Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

GUNA MEMENUHI TUGAS ILMU PENDIDIKAN HAKIKAT PESERTA DIDIK

Dosen : Bustami,M.Pd Disusun Oleh : 1. 2. 3. 4. Ade supriyatna Rahman permadi Evi syafitri Muhammad rizki

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Uiversitas Muhammadiyah Tangerang Tahun Akademik 2012-2013

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Didasari pada perbedaan individu peserta didik satu sama lain, yang sangat memiliki beragam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam disesesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Seorang guru tidak bisa berpatok hanya pada satu metode pengajaran saja, karena setiap peserta didik memiliki aneka ragam perbedaan dalam hal pembelajaran satu sama lain yang perlu dipahami secara mendalam. Peserta didik memiliki potensi yang berbeda. Perbedaan peserta didik terletak dalam pola pikir, daya imajinasi, dan hasil karyanya. Akibatnya, proses belajar mengajar perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan guna mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik, tanpa ada yang merasa tertinggal atau terkucilkan oleh guru karena peserta didik tidak bisa mengikuti proses belajar yang telah dilakukan. Untuk itu dalam hal ini, diperlukannya pemahaman dari guru untuk mengetahui keberagaman masing-masing peserta didik melalui strategi dan metode pembelajaran yang tepat untuk peserta didik sehingga potensi peserta pendidik dapat terwadahi secara tepat dan maksimal. Sehingga terciptalah generasi-generasi penerus bangsa yang berkarakter dan beriman yang akan menjadi dasar Negara ini untuk maju dan Berjaya dimasa depan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian kami diatas, maka didapatkan beberapa masalah yang dijadikan sebagai rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu: 1. 2. 3. 4. Makna hakikat peserta didik Karakteristik peserta didik Potensi peserta didik Pengembangan potensi peserta didik.

1.3 Tujuan Makalah


Selain untuk memenuhi tugas, adapun tujuan pembuatan makalah ini, yaitu : 1. Memahami lebih dalam tentang peserta didik. 2. Mengetahui karakteristik peserta didik untuk dasar pengajaran yang optimal. 3. Mengetahui dan mengoptimalkan potensi peserta didik.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Makna Hakikat Peserta didik
Menurut Ibnu Khaldun seorang sejarawan islam yang telah diakui kemampuan dan kehebatannya oleh bangsa barat dalam perkembangan ilmu di dunia. Peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Di sini peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaniah, ia memiliki bakat, kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan. Menurut Toto Suharto (2006: 123) peserta didik adalah makhluk Allah yang terdiri dari aspek jasmani dan rohani yang belum tercaapi taraf kematangan, baik fisik, mental, intelektual, maupun psikologinya. Oleh karena itu, ia senantiasa memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan pendidik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal dan membimbingnya menuju kedewasaan. Potensi dasar yang dimiliki peserta didik, kiranya tidak akan berkembang secara maksimal tanpa melalui proses pendidikan.

Adapun peserta didik dalam pendidikan islam menurut Hery Noer Aly (1999: 113) ialah setiap manusia yang sepanjang hayatnya selalu berada dalam perkembangan. Jadi, bukan hanya ank-anak yang sedang dalam pengasuhan dan pengasihan orangtuanya, bukan pula anak-anak dalam usia sekolah. Menurut Samsul Nizar (2002) yang dikutip dari Pada dasarnya peserta didik adalah:

a) Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunianya sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami agar perlakuan terhadap mereka dalam proses kependidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa, bahkan dalam aspek metode, mengajar, materi yang akan diajarkan, sumber bahan yang digunakan dan sebagainya. b) Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan. Aktivitas kependidikan Islam disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan

perkembangan yang pada umumnya dilalui oleh setiap peserta didik. Karena kadar kemampuan peserta didik ditentukan oleh faktor-faktor usia dan periode perkembangan atau pertumbuhan potensi yang dimilikinya. c) Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik menyangkut kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani yang harus dipenuhi. d) Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual (diferensiasi individual), baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada. e) Peserta didik merupakan resultan dari dua unsur alam, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang dilakukan melalui proses pendidikan. Sementara unsur rohani memiliki dua daya, yaitu daya akal dan daya rasa. Untuk mempertajam daya akal maka proses pendidikan hendaknya melalui ilmu-ilmu rasional. Adapun untuk mempertajam daya rasa dapat dilakukan melalui pendidikan akhlak dan ibadah. f) Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

Berdasrkan uraian di atas, kami dapat menjelaskan bahwa peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kecerdasan dan kemampuannya secara optimal.

2.2 Karakteristik Peserta Didik

Setiap peserta didik memiliki ciri dan sifat atau karakteristik yang sangat beraneka ragam yang terbentuk berdasarkan lingkungan peserta didik masing-masing . Agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik yang dimiliki sejak lahir baik menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis Untuk mengetahui siapa peserta didik perlu dipahami bahwa sebagai manusia yang sedang berkembnag menuju kearah ke dewasaan memiliki beberapa karakteristik.

Menurut Tirtaraharja, 2000 (Uyoh Sadullah, 2010: ) mengemukakan 4 karakeristik yang dimaksudkan yaitu : a Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan makhluk yang unik b.Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya secara wajar. c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual. d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan. Edi Suardi mengemukakan 3 karakteristik Peserta didik, yaitu: 1.Kelemahan dan ketidakberdayaan. Anak ketika dilahirkan dalam keadaan lemah yang tidak berdaya untuk dapat bergerak harus melalui berbagai tahapan. Kelemahan yang dimiliki anak adalah kelemahan rohaniah dan jasmaniah misalnya tidak kuat gangguan cuaca juga rohaniahnya tidak mampu membedakan keadaan yang berbahaya ataupun menyenangkan. Kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin lama makin hilang karena berkat bantuan dan bimbingan pendidik atau yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan akan berhenti manakala kelemahan dan ketidakberdayaan sudah berubah menjadi kekuatan dan keberdayaan, yaitu suatu keadaan yang dimiliki oleh orang dewasa. Pendidikan justru ada karena adanya ciri kelemahan dan ketidakberdayaan tersebut. 2. Anak didik adalah makhluk yang ingin berkembang Keinginan berkembang yang menggantikan ketidakmampuan pada saat anak lahir merupakan karunia yang besar untuk membawa mereka ketingkat kehidupan jasmaniah dan rohaniah yang tinggi lebih tinggi lebih tinggi dari makhluk lainnya. Keinginan berkembang mendorong anak untuk giat, itulah yang menyebabkan adanya kemungkinan atau pergaln yang disebut pendidikan. Tanpa keinginan berkembang pada anak, akan menjadikan tidak ada kemauan tidak mempunyai vitalitas, tidak giat bahkan barang kali menjadi malas dam acuh tak acuh.

3.Anak didik yang ingin menjadi diri sendiri. Sepeti pernah dikemukakan bahwa anak didik itu ingin menjadi diri sendiri. Hal tersebut penting baginya karena untuk dapat bergaul dalam masyarakat. Seseorang harus merupakan diri sendiri, orang seorang atau pribadi. Tanpa itu manusia akan menjadi manusia penurut, dan manusia yang tidak punya pribadi. Pendidikan yang bersifatotoriter bahkan mematikan pribadi anak yang sedang tumbuh. Secara garis besar karakteristik peserta didik dibentuk oleh dua faktor yaitu.

Faktor bawaan merupakan faktor yang diwariskan dari kedua orang tua individu yang menentukan karakteristik fisik dan terkadang intelejensi,

Faktor lingkungan merupakan faktor yang menentukan karakteristik spiritual, mental, psikis, dan juga terkadang fisik dan intelejensi. Faktor lingkungan dibagi menjadi tiga yaitu

a.

lingkungan keluarga, Pada lingkungan keluarga seperti motivasi dari kedua orang tua agar menjadi orang yang

sukses kedepannya dan tidak boleh kalah dengan kesuksesan orang tuanya, kesuksesan teman orang tuanya, kesuksesan anak teman orang tuanya, ingin merubah nasib keluarga yang melarat, motivasi sebagai kakak yang merupakan contoh bagi adik-adiknya, motivasi sebagai adik yang tidak boleh kalah dengan kesuksesan kakaknya. b. lingkungan sekolah, Dari lingkungan sekolah seperti motivasi ingin menjadi juara kelas, motivasi ingin kaya karena melihat orang tua temannya yang kaya, ataupun motivasi dari gurunya. c. lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat misalnya motivasi dari tetangganya yang sukses, motivasi karena keluarganya selalu diremehkan masyarakat, ataupun motivasi karena masyarakatnya diremehkan masyarakat lain.

Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut guru dapat memahami bahwa peserta didiknya digolongkan sebagai individu yang unik dan beragam karena peserta didik pada hakikatnya terdiri dari individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Terdapatnya perbedaan individual dalam diri masing-masing peserta didik membuat guru harus pandai-pandai menempatkan porsi keadilan dengan tepat pada setiap peserta didiknya. Misalnya saja dalam pelajaran matematika, tentunya tidak semua siswa berminat dalam pelajaran matematika, mungkin ada siswayang berminat pada musik, sehingga guru tidak harus memaksanya untuk dapat menyukai matematika apalagi dengan memaksa peserta didik agar lebih memahami matematika lebih dalam dengan memberikan soal dan tugas yang banyak dan sulit ditambah lagi sanksinya yang berat bila tidak dapat mengerjakan soal atau tugas tersebut. Hal inilah yang nantinya menciptakan potensi buruk pada diri peserta didik sebagai hasil ketidakpuasannya terhadap lingkungan yang diterimanya. Pada prinsipnya perkembangan psikis peserta didik selalu ke arah yang lebih baik seiring dengan tingkat materi pelajaran yang diberikan juga semakin tinggi sehingga membuat peserta didik terbiasa berpikir secara realistis dan sistematis. Tapi guru hendaknya mendukung dan membantunya mengembangkan potensi tersebut agar lebih optimal. Peserta didik yang demikian tidak perlu diajarkan matematika sampai mendalam karena itu hanya akan membuatnya menjadi jenuh pada setiap pertemuan dan sudah menjadi kewajiban guru untuk dapat menyadari hal ini, tapi bisa juga divariasikan konsep-konsep matematika yang berhubungan dengan bidang yang diminatinya, seandainya peserta didik tersebut tidak mengerti paling tidak pasti ia akan menikmati proses pembelajaran di kelasnya. Selain dengan cara itu guru juga bisa melakukan pendekatan-pendekatan dalam proses pembelajaran terhadap peserta didiknya dengan terlebih dahulu membaca situasi. Misalnya saja dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang pintar untuk mengajarkan kepada temannya yang kurang mengerti. Seperti itulah guru yang professional, yang diharapkan bisa menghasilkan peserta didik yang berkarakter sesuai harapan bangsa. Kita sebagai calon-calon pendidik, harus memperhatikan karakteristik peserta didik dengan sangat baik, jangan hanya menuntut nilai yang bagus, tapi mengesampingkan aspek psikis dan kenyamanan peserta didik yang akan menghambat perkembangan mereka.

2.3 Potensi Peserta Didik


Setiap peserta didik mempunyai potensi masing-masing yang berbeda satu sama lain, Potensi disini adalah kapasitas atau kemampuan peserta didik yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang memiliki kemungkinan dikembangkan atau menunjang pengembangan potensi lain yang ada pada diri peserta didik. Adapun potensi itu meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral dan religius. 1. Potensi Fisik Kondisi kesehatan fisik dan keberfungsian anggota tubuh diperoleh melalui pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tenaga medis dan observasi perilaku dalam mengikuti aktivitas pembelajaran oleh guru.

2. Potensi Intelektual. Potensi intelektual terbagi lima kelompok, yaitu: 1. Prestasi Akademik. 2. Kecerdasan Umum Kecerdasan umum meliputi hal-hal berikut: a. kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan tepat. b. memecahkan masalah; c. kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu; dan d. kemampuan mengkritik diri sendiri.

3. Kemampuan Khusus / Bakat Kemampuan khusus atau bakat meliputi hal-hal berikut: a. b. c. d. e. Kemampuan verbal (kebahasaan) Kemampuan logis (matematis) Kemampuan seni Kemampuan tilikan ruang Kemampuan jasmani (kinestetik)

f. g. h.

Kemampuan musik Kemampuan antarpibadi Kemampuan kealaman

4. Kreativitas Kreativitas meliputi beberapa hal, yaitu: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. memiliki dorongan ingin tahu yang sangat besar sering mengajukan pertanyaan memiliki banyak gagasan bebas dalam menyatakan pendapat memiliki rasa keindahan menonjol dalam salah satu bidang seni memiliki pendapat sendiri dan mampu mengungkapkannya memiliki rasa humor tinggi daya imajinasi yang kuat orisinalitas dapat bekerja sendiri senang mencoba hal-hal baru

5. Kepribadian Sedangkan kepribadian meliputi hal-hal berikut, diantaranya: a. kemampuan mengelola emosi, b. Kemampuan mengembangkan dan menjaga motivasi belajar / berprestasi, c. Kepemimpinan, d. Kemampuan menyesuaikan diri, e. Kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, f. Responsibilitas, g. Orientasi nilai, moral dan religi, h. Kecenderungan kebutuhan, i. Sikap,

k. Kebiasaan, dan sebagainya

2.4 Pengembangan Potensi Peserta didik

Kita sebagai calon-calon pendidik harus sangat memperhatikan potensi-potensi yang ada dalam diri peserta didik yang kemudian harus kita wadahi dan optimalkan potensi tersebut. Jangan sampai kita sebagai pendidik justru menghancurkan potensi yang dimiliki peserta didik karena ketidak tahuan kita tentang cara untuk pengembangan potensi peserta didik. Yang perlu diperhatikan dalam mengenali potensi-potensi mereka adalah pemahaman yang mendalam kepada karakter-karakter mereka yang sangat beragam. Jika kita tidak bisa memahaminya, jangankan mengembangkan potensi, menemukan potensi dalam diri peserta didik kitapun takkan pernah menemukannya. Oleh karena itu,sangat perlunya seorang pendidik agar dapat memahami karakteristik peserta didik yang kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan potensi peserta didik. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2 menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Sedangkan dalam pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Agar pelayanan pendidikan yang selama ini diberikan kepada peserta didik mencapai sasaran yang optimal, maka pembelajaran harus diselaraskan dengan potensi peserta didik. Oleh karena itu guru perlu melakukan pelacakan potensi peserta didik.Pemahaman tentang berbagai potensi peserta didik mutlak harus dimiliki oleh setiap pendidik. Hal itu sejalan dengan tujuh prinsip penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, (2) Beragam dan terpadu, (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan, (5) Menyeluruh dan berkesinambungan, (6) Belajar sepanjang hayat, dan (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Agar kita dapat mengenali potensi peserta didik, cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan mengajukan pertanyaan, Apa yang paling senang kamu lakukan dan orang lain menilai hasilnya sangat bagus dan luar biasa?. Sebagian peserta didik mungkin menjawab suka mengerjakan Matematika. Itu artinya dia memiliki kecerdasan logika. Sebagian siswa mungkin merasa senang apabila menulis atau belajar bahasa asing. Artinya, dia memiliki kecerdasan linguistik. Sebagian lagi mungkin senang bermain musik, dan sebagainya. Dalam pembelajaran guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang mempunyai potensi beragam. Untuk itu pembelajaran hendaknya lebih diarahkan kepada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Dalam konteks ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari pada pengarah yang menentukan segala-galanya bagi peserta didik. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong peserta didik (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus lebih terbuka menerima gagasan-gagasan peserta didik dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan dan kecemasan peserta didik yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif. Bagaimana hal ini dapat diwujudkan pada suasana pembelajaran yang dapat dinikmati oleh peserta didik? Jawabannya adalah pembelajaran menggunakan pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran guru : 1.Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas, 2.Memberi suasana aman dan bebas secara psikologis, 3.Disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan dapat berpartisipasi secara aktif 4. Memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif. Semua ini akan memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya secara optimal. Suasana kegiatan belajar-mengajar yang menarik, interaktif,

merangsang kedua belahan otak peserta didik secara seimbang, memperhatikan keunikan tiap individu, serta melibatkan partisipasi aktif setiap peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik berkembang secara optimal. Selanjutnya tugas guru adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang maksimal. Ternyata, banyak sekali potensi yang dimiliki peserta didik. Tugas pendidik adalah bagaimana agar potensi-potensi tersebut dapat berkembang dengan maksimal, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Pengembangan potensi siswa melalui kegiatan intrakurikuler dapat terwujud melalui proses belajar yang melibatkan peserta didik secara aktif (active learning). Dengan demikian, siswa terus mengasah kecerdasan logika saat merumuskan ide-ide atau pendapat, kecerdasan bahasa saat menyampaikan secara lisan ide atau pendapat tersebut, kecerdasan keuletan saat harus beradu argumen dengan teman, kecerdasan intrapersonal saat harus bersikap toleran kepada yang lain, dan seterusnya. Adapun peranan pendidik agar bisa mengoptimalkan potensi peserta didik menurut Djamarah, yaitu; a.Korektor; Yaitu pendidik bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, koreksi yang dilakukan bersifat menyeluruh dari afektif sampai ke psikomotor b.Inspirator; pendidik menjadi inspirator/ilham bagi kemajuan belajar mahasiswa, petunjuk bagaimana belajar yang baik dan mengatasi permasalahan lainya. c.Informator; pendidik harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. d.Organisator; Mampu mengelola kegiatan akademik (belajar) e.Motivator; Mampu mendorong peserta didik agar bergairah dan aktif belajar f.Inisiator; pendidik menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran g.Fasilitator; pendidik dapat memberikan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar h.Pembimbing; membimbing anak didik manusia dewasa susila yang cakap i.Demonstrator; jika diperlukan pendidik bisa mendemontrasikan bahan pelajaran yang susah dipahami

j.Pengelola kelas; mengelola kelas untuk menunjang interaksi edukatif k.Mediator; pendidik menjadi media yag berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaktif edukatif l.Supervisor; pendidik hendaknya dapat, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran dan m.Evaluator; pendidik dituntut menjadi evaluator yag baik dan jujur.

Tanggung jawab kita sebagai pendidik sangatlah besar, oleh karena itu kita harus terus belajar dan terus coba memahami potensi yang ada pada setiap diri peserta didik dengan sabar dan ulet, bukan malah menghancurkan potensi peserta didik karena ketidaktahuan kita tentang cara mengembangkan potensi peserta didik. Tanggung jawab yang terus semakin besar dengan semakin derasnya budaya asing yang mengancam potensi anak bangsa, bukanlah sebuah halangan tetapi dijadikan sebagai batu loncatan pendidik untuk semakin terpacu menghasilkan peserta didik yang berkarakter dan beriman sesuai amanat Undang Undang Dasar.

KESIMPULAN
Peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kecerdasan dan kemampuannya secara optimal. Secara garis besar karakteristik peserta didik dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Hal tersebut meruapkan dua faktor yang terbentuk karena faktro terpisah, masingmasing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari bahwa apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja, atau dewasa merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada diantara faktorfaktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan. Dalam pembelajaran, guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang mempunyai potensi beragam. Untuk itu pembelajaran hendaknya lebih diarahkan kepada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Itu semua dilakukan agar potensi peserta didik dapat berkembang yang akan menghasilkan kenyamanan dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibbin.2000.Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.Bandung:Rosda

http://insanakrozi.blogspot.com/2010/02/makalah-hakikat-peserta-didik.html) http://datastudi.wordpress.com