Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN HASIL KEGIATAN TUTORIAL BLOK 4.

1 SKENARIO 1 From Zero to Hero

Disusun oleh: Kelompok 4 13161 Diki Yuge Katan 13162 Samuel Indriatama 13157 Eliyana Imayasari 13170 Erawati Werdiningsih 13160 Mumpuni Dyah Wardhani 13305 Risma Isnaini 13340 Anisa Hidayah 13310 Paradika Priskaputri 13312 Lindri Riahawa N 13318 Rahma Nur Faizin 13424 Yayu Nidaul F. 13420 Nurani Eka Hidayati

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

AGENDA TUTORIAL Pertemuan I: Hari/Tanggal : Selasa, 04 September 2012 Jam Agenda Kehadiran Tidak Hadir : 08.00-10.00 : Step I-V : 12 orang :-

Pertemuan II: Hari/Tanggal : Jumat, 07 September 2012 Jam Agenda Kehadiran Tidak Hadir : 08.00-10.00 : Step VII : 12 orang :-

Ketua Sekretasris I Sekretaris II Anggota

: Yayu Nidaul F : Eliyana Imayasari

13424 13157

: Mumpuni Dyah W 13160 : 13161 Diki Yuge Katan 13162 Samuel Indriatama 13170 Erawati Werdiningsih 13305 Risma Isnaini 13340 Anisa Hidayah 13310 Paradika Priskaputri 13312 Lindri Riahawa N 13318 Rahma Nur Faizin 13420 Nurani Eka Hidayati

SKENARIO 1 From Zero to Hero Ciputra, anak pedagang kelontong di sebuah desa terpencil di Gorontalo, boleh disebut sebagai Bapak Entrepreneur Indonesia. Dengan semangat entrepreneurnya ia bisa mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Ancol yang kotor dan terlantar dapat diubahnya menjadi Taman Impian Jaya Ancol, yang sekarang termasuk kawasan 5 besar dunia dengan pengunjung lebih dari 13 juta orang per tahun.

Step 1 1. Entrepreneur : orang yang mempunyai kemampuan dalam memulai, mengatur,

mengembangkan suatu usaha serta berani mengambil risiko untuk kepentingan masyarakat. 2. Entrepreneurship : jiwa entrepreneur yang dibangun untuk menjembatani antara ilu

dengan kemampuan pasar; sikap, semangat, kemampuan, seseorang untuk menciptakan suatu yang baru dan dibuktikan dengan kegiatan (entrepreneurial). Step 2 1. Prinsip entrepreneurship? 2. Sikap entrepreneurship? 3. Hambatan yang ada dalam entrepreneurship? 4. Apakah entrepreneur selalu berhubungan dengan uang? 5. Etika entrepreneurship? 6. Apa yang bisa dilakukan bidang keperawatan dalam entrepreneur dan apakah bagaimana etikanya? 7. Skill yang dibutuhkan oleh entrepreneur? 8. Perbedaan entrepreneur, manejer, dan pedagang? 9. Keuntungan dan kelemahan menjadi entrepreneur? 10. Apa kesalahan yang rentan dialami entrepreneur? 11. Cara menumbuhkan motivasi untuk menjadi entrepreneur?

12. Kepribadian entrepreneur? 13. Perbedaan wirausaha dengan wiraswasta? 14. Tahapan membuat suatu usaha? 15. Faktor-faktor yang mempengaruhi entrepreneurship?

STEP 3 1. 2. Sikap entrepreneur Kreatif Percaya tantangan Gigih, kerja keras Mandiri; yakin terhadap apa yang dilakukan Komitmen Dinamis dan future oriented Ide original Berani mengambil risiko, diri: comfort, suka Tidak egois Orientasi pada tindakan

merealisasikan ide Energy tingkat tinggimampu bekerja dalam waktu lama,

secara emosi, mental, dan fisik Toleransi pada ketidakpastian secara psikologi mampu

mengahadapi risiko Fleksibelmenyesuaikan keadaan Berjiwa pemimpin Komunikasi OK pada

toleransi terhadap kegagalan Long live learner Koneksi banyak

3. Hambatan yang ada dalam entrepreneurship Banyak saingan Perubahan lingkungan yang cepat Susahnya pencarian modal Dalam memulai usaha tidak focus Tidak dapat mengendalikan ego Skillnya kurang

Kebijakan pemerintah pasar global Nerspreneur stigma masyarakat, konflik personal, RS takut terjadi penurunan kedisipinan

4. Apakah entrepreneur selalu berhubungan dengan uang Tidakmis:seperti panti asuhan Iya panti juga memutarkan uang untuk keperluan operasionalnya Dapat secara langsung Tidak langsung secara social entrepreneur (untuk, oleh, dari masyarakat) bisa dengan mengelola dan mengatur, uang sebagai reward 5. 6. Yang bisa dilakukan bidang keperawatan dalam entrepreneur dan apakah bagaimana etikanya Dengan nurspreneurpeluang perawat: Trend demografi jumlah lansia yang semakin meningkat tentunya memerlukan perawatan Kesempatan di fasilitas kesehatanterlibat dalam produksi dan distribusi suplemen untuk pasien Trend social gaya hidup yang semakin sibuk berdampak pada kesehatanklub jantung sehat Melakukan penyuluhan kespro, KB, pelayanan deteksi dini (sesuai aturan) Menjual produk sesuai bidang catering sehat Ada etika dalam entrepreneurial yaitu tanggung jawab terhadap masyarakat 7. 8. Perbedaan entrepreneur, manejer, dan pedagang Manejer seseorang yang mengelola, mengatur suatu badan usaha sesuai dengan guideline Entrepreneur memberikan inovasi pada usaha, tidak sesuai aturan, butuh jiwa manajerial 9. Keuntungan dan kelemahan menjadi entrepreneur Keuntungan

Melakukan disenangi Memberikan masyarakat

sesuatu

yang

Mengembangkan potensi Kelemahan

kontribusi

pada Bekerja setiap hari Kehilangan investasi Pendapatan tak menentu

Menciptakan inovasi Bekerja tidak tergantung jadwal Income per hari 10. Kesalahan yang rentan dialami entrepreneur

Pondasi kerja yang tidak kokoh, dasar yang tidak kuat, dan tidak dapat dipercaya Kesalahan dalam SDM dan investasi 11. Cara menumbuhkan motivasi untuk menjadi entrepreneur dengan pelatihan, bergaul dengan pengusaha lain 12. = sifat entrepreneur 13. Perbedaan wirausaha dengan wiraswasta wirausaha pemilik modal, bekerja diluar perusahaan orang lain; wiraswastabekerja dalam lingkup perusahaan 14. Tahapan membuat suatu usaha Ide Rencana Pengelolaan Pemimpin Pengendalian Pengembangan 15. Faktor-faktor yang mempengaruhi entrepreneurship Faktor internalbakat, skill, kemauan, sifat, sikap, kekurangan dan kelebihan, semangat, usia, pengalaman, pendidikan Faktor eksternallingkungan termasuk keluarga, budaya (apa yang didapat menerima atau kompetitif), kondisi demografi (ex: Madura: sate, tulungagung: lodho)

STEP 4

SKEMA

Kelebihan dan kekurangan

Entrepreneur

Faktor yang mempengaruhi

Entrepreneurial

Tahapan

Entrepreneurship

Hambatan

Skill, sikap, prinsip

STEP 5
LO1, 5, 6, 13, 14

STEP 6 Mencari Literatur

STEP 7 1. Prinsip entrepreneurship a) Mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan. b) Pembiayaan : pendanaa jumlah dan sumber dana. c) SDM : tenaga kerja yang diperlukan. d) Kepemilikan : peran-peran daam pelaksanaan usaha. e) Organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki. f) Kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial. g) Pemasaran : lokai dan tempat usaha. prinsip sukses seorang entrepreneur menurut Rhenald Kasali. a) Reputasi seorang entrepreneur senantiasa menjaga reputasi (nama baik) agar mendapatkan kepercayaan dari banyak orang b) Tumbuh dari bawah. Seorang entrepreneur adalah biasa memulai dari nol ataupun dari sesuatu yang kecil meskipun modal dasar memulai itu berbeda-beda c) Konsentrasi. Seorang entrepreneur yang sudah memutuskan untuk masuk ke bidang tertentu, hendaknya fokus dan berkonsentrasi. Jikalau satu saja belum beres, jangan berpindah ke bidang lain. d) Anti kerumunan. Seorang entrepreneur sebaliknya tidak terjun kebidang yang telah banyak dimasuki orang (bukan pengekor), kecuali mampu memberikan nilai lebih yang membedakan kita dengan pemain sebelumnya. Jadi, jangan latah, ciptakan sesuatu yang berbeda. e) Modal hanya pelengkap. Sebagai entrepreneur harus berpikir mulai dari kemampuan terkecil untuk mendapatkan modal. Prinsip etika bisnis menurut Keraf a) Prinsip otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri.

b) Prinsip kejujuran, meliputi pemenuhan syarat-syarat perjanjian atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan, dan hubungan kerja dalam perusahaan. c) Prinsip tidak berbuat jahat dan berbuat baik. d) Prinsip keadilan. Prinsip ini menuntut agar kita memberikan apa yang menjadi hak seseorang dimana prestasi dibalas dengan kontra prestasi yang sama nilainya. e) Prinsip hormat pada diri sendiri. Prinsip ini mengarahkan agar kita memperlakukan seseorang sebagaimana dirinya ingin diperlakukan dan tidak akan memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya tidak ingin diperlakukan.

2. Etika entrepreneurship Dalam menciptakan etika bisnis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah a) Pengendalian diri . Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu

mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis".

b) Pengembangan tanggung jawab sosial. Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan

excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

c) Mempertahankan jati diri dan tidak mudah terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Informasi dan teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya transformasi informasi dan teknologi . d) Menciptakan persaingan yang sehat. Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap

perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut. e) Menerapkan konsep pengembangan berkelanjutan. Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

f) Menghindari sifat 5k (katabelece, kongkalikong, koneksi, kolusi, dan komisi). Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi

dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

g) Mampu menyatakan yang benar itu benar. Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan

"kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.

h) Menumbuhkan sikap salng percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah. Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.

i) Konsekuan dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama . Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.

j) Menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memilik terhadap apa yang telah disepakati bersama. Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

k) Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan . Menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti proteksi terhadap pengusaha lemah. Pelanggaran etika bisnis a) Pelanggaran etika bisnis terhadap hukum, misalnya perusahaan mem-PHK karyawan karena perusahaan nya bangkrut, namun tidak diberi pesangon sebagaimana diatur UU No. 13/2003. b) Pelanggaran etika bisnis terhadap transparansi c) Pelanggaran etika bisnis terhadap akuntabilitas d) Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip pertanggungjawaban e) Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kewajaran f) Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran g) Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip empati 3. Peluang perawat menjadi entrepreneurship dan kodek etiknya Berdasarkan konsep King yang dilengkapi dengan konsep John L Holland, saat ini dibutuhkan perawat yang memiliki kepribadian Tipe usaha/enterprising. Perawat tipe ini cenderung mempunyai untuk kemampuan memimpin verbal orang atau lain, komunikasi mengatur, yang baik dan dan

menggunakannya

mengarahkan,

mempromosikan produk atau gagasan. Pengembngan karir tersebut dapat menjadi pengelola klinik atau sarana kesehatan lainnya, dalam hal ini perawat dapat bertindak sebagai pemilik modal, penggagas ide, pemilik saham, atau owner yang akan menggaji karyawannya. Selain peran tersebut perawat juga dapat melakukan penelitian-penelitian, sebagai contoh adanya tim riset yang meneliti perawatan luka, cara ganti balutan efektif, kompres modern, terapi modalitas, tehnik relaksasi dsb. Disamping peran-peran di atas perawat

dapat juga bergerak dalam bidang pendidikan atau menyediakan pelatihan-pelatihan atau sebagai konsultan. Peluang perawat menjadi Entrepreneur dibagi menjadi:

Trend demografi : Jumlah lansia yang semakin banyak tentunya memerlukan perawatan dalam menjalani hidupnya. Dalam menjalani pengobatan mungkin beberapa klien memerlukan penjagaan atas privacynya sehingga memerlukan pelayanan secara khusus. Kesempatan di falitas kesehatan :Terlibat dalam produksi atau pendistribusian suplemen yang baik untuk pasien di rumah sakit. Mungkin kedepannya tidak menutup kemungkinan rumah sakit akan melakukan outsourcing tenaga perawat untuk memotong besarnya biaya rumah sakit, hal ini tentunya rumah sakit tidak akan memaksakan tenaga perawat yang sedikit untuk merawat pasien yang sangat banyak dan sebaliknya jika pasien sedikit rumah sakit bisa menyesuaikan kebutuhan tenaga perawat.

Trend sosial : Gaya hidup yang sibuk berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang sehingga untuk tetap sehat membutuhkan perawatan untuk mempertahankan kesehatanny, dalam hal ini focus kepada kelompok kelompok tertentu seperti klub jantung sehat. Kode etik : a) Perawat dan klien b) Perawat dan praktik : perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan buka bisnis illegal atau jual obat atau pemeriksaan palsu, dengan selalu menunjukkan perilaku profesional. c) Perawat dan masyarakat : perawat mempunyai tanggung jawab untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. d) Perawat dan teman sejawat : dapat memlihara hubungan baik. e) Perawat dan profesi. 4. Beda wiraswasta dengan wirausaha Perbedaanya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberkan tidak salah arah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan

adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan adversity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan financial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek financial maupun personal, sosial, dan professional. Menurut KBBI, wiraswasta adalah jenis usaha berdikari atas dasar percaya pada diri sendiri (bias usaha sendiri atau orang lain). Wirausaha adalah usaha yang digerkan oleh semangat keberanian dan kejujuran ( selalu usaha sendiri) Wira berarti pemberani, pejuang, pahlawan; usaha = kegiatan bisnis yang komersial/ non bisnis yang tidak komersial; swa : mandiri; hasta : tangan. Wirausaha adalah orang yang berani berjuang dalam bisnis tertentu, wiraswasta adalah orang yang berani berjuang mencapai kemandirian dengan tangannya sendiri. Wirausahawan adalah orang yang berani membuka kegiatan produktif sendiri. Kewirausahawan adalah proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menaggung risik keuangan, fisik. Serta risiko social yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi. Pengusaha, wirausaha, dan penemu. Tidak semua pengusaha adalah

wirausahawan. Sebagai contoh seorang pengusaha yang karena ia memiliki saham disuatu perusahaan dan memiliki koneksi tertentu dengan pejabat pemerintah sehingga ia memperoleh fasilitas-fasilitas istimewa baik dalam memenangkan tender maupun kemudahan dalam perizinan bukanlah seorang wirausahawan. Orang tersebut tidak lebih hanyalah seorang pengusaha/pedagang. Dikatakan seorang wirausahawan karena ia melakukan terobosan dalam usaha baru. Wirausaha berbeda dengan penemu (inventor) yaitu orang yang menemukan sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia, misalnya Thomas Alpha Edison menemukan listrik. Einstein menemukan atom, dan lainnya. Mereka tidak dapat disebut

wirausahawan jika penemuannya tersebut tidak ditransformasikan oleh mereka sendiri ke dalam dunia usaha. Wirausahawan adalah orang yang yang memanfaatkan penemuan tersebut ke dalam dunia usaha. Wirausahawan berbeda dengan manajer. Meskipun demikian tugas dan perannya dapat saling melengkapi. Seorang wirausahawan yang membuka suatu perusahaan harus menggunakan keahlian manajerial (manajerial skills) untuk mengimplementasikan visinya. Dilain pihak seoarng manajer harus menggunakan keahlian dari wirausahawan (entrepreneurial skill) untuk mengelola perubahan dan inovasi. Wirausahawan memiliki risiko atas finansialnya sendiri atau finansial orang lain yang dipercayakan kepadanya dalam memulai suatu. Ia juga berisiko atas keteledoran dan kegagalan usahanya. Sebaliknya manajer lebih termotivasi oleh tujuan yang dibebankan dan kompensasi (gaji dan benefit lainnya) yang akan diterimanya. Seorang manajer tidak toleran terhadap sesuatu yang tidak pasti dan membingungkan dan kurang berorientasi terhadap resiko dibandingkan dengan wirausahawan. Manajer lebih memilih gaji dan posisi yang relatif aman dalam bekerja. Wirausahawan lebih memiliki keahlian intuisi dalam mempertimbangkan suatu kemungkinan atau kelayakan dan perasaan dalam mengajukan sesuatu kepada orang lain. Dilain pihak, manajer memiliki keahlian yang rational dan orientasi yag terperinci (rational and detailed-oriented skills). Beberapa definisi wiraswasta adalah kemampuan untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Keberanian, keutamaan, atau keperkasaan dalam berusaha dengan bersandar pada kekuatan sendiri. Memindahkan sumber daya ekonomi dari kawasan produktivitas ke kawasan produktivitas tunggi dan hasil yang besar. Orang yang berani memutuskan untuk berani bersikap, berpikir dan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarir dengan jalan berusaha diats kemampuan sendiri. Seseorang yang berani dan layak menjadi teladan dalam bidang usaha dengan landasan berdiri diatas kaki sendiri. Seseorang yang memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai modal dan resiko, serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi atas usahanya tersebut.

5. Tahapan membuat usaha a) Tahap memulai, tahap dimana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. b) Tahap melaksanakan usaha atau tahap jalan, tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikian, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi. c) Mempertahankan usaha, tahap dimana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi. d) Mengembangkan usaha, tahap dimana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Dapus Etika Bisnis, Ritha F. Dalimunthe Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Beri Nilai