Anda di halaman 1dari 6

RANGKUMAN CHAPTER 12

PREDIKSI DAN PENAKSIRAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN BUDAYA (SEJARAH DAN ARKEOLOGI)

Oleh Kelompok 2: Rudi Agus Widono Ario Bintang K Rika Yunita Sari Ahmad Syahri M 1106139784 1106139033 1106139746 1106138900

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2012

Salah satu hal yang paling diawasi dalam suatu kegiatan adalah potensi dampaknya kepada budaya, termasuk di dalamnya, lokasi arsitektural, sejarah dan arkeologi, juga daerah yang unik secara ekologi, imu pengetahuan, atau informasi geologi. Lingkupnya tidak harus langsung berada di lokasi kegiatan, tetapi termasuk juga daerah yang lebih luas yang terkena dampak oleh suatu kegiatan. Secara luas, budaya suatu komunitas adalah gabungan dari sejarah, tradisi, seni, arsitektur, kepercayaan, ilmu pengetahuan, dan sistem edukasi (King Hickman, and Berg, 1977). Manajemen budaya dapat melibatkan penanganan terhadap dampak budaya suatu komunitas akibat proyek dan kegiatan yang akan diadakan termasuk sumber daya sejarah dan arkeologinya. Sehingga kemudian dampak sosialnya akan ikut menjadi perhatian dalam pengendalian dampak budayanya.

A. Informasi Dasar Mengenai Budaya


Isu budaya semakin penting ketika menyadari bahwa lingkungan kehidupan sosial adalah produk dari sejarah. Budaya tidak dapat diperbaharui. Budaya dapat memberikan data mengenai lingkungan hidup jaman dulu yang berguna bagi ilmu pengetahuan ekologi (McGimsey, 1973). Lokasi arkeologi dapat memberikan data tentang kehidupan jaman dulu. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa efek kegiatan yang mempengaruhi properti yang terdaftar dalam Daftar Lokasi Sejarah Nasional harus diawasi. Properti arkeologi adalah properti yang termasuk, sesuai kriteria, atau berpotensi masuk kriteria, pelingkupan dalam Daftar Nasional, dan barang siapa bertempat tinggal secara total atau sebagian saja dengan data arkeologi yang dimilikinya. Meskipun belum diketahui sepenuhnya apakah suatu lokasi arkeologi atau hanya berpotensi pantas masuk Daftar Lokasi Sejarah Nasional, lokasi terebut sudah dapat menjadi tanggung jawab pengawasan pemerintah.

B. Hukum, Regulasi, Dan Perintah Dewan Negara


Sebagian besar negara memiliki aturan mengenai penanganan lokasi arkeologi. Kebijakan lingkungan biasanya bertindak berdasarkan budaya sekitar lokasi. Budaya lokal juga dapat mempengaruhi jalannya penindakan keputusan terhadap suatu lokasi arkeologi. Pemerintah Amerika Serikat menyediakan dana dan sumber daya manusia untuk menyelidiki dan merawat aset sejarah yang ditemukan. Para petugas perawatan lokasi arkoelogi ini mendaftarkan lokasi yang dianggap berpotensi sebagai aset sejarah kemudian setelah melakukan 25% total masa penelitian maka dewan sudah harus memutuskan apakah lokasi tersebut pantas masuk daftar lokasi bersejarah nasional atau tidak.

C. Langkah Sederhana Dalam Prediksi dan Penanganan Dampak Terhadap Budaya


1. Identifikasi aset budaya pada lokasi berpotensi Langkah awal adalah indentifikasi lokasi berpotensi penting. Sumber daya arkeologi dapat didefinisikan sebagai objek dan daerah yang dibuat atau du ubah oleh manusia, dan juga data yangberhubungan dengan artifak dan benda pelengkapnya (McGimsey, 1973). Sumber daya kultural berkaitan dengan area kepentingan ekologi, ilmu pengetahuan, atau geologikal pada masa sekarang ini. Kepentingan sumber daya lokal seperti kuburan lokal dan benda atau daerah yang berkaitan dengan budaya setempat, dapat di identifikasi melalui budayawan setempat. Satu aspek identifikasi dan evaluasi properti sejarah melibatkan penentuan daerahpotensi efek untuk pengambilalihan. Daerah dengan potensi efek maksudnya adalah daerah geografis atau daerah yang pengambilalihannya akan memberi perubahan pada karakteristik atau penggunaan properti sejarah yang mengalami dampak di dekat ataupun jauh selama masih mengalami efek dari kegiatan tersebut. Identifikasi dapat dilakukan dengan penelitian terhadap dokumen dokumen pemerintah atau budayawan lokal. 2. Identifikasi aset budaya berpotensi Tidak pernah ada survey total meluas dan resmi untuk mencari lokasi aset budaya. Selama ini informasi tersebut selalu didapatkan dari penelitian sepintas dan kebetulan. Informasi lokasi berpotensi ini bisa didapat dari pemerintah mengenai lokasi yang sebelumnya telah direkomendasikan atau yang sudah masuk ke dalam daftar lokasi berpotensi. Kemudian diperlukan penyelidikan terlebih dahulu. Tipe tipe survey

No Tipe Survey 1 2 3 Survei Eksklusif tak terkontrol Survei Eksklusif terkontrol Survei non-eksklusif

Karakteristik Beberapa area tidak termasuk dalam inspeksi karena tidak dipercaya memiliki properti arkeologi. Penentuan lokasi didasarkan asumsi. Memiliki informasi yang diperlukan untuk menentukan asumsi dan penilaian yang kuat mengenai letak keberadaan.

Survei pada permukaan, tanpa usaha untuk mengubah rona permukaan lingkungan seperti membersihkan rumput atau melibatkan explorasi dalam tanah non eksklusif with/without Dengan atau tidak mempelajari latar belakang data lingkungan, background research sejarah, dan etnografi dari lokasi potensi Deployed, anggota tim disebar pada lokasi untuk memastikan - non eksklusif deployed/gang inspeksi total. Gang, inspeksi secara berkelompok di titik tertentu. non eksklusif exploration surface/subsurface

Komperhensif, menentukan jenis arkeologi apa saja yang ada di non eksklusif komperhensif/speciallokasi. Special-purpose, untuk menemukan lokasi arkeologi pada purpose tingkat tertentu. Survei yang yidak dilakukan sepenuhnya. Dari sebagian data Survei Prediktif dilakukan ekstrapolasi pada seluruh area. Digunakan untuk menghemat waktu.

Fieldwork in surveys 1. Harus memaksimalkan informasi latar belakang 2. Tim lapangan harus melibatkan seorang ahli 3. Sering lebih efektif untuk melancarkan kerja lapangan bertahap untuk meningkakan intensitas 4. Metode lapangan harus direncanakan dengan baik untuk memungkinkan klasifikasi lingkungan 5. Seluruh permukaan tanah harus di inspeksi dan eksplorasi bawah tanah harus dilakukan jika dianggap terdapat properti arkeologi dalam tanah. Pelaporan survei Terkadang dibutuhkan kontrak dengan ahli arkeologi dan perusahaan arkeologi untuk membuat catatan penelitian dan merencenakan surei arkeologi dari proyek usulan. Volunteer digs Survei profesional dan terarah sering melibatkan orang luar. Volunteer digs mengacu pada satu atau lebih orang sebagai sukarelawan memberikan rancangan penelitian dan yang secara menyeluruh atau sebagian terlibat dalam penelitian arkeologi. 3. Penentuan nilai suatu sumber daya kultural Setiap lokasi arkeologi adalah penting bagi sejarah umat manusia (McGimsey, 1973). Tetapi tidak semuanya yang dirawat, sepenuhnya ataupun secara hati hati di gali. Diperlukan penanganan untuk menentukan lokasi mana saja yang akan di investigasi, di rawat, dan/atau dimitigasi dampaknya. Diperlukan profesional untuk melakukan ini dan peraturan oleh pemerintah. Di Amerika Serikat contohnya para petugas penilai lokasi ini harus mengikuti ketentuan pemerintah dalam proses penyelidikan, pendaftaran lokasi arkeologi, konsultasi profesional, hingga pengambilan keputusan nilai suatu objek sejarah. 4. Penentuan dampak dari sumber daya kultural

Dampak pada sumber daya kultural dapat berupa pembanjiran, penghancuran, kerusakan, dan/atau keruntuhan. Ada beberapa cara klasifikasi efek potensi proyek pemerintah atau aktivitas bersejarah sesuai King, Hickman, dan Berg (1977) seperti berikut: a) Efek langsung, penggunaan bulldozer merusak daerah arkeologi. b) Efek dengan ijin, sama dengan efek langsung, tapi dengan perbedaan administratif. Kegiatan yang memberi efek pada objek bersejarah diketahui pemerintah. c) Efek Manajerial, muncul sebagai hasil yang wajar dari aktivitas manajemen pihak pelaku kegiatan secara berkala. d) Efek tak pasti, adalah efek yang muncul dari tindakan bukan pemerintah yang hanya bisa timbul setelah ada tindakan langsung dari pemerintah, meskipun tanpa ijin resmi. e) Efek infrastruktur, muncul ketika aksi pemerintah menentukan arah perkembangan suatu kegiatan non pemerintah; hasilnya adalah bentuk spesial dari Efek tak pasti. Ketika menentukan kriteria dari efek yang akan terjadi pada lokasi bersejarah, terdapat 3 kemungkinan yang dapat ditemukan: a) Tanpa efek, tidak ada efek apapun dari (yang merugikan maupun yang menguntungkan) di lokasi bersejarah b) Bukan efek merugikan, ada efek tapi tidak merugikan sesuai penilaian pemerintah c) Efek merugikan, ada efek, dan efek tersebut dapat menghilangkan integritas dan karakteristik dari lokasi bersejarah.

5. Pemilihan tindakan rencana dan mitigasi dampak Jika belum dilakukan langkah 2, maka penyelidikan dilakukan. Dari hasil penyelidikan tersebut dapat ditentukan apakah lokasi tersebut harus di rawat dan/atau di investigasi. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan penyelamatan barang bersejarah dengan melakukan penggalian. Semua dibutuhkan agar barang bersejarah tidak rusak akibat dampak kegiatan yang akan jalankan. Penggalian harus dijadwalkan pada akir tahap perencanaan atau paling lama, pada periode awal konstruksi proyek. Ukuran mitigasi Hasil konsultasi dari langkah 3 memberikan usulan tentang pencapaian tujuan pelaku kegiatan dengan tidak merusak kondisi benda bersejarah. Mitigasi adalah istilah untuk tindakan yang mengurangi atau mengkompensasi kerusakan yang terjadi

akibat suatu kegiatan terhadap properti bersejarah. Ukuran mitigasi yang umum adalah (Advisory Council on Historic Preservation, 1986b) a) Membatasi lingkup kegiatan b) Modifikasi kegiatan melalui desain ulang, orientasi ulang konstruksi pada lokasi proyek, atau perubahan serupa lain c) Perbaikan, rehabilitasi, atau restorasi properti bersejarah yang terpengaruh (contohnya akibat peledakan) d) Operasi perawatan dan pemeliharaaan untuk properti bersejarah yang terpengaruh e) Relokasi properti bersejarah f) Perlindungan informasi dan material arkeologis dan arsitektural 6. Prosedur ketika penemuan properti terjadi ketika masa konstruksi Ketika tipe kegiatan menyebabkan penemuan benda bersejarah, misalnya akibat pekerjaan tanah, pelaku kegiatan tersebut harus membuat rencana terkait penemuan baru tersebut. Pelaku kegiatan sebaiknya memiliki perencanaan apabila kejadian seperti ini terjadi. Setelah penemuan, pelaku kegiatan harus melaporakan penemuannya ke pemerintah untuk kemudian membuat keputusan. Jika penemuan terjadi setelah pekerjaan telah dimulai, pelaku kegiatan tidak harus menunda pekerjaannya. Tapi berdasarkan sifat benda bersejarah terseut, maka dia harus melakukan tindakan pencegahan kerusakan pada benda bersejarah tersebut hingga beberapa ketentuan pemerintah dipenuhi. Disarankan juga pada pelaku kegiatan untuk membuat perjanjian pada pemerintah terkait kemungkinan pertemuan benda bersejarah sehingga akan membantu jika terjadi keterlambatan dalam pekerjaan.

Summary
Perhatian khusus harus diberikan pada sumber daya kultural dalam hal perencanaan proyek dan pengambilan keputusan. Daerah geografis yang dianggap termasuk daerah bersejarah masih memperbolehkan kegiatan dijalankan disana, tapi harus dilakukan langkah langkah pencegahan dan minimalisasi dampak. Sejumlah peraturan dan regulasi pemerintah, negara bagian, dan lokal ada demi perlindungan sumber daya kultural. Jika setiap langkah penanganan sumber daya kultural dilakukan dalam proses perencanaan dan jika pendanaan yang cukup diberikan, bukan tidak mungkin untuk menyediakan perlindungan atau, saat diperlukan, perawatan, atau mitigasi lain untuk semua lokasi yang penting, dengan waktu yang minimal.