Anda di halaman 1dari 6

TANTANGAN DAN PELUANG RENDANG MENJADI NATION BRAND INDONESIA

Latar Belakang Secara sederhana brand (merek) diartikan sebagai sebuah nama, logo, simbol-simbol yang membedakan sebuah produk atau jasa dari produk pesaing (Susanto, 2004). Sedangkan brand image (citra merek) adalah apa yang dipersepsikan di benak konsumen. nation brand (Mix 2011) merupakan keseluruhan persepsi suatu bangsa dalam pikiran para pemangku kepentingan internasional. Disini bisa saja terkadang beberapa elemen seperti orang, tempat, budaya/bahasa, sejarah, makanan, fashion, wajah-wajah terkenal, merek global, dsb. Dengan demikian ada atau tanpa upaya membangun nation brand, setiap negara memiliki kesan (image) dibenak pikiran audiens internasional mulai dari kesan lemah, jelas, atau tersamar. Thailand merupakan contoh sebuah negara yang sukses membangun nation brand (merek national) tidak hanya dibidang masakan, seperti kare Massaman misalnya, tetapi juga di bidang produk-produk pertanian. Konsumen buah-buahan di Indonesia sangat akrab dengan nama papaya Bangkok, jambu Bangkok, durian bangkok, mangga Bangkok, terlepas dari lengkeng Thailand, ayam Bangkok, pemerintah yang secara dsb. Keberhasilan Thailand dalam membangun nation brand mereka tidak dukungan konsisten mempromosikan produk-produk negeri gajah putih itu. Salah satunya adalah melalui program Global Thailand yang telah berlangsung sejak tahun 2000. Dinobatkannya rendang sebagai masakan terlezat di dunia oleh CNN merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk membangun nation brand di bidang kuliner. Jika diibarat membangun nation brand sama dengan mendorong mobil mogok, Thailand mulai

mendorong sejak mobil berhenti, sampai mesin hidup, dan melaju. Sedangkan Indonesia tidak perlu mendorong sedari mobil tersebut berhenti, tetapi mendorongnya setelah mobil bergerak maju. Mendorong mobil yang sudah bergerak maju tentu lebih enteng dibandingkan dengan mendorong mobil sedari berhenti. Bagi Indonesia membangun rendang menjadi sebuah nation brand tentu lebih mudah karena dibantu oleh promosi CNN, dibandingkan dengan Thailand yang berjuang selama bertahun tahun guna membangun nation brand mereka, apakah itu di bidang kuliner maupun produk-produk pertanian. Kita akan kehilangan momentum jika tidak segera menindaklanjuti apa yang telah dimulai oleh CNN. Tantangan Peluang Rendang untuk menjadi salah satu nation brand Indonesia cukup besar peluangnya sebanding dengan tantangan yang dihadapinya. selangit, tantangannya selaut, demikian istilah

entrepreneur legendaris, Bob Sadino. Masalahnya bagaimana kita dapat merubah tantangan menjadi peluang. Berikut beberapa tantangan yang dihadapi Rendang menjadi nation brand Indonesia: 1. Tingkat Kesulitan dalam Proses Pembuatan Ada dua kategori bumbu yang digunakan dalam pembuatan rendang, yaitu bumbu dasar dan bumbu aromatik. Bumbu dasar terdiri dari kelapa, cabe merah, bawang putih serta bawang merah, lengkuas, jahe, kunyit, serta sere. Sedangkan bumbu aromatik terdiri dari dari ketumbar, peka atau bunga lawang, jintan, buah dan bunga pala, adas, kayu manis, cengkeh, serta daun salam. Meracik dan menemukan sedemikian banyak bumbu tentunya menimbulkan kesukaran sendiri bagi konsumen rendang apalagi konsumen di manca negara yang maunya serba praktis.

Kesulitan lainnya adalah selama proses pembuatan, rendang harus diaduk terus agar tidak lengket dan hangus. Rendang yang berkualitas menurut Puti Reno Rhaudatuljannah Thaib, pewaris Istana Pagaruyung dan Guru Besar Unand, adalah rendang yang berwarna hitam, tidak gosong, dan tidak keras. Oleh sebab itu diperlukan kesabaran dan banyak tenaga dalam pembuatan rendang. Jika tidak, gosong dan keras. rendang akan

Courtesy of Hariansumutpos.com

Memasak rendang secara tradisional: Sulit dan lama

2. Lamanya Waktu Pembuatan Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Puti Reno bahwa rendang yang berkualitas adalah rendang yang berwarna hitam, tidak gosong, dan tidak keras. Untuk membuat rendang seperti itu dibutuhkan kesabaran dan waktu berjam-jam. Jika tidak maka hasilnya akan gosong dan keras. Lamanya waktu yang dihabiskan dalam pembuatan rendang menjadi kendala yang menghambat rendang menjadi masakan yang mendunia. Hal ini bertentangan dengan gaya hidup masyarakat modern yang menginginkan hal-hal praktis dan hemat. Bisa dibayangkan betapa repotnya jika seorang ibu menghabiskan waktu berjam-jam di berupa bahan bakar gas (LPG) yang harganya terus meningkat. dapur untuk mengolah rendang. Apalagi alat bahan bakar yang digunakan

3. Ketersediaan Bumbu Dasar dan Bumbu Aromatik Seperti telah dijelaskan pada poin ke-1 bahwa ada dua macam bumbu rendang yaitu bumbu dasar dan bumbu aromatik. Bagi yang tinggal di luar negeri, menemukan bumbu aromatik tidak terlalu sulit karena rempah-rempah tersebut tersedia toko etnik china maupun etnik India. Namun tidak demikian halnya dengan bumbu dasar, terutama kelapa. Bahan jenis ini sulit ditemukan diluar negeri. Kalaupun ada kualitasnya tidak sebaik yang tersedia di Indonesia. Peluang Halangan dan tantangan ibarat dua sisi mata uang. Namun dibalik setiap tantangan pastilah membentang peluang. Berikut peluang yang tersembunyi dibalik tantangan yang ada: 1. Faktor CNN Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan diberitakannya rendang oleh CNN sebagai masakan terlezat semakin meningkatkan popularitas masakan ini dikalangan audiens internasional. Ditinjau dari sisi berita CNN telah menciptakan brand komunikasi pemasaran,

awarness rendang di antara pasar sasaran. Terbukanya pasar rendang di manca negara tentu akan meningkatkan ekspor produk ini , dan di saat yang sama, melalui masakan turis tertarik untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Ranah Minang tempat rendang berasal. 2. Rendang Merupakan Masakan yang Unik Keunikan rendang terletak pada rasa pedesnya yang khas serta bumbu yang meyerap sampai ke dalam daging, ditambah dengan sensasi aroma rempah-rempah yang melekat pada bumbu rendang (dadak randang bahasa Minang) yang dapat memancing seseorang ingin mencicipinya. Rasa serta sensasi aroma yang khas ditambah

dengan warna hitam keemasan membuat keunikan rendang semakin menempel dibenak konsumen nasional maupun internasional. 3. Rendang Tahan Lama Agar masakan rendang dapat tahan lama, maka orang Minang merendangnya sampai berwarna hitam. Kata merendang berasal dari kata dasar rendang. Bahasa Minangnya randang. Kata randang kemudian di Indonesiakan menjadi rendang. Merendang berarti memanaskan sesuatu di atas tungku, biasanya yang direndang adalah kopi atau kacang goreng, sambil tetap diaduk agar tidak hangus. Yang membuat rendang awet sampai jangka waktu berbulan bulan adalah kadar airnya hampir tidak ada akibat dipanaskan selama berjam-jam. 4. Warga Negara Indonesia yang Tinggal di Luar Negeri Union Migrant Indonesia, atau Serikat Pekerja Migran Indonesia, mencatat per tahun 2010, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri berjumlah jumlah kurang lebih 6 juta orang yang tersebar di 42 negara. Besarnya

WNI yang tinggal di luar negeri merupakan pangsa pasar potensial untuk beragam produk Indonesia. Peluang rendang menjadi komoditi andalan Sumbar tentu akan lebih besar lagi, karena rendang merupakan jenis masakan yang menjadi top of mind bagi orang Indonesia. Lihat jejak pendapat yang dilakukan September 2011. harian nasional Kompas tanggal 25 Dalam jejak pendapat tersebut, lebih dari tiga

perempat responden menyukai rendang. 5. Pendamping Berbagai Jenis Makanan Di Indonesia, rendang dikonsumsi sebagai lauk dalam skala terbatas. Sebagai lauk, rendang biasanya disandingkan dengan nasi, ketupat, atau lemang. Padahal rendang dapat disandingkan dengan berbagai jenis makanan. Sebagai pelopor, McDonald ,restauran cepat

saji global dari Amerika telah memperkenalkan burger dengan isi rendang sebagai salah satu varian produknya. Tidak tanggungtanggung, McDonald telah mendaftarkan burger rendang mereka sejak tahun 2000 ke Dirjen HAKI dengan nama McRendang. Rendang juga dapat dimakan bersama makanan barat lainnya seperti Pizza atau Sandwich, dan masakan dari timur seperti roti jala ataupun kebab. Kesimpulan AB Susanto dalam buku Power Branding mengartikan brand sebagai sebuah janji yang diberikan oleh pemasar untuk memenuhi keinginan calon kosumen. Agar rendang sebagai nation brand Indonesia terpatri dibenak calon konsumen secara kuat, maka stake holder rendang Indonesia harus segera memenuhi janji yang telah diucapkan. Singkatnya, calon konsumen rendang yang tinggal di manca negara harus dimudahkan dalam membuat atau merasakan enaknya rendang. Tasting is believing. Layaknya secangkir kopi, bagaimana seorang bisa tahu apakah kopi itu pahit atau manis jika dia belum mencicipinya. Dan sangat naf dalam membangun rendang sebagai sebuah nation brand hanya mengandalkan seorang William Wongso sebagai duta rendang. Jika lambat menangkap peluang, maka untuk kesekian kalinya kita akan kembali gigit jari karena Malaysia telah lama mengekpor rendang ke Belanda. Bak bunyi sebuah pameo: Kerbau punya susu, sapi punya nama.