Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN

1.1 Satuan Bentuk Lahan a. Satuan Bentuk Lahan Struktural Bentang alam struktural adalah bentang alam yang

pembentukannya dikontrol oleh struktur geologi daerah yang bersangkutan. Struktur geologi yang paling berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah struktur geologi sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu ada. Struktur sekunder biasanya terbentuk oleh adanya proses endogen yang bekerja adalah proses tektonik. Proses ini mengakibatkan adanya pengangkatan, pengkekaran, patahan dan lipatan yang tercermin dalam bentuk topografi dan relief yang khas. Bentuk relief ini akan berubah akibat proses eksternal yang berlangsung kemudian. Pada peta topografi tersebut wilayah bentuk lahan struktural ditandai dengan warna ungu, yaitu dari daerah G. Songpatak, Ngangkruk, G.Watukutjing, G. Keren . Terlihat kontur-kontur yang cukup rapat pada daerah tersebut, sehingga dapat diperkirakan daerah tersebut termasuk dalam daerah yang cukup curam. Kemungkinan beberapa struktur geologi banyak terdapat di daerah tersebut, seperti strukutr sesar dan kekar. Struktur sesar ditandai dengan pola kontur yang rapat secara tiba-tiba merenggang. Hal itu menandakan adanya perbedaan elevasi yang cukup mencolok, dan merupakan salah satu penciri adanya struktur sesar. Selain itu adanya pola sungai yang tibatiba membelok juga merupakan indikasi adanya struktur sesar. b. Satuan Bentuk Lahan Denudasional Denudasi adalah kumpulan proses yang mana, jika dilanjutkan cukup jauh, akan mengurangi semua ketidaksamaan permukaan bumi menjadi tingkat dasar seragam. Dalam hal ini, proses yang utama adalah degradasi, pelapukan, dan pelepasan material, pelapukan

material permukaan bumi yang disebabkan oleh berbagai proses erosi dan gerakan tanah. Pada delineasi, bnetuk lahan denudasional ditandai dengan warna cokelat yaitu dari daerah Melikan, Planggo. Bentuk lahan denudasional terbentuk oleh proses erosi, pelapukan, dan kegiatan manusia yang menyebabkan elevasi-elevasi dari daerah-daerah menjadi hampir sama / rata. Biasanya pada bentuk lahan ini litologinya adalah soil ataupun lapukan dari batuan sebelumnya. c. Satuan Bentuk Lahan Fluvial Bentang alam fluvial adalah satuan geomorfologi yang pembentukannya erat hubungannya dengan proses fluviatil. Proses fluviatil adalah semua proses yang terjadi di alam baik fisika, maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan, baik yang merupakan air yang mengalir secara terpadu (sungai), maupun air yang tidak terkonsentrasi ( sheet water). Pada peta ditandai dengan warna hijau , yang merupakan sungai yang cukup besar yang terdapat dalam peta yaitu Kali Dengkeng. Sungai berperan dalam proses erosi dan transportasi material sedimen hasil dari proses pelapukan batuan. Sungai juga dapat digunakan sebagai indikasi resistensi batuan. Suatu daerah dengan kerapatan sungai yang besar berarti daerah tersebut tersusun oleh litologi batuan yang lunak / tidak terlalu keras, sedangkan daerah dengan kerapatan sungai yang kecil menunjukkan daerah tersebut memiliki litologi batuan yang resisten seperti beku, metamorf. d. Satuan Bentuk Lahan Karst Bentang alam karst merupakan bentang alam dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut (memiliki kelarutan yag tinggi) pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. Pada peta ditandai dengan delineasi warna orange yang meliputi daerah Tjakaran, Sidowajah, G.Temas.

Bentuk lahan karst biasanya memiliki litologi batugamping, dolomit. Litologi jenis ini memiliki tingkat resistensi yang cukup rendah, sehingga mudah tererosi atapun terlapukkan.

1.2

Pola Kelurusan Pola kelurusan merupakan metode indikasi untuk menemukan adanya struktur geologi melalui pembacaan / interpretasi peta topografi. Pola kelurusan terbentuk karena adanya gaya endogen pada suatu perlapisan batuan. Adanya pola-pola kelurusan yang saling bertemu, menandakan bahwa daerah tersebut memiliki pengaruh gaya endogen yang cukup kuat. Pada peta ini pola kelurusan terdapat di daerah Talunombo, Klipil, Gupul. Pola kelurusan tersebut terdapat pada pola kontur yang tidak terlalu rapat, namun teratur. Sedangkan pada kontur dengan pola yang sangan rapat sulit untuk menemukan adanya pola kelurusan.

1.3

Pola Pengaliran Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu diantara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh faktor geologinya. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk atau pola berkembang dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi bawah permukaannya. Saluran-saluran sungai berkembang ketika air permukaan (surface runoff) meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi. Pada peta terdapat dua pola pengaliran yaitu pola pengaliran Radial dan pola pengaliran parallel. Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunungapi. Sedangkan pola pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam/terjal. Dikarenakan morfologi lereng yang terjal maka bentuk aliran-aliran

sungainya akan berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungainya yang sangat sedikit. Pola aliran paralel terbentuk pada morfologi lereng dengan kemiringan lereng yang seragam. Pola aliran paralel kadangkala mengindikasikan adanya suatu patahan besar yang memotong daerah yang batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam.

1.4

Tingkat Resistensi Batuan Tingkat resistensi batuan menunjukkan ketahanan suatu batuan terhadap proses eksogen seperti proses pelapukan dan erosi maupun proses endogen seperti gaya-gaya tektonik. Pada delineasi, daerah pada peta dibagi menjadi 2 tingkat resistensi batuan yaitu resistensi tinggi dan resistensi rendah. Resistensi tinggi ditandai dengan warna biru tua. Batuan yang memiliki resistensi tinggi berada pada wilayah dengan pola kontur yang cukup rapat, kemungkinan litologinya adalah batuan beku (andesit, granit, gabbro) ataupun batuan metamorf (skiss, phylit, gneiss) Sedangkan untuk litologi dengan resistensi rendah, dideliniasi dengan warna cokelat. Litologi dengan resistensi rendah berada pada wilayah dengan pola kontur yang jarang. Kemungkinan batuan penyusunnya adalah batuan sedimen (batupasir, breksi, lanau, lempung).

1.5

Proses Geologi Proses geologi yang terjadi pada daerah yang berada pada peta merupakan proses endogen. Terjadi proses pengangkatan (uplift) pada daerah dengan bentuk lahan karst. Bentuk lahan karst pada awal pembentukannya merupakan hasil pengendapan organisme laut yang terendapkan dan terakumulasi di laut dangkal. Karena pada saat sekarang ini kawasan karst tersebut berada daratan, kemungkinan pada zaman dahulu kala telah mengalami proses pengangkatan. Selain pengangkatan juga mengalami deformasi akibat tenaga endogen seperti adanya struktur sesar dan kekar di beberapa daerah. Proses eksogen juga berperan, yaitu

dalam pembentukan bentuk lahan denudasional. Proses eksogen tersebut meliputi proses erosi, pelapukan dll.