Anda di halaman 1dari 17

PAPER ILMU UKUR WILAYAH Pengukuran Garis Lurus Dilapangan

DISUSUN OLEH ROBBI EKA PUTRA (05081006026)

FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN PROGRAM STUDY TEKNIK PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Pengukuran wilayah merupakan ilmu dasar yang harus diketahui ahli ukur dalam pembuatan bangunan, perkebunan, sistem pengairan, pembuatan jalan, dan masih banyak lagi penerapan dari ilmu ukur wilayah ini dalam kehidupan sehari-hari. Pengukuran merupakan suatu tindakkan untuk menujukkan dimensi, menggunakan alat ukur standar untuk menunjukkan besaran satuan objek yang diukur. Variabel-variabel yang penting dalam pengukuran yaitu panjang (horizontal distance), tinggi (vertical distance), sudut (indination of an object in circular system). Dalam pengukuran perlu diketahui pekerjaan-pekerjaan apa saja yang dilakukan dalam pengukuran sehingga dapat ditentukan suatu lahan dapat dibuat perkebunan atau pabrik sebagai contohnya. Pekerjaan pengukuran pada awalnya ialah persiapan yaitu perencanaan yang matang baik itu persiapan bekal, perlengkapan, bahkan obat-obatan. Pengenalan medan, perintisan ialah mempersiapkan suatu lahan agar bias diukur dengan mempersiapkan batasan-batasan yang akan diukur, penjadwalan sampai finis, penentuan pekerjaan masing-masing dilapangan, Hal-hal yang diluar jangkauan atau Implementation, dan terakhir yaitu Recording yaitu dengan cara menggambar semua kegiatan hasil pengukuran. Bagian penting pada pengukuran suatu bidang tanah adalah membuat garis lurus. Dapat dimengerti bahwa garis lurus ini tidak dapat dibuat dengan seperti menarik garis lurus diatas kertas. Dari garis lurus yang harus dibuat harus diketahui kedua titik ujungnya. Maka untuk memnetukan garis lurus yang menghubungkan dua titik ujung dengan jumlah yang cukup banyak, sehingga garis lurus itu kelihatan dengan jelas. Titik-titik ini dinyatakan dengan syalon. Tiap-tiap bagian garis lurus yang letak antara dua syalon dianggap sebagai lurus.

Pengukuran jarak terdapat jenis-jenis pengukuran yaitu : odoming merupakan pengukuran awal, pacing pengukuran dengan menggunakan langkah, taping menggunakan meteran, hairing menggunakan pembacaan theodolit. Hal yang penting dalam pengukuran selain dari pengukuran jarak yaitu pengukuran sudut yang terdiri dari sudut horizontal, sudut vertical, dan sudut refrensi. Pengukuran sudut refrensi merupakan pengukuran beda ketinggian dengan menggunakan selang, sifat datar, dan Theodolit. Permasalah yang diangkat dalam paper ini ialah dasar dari teknik pengukuran wilayah yaitu penentuan garis lurus dan penentuan jarak di lapangan.

B. Tujuan
Tujuan dari paper ini adalah mengetahui bagaimana cara mengukur dan membuat bangunan, perkebunan, sistem pengairan, pembuatan jalan, dan penerapan dari ilmu ukur wilayah ini dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penerapan cara membuat garis lurus dan mengukur jarak di lapagan meimiliki memiliki pokok-pokok pembahasannya diawali dengan menyatakan titik di lapangan, membuat garis lurus di lapangan, kita juga harus mengetahui alat-alat pengukur jarak, pengukur jarak, alat pengukur sudut miring, ketelitian pengukuran jarak. Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Bidang ketinggian rujukan ini biasanya berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea level - MSL) atau ditentukan lokal. Metode sipat datar prinsipnya adalah Mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur. Pengukuran Trigonometris prinsipnya adalah Mengukur jarak langsung (Jarak Miring), tinggi alat, tinggi, benang tengah rambu, mengukur beda tekanan atmosfer. Metode pengukuran sipat datar optis Metode sipat datar prinsipnya adalah Mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur. Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi dengan menggunakan metode sipat datar optis masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (KDV) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang. Maksud pengukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda tinggi h diketahui antara dua titik a dan b, sedang tinggi titik A diketahui sama dengan Ha dan titik B lebih tinggi dari titik A, maka tinggi titik B, Hb = Ha + h yang diartikan dengan dan suclut Vertikal (Zenith atau Inklinasi). Pengukuran Barometris pada prinsipnya adalah

beda tinggi antara titik A clan titik B adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui titik A dan B. Umumnya bidang nivo adalah bidang yang lengkung, tetapi bila jarak antara titik-titik A dan B dapat dianggap sebagai Bidang yang mendatar. Untuk melakukan dan mendapatkan pembacaan pada mistar yang dinamakan pula Baak, diperlukan suatu garis lurus, Untuk garis lurus ini tidaklah mungkin seutas benang, meskipun dari kawat, karena benang ini akan melengkung, jadi tidak lurus. Bila diingat tentang hal hal yang telah di bicarakan tentang teropong, maka setelah teropong dilengkapi dengan diafragma, pada teropong ini di dapat suatu garis lurus ialah garis bidik. Garis bidik ini harus di buat mendatar supaya dapat digunakan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik, ingatlah pula nivo pada tabung, karena pada nivo tabung dijumpai suatu garis lurus yang dapat mendatar dengan ketelitian besar. Garis lurus ini ialah tidak lain adalah garis nivo. Maka garis arah nivo yang dapat mendatar dapat pula digunakan untuk mendatarkan garis bidik di dalam suatu teropong, caranya; tempatkan sebuah nivo tabung diatas teropong. Supaya garis bidik mendatar, bila garis arah nivo di datarkan dengan menempatkan gelembung di tengahtengah, perlulah lebih dahulu. Garis bidik di dafam teropong, dibuat sejajar dengan garis arah nivo. Hal inilah yang menjadi syarat utama untuk semua alat ukur penyipat datar. Dalam pengukuran Sipat Datar Optis bisa menggunakan Alat sederhana dengan spesifikasi alat penyipat datar yang sederhana terdiri atas dua tabung terdiri dari gelas yang berdiri dan di hubungkan dengan pipa logam. Semua ini dipasang diatas statif. Tabung dari gelas dan pipa penghubung dari logam di isi dengan zat cair yang berwarna. Akan tetapi ketelitian membidik kecil, sehingga alat ini tidak digunakan orang lagi. Perbaikan dari alat ini adalah mengganti pipa logam dengan slang dari karet dan dua tabung gelas di beri skala dalam mm. Cara menghitung tinggi garis bidik atau benang tengah dari suatu rambu dengan menggunakan alat ukur sifat datar (waterpass). Rambu ukur berjumlah 2 buah masing-masing di dirikan di atas dua patok yang merupakan titik ikat jalur pengukuran alat sifat optis kemudian di letakan ditengah-tengah antara rambu belakang danmuka

.Alat sifat datar diatur sedemikian rupa sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu dengan mengetengahkan gelembung nivo. Setelah gelembung nivo di ketengahkan barulah di baca rambu belakang dan rambu muka yang terdiri dari bacaan benang tengah, atas dan bawah. Beda tinggi slag tersebut pada dasarnya adalah pengurangan benang tengah belakang dengan benang tengah muka. Berikut ini adalah syarat-syarat untuk alat penyipat datar optis : Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu alat ukur penyipat datar. Bila sekarang teropong di putar dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar dan garis bidik di arahkan ke mistar kanan, maka sudut a antara garis arah nivo dan sumbu kesatu pindah kearah kanan, dan ternyata garis arah nivo dan dengan sendirinya garis bidik tidak mendatar, sehingga garis bidik yang tidak mendatar tidaklah dapat digunakan untuk pembacaan b dengan garis bidik yang mendatar, haruslah teropong dipindahkan keatas, sehingga gelembung di tengah-tengah. Benang mendatar diagfragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu. Pada pengukuran titik tinggi dengan cara menyipat datar, yang dicari selalu titik potong garis bidik yang mendatar dengan mistar-mistar yang dipasang diatas titiktitik, sedang diketahui bahwa garis bidik adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik potong benang atau garis diagframa dengan titik tengah lensa objektif teropong. Garis bidik teropong harus sejajar dengan garis arah nivo. Garis bidik adalah Garis lurus yang menghubungkan titik tengah lensa objektif dengan titik potong dua garis diafragma, dimana pada garis bidik pada teropong harus sejajar dengan garis arah nivo sehingga hasil dari pengukuran adalah hasil yang teliti dan tingkat kesaIahannya sangat keciI.

Alat-alat yang biasa digunakan dalam pengukuran kerangka dasar vertikal metode sipat datar optis adalah:

1. Alat Sipat Datar 2. pita Ukur 3. Rambu Ukur 4. Statif Metode pengukuran barometris Pengukuran Barometris pada prinsip-nya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. Pengukuran tinggi dengan menggunakan metode barometris dilakukan dengan menggunakan sebuah barometer sebagai alat utama. Seperti telah di ketahui, Barometer adalah alat pengukur tekanan udara. Di suatu tempat tertentu tekanan udara sama dengan tekanan udara dengan tebal tertentu pula. Idealnya pencatatan di setiap titik dilakukan dalam kondisi atmosfer yang sama tetapi pengukuran tunggal hampir tidak mungkin dilakukan karena pencatatan tekanan dan temperatur udara mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir. penentuan beda tinggi dengan cara mengamati tekanan udara di suatu tempat lain yang dijadikan referensi dalam hal ini misalnya elevasi 0,00 meter permukaan air laut rata-rata. Metode pengukuran trigonometris Pengukuran kerangka dasar vertikal metode trigonometris pada prinsipnya adalah perolehan beda tinggi melalui jarak langsung teropong terhadap beda tinggi dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut vertikal (zenith atau inklinasi) serta tinggi garis bidik yang diwakili oleh benang tengah rambu ukur. Alat theodolite, target dan rambu ukur semua berada diatas titik ikat. Prinsip awal penggunaan alat theodolite sama dengan alat sipat datar yaitu kita harus mengetengahkan gelembung nivo terlebih dahulu baru kemudian membaca unsur-unsur pengukuran yang lain. Jarak langsung dapat diperoleh melalui bacaan optis benang atas dan benang bawah atau menggunakan alat pengukuran jarak elektronis yang sering dikenal dengan nama EDM (Elektronic Distance Measurement). Untuk menentukan beda tinggi dengan cara trigonometris diperlukan alat pengukur sudut (Theodolit) untuk dapat mengukur sudut sudut

tegak.Sudut tegak dibagi dalam dua macam,ialah sudut miring m clan sudut zenith z, sudut miring m diukur mulai ari keadaan mendatar, sedang sudut zenith z diukur mu(ai dari keadaan tegak lurus yang selalu ke arah zenith alam. Pengukuran kerangka dasar horizontal Untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar yang disebut dengan istilah pengukuran kerangka dasar Horizontal. Jadi untuk hubungan mendatar diperlukan data sudut mendatar yang diukur pada skafa fingkaran yang letaknya mendatar. Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah : Metode pengukuran poligon Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan di cari koordinatnya terletak memanjang sehingga tnernbentuk segi banyak (poligon). Pengukuran dan Pemetaan Poligon merupakan salah satu pengukuran dan pemetaan kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk memperoleh koordinat planimetris (X,Y) titik-titik pengukuran. Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain. Untuk daerah yang relatif tidak terlalu luas, pengukuran cara poligon merupakan pilihan yang sering di gunakan, karena cara tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan diti dengan keadaan daerah/lapangan. Penentuan koordinat titik dengan cara poligon ini membutuhkan, 1. Koordinat awal Bila diinginkan sistem koordinat terhadap suatu sistim tertentu, haruslah dipilih koordinat titik yang sudah diketahui misalnya: titik triangulasi atau titik-titik tertentu yang mempunyai hubungan dengan lokasi yang akan dipatokkan. Bila dipakai system koordinat lokal pilih salah satu titik, BM kemudian beri harga koordinat tertentu dan tititk tersebut dipakai sebagai acuan untuk titik-titik lainya.

2. Koordinat akhir Koordinat titik ini di butuhkan untuk memenuhi syarat Geometri hitungan koordinat dan tentunya harus di pilih titik yang mempunyai sistem koordinat yang sama dengan koordinat awal 3. Azimuth awal Azimuth awal ini mutlak harus diketahui sehubungan dengan arah orientasi dari system diketahui koordinat dan akan yang dipakai dihasilkan sebagai tititk dan acuan pengadaan system datanya dapat di tempuh dengan dua cara hasil hitungan dari koordinat titik - titik yang telah koordinatnya. Hasil pengamatan astronomis (matahari). Pada salah satu titik poligon sehingga didapatkan azimuth ke matahari dari titik yang bersangkutan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengukur jarak suatu lapangan yang akan dibahas pada bab ini. Adapun cara yang akan digunakan dalam pengukuran lapangan yang pertama adalah menyatakan titik lapangan, membuat garis lurus dilapangan, dan juga penggunaan alat-alat yang akan dipakai dalam pengukuran jarak dilapangan. 1. Menyatakan titik di lapangan. Untuk pekerjaan mengukur, baik pengukuran jarak, baik pengukuran sudut, diperlukan titik-titik di lapangan. Titik-titik diatas permukaan bumi ada yang mempunyai sifat tetap, ada pula yang mempunyai sifat sementara. Titik-titik ini yang dibuat di lapangan harus dapat diketemukan dengan mudah. Titik-titik yang bersifat tetap, sehingga selalu dapat digunakan untuk pengukuran-pengukuran adalah, pertama ; titik triangulasi yang dinuat didalam daerah yang besar seperti Indonesia untuk tiap-tiap pulau, dan kedua ; titik-titik polygon yang dibuat di dalam daerah yang kecil seperti di dalam kota-kota. Sebagai contoh pada gamanr II-Ii diberikan tugu-tugu triangulasi (a, b, c, dan titik-titik ploligon di dalam kota-kota (d,e). Titik-titik poligoon, seperti pada gambar d terdiri ataspipa besi R yang dibeton dan diletakkan 30 cm di bawah permukaan tanah. Tutup Tt diletakkan di atas pipa K, semua dibuat dari besi tuang. Tutup Tt haruslah dibuka lebih dahulu, bila titik itu digunakan untuk pengukuran dan titik letak di sumbu A-A dari pipa R. pada gambar e titik poligoon terdiri atas baut S yang disekrupkan pada dinding gedung-gedung besar yang ada di kota-kota. Dari titik-titik tetap ini diketahui selain koordinat-koordinatnya yang menentukan letak mendatar terhadap suatu salib sumbu, pula diketahui tinggi diatas suatu bidang nol yang lazimnnya diambil permukaan laut. Kordinat-koordinat dan tinggi titik-titik ini ditentukan dengan pengukuran-pengukuran yang dilakukan dengan cara yang teliti, karena titik-titik tentu ini akan menjadi dasar pengukuran-pengukuran lainnya. Titik titik yang bersifat sementara diperlukan pada waktu pengukuran, sebagai

titik-titik penolong: Titik-titik ini diberi tanda dengan kayu sebesar 5 x 5 cm, 10 x 10 cm dan 15 x 15 cm yang ditanam di dalam tanah sedalam 0,50 a 0,75 m. Kayu-kayu ini dinamakan piket dan diberi nomor dengan cat merah, sedang di atasnya diberi tanda dengan paku atau sekrup yang menyatakan tempat titik piket itu. Supaya titik itu kelihatan dari titik-titik lainya pada waktu dilakukan pengukuran, maka dapatlah digunakan beberapa cara seperti pada gambar. II-Iii. Pada gambar a dan b digunakkan sebatang kayu yang panjangnya 2 a 3 m dan mempunyai linkaran atau segitiga penampang. Tiap-tiap 50 cm diberi warna merah dan putih berganti-ganti, dan di bagian bawahnya diberi besi yang diruncingkan, sehingga dapat dilihat dari jauh. Pada gambar a kayu ini dinamakan syalon ditancapkan di tanah pada titik yang diukur, sehingga pada gambar b syalon itu ditempatkan diatas piket, tugu atau titik polygon dengan menggunakan kaki tiga, supaya syalon itu tetap berdiri dan diletakkan tegak lurus lebih dahulu dengan menggunakan nivo syalon (gambar c.). cara ini dapat dilakukan baik jarak tidak besar dan tidak ada rintangan anatara dua titik yang digunakan pada pengukuran. Bila ada rintangan dan jarak menjadi besar, maka titik yang diukur dapat kelihatan dengan membuat sosok dari bamboo atau dari kayu seperti dapat dilihat pada gambar-gambar d, e, dan f. menara ini dapat mencapai tinggi 20 a 30 m. 2. Membuat Garis Lurus di Lapangan Bagian penting pada pengukuran suatu bidang tanah adalah membuat garis lurus. Dapat dimengerti bahwa garis lurus ini tidak dapat dibuat dengan seperti menarik garis lurus diatas kertas. Dari garis lurus yang harus dibuat harus diketahui kedua titik ujungnya. Maka untuk memnetukan garis lurus yang menghubungkan dua titik ujung dengan jumlah yang cukup banyak, sehingga garis lurus itu kelihatan dengan jelas. Titik-titik ini dinyatakan dengan syalon. Tiap-tiap bagian garis lurus yang letak antara dua syalon dianggap sebagai lurus. Syarat utama untuk mencapai ketelitian yang cukup besar, ialah bahwa tiap-tiap syalon harus letak tegak lurus. Maka selalu diusahakan supaya semua syalon harus letak tegaklurus. Maka selalu diusahakan supaya semua

syalon diletakkan tegaklurus dengan menggunakan garis sudut gedung-gedung atau , bila ada dengan nivo syalon. a. Antara dua titik P dan Q harus dibuat garis lurus dengan menetukan titik-titik a, b, c, dan selanjutnya yang diletakkan sedemikian rupa, sehingga titik-titik itu letak di garis lurus PQ. Diperlukan untuk pekerjaan ini dua orang. Orang pertama berdiri di sebelah kiri titik P, oada titik mana fitempatkan suatau syalon. Orang yang kedua membawa beberapa syalon. Syalon yang akan ditancapkan kedalam tanah dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk, srhingga dapat berdiritegak. Dengan petunjuk orang pertama syalon yang akan ditancapkan di titik A harus digeserkan sedemikian, sehingga oleh orang yang berdiri di sebelah kiri syalon di titik P dan Q, karena orang pertama itu hanya dapat melihat syalon P, sedang syalon a dan syalon Q tidak kelihatan sama sekali. Tanda , bahwa syalon a telah letak di suatu garis lurus dengan P dan Q, ialah oleh orang yang berdiri di sebelah kiri syalon P ketiga syalon itu kelihatan sebagai satu syalon. Setelah syalon a ditanam, maka orang yang pertama pindah di sebelah kiri syalon a dan orang kedua dengan petunjuk orang pertama menanam syalon b. pekerjaan ini dilanjutkan seperlunya dengan syalon-syalon s, d, dan seterusnya. b, Memperpanjang garis PQ dapat dilakukan oleh satu orang. Syalon ditempatkan dititik a, sehingga syalon a, Q dan P kelihatan satu karena syalon P, syalon Q dan syalon a berimpit. Demikian pula dikerjakan dengan syalon b. c. Bila titik-titik P dan Q dalam keadaan sedemikian, hingga orang tidak dapat berdiri di belakangnya untuk dapat melihat ke titik lainnya, seperti misalnya titik P dan Q adalah titik-titik suatu gedung besar, ,maka diperlukan lagi dua orang untuk menempatkan titik-titik yang letak di satu garis dengan P dan Q dan yang letak anatara P dan Q. Satu orang memegang syalon a dan orang lainnya memegang syalon b. orang yang kedua menepatkan syalonnya di titik b1, dan menyuruh orang pertama menempatkan syalonnya dititik a1, sehingga orang yang kedua melihat tiga titik b1,a1, dan P di satu garis lurus. Orang pertama yang menanam syalon a1 melihat, bahwa syalon b1 tidak letak di garis a1- Q. maka disuruhlah orang kedua dengan petunjuk

orang pertama meminsahkan syalonnya ke b2, sehingga oleh orang pertama dilihatnya, bahwa a1, b2, dan Q letak di satu garis lurus. Sekarang orang yang kedua meneliti syalon a1 yang kelihatan dari b2 tidak tegak lurus dengan P. syalon a1 dengan petunjuk orang kedua dipindahkan ke a2, sehingga dengan b, dan P letak di satu garis lurus. Secara bergiliran saling meneliti, maka dapt dengan cepat didapat titik-titik a3 dan b3 yang letak di satu garis lurus PQ. d. Keadan lain yang menyukarkan pembuatan garis lurus dilapangan, ialah bila antara titik-titik ujung P dan Q di dapat suatu garis bangunan yang berupa rumah atau tanamtanaman, hingga satu titik ujung tidak kelihatan dari titik ujung lainnya. Pembuatan garis lurus PQ dengan menentukan titik-titik di antara P dan Q dapat dilakukan dengan dua cara. Pada cara pertama, dibuat suatu garis lurus lainnya yang sejajar dengan PQ. Pilihlah titik A dan titik B sedemikian rupa, hingga jarak dari P dan Q ke garis lurus AB sama panjangnya = p. Dengan demikian haruslah dibuat < PAB dan < QBA keduaduanya 90. Tentukan selanjutnya titik-titik a, b, c, d dan selanjutnya di garis lurus AB dan buatlah pada titik-titik ini garis tinggi yang dibuat sama dengan p. Maka didapatlah titik a, b, c, d, dan seterusnya yang merupakan titik-titik dari garis lurus PQ. Pada cara kedua di carilah titik A di lapangan yang letaknya sedemikan rupa sehingga titik P kelihatan dari titik A. buatlah di lapangan garis lurus PA dengan titiktitik a, b, c, dan d. Hitunglah berturut-turut : buatlah jarak p1, p2, p3, dan p4 sebagai garis tinggi-garis tinggi berturut-turut dititik a, b, c, dan d, maka didapatlah titik a, b c, dan d yang akan letak di garis lurus PQ. Perlulah di sini dibuat lagi sudut-sudut di titik a, b, c, dan , d yang besarnya sama dengan 90. Cara kedua ini memerlukan hitungan jarak-jarak p1, dan seterusnya bila garis PQ panjang, maka banyaklah pula hitungan yang harus dilakukan. Pada cara ke satu tidaklah ada hitungan yang harus dikerjakan, karena jarak-jarak yang harus dibuat pada lapangan sama panjangnya dengan jarak p yang telah ditentukan.

3. Alat-alat Pengukur Jarak Alat-alat pengukur jarak dibagi dalam :

a. kayu ukur b. meteran c. pita ukur jarak dari baja; d. teodolit Kayu ukur jarak dibuat dari kayu yang kering dan panjangnnya 3 m atau 5 m. penampannya adalah berbentuk oval dengan ukuran tengah 5 cm dan diujungnya 3 cm. kedua ujung kayu ukur diperlengkapi dengan besi dengan bentuk sedemikian rupa, hingga garis yang menyatakan ujung kayu ukur itu, dari dua kayu ukur dapat diletakkan saling tegaklurus. Pada pengukuran jarak kayu dengan kayu ukur selalu digunakan dua batang kayu ukur. Untuk dapat membedakkan dua kayu ukur ini, maka satu kayu ukur di beri warna merah-putih-merah, dan kayu ukur lainnya diberi warna putih-hitamputih dari meter kemeternya. Dengan demikian jumlah meter yang genap adalah putih, sedangkan jumlah meter yang ganjil akan berwarna. Tiap-tiap decimeter dibri tanda dengan paku dari kuningan, sedang jumlah centimeternya harus dikira-kira. Pita ukur yang dibuat dari kain tidak banyak digunakan orang lagi, karena kurang kuat dan lekas rusak. Untuk memperkuat kainnya, maka kain itu diberi benang dari tembaga. Supaya tahan air, kain dimasukkan dalam minyak yang panas dan direndam beberapa waktu lamanya, lalu dikeringkan. Lebar pita ukur ini 2 cm dan panjangnya ada 10 m. 20 m, atau 30 m. Ujung-ujungnya dibuat dari kulit. Skala pembagian dibuat bolak-balik dan pita ukur dari kain ini di gulung dalam tempat dari kulit. Kekurangan pada pita ukur dari kain inilah: mendapat regangan bila basah dan lekas rusak. Maka dari pita ukur dari kain ini sekarang jarang sekali dipakai. Pita ukur dari baja lebih baik daripada pita ukur dari kain. Pita ukur baja ini dibuat dari baja, lebar 20 mm, tebal 0,4 mmdan panjang 20 m, 30 m, 50 m. Pada ujung-ujung pita ukur baja ini ditempatkan pengangan, sedang garis awal dan garis akhir dapt ditempatkan pada pegangan tersendiri atau kira-kira pada pita baja sendiri dengan jarak 10 cm dari pegangan. Skala pada pita ukur baja dapt dibuat dengan cm, sedang pada kedua ujungnyasepanjang 10 cm dibagi dalam skala mm dan skala dibuat dengan garis-garis yang halus. Ada pula skala dibuat dengan diberi tanda

pelat kuningan , untuk tiap-tiap meter dengan pelat kuningan besar yang diberi nomor, tiap-tiap dengan pelat kuningan kecil yang bundar. Pita baja dapat digulung dala tempat yang dibuat dari kulit atau dapat digulung dengan alat penggulung pita. Rantai ukur jarak terdiri atas mata rantai yang dibuat dari kawat baja atau kawat besi galbani yang ada 3 a 4 mm. Tiap ujung mata rantai diberi mata dan mata rantaimata rantai digabungkan satu sama lain dengan gelangan sedenikian rupa. Hingga jarak antara dua gelangan ada 0,50 m. untuk tiap-tiap meter gelangan dibuat dari kuningan. Pada tiap-tiap 5 m gelangan diberi bentuk lain dan dibuat lebih besar.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Pokok-pokok penting dalam membuat garis lurus dan mengukur jarak di


lapangan adalah menyatakan titi dilapangan, menentukan garis lurus, mengetahui alat-alat pengukur jarak, cara pengukuran jarak. 2. Dalam ilmu ukur wilayah penentuan garis lurus dan mengukur jarak dilapangan sangatlah penting dan merupakan teknik yang harus dikuasai dalam pengukuran wilayah. 3. Pengukuran dapat dilakukan dimanapun juga. 4. Dalam pengukuran ataupun pembuatan peta, sangatlah diperlukan penentuan skala. 5. Alat-alat pengukur jarak : a. meteran b. kayu ukur c. pita ukur jarak dari baja; d. teodolit

B. Saran
Pembuatan garis lurus sebaiknya dilakukan dilapangan yang rata untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan juga mengurangi persentaseke salahan dalam pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA

Joko, wali. 1997. Dasar Pengukuran Tanah. Jakarta: Erlangga Triono, Budi A.2001. Pekerjaan Dasar Survei. Yogyakarta: Kanisius.

Wongsojitro, Soetomo.2000. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Kanisius