Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Kalau kita artikan sejarah lokal itu semata-mata sebagai sejarah daerah tertentu, maka sejarah semacam itu sudah lama berkembang di Indonesia. Bahkan sejarah yang kita miliki sekarang bermula dari tradisi sejarah lokal seperti itu. Hal ini bisa kita hubungkan dengan berbagai sejarah daerah dengan nama-nama tradisional seperti babad, tambo, riwayat, hikayat dan sebagainya, yang dengan cara-cara yang khas(magis mistis) menguraikan asal-usul suatu daerah tertentu (lihat Ong Hok Ham 1981: 3). Dalam usaha organisasi untuk menunjang aktivitas-aktivitas organisasiorganisasi sejarah lokal di seluruh Indiana, maka himpunan sejarawan profesional ini menyelenggarakan serangkaian lokakarya pada tahun 1978-1979 dengan tema utama the Local Hostirical Society, Its Role in the Present Day. Topik-topik yang dibahas dalam lokakarya ini meliputi antara lain : usaha-usaha menggali dana dari pihak pemerintah maupun swasta dalam rangka membantu keuangan perkumpulan-perkumpulan sejarah lokal setempat, terutama yang masih kecil (belum berkembang) ; tentang pelestarian benda-benda sejarah (artifacts maupun dokumen) baik yang sudah ada di musium/perpustakaan maupun yang masih ada di lapangan ; usaha-usaha pengembangan kegiatan sejarah lisan (oral history) di tingkat lokal, dan lain-lain (lihat lebih lanjut laporan Indiana Historical Society-Local History Today-1979). Bahwa dalam lokakarya ini telah dilibatkan juga berbagai pihak yang termasuk kelompok profesional dalam bidang-bidang yang berkaitan erat dengan studi sejarah lokal, seperti bidang permuseuman, kearsipan, ahli-ahli perpustakaan dan lain-lain. Dari semua kegiatan ini bisa disimpulkan betapa besar minta serta usaha para sejarawan profesional untuk membantu pengembangan serta peningkatan kegiatan studi sejarah lokal yang terutama dilakukan oleh para amaturis. 1.1 Batasan Pengertian serta Ruang Lingkup Sejarah Lokal. Menurut seorang sejarawan lokal Inggris yang terkenal, H.P.R. Finberg, dalam bukunya Local History, Objective and Pursuit tidak ada mengemukakan rumusan yang eksplisit tentang apa sejarah lokal itu. Namun demikian, barangkali di sini kita

bisa mencoba memulai dengan rumusan sederhana, yaitu bahwa sejarah lokal bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penulisan sejarah dalam lingkup yang terbatas yang meliputi suatu lokalitas tertentu. Di Indonesia sendiri, di samping istilah sejarah lokal, dikenal juga istilah sejarah daerah. Di negara Barat juga terdapat beberapa istilah untuk sejarah lokal. Di samping istilah yang umum, yaitu local history (sejarah lokal) maka dikenal pula istilah-istilah seperti community history, atau neighborhood history, bahkan belakangan ada istilah nearby history (lihat Kving & Marty 1984 : 4). Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ruang lingkup sejarah lokal atas dasar jalan pikiran Jordan ialah keseluruhan lingkungan sekitar yang bisa berupa kesatuan wilayah seperti desa, kecamatan, kabupaten, kota kecil, dan lain-lain kesatuan wilayah seukuran itu beserta unsur-unsur institusi sosial dan budaya yang berada di suatu lingkungan itu. 1.2 Arti Penting Kajian Sejarah Lokal Secara lebih menyeluruh arti penting dari kajian sejarah lokal telah dikemukakan dengan baik oleh sejarawan L.B. Lapian yang pokok-pokoknya bisa dikemukakan sebagai berikut (lihat Lapian 1980 : 3-9). Pertama-tama adalah untuk mengenal berbagai peristiwa sejarah di wilayah-wilayah di seluruh Indonesia dengan lebih baik dan lebih bermakna. Lapian juga menunjuk kepentingan lebih lanjut dari kajian sejarah lokal, yaitu untuk bisa mengadakan koreksi terhadap generalisasi-generalisasi yang sering dibuat dalam penulisan sejarah nasional (Lapian 1980 : 7). 1.3. Penelitian dan Penulisan Sejarah Lokal. Sejarah lokal perlu memperhatikan empat langkah utama dalam kegiatannya. Keempat langkah itu berupa : 1. Usaha mengumpulkan jejak atau sumber sejarah. 2. Usaha untuk menyeleksi atau menyaring jejak atau sumber. 3. Usaha mempretasikan hubungan fakta satu dengan fakta lainnya. 4. Penulisan sejarah (lihat Langlois dan Seignobos 1925). Selanjutnya yang dikelompokkan dalam jejak historis itu bisa pula dibedakan menjadi beberapa kategori. Kvig dan Marty misalnya membagi jejak hostoris ini menjadi empat jenis, yaitu :

1. Jejak non-material, berupa berbagai lembaga masyarakat. Sejarah yang dimiliki oleh suatu masyarakat juga termasuk jejak non-material. 2. Jejak material, yang bersifat kongkrit. Yang berupa macam-macam benda peninggalan masa lampau. 3. Jejak tertulis, yang berupa tulis tangan dan ada yang berupa cetakan. 4. Jejak representasional (jejak yang mewakili jejak yang lain), yaitu gambaran suasana tertentu yang terdapat dalam potret atau lukisan itu. Contoh yang nyata adalah potret atau lukisan. 5. Jejak informasi lisan dari pelaku atau saksi sejarah. 6. Jejak tertulis. Prosedur kerja yang perlu diperhatikan sejarawan lokal ialah apa yang umum dikenal dengan kritik sejarah. Kritik sejarah ini biasanya dibedakan menjadi kritik ekstern dan kritik intern. Kritik intern terutama mempertanyakan dua hal pokok, yaitu yang pertama ialah apakah pembuat kesaksian mampu memberi kesaksian. Yang kedua ialah apkah pemberi informasi memang mau memberi informasi yang benar.