Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan Surat Al Falaq dan surat An Naas diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam Dalailin

Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Mawizatain. Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil. (Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Tarif bi Suratil Quranil Karim).

A. SURAT AL-FALAQ Perintah agar kita berlindung kepada Allah SWT dari segala macam kejahatan. Allah Taala berfirman, Tafsir Ayat Pertama

1)

1. Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, Yang dimaksud dengan Robbil Falaq adalah Allah. Al Falaq berasal dari kata falaqo yang berarti membelah. Dalam ilmu shorof Al Falaq bermakna isim maful sifat musyabbahah yang berarti terbelah. Lebih khusus Al Falaq bisa bermakna Al Ishbah (pagi/shubuh) karena Allah membelah malam menjadi pagi. Secara umum Al Falaq bermakna segala sesuatu yang muncul/keluar dari yang lainnya. Seperti mata air yang keluar dari gunung, hujan dari awan, tumbuhan dari tanah, anak dari rahim ibunya. Ini semua dinamakan Al Falaq.

Meminta Perlindungan (Isti'adzah) adalah Ibadah Meminta perlindungan (istiadzah) merupakan ibadah. Karena menghilangkan marabahaya dan kejelekan tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah subhanahu wa taala. Segala sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka hal yang demikian tidaklah boleh dilakukan (ditujukan) kecuali pada Allah semata. Apabila hal semacam ini diminta kepada selain Allah, termasuk perbuatan syirik. Allah juga memerintahkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan kepada-Nya sebagaimana pada awal surat Al Falaq dan An Naas. Dan perintah untuk Rasulullah berarti juga perintah untuk umatnya karena umatnya memiliki kewajiban untuk meneladani beliau. Maksudnya adalah Allah akan menambahkan kepada manusia rasa takut. Oleh karena itu, ini adalah hukuman dari perbuatan mereka sendiri yang meminta perlindungan pada jin. Dan hukuman pasti diakibatkan karena dosa. Maka ayat ini menunjukkan celaan bagi

manusia semacam ini karena telah meminta perlindungan kepada selain Allah. Qotadah dan ulama salaf lainnya mengatakan bahwa makna rohaqo dalam ayat ini adalah itsman (dosa). Oleh karena istiadzah berakibat dosa, maka istiadzah termasuk ibadah dan bernilai syirik jika ditujukan kepada selain Allah yang mati dan ghoib. (Ianatul Mustafid; At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid).

Tafsir Ayat Kedua

2)

2. dari kejahatan makhluk-Nya, Ayat ini mencakup seluruh yang Allah ciptakan baik manusia, jin, hewan, bendabenda mati yang dapat menimbulkan bahaya dan dari kejelekan seluruh makhluk. (Taysir Al Karimir Rahman; Aysarut Tafasir). Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini berarti berlindung dari kejelekan seluruh makhluk. Tsabit Al Bunani dan Al Hasan Al Bashri menafsirkan berlindung dari jahannam dan iblis serta keturunannya. (Tafsir Al Quran Al Azhim). Tafsir Ayat Ketiga

3)

3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, Ghosiq dalam ayat ini adalah Al Lail (malam) dan juga ada yang mengatakan Al Qomar (bulan). Sedangkan Idza Waqob bermakna apabila masuk (Tafsir Juz Amma, 295; Adhwaul Bayan). Mujahid mengatakan bahwa ghosiq adalah Al Lail (malam) ketika matahari telah tenggelam sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abi Najih. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad bin Kaab Al Qurtubhy, Adh Dhohak, Khushoif, dan Al Hasan. Qotadah mengatakan bahwa maksudnya adalah malam apabila telah gelap gulita. (Tafsir Al Quran Al Azhim). Syaikh Asy Syinqithi mengatakan bahwa pendapat yang kuat adalah tafsiran yang pertama (ghosiq adalah malam) sebagaimana didukung dengan tafsiran Al Quran. Sedangkan bulan merupakan bagian dari malam. Dan di malam harilah setan serta manusia dan hewan yang suka berbuat kerusakan bergentayangan ke mana-mana (Adhwaul Bayan). Kepada Allah-lah kita meminta perlindungan dari kejahatan dan kejelekan seperti ini. Tafsir Ayat Keempat

)
buhul,

4)

4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-

Mujahid, Ikrimah, Al Hasan, dan Qotadah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah sihir. Mujahid mengatakan, Apabila membaca mantera-mantera dan meniupkan (menyihir) di ikatan tali (Tafsir Al Quran Al Azhim). Dalam ayat ini disebut dengan An Nafatsaat yaitu tukang sihir wanita. Karena umumnya yang menjadi tukang sihir adalah wanita. Namun ayat ini juga dapat mencakup tukang sihir laki-laki dan wanita, jika yang dimaksudkan adalah sifat dari nufus (jiwa atau ruh) (Ruhul Maani; Tafsir Juz Amma, 295).

Tafsir Ayat Kelima

5)

5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. Hasad adalah berangan-angan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain baik agar pindah kepada diri kita ataupun tidak (Aysarut Tafasir).

Allah menutup surat ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Hasad adalah memusuhi nikmat Allah. Sebagian Ahli Hikmah mengatakan bahwa hasad itu dapat dilihat dari lima ciri : Pertama, membenci suatu nikmat yang nampak pada orang lain; Kedua, murka dengan pembagian nikmat Allah;

Ketiga, bakhil (kikir) dengan karunia Allah, padahal karunia Allah diberikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya; Keempat, tidak mau menolong wali Allah (orang beriman) dan menginginkan hilangnya nikmat dari mereka; Kelima, menolong musuhnya yaitu Iblis. (Al Jaami liahkamil Quran). Salah satu dari bentuk hasad adalah ain (pandangan hasad). Apabila seseorang melihat pada orang lain kenikmatan kemudian hatinya merasa tidak suka, dia menimpakan ain (pandangan mata dengan penuh rasa dengki) pada orang lain. Ain ini dapat menyebabkan seseorang mati, sakit atau gila. Ain ini benar adanya dengan izin Allah Taala. Allah memerintahkan kepada kita untuk berlindung kepada-Nya dari malam apabila gelap gulita, dari sihir yang ditiupkan pada buhul-buhul, dan dari orang yang hasad apabila dia hasad, karena ketiga hal ini adalah perkara yang samar. Banyak kejadian pada malam hari yang samar yang dapat memberikan bahaya kepada kita. Begitu juga sihir adalah suatu hal yang samar, jarang kita ketahui. Dan begitu juga hasad dari orang lain, itu adalah hal yang samar.

B. SURAT AN NAAS Perintah kepada manusia agar berlindung kepada Allah dari segala macam kejahatan yang datang ke dalam jiwa manusia dari jin dan manusia. Setelah turunnya dua surat ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mencukupkan keduanya sebagai bacaan (wirid) untuk membentengi dari pandangan jelek jin maupun manusia. (HR. At Tirmidzi no. 1984, dari shahabat Abu Said radhiallahu anhu). Namun bila disebut Al Muawwidzat, maka yang dimaksud adalah dua surat ini dan surat Al Ikhlash. Al Muawwidzat, salah satu bacaan wirid/dzikir yang disunnahkan untuk dibaca sehabis shalat. Al Muawwidzat juga dijadikan wirid/dzikir di waktu pagi dan sore. Barangsiapa yang membacanya sebanyak tiga kali diwaktu pagi dan sore, niscaya Allah subhanahu wataala akan mencukupinya dari segala sesuatu. (HR. Abu Dawud no. 4419, An Naasaai no. 5333, dan At Tirmidzi no. 3399).

Tafsir Surat An Naas Katakanlah (Wahai Muhammad): Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Sebuah tarbiyah ilahi, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya sekaligus KhalilNya untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki), Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini), dan Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi). Dengan ketiga sifat Allah subhanahu wataala inilah, Allah subhanahu wataala memerintahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya, dari kejelekan was-was yang dihembuskan syaithan. Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah subhanahu wataala adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya subhanahu wataala. Termasuk Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, beliau adalah manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi.

Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul tersembunyi dan samar, adapun al khannas adalah mundur. Maka bagaimana maksud dari ayat ini?. Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia lalai dari berdzikir kepada Allah subhanahu wataala. Jawaban ini dikuatkan oleh Al Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membawakan penafsiran dari Said bin Jubair dan Ibnu Abbas, yaitu: Syaithan bercokol di dalam hati manusia, apabila dia lalai atau lupa maka syaithan menghembuskan was-was padanya, dan ketika dia mengingat Allah subhanahu wataala maka syaithan lari darinya. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Inilah misi syaithan yang selalu berupaya menghembuskan was-was kepada manusia. Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik. Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk. Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang benar itu tampak batil. Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah subhanahu wataala kisahkan dalam firmanNya (artinya): Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan syaitan berkata: Rabb-mu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam al jannah/surga). (Al Araf: 20) Demikian pula perhatikan, kisah ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang beritikaf. Shafiyyah bintu Huyay (salah seorang istri beliau shalallahu alaihi wasallam) mengunjunginya di malam hari. Setelah berbincang beberapa saat, maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengantarkannya pulang ke kediamannya. Namun perjalanan keduanya dilihat oleh dua orang Al Anshar. Kemudian syaithan menghembuskan ke dalam hati keduanya perasaan was-was (curiga). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat gelagat yang kurang baik dari keduanya. Dari (golongan) jin dan manusia.

Sebab-sebab turunnya surat Al-Falaq dan surat An-Naas Dalam suatu riwayat dikemukan bahwa Rosululla saw. pernah sakit yang agak para, sehingga datanglah kepadanya dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi di sebelah kakinya. Berkatalah malaikat di sebelah kakinya kepada yang ada di sebelah kepalanya : "Apa yang engkeau lihat?" Ia berkata : " Dia kena guna-guna ". "Apa guna-guna itu?". "Guna-guna itu sihir"."Siapa yang membuat sihirnnya?". Ia menjawab : "Labid bin al-A'sham Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga si Anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah". Pagi pagi hari Rasulullah saw. mengutus 'Ammar bin Yasir dengan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu tampaklah arinya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungannya terus dibakar dan ternyata di dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. (Kedua surat ini (S.113 dan 114) turun berkenaan dengan peristiwa itu. Setiap kali Rasulullah mengucapkan satu ayat terbukalah simpulnya, (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Dala'ilun Nubuwah dari al-Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Manfaat surat Al-Falaq dan surat An-Naas 1. Dapat menjauhkan perasaan takut 2. Dapat menawarkan racun binatang berbisa 3. Dapat menjauhkan gangguan syetan 4. Dapat mendatangkan petunjuk yang lurus

Hubungan surat Al-Falaq dan surat An-Naas 1. Kedua-duanya sama-sama mengajarkan kepada manusia, hanya kepada Allahlah menyerahkan perlindungan diri dari segala kejahatan. 2. Surat Al-falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan, sedang surat An-naas memerintahkan untuk memohon perlindungan dari jin dan manusia.

Penutup Maka sudah sepantasnya bagi kita selalu memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wataala semata. Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya subhanahu wataala. Semua kejadian ini terjadi atas kehendak-Nya subhanahu wataala. Dan tiada yang bisa memberikan pertolongan dan menolak mudharat kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wataala pula. Semoga Allah subhanahu wataala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa meminta pertolongan, perlindungan dan mengikhlaskan seluruh peribadahan hanya kepadaNya.

DAFTAR PUSTAKA

http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/2980-memahami-tafsir-surat-alfalaq.html http://muwahiid.wordpress.com/2007/10/18/tafsir-surat-annas/