol) murni memerlukan43,31 mL KMnO4. Hitung molaritas larutan KMnO4 6. suatu sampel bahan organik yang mengandung merkuri seberat3,776 g diuraikan dengan HNO3. Setelah pengenceran, Hg2+ dititrasidengan 21,30 mL larutan NH4 SCN 0,1144 M. Hitung %Hg (200,59 g/mol) didalam sampel. 7. Hitung molaritas larutan yang mengandung 6 gr NaCl (BM 58,44)dalam 200 ml larutan 8. Hitung jumlah mol dan jumlah gram dari KMnO4 (BM 158.0) dalam 3,00 liter dari 0,250 M larutan. 9. Hitung molaritas dari larutan H2SO4 yang mempunyai kerapatan3 1,30 gr/mL. Dan mengandung 32,6% berat SO3. Berat molekul SO3 adalah 80,06 gr/mol. 10. Sampel 5,0 gr NaOH dilarutkan dalam 45 gr air. (1 gr air kira-kira 1 mL) Hitung persen berat dari NaOH dalam larutan.

11. HCl yang dikonsentrasikan (BM 36,5) mempunyai kerapatan 1,19 gr/mL dan 37% dari berat HCl. Berapa mL asam konsentrat tersebut yang harus dilarutkan dalam 1,06 liter air untuk membuat larutan sebesar 0,100 M. 12. Densitas dan Molaritas. a. Hitunglah molaritas amonia pekat, diketahui bahwa densitasnya 0,9 gr/mL dan persen berat NH3 adalah 28. b. Hitunglah berapa mL asam sulfat, densitas 1,30 gr/mL, 32,6% berat SO3, yang harus digunakan untuk menyiapkan 2,00 L larutan 0,0100 M. 13. Pengenceran larutan. Sebuat alikuot 10 mL dari larutan 0,120 M diencerkan menjadi 250 mL dalam sebuah labu volumetri (larutan A). Sebuat alikuot 25 mL larutan A diencerkan menjadi 1 L dalam sebuah labu volumetri lain (larutan B). Hitung molaritas larutan B. Berapa kalikah pengenceran dialami oleh larutan asli? 14. HCl yang dikonsentrasikan (BM 36,5) mempunyai kerapatan 1,19 gr/mL dan 37% dari berat HCl. Berapa mL asam konsentrat tersebut yang harus dilarutkan dalam 1,06 liter air untuk membuat larutan sebesar 0,100 M. 15. Densitas dan Molaritas. a. Hitunglah molaritas amonia pekat, diketahui bahwa densitasnya 0,9 gr/mL dan persen berat NH3 adalah 28. b. Hitunglah berapa mL asam sulfat, densitas 1,30 gr/mL, 32,6% berat SO3, yang harus digunakan untuk menyiapkan 2,00 L larutan 0,0100 M. 16. Pengenceran larutan. Sebuat alikuot 10 mL dari larutan 0,120 M diencerkan menjadi 250 mL dalam sebuah labu volumetri (larutan A). Sebuat alikuot 25 mL larutan A diencerkan menjadi 1 L dalam sebuah labu volumetri lain (larutan B). Hitung molaritas larutan B. Berapa kalikah pengenceran dialami oleh larutan asli?