Anda di halaman 1dari 14

VAGINAL SMEAR

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Sesar Fikri Firmansyah : B1J008100 : VII :1 : Gito Sugeng R.

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2009

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Setiap individu betina mengalami siklus estrus dalam hidupnya. Siklus estrus ini berbeda antara suatu spesies dengan spesies yang lain. Praktikum ini menggunakan preparat mamalia untuk mengetahui fase yang sedang dialami oleh individu tersebut (Yatim, 1990). Vaginal smear merupakan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi fase siklus estrus yang sedang dialami oleh individu betina. Tipe sel pada suatu fase berbeda dengan fase yang lain. Perbedaan tipe sel merupakan salah satu cara untuk mengetahui suatu fase pada individu betina. Praktikum ini menggunakan tipe sel epitel dan leukosit untuk mengidentifikasi fase dalam siklus estrus (Gilbert, 1994). Pada mamalia betina, biasanya terjadi disekitar fase estrus. Estrus didahului dengan periode persiapan atau proestrus dan setelah estrus terjadi periode pasca estrus. Dalam periode pasca estrus akan terjadi dua kemungkinan yaitu ovum yang diovulasikan dibuahi spermatozoa. Kemungkinan kedua ovum tersebut tidak dibuahi, jika demikian ovum tersebut dikeluarkan dari rahim. Pengamatan apus vagina atau vaginal smear digunakan untuk menentukan fase estrus mamalia betina. Dengan mengetahui fase estrusnya maka dapat pula diketahui kejadian-kejadian yang terjadi dalam ovarium pada fase tersebut ( Storer, 1961). Pemeriksaan vaginal smear dapat diaplikasikan pada spesies lain dalam kelas mamalia non primata (Corner, 1945). 2. Tujuan Tujuan praktikum Vaginal Smear ini adalah untu melakukan prosedur

pembuatan preparat apus vagina, mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam preparat tersebut dan menentukan fase estrus dari marmut betina (Cavia porcellus ).

II. TINJAUAN PUSTAKA Organ reproduksi betina pada mamalia adalah ovarium. Ovarium tersusun atas bagian stroma dan korteks. Bagian stroma berisi jaringan ikat ovarium. Bagian korteks ovarium terdiri dari sel-sel epitel penyusun sarang telur. Sel-sel germinal primordial oogonium terdapat pada bagian korteks. Satu folikel terdapat enam belas sel. Satu sel menjadi oosit dan lima belas sel lainnya menjadi nurse sel. Nurse sel berfungsi mensintesis RNA dan protein untuk oosit. Mamalia juga mempunyai oosit yang dibungkus sel folikel (sel granulosa). Pertumbuhan oosit menyebabkan jumlah sel granulosa meningkat dan membentuk bungkus berlapis yang disebut theka. Lapisan theka terbagi menjadi dua yaitu theka interna dan theka eksterna. Theka interna memproduksi hormon estrogen (Rugh, 1962). Siklus estrus merupakan periode antara fase estrus ke fase estrus berikutnya. Fase estrus merupakan fase dimana telur diovulasikan dari ovarium ke saluran telur. Fase ini menandakan bahwa individu betina telah masak kelamin (Storer, 1961). Satu siklus estrus terdapat empat fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus atau postestrus, dan diestrus. Fase estrus ditandai dengan tingkah laku aneh, gelisah, dan tidak menolak apabila didekati individu jantan. Setiap fase berkaitan dengan perubahan aktivitas dan struktur ovarium, uterus, dan vagina. Perubahan satu bagian tersebut berhubungan dengan bagian lain sehingga untuk mengidentifikasi fase yang sedang dialami oleh individu betina tersebut dapat menggunakan salah satu bagian saja untuk diidentifikasi. Bagian yang paling mudah untuk diidentifikasi adalah vagina sehingga dapat menggunakan metode Vaginal Smear (Nalbandov, 1976). Daur estrus terutama pada poliestrus dapat dibedakan atas: (1) proestrus yaitu pertumbuhan folikel yang menghasilkan estrogen dalam jumlah banyak dan estrogen merangsang pertumbuhan seluler pada alat kelamin tambahan terutama vagina dan

uterus, (2) estrus merupakan periode ovulasi dimana betina siap menerima jantan, dan (3) diestrus merupakan periode istirahat yaitu alat kelamin tambahan mengalami perubahan berangsur-angsur kembali. Fase estrus suatu spesies dapat diidentifikasi dengan vaginal smear tetapi fase tersebut tidak dapat teridentifikasi saat hamil dan belum masak kelamin. Pembuatan preparat apus vagina dapat dilakukan saat individu tersebut berumur delapan minggu (Yatim, 1990). Vaginal Smear menggunakan daerah vagina sebagai daerah identifikasi. Mukosa vagina diambil untuk bahan identifikasi. Sel epitel dan leukosit terdapat dalam mukosa vagina. Identifikasi bentuk sel epitel dan leukosit dapat menunjukkan fase dalam siklus estrus (Gilbert, 1994). Siklus estrus ini dikontrol oleh hormon estrogen. Reseptor hormon estrogen tidak hanya di oviduktus, tetapi juga pada hati. Reseptor hormon estrogen pada oviduktus berfungsi untuk mensintesis protein telur. Reseptor hormon estrogen pada hati berfungsi mensintesis vitelogen (Rugh, 1962). Fase estrus suatu spesies dapat diidentifikasi dengan Vaginal Smear. Namun, fase tersebut tidak dapat teridentifikasi saat hamil dan belum masak kelamin. Pembuatan preparat apus vagina dapat dilakukan saat individu tersebut telah berumur delapan minggu (Yatim, 1990).

III. MATERI DAN METODE A. Materi Alat alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya, cotton bud, tissue, gelas objek beserta cover glass, kamera digital, bak preparat, dan pipet tetes. Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum vaginal smear (apus vagina) adalah, marmut betina (Cavia porcellus ) masak kelamin yang sedang tidak hamil, larutan NaCl 0,9%, larutan alkohol 70%, dan pewarna methylen blue 1% akuosa.

B. Metode 1. Sediakan gelas obyek yang telah dibersihkan dengan alkohol 70% dan dibiarkan sampai kering. 2. Ujung cotton bud dibasahi dengan larutan NaCl 0,9% dn dimasukkan perlahan ke dalam vagina hewan uji sedalam + 5 mm dan diputar searah dengan jarum jam sebanyak dua atau tiga kali. 3. Ujung cotton bud dioleskan pada gelas obyek sebanyak tiga baris olesan dengan arah yang sama (sejajar). 4. Olesan vagina hewan uji ditetesi dengan pewarna methylen blue 1% dengan pipet tetes, digoyangkan agar merata pada permukaan olesan dan dibiarkan selama 5 menit, bila kelebihan warna maka dibilas dengan akuades atau air mengalir kemudian ditutup dengan gelas penutup. 5. Apus vagina diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah baru kemudian dengan perbesaran kuat. 6. Tipe sel yang tampak dalam sediaan apus vagina digambar atau difoto. 7. Gambaran sel pada sediaan apus vagina dibandingkan dengan gambaran standar dan fase estrus hewan uji ditentukan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1 2 (A) (B)

Gambar : (A) Mikroskopis siklus estrus fase diestrus perbesaran 10 x 40 (B) Skematis fase diestrus Keterangan gambar : 1. 2. Sel Epithel Sel Leukosit

B. Pembahasan Fase-fase dalam siklus estrus adalah proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Fase proestrus berlangsung 12 jam, folikel tumbuh dengan cepat dan dalam preparat apus terdapat tipe sel epitel dan leukosit. Fase estrus berlangsung 18 jam, terjadi ovulasi sel telur dari ovarium menuju saluran telur dan tipe sel dalam preparat apus

adalah sel epitel yang terkornifikasi. Fase metestrus berlangsung 6 jam, terbentuk korpora lutea dan terdapat sel leukosit diantara sel-sel epitel yang terkormifikasi pada preparat apus. Fase diestrus berlangsung kiri-kira separuh waktu siklus, terbentuk korpora lutea dan terdapat sel epitel dan leukosit pada preparat apus vagina (Storer, 1961). Metode Vaginal Smear menggunakan sel epitel dan sel lukosit sebagai bahan identifikasi. Sel epitel merupakan sel yang terletak di permukan vagina sehingga apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epitel merupakan sel yang paling awal terkena akibat dari perubahan tersebut. Sel leukosit merupakan sel antibodi yang terdapat di seluruh bagian individu. Sel leukosit di vagina berfungsi membunuh bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum. Sel epitel berbentuk oval atau polygonal dan berinti, sedangkan sel leukosit berbentuk bulat dan berinti (Nalbandov, 1976). Faktor-faktor yang mempengaruhi masak kelamin mamalia betina adalah faktor hormonal, reseptor hormon, genetik dan faktor lingkungan. Ada tidaknya hormon estrogen sangat mempengaruhi masak kelamin. Jika terdapat hormon estrogen maka individu betina dapat mengalami masak kelamin, begitu juga sebaliknya. Apabila terdapat hormon estrogen tetapi tidak memiliki reseptor hormon tersebut maka individu tersebut tidak akan mengalami masak kelamin (Yatim, 1990). Setiap mamalia mengalami peristiwa masak kelamin. Masak kelamin merupakan masa transisi antara masa kecil dan dewasa. Kadar hormon mencapai kadar maksimal saat pubertas. Pubertas juga dapat menandai bahwa suatu individu telah mengalami masak kelamin (Gilbert, 1994). Hewan yang digunakan dalam praktikum vaginal smear adalah marmut betina (Cavia porcellus ) yang telah masak kelamin dan tidak sedang hamil. Daur estrus dari hewan uji dapat ditentukan dengan melihat tipe sel dalam melihat tipe sel apus

vaginanya. Percobaan yang telah kita amati bahwa marmut tersebut sedang mengalami fase diestrus (Ville, 1988). Menentukan efek dari siklus estrus pada tanggapan terhadap rangsangan, percobaan dilakukan dalam dua fase berbeda: estrus, 12 jam setelah ovulasi ketika tingkat estradiol, progesteron, dan luteinizing hormon yang rendah pada tikus. diestrus, 2 hari setelah estrus ketika tingkat estradiol dan lebih tinggi, dan tingkat hormon luteinizing masih rendah, dibandingkan dengan fase estrus. Frekuensi pada rangsangan dalam dua fase estrusyang diterapkan pada tiga frekuensi berbeda untuk setiap situ dan siklus (Elisabet Stener, 2006). Vaginal smear merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengamati selsel yang menyusun vagina atau lapisan mukosanya melalui pembuatan preparat apus. Mengamati tipe dan proporsi masing-masing sel yang ditemukan pada apusan yang diperoleh dapat ditentukan fase yang sedang dialami oleh hewan yang bersangkutan. Menurut Frandson (1993), dengan mengetahui fase estrusnya maka dapat pula diketahui kejadian-kejadian yang terjadi dalam ovarium pada fase tersebut, ada empat fase estrus yaitu : 1. Proestrus Produksi estrogen meningkat dibawah stimulasi FSH, adenohipofisis pituitary dan LH ovari yang menyebabka terjadinya peningkatan perkembangan uterus, vagina, oviduct. dan folikel ovari. Fase ini dianggap sebagai fase penumpukan. Dalam pase ini folikel ovari dengan ovumnya yang menempel membesar terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi hormon estrogen. Estrogen yang diserap dari folikel ke dalam aliran darah merangsang penaikan vesikularitas dan pertumbuhan sel genitalia tubular dalam persiapan untuk birahi dan kehamilan yang terjadi. 2. Estrus

Adalah periode penerimaan seksual pada hewan betina yang terutama ditentukan oleh tingkat sirkulasi estrogen. Setelah itu terjadi ovulasi, ini terjadi dengan penurunan tingkat FSH dalam darah dan peningkatan LH. Sebelum ovulasi folikel membesar dan mengalami turgit, serta ovum yang berada di situ mangalami pemasakan. Estrus kira-kira berakhir pada saat pecahnya volikel ovari atau terjadinya ovulasi. Waktu saat itu ovum dilepaskan dari volikel menuju tuba uterine. 3. Metestrus Merupakan fase setelah ovulasi, dimana korpus luteum mulai berfungsi. Panjangnya metestrus dapat tergantung pada panjangnya LH disekresi oleh adenohipifisis. Selama periode ini terjadi penurunan estrogen. 4. Diestrus dan anestrus Diestrus adalah periode quiescence atau separuh waktu siklus antara siklus estrus pada hewan-hewan yang tergolong poliestrus, sedangkan anestrus merupakan periode quiescence antar musim kawin. Metode vaginal smear merupakan metode yang digunakan untuk menentukan fase yang dialami hewan uji dengan cara mengamati tipe sel dan proporsi masing masing sel yang ditemukan pada apusan yang di peroleh. Alat alat yang digunakan pada percobaan vaginal smear adalah cotton bud berfungsi untuk menempelkan sel epithel dan sel leukosit, gelas objek dan cover glass untuk meletakan sel epithel dan leukosit untuk diamati, nampan sebagai tempat meletakan alat dan bahan yang digunakan, tissue untuk mngelap gelas objek dan cover glass dan membersihkan noda yang ada, pipet tetes untuk mngambil laruta NaCl 70% dan methylen blue 1% akuosa, mikroskop cahaya digunakan untuk mengamati apusan yang telah dibuat. Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan adalah apusan dari marmot betina (Cavia porcellus ) sebagai objek untuk diamati fase estrus pada siklus estrusnya, larutan

NaCl 0,9 % digunakan agar sel epithel dan sel leukosit mudah menempel pada cotton bud, larutan alcohol 70 % untuk mensterilkan alat alat yang digunakan khususnya gelas objek dan cover glass, dan larutan pewarna methylen blue (pewarna sel) 1 % akuosa untuk mempermudah pengamatan pada sel. Jika pada manusia dan beberapa primata lainnya mempunyai siklus menstruasi, pada mamalia lainnya dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Perbedaanya dengan menstruasi adalah pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Hewan betina periode seputar ovulasi ditandai dengan vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut estrus. Bahasa latinnya adalah oestrus berarti gelisah, kopulasi hanya terjadi pada periode estrus. Jangka siklus estrus berbeda-beda, pada tikus hanya 5 hari, anjing dan beruang hanya mengalami satu siklus pertahun, tetapi pada gajah mengalami beberapa klai siklus estrus pertahun (Widyawati, 2007). Menurut Rahardian (2006), siklus menstruasi terbagi menjadi 3 fase: 1. Fase folikuler

Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar lh meningkat dan terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium. 2. Fase ovulatoir

Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur, saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.

3.

Fase luteal

Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesteron. Menurut Nalbandov (1976) Perbedaan siklus estrus dan menstruasi, diantaranya terletak pada fase-fase yang terjadi, yaitu pada siklus estrus fase yang terjadi yaitu: 1. Proestrus, folikel mengalami pemasakan akhir 2. Estrus, terjadi ovulasi (mirip periode sexual receptivity pada sebagian besar hewan). 3. Metestrus, terjadi pembentukan korpus luteum. 4. Diestrus, korpus luteum berfungsi optimal. Monoestrus dalam 1 tahun hanya terjadi 1 kali siklus estrus (anjing, serigala, beruang). Poliestrus dalam I tahu mengalami lebih dari 1 kali siklus estrus (babi, manusia, sapi). Poliestrus musiman, siklus estrus terjadi lebih dari 1 kali tetapi hanya pada musim tertentu saja, misal pada musim gugur (kambing, domba, dan rusa), pada musim semi (kuda dan hamster) (Nalbandov, 1976).

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1.Satu siklus estrus terdapat empat fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus atau postestrus, dan diestrus. 2. Metode Vaginal Smear menggunakan sel epitel dan sel lukosit sebagai bahan identifikasi. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi masak kelamin mamalia betina adalah faktor hormonal, reseptor hormon, genetik, dan faktor lingkungan.

B. Saran 1. Praktikan sebaiknya lebih teliti dalm menentukan fase

yang ada pada siklus estrus marmut betina (Cavia porcellus ). 2. Praktikan sebaiknya bekerjasama dengan baik dalam

kelompok maupun rombongan sehingga akan tercipta suasana yang terorganisir pada saat kegiatan praktikum. 3. Penyediaan preparat sebaiknya lebih banyak lagi

sehingga setiap kelompok memungkinkan mendapati hasil yang berbeda dengan kelompok lain dan ini akan memberikan wawasan lebih terutama pada praktikan.

DAFTAR REFERENSI Corner, G. W. 1945. The Hormones in Human Reproduction Princeton. Univ Press Princeton, New York. Elisabet Stener, Victorin. 2006. Ovarian blood flowresponse to electroacupuncture stimulation depend on estrous cycle and on site and frequency of stimulation in anesthetized rats. J Appl Physiol 101 : 84-91. Frandson, R. 1993. Anatomi and Physiology of Farm Animal. Lea Febigur, Philadelpia. Gilbert, S.F. 1994. Developmental Biology 4th ed. Sianuer Associates inc Publisher Massachusetts. Nalbandov, A.V. 1976. Reproductive Physiology of Mammals and Birds: The Comparative Physiology of Domestic and Laboratory Animals and Man. W.H. Freeman and Company, San Fransisco. Rahardian. 2006. Hormon dan Reproduksi. www.medicastore.com. Rugh, R. 1962 Experimental Emrbryology. Burger Publishing Company, Minnesota. Storer, T.I. 1961. Element of Zoology. Mc Graw-Hill Book Company Inc., New York. Ville, Claude. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta. Widiyawati, P. 2007. Struktur Reproduksi Wanita. http://209.85.175.104/search? q=cache:4QVV9MvOGvwJ:www.sch.id/pelajrn/b/tahukah.htm+siklus+menstr uasi+mamalia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. Diakses pada tanggal 24 September 2008. Yatim, W. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.