Anda di halaman 1dari 2

Psikologi Agama : Prof. Dr. H. Imam Malik, M.

Ag - Agama Dan Kesehatan Mental (Fika Wahyu Pratiwi) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Psikologi secara etimologi memiliki arti ilmu tentang jiwa. Dalam Islam, istilah jiwa dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya. B. 1. 2. 3. 4. Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh agama pada kesehatan mental ? Bagaimana pengaruh agama pada kesehatan fisik ? Bagaimana keterkaitan manusia dengan agama ? Apa yang dimaksud dengan terapi keagamaan ? BAB II PEMBAHASAN AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL A. Manusia Dan Agama Menurut Abraham Maslow (seorag pemuka psikologi humanistic) menyatakan bahwa kebutuhan manusia itu bertingkat : 1. kebutuhan fisiologis ; 2. Kebutuhan akan rasa aman ; 3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang ; 4. kebutuhan akan harga diri ; Agama menurut Frend tampak pada prilaku manusia. Secara psikologis, agama adalah ilusi manusia. Menurut Stunner (Penganut Behaviorisme) bahwa agama memiliki institusi dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, kegiatan keagamaan menjadi faktor penguat sebagai prilaku yang meredakan ketegangan. Agama sebagai fitroh manusia telah di informasikan dalam AlQuran : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; tetaplah atas fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitroh Allah. (itulah agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya . (Q.S 30 : 30 ). B. Efek Agama Pada Kesehatan Fisik Dan Mental Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abdul Qadir membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia. Menurutnya dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh kepada ekstensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawaan tersebut dinamakan hormon. Berdasarkan penelitian bahwa agama tidak berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental dan fisik. 1. Efek Pada Kesehatan Mental (positif) - Agama salah satu dari faktor penting yang membantu mengatasi suasana hidup yang penuh stress; - Agama juga dapat meramalkan siapa yang akan atau tudak akan mengalami depresi; - Merendahkan tingkat depresi.1 Efek Pada Kesehatan Fisik - Seseorang yang berkeyakinan apabila terserang penyakit, lebih cepat sembuhnya dari pada yang tidak tidak mempunyai keyakinan. - Doa penyembuhan terbukti menimbulkan tanggapan positif dari kalangan masyarakat luas dan memang terbukti bisa menyembuhkan. 2

2.

C.

C. Tujuan Masalah 1. Agar mengetahui bagaimana pengaruh agama pada kesehatan mental. 2. Agar mengetahui bagaimana pengaruh agama pada kesehatan fisik. 3. Agar mengetahui bagaimana keterkaitan manusia dengan agama. 4. Agar mengetahui apa yang dimaksud dengan terapi keagamaan.

Terapi Keagamaan Kesehatan mental adalah : suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman, dan tentram. Upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan). Dalam Al-Quran sebagai dasar dan sumber ajaran Islam banyak ditemui ayat ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. 1. Keterangan ayat tentang kebahagiaan. - (Q.S Al - Qashash : 77) isinya menerangkan tentang Allah memerintahkan orang Islam untuk merebut kebahagiaan akhirat dan kenikmatan dunia dengan jalan berbuat baik dan menjauhi perbuatan mungkar. - (Q.S An - Nahl : 97) isinya menerangkan tentang Allah menjanjikan kehidupan yang baik pada orang yang berbuat amal sholeh yang beriman. - (Q.S Al Imran : 104) isinya menerangkan tentang Allah menjanjikan kemenangan kepada orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang mungkar. 2. Keterangan ayat tentang ketenangan jiwa - (Q.S Al Raad : 28 ) isinya tentang Allah menegaskan bahwa ketenangan jiwa dapat dicapai dengan zikir (mengingat) Allah. - (Q.S Al - Araf : 35) isinya tentang Allah menegaskan bahwa rasa takut dan sedih.
1

Rakhamat Jalaluddin, Psikologi Agama sebuah pengantar,PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2003. Hal. 229 2 Ibid.., h. 239

Psikologi Agama : Prof. Dr. H. Imam Malik, M.Ag - Agama Dan Kesehatan Mental (Fika Wahyu Pratiwi) - (Q.S Al Baqarah : 15) isinya tentang Allah menegaskan bahwa Allah menegaskan bahwa jalan bagaimana cara seseorang mengatasi kesukaran dan problema kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan kesabaran dan shalat. - (Q.S Al Fath : 4) isinya tentang Allah menegaskan bahwa Allah menyifati diri-Nya bahwa dia- lah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana yang dapat memberikan ketenangan jiwa kedalam hati orang yang beriman.3 D. Musibah Menurut Al-Qurtubi, musibah adalah apa saja yang menyakiti diri seseorang, atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia, betapapun kecilnya (Ensiklopedia AlQuran, 1997 : 283). Penyebab terjadinya musibah bermacam-macam, ada yang disebabkan oleh perbuatan manusia secara lansung, ataupun pengelolaan alam yang keliru, serta yang murni disebabkan oleh alam. Dari pendekatan agama, musibah dapat dibagi menjadi 2 macam : 1. Musibah yang terjadi sebagai akibat dari ulah tangan manusia. Musibah ini sering dikenal sebagai hukum karma, yakni sebagai pembalasan. 2. Musibah sebagai ujian dari Tuhan. Musibah ini sering di hubung-hubungkan dengan takdir (ketentuan Tuhan). Melalui pendekatan psikologi, menurut Erich Fromm, bahwa derita yang dialami korban musibah disebabkan adanya rasa kedekatan. seseorang yang merasa dekat dengan sesuatu akan merasa kehilangan bila berpisah sesuatu atau seseorang yang dekat dengannya. (Erich Fromm, 1976 : 112). Melalui pendekatan keagamaan, kebalikan dari pendekatan psikologi, karena kesedihan yang ditimbulkan oleh musibah terkait dengan rasa memiliki, makin besar nilai kepemilikan yang hilang, akan semakin berat derita yang dirasakannya. Melalui pendekatan Psikosomatik, sebenarnya derita fisik dan derita batin tidak dapat dipisahkan, keduanya saling mempengaruhi, namun dalam kenyataannya, derita batin lebih mendominasi karena ia langsung berhubungan dengan
3

perasaan, korban lazimnya mengalami kekosongan jiwa, putus asa atau pasrah, karena merasa kehilangan tempat bergantung. Salah satu fungsi agama dalam kehidupan manusia, menurut Elizabeth K. Notingham adalah sebagai penyelamat (Elizabeth K. Notingham : 75) dalam kondisi ketidakberdayaan, secara psikologis nilai-nilai ajaran agama dapat membantu menentramkan goncangan batin dengan kembali kepada tuntunan agama. Semua miliknya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Pemilik Mutlak. Maka ucapan yang paling tepat dan menentramkan hati adalah : Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami akan kembali . BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi. Musibah yang terjadi sebagai akibat dari ulah tangan mnusia, karena kesalahan yang dilakukannya, manusia harus menanggung akibat buruk dari perbuatan sendiri, musibah ini dikenal sebagai hukum karma, yakni sebagai pembalasan. Musibah sebagai ujian dari Tuhan. Musibah ini sama selaki tidak ada hubungannya dengan perbuatan keliru manusia. Betapapun baik dan bermanfaatnya aktifitas yang dilakukan manusia, serta taatnya mereka menjalankan perintah Tuhan, musibah yang seperti ini bakal mereka alami juga. Oleh karena itu, musibah ini sering di hubung-hubungkan dengan takdir (ketentuan Tuhan). B. Saran Dalam penulisan makalah ini, penulis harapkan kepada pembaca untuk mengkaji ulang terkait dengan tema ini yang belum saya bahas, untuk itu lebih dikaji dari refrensi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta Rakhamat Jalaluddin, Psikologi Agama sebuah pengantar,PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2003 Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005

Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta : 2005, h. 165