Anda di halaman 1dari 33

RESUSITASI JANTUNG PARU

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Makalah Mata Kuliah Kegawatdaruratan Obstetri

Kelompok 5 Angkatan 6

Cory Avianingsih P Fia Fegriana Rima Arianti Tita Nurlita Eulis N Juariah Selvina Situmorang Nella Marsela Vely Maretiany S Yunita Budiman Deska Dianputeri Z Ditha Mutilayalia

130103100011 130103100021 130103100025 130103100029 130103100034 130103100045 130103100046 130103100059 130103100060 130103100062 130103100076

FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KEBIDANAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

RESUSITASI JANTUNG PARU

1. PERUBAHAN PARADIGMA RESUSITASI JANTUNG PARU From ABC to CAB

Tahun lalu American Heart Association (AHA), dalam Jurnal Circulation yang diterbitkan 2 November 2010, mempublikasikan Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR) dan Perawatan Darurat Kardiovaskular 2010. Seperti kita ketahui, para ilmuwan dan praktisi kesehatan terus mengevaluasi CPR atau yang lebih kita kenal dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) ini dan mempublikasikannya setiap 5 tahun. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkahlangkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini untuk mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan

bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan. Rekomendasi 2010 Pedoman mengkonfirmasi keamanan dan efektivitas dari banyak pendekatan, mengakui ketidakefektifan orang lain, dan memperkenalkan perawatan baru berbasis evaluasi bukti intensif dan konsensus para ahli. Kehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bahwa pedoman sebelumnya tidak aman atau tidak efektif, melainkan untuk menyempurnakan rekomendasi terdahulu. Setelah mengevaluasi berbagai penelitian yang telah dipublikasi selama lima tahun terakhir AHA mengeluarkan Panduan RJP 2010. Fokus utama RJP 2010 ini adalah kualitas kompresi dada. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Panduan RJP 2005 dengan RJP 2010. 1. Bukan lagi ABC, melainkan CAB AHA 2010 (new) A change in the 2010 AHA Guidelines for CPR and ECC is to reccomend the initiation of chest compression before ventilation. AHA 2005 (old) The sequence of adult CPR began with opening of the airway, checking for normal breathing, and then delivering 2 rescue breaths followed by cycles of 30 chest compressions and 2 breaths. Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC: Airway, Breathing, Ciculation (Chest Compression) yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi dada. Pada saat ini, prioritas utama adalah Circulation baru setelah itu tatalaksana difokuskan pada Airway dan selanjutnya Breathing. Satusatunya pengecualian adalah hanya untuk bayi baru lahir (neonatus), karena penyebab tersering pada bayi baru lahir yang tidak sadarkan diri dan tidak bernafas adalah karena masalah jalan nafas (asfiksia). Sedangkan untuk yang lainnya, termasuk RJP pada bayi, anak, ataupun orang dewasa biasanya adalah masalah Circulation kecuali bila kita menyaksikan sendiri korban tidak sadarkan diri karena masalah selain Circulation harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir memberikan bantuan jalan nafas.

2. Tidak ada lagi Look, Listen, and Feel AHA 2010 (new) Look, listen, and feel for breathing was removed from the sequence for assessment of breathing after opening the airway. The healthcare provider briefly checks for breathing when checking responsiveness to detect signs of cardiac arrest. After delivery of 30 compressions, the home rescuer opens the victims airway and delivers 2 breaths. AHA 2005 (old) Look, listen, and feel for breathing was used to assess breathing after the airway was opened. Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah Bertindak bukan Menilai. Telepon ambulan segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik (gasping). Percayalah pada nyali Anda. Jika Anda mencoba menilai korban bernapas atau tidak dengan mendekatkan pipi Anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafas dan tindakan look listen and feel ini hanya akan menghabiskan waktu. 3. Tidak ada lagi Resque Breath AHA 2010 (new) Beginning CPR with 30 compressions rather than 2 ventilations leads to a shorter delay to first compression Resque breath adalah tindakan pemberian napas buatan sebanyak dua kali setelah kita mengetahui bahwa korban henti napas (setelah Look, Listen, and Feel). Pada AHA 2010, hal ini sudah dihilangkan karena terbukti menyita waktu yang cukup banyak sehingga terjadi penundaan pemberian kompresi dada.

4. Kompresi dada lebih dalam lagi AHA 2010 (new) The adult sternum should be depressed at least 2 inches (5 cm) AHA 2005 (old) The adult sternum should be depressed 11/2 to 2 inches (approximately 4 to 5 cm). Pada pedoman RJP sebelumnya, kedalaman kompresi dada adalah 1 - 2 inchi (4 5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk melakukan kompresi dada dengan kedalaman minimal 2 inchi (5 cm). 5. Kompresi dada lebih cepat lagi AHA 2010 (new) It is reasonable for lay rescuers and healthcare providers to perform chest compressions at a rate of at least 100x/min. AHA 2005 (old) Compress at a rate of about 100x/min. AHA mengganti redaksi kalimat disini sebelumnya tertulis: tekan dada sekitar 100 kompresi/ menit. Sekarang AHA merekomendasikan kita untuk kompresi dada minimal 100 kompresi/ menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik. 6. Hands only CPR AHA 2010 (new) Hands-Only (compression-only) bystander CPR substantially improves survival following adult out-of-hospital cardiac arrests compared with no bystander CPR. AHA mendorong RJP seperti ini pada tahun 2008. Dan pada pedoman tahun 2010 pun AHA masuh menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands Only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan terbesar adalah: apa yang harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan mereka dan korban yang bukan dewasa? AHA memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini, namun ada saran

sederhana disini: berikan Hands Only CPR, karena berbuat sesuatu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. 7. Pengaktivasian Emergency Response System (ERS) AHA 2010 (new) Check for response while looking at the patient to determine if breathing is absent or not normal. Suspect cardiac arrest if victim is not breathing or only gasping. AHA 2005 (old) Activated the emergency response system after finding an unresponsive victim, then returned to the victim and opened the airway and checked for breathing or abnormal breathing Pada pedoman AHA yang baru, pengaktivasian ERS seperti meminta pertolongan orang di sekitar, menelepon ambulans, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada tidaknya henti nafas (terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan cepat. 8. Jangan berhenti kompresi dada AHA 2010 (new) The preponderance of efficacy data suggests that limiting the frequency and duration of interruptions in chest compressions may improve clinically meaningful outcomes in cardiac arrest patients Setiap penghentian kompresi dada berarti menghentikan aliran darah ke otak yang mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan beberapa kompresi dada untuk mengalurkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk terus melakukan kompresi selama kita bisa atau sampai alat defibrilator otomatis datang dan siap untuk menilai keadaan jantung korban. Jika sudah tiba waktunya untuk pernapasan dari mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali melakukan kompresi dada. Prinsip Push Hard, Push Fast, Allow complete chest recoil, and Minimize Interruption masih ditekankan disini. Ditambahkan dengan Avoiding excessive ventilation.

9. Tidak dianjurkan lagi Cricoid Pressure AHA 2010 (new) The routine use of cicoid pressure in cardiac arrest is not recommended. AHA 2005 (old) Cricoid pressure should be used only if the victim is deeply unconscious, and it usually requires a third rescuer not involved in rescue breaths or compressions. Cricoid pressure dapat menghambat atau mencegah pemasangan jalan nafas yang lebih adekuat dan ternyata aspirasi tetap dapat terjadi walaupun sudah dilakukan cricoid pressure. Cricoid pressure merupakan suatu metode penekanan tulang rawan krikoid yang dilakukan pada korban dengan tingkat kesadaran sangat rendah, hal ini pada pedoman AHA 2005 diyakini dapat mencegah terjadinya aspirasi dan hanya boleh dilakukan bila terdapat penolong ketiga yang tidak terlibat dalam pemberian nafas buatan ataupun kompresi dada. 10. Pemberian Precordial Thump AHA 2010 (new) The precordial thump should not be used for unwitnessed out-of-hospital cardiac arrest. The precordial thump may be considered for patients with witnessed, monitored, unstable VT (including pulseless VT) if a defibrillator is not immediately ready for use, but it should not delay CPR and shock delivery. AHA 2005 (old) No recommendation was provided previously. Pada beberapa kasus dilaporkan bahwa precordial thump dapat

mengembalikan irama ventricular tachyarrhytmias ke irama sinus. Akan tetapi pada sejumlah besar kasus lainnya, precordial thump tidak berhasil

mengembalikan korban dengan ventricular fibrillation ke irama sinus atau kondisi Return of Spontaneous Circulation (ROSC). Kemudian terdapat banyak laporan yang menyebutkan terjadinya komplikasi akibat pemberian precordial thump seperti fraktur sternum, osteomyelitis, stroke, dan bahkan bisa mencetuskan aritmia yang ganas pada korban dewasa dan anak-anak. Pemberian precordial thump boleh dipertimbangkan untuk dilakukan pada pasien dengan VT yang disaksikan, termonitor, tidak stabil, dan bila defibrilator tidak dapat disediakan

dengan segera. Dan yang paling penting adalah precordial thump tidak boleh menunda pemberian RJP atau defibrilasi

2. DEFINISI Resusitasi atau reanimasi mengandung arti harfiah menghidupkan kembali, dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis (Andrey, 2012). Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah prosedur kegawatdaruratan medis yang ditujukan untuk serangan jantung dan pada henti napas. (Wikipedia, 2010) RJP adalah kombinasi antara bantuan pernapasan dan kompresi jantung yang dilakukan pada korban serangan jantung. (American Heart Association. 2010) Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung (kematian klinis) ke fungsi optimal, guna mencegah kematian biologis. Kematian klinis ditandai dengan hilangnya nadi arteri carotis dan arteri femoralis, terhentinya denyut jantung dan pembuluh darah atau pernafasan dan terjadinya penurunan atau kehilangan kesadaran. Kematian biologis dimana kerusakan otak tak dapat diperbaiki lagi, dapat terjadi dalam 4 menit setelah kematian klinis. Oleh Karena itu, berhasil atau tidaknya tindakan RJP tergantung cepatnya dilakukan tindakan dan tepatnya teknik yang dilakukan (Alkatiri J.).

3. INDIKASI A. Henti Napas Henti napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tesengat listrik, tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglotis, tercekik (suffocation), trauma dan lain-lainnya. Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau

henti napas mendapat pertolongan segera maka pasien akan teselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung. B. Henti Jantung Henti jantung primer (cardiac arrest) ialah ketidak sanggupan curah jantung untuk memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat balik normal, kalau dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian atau kerusakan otak. Henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu tidak termasuk henti jantung Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh fibrilasi ventrikel atau takikardi tanpa denyut (80-90%), kemudian disusul oleh ventrikel asistol (+10%) dan terakhir oleh disosiasi elektro-mekanik (+5%). Dua jenis henti jantung yang terakhir lebih sulit ditanggulangi karena akibat gangguan pacemaker jantung. Fibirilasi ventrikel terjadi karena koordinasi aktivitas jantung menghilang. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis femoralis, radialis) disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. Pengiriman O2 ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb), saturasi Hb terhadap O2 dan fungsi pernapasan. Iskemi melebih 3-4 menit pada suhu normal akan menyebabkan kortek serebri rusak menetap, walaupun setelah itu dapat membuat jantung berdenyut kembali

4. TUJUAN RJP Tujuan dari dilakukannya Resusitasi Jantung Paru diantaranya adalah : a. Mencegah berhentinya sirkulasi darah atau berhentinya pernapasan b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi (melalui kompresi dada) dan ventilasi (melalui bantuan napas penolong) dari pasien yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui rangkaian kegiatan Resusitasi Jantung

5. FASE RESUSITASI JANTUNG PARU Resusitasi jantung paru dibagi menjadi 3 fase diantaranya(3): 1. FASE I : Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung, dan bagaimana melakukan RJP secara benar. Terdiri dari : C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru. A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka. B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat.

2. FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support) yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan : D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai PJL, untuk mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes. F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.

3. FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support) terdiri dari : G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya. H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30 32C. H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.

I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pengukuran pernafasan pH, pCO2 dikontrol bila terus menerus, dan sonde lambung, sirkulasi,

diperlukan,

tunjangan

mengendalikan kejang.(3)

6. SURVIVAL CHAIN Untuk mengenali terjadinya SCA (sudden cardiac arrest) adalah hal yang tidak mudah. Jika terjadi kekeliruan dan keterlambatan untuk bertindak dan memulakan CPR, ini akan mengurangi survival rate korban tersebut. Chest compression merupakan antara tindakan yang sangat penting dalam CPR kerana perfusi tergantung kepada kompresi. Oleh kerana itu, chest compression merupakan tindakan yang terpenting jika terdapat korban yang mempunyai SCA. Prinsip utama dalam resusitasi adalah memperkuat rantai harapan hidup (chain of survival). Keberhasilan resusitasi survival. Jalur ini meliputi:

membutuhkan integrasi

koordinasi

jalur chain

of

Pengenalan segera akan henti jantung dan aktivasi sistem respons darurat (emergency response system)

RJP dini dengan penekanan pada kompresi dada Defibrilasi cepat Advance life support yang efektif Post-cardiac arrest care (perawatan pasca henti jantung) yang terintegrasi

Sistem gawat darurat yang secara efektif menerapkan jalur ini dapat meningkatkan harapan hidup pasien dengan henti jantung VF (ventricle fibrillation) hingga 50%. Pada sebagian besar sistem gawat darurat angkanya masih lebih rendah, menandakan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dengan evaluasi ulang dari jalur ini. Penyelamat dapat memiliki berbagai pengalaman, pelatihan dan kemampuan. Begitu pula dengan status korban dan keadaan sekitar kejadian. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan RJP yang lebih dini dan lebih efektif bagi setiap korban.

Chain of survival

Kerangka kerja RJP: interaksi antara penyelamat dan korban RJP secara tradisional menggabungkan antara kompresi dada dan nafas buatan dengan tujuan untuk meningkatkan sirkulasi dan oksigenasi. Karakteristik penyelamat dan korban dapat mempengaruhi penerapannya.

Penyelamat Setiap orang dapat menjadi penyelamat bagi korban henti jantung. Kemampuan RJP dan penerapannya tergantung dari hasil pelatihan, pengalaman dan kepercayaan diri si penyelamat.Kompresi dada adalah dasar RJP. Setiap penyelamat, tanpa memandang hasil pelatihan, harus melakukan kompresi dada pada semua korban henti jantung. Karena pentingnya, kompresi dada harus menjadi tindakan RJP yang pertama kali dilakukan terhadap semua korban tanpa memandang usianya. Penyelamat yang memiliki kemampuan sebaiknya juga melakukan ventilasi. Beberapa penyelamat yang sangat terlatih harus saling berkoordinasi dan melakukan kompresi dada serta nafas buatan secara tim. Terdapat 3 pola strategi RJP yang dapat diterapkan pada penolong sesuai dengan keadaannya, yaitu: untuk penolong non petugas kesehatan yang tidak terlatih, mereka dapat melakukan strategi Hands only CPR (hanya kompresi dada). Kompresi dada sebaiknya dilakukan hingga petugas kesehatan hadir atau alat defibrilasi otomatis tersedia.

Kedua, untuk penolong non petugas kesehatan yang terlatih, mereka dapat melakukan strategi RJP kompresi dada dan dilanjutkan dengan ventilasi dengan perbandingan 30 : 2. RJP sebaiknya dilakukan hingga petugas kesehatan hadir atau alat defibrilasi otomatis tersedia. Ketiga, untuk petugas kesehatan, lakukan RJP kompresi dada sebanyak satu siklus yang dilanjutkan dengan ventilasi dengan perbandingan 30 : 2.

Korban Sebagian besar henti jantung dialami orang dewasa secara tiba-tiba setelah suatu sebab primer; karenanya sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi yang terpenting. Sebaliknya, henti jantung pada anak-anak sebagian besar karena asfiksia yang memerlukan baik ventilasi dan kompresi untuk hasil yang optimal. Karenanya, bantuan nafas lebih penting bagi anak-anak dibandingkan orang dewasa.

7. PROSEDUR RESUSITASI JANTUNG PARU (C-A-B) Rangkaian bantuan hidup dasar pada dasarnya dinamis, namun sebaiknya tidak ada langkah yang terlewatkan untuk hasil yang optimal. Berikut ini adalah algoritma bantuan hidup dasar berdasarkan 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovacular Care, yaitu :

1. RESPONSE

Pastikan situasi dan keadaan pasien dengan memanggil nama/sebutan yang umum dengan keras disertai menyentuh atau menggoyangkan bahu dengan mantap. Prosedur ini disebut sebagai teknik touch and talk. Hal ini cukup untuk membangunkan orang tidur atau merangsang seseorang untuk bereaksi. Jika tidak ada respon, kemungkinan pasien tidak sadar. Terdapat tiga level tingkat kesadaran, yaitu: Sadar penuh: sadar, berorientasi baik terhadap diri, waktu dan tempat Setengah sadar: mengantuk atau bingung/linglung Tidak sadar: tidak berespon

Jika pasien berespon Tinggalkan pada posisi dimana ditemukan dan hindari kemungkinan resiko cedera lain yang bisa terjadi. Analisa kebutuhan tim gawat darurat. Jika sendirian, tinggalkan pasien sementara, minta bantuan Observasi dan kaji ulang secara regular

Jika pasien tidak berespon Berteriak minta tolong Atur posisi pasien. Sebaiknya pasien terlentang pada permukaan keras dan rata. Jika ditemukan tidak dalam posisi terlentang, terlentangkan pasien dengan teknik log roll, secara bersamaan kepala, leher dan punggung digulingkan. Atur posisi penolong. Berlutut sejajar dengan bahu pasien agar secara efektif dapat memberikan resusitasi jantung paru (RJP). Cek nadi karotis a. AHA Guideline 2010 tidak menekankan pemeriksaan nadi karotis sebagai mekanisme untuk menilai henti jantung karena penolong sering mengalami kesulitan mendeteksi nadi. Jikan dalam lebih dari 10 detik nadi karotis sulit dideteksi, kompresi dada harus dimulai. b. Penolong awam tidak harus memeriksa denyut nadi karotis

Anggap cardiac arrest jika pasien tiba-tiba tidak sadar, tidak bernapas atau bernapas tapi tidak normal (hanya gasping).

2. CIRCULATION (SIRKULASI) Compressions

Bila tidak ada nadi Mulai lakukan siklus 30 kompresi dan 2 ventilasi 1. Lutut berada di sisi bahu korban 2. Posisi badan tepat diatas dada pasien, bertumpu pada kedua tangan 3. Letakkan salah satu tumit telapak tangan pada sternum, diantara 2 putting susu dan telapak tangan lainnya di atas tangan pertama dengan jari saling bertaut atau dua jari pada bayi ditengah dada 4. Tekan dada lurus ke bawah dengan kecepatan setidaknya 100x/menit (hampir 2 x/detik) AHA Guideline 2010 merekomendasikan : 1. Kompresi dada dilakukan cepat dan dalam (push and hard) 2. Kecepatan adekuat setidaknya 100 kali/menit 3. Kedalaman adekuat Dewasa : 2 inchi (5 cm), rasio 30 : 2 (1 atau 2 penolong) Anak : 1/3 AP ( 5 cm), rasio 30 : 2 (1 penolong) dan 15 : 2 (2 penolong) Bayi : 1/3 AP ( 4 cm), rasio 30 : 2 (1 penolong) dan 15 : 2 (2 penolong)

4. Memungkinkan terjadinya complete chest recoil atau pengembangan dada seperti semula setelah kompresi, sehingga chest compression time sama dengan waktu relaxation/recoil time.

3. AIRWAY (JALAN NAPAS) Pastikan jalan napas terbuka dan bersih yang memungkinkan pasien dapat bernapas.

Bersihkan jalan napas Amati suara napas dan pergerakan dinding dada Cek dan bersihkan dengan menyisir rongga mulut dengan jari, bisa dilapisi dengan kasa untuk menyerap cairan. Dilakukan dengan cara jari silang (cross finger) untuk membuka mulut.

Membuka jalan napas Secara perlahan angkat dahi dan dagu pasien (Head tilt & Chin lift) untuk buka jalan napas

1. Head Tilt & Chin Lift

a. Membaringkan korban terlentang pada permukaan yang datar dan keras b. Meletakkan telapak tangan pada dahi pasien c. Menekan dahi sedikit mengarah ke depan dengan telapak tangan d. Meletakkan ujung jari telunjuk dan jari tengah dari tangan lainnya di bawah bagian ujung tulang rahang pasien e. Menengadahkan kepala dan menahan/menekan dahi pasien secara bersamaan sampai kepala pasien pada posisi ekstensi 2. Jaw Trust

a. Membaringkan korban terlentang pada permukaan yang datar dan keras b. Mendorong ramus vertikal mandibula kiri dan kanan ke depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas, atau, c. Menggunakan ibu jari masuk ke dalam mulut korban dan bersama dengan jari-jari yang lain menarik dagu korban ke depan, sehingga otot-otot penahan lidah teregang dan terangkat d. Mempertahankan posisi mulut pasien tetap terbuka Ambil benda apa saja yang telihat Pada bayi, posisi kepala harus normal Cek tanda kehidupan: respon dan suara napas Jangan mendongakkan dahi secara berlebihan, secukupnya untuk membuka jalan napas, karena bisa berakibat cedera leher. AHA Guideline 2010 merekomendasikan untuk : Gunakan head tilt-chin lift untuk membuka jalan napas pada pasien tanpa ada trauma kepala dan leher. Sekitar 0,12-3,7% mengalami cedera spinal dan risiko cedera spinal meningkat jika pasien mengalami cedera kraniofasial dan/atau GCS <8 Gunakan jaw thrust jika suspek cedera servikal Pasien suspek cedera spinal lebih diutamakan dilakukan restriksi manual (menempatkan 1 tangan di ditiap sisi kepala pasien) daripada menggunakan spinal immobilization devices karena dapat mengganggu jalan napas tapi alat ini bermanfaat mempertahankan kesejajaran spinal selama transportasi

Jalan Napas Tersumbat

Miringkan pasien ke salah satu sisi Keluarkan apa saja objek yang terlihat dalam mulut Ambil gigi/palsu yang lepas Tinggalkan gigi palsu yang utuh pada tempatnya

Jalan Napas Bersih Pertahanakan jalan napas terbuka dan cek adanya pernapasan normal Jika dalam beberapa menit terdengar suara seperti gurgling, atau batuk dengan pergerakan dada dan abdomen, perlakukan tetap seperti tidak bernapas, karena pernapasan ini tidak efektif.

Pemasangan Oro-pharingeal Airway (OPA) Ukuran umum yang tersedia : Dewasa besar = 100 cm (Guedel no. 5) Dewasa sedang = 90 cm (Guedel no. 4) Dewasa kecil = 80 cm (Guedel no. 3) Anak-anak = Guedel no. 1 dan no. 2

Cara pemasangan

1. Menentukan ukuran OPA yang tepat bagi pasien dengan meletakkan OPA disamping pipi pasien dan memilih OPA yang panjangnya sesuai dari sudut mulut hingga ke sudut rahang bawah (angulus mandibulae) 2. Memasang alat, terdapat 2 cara : a. Cara pertama Membuka mulut dan memasukkan OPA terbalik Memutar/merotasi OPA jika telah mencapai palatum molle b. Cara kedua Membuka mulut dengan spatel

Dengan hati-hati memasukkan OPA hingga ke belakang. Pada anak-anak, sebaiknya memakai cara ini, karena rotasi dapat menyebabkan patahnya gigi dan kerusakan faring 3. Mengecek ketepatan pemasangan OPA dengan memberikan ventilasi pada pasien. Jika pemasangan tepat akan tampak pengembangan dada dan suara napas terdengar melalui auskultasi paru dengan stetoskop selama ventilasi

Pemasangan Naso-pharingeal Airway (OPA) 1. Menentukan ukuran NPA yang tepat bagi pasien a. Meletakkan NPA di samping pipi pasien dan memilih NPA yang panjangnya sesuai dari pangkal cuping hidung sampai cuping telinga b. NPA yang terlalu panjang dapat menstimulasi gag reflex sedangkan NPA yang telalu pendek tidak dapat menjauhkan lidah dari faring anterior 2. Melubrikasi ujung NPA dengan lubrikan larut air (water-soluble lubricant) untuk meminimalkan tahanan dan menurunkan iritasi pada saluran lubang hidung 3. Memasukkan NPA dengan cara memegang NPA seperti memegang pensil dan secara perlahan dimasukkan ke dalam lubang hidung pasien dengan bevel menghadap ke nasal septum 4. Mendorong alat sepanjang dasar lubang hidung, mengikuti lekukan saluran lubang hidung, hingga pinggiran pangkal NPA rata dengan lubang hidung 5. Jika terjadi tahanan selama insersi, merotasi NPA bolak balik dengan lembut di antara kedua jari 6. Jika tahanan tetap terjadi, tidak memaksakan pemasangan alat karena dapat menyebabkan abrasi dan laserasi mukosa hidung yang dapat mengakibatkan perdarahan dan risiko aspirasi 7. Mengecek ketepatan pemasangan NPA dengan memberikan ventilasi pada pasien. Jika pemasangan tepat akan tampak pengembangan dada dan suara napas terdengar melalui auskultasi paru dengan stetoskop selama ventilasi.

4. Breathing (Pernapasan) Jika pasien bernapas recovery position

Jika tidak bernapas Berikan 2 x napas buatan

Mulut ke mulut/hidung

Bag Valve Mask Bisa digunakan secara efektif bila penolong minimal berdua Oksigen dapat diberikan hingga 85% kapasitas reservoir Prosedur : 1. Memilih ukuran mask yang sesuai dengan pasien dan memasangnya pada wajah pasien 2. Menghubungkan bag dengan mask, jika belum tersambung 3. Meletakkan bagian yang menyempit (apeks) dari masker di atas batang hidung pasien dan bagian yang melebar (basis) diantara bibir bawah dan dagu 4. Menstabilkan masker pada tempatnya dengan ibu jari dan jari teluntuk membentuk huruf C. Menggunakan jari yang lainnya pada tangan yang sama untuk mempertahankan ketepatan posisi kepala dengan mengangkat dagu sepanjang mandibula dengan jari membentuk huruf E 5. Memberikan ventilasi dengan mengempiskan bag dengan menggunakan tangan lainnya

6. Mengobservasi pengembangan dada pasien selama melakukan ventilasi

AHA Guideline 2010 merekomendasikan untuk : Pemberian rescue breathing sama dengan rekomendasi AHA 2005, yaitu : a. Pemberian dilakukan sesuai tidal volume b. Rasio kompresi dan ventilasi 30:2 c. Setelah alat intubasi terpasang pada 2 orang penolong : selama pemberian RJP, ventilasi diberikan tiap 8-10 x/menit tanpa usaha sinkronisasi antara kompresi dan ventilasi. Kompresi dada tidak dihentikan untuk pemberian ventilasi Tidak menekankan pemeriksaan breathing karena penolong baik profesional maupun awam mungkin tidak dapat menentukan secara akurat ada atau tidaknya napas pada pasien tidak sadar karena jalan napas tdk terbuka atau karena pasien occasional gasping yg dpt terjadi pada beberapa menit pertama setelah henti jantung.

Kembali tangan dan jari secapatnya ke tengah dada dan beri kompresi dan ventilasi berikutnya Lanjutkan 30 kompresi dan 2 siklus napas Sesudah 5 siklus kompresi dan ventilasi kemudian pasien dievaluasi kembali. Jika tidak ada nadi karotis, dilakukan kembali kompresi dan bantuan nafas dengan rasio 30 : 2. Jika ada nafas dan denyut nadi teraba letakkan pasien pada posisi mantap (recovery position) Jika tidak ada nafas tetapi nadi teraba, berikan bantuan nafas sebanyak 10- 12 x/menit dan monitor nadi setiap 2 menit. Jika sudah terdapat pernafasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar

jalan nafas tetap terbuka

apakah masih ada sumbatan di mulut pasien serta perbaiki posisi tengadah kepala dan

angkat dagu yang belum adekuat p belum sadar, ubah posisi pasien ke recovery position, bila pasien muntah tidak terjadi aspirasi .

terjadi segera terlentangkan pasien dan lakukan nafas buatan kembali Bila tersedia, gunakan Automated External Defibrillator (AED)

Kompresi dada saja Jika karena suatu kondisi napas buatan tidak dapat diberikan, tetap lakukan kompresi karena di dalam tubuh masih ada oksigen Cek ulang sirkulasi. Re-check dihentikan bila napas normal telah kembali, jangan menghentikan resusitasi

Multi penolong emergency team) telah dipanggil

ghindari kelelahan Hidari gap waktu dalam pergantian personel secara berlebihan

Kapan RJP dihentikan ? Area menjadi tidak aman Staf yang lebih ahli telah datang Tanda-tanda kehidupan muncul Tanda-tanda kematian: rigor mortis, dilatasi pupil

Usahakan pasien dewasa atau pun anak untuk melakukan batuk dengan efektif. Usaha mengeluarkan sumbatan lain dilakukan bila batuk tidak efektif untuk mengeluarkan subatan dan tanda-tanda gangguan napas semakin hebat dan terdengar bunyi stridor. Penatalaksanaan Maneuver Heimlich Maneuver Heimlich. Merupakan suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan diafragma secara mendadak, memaksa udara

dalam paru untu keluar dengen cepat sehingga penyumbat jalan napas dapat terdorong keluar. Hentakan dapat diulang 6-10 kali untuk membersihkan jalan napas. Pertimbagnakn adanya kerusakan organ dibawah abdomen atas dan torak bawah. Hentakan inidiberikan setelah kemungkinan sumbatan tidak bisa diambil secara manual dengan mudah, atau dengan teknik pengambilan malahan menyebabkan objek semakin dalam Pasien sadar dan berdiri - Berdiri dibelakang pasien - Lingkari pinggang atas (lihat ilustrasi) dengan tangan penolong - Letakan tangan yang mengepal ditopang dengn tangan lain tepat dibawah prosesus xypoideus (uluhati) - Pegang erat-erat kepalan tangan - Tarik kedua tangan kita untu menekan dengan hentakan keras kearah belakang pasien. - Ulangi kegiatan secara terpisah dengan gerakan kuat - Pada kasus obesitas atau kehamilan, berikan kompresi dada - Bila pasien tidak sadar, baringkan dengan posisi terlentang

Pasien yang terlentang/tidak sadar - Terlentang kan pasien - Penolong berlutut diantara pahan pasien - Letakan satu tangan pada garis tengan abdomen, diatas umbillikus dan agak jauh dibawah sternum, tangan kedua diletakan pada tangan pertama. - Tekan kearah bawah depan dengan kuat dan menghentak. - Ulangi sampai 6-10 kali - Posisi ini bisa digunakan bila penolong terlau pendek dbiandingkan dengan pasien

Manuver untuk diri sendiri - Letakan tangan pada posisi seperti gambarilustrasi - Tekan kearah belakang atas - Bila tidak berhasil bisa ditekankan pada ujung meja/tepi

- Ulangi sampai 6-10 kali

Pada bayi - Bayi ditunggangkan pada satu tangan penolong - Posisikan kepala menghadap ke bawah, lebih rendah dari badan, tahan dengan tangan pada bagian rahang bayi. Jangan menutup mulut dan hidung bayi - Dengan mengganakan tepalak tangan yang lain, berikan 4x pukulan diantara skapula - Setelah memukul letakan tangan yang bebsa di atas punggung bayi untuk menjepit - Jika tidak berhasil, letakan 2-3 jari dibawah sternum (ps. xypoideus), berikan 5 tekanan - Lihat adakah objek keluar, jika bisa dilihat, lepaskan dengan jari, kemudian berikan 2 x napas bantuan - Bila tidak menolong minta bantuan yang lebih ahli sambil terus memberikan tekanan punggung dan dada sampai bayi terbatuk

8. BANTUAN HIDUP LANJUT Terdiri atas Bantuan hidup dasar ditambah langkah-langkah: D (Drugs): Pemberian obat-obatan. Obat-obat tersebut dibagi menjadi 2 golongan: 1. Penting: a. adrenalin : Mekanisme kerja merangsang reseptor alfa dan beta, dosis yang diberikan 0,5 1 mg iv diulang setelh 5 menit sesuai kebutuhan dan yang perlu diperhatikan dapat meningkatkan pemakaian O2 myocard, takiaritmi, fibrilasi ventrikel(4). b. Natrium Bicarbonat: Penting untuk melawan metabolik asidosis, diberikan iv dengan dosis awal : 1 mEq/kgBB, baik berupa bolus ataupun dalam infus setelah selama periode 10 menit. Dapat juga diberikan intrakardial, begitu sirkulasi spontan yang efektif tercapai, pemberian harus dihentikan karena bisa terjadi metabolik alkalosis, takhiaritmia dan hiperosmolalitas. Bila belum ada sirkulasi yang efektif maka ulangi lagi pemberian dengan dosis yang sama(3). c. Sulfat Atropin: Mengurangi tonus vagus memudahkan konduksi

atrioventrikuler dan mempercepat denyut jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling berguna dalam mencegah arrest pada keadaan sinus bradikardi sekunder karena infark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis yang dianjurkan mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam interval 5 menit sampai tercapai denyut nadi > 60 /menit, dosis total tidak boleh melebihi 2 mg kecuali pada blok atrioventrikuler derajat 3 yang membutuhkan dosis lebih besar. d. Lidokain: Meninggikan ambang fibrilasi dan mempunyai efek antiaritmia dengan cara meningkatkan ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama diastole. Pada dosis terapeutik biasa, tidak ada perubahan bermakna dari

kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik, atau periode refrakter absolut. Obat ini terutama efektif menekan iritabilitas sehingga mencegah kembalinya fibrilasi ventrikel setelah defibrilasi yang berhasil, juga efektif mengontrol denyut ventrikel prematur yang mutlti fokal dan episode takhikardi ventrikel. Dosis 50-100 mg diberikan iv sebagai bolus, pelan-pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat dilanjutkan dengan infus kontinu 1-3 mg.menit, biasanya tidak lebih dari 4 mg.menit, berupa lidocaine 500 ml dextrose 5 % larutan (1 mg/ml)
(3)

2. Berguna: a. Isoproterenol: Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat karena complete heart block). Ia diberikan dalam infus dengan jumlah 2 sampai 20 mg/menit (1-10 ml larutan dari 1 mg dalam 500 ml dectrose 5 %), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai kira-kira 60 kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang tidak berhasil diatasi dengan Atropine(3). b. Propanolol: Suatu beta adrenergic blocker yang efek anti aritmianya terbukti berguna untuk kasus-kasus takhikardi ventrikel yang berulang atau fibrilasi ventrikel berulang dimana ritme jantung tidak dapat diatasi dengan Lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang sampai total 3 mg, dengan pengawasan yang ketat(3). c. Kortikosteroid: Sekaranfg lebih disukai kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl prednisolon sodium succinate atau 1 mg/kgBB dexamethasone fosfat) untuk pengobatan syok kardiogenik atau shock lung akibat henti jantung. Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-100 mg methyl prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada komplikasi paru seperti pneumonia post aspirasi, maka digunakan dexamethason fosfat 4-8 mg tiap 6 jam(3). E (EKG): Diagnosis elektrokardigrafis untuk mengetahui adanya fibrilasi ventrikel dan monitoring. F: (Fibrilation Treatment)

Gambaran EKG pada Ventrikel Fibrilasi ini menunjukan gelombang listrik tidak teratur baik amplitudo maupun frekuensinya.

Terapi definitifnya adalah syok electric (DC-Shock) dan belum ada satu obatpun yang dapat menghilangkan fibrilasi.

Tindakan defibrilasi untuk mengatasi fibrilasi ventrikel. Elektroda dipasang sebelah kiri putting susu kiri dan di sebelah kanan sternum atas.

9. BANTUAN HIDUP TERUS MENERUS 10. G (Gauge) : Tindakan selanjutnya adalah melakukan monitoring terus-menerus terutama system pernapasan, kardiovaskuler dan system saraf.

11. H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. 12. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30 32C. 13. H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan

perikemanusiaan. 14. I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang. 15. 16. Keputusan untuk mengakhiri resusitasi 17. Keputusan untuk memulai dan mengakhiri usaha resusitasi adalah masalah medis, tergantung pada pertimbangan penafsiran status serebral dan kardiovaskuler penderita. Kriteria terbaik adanya sirkulasi serebral dan adekuat adalah reaksi pupil, tingkat kesadaran, gerakan dan pernafasan spontan dan refleks. Keadaan tidak sadar yang dalam tanpa pernafasan spontan dan pupil tetap dilatasi 15-30 menit, biasanya menandakan kematian serebral dan usaha-usaha resusitasi selanjutnya biasanya sia-sia. Kematian jantung sangat memungkinkan terjadi bila tidak ada aktivitas elektrokardiografi ventrikuler secara berturut-turut selama 10 menit atau lebih sesudah RJP yang tepat termasuk terapi obat(3).

18.