Anda di halaman 1dari 3

Alih Kode dan Campur Kode Dalam Pemakaian Bahasa

Oleh ABDUL HAMID

LEMBARAN seni dan budaya Khazanah 4 Juni 2005, memuat tulisan H. Usep Romli H.M. yang menanggapi laporan Ahda Imran tentang diskusi Yusuf Affendi dengan Aminuddin Th. Siregar (Ucok) yang dimoderatori oleh Hawe Setiawan. Diskusi yang dilaksanakan di Galeri Taman Budaya itu menyoal kasus pembakaran karya monumental perupa Tisna Senjaya pada tahun 2004 yang lalu. Usep menjuduli tulisannya sangat sensasional: "Mengapa tak Boleh Berbahasa Sunda?" Tulisan Usep menarik untuk disimak karena saya mengenal Ahda Imran yang Minang tapi nyunda, saya mengenal Hawe Setiawan sebagai Sunda moderat. (Dengan kedua orang ini saya selalu berbahasa Sunda.) Perkenalan saya dengan Ucok, Yusuf Affendi, dan Usep hanya lewat tulisan yang dimuat media. Saya tidak mengenal seni rupa. Saya hanya mengenal nyanyian anak-anak balonku ada lima, rupa-rupanya warnanya. Saya hanya mengenal Indonesia rupa-rupa bahasanya. Karena itu, tanggapan saya tidak akan mengarah ke seni rupa, melainkan ke bahasa dan sekitarnya. Sama dengan Usep, saya pun tidak sempat mengikuti acara diskusi. Karena itu, saya baca laporan Ahda Imran. Menurut laporannya, Ucok meninggalkan diskusi karena Yusuf Affendi berbicara begini, "Maaf kalau saya sebagian memakai basa Sunda karena di sana (di gerbang TBJB) ada tulisan "Wilujeng Sumping. Atuh da ieu teh lahan urang Sunda. Jadi kumaha urang Sunda salaku urang Sunda ngamangpaatkeun bobot pembelajaran, bagaimana menghadapi orang, saha urang, ka mana urang rek ngalengkah." Dalam studi bahasa (sosiolinguistik atau juga sosiologi bahasa) ada istilah yang disebut alih kode dan campur kode. Alih kode adalah peristiwa kebahasaan yang disebabkan adanya beberapa faktor di luar kebahasaan yang bersifat situasional, yaitu penutur, lawan tutur, hadirnya penutur ketiga, pokok pembicaraan, untuk sekadar mengalihkan perhatian atau melucu, dan meningkatkan gengsi. Untuk mencapai maksud tertentu, penutur yang memiliki kemampuan multibahasa sadar atau taksadar berusaha beralih kode. Misalnya, untuk mengubah situasi, penutur beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda karena penutur tahu bahwa lawan tuturnya sama-sama berbahasa Sunda atau dianggap bisa berbahasa Sunda. Penutur dalam diskusi dalam hal ini adalah Yusuf Affendi dan lawan tuturnya semua orang yang hadir dalam acara diskusi tersebut. Contoh lain, kita berbicara kepada orang asing dengan memakai bahasa Inggris, tetapi ternyata orang tersebut diketahui berbahasa Jerman, maka kita beralih ke bahasa Jerman. Setiap penutur pada umumnya ingin mengimbangi bahasa yang dipakai oleh lawan tuturnya. Di dalam masyarakat multilingual - seperti masyarakat Indonesia - itu berarti bahwa seorang penutur mungkin harus beralih kode sebanyak kali lawan tutur yang dihadapinya. Lawan tutur mungkin saja sama bisa juga berbeda latar belakang kebahasaannya dengan penutur. Hadirnya pihak (penutur) ketiga pun bisa memunculkan peristiwa alih kode. Dua orang atau lebih dari kelompok etnik yang sama - sebagaimana diilustrasikan H. Usep Romli H.M. tentang percakapan sopir angkot di Bandung dengan temannya dalam bahasa Batak - pada umumnya saling berinteraksi dengan bahasa kelompok etniknya. Namun, apabila hadir pihak ketiga yang yang berbeda latar belakang kebahasaannya, biasanya percakapan beralih kode ke bahasa yang dianggap dikuasai bersama atau yang dimampui pihak ketiga. Misalnya - melanjutkan ilustrasi Usep - sopir angkot tadi akan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda kepada penumpangnya yang sekalipun bukan orang Sunda dan sopir

itu tetap membawa logat Batak ke dalam bahasa Sunda. ** FAKTOR paling dominan akan terjadinya alih kode adalah pokok pembicaraan. Alih kode bisa terjadi dari ragam formal ke ragam informal (bahasa Indonesia baku ke tak baku, misalnya) atau dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah. Atau sebaliknya. Dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Misalnya, ketika orang tua yang sehari-hari berbahasa daerah membimbing anaknya mengerjakan soal matematika, otomatis orang tua beralih ke bahasa Indonesia. Sebaliknya, ketika membimbing tadi orang tua meminta tolong kepada anaknya untuk menutup pintu, misalnya, bahasa yang digunakannya adalah bahasa daerah. Hal ini terjadi karena pokok pembicaraan beralih dari hal-hal yang bersifat formal menjadi informal atau sebaliknya. Inilah yang terjadi dalam acara diskusi yang dilaporkan Ahda Imran. Selain alih kode, aspek lain dari ketergantungan bahasa dalam masyarakat multilingual adalah terjadinya campur kode. Campur kode adalah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsurunsur bahasa seperti kata ke dalam bahasa lain secara konsisten. Misalnya, kata-kata bahasa daerah atau kata-kata bahasa Arab atau Inggris ke dalam bahasa Indonesia ketika ceramah atau diskusi. Dalam alih kode, fungsi konteks dan relevansi situasi merupakan ciri ketergantungan. Dalam campur kode ciri ketergantungan tersebut ditandai dengan adanya hubungan timbal balik peran penutur, bentuk bahasa, dan fungsi kebahasaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai penutur dalam tuturannya. Campur kode bisa terjadi antara lain karena identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Ketiganya ini saling bergantung satu sama lain dan sering bertumpang tindih. Ukuran untuk identifikasi peranan adalah sosial, registral, dan edukasional. Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa yang dipakai penutur yang dianggap akan menempatkannya dalam status sosial tertentu. Keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan akan memperlihatkan sikap dan hubungan penutur dengan orang lain atau sebaliknya. Misalnya banyak di antara kita bercampur kode dengan unsur-unsur bahasa Inggris agar kita dikategorikan sebagai orang terpelajar, orang kota, orang modern, berwawasan luas dan bukan orang biasa. Hal semacam bisa juga terjadi dengan mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Betawi. Contoh lain adalah penyusupan kata-kata bahasa Arab ketika kita berbahasa Indonesia atau berbahasa daerah dengan harapan kita dipandang sebagai santri yang taat beribadah. Apa yang dilakukan Yusuf Affendi sebenarnya sering juga kita alami, baik sebagai penutur maupun sebagai lawan tutur atau pihak ketiga, karena kita bagian dari masyarakat multilingual. Di program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, misalnya. Ketika memberikan materi kuliah di kelas, ahli sastra Dr. Faruk H.T. yang berasal dari etnik Bugis dan Prof. Dr. Imran Teuku Abdullah yang berasal dari etnik Aceh sering beralih kode dan bercampur kode dengan bahasa Jawa. Dan kami sebagai mahasiswanya berasal dari berbagai suku yang belum tentu sangat mengerti bahasa Jawa. Pada awalnya kami ora mudheng, tapi kami tidak marah karena pokok pembicaraan tidak beralih, tidak melenceng. ** BERDASARKAN teks yang disodorkan Ahda Imran, saya punya simpulan bahwa Ucok meninggalkan diskusi bukan karena Yusuf Affendi menggunakan bahasa Sunda, melainkan karena isi atau topik pembicaraan. Topik pembicaraan Yusuf Affendi barangkali dianggapnya sudah melenceng. Ucok karena sudah lama hidup di Bandung dan sebagai seniman dan juga dosen pasti dekat dengan bahasa Sunda,

minimal dia mengerti dan karena mengerti itulah ia tahu apa yang dikatakan oleh Yusuf Affendi. Seandainya, teks semacam itu dikemukakan Yusuf Affendi dengan menggunakan bahasa Arab, bahasa Batak, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau pun bahasa lainnya yang dimengerti Ucok, peristiwanya akan sama: Ucok beralih kode ke bahasa Betawi (bukan bahasa Batak atau Indonesia) dengan mengatakan, "Gua orang Batak, bukan Sunda. Ini sudah etnik!" kemudian ia meninggalkan diskusi. Jadi, sebenarnya dalam diskusi tersebut tidak ada orang yang melarang atau dilarang menggunakan bahasa Sunda, baik tertulis maupun terlisan, karena semua orang yang ada dalam acara tersebut memaklumi kemultilangualan bangsa Indonesia. Semuanya tahu bahwa bahasa daerah merupakan pendukung kemajuan bahasa Indonesia. Hal ini termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam Bab XV Pasal 36: Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, dan Madura) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. Satu lagi yang perlu ditanggapi dari tulisan H. Usep Romli H.M. berkaitan dengan pernyataan Hawe Setiawan yang menjadi moderator dalam acara diskusi. Hawe berkata, "Sebagai orang Sunda saya merasa malu, terutama pada Ucok. Janganlah kita terlalu membesar-besarkan kesundaan karena nanti akan menegasikan Ucok yang kebetulan orang Batak. Menurut saya, ini tidak fair dan tidak etis juga." Tampaknya ada kesalahpahaman pada Usep karena Hawe tidak menyangkutkan pemakaian bahasa Sunda yang dilakukan oleh Yusuf Affendi. Tiba-tiba Usep menyatakan kalimat yang tidak relevan: "Ada apa dengan Hawe? Sebagai Pemimpin Redaksi Majalah "Sunda Cupumanik" seharusnya Hawe bangga menyaksikan orang Sunda sekaliber Prof. Yusuf Affendi, berbicara bahasa Sunda di tengah forum yang majemuk. Toh masih di Bandung. ..." Menurut saya, baik pernyataan Usep maupun pernyataan Hawe kurang tepat. Kata terlalu dalam konteks apa pun berkonotasi negatif. Misalnya terlalu cantik, terlalu ganteng, terlalu asin, terlalu manis. Begitu pula halnya dengan kata membesar-besarkan. Sunda memang takperlu dibesar-besarkan karena memang sudah besar. Percayalah. Sungguh, berbeda dengan kata dibesarkan atau membesarkan, kata dibesarbesarkan atau membesarkan-besarkan berkonotasi negatif. Kumaha tah?*** *) Penulis Staf Pusat Kajian Lintas Budaya, Komunitas Sastra Universitas Padjadjaran.* http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/11/khazanah/lain03.htm