Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Pemanasan global merupakan sebuah hal yang menjadi perhatian semua orang pada saat ini. Karena pemansaan global sangat berdampak dan membuat perubahan iklim yang tidak lazim. Sehingga perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global tersebut menjadi sebuah perhatian orang dimanapun berada. Mereka juga sangat memperhatikan tentang krisis lingkungan yang terutama terjadi karena disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik. Pembangkit listrik batu bara menghasilkan gas karbon dioksida dalam jumlah banyak. Bahan bakar tersebut merupakan pembangkit energi yang tidak dapat diperbaharui dan kebutuhan energi dunia semakin hari semakin tinggi sedangkan ketersediaan bahan bakar fosil tersebut semakin menipis. Berbagai Negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk mencari dan menciptakan pembangkit energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Sebenarnya, sumber daya berkelanjutan dan ramah lingkungan saat ini banyak tersedia. Salah satunya adalah pemanfaatan gelombang laut sebagai energi pembangkit listrik. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang

terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal). Sebagai negara kepulauan, laut dan wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi prime mover pengembangan wilayah nasional diantaranya adalah pengembangan pembangkit energi yang melibatkan sumberdaya laut Indonesia yang sangat luas. Secara umum, potensi energi samudra yang dapat menghasilkan listrik dapat dibagi kedalam 3 jenis potensi energi yaitu energi pasang surut (tidal power), energi gelombang laut (wave energy) dan energy panas laut (ocean thermal energy). Energi pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan air laut akibat perbedaan pasang surut. Energi gelombang laut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan gelombang laut menuju daratan dan sebaliknya. Sedangkan energi panas laut memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di permukaan dan di kedalaman. Meskipun pemanfaatan energi jenis ini di Indonesia masih memerlukan berbagai penelitian mendalam, tetapi secara sederhana dapat dilihat bahwa probabilitas menemukan dan memanfaatkan potensi energi gelombang laut dan energi panas laut lebih besar dari energi pajang surut. Oleh karena itu kajian dan penelitian mendalam tentang pemanfaatan energy yang berasal dari sumberdaya laut harus semakin digiatkan dan terus ditingkatkan. Melalui makalah ini penulis mencoba mendalami lebih khusus

tentang potensi energi gelombang laut khususnya sebagai pembangkit energi listrik yang nantinya akan menjadi andalan Indonesia menuju kemandirian energi yang berwawasan lingkungan atau lebih dikenal dengan Green Energy yang nantinya dapat menekan pemanasan global.

I.2 Maksud dan Tujuan Maksud penulisan makalah ini yaitu untuk mendalami tentang sifat dan karakteristik gelombang laut serta aplikasi teknologi pembangkit yang tepat berdasarkan karakterisrik gelombang laut tersebut dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 . Gelombang Laut Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan kepada beberapa jenis bergantung kepada daya pencetusnya. Pencetus gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), daya tarikan bumi-bulanmatahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal. Gelombang yang biasanya terjadi dan dikaji dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut. Gelombang dapat membentuk dan merosakan pantai dan menbawa kesan kepada struktur pantai. Tenaga dari gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Dalam pengkajian bidang teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang dikenalpasti dalam proses pembentukan struktur pantai.

Pengertian Gelombang Laut Gelombang laut adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut biasanya disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan memindahkan tenaganya ke permukaan perairan, menyebabkan riak-riak, alunan/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang atau ombak.

Gb. Ilustrasi pergerakan partikel zat cair pada gelombang

Amati gerakan pelampung di dalam gambar gelombang di atas. Perhatikan bahwa sebenarnya pelampung bergerak dalam suatu lingkaran (orbital) ketika gelombang bergerak naik dan turun. Partikel air berada dalam satu tempat, bergerak di suatu lingkaran, naik dan turun dengan suatu gerakan kecil dari sisi satu kembali ke sisi semula. Gerakan ini memberi gambaran suatu bentuk gelombang. Pelampung yang mengapung di air pindah ke pola yang sama, naik turun di suatu lingkaran yang lambat, yang dibawa oleh pergerakan air. Di bawah permukaan, gerakan putaran gelombang itu semakin mengecil. Pergerakan orbital yang mengecil seiring dengan kedalaman air, sehingga kemudian di dasarnya hanya akan meninggalkan suatu gerakan kecil mendatar dari sisi ke sisi yang disebut surge.

Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinosoide. Selain radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya yang lentur dimana dapat juga berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengakibatkan partikel medium yang berpindah secara permanent, yaitu tidak ada perpindahan secara masal. Dan setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu. Suatu medium disebut linier jika gelombang yang berbeda disemua titik tertentu di medium bisa di jumlahkan, terbatas jika terbatas, selain itu disebut tak terbatas, seragam jika cirri fisiknya tidak berubah pada titik yang berbeda, isotoprik jika ciri fisiknya sama pada arah yang berbeda.

Pengaruh Gelombang Pada kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai dapat dilihat pada gambar animasi dibawah ini. Pada gambar animasi ini, dapatlah kita bayangkan bagaimana energi gelombang mampu mempengaruhi kondisi pantai. Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.

Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.

Gb. Perubahan bentuk gelombang yang menjalar mendekati pantai

Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya. Yaitu:

Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave). Gelombang perusak pantai (Destructive wave). Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai

ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material

pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.

Gb. Gelombang pembentuk pantai

Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.

Gb. Gelombang perusak pantai

Arus di Sekitar Pantai (Nearshore Circulation) Gelombang yang datang menuju pantai membawa massa air dan momentum, searah penjalaran gelombangnya. Hal ini menyebabkan terjadinya arus di sekitar kawasan pantai. Penjalaran gelombang menuju pantai akan melintasi daerah-daerah lepas pantai (offshore zone), daerah gelombang pecah (surf zone), dan daerah deburan ombak di pantai (swash zone). Diantara ketiga daerah tersebut, Bambang Triatmodojo (1999) menjelaskan bahwa karakteristik gelombang di daerah surf zone dan swash zone adalah yang paling penting di dalam analisis proses pantai.

Gb. Daerah penjalaran gelombang menuju pantai

Menurut Dean dan Dalrymple (2002), perputaran/sirkulasi arus di sekitar pantai dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu: arus sepanjang pantai (Longshore current), arus seret (Rip current), dan aliran balik (Back flows/crossshore flows). Sistem sirkulasi arus tersebut seringkali tidak seragam antara ketiganya bergantung kepada arah/sudut gelombang datang. Pada kawasan pantai yang diterjang gelombang menyudut (b > 5o) terhadap garis pantai, arus dominan yang akan terjadi adalah arus sejajar pantai (longshore current).

Sedangkan apabila garis puncak gelombang datang sejajar dengan garis pantai, maka akan terjadi 2 kemungkinan arus dominan di pantai. Yang pertama, bila di daerah surf zone terdapat banyak penghalang bukit pasir (sand bars) dan celah-celah (gaps) maka arus yang terjadi adalah berupa sirkulasi sel dengan rip current yang menuju laut. Kemungkinan kedua, bila di daerah surf zone tidak terdapat penghalang yang mengganggu maka arus dominan yang terjadi adalah aliran balik (back flows).

Gb. Terjadinya rip current

Namun karena pengaruh hidrodinamik laut yang sangat kompleks, maka yang biasanya terjadi adalah kombinasi dari kondisi-kondisi di atas. Seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gb. Kombinasi longshore current dan rip current

Gb. Kombinasi longshore current & back flows.

Jika suatu gelombang yang spesifik di pilih dan diikuti, akan ditemukan bahwa gelombang akan membantu melewati rentet gelombang dengan cepat. Seperti melanjut untuk maju melalui rentet gelombang, dan secara

berangsurangsur akan hilang energi dan tingginya akan menurun. Ketika menjangkau medan, gelombang akan menghilang lenyap dan digantikan oleh gelombang lainnya, gelombang dibentuk naik pada tingkat dari kerak. Penghilangan gelombang yang terkenuka dalam kaitan dengan tenaga/energi akan pindah dan bergerak ke air yang tenang dan lenyap, dan penyebabnya adalah energi yang sedikit / kecil. Faktanya bahwa tanpa alternative dapat terjadi dari masing-masing gelombang tertentu di dalam suatu tran yang benar-benar bergerak lebih cepat dari kelompok gelombang. Pengamatan yang diulangi menunjukkkan

bahwa dalam kesukaran tenaga getaran kelompok adalah separuh energi dari suatu gelombang individu.

Gerakan air dalam gelombang Gerakan partikel muka air sedikit hubungannya dengan jumlah gelombang channel. Muka air sedikit berpindah dengan tiap-tiap gelombang yang berlalu. Sebagai akibatnya air menunjukkan orbit gerakan gelombang yang lewat. Gerakan ke atas dan masing-masing ujun, bawah dan punggung dalam tiap lembah sangat sedikit permukaan yang bergerak, karena orbitnya tidak nenyeluruh. Pergerakan yang sedikit dari air dinamakan dengan Mass Transport. The Surf Zone merupakan suatu area dimana gelombang mulai masuk dalam perairan laut dangkal untuk pertama kali sehingga terdapat suatu kenampakan gelombang yang bergulung-gulung menuju ke arah daratan dan selanjutnya menuju pada daerah pecah gelombang. The Swash Zone merupakan zone dimana air bergerak secara laminar kea rah daratan, karena gelombang sudah pecah sehingga hanya merupakan suatu aliran yang mirip dengan limpasan permukaan.

Gelombang Angin Ketika angin mulai berhembus melintasi hamparan pantai, energi dari angina ditransfer ke air dalam bentuk gelombang. Ini memeng sifat dari angin, yang menimbulkan pergeseran seperti gerakan lintasan air. Pergeseran ini menekan melawan air dan jika energinya sangat akan membentuk riakan, jika anginnya sangat keras akan membentuk gelombang besar dari riakan tersebut.

Gelombang permukaan laut Gelombang dihasilkan oleh angina yang berubah dalam jumlah besar. Gelombang ini berjalan dari tempat yang berbeda, akan bertemu dengan sudut yang tidak sama. Angin jarang berhembus dalam arah yang tetap pada kecepatan yang tetap. Oleh karena itu setiap perubahan gelombang dihasilkan pada daerah terbuka dan gelombang yang terdiri dari beberapa ketidaksamaan ukuran, kecepatan dan bentuk: rip currents, longshore currents.

Tenaga Pembentuk Gelombang Semua gelombang dipengaruhi atau dihasilkan oleh salah satu dari 3 faktor atau mekanisme dasar yaitu angin, gravitasi, dan gempa. Ketika

gelombangterbentuk, gelombang mampu bergerak sepanjang laut interlokal dengan tenaga yang kecil. Ketika gelombang bergerak ke atas kerak samudera, kebanyakan gelombang hanya mempunyai sedikit interaksi dengan kerak. Ketika bergerak naik ke landas kontinen, terutama ketika masuk ke kawasan pantai dangkal, gelombang mulai berhubungan dengan kerak. Hasilnya adalah suatu perubahan dalam bentuk kecepatan gelombang. Di dalam air dangkal gelombang akan secepatnya dimodifikasi menjadi gelombang yang memecah pada suatu garis pantai dan melepaskan suatu jumlah energi yang dapat diperhitungkan. Gelombang dapat juga dibelokkan, dibiaskan dan dipantulkan oleh dermaga, pulau dan berbagai hal lainnya. Kondisi topografi dasar laut dan keadaan angin. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa keadaan gelombang tertinggi terjadi pada periode bulan desember sampai februari (musim barat), ketinggian

gelombang mencapai 1,5 m 2 m. Sedangkan pada bulan lainnya tinggi gelombang yang tercatat kurang dari 1,5 meter (Nurjaya,1993). Penyebab utama terjadinya gelombang adalah angin. Gelombang dipengaruhi oleh kecepatan angin, lamanya angin bertiup, dan jarak tanpa rintangan saat angin bertiup (fetch). Gelombang terdiri dari panjang gelombang, tinggi gelombang, periode gelombang, kemiringan gelombang dan frekuensi gelombang. Panjang gelombang adalah jarak berturut-turut antara dua puncak atau dua buah lembah. Tinggi gelombang adalah jarak vertikal antara puncak dan lembah gelombang. Periode gelombang adalah waktu yang dibutuhkan gelombang untuk kembali pada titik semula. Kemiringan gelombang adalah perbandingan antara tinggi dan panjang gelombang. Frekuensi gelombang adalah jumlah gelombang yang terjadi dalam satu satuan waktu. Pada hakikatnya, gelombang yang terbentuk oleh hembusan angin akan merambat lebih jauh dari daerah yang menimbulkan angin tersebut. Hal ini yang menyebabkan daerah di pantai selatan Pulau Jawa memiliki gelombang yang besar meskipun angin setempat tidak begitu besar. Gelombang besar yang datang itu bisa merupakan gelombang kiriman yang berasal dari badai yang terjadi jauh dibagian selatan Samudera Hindia.

II.2. Aplikasi Teknologi Untuk Konversi Energi Gelombang Laut Menjadi Energi Listrik Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi akibat dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada 2 titik yang diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda di kedua titik tersebut. Mengingat sifat tersebut maka energi gelombang laut dapat dikategorikan sebagai energi terbarukan. Gelombang laut secara ideal dapat dipandang berbentuk gelombang yang memiliki ketinggian puncak maksimum dan lembah minimum. Pada selang waktu tertentu, ketinggian puncak yang dicapai serangkaian gelombang laut berbedabeda, bahkan ketinggian puncak ini berbeda-beda untuk lokasi yang sama jika diukur pada hari yang berbeda. Meskipun demikian secara statistik dapat ditentukan ketinggian signifikan gelombang laut pada satu titik lokasi tertentu. Bila waktu yang diperlukan untuk terjadi sebuah gelombang laut dihitung dari data jumlah gelombang laut yang teramati pada sebuah selang tertentu, maka dapat diketahui potensi energi gelombang laut di titik lokasi tersebut. Potensi energi gelombang laut pada satu titik pengamatan dalam satuan kw per meter berbanding lurus dengan setengah dari kuadrat ketinggian signifikan dikali waktu yang diperlukan untuk terjadi sebuah gelombang laut. Berdasarkan perhitungan ini dapat diprediksikan berbagai potensi energi dari gelombang laut di berbagai tempat di dunia. Dari data tersebut, diketahui bahwa pantai barat Pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan Pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40kw/m.

Pada dasarnya prinsip keria teknologi yang mengkonversi energi gelombang laut menjadi energi listrik adalah mengakumulasi energi gelombang laut untuk memutar turbin generator. Karena itu sangat penting memilih lokasi yang secara topografi memungkinkan akumulasi energi. Meskipun penelitian untuk

mendapatkan teknologi yang optimal dalam mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini, ada beberapa alternatif teknologi yang dapat dipilih. Beberapa teknologi yang diterapkan untuk mengkonveri energi gelombang menjadi energy listrik antara lain:

OWC Terapung

Ocean Energy memfokuskan pengembangan pembangkit listrik gelombang laut dengan membuat oscilating water column yang mengapung di atas sebuah ponton dengan dipancangkan di dasar laut menggunakan kawat baja. Listrik yang dihasilkan dialirkan melalui kabel transmisi menuju ke daratan.

Berlokasi di Irlandia, sebuah negara yang terletak di salah satu tempat dengan iklim yang mendukung terjadinya gelombang laut dengan energi yang lebih dari cukup untuk dipanen, perusahaan tersebut memiliki lokasi yang tepat untuk melakukan riset dan pengembangan.

Sistem pembangkit listrik tersebut terdiri dari chamber berisi udara yang berfungsi untuk menggerakkan turbin, kolom tempat air bergerak naik dan turun melalui saluran yang berada di bawah ponton dan turbin yang terhubung dengan generator. Gerakan air naik dan turun yang seiring dengan gelombang laut menyebabkan udara mengalir melalui saluran menuju turbin. Turbin tersebut didesain untuk bisa bekerja dengan generator putaran dua arah.

Sistem yang berfungsi mengkonversi energi mekanik menjadi listrik terletak di atas permukaan laut dan terisolasi dari air laut dengan meletakkannya di dalam ruang khusus kedap air, sehingga bisa dipastikan tidak bersentuhan dengan air laut.

Dengan sistem yang dimilikinya, pembangkit listrik tersebut bisa memanfaatkan efisiensi optimal dari energi gelombang dengan meminimalisir gelombang-gelombang yang ekstrim. Efisiensi optimal bisa didapat ketika gelombang dalam kondisi normal. Hal tersebut bisa dicapai dengan digunakannya katup khusus yang menghindarkan turbin tersebut dari overspeed.

Teknologi ''Kerang'' Panen Energi Gelombang Laut

Para peneliti di Queens University Belfast yang telah melakukan riset selama bertahun-tahun dan dipimpin oleh Professor Trevor Whittaker, telah menghasilkan "kerang" untuk memanen energi gelombang laut dan mengubahnya menjadi listrik. Oyster nama yang diberikan kepada teknologi tersebut memang berbentuk seperti kerang. Oyster mempunyai dua buah "cangkang" yang mempunyai fungsi berbeda. Cangkang atau platform bagian atas berfungsi untuk menangkap energi gelombang laut dan platform yang berada di bagian bawah berfungsi sebagai penahan dan sekaligus menjadi tempat dimana sistem mekanik bekerja. Oyster bekerja sesuai dengan gerakan gelombang laut yang terjadi terus menerus. Gerakan gelombang laut yang mengandung energi tersebut

mengakibatkan terjadinya osilasi pada platform atas yang pada gilirannya menggerakkan pompa hidrolik yang terletak di platform bagian bawah.

Pompa hidrolik bertekanan tinggi tersebut kemudian menekan fluida yang berada di dalam pipa di dasar laut dan akhirnya memutar generator yang berada di pantai. Oyster juga didesain hanya untuk dipasang di pantai dengan kedalaman 12 meter hingga 16 meter, dengan strukturnya sendiri selebar 18 meter. Menurut riset mereka, pantai dengan kedalaman tersebut mempunyai air yang konstan dan gelombang yang tidak terpecah, serta mengurangi energi yang berlebihan yang mungkin terjadi. Jika terjadi gelombang besar seperti badai, maka Oyster juga mempunyai mekanisme untuk menutup kedua "cangkang"nya, dan berdiam diri di dasar laut. Selain itu Oyster juga ramah lingkungan. Penggunaan fluida dalam pompa hidrolik dari air serta tidak digunakannya bahan-bahan beracun tidak akan merusak lingkungan jika terjadi kebocoran sistem.

Aquamarine Power yang menggunakan hasil riset Queens University Belfast untuk mengembangkan lebih jauh lagi, menyatakan bahwa meski masih berada dalam tahap pengembangan, Oyster mempunyai potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan ke dalam skala komersial. Oscillating Water Column (OCW)

Mengenai prinsip kerja OWC untuk dikonversi energi gelombang adalah memanfaatkan tenaga gelombang yang asuk ke dalam suatu kolom sehingga air

yang berada di dalam kolom akan berfluktuasi dan berisolasi, bergerak naik turun dan mendesak udara di atasnya sehingga tekanan udara mampu menggerakkan turbin yang terpasang di kolom berputar. Turbin yang berputar itu kemudian dihubungkan generator yang akan menghasilkan listrik. Proses pembangkitan tenaga listrik dengan teknologi ini melalui 2 tahapan proses. Gelombang laut yang datang menekan udara pada kolom air yang diteruskan ke kolom atau ruang tertutup yang terhubung dengan turbin generator. Tekanan tersebut menggerakkan turbin generator pembangkit listrik. Sebaliknya, gelombang laut yang meninggalkan kolom air diikuti oleh gerakan udara dalam ruang tertutup yang menggerakkan turbin generator pembangkit listrik.

Permanent Magnet Linear Buoy

Peneliti

Universitas

Oregon

mempublikasikan

temuan

teknologi

terbarunya yang diberinama Permanent Magnet Linear Buoy. Diberinama buoy karena memang pada prinsip dasarnya teknologi terbaru tersebut dipasang untuk

memanfaatkan gelombang laut di permukaan. Berbeda dengan buoy yang digunakan untuk mendeteksi gelombang laut yang menyimpan potensi tsunami. Peneliti Oregon menjelaskan prinsip dasar buoy penghasil listrik tersebut yaitu dengan mengapungkannya dipermukaan. Gelombang laut yang terus mengalun dan berirama bolak-balik dalam buoy ini akan diubah menjadi gerakan harmonis listrik. Sekilas bila dilihat dari bentuknya, buoy ini mirip dengan dinamo sepeda. Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. Buoy di apungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian lagi mengapung. Kuncinya, terdapat pada perangkat elektrik yang berupa koil (kuparan yang mengelilingi batang magnet di dalam buoy). Saat ombak mencapai pelampung, maka pelampung tersebut akan bergerak naik dan turun secara relatif terhadap batang magnet sehingga bisa menimbukan beda potensial dan listrik dibangkitkan. Tentu saja agar dapat bergerak koil tersebut ditempelkan pada pelampung yang dikaitkan ke dasar laut, kata Annette von Jouanne, teknisi dari Oregon State University (OSU). Jouanne menuturkan dalam percobaan sistem ini diletakkan kurang lebih satu atau dua mil laut dari pantai. Kondisi ombak yang cukup kuat danmengayun dengan gelombang yang lebih besar akan menghasilkan listrik dengan tegangan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Universitas Oregon, setiap pelampung mampu menghasilkan daya sebesar 250 kilowatt.

Ada beberapa pilihan untuk menghasilkan daya tersebut, ujar Jouanne. Penjelasan diatas menggunakan teknik koil yang bergerak naik turun, tetapi bisa juga dengan teknik batang magnet yang bergerak naik turun. Pilihan kedua dengan menggunakan pelampung, penempatan koil dan batang magnet bisa juga ditempatkan didasar atau dipermukaan laut. Jouanne menuturkan teknologi yang ditawarkannya tersebut memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan teknologi laut. Ketersediaan teknologi ini mencapai 90 persen dan kerapatan energi yang dihasilkannya lebih tinggi, katanya. Mesin sendiri juga dapat dirakit dan digunakan dalam skala kecil maupun besar tergantung pada energi yang dibutuhkan. Potensi penggunaan energi pun bisa diterapkan di banyak negara terutama yang memiliki kawasan pantai.

Dibandingkan dengan energi angin atau matahari, energi gelombang laut kerapatannya jauh lebih tinggi. Peneliti yang sama dari OSU, Alan Wallace menyebutkan penyediaan energi gelombang ini dengan hanya 200 buoy yang diapungkan, satu buah pelabuhan atau kota besar seperti Portland sudah dapat memanfaatkan energinya dengan sangat melimpah tanpa harus menarik bayaran. Peneliti percaya jika hasil penelitian tersebut benar-benar di optimalkan di sepanjang pantai, seluruh energi listrik di dunia sudah bisa terpenuhi. Jumlah ini ditaksir hanya mengambil 0,2 persen energi pantai, kata Alan. Keyakinannya semakin lebih diperkuat dengan efisiensi penghasilan energi yang tinggi dan besar, energi gelombang laut ini bisa menjadi energi utama pengganti energi sekarang. Di samping nilai ekonomis yang cukup menjanjikan ada hal-hal lain yang dapat memberikan keuntungan di bidang lingkungan hidup. Energi ini lebih ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi suara, emisi CO2, maupun polusi visual dan sekaligus mampu memberikan ruang kepada kehidupan laut untuk membentuk koloni terumbu karang di sepanjang jangkar yang ditanam di dasar laut. Pada kasus-kasus seperti ini biasanya lebih menguntungkan karena ikan dan binatang laut selalu lebih banyak berkumpul. Penempatan buay dengan ukuran yang tidak terlalu besar juga tidak mengganggu pelayaran. Rata-rata dengan besar buoy kurang dari dua meter, kapal besar atau kecil bisa melihat objek tersebut dan dapat menghindarinya.

Anaconda

Para ahli di University of Southampton, Inggris, sedang melakukan program uji coba laboratorium dan penelitian matematika untuk meningkatkan pengembangan konsep pengubah energi gelombang laut yang sederhana. Konsep tersebut, menurut mereka, bisa menghasilkan listrik dari gelombang laut dengan harga yang lebih murah. Program yang mendapatkan dukungan dana sebesar US$852.233 dari Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC), bertujuan untuk membuat suatu perangkat pengubah energi gelombang laut yang lebih sederhana dibandingkan dengan yang ada saat ini. Anaconda, demikian nama perangkat tersebut, adalah sebuah tabung karet berukuran besar yang pada kedua ujungnya tertutup dan berisi air. Perangkat yang ditemukan oleh Francis Farley dan Rod Rainey, didesain untuk dipasang

mengapung di bawah permukaan laut, dengan salah satu ujungnya menghadap ke arah gelombang. Ketika sebuah gelombang mengenai ujung tertutup dari tabung, maka akan terjadi gelombang yang bergerak maju mundur [bulge wave] di dalam tabung akibat tekanan pada salah satu ujungnya. Kecepatan gelombang yang berjalan di dalam tabung tersebut ditentukan oleh geometri dan bahan tabung karet tersebut. Energi yang terjadi akibat gerakan gelombang ditangkap oleh sebuah katup yang kemudian menyalurkan tekanannya ke sebuah turbin. Listrik yang dihasilkannya disalurkan ke pantai melalui sebuah kabel. Dengan bahan yang terbuat dari karet, maka Anaconda menjadi lebih ringan dibandingkan perangkat pengubah energi laut lainnya, yang biasanya terbuat dari logam, dan memerlukan banyak sistem mekanik. Dengan sistem yang lebih sederhana, Anaconda bisa dibangun dengan biaya yang lebih sedikit, serta mengurangi biaya perawatan. Produksi Anaconda saat ini dilakukan oleh Checkmate SeaEnergy.

Konsep Anaconda saat ini masih diuji dalam skala kecil di laboratorium. Mereka menggunakan dimensi 0,25 m dan 0,5 meter, untuk mendapatkan berbagai data pada berbagai kondisi seperti gelombang biasa, tidak biasa bahkan gelombang paling ekstrim. Data - data tersebut untuk mengetahui besar tekanan yang terjadi di dalam tabung, perubahan bentuk dan gaya yang berpengaruh pada tali yang mengikat Anaconda dengan dasar laut. Data-data tersebut juga digunakan untuk membuat model matematika yang bisa digunakan untuk memperkirakan besarnya energi listrik yang dihasilkan dari Anaconda dalam skala penuh. Dari pengujian pertama di laboratorium, diperkirakan Anaconda bisa menghasilkan sekitar 1MW dan bisa menghasilkan listrik seharga US$ 0,12 per kWh atau bahkan kurang dari angka tersebut. Rencananya, jika dibuat dalam skala penuhnya, maka Anaconda akan mempunyai panjang 200 m dan diameter 7 meter, dan dipasang di laut dengan kedalaman antara 40 m hingga 100 m. Skala berukuran 1:3 rencananya akan dibuat tahun depan untuk pengujian di laut dan skala penuhnya akan dipasang di perairan pantai Inggris sekitar 5 tahun mendatang.

WaveRoller Perusahaan Firlandia Energi-AW menghasilkan alat energi ombak yang disebut WaveRoller, yang tergantung pada gelombang dasar laut untuk

menghasilkan tenaga listrik. Inspirasi teknologi hijau ini ditemukan pada tahun 1993 ketika pendiri perusahaan dan penyelam professional, Rauno Koivusaari sedang menyelam di Lautan Baltik. Ketika ia menemukan kapal rusak, hampir saja ia tertabrak oleh pintu yang bergerak menutup dan membuka dikarenakan gerakan gelombang air di dasar laut. Melihat kejadian ini membuat Mr. Koivusaari berpikir untuk memproduksi energi dengan memanfaatkan gelombang dasar laut, dan rasa penasarannya itu mendorongnya untuk menciptakan Energi AW sebagai rasa ingin tahunya untuk menciptakan Energi AW.

Pendekatan Energi AW menggunakan gelombang dasar atau gerakan air di bawah permukaan laut. Untuk melakukan ini, WaveRolLers (Gulungan Ombak) atau beberapa plat diletakkan di dasar laut sehingga bergerak maju dan mundur. Gaya gelombang laut pada alat itu akan menghasilkan energi yang dapat kita hubungkan dengan pompa piston sehingga dengan generator listrik di darat energi itu dapat diubah menjadi energi listrik. Menurut perusahaan itu, teknik Gulungan Ombak ini berbeda dengan teknologi kelautan yang lain karena teknologi ini tidak terlihat, tidak menimbulkan polusi suara dan tidak terpengaruh oleh badai yang mungkin terjadi. Energi-AW juga menyatakan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat WaveRollers tidak mencemari lingkungan. Misalkan, mereka menggunakan minyak yang dibuat dari tanaman pada peralatan hidrolik yang digunakan pada sistem generator ombak yang inovatif ini. Akhir-akhir ini, perusahaan ini melakukan uji coba di Pantai Peniche, Portugal dengan target utamanya adalah menghasilkan energi 10 megawaat dari WaveRoller di perariran Portugal dalam kurun waktu dua tahun ini. Sesuai dengan pendekatan perusahaannya, pemimpin Energi AW, Bapak Tuomo Hyysalo berkata, Telah diperkirakan bahwa energi ombak ini mempunyai kemampuan menyumbang 10 persen dari keseluruhan kebutuhan listrik secara global tanpa menghasilkan emisi CO2. Lebih lanjut, gelombang dasar yang terjadi dekat pantai yang digunakan oleh WaveRoller merupakan sumber energi yang mudah didapatkan di mana-mana karena terdapat di sepanjang garis pantai.

BAB III PENUTUP

III.1. Kesimpulan Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa gelombang laut memiliki karakteristik dan sifat yang dapat dimanfaatkan untuk dikonversi menjadi energy gelombang. Sedangkan penerapan teknologi untuk mengkonversi energi gelombang menjadi pembangkit listrik sangatlah mungkin berdasarkan penelitian dan ujicoba dari prototype yang dikembangkan oleh beberapa Negara termasuk Indonesia bahkan sudah ada yang dimanfaatkan. Teknologi yang dikembangkan untuk mengonversi gelombang laut menjadi pembangkit listrik diantaranya adalah Oscillating Water Column (OCW) baik yang terapung maupun yang tertancap di dasar, Anaconda, teknologi kerang, teknologi Permanent Magnet Linear Buoy dan Waveroller. Bahkan perkembangan teknologi terus diupayakan untuk memaksimalkan pemanfaatan Energi gelombang laut.

III.2. Saran Melihat potensi sumberdaya laut khususnya gelombang yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit Energy listrik di Indonesia maka perlu ditingkatkan penelitian dan ujicoba penerapan teknologi terbaru yang telah di jelaskan sebelumnya untuk konversi energi gelombang di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Anaconda pengubah energy gelombang laut berbahan karet, artikel Planethijau.com (online), (http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=37 &artid=858, diakses 07 january 2010) Energi tarian Gelombang laut (online), (http://agusdd.wordpress.com/2007/09/28/energi-tarian-gelombang-laut/, diakses 21 November 2007) Gelombang laut (Ocean waves)(online), (http://soffiyanagaul.blogspot.com/2009/07/gelombang.html, diakses 07 January 2010) Portugal dan MIT kembangkan energi gelombang laut, Artikel Planethijau.com(online), (http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=37 &artid=948, diakses 07 january 2010) Membuat Energy Hijau dari Gelombang laut (online), (http://ashfia.blog.uns.ac.id/2009/09/29/membuat-energi-hijau-darigelombang-laut/, diakses 07 january 2010) Memanen energi gelombang laut dengan OWC terapung, Artikel Planethijau.com(online), (http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=37 &artid=731, diakses 07 january 2010) Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik pantai. Beta offset,. Yogyakarta. Teknologi ''Kerang'' Panen Energi Gelombang Laut, Artikel Planethijau.com(online), (http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=37 &artid=1108, diakses 07 january 2010) (http://celebrating200years.noaa.gov/magazine/wave_energy/water_column.html, diakses 9 April 2007)