Anda di halaman 1dari 22

Siti Nurwulan Febrian 1110221139

Nama
Usia Jenis

kelamin Berat badan Tinggi badan Indeks Massa Tubuh

: Tn. S : 28 tahun : Pria : 60 kg : 165 cm : 22.05 kg/m2

Alloanamnesa

dilakukan pada 29 Agustus 2012, dan didapatkan : Keluhan utama : nyeri pada tungkai kanan bawah RPS : nyeri pada tungkai kanan bawah akibat KLL. Akibat keadaan tersebut pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien tidak dalam keadaan demam, batuk dan pilek. Pasien Tidak terdapat gigi palsu ataupun gigi bolong.

Riwayat

Penyakit Dahulu Alergi obat : disangkal Hipertensi : disangkal Diabetes mellitus : disangkal Asma : disangkal Penyakit paru : disangkal Penyakit jantung : disangkal Penyakit ginjal : disangkal Penyakit Keluarga Riwayat hipertensi, Alergi obat, diabetes mellitus, asma, penyakit paru, jantung, ginjal dan penyakit hati pada keluarga disangkal.

Riwayat

Riwayat

Kebiasaan

Merokok : disangkal Alkohol : disangkal Morfin : disangkal Minum jamu-jamuan : disangkal Riwayat Operasi dan Anastesi Tidak ada

Status

generalis : Kondisi umum Kesadaran Tanda-tanda vital a. Tekanan darah b. Nadi c. Suhu d. Pernafasan

: : : : : : :

Baik Compos mentis 120/70 mmHg 84 x/menit 36,5 C 20 x/menit

Kepala

: Mata : CA -/- , SI -/ THT : dbn, Malampati II Leher : Tampak simetris, deviasi trakea (-), limfonodi tidak teraba, tidak terdapat keterbatasan dalam pergerakan leher. Thorax : Jantung : iktus kordis normal, BJ I&II Normal, gallop&murmur (-) Paru : suara nafas vesikuler, rhonki & wheezing (-)

Abdomen

Nyeri tekan (-), Massa (-), Bising usus (+) 3x/menit Ekstrimitas Look = deformitas (+), luka (-), swelling (-) Feel = Nyeri tekan (+), distal neuromuskular (+) Move = ankle dan knee joint limited

Pemeriksaan HEMATOLOGI Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC Bleeding Time Clotting Time KIMIA SGPT (ALT) SGOT (AST) Ureum Glukosa Puasa

Hasil

Nilai rujukan

14,7 45 4,8 7100 317000 94 31 33 1'00 300

12 - 16 g/dL 37 - 47% 4.3 - 6.0 juta/uL 4800 - 10800/uL 150000 - 400000/uL 80 - 96 fl 27 - 32 pg 32 - 36 g/dL 1 - 3 menit 1 - 6 menit

32 40 20 83

<40 U/L <35 U/L 20 - 50 mg/dL 70-100 mg/dL

Foto

toraks Cor : CTR <50% Aorta : Normal Pulmo : Kedua hilus normal ; Corokan bronkovaskular normal ; Tidak tampak infiltrat / nodul Sinus / diagfragma kanan dan kiri normal

Diagnosis

Bedah Neglated closed of fracture tibia et fibula segmental displaced Diagnosis Anastesi ASA I Rencana Tindakan Imobilisasi Rencana Anestesi Anestesi umum dengan ETT napas terkendali

intravena

Anesthesia umum

inhalasi
imbang

Memelihara jalan nafas atas terbuka(paten)

Membantu pemberian oksigen konsentrasi tinggi


Memfasilitasi pemberian ventilasi dengan volume tidal yang tepat untuk memelihara pengembangan paru yang adekuat Mencegah jalan napas dari aspirasi isi lambung atau benda padat atau cairan dari mulut, kerongkongan atau jalan napas atas

Mempermudah penyedotan dalam trakea Sebagai alternatif utk memasukkan obat (atropin, vasopresin, epinefrin dan lidokain) pd watu resusitasi jantung-paru bila akses intravena atau intraosseus belum ada

Tehnik Anestesia Nafas Spontan dengan Pipa Endotrakeal

Indkasi :ada operasi di derah kepala leher dengan posisi telentang, berlangsung singkat dan tidak memerlukan relaksasi otot maksimal.

Kontra indikasi :Teknik ini tidak dianjurkan pada operasi intracranial, torakotomi, laparotomi, operasi dengan posisi khusus (misalnya miring atau tengkurap)dan operasi yang berlangsung lama (lebih dari satu jam)

Tehnik Anestesia Napas Terkendali dengan Pipa Endotrakeal

Indikasi anestesi umum: Infant & anak usia muda, Dewasa yang memilih anestesi umum, Pembedahannya luas / ekstensif, Penderita sakit mental, Pembedahan lama, Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan, Riwayat penderita toksik/ alergi obat anestesi lokal, Penderita dengan pengobatan antikoagulan Indikasi anestesi umum ETT dengan nafas terkendali : untuk tindakan operasi yang lama (> 1 jam), kraniotomi, torakotomi, laparotomi, operasi dengan posisi khusus, misalnya posisi miring pada operasi ginjal

Anestesi umum adalah tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Komponen dalam anestesi umum antara lain :
Hipnotik Analgesi Relaksasi Otot (ringan) : Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan intubasi. Fase Tindakan Anestesi Umum Premedikasi : Sedasi, analgesi Induksi : Fase dimana terjadi proses perubahan dari sadar (awake) menjadi tidak sadar. Merupakan fase paling berbahaya karena pada proses ini disertai dengan hilangnya kontrol fungsi vital (respirasi, kardiovaskular, SSP) akibat dari efek obat obat induksi anestesi. Pemeliharaan : Mempertahankan stadium anestesi, sehingga pembedahan dapat berlangsung dengan aman dan optimal.

Midazolam
Diberikan 2,5 mg, konsentrasi 5 mg/ml, netto 3 ml. Digunakan sebagai premedikasi. Dosis: 0,05-0,1 mg/kgBB IV Dosis yang diperlukan: 0,025-0,1 mg x 60 kg = 1,5 6 mg

Pada pasien diberikan Midazolam sebanyak 2,5 mg melalui IV line sebagai premedikasi dengan tujuan untuk menenangkan pasien sebelum operasi dan juga memberikan efek amnesia kepada pasien

Petidin Diberikan 70 mg, Konsentrasi 50 mg/ml, netto 2 ml

Merupakan analgesik opioid


Dosis : 1-1,3 mg/KgBB IV Dosis yang diperlukan : 1-1,3 mg x 60 kg = 70 78 mg Petidin Pada pasien diberikan Petidin sebanyak 60 mg melalui intravena sebagai pramedikasi dengan tujuan memberikan rasa nyaman dengan memberikan efek analgetik.

Propofol Isi 20 ml Konsentasi 10 mg/ml, netto 1 ampul 20 ml Dosis : 2 2,5 mg/kgbb Dosis yang diperlukan : 2-2,5 x 60 kg = 140 350 mg Propofol Pada pasien diberikan 130mg. Propofol merupakan obat induksi sedative dan menimbulkan anastesia secepat thiopental, tetapi dengan pemulihan yang lebih cepat dan pasien ssegera merasa lebih baik. Oleh sebab itu dapat digunakan dalam day surgery . Nyeri kadang terasa tejadi di tempat suntikan tetapi jarang disertai flebitis atau thrombosis.

Atrakurium Besilat Dosis 0,5 0,6 mg/kgBB Dosis yang diberikan 0,5-0,6 mg x 70 kg = 35 36 mg Notrixum. Dosis 30 mg karena relaksasi diperlukan untuk pelaksanaan intubasi. Sediaan 1 ampul 3 atau 5 ml mengandung 5 mg/ml.

Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi intermediate acting. Onset 2-3 menit dan durasinya bekisar 15-35 menit. Metabolisme terjadi dalam darah ataupun dalam plasma sehinga aman pada pasien penderita penyakit hati ataupun ginjal. Tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga masa kerjanya singkat. Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan sesudah masa kerja berakhir, atau apabila diperlukan dapat diberikan obat antikolinesterase.

Pada maintanence selama operasi berlangsung diberikan isofluran 1-2 vol% + N2O (0L)+ O2 (3L). Isofluran digunakan karena dapat menurunkan tonus otot skelet melalui mekanisme depresi pusat motoris pada serebrum,sehingga dengan demikian berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot non depolarisasi. Oleh sebab itu isofluran digunakan karena disamping memiliki efek hipnotik, isofluran juga memiliki efek analgetik ringan dan relaksasi otot ringan.

Maintenance = 100 cc/jam

Berat badan : 60 kg Lama Puasa : 8 jam

Menggant i lama puasa = 800 cc

Stress operasi : operasi kecilsedang ( 46cc/kgBB) : 4-6 x 60 = 240-360 cc/jam

Kebutuhan cairan jam I = maintenance + stress operasi + puasa = 100 + 240 + 400 = 740 cc

Kebutuhan cairan jam II= Maintenance + stress operasi + puasa = 100 + 240 + 200 = 540 cc

540 cc