Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS PUISI BERDASARKAN UNSUR FISIK DAN BATIN

BAB I PENDAHULUAN

Puisi merupakan salah satu karya seni sastra yang dapat dikaji dari beberapa aspek. Puisi dapat dikaji dari segi struktur dan unsur-unsurnya, mengingat puisi adalah struktur yang terdiri atas bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Puisi juga dapat dikaji dari segi jenis-jenis atau ragamnya. Karena banyaknya unsur yang membangun puisi, maka orang tidak akan mudah memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu merupakan karya estetis yang bermakna dan mempunyai arti. Oleh karena itu, sebelum seseorang melakukan suatu pengapresiasian puisi, maka harus mengetahui unsur-unsur yang membangun sebuah puisi. Puisi dibangun dari dua unsur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik suatu puisi terdiri atas diksi, bunyi, versivikasi, bahasa kias, tipografi puisi, enjambemen, sarana retorika, dan citraan. Sedangkan struktur batin suatu puisi meliputi nada dan suasana serta makna dan rasa.

BAB II PEMBAHASAN
1. Puisi Sajak Atas Nama karya K.H. Mustofa Bisri SAJAK ATAS NAMA Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan Ada yang atasnama negara merampok negara Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan Maka atasnama apa saja atau siapa saja Kirimlah laknat kalian

Atau atasnamaKu perangilah mereka! Dengan kasih sayang! Rembang, Agustus 1997

ANALISIS A. Struktur Lahir 1. Diksi Pemilihan kata yang serempak pada dua bait pertama yang masing-masing bait berenam baris adalah semacam penegasan oleh gus Mus tentang judul puisinya. Penekanan ini juga menjadi indah karena dengan kepandaiannya, Gus Mus hanya meletakkan satu kata kerja perbaris dengan sebelum dan sesudah kata kerja itu adalah kata yang memiliki makna sama atau searti. Perhatikan petikan berikut:

Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan Ada yang atasnama negara merampok negara Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia

Tiap baris serempak terdapat Ada yang atasnama sedangkan kata berikutnya adalah kata yang juga terdapat di akhir baris kecuali pada baris keempat dengan penambahan sufiks. Pemilihan kata yang cerdas ini menimbulkan keindahan tersendiri saat dibaca.

2. Bunyi Unsur bunyi akan membuat sebuah puisi menjadi lebih indah ketika dibacakan. Pada bait pertama dan kedua, keserempakan baris dengan hanya pergantian kata pada setengah baris di tiap baris, kemudian pada kesamaan pengucapan pada setengah baris akhir akhir itu di awal dan akhir memberikan komplikasi bunyi yang tentu saja begitu indah.

Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan

Keserasian Ada yang atas nama membuat bunyi a selalu saja diucapkan. Bahkan boleh jadi puisi ini milik bunyi a karena paling banyak disebut.

3. Versifikasi (SAJAK, METRUM DAN IRAMA, RIMA, BAIT)

Pada puisi di atas, pengulangan bunyi tentu saja terdapat pada tiap baris pada bait pertama dan kedua. Pengulangan kalimat yang sama ini menimbulkan efek yang begitu merdu ketika diperdengarkan. Persamaan bunyi an pada tiap akhir baris menimbulkan keindahan tersendiri dalam puisi ini.

..keadilan ..persatuan ..kedamaian ..kemerdekaan

4. Bahasa Kias Bahasa kias selain untuk menyembunyikan makna atau menghemat kata, juga untuk menambah pencitraan oleh pembaca. Pembaca akn dibawa oleh berbagai pengertian bahkan yang bukan dimaksud oleh pengarang itu sendiri.

Ada yang atas nama negara merampok Negara ..

Pada pengertian diatas, kebanyakan akan mengartikan sebagai tindakan pidana korupsi yang dilakukan oleh sejumlah pejabat negara. Ini menjadi menarik karena bukan mencuri yang bermakna sembunyi-sembunyi. Bahwa berarti yang dilakukan pejabat yang korupsi adalah terang-terangan.

5. Tipografi Tata wajah atau tipografi yang berhasil dibuat pengarang ini sangat menarik. Mengingat kalimat pada bait pertama dan kedua selalu diawali kalimat yang sama menjadikan puisi ini menarik secara tipografi. Hanyalah pada bait terakhir yang tidak seperti pada bait pertama dan kedua. Ini justru yang malah membuat orang penasaran untuk membacanya.

Maka atasnama apa saja atau siapa saja Kirimlah laknat kalian Atau atasnamaKu perangilah mereka! Dengan kasih sayang!

Seperti biasa, pada bait terakhir puisi model ini akan berisi nasihat atau mungkin tantangan-tantangan yang seperti ditunjukkan pada pembaca atau sasaran pengarang untuk berbuat suatu hal.

6. Enjambemen Pemeggalan yang ada dalam puisi tersebut terjadi pada tengah baris setiap setelah kalimat yang sama pada baris tersebut ditambah satu kata berikutnya. Kemudian dua kata terakhir satu pemenggalan. Ini akan memudahkan dalam pemaknaan oleh para pendengar ketika dibacakan.

Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan

.. .

Kecuali tentu saja pada bait terakhir yang tidak seperti pada bait pertama dan kedua. Pada bait terakhir baris pertama, pemenggalan ada pada akhir baris. Hanya pada baris ketigalah pemenggalan hampir mirip seperti pada bait pertama dan kedua tadi.

7. Sarana retorika Sarana retorika dalam puisi biasanya berbentuk majas. Pada puisi diatas hanya ada beberapa majas saja yang tidak terlalu berpengaruh pada keseluruhan isi. Hanyalah sebagai penegas. 8. Citraan Citraan pada puisi di atas hanyalah tentang perasaan. Perasaan yang muak akan segala yang terjadi di dunia pengarang. Perasaan yang sudah demikian memuncak ini dilukiskan dalam puisi yang memang cukup memberikan rasa malu pada diri pembaca.

B. Struktur Batin 1. Makna dan Rasa Membaca puisi karya Gus Mus di atas kita seakan dibawa ke dalam dunia yang busuk. Dimana di dalamnya banyak sekali orang yang digambarkan dalam puisi di atas sebagai ada. Membuat pembaca akan merasa jijik dan greget ingin sekali memusnahkan mereka yang melakukan itu semua. Kita dibawa kedalam perasaan yang bergemagema dan semangat seakan membantu pengarang memberantas semua itu. 2. Nada dan Suasana Tilas waktu, heru murgiarso,2011 yogyakarta , leutika prio Malu (aku) jadi orang indonesia,2000, jakarta timur, pt inter masa Antologi puisi indonesia modern anak-anak , suyono suyatno, joko adi sasmito, erli yetti, 2007, jakarta,yayasan obor indonesia