Anda di halaman 1dari 3

ONTOLOGI

Ontologi merupakan salah satu diantaranya lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran yunai telah menunjukan ,unculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakh kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada aanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua , kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Pembicaraan tentang hakikat sangat luasa sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; relita adalah ke-real-an, Riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah. Pembahasan ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab apa yang nenurut Aristoteles merupakan The Fisrt Philosophy dan merupakan ilmu yang mengenai esensi benda. Noeng Muhajir dalam bukunya filsafat ilmu mengatakan ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Sementara A. Dardiri menyatakan ontologi adalah mnyelidiki sifat yan dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori yang logis yang berlainan (objek fisi, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada. Sidi Gazabla mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan. Amsal bahtiar dalam bukunya Filsafat Agama Islam mengatakan ontologi berasal dati kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasar pada alam yang nyata, tetapi berdasar pada logika semata. Dari beberapa pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa, menurut bahasa ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu on/ontos = ada. Dan logos = ilmu. Jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang nerupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani (kongkret) maupun rohani (abstrak).

Di dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut. 1.Monoisme Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun yang rohani. Tidak mungin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber pokok dan dominan menentukan perkembngan lainya. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe . 2. Dualisme Setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monoisme) baik materi ataupun rohani, ada juga pandangan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme, aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Contoh yang paling jelas adlah pada diri manusia, umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan umtk menerima prinsip tersebut, karena setiap kenyatan lahir dapat segera di tangkap oleh panca indra kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal pikiran dan perasaan hidup. 3. Pluralisme Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bhawa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam kamus filsafat di katakan sebai paham yang menyatakan bahwa akam ini tersusun dari beberapa unsur dan berbagai entitas, dan pluralis sendiri dapat dikatakan paham yang mempunyai landasan beranekaragam tidak hanya satu atau dua. 4. Nihilisme Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Doktrin ini

sebenarnya sudah ada semenjak zaman yunani kuno, yaitu paa pandangan gorgia (483-360 SM) yang memberikan tiga proporsi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu yang eksis, kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat dikaetahui, ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. 5. Agnostisisme Paham ini mengimgkari kesaggupam manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Timbulnya hakikat ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.