Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kebesaran Allah SWT telah menciptakan keanekaragaman ilmu pengetahuan alam semesta ini. Dan karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan referat ini. Selesainya referat ini tidak terlepas dari peran serta dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan kali ini izinkanlah penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan referat ini. Setiap menusia pasti memiliki kesalahan. Begitu pula dengan buah karya dari tangan manusia itu sendiri yang masih memerlukan beberapa perbaikan dalam pembuatan referat selanjutnya. Karena itu penulis sangat memerlukan saran, kritik, dan komentar, agar dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan referat selanjutnya. Semoga referat ini dapat berguna bagi para pembaca.

Cirebon, 23 Agustus 2012

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur (ovarium). Cairan ini dapat terkumpul dan dibungkus oleh semacam kapsul yang terbentuk dari lapisan terluar ovarium. Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang terdapat pada ovarium.Penemuan kista ovarium pada seorang wanita akan sangat ditakuti oleh karena adanya kecenderungan menjadi ganas, tetapi kebanyakan kista ovarium memiliki sifat yang jinak (80-84%). Sekarang ini semakin sering ditemukan kista ovarium pada seorang wanita dikarenkan pemeriksaan fisik dan semakin majunya teknologi.Sebagian besar kista tidak menimbulakan gejala yang nyata, namun sebagian lagi menimbulkan masalah seperti rasa sakit dan perdarahan. Bahkan kista ovarium yang maligna tidak menimbulkan gejala pada sadium awal, sehingga sering ditemukan dalam stadium lanjut. Komplikasi yang paling sering dan paling serius pada kista ovarium yang terjadi dalam kehamilan adalah peristiwa torsio atau terpuntir. Penatalaksanaan kista ovarium sebagian besar memerlukan pembedahan untuk mengangkat kista tersebut. Penangannya melibatkan keputusan yang sukar dan dapat mempengaruhi status hormone dan fertilitas seorang wanita. Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus dan jaringan ikat sekitarnya. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20-25%), dimana prevalensi mioma uteri meningkat lebih dari 70 % dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus. Walaupun jarang terjadi mioma uteri biasa berubah menjadi malignansi (<1%).Gejala mioma uteri secara medis dan social cukup meningkatkan morbiditas, termasuk menorragia, ketidaknyamanan daerah pelvis, dan disfungsi reproduksi. Kejadiannya lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu mendekati angka 40%. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma uteri dilaporkan belum pernah terjadisebelum menarche dan menopause. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39-11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk membahas seputar kista ovarium dan mioma uteri dalam makalah kali ini. I.2 Tujuan Membuka wawasan penulis tentang kista ovarium dan mioma uteri. Memberikan informasi kepada pembaca perihal kista ovarium dan mioma uteri.
2

BAB II Kista Ovarium


Definisi Definisi kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantung (pocket, pouch) yang tumbuh abnormal dibagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah, atau bahanbahan lain. Sedangkan Kista Ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid yang tumbuh pada atau sekitar ovarium. Tumor ovarium adalah kista ada yang bersifat neoplastik dan nonneoplastik (Sarwono P, 2008 ). Etiologi Faktor resiko untuk pembentukan kista ovarium adalah sebagai:

Pengobatan infertilitas pasien yang sedang diobati untuk infertilitas dengan induksi ovulasi dengan gonadotropin atau bahan lainnya, seperti clomiphene citrate atau letrozole, dapat membentuk kista ovary sebagai bagian dari ovarian hyperstimulation syndrome. Tamoxifen - Tamoxifen dapat mengakibatkan kista ovary benigna fungsional yang biasanya timbul setelah penghentian terapi. Kehamilan pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua saat kadar hCG tertinggi. Hypothyroidism karena kemiripan antara subunit alpha thyroid-stimulating hormone (TSH) dan hCG, hipotirodisme dapat menstimulasi pertumbuhan kista ovarii. Gonadotropin maternal efek transplasental dari gonadotropin maternal dapat menybabkan pembentukan dari kista ovarii neonatal dan fetal. Merokok resiko kista ovarii fungsional meningkat dengan merokok; resiko dari merokok mungkin meningkat lebih jauh dengan penurunan indeks massa tubuh (IMT) Ligasi tuba kista fungsional telah dihubungkan dengan sterilisasi ligasi tuba

Patofisiologi Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.

Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCG menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.

Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.

Klasifikasi Klasifikasi tumor ovarii, sampai sekarang belum ada yang benar-benar memuaskan, baik pembagian secara klinis maupun patologis anatomis. Novak mengusulkan suatu klasifikasi yang diakuinya tidak sempurna. Klasifikasi tersebut adalah: I. Tumor ovarii yang Benigna A. Kistik 1. Non-neoplastik Folikel Lutein Stein-Luventhal
4

Endometrial Peradangan tubo ovarial Inclusion germinal

2. Neoplastik Cystadenoma mucinosum Cystadenoma serosum Dermoid B. Solid Friboma Lymphangioma Mesothelioma Osteochondroma Brenner II. Tumor ovarii yang maligna A. Kistik 1. Cystadenocarcinoma mucinosum 2. Cystadenocarcinoma serosum 3. Epidermoid carcinoma dari kista dermoid

B. Solid 1. Carcinoma 2. Endrometrioid carcinoma (adeno-acanthoma) 3. Mesonephroma

Tumor Ovarii yang Benigna Tumor kistik ovarium Tumor kistik merupakan jenis yang paling sering terjadi terutama yang bersifat nonneoplastik, seperti kista retensi yang berasal dari corpus luteum.Tetapi di samping itu ditemukan pula jenis yang betul merupakan neoplasma.Oleh karena itu tumor kistik dari ovarium yang jinak dibagi dalam golongan non-neoplastik (fungsionil) dan golongan neoplastik. 1. Kista ovarium non-neoplastik (fungsionil) a. Kista follikel

Kista ini berasal dari follikel yang menjadi besar semasa proses atresia folliculi. Setiap bulan sejumlah besar follikel menjadi mati, disertai kematian ovum, disusul dengan degenerasi dari epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista kecil. Tidak jarang ruangan follikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga terbentuklah kista yang besar, yang dapat ditemukan pada pemeriksaan klinis. Biasanya besarnya tidak melebihi sebuah jeruk. Sering terjadi pada pubertas, climacterium, dan sesudah salpingektomi. Gejala-gejala Kista jenis ini tidak memberikan gejala yang karakteristik, bahkan kadangkadang tidak menunjukkan gejala-gejala apapun. Kurve suhu basal bersifat monofasis. Bila mencapai ukuran yang cukup besar, kista tersebut dapat memberikan rasa penuh dan tidak enak pada daerah yang dikenai. Seperti pada semua tumor ovarii dapat menyebabkan torsi. Kadang-kadang walaupun jarang, dapat terjadi rupture spontan, dengan disertai tanda-tanda perdarahan intra abdominal sehingga gambaran klinisnya dapat menyerupaisuatu kehamilan ektopik yang terganggu. Yang paling sering terjadi ialah cairan kista tersebut mengalami resorpsi secara spontan setelah satu atau dua siklus. Diagnosa Diagnosa hanya dapat ditentukan dengan palpasi dari tumor tersebut.Tetapi kita tidak akan dapat menentukan dengan sekali pemeriksaan, apakah kista ini neoplastik atau non neoplastik, kecuali bila ukurannya sangat besar. Terapi Biasanya tak memerlukan terapi karena mengalami resorpsi spontan.Bila harus diadakan operasi oleh karena adanya salah satu gangguan klinis atau oleh karena indikasi lain, sebaiknya tindakannya disesuaikan dengan keadaan. Bila kista kecil dapat dilakukan punksi atau eksisi saja. Bila besar sebaiknya di enucleasi dengan meninggalkan jaringan ovarium yang normal. b. Kista Lutein Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan.Kista lutein yang sesungguhnya, umumnya berasal dari corpus luteum haematoma. Perdarahan ke dalam ruang corpus selalu terjadi pada masa vaskularisasi. Bila perdarahan ini sangat banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma, yang berdinding tipis dan berwarna kekuning-kuningan.Secara perlahan-lahan terjadi resorpsi dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tinggallah cairan yang jernih, atau sedikit bercampur darah. Pada saat yang sama dibentuklah jaringan fibroblast pada bagian dalam lapisan lutein sehingga pada kista corpus lutein yang tua, sel-sel lutein terbenam dalam jaringan-jaringan perut. Gejala-gejala Pada beberapa kasus sering menyerupai kehamilan ektopik. Haid kadangkadang terlambat, diikuti dengan perdarahan sedikit yang terus-menerus, disertai rasa sakit pada bagian perut bawah. Pada pemeriksaan klinis ditemukan benjolan yang sakit. Ada yang menganggap kista ini sebagai korpus luteum
6

persistens, dimana oleh sesuatu sebab tidak terjadi regresi.Suatu jenis yang jarang dari kista lutein ialah yang ditemukan pada mola hydatidosa atau chorio epithelioma. Dalam beberapa kasus dari jenis ini,dindingnya dibentuk oleh sel granulose yang mengalami luteinisasi, tetapi pada umumnya kista dibentuk oleh sel theca lutein dan jaringan ikat. Diagnosis Oleh karena jarang memberikan gejala-gejala, maka diagnose sukar ditentukan. Bila tumor ini cukup besar sehingga dapat teraba dari luar, maka sukar dibedakan dengan tumor ovarium lainnya. Pada keadaan di mana tumor ini memberi gejala-gejala yang menyerupai kehamilan ektopik, dibedakan dengan pemeriksaan test kehamilan atau kuldoskopi. Terapi Pada umumnya bersifat konsevatif saja karena biasanya kista tersebut akan mengecil dengan sendirinya. Kalau kista itu besar sekali, harus dilakukan ekstirpasi. c. Stein-Leventhal Ovary Biasanya kedua ovarium membesar dan bersifat polykistik, permukaan rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada pemeriksaan mikroskopis akan tampak tunica yang tebal dan fibrotik. Dibawahnya tampak follikel dalam bermacam-macam stadium, tetapi tidak ditemukan corpusl uteum. Secara klinis memberikan gejala yang disebut Stein-Leventhal Syndrom, yaitu yang terdiri dari hirsutisme, sterilitas, obesitas danoligomenorrhoe. Kecenderungan virilisasi mungkin disebabkan hyperplasidari tunica interna yang menghasilkan zat androgenic. Kelainan ini merupakan penyakit herediter yang autosomal dominant. Terapi 1) Operatif Wedge resection (1/3 - 2/3 jaringan ovarium dibuang). Wedge resection dapat menyebabkan ovulasi, ada 2 teori, yaitu: a. Dengan reseksi sebagian dari kapsul yang tebal dibuang, sehingga faktor penghalang ovulasi dihilangkan. Teori ini banyak yang menentang, karena setelah reseksi kedua sisinya akan disatukan kembali, sehingga timbul kapsel yang baru. b. Pengangkatan sebagian dari jaringan ovarium, mungkin menyebabkan berkurangnya pengaruh estrogen, ini diikuti dengan penambahan rangsangan gonadotropin, sehngga terjadi ovulasi. 2) Non-operatif a. Clomiphene citrate (clomide) 50 mg tiap hari selama 5-10 hari. b. Gonadotrophin 4500 i.u. (1500 i.u. selama 3 hari)

d. Germinal Inclusion cyst Terjadi oleh karena invaginasi dari epitel germinal dari ovarium. Biasanya terjadi pada wanita tua. Tidak pernah memberi gejala-gejala yang berarti.

e. Kista endometrial 2. Kista ovarium yang neoplastik atau ploriferatif a. Kistoma ovarii simpleks Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai,seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan didalam kista jernih, serus, dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi(putaran tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan dalam kista. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi ovarium, akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan. b. Cystadenoma mucinosum Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Menurut Meyer, ia mungkin berasal dari suatu teratoma di mana dalam pertumbuhannya satuelemen mengalahkan elemen-elemen lain. Ada penulis yang berpendapat bahwa tumor berasal dari lapisan germinativum, sedang penulis lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama dengan tumor Brenner. Tumor ovarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum merupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium. Makroskopis Tumor ini mempunyai bentuk bulat, ovoid atau bentuk tidak teratur dengan permukaan yang rata dan berwarna putih atau putih kebiru-biruan. Di beberapa tempat dindingnya sangat tipis sehingga transparan. Umumnya tidak mengadakan perlekatan dengan sekitarnya. Bila didapatkan perlekatan maka ini disebabkan oleh peradangan dan bukan oleh keganasan. Hubungan dengan ligamentum latum dapat berupa tangkai yang kecil yang kecil atau besar disertai vaskularisasi yang bertambah. Isi kista umumnya merupakan cairan yang jernih, kadang-kadang sangat kental, berisi mucin. Bila disertai unsur darah dapat berwarna kecoklat-coklatan. Kista ini bersifat multiloculer, tetapi kadang-kadang ditemukan pula kista yang sangat besar dengan hanya satu ruangan, yang berasal dari beberapa
8

ruangan yang menjadi satu. Kalau kista ini pecah spontan ataupun pada waktu operasi dapat mengakibatkan pseudomyxoma peritonei. Mikroskopis Tampak satu lapisan sel epitel tinggi yang bersekresi, warnanya pucat dengan nuclei terletak di daerah basal. Pada kista-kista yang besar, sel-sel epitel tampak lebih rata. Kadang-kadang tampak gambaran papilomateus, tapi jarang seperti pada cystadenoma serosum. Lapisan epitel ini bersifat adenomateus, menyebabkan invaginasi sehingga timbul kista baru. Histogenesis a) Kista ini sebagian besar dianggap berasal dari teratoma dengan sifatsifat entodermik yang menonjol. b) Ada pula yang mengatakan berasal dari tumor Brenner. c) Metaplasia dari epitel germinal. Penanganan Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor. Jika pada operasi tumor sudah cukup besar sehingga tidak tampak banyak sisa ovarium yang normal, biasanya dilakukan pengangkatan ovarium beserta tuba (salpingoooforektomi). Pada waktu mengangkat kista sedapat-dapatnya diusahakan mengangkatnya in toto tanpa mengadakan pungsi dahulu, untuk mencegah timbulnya pseudomiksoma peritonei karena tercecernya isi kista. Jika berhubung dengan besarnya kista perlu dilakukan pungsi untuk mengecilkan tumor, lubang pungsi harus ditutup dengan rapi sebelum mengeluarkan tumor dari rongga perut. Setelah kista diangkat, harus dilakukan pemeriksaan histologik di tempat-tempat yang mencurigakan terhadap kemungkinankeganasan. Waktu operasi, ovarium yang lain perlu diperiksa pula. c. Cystadenoma serosum Jenis ini lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan mucinosum, tetapi ukurannya jarang sampai besar sekali. Makroskopis Dinding luarnya dapat menyerupai kista mucinosum, tetapi pada beberapa kasus terlihat pertumbuhan yang papillomatus yang menyerupai gambaran bloemkool (cauliflower). Gambaran papillomatus ini merupakan sifat khas bagi jenis serosum. Isinya merupakan cairan encer, kadang-kadang berwarna merah atau kecoklat-coklatan berisi protein, darah. Dinding dalam kista sangat licin, sehingga pada kista yang kecil sukar dibedakan dengan kista follikel biasa. Mikroskopis Umumnya sel-selnya terdiri dari jenis silindris yang pendek, disertai bulu getar, sehingga menyerupai epitel tuba. Stromanya bersifat fibrous, kadangkadang disertai degenerasi hydropik sehingga menyerupai gambaran gelei Wharton. Gambaran yang khas disebut psammoma bodies, yang merupakan butir kapur.
9

Bila epitel hanya terdiri dari 1 lapis saja, dapat dianggap bahwa dari sudut histologist, kista ini bersifat jinak. Tetapi bila epitel sudah berlapis-lapis, apalagi disertai hyperplasia, maka sukar ditentukan apakah suatu kista yang jinak atau cystadenocarcinoma papillaferum. Histogenesis Tumor ini jelas berasal dari epitel permukaan ovarium. Secara mikroskopis dapat dibuktikan segala bentuk perkembangannya, mulai dari invaginasi yang sederhana dari epitel germinal sampai ke invaginasi disertai sedikit pembentukan papil-papil, akhirnya berjenis cystadenoma papilliferum. Kadang-kadang satu papilloma dapat mencapai ukuran yang besar sekali, sehingga mengisi seluruh pelvis. Yang lebih sering ialah dimana epitel germinal dengan invaginasi membentuk ruangan kista yang luas, disertai pembentukan papil-papil ke arah dalam. Dengan mekanisme secara ini dapat dimengerti mengapa papil-papil ditemukan di bagian luar dan dalam dari kista. Terapi Terapi pada umumnya sama seperti pada kistadenoma musinosum. Hanya, berhubung dengan lebih besarnya kemungkinan keganasan, perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadangkadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada waktu operasi. d. Kista dermoid Sebenarnya kista dermoid ialah satu teratoma kistik yang jinak dimana struktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit,rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen entoderm dan mesoderm. Makroskopis Dinding tebal berwarna keputih-putihan. Bila dibuka tampak rambut, cairan kental dan licin dan kadang-kadang ditemukan juga gigi, tulang rawan atau butir-butir tulang pada dindingnya. Mikroskopis Dindingnya dilapisi epitel gepeng berlapis seperti pada kulit. Tampak pula folikel rambut kelenjar keringat, kadang-kadang tulang rawan. Elemen endodermal kadang-kadang juga ditemukan. Yang sering ditemukan dekat dinding, ialah daerah yang menyerupai tapisan, dimana terdapat banyak sel-sel raksasa, type sel benda asing sebagai reaksi dari penebusan dinding kista oleh lipoid. Kadang-kadang mengandung jaringan thyroid disebut struma ovarii. Degenarasi maligna 1 3 % dari kista dermoid dapat berubah menjadi ganas, yaitu menjadi carcinoma epidermoid. Kadang-kadang dapat pula menjadi sarcoma tetapi lebih jarang. Histogenesis Mengenai terjadinya kista ini ada 2 teori :
10

a) Disebabkan oleh karena perkembangan yang tidak sempurna pada akhir stadium blastomer. b) Tumor ini berasal dari perkembangan sel telur yang tidak dibuahi dalam ovarium. Terapi pada kista dermoid terdiri atas pengangkatan, biasanya dengan seluruh ovarium.

Pembagian kista ovarium berdasarkan lokalisasi 1. Kista bebas (penduculata) Gerakan bebas Batas jelas 2. Kista intraligamentair Letaknya diantara 2 lig. Latum Gerakan terbatas Tampak pembuluh-pembuluh darah yang bersilangan satu sama lain 3. Kista pseudo intraligamentair Letaknya di luar lig. Latum Gerakan terbatas, karena perlekatan (infeksi, metastase) Gamb. Pembuluh darah biasa

Manifestasi klinis Kebanyakan wanita dengan tumor ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Sebagian gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor tersebut. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama. Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

11

Gejala-gejala kista neoplastik: Tidak ada yang bersifat khas. Terhadap siklus haid tidak ada pengaruh yang jelas. Kadangkadang terjadi hypomenorrhoe bila kedua ovarium membesar. Hal ini disebabkan kerusakan kedua jaringan ovarium. Bila tumor agak besar terasa perasaan berat dan sakit. Sering kali adanya tumor ini diketahui oleh penderita sendiri, yang merasa adanya benjolan di perut bawah. Pada jenis serosum, kadang-kadang baru diketahui setelah adanya asites, yang dihasilkan oleh papil. Tumor ovarium dengan kehamilan Pengaruhnya pada kehamilan dan persalinan adalah: Abortus Dapat terjadi torsi dari tumor Dapat menimbulkan kelainan letak Dapat menghalangi jalan lahir

Bila pada kehamilan muda ditemukan kista jinak yang kecil, biasanya pengangkatannya diundur, oleh karena yang ditakuti ialah bahwa corpus luteumnya terletak pada kista yang diangkat sehingga menyebabkan keguguran. Sebaiknya operasi diundur sampai setelah trimester ke-1, setelah produksi progesterone diambil alih oleh placenta. Sebelum dan sesudah operasi, ibu diberi progresteron (25mg i.m./hari) untuk memperkecil kemungkinan abortus. Bila ada keluhan akut, operasi tidak boleh ditunda. Kista ovarium yang ditemukan pada waktu kehamilan tua perlu diangkat atau tidak, tergantung pada besarnya, posisinya, cepat/tidaknya berkembang, dan pada tuanya kehamilan. Bila ukurannya sedang dan letaknya diatas, sebaiknya operasi ditunda sampai setelah partus. Bila ada dugaan kegansan harus segera dioperasi. Kalau tumor menghalangi jalan lahir, dilakukan SC dan pengangkatan tumor sekaligus.

Diagnosis Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan atau dirongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan,konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor tersebut.Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari tumor. Jika tumor ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya adanya kehamilan atau kandung kemih penuh,sehingga pada anamnesis perlulah lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan.Di negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium bisa menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang sukar untuk

12

menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau ascites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini biasanya dapat diatasi. Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium, maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat peradangan tidak dapat digerakkan karena perlengketan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri. Pemeriksaan penunjang Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejalagejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan differensial diagnosis.Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah : 1. Laparaskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu. 2. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dariuterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat puladibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. 3. Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor. 4. Parasintesis Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk Diagnosis Banding 1) Kehamilan Dapat dibedakan dari reaksi biologis, rontgen dan auskultasi 2) Asites Untuk membedakan, dapat ditanyakan pada penderita, apakah pernah menderita sirosis hepatis atau carcinoma peritonei yang sekunder. Yang lebih penting lagi ialah pemeriksaan perkusi Pada tumor ovarium akan ditemukan daerah pekak di depan dan tympani di samping. Pada asites ada shifting dullness. Dengan palpasi, penderita yang tidak begitu gemuk dapat diraba batas-batas tumor 3) Peritonitis TBC Keadaan ini dapat menyerupai kista ovarium. Hal ini disebabkan karena asites yang dibentuk sering menyerupai kapsel, yang pada palpasi dan perkusi menyerupai kista. Pada anamnesa terdapat TBC paru, disertai demam subfebril. Juga tumor massanya sering lebih tinggi dari daerah panggul.
13

4) Myoma uteri Perbedaannya ialah pada tumor ovarium dapat dirasakan bahwa tumor tersebut dapat dipisahkan dari uterus. Caranya: dengan tangan kiri di atas perut, kita mendorong tumor tersebut ke atas. Tangan kanan meraba portio. Bila tumor ini berasal dari ovarium, pada waktu tumor didorong, portio akan tetap, tidak ikut bergerak. Pada myoma uteri, portio akan ikut bergerak. Kadang-kadang timbul kesukaran bila tumor ovarii melekat dengan uterus. Bila tunor ini besar, pada myoma dapat teraba konsistensi yang keras dan berbenjolbenjol, sedang pada tumor ovarium lebih lembek, permukaan rata dan letaknya agak ke samping dan lebih mudah digerakan. 5) Perut gemuk Dapat dibedakan dengan perkusi dan pemeriksaan dalam 6) Diverkulitis Dapat dibedakan dengan barium inloop

Penatalaksanaan Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderitadan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebutadalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanyadisertai dengan pengangkatan tuba (salphyngoooforektomi). Jika terdapat keganasan operasiyang lebih tepat ialah histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi padawanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.

Komplikasi a) Torsi Komplikasi ini yang paling sering terjadi, terutama pada tumor dengan ukuran sedang. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan torsi bermacam-macam. Salah satunya ialah faktor dari tumor sendiri, gerakan yang tiba-tiba dan gerakan dari peristaltic dari usus. Putaran biasanya searah jarum jam. Dapat berputar sedikit saja atau terjadi beberapa putaran.
14

Gangguan peredaran darah yang disebabkan oleh torsi ini terutama mengenai susunan vena saja, disebabkan penyumbatan, sehingga kista berwarna biru, bahkan kadang-kadang jadi hitam. Dalam keadaan ekstrim arteri juga terjepit. Oleh karena torsi yang berlebihan, kista tersebut dapat pula terlepas sama sekali. Peristiwa torsi kadang-kadang disertai nyeri yang hebat dan terus menerus. Tetapi kadang-kadang pula rasa nyeri itu hanya sebentar. Torsi dapat pula kembali lagi ke dalam kedudukan semula. Dalam hali ini penderita akan menderita sakit sebentar untuk kemudian hilang lagi. Bila torsi terjadi pada ovarium kanan, gejalanya dapat menyerupai appendicitis akut, misalnya, sakit tiba-tiba di perut kanan bawah, mual dan muntah, terdapat defans muscular, nada cepat dan suhu badan naik, walaupun tidak pernah lebih dari 380C. pada pemeriksaan darah akan ditemukan leukositosis. Tidak jarang penderita dioperasi dengan diagnose preoperative suatu appendicitis akut. Bila dibiarkan terus, dapat terjadi infeksi sekunder dari peritoneum, disertai perlekatan dengan sekitarnya, suppurasi atau peritonitis.

b) Rupture dari kista Hali ini jarang terjadi tetapi dapat terjadi secara spontan atau oleh karena trauma. Pada keduanya disertai gejala sakit, mual, dan muntah. Tumor yang tadinya jelas batas-batasnya sukar ditentukan. Kalau ada pembuluh darah yang pecah, dapat disertai gejala-gejala shock seperti nadi cepat/kecil, temp. subnormal, sesak nafas, dan keringat dingin. Perasaan sakit akan hilang dalam beberapa jam, meskipun rasa nyeri dan kelegangan dari perut bawah masih akan dirasakan beberapa hari. Tidak dapat disangsikan bahwa dalam beberapa kasus, gejalagejala tersebut akan hilang dengan sendirinya. Rupture dari kista yang kecil, kadang-kadang tidak memberikan gejala-gejala dengan segera. Tetapi pecahnya ini dapat memberikan bahaya penyebaran isi kista mucin dalam ruang abdomen berisi cairan gelatinous. Walaupun cairan ini dikeluarkan, segera akan dibentuk cairan baru oleh sel-sel epitel yang tumbuh di peritoneum, sehingga akhirnya dapat menyebabkan kematian (pseudomyxoma peritonei). c) Suppurasi dari kista Peradangan dari kista dapat terjadi setelah torsi atau dapat pula berdiri sendiri, yaitu secara hemtogen atau limfogen. Kista dermoid lebih sering terkena radang. Mungkin karena isinya yang merangsang, atau mungkin pula berat tumornya yang dapat menggangu peredaran darah. Gejala-gejalanya seperti pada peradangan biasa yaitu sakit, nyeri tekan, perut tegang, demam dan leukositosis. Kalau dibiarkan bisa terjadi peritonitis. Kadang-kadang peradangan ini dapat sembuh sendiri. d) Perubahan keganasan Dari suatu tumor kistik benigna dapat terjadi keganasan. Pada jenis mucinosum kemungkinan terjadinya keganasan lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis serosum. Yang pertama kemungkinan itu berkisar antara 5-10%. Pada cystadenoma serosum, perbedaan histologist
15

yang benigna dan maligna sukar ditentukan. Tetapi jenis ini lebih sering ,menjadi ganas yaitu 25%. Degenerasi pada kista dermoid lebih jarang lagi yaitu 3%. Biasanya bila terjadi keganasan, berupa ca epidermoid, kadang-kadang berupa sarcoma.

Prognosis Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir. Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium FIGO Ia dan 11.1% untuk stadium IV. Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk. Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma. Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi tetap berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%.

16

Mioma Uteri
Definisi Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Dikenal juga dengan sebutan fibromioma, leiomioma ataupun fibroid. (Sarwono P, 2008 ). Myoma uteri tidak pernah terjadi setelah menopause, bahkan yang telah adapun biasanya mengecil bila mendekati masa menopause. Epidemiologi Merupakan jenis tumor uterus yang paling sering. Disangka bahwa 20% dari wanita berumur 35 tahun menderita mioma uteri, walaupun tidak disertai gejala-gejala. Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 30% dari seluruh wanita. Di Indonesia mioma uteriditemukan pada 2,39 11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat.

Etiologi Etiologi belum jelas tetapi asalnya disangka dari sel otot-otot yang belum matang. Disangka bahwa estrogen mempunyai peranan penting, tetapi dengan teori ini sukar diterangkan apa sebabnya pada seorang wanita, estrogen dapat menyebabkan myoma. Juga pada beberapa wanita dengan myoma dapat terjadi ovulasi, juga menghasilkan progresteron yang sifatnya antiestrogenic. Percobaan binatang dengan peyuntikan estrogen dapat menimbulkan tumor myomateus tetapi sifatnya agak berbeda dengan myoma biasa.

Pathogenesis Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genitoblast. Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun tempat lain dari abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesterone atau testosterone. Puuka dkk menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak didapati daripada miometrium normal. Menurut Meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan selaput otot yang matur. Klasifikasi
17

Lokalisasi a. Cervical Cervical lebih jarang, tetapi bila mencapai ukuran besar dapat menekan kandung kemih, menyebabkan gangguan miksi. Juga secara teknik operasinya lebih sukar. b. Corporal Jenis Berdasarkan posisi myoma terhadap lapisan-lapisan uterus, dapat dibagi dalam 3 jenis. 1) Myoma submucosa Tumbuhnya tepat di bawah endometrium dan menojol ke rongga uterus. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerktomi, walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submucosa dapat dirasakan sebagai suatu curet bump (bejolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya degenerasi sarcoma juga lebih besar dengan jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui cervix atau vagina, disebut sebagai mioma submucosa bertangkai yang dapat menimbulkan myomgeburt. 2) Myoma interstisial atau intramural Terletak di dinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar dan multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol. 3) Myoma subserosa atau subperitoneal Letaknya dibawah tunica serosa. Tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Kadang-kadang vena yang ada di permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intraabdominal. Mioma subserosa dapat timbul diantara dua ligamentum latum, merupakan mioma intraligamenter, yang dapat menekan ureter dan A. iliaca. Ada kalanya mioma ini mendapat vaskularisasi yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari uterus, disebut parasitic myoma. Mioma subserosa yang bertangkai dapat mengalami torsi.

Mioma uteri

18

Gambaran Mikroskopis Terdiri dari sel otot spindle, dan tersusun sebagai Whorl (konde) sel-selnya berukuran sama besar Perubahan Sekunder pada Mioma 1. Atrofi Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan, mioma uteri menjadi kecil. 2. Degenerasi hialin Perubhan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat terjadi seluruhnya atau sebagian. 3. Degenerasi kistik Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, di mana sebagian sebagian mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur. Dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak, tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau kehamilan. 4. Degenerasi membatu (calcareous degeneration) Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur, maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto Rontgen. 5. Degenerasi merah (carneous degeneration) Biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Pathogenesis; diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah warna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai ovarium atau mioma bertangkai. 6. Degenerasi lemak Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Gejala dan Tanda 1) Tumor massa, di perut bawah Sering kali penderita pergi ke dokter oleh karena gejala ini 2) Perdarahan Biasanya dalam bentuk menorraghi. Yang sering menyebabkan gejala perdarahan ialah jenis submucosa sebagai akibat pecahnya pembuluh darah. Perdarahan oleh myoma dapat menimbulkan anemia yang berat. Mioma intramural juga dapat menyebabkan perdarahan oleh karena adanya gangguan kontraksi uterus. Jenis subserosa tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal.

19

3) Nyeri Gejala ini tidak khas untuk mioma. Timbulnya rasa nyeri dan sakit pada mioma mungkin disebabkan gangguan peredaran darah, yang disertai nekrosis setempat atau disebabkan proses radang dengan perlekatan ke omentum usus. Kadang-kadang rasa sakit disebabkan torsi pada mioma subserosa. Dalam hal ini sifatnya akut disertai mual dan muntah. Pada mioma yang sangat besar, rasa nyeri dapat disebabkan karena tekanan terhadap urat saraf dan menjalar ke pinggang dan tungkai bawah. 4) Akibat tekanan (pressure effect) Bila menekan kandung kemih, akan menimbulkan kerentanan kandung kemih (bladder irritability), polikisuria, dan dysuria. Bila urethra tertekan bisa timbul retention urine. Bila berlanjut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. Tekanan pada rectum tidak begitu besar, kadang-kadang menyebabkan konstipasi dan kadang-kadang sakit pada waktu defekasi. Tumor dalam cavum Douglasi dapat menyebabkan retention urine. Kalau besar sekali mungkin ada gangguan pencernaan. Kalau terjadi tekanan pada vena cava inferior akan terjadi edema tungkai bawah. Mioma Uteri dalam Kehamilan Mioma mungkin menurunkan fertilitas tapi tidak jarang kita melihat kasus mioma disertai dengan kehamilan dan disusul dengan persalinan yang normal. Maka kalau tidak ada sebabsebab infertilitas lainnya dapat dilakukan miomektomi untuk membesarkan kemungkinan kehamilan. Angaka kehamilan setelah miomektomi 25-40%. Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan: Mengurangi kemungkinan perempuan untuk hamil, terutama pada mioma uteri submukosum Kemungkinan abortus bertambah Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan letak subserosum Menghalangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya di serviks Inersia uteri dan atonia uteri, terutama yang letaknya di dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma Mempersulit lepasnya plasenta, terutama pada mioma yang submukosaum dan intramural Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri: Tumor tumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat hipertrofi dan edema, terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal. Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi di dalamnya, sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis, terutama di tengah-tengah tumor. Tumor tampak merah (degenerasi merah) atau tampak seperti daging (degenerasi karnosa). Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri di perut yang
20

disertai gejala-gejala rangsangan peritoneum dan perdangan. Lebih sering lagi komplikasi ini terjadi dalam masa nifas karena sirkulasi dalam tumor berkurang akibat perubahan-perubahan sirkulasi yang dialami perempuan setelah bayi lahir. Mioma uteri subserosum yang bertangkai dapat mengalami torsi akibat desakan uterus yang makin lama makin membesar. Torsi menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis yang menimbulkan gambaran klinik nyeri perut mendadak (acute abdomen).

Diagnosis Seringkali penderita sendiri mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah. Pemeriksaan bimanual akan mengungkapkan tumor padat uterus, yang terletak di garis tengah ataupun agak ke samping, seringkali teraba berbenjol-benjol. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubungan dengan uterus. Mioma intramural akan menyebabkan kavum uteri menjadi luas, yang ditegakan dengan pemeriksaan dengan uterus sonde. Mioma submukosum kadang kala teraba dengan jari yang masuk ke dalam kanalis servikalis, dan terasanya benjolan pada permukaan cavum uteri. Dengan berkembangnya ultrasonografi, baik abdominal maupun transvaginal, diagnosis mioma sangat dipermudah. MRI juga dapat digunakan dalam kehamilan karena MRI tidak memakai radiasi ionisasi. Diagnosis mioma uteri dalam kehamilan biasanya tidak sulit walaupun kadang-kadang dibuat kesalahan. Terutama kehamilan kembar, neoplasma ovarium, dan uterus didelfis dapat menyesatkan diagnosis. Ada kalanya mioma besar teraba seperti kepala janin, sehingga kehamilan tunggal disangka kehamilan kembar. Dalam persalinan, mioma lebih menonjol sewaktu ada his sehingga mudah dikenal. Mioma yang lunak dan tidak menyebabkan kelainan bentuk uterus sangat sulit untuk dibedakan dari uterus gravidus. Diagnosis Banding Tumor ovarium yang solid (myoma subserosa) Uterus gravidus Endometriosis interna Diagnose mioma submukosa kadang-kadang dapat dibuat dengan kuret dengan adanya curet bump. Mioma yang lahir harus dibedakan dengan inversion uteri.

21

Penatalaksanaan 1) Konservatif dengan pemeriksaan periodic Bila seorang wanita dengan mioma mencapai menopause, biasanya tidak mengalami keluhan, bahkan dapat mengecil. Oleh karena itu sebaiknya mioma pada wanita premenopause tanpa gejala diobservasi saja. Bila mioma besarnya sebesar kehamilan 12-14 minggu apalagi disertai pertumbuhan yang cepat sebaiknya dioperasi, walaupun tidak ada gejala/keluhan. Pada masa post menopause, mioma biasanya tidak memberikan keluhan. Tetapi bila ada pembesaran mioma pada masa post menopause harus dicurigai kemungkinan keganasan (sarcoma). 2) Radioterapi Maksud dari radioterapi ialah untuk menghentikan perdarahan. Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami menopause. Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient) Uterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan Bukan jenis submukosa Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rectum Tidak dilakukan pada wanita muda, karena dapat menyebabkan menopause Jenis radioterapi: Radium dalam cavum uteri X-ray pada ovaria (castrasi) 3) Operasi Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Miomektomi dilakukan bila masih menginginkan keturunan. Syaratnya dilakukan kuretase dulu, untuk menghilangkan kemungkinan keganasan. Kerugian: Melemahkan dinding uterus. Rupture uteri pada waktu hamil. Menyebabkan perlekatan Residif

Histerektomi Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya merupakan tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilakukan perabdominam atau pervaginam. Dilakukan pada: mioma yang besar; multiple Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan 1 atau kedua ovarium, maksudnya untuk: Menjaga jangan terjadi menopause sebelum waktunya Menjaga gangguan coronair atau arteriosklerosis umum Sebaiknya dilakukan histerktomi totalis, kecuali bila keadaan tidak mengizinkan, dapat dilakukan histerektomi supravaginal. Untuk menjaga kemungkinan pada tumpul serviks, sebaiknya dilakukan Pap Smear pada waktu tertentu.

22

Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma dalam kehamilan. Demikian pula tidak dilakukan abortus provocatus. Apabila terjadi degenerasi merah pada mioma, biasanya sikap konservatif dengan istirahat-baring dang pengawasan yang ketat memberi hasil yang cukup memuaskan. Antibiotic tidak dianggap perlu karena proses peradangan bersifat suci hama. Apabila mioma menghalangi jalan lahirnya janin harus dilakukan seksio sesarea. Dalam masa nifas mioma dibiarkan kecuali timbul gejala-gejala akut yang membahayakan. Pengangkatan dilakukan secepatnya setelah 3 bulan; akan tetapi pada saat itu mioma kadang-kadang sudah mengecil sehingga tidak memerlukan pembedahan. Operasi untuk mengangkat mioma dalam kehamilan dapat menyebabkan banyak perdarahan.

23

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Sastrawinata, Sulaiman. 2010. Ginekologi edisi 2. Bandung. Elstar Offset. Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka. Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka. http://emedicine.medscape.com/article/255865 http://referensiartikelkedokteran.blogspot.com/2011/05/kista-ovarii.htm

24