Anda di halaman 1dari 3

MAHABBAH

MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah " AKHLAK TASAWUF " Dosen Pembimbing : Ahmad Sauqi, M.Pd.I A.

BAB II PEMBAHASAN M A H A B B A H Arti, Tujuan dan Kedudukan Mahabbah Mahabbah berasal dari ahabba-yuhibbu-mahabatan : mencintai secara mendalam. Jamil Shaliba mengatakan Mahabbah lawan dari al-baghd. Al-Mahabbah berarti al-wadud : Penyayang.1 Menurut psikologi spiritual, mahabbah sepadan dengan Greek agape. Dalam Hindu disebut bakti, kalangan Mahayana : Karunia. Ia merupakan sikap dari jiwa yang mengisyaratkan pengabdian diri, pengorbanan diri sendiri dan cinta kepada Allah SWT. Dari mahabbah inilah berkembang isu pencapaian mahabbah mengubah murid menjadi murad. Menurut Al-Qusyaim, mahabbah adalah mementingkan kekasih dari pada sahabat. Menurut Al-Ghazali, mahabbah : peringkat tertinggi dari keseluruhan jenjang yang dilalui, karena ia adalah hasil komulatif dari keseluruhan jenjang-jenjang sebelumnya. 2 Menurut Harun Nasution, Mahabbah adalah : 1. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. 2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihinya. 3. Mengosongkan hati dari segalanya kecuali dari yang dikasihi. Hal ini cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki tasawuf yaitu : kecintaan yang mendalam secara ruhian pada Tuhan. Mahabbah berbeda dengan al-Raghbah. Mahabbah obyeknya ditujukan pada Tuhan. Dikutip Harun Nasution dari Al-Sarrj, ada tiga macam : 1. Mahabbah orang biasa : mengingat Allah SWT dengan zikir, suka menyebut nama-nama Allah, senantiasa memujinya. 2. Mahabbah orang shidiq : Cinta orang yang kenal pada Tuhan, kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya. 3. Mahabbah orang yang arif : Cinta orang yang tahu betul pada Tuhan. Ketiga tingkat mahabbah menunjukan proses mencintai, yaitu mulai mengenal sifat-sifat Tuhan melalui dzikir,
1 2

dilanjutkan dengan fana pada sifat-sifat Tuhan dan akhirnya tetap dalam sifat Tuhan. Dari uraian diatas dapat diperoleh pamahaman mahabbah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati sehingga sifat-sifat yang dicintai masuk kedalam diri yang dicintai. Tujuannya memperoleh kesenangan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata tetapi dapat dirasakan jiwa. Al-Mahabbah selalu satu istilah yang hampir bedampingan dengan marifah. Marifah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui qalb. Mahabbah : perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta (roh).3 Adapula yang mengkaitkan mahabbah, makhafah dan marifat. Ketiganya merupakan unsur utama dalam perkembangan spiritual : makhafah : upaya pemurnian diri marifat : upaya penyatuan diri.4 Mahabbah dapat dijumpai dalam Al-Quran : a. Ali Imran, ayat : 31 : Artinya : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. b. Surat al-Maidah, ayat : 54
3 4

Disusun Oleh : Afiful Ikhwan Anisatun Nikmah Purwiyanto 3211063024 3211063033 3211063109

PRODI PAI B / 4 - KELOMPOK 13 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG 2008

Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. 1996. h. 207 Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin. Kamus Ilmu Tasawuf. Amzah. 2005. h. 131

Abudin Nata, h. 209 Totok Jumantoro,h. 132

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. c. Hadist Nabi : Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang Kucintai menjadi telinga, mata dan tanganku.5 B. Tokoh Sufi Mahabbah Dipelopori dan dikembangkan oleh Rabiah al-Adawiah. Lahir di Basiah tahun 714 Masehi. Mulai dari kelahirannya diliputi bermacam-macam kejadian aneh, kemudian si kecil Rabiah menjadi budak majikan yang kejam. Suatu malam Ia berdoa kepada Tuhan : Seandainya bebas pasti akan persembahkan waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepada-Mu . Tiba-tiba ada keajaiban dan majikannya melihat kejadian itu sangat ketakutan, esok harinya dibebaskan. Setelah itu Rabiah memutuskan untuk menjadi petapa, ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa. murid-murid Rabiah diantara : Malik bin Dinar, Raba al-Rais, Syaikh al-Balkhi, Hasan Basra. Rabiah seorang mistik yang paling terkemuka yang mengajarkan kasih sayang terhadap Tuhan tanpa pamrih, konsepnya : Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapat pahala apapun, jangan takut pada neraka, jangan mendambakan surga, aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi, aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Rabiah seorang mistikus yang sangat tinggi derajatnya dan tergolong kelompok sufi pertama. Ia meninggal di Basra tahun 801 M, dimakamkan dirumah dimana ia tinggal. Doa-doanya diantaranya :
6 5

Tuhanku, bintang-bintang bersinar gemerlapan, manusia sudah tidur nyenyak dan raja-raja telah menutup pintunya, tiap orang yang bercinta sedang asik masuk dengan kesayangannya dan disinilah aku sendirian bersama Engkau. Ya Rabbi, bila aku menyembah-Mu karena takut akan neraka, bakarlah diriku di dalamnya. Bila aku menyembah-Mu karena harap akan surga, jauhkanlah aku dari sana. Namun jika aku menyembah-Mu hanya demi engkau, maka janganlah kau tutup keindahan abadi-Mu.6 Syair di antaranya : Aku mencintai-Mu dengan dua cinta. Cinta karena dirku dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu. Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku, bagiMulah pujian untuk kesemuanya. Kucintai Engkau lantaran aku cinta dan lantaran Kamu patut dicintai. Cintakulah yang membuat rindu kepada-Mu. Demi cinta suci ini, sibakkanlah tabir penutup, tatapan sembahku. Janganlah Kau puji aku lantaran itu, bagi-Mu-lah segala puji dan puji.7 C. Sebab-sebab Mahabbah dan Cara Mencintainya Menurut al-Ghazali, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mencintai Allah : a. Manusia secara naruiah mencintai dirinya dan selalu berupaya untuk menyempurnakan dirinya. Proses penyempurnaan ini akan berujung kepada mencintai Allah karena manusia karunia Allah. b. Manusia menyenangi orang yang suka menolong, penolong paling sempurna dan tertinggi adalah Allah yang Maha Pengasih. c. Karena renungan kepada sifat-sifat kesempurnaan Allah.

Adanya hubungan manusia dengan Allah, manusia berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.8 Dalam buku Akhlak Tasawuf karangan Drs. H. A. Mustofa, dijelaskan 2 sebab yang mengutamakan rasa cinta kepada Allah SWT 1. Memutuskan interaksi duniawi dan mengeluarkan rasa cinta kepada selain Allah SWT dari hati. 2. Kuatnya pengenalan Allah SWT, keluasannya dan dominasinya terhadap hati.9 Sedangkan alat untuk mencapai mahabbah, para ahli tasawuf menjawab dengan menggunakan pendekatan psikologi. Harun Nasution mengatakan 3 alat yang dapat dipergunakan untuk berhubungan dengan Tuhan : 1. al-Qalb : hati sanubari sebagai alat untuk mengetahui sifat Tuhan 2. Roh : alat untuk mencintai Tuhan 3. Sir : alat untuk melihat Tuhan Sir lebih halus dari roh, roh lebih halus dari qalb. Kelihatannya Sir bertempat di roh, roh bertempat di qalb dan Sir timbul dan dapat menerima iliminasi dari Allah, jika qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan kosong sekosong-kosongnya tidak berisi apapun. Dapat diketahui bahwa alat untuk mencintai Allah adalah roh yaitu roh yang sudah dibersihkan dari dosa-dosa dan maksiat serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu melainkan hanya di isi oleh cinta kepada Tuhan. 10 D. Tanda-Tanda Mahabbah - Diantara tanda-tanda mahabbah pada permulaannya : (1) Lawaih (3) Lawami (2) Thawali (4) Buruq - Makna dari istilah ini sangat berdekatan. Sedangkan Ibnu Arabi membagi cinta menjadi : (1) cinta kudus (2) cinta spiritual (3) cinta alami - Cinta kepada Allah dalam ajaran sufi dibedakan : (1) Cinta kepada Allah secara umum dengan ditandai mengerjakan perbuatan untuk mengikuti perintahnya.

d.

A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia. 2005. h. 240

A. Mustofa, h. 246 7 Abudin Nata, h. 215

Totok Jumantoro, h. 132 A. Mustofa, h. 242 10 Abudin Nata, h. 212


9

(2) Cinta kepada Allah dalam pengertian khusus : tarikan dari Allah kepada hamba-Nya yang dipilih. Mahabbah Ilallah membawa pada Syawq, syawq yang dirasakan ketika musyahadah, dan Liga lebih mendalam dari pada sywaq yang dirasakan ketika dalam jauh dan dalam keadaan tidak memandang. Mahabbah Ilallah juga membawa kepada uns. Al-Kharraz berkata, uns adalah pembicaraan roh dengan yang dicintai dalam kedekatan keadaan yang gembira yang dirasakan oleh orang yang mencintai Allah mengandung arti pertemuan roh, setelah roh disucikan dengan menempuh kehidupan zuhud, dengan taqwa dan dengan melepaskan rintangan-rintangan yang menghalangi.