Anda di halaman 1dari 34

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Suatu proses produksi budidaya tanaman yang melalui beberapa tahapan mulai
dari persiapan lahan sampai penanganan pasca panen akan mengalami beberapa Kendala.
Tetapi apabila kita dapat memperhatikan secara benar dan disiplin sesuai dengan petunjuk
dan prosedur serta pengalaman yang telah dilakukan dalam pemeliharaan tanaman akan
mempunyai suatu proses budidaya tanaman(Anonim, 2005).
Pemeliharaan tanaman terdiri dari beberapa kegiatan mulai dari pemupukan,
penyiraman sampai ke pengendalian hama dan penyakit yang timbul pada tanaman. Suatu
proses produksi budidaya tanaman apabila dilakukan di Green House maupun diluar areal
yang bebas akan mempengaruhi dalam pemeliharaan terutama pengendalian hama dan
penyakit. Berbudidaya tanaman diluar areal yang bebas atau di lahan yang terbuka tampa
adanya penghalang seperti paranet atau tanaman bareir maka kemungkinan tanaman
tersebut mudah terserang hama maupun penyakit dan didukung kondisi alam atau suhu
yang sangat berpengaruh timbulnya penyakit(Anonim, 2005).
Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu
(2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria.
Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah
diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15. Kemudian
pada abad ke-17 nicotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai
insektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisida alami yaitu, pyretrum yang
diekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yang diekstrak dari akar tuba Derris eliptica
(Miller, 2002). Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali
mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai
insektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939
yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau
Medicine pada tahun 1948 (NobelPrize.org). Pada tahun 1940an mulai dilakukan
produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Daly et al.,
1998). Beberapa literatur menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an sebagai “era
pestisida” (Murphy, 2005). Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat
semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap
tahunnya (Miller, 2002). Dari seluruh pestisida yang diproduksi di seluruh dunia saat ini,
75% digunakan di negara-negara berkembang (Miller, 2004).
Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan
pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyai
kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu antara lain:
- dapat diaplikasikan secara mudah;
- dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu;
- hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat;
- dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat; dan
- mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di
kota besar(Ditlin Tanaman Hortikultura, 2008).
Reaksi terhadap bahaya penggunaan pestisida kimia terutama DDT mulai nampak
setelah Rachel Carson menulis buku paling laris yang berjudul “Silent Spring” tentang
pembengkakan biologi (biological magnification) tahun 1962. Sehingga minimal ada 86
negara melarang penggunaan DDT, meskipun masih digunakan di beberapa negara
berkembang untuk memberantas nyamuk malaria (Willson and Harold, 1996). Beberapa
dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia pada lahan pertanian yang telah
diketahui, diantaranya: mengakibatkan resistensi hama sasaran (Endo et al. 1988; Oka
1995), gejala resurjensi hama (Armes et al., 1995), terbunuhnya musuh alami (Tengkano
et al. 1992), meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan, gangguan kesehatan
bagi pengguna (Oka 1995; Schumutterer, 1995), bahkan beberapa pestisida disinyalir
memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisan
lapisan ozon (Reynolds, 1997).
Djamin (1985)menyatakan bahwa pemakaian insektisida yang terus menerus akan
mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, manusia, hewan ternak maupun
musuh alami hama dan serangga yang berguna lainnya. Disamping itu dapat juga
menimbulkan resistensi hama serangga, resurgensi hama, eksplosi hama kedua sehingga
kerusakan terhadap tanaman akan semakin meningkat.
Pemberantasan hama yang tengah diupayakan oleh pemerintah untuk bisa
diterapkan kdi lapangan adalah Hama Berwawasan Lingkungan. Hama Berwawasan
Lingkungan adalah tindakan pengendalian hama yang berdasarkan atau berpedoman
kepada Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu. Penerapan Konsepsi PHT tersebut
didorong oleh banyak faktor yang pada dasarnya adalah dalam rangka penerapan
program pembangunan nasional berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Faktor-
faktor tersebut adalah :
1. Kegagalan pemberantasan hama secara konvensional. Pemberantasan hama secara
konvensional dengan pendekatan pada penggunaan pestisida telah terbukti
menimbulkan dampak negatif, antara lain resistensi atau ketahanan hama, srurjensi
hama, ledakan hama sekunder, matinya organisma bukan sasaran (musuh alami,
serangga berguna, binatang ternak, dan lain-lain), residu pada hasil/produk
pertanian, keracunan pada manusia, dan pencemaran lingkungan.
2. Kesadaran tentang kualitas lingkungan hidup.Karena dampak negatif pestisida
terhadap organisma non sasaran dan lingkungan, maka disadari bahwa penggunaan
pestisida dalam pengendalian hama merupakan teknologi pengendalian hama yang
bersifat kurang ramah lingkungan. Dengan adanya kesadaran ini, kemudian muncul
kesadaran lebih lanjut bahwa untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan
perlu dicari alternatif teknologi penggunaan pestisida yang ramah lingkungan atau
teknologi pengendalian lain selain pestisida yang juga harus ramah lingkungan.
Teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan tersebut adalah PHT.
3. Dampak globalisasi ekonomi. Era globalisasi saat ini telah memunculkan era
perdagangan bebas antar negara, mengakibatkan produk-produk pertanian harus
memenuhi persyaratan ekolabeling. Produk pertanian yang dipasarkan dituntut
harus bersifat ramah lingkungan, diantaranya tidak mengandung residu pestisida.
Kondisi ini mengakibatkan penerapan teknologi PHT sebagai teknologi
pengendalian yang ramah lingkungan menjadi salah satu teknologi alternatif yang
dibutuhkan.
4. Kebijakan pemerintah. Era globalisasi mengakibatkan tekanan tekanan dunia
internasional mengenai kelestarian lingkungan menjadi semakin tinggi. Oleh
karena itu, maka pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar terhadap
penerapan PHT ini. Ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan
yang mendukung penerapan PHT dalam sistem produksi pertanian (Hidayat, 2001).
Telah dilaporkan polusi air yang disebabkan oleh pestisida. Untuk danau-danau di
Pulau Bali, yaitu; Danau Tamblingan dan Buyan terletak di Kabupaten Buleleng, Danau
Beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli, juga mengalami
polusi (Sandi Adnyana, 2003 cit. Manuaba, 2008). Keempat danau ini merupakan
reservoir air untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh wilayah Pulau Bali. Di keempat
danau ini, terutama di Danau Buyan telah terjadi peningkatan aktivitas penduduk,
khususnya di bidang pertanian. Peningkatan aktivitas penduduk di sekitar danau
mengakibatkan tekanan lingkungan terhadap danaupun meningkat. Berdasarkan hasil
penelitian kualitas air Danau Buyan didapatkan bahwa kualitas airnya memenuhi baku
mutu kelas III sesuai PP. Nomor 82 Tahun 2001. Baku mutu kelas III adalah syarat
kualitas air yang digunakan untuk tanaman, peternakan, dan pemeliharaan ikan air tawar
(Tantri Endarini, 2004 cit. Manuaba, 2008).
Sifat-sifat kimia, biologi maupun fisika air merupakan indikator kualitas
ekosistem di lingkungan air tersebut. Walaupun cemaran pada air danau berada di bawah
nilai ambang batas yang ditetapkan, namun dapat mengakibatkan cemaran yang tinggi
pada biota air termasuk ikan. Hal ini disebabkan terjadinya bioakumulasi pada biota
tersebut sehingga berresiko bila dikonsumsi (US. EPA., 2000 cit. Manuaba, 2008).
Penggunaan pestisida dalam menopang peningkatan produk pertanian maupun
perkebunan telah banyak membantu untuk meningkatkan produksi pertanian. Namun
demikian penggunaan pestisida ini juga memberikan dampak negatif baik terhadap
manusia, biota maupun lingkungan. Erin, et al. (2001) cit. Manuaba, 2008 mendapatkan
bahwa terjadi resiko kematian janin dua kali lebih besar bagi ibu yang saat kehamilannya
berusia 3-8 minggu tinggal dekat areal pertanian dibandingkan dengan yang tinggal jauh
dari daerah pertanian. Penggunaan herbisida klorofenoksi (yang mengandung 2,4-D)
telah terbukti mengakibatkan resiko cacat bawaan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu
yang bermukin didekat daerah pertanian (Schreinemachers, 2003 cit. Manuaba, 2008).

Pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sebagai racun sebenarnya


lebih merugikan dibanding menguntungkan, yaitu dengan munculnya berbagai dampak
negatif yang diakibatkan oleh pestisida tersebut. Karena alasan tersebut, maka dalam
penggunaan pestisida harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Pestisida hanya digunakan sebagai alternatif terakhir apabila belum ditemukan
cara pengendalian lain yang dapat memberikan hasil yang baik.
2. Apabila terpaksa menggunakan pestisida gunakan pestisida yang mempunyai
daya racun rendah dan bersifat selektif.
3. Apabila terpaksa menggunakan pestisida lakukan secara bijaksana.
1.2. Tujuan Praktikum
Adapun yang menjadi tujuan praktikum Pestisida dan Tenkik Aplikasi yaitu :
1. Mengetahui cara pembacaan label pestisida
2. Mengetahui dan memahami penggunaan alat-alat aplikasi pestisida
3. Mengetahui toksisitas insektisida botani, racun perut, racun kontak, insektisida
mikroba dan toksisitas mikroba.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PENDAHULUAN
Pengendalian hama adalah aplikasi teknologi berdasarkan pengetahuan biologi
untuk menurunkan populasi atau pengaruh hama secara memuaskan (Pedigo, 1991 cit.
Hidayat, 2001).Agar pengendalian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang
memuaskan, maka Geier (1966) cit. Pedigo (1991) cit. Hidayat (2001) mengemukakan
empat persyaratan berikut :
• Pengendalian hama harus selektif terhadap hama yang dikendalikan.
• Bersifat komprehensif dengan sistem produksi
• Kompatibel dengan prinsip-prinsip ekologi
• Bersifat toleran terhadap spesies yang potensial dapat merusak tanaman tetapi
masih dalam batas-batas yang secara ekonomis dapat diterima.

2.2.PENGENALAN PESTISIDA

Pestisida adalah suatu bahan kimia yang digunakan untuk membunuh atau
mengendalikan hama. Pestisida memegang peranan penting dalam melindungi tanaman,
ternak, dan untuk mengontrol sumber-sumber vektor penyakit (vector-borne diseases)(
Manuaba, 2008).

Menurut Keputusan Menteri Pertanian No.434.1/Kpts/TP.270/7/2001 masih


mengacu pada Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas
Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida. Pestisida merupakan semua zat
kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

1) Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-
bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2) Memberantas rerumputan.
3) Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
4) Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian.
5) tanaman tidak termasuk pupuk.
6) Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak.
7) Memberantas atau mencegah hama-hama air.
8) Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah
tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan.
9) Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit
pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman,
tanah atau air.

Bidang penggunaan pestisida meliputi:

Pengelolahan tumbuhan; Peternakan; Penyimpanan Hasil Pertanian; Pengawetan Hasil


Hutan; Pengendalian Vektor Penyakit Manusia; Pengendalian Rayap; Pestisida Rumah
Tangga; Fumigasi; Pestisida Industri lainnya seperti Cat, anti Pencemaran dan Bidang
lainnya.(Deptan, 2001).

Pertanian konvensional ditandai dengan pemakaian pupuk dan pestisida sintetis


secara intensif memberikan dampak yang sangat merugikan seperti pencemaran
lingkungan, residu pestisida pada makanan, terganggunya kesehatan manusia,
terbunuhnnya organisme berguna, hama menjadi tahan terhadap pestisida dan
munculnnya masalah resurgensi ( Arya, 1996; Oka, 1998). Penggunaan pestisida secara
intensif dan tidak terkendali mulai menjadi masalah di Pilipina tahun 1980-an. Masalah
hama justru semakin parah, korban manusia semakin banyak berjatuhan, biaya kesehatan
semakin berat, keamanan lingkungan semakin terancam. Lalu pemerintah
mengembangkan paket kebijakan pestisida (PKP) selama periode 1992-1996 melalui
Fertilizer and Pesticide Authority (FPA)( Sinar Tani, 2008).

Pengertian yang menarik tentang pestisida dikemukaan oleh Meister et al, (1985)
yang menyatakan bahwa pestisida adalah racun ekonomis. Jadi pestisida adalah racun
yang mempunyai sifat ekonomis, penggunaan pestisida dapat memberikan keuntungan
tetapi juga dapat dapat mengakibatkan kerugian.

Penggunaan pestisida secara bijaksana adalah penggunaan pestisida yang memperhatikan


prinsip 5 (lima) tepat, yaitu :
1. Tepat sasaran. Tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang akan dikendalikan,
sebaiknya tentukan pula unsur-unsur abiotis dan biotis lainnya. Ini berarti
sebelum melakukan aplikasi pestisida, terlebih dahulu harus dilakukan analisis
agroekosistem.
2. Tepat jenis. Setelah diketahui hasil analisis agroekosistem, maka dapat ditentukan
pula jenis pestisida apa yang harus digunakan, misalnya untuk hama serangga
gunakan insektisida, untuk tikus gunakan rodentisida. Pilihlah pestisida yang
paling tepat diantara sekian banyak pilihan. Misalnya, untuk pengendalian hama
ulat daun kubis. Berdasarkan rekomendasi dari Komisi Pestisida tersedia + 60
nama dagang insektisida. Jangan menggunakan pestisida tidak berlabel, kecuali
pestisida botani racikan sendiri yang dibuat berdasarkan anjuran yang ditetapkan.
Sesuaikan pilihan tersebut dengan alat aplikasi yang dimiliki atau akan dimiliki.
3. Tepat waktu. Waktu pengendalian yang paling tepat harus ditentukan berdasarkan:
• Stadium rentan dari hama yang menyerang tanaman, misalnya stadium
larva instar I, II, dan III.
• Kepadatan populasi yang paling tepat untuk dikendalikan, lakukan
aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi.
• Kondisi lingkungan, misalnya jangan melakukan aplikasi pestisida pda
saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik.
• Lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
4. Tepat dosis/konsentrasi Gunakan konsentrasi/dosis yang sesuai dengan yang
dianjurkan oleh Komisi Pestisida. Untuk itu bacalah label kemasan pestisida.
Jangan melakukan aplikasi pestisida dengan konsentrasi dan dosis yang melebihi
atau kurang sesuai dengan anjuran akan dapat menimbulkan dampak negatif.
5. Tepat Cara. Lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi
pestisida dan anjuran yang ditetapkan(Hidayat, 2001).

Penggunaan pestisida sintetik perlu diatur agar tidak digunakan sebagai satu-
satunya alternatif pengendalian hama. Pemakaian bahan nabati merupakan salah satu
alternatif untuk mengatasi masalah hama. Insektisida nabati yang dibuat dari bahan alami
akan mudah terurai dan tidak mencemari lingkungan, serta relatif aman bagi manusia dan
ternak (Kardinan, 1999 cit. Supriyatin dan Marwoto, 2000).

2.3. TEKNIK APLIKASI PESTISIDA

Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh teknik aplikasi yang


tepat, yang menjamin pestisida tersebut mencapai jasad sasaran dimaksud, selain juga
oleh faktor jenis, dosis dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida
yang dapat berFungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat.
Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang
semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan, pada saat yang tepat, dengan
liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai
dengan anjuran (dosis)(Hidayat, 2001).
Setiap aplikasi pestisida dapat dinilai menurut 2 cara, yaitu :

1. Evaluasi biologi, berupa pengukuran tingkat penurunan populasi jasad


pengganggu sasaran atau kerusakan yang ditimbulkannya, serta pengukuran
terhadap hasil (yield).
2. Pengukuran fisik terhadap hasil semprotan, berupa liputan (coverage) hasil
semprotan pada sasaran yang dapat berupa tanaman, serangga, gulma atau pun
sasaran buatan tertentu seperti kertas peka (sintetive paper), dan kaca
slide(Hidayat, 2001).
Untuk setiap jumlah yang sama dari (larutan) pestisida yang disemprotkan, jumlah
droplet per satuan luas akan berhubungan erat dengan ukuran droplet tersebut. Semakin
banyak jumlah droplet per satuan luas, akan semakin kecil ukuran droplet tersebut.
Sebaliknya semakin sedikit jumlah droplet per satuan luas, akan semakin besar ukuran
droplet tersebut.

Cara pemakaian (application methods):

1. Penyemprotan (spraying) : merupakan metode yang paling banyak


digunakan. Biasanya digunakan 100-200 liter enceran insektisida per ha.
Paling banyak adalah 1000 liter/ha sedang paling kecil 1 liter/ha seperti dalam
ULV.

2. Dusting : untuk hama rayap kayu kering Cryptotermes, dusting sangat efisien
bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek
perilaku trofalaksis.

3. Penuangan atau penyiraman (pour on) misalnya untuk membunuh sarang


(koloni) semut, rayap, serangga tanah di persemaian dsb.

4. Injeksi batang : dengan insektisida sistemik bagi hama batang, daun,


penggerek dll.

5. Dipping : perendaman / pencelupan seperti untuk biji / benih, kayu.

6. Fumigasi : penguapan, misalnya pada hama gudang atau hama kayu.

7. Impregnasi : metode dengan tekanan (pressure) misalnya dalam pengawetan


kayu (http://fp.elcom.umy.ac.id).

Pestisida dan bahan penyampur

Pestisida sebagai bahan racun akfif (active ingredient) dalam formulasi


biasanya dinyatakan dalam berat / volume (di Amerika Serikat dan Inggris) atau
berat-berat (di Eropah). Bahan-bahan lain yang tidak akfif yang dicampurkan dalam
pestisida yang telah diformulasi dapat berupa :

• pelarut (solvent) adalah bahan cair pelarut misalnya alkohol, minyak


tanah, xylene dan air. Biasanya bahan pelarut ini telah diberi
deodorant (bahan penghilang bau tidak enak baik yang berasal dari
pelarut maupun dari bahan aktif).
• sinergis, sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun, walaupun
bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari
biji wijen), dan piperonil butoksida.

• emulisifier, merupakan bahan detergen yang akan memudahkan


terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air.
• di samping bahan-bahan tersebut di atas, menurut keperluan, dalam
formulasi ditambahkan bahan-bahan lain seperti pencegah kebakaran,
penghilang bau yang tidak enak (deodorizer) dan peniada tegangan
permukaan.

Tabel 1. jenis dan ukuran droplet ysng memberikan hasil efikasi biologi terbaik

Sumber : Hidayat, 2001.

Pada umumnya volume semprotan atau jumlah larutan yang akan disemprotkan per
satuan luas (l/ha) untuk setiap jenis pestisida tersebut. Jumlah larutan per satuan luas
dapat juga beragam untuk satu jenis pestisida, tergantung dari macam alat yang
digunakan. Dengan telah mengetahui jumlah larutan yang harus disemprotkan per satuan
luas, alat semprot dan/atau tipe nozzle apa yang harus digunakan dapat dengan mudah
ditentukan berdasarkan cara perhitungan di atas. Sedangkan untuk kecepatan berjalan
penyemprot, khususnya untuk alat semprot yang digendong, sulit untuk dapat diatur atau
diubah(Hidayat, 2001).

Secara umum peralatan pengendali hama dapat digolongkan berdasarkan :


Bahan kimia yang digunakan
• Untuk menyebarkan bahan kimia yang berupa cairan :
- sprayer yang disebarkan berupa sprayer
- Mist sprayer yang disebarkan berupa mist
- Fog machine yang disebarkan berupa fog
• Untuk menyebarkan bahan kimia berupa bubuk (dust) dinamakan duster
• Untuk menghembuskan gas dinamakan fumigaster
Berdasarkan sumber daya penggeraknya.
• yang digerakan daya manusia, misalkan hand sprayer, hand duster
• yang digerakan daya hewan, misalkan animal sprayer, animal duster
• yang digerakan motor (engine), misalkan power sprayer, power duster.

2.3.1. Hand sprayer


Pestisida yang dipakai dalam budidaya tanaman umumnya berbentuk cairan dan ada
pula yang berbentuk tepung, digunakan untuk mengendalikan gulma, hama dan penyakit
tanaman. Untuk mengaplikasikannya pestisida cair digunakan alat penyemprot yang
disebut sprayer, sedangkan untuk pestisida berbentuk tepung digunakan alat yang disebut
duster (Nawawi, 2001).
Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau
suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray. Sprayer merupakan alat aplikator
pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama &
penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi
yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan
penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan(Hidayat, 2001).
Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak
digunakan petani di lapangan adalah jenis hand sprayer (tipe pompa), namun hasilnya
kurang efektif, tidak efisien dan mudah rusak. Hasil studi yang dilakukan oleh
Departemen Pertanian pada tahun 1977 di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan
bahwa sprayer tipe gendong sering mengalami kerusakan. Komponen-komponen sprayer
yang sering mengalami kerusakan tersebut antara lain : tabung pompa bocor, batang torak
mudah patah, katup bocor, paking karet sering sobek, ulir aus, selang penyalur pecah,
nozzle dan kran sprayer mudah rusak, tali gendong putus, sambungan las korosi, dsb.
(Dirjen Tanaman Pangan, 1977). Di samping masalah pada perangkat alatnya, masalah
lain adalah kebanyakan pestisida yang diaplikasikan tidak sesuai (melebihi) dari dosis
yang direkomendasikan dan ini salah satunya disebabkan oleh disain sprayer yang kurang
menunjang aplikasi (Mimin, et.al., 1992).
Adapun jenis-jenis sprayer yang digunakan di lapangan yaitu :
- Home hold sprayer (untuk kebutuhan rumah tangga)
- Knapsack-sprayer dengan pompa udara tekan
- Knapsack-sprayer bertekanan konstan dengan pompa plunyer
- Bucket sprayer (sprayer ember)
- Barrel sprayer (sprayer tong)
- Wheel barrow sprayer (sprayer beroda)
2.3.2. Power sprayer
- Hidraulik sprayer (sprayer hidrolis) tekanan dikerjakan langsung oleh pompa
terdahadap cairan
- Hydro-pneumatic sprayer tekanan menggunakan kompresor (tidak langsung)
- Mist sprayer/blower sprayer/consentrated sprayer pembentukan sprayer karena
tiupan udara berkecepatan tinggi lewat permukaannya
- Terosol generators-fog machine (mesin penyabut).
2.3.3. Blower sprayer/Mist blower
Blower sprayer mempunyai perbedaan pokok dengan sprayer antara lain:
- Konsentrasi obat yang dipergunakan
Pada blower sprayer konsentrasi obat yang digunakan dalam keadaan pekat atau
setengah pekat. Air pelarutnya dapat dikurangi antara 20 – 80 % dari air pelarut yang
digunakan pada sprayer.
- Diameter butiran cairan yang dihasilkan
Umumnya butiran cairan obat yang dihasilkan blower sprayer lebih halus bila
dibandingkan butiran cairan yang dihasilkan sprayer, terutama sprayer bertekanan tinggi.
- Sistem yang menyebarkan cairan obat (butiran cairan)
Sistem yang digunakan pada blower sprayer didasarkan atas hembusan aliran
udara berkecepatan tinggi, dan bukan semata-semata atas adanya tekanan hidrolis seperti
halnya sprayer. Karena itu eefektifannya sangat tergantung kemampuan aliran udaranya
untuk mendesak (memindahkan) udara disekelilingnya mahkota daun.
Persamaannya blower sprayer dan sprayer terletak pada bentuk bahan yang
digunakan dalam penyemprotan yang berujud bahan yang digunakan dalam
penyemprotan yang berujud cairan, sehingga blower sprayer sering juga digolongkan
sprayer. Penggunaan blower sprayer terutama pada tanaman keras mulai meningkat dan
mendesak penggunaan sprayer bertekanan tinggi maupun duster(Hidayat, 2001).

2.3.4. Nozzle
Nozzle adalah bagian sprayer yang berfungsi untuk memecahkan cara menjadi
sprayer. Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :

1. Hallow cone nozzle


Cara yang menarik ke dalam nozzle mengalami pemusingan hingga penyebaran
butiran cairannya akan berbentuk cincin. Besar kecilnya ukuran sprayer kecuali
ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga
ditentukan oleh jarak pemusingan cairannya.

Gambar 1. Hallow cone nozzle

Makin panjang lintasan pemusingan yang ditempuh, makin besar ukuran spray,
tetapi makin kecil diameter penyebaran butiran sprayernya. Keuntungan penggunaan
nozzle ini karena dapat diperoleh penyebaran ukuran butiran spray yang
seragam(Hidayat, 2001).
2. Solid-cone nozzle
Nozzle ini merupakan hasil modifikasi dari hallo cone nozzle. Prinsip
pembentukan spray hampir sama dengan hollo cone nozzle tetapi pada solid cone nozzle
diberikan tambahan internal axiat jet yang tepat ukurannya yang akan memukul cairan di
dalam nozzle yang sedang berputar.
Dengan pemukulan tersebut cairannya akan menjadi makin turbulance dan aliran
cairannya menjadi hancur, meninggalkan nozzle dalam bentuk butiran spray, dengan
penyebarannya akan berbentuk lingkaran penuh.

Gambar 2. Solid Cone Nozzles


3. Fan type nozzle
Type ini dibuat dengan jalan membuat potongan halus atau saluran yang
menyilang permukaan luar dari arifice plate (plat tarikan).
Bentuk tersebut menyebabkan cairan yang meninggalkan nozzle akan berupa
lembaran tipis seperti kipas, yang kemudian akan pecah menjadi butiran-butiran spray,
dengan penyebarannya akan berbentuk elips penuh.

Gambar 3. Spray dengan penyebaran berbentuk elips penuh.

Kelemahan nozzle ini mempunyai ukuran butiran cairan yang tidak merata.
Terutama pada bagian ujung tepi penyemprotan, terdapat pengumpulan ukuran butiran
yang besar-besar. Nozzle tipe ini kebanyakan dipakai pada sprayer bertekanan rendah
(20-100 psi) untuk pengendalian herba.
Menurut Hidayat (2001), dalam melakukan penyemprotan, yang harus
diperhatikan saat aplikasi pestisida di lapangan adalah :
1. Udara pada waktu penyemprotan harus memungkinkan antara lain keadaan tenah
(tidak berangin) dan udara masih dingin misalnya pada waktu pagi hari atau sore
hari.
2. Penggunaan obat dan cara mencampurnya harus sesuai dengan petunjuk yang
telah ditentukan.
3. Hindarkan kontak langsung dengan obat-obatan agar tidak terjadi keracunan.
4. Agar jangan sampai terjadi pencucian/pengeceran bahan kimia, janganlah
melakukan penyemprotan pada waktu banyak embun atau sebelum dan selama
hujan turun.
5. Selama penyemprotan berlangsung amatilah agar ukuran butiran cairan yang
keluar, pola sebaran dan hasilnya tetap, butiran cairan waktu mengenai bagian-
bagian tanaman tidak terpelanting. Dalam keadaan udara berangin, jalannya
orang mengikuti arah angin.
6. Sedapat mungkin hindari pengenaan obat-obatan secara langsung pada bunganya.

Berdasarkan ukuran nozzles, alat aplikasi pestisida dapat dibedakan menjadi 3 bagian :
1. High Volume
Gambar 4. Alat Aplikasi Pestida High Volume

2. Low volume (gambar 5)

3. Ultra low Volume (gambar 6)


2.4. PESTISIDA NABATI/BOTANI
Pestisida nabati merupakan produk alam dari tumbuhan seperti daun, bunga,
buah, biji, kulit, dan batang yang mempunyai kelompok metabolit sekunder atau
senyawa bioaktif (Anonim, 1994). Beberapa tanaman telah diketahui mengandung bahan-
bahan kimia yang dapat membunuh, menarik, atau menolak serangga. Beberapa
tumbuhan menghasilkan racun, ada juga yang mengandung senyawa-senyawa kompleks
yang dapat mengganggu siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan, atau
mengubah perilaku serangga (Supriyatin dan Marwoto, 2000).
Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi
organisme pengganggu tidak berpengaruh terhadap fotisintesa, pertumbuhan atau aspek
fisiologis tanama lainnya, namun berpengaruh terhadap sistem saraf otog, keseimbangan
hormon, reproduksi, perilaku berupa penolak, penarik, “anti makan” dan sistem
pernafasan OPT(Hidayat, 2001).
Secara evolusi tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia yang merupakan
bahan metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan alami
bioaktif. Lebih dari 2 400 jenis tumbuhan yang termasuk kedalam 235 famili dilaporkan
mengandung bahan pestisida, oleh karena itu apabila tumbuhan tersebut dapat diolah
menjadi bahan pestisida, maka masyarakat petani tersebut akan sangat terbantu dengan
memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitarnya. Ada 4 kelompok insektisida nabati
yang telah lama dikenal yaitu:
• Golongan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerja sebagai insektisida kontak,
fumigan atau racun perut, terbatasnya pada serangga yang kecil dan bertubuh
lunak.
• Piretrin, berasal dari Chrysanthemum cinerarifolium , bekerja menyerang urat
syaraf pusat, dicampur dengan minyak wijen, talk atau tanah lempung digunakan
untuk lalat, minyak, kecoa, hama gudang dan hama penyerang duan.
• Rotenone dan rotenoid, berasal dari tanaman Derris sp dan bengkuang
(Pachyrrzus eroses) aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk berbagai
serangga hama, tapi bekerja sangat lambat.
• Azadirachta indica, bekerja sebagai “antifeedant” dan selektif untuk serangga
pengisap sejenis wereng dan penggulung daun, baru terurai setelah satu
minggu(Info Tek, 2008).

Senyawa bioaktif ini dapat dimanfaatkan seperti layaknya sintetik, perbedaannya


bahan aktif pestisida nabati disintesa oleh tumbuhan dan jenisnya dapat lebih dari satu
macam (campuran). Bagian tumbuhan seperti daun, bunga, buah, biji, kulit, batang dan
sebagainya dapat digunakan dalam bentuk utuh, bubuk ataupun ekstrak (air atau senyawa
pelarut organik). Bila senyawa (ekstrak) ini akan digunakan di alam, maka tidak boleh
mengganggu kehidupan hewan lain yang bukan sasarannya (Hdayat, 2001).

2.4.1. Senyawa bioaktif asal tumbuhan.

Secara kimiawi senyawa -senyawa bioaktif pada umumnya dapat diklasifikasikan


sebagai (A) hidrokarbon, (B) asam-asam organik dan aldehid, (C) asam-asam aromatik,
(D) lakton-lakton tidak jenuh sederhana, (E) kemarin, (F) kwinon, (G) Flavonoid, (H)
Tanin, (I) Alkaloid, (J) Terpenoid dan steroid dan (K) Macam-macam senyawa lain dan
senyawa-senyawa yang tidak dikenal.

Senyawa-senyawa kimia baru secara terus-menerus diisolasi dari tumbuhan dan


mikroorganisme dari hari ke hari. Swain (Putnam, 1985) akhir -akhir ini melaporkan
bahwa lebih dari 10.000 produk berbobot molekul rendah dan sudah diisolasi dari
tumbuhan tinggi dan jamur-jamuran. Ditambahkannya bahwa kemungkinan jumlah total
mendekati 400.000 senyawa kimia. Beberapa dari senyawa-senyawa kimia ini atau
analoginya dapat menjadi sumber baru senyawa kimia pertanian (agrochemicals) yang
penting untuk masa yang akan datang (Putnam, 1985).

2.4.2. Tanaman yang dapat dijadikan pestisida nabati


Adapun tanaman yang dapat dijadikan sebagai insektisida nabati yaitu :

1. Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida


kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya
Aphids.
2. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang
dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat
yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah,
nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
3. Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk
insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.
4. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang
bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap
seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun
(Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan
virus RSV, GSV dan Tungro.
5. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
6. Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama
asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan,
serta hama gudang Callosobrocus(Issotyo, 2007).
Tabel 2. Nama tanaman yang dapat dijadikan sebagai insektisida nabati :
Sumber : Hidayat, 2001.

Cara kerja pestisida botani


Senyawa yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang berfungsi sebagai pestisida botani
dikenal sebagai bioaktif dapat berpengaruh sebagai :
• penghambat nafsu makan
• repllant (penolak)
• attractan (penarik)
• menghambat perkembangan
• menurunkan kepiridian
• pengaruh langsung sebagai racun
• mencegah peletakkan telur (Hidayat, 2001).
Pestisida nabati bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak
mencemari lingkungan. Jenis pestisida ini juga relatif aman dan ternak peliharaan karena
residunya mudah hilang.

2.5. PESTISIDA MIKROBA


Bacillus thuringiensis merupakan salah satu anggota B. cereus grup bersama
dengan B. anthraxis. B. thuringiensis mempunyai ciri khusus yaitu kemampuannya
untuk menghasilkan protein kristal protoksin intraseluler dari kelompok δ-endotoksin
sehingga dapat dibedakan dengan B. cereus (Bravo, 1997). Endospora berbentuk oval
hingga silindris, terletak parasentral atau terminal. Bakteri tersebut dapat nonmotil atau
motil dengan adanya flagela tipe peritrik (Heimpel, 1967; Buchanan dan Gibbons,
1974). Protein kristal sering disebut sebagai protein parasporal, berjumlah satu hingga
lebih dan tersusun secara paralel atau seri terhadap spora. Struktur protein kristal tersebut
terletak di luar eksosporium dan terpisah dari endospora bakteri (Krieg dan Holt, 1984).
Toksisitas δ-endotoksin pada B. thuringiensis mempunyai kesamaan dengan pestisida
golongan organofosfat. Beberapa isolat Bt dari beberapa daerah di Indonesia telah
dikoleksi dan diuji keefektifannya terhadap serangga tanaman (Brotonegoro et al., 1997).

2.6. PESTISIDA RACUN PERUT(LAMBUNG)


Racun Lambung (racun perut)Racun lambung atau perut adalah insektisida yang
membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang
mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh
dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan sesuai
dengan jenis bahan aktif insektisida. Misalkan menuju ke pusat syaraf serangga, menuju
ke organ-organ respirasi, meracuni sel-sel lambung dan sebagainya. Oleh karena itu,
serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung
residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh(www.scribd.com:27 Desember 2008).
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe
alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula
digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat.
Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun
tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam
jumlah besar.
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut
termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-
bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus
tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada
suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu
lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau
bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh
tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian
tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan
tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe
mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal
maka serangga akan mati( www.fp.uns.ac.id/: 27 desember 2008).

2.7. PESTISIDA RACUN KONTAK


Racun kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga melalui
kulit, celah/lubang alami pada tubuh (trachea) atau langsung mengenai mulut si serangga.
Serangga akan mati apabila bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut.
Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut(www.scribd.com:27
Desember 2008).
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya
khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara
segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal
rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan
langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-
tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan
sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada
serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
• Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin,
rotenon, pirethrum.
• Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan,Toxaphene, Phosphat
organik.
• Minyak dan sabun.
• Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.

2.8. FUNGISIDA
Fungisida, yaitu pestisida yang dipakai untuk memberantas dan mencegah
pertumbuhan jamur atau cendawan. Bercak yang ada pada daun, karat daun, busuk
daun, dan cacar daun disebabkan oleh serangan jamur. Beberapa contoh fungisida adalah
tembaga oksiklorida, tembaga(I) oksida, karbendazim, organomerkuri, dan natrium
dikromat.
Balai Penelitian Tanaman Hias telah menghasilkan beberapa jenis pestisida hayati
tersebut, di antaranya :
1. BIO-PF
Bahan aktif : Pseudomonas fluorescens
Bio-Pf adalah fungisida hayati untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan
cendawan, rebah kecambah dan bercak daun yang disebabkan oleh Fusarium sp.,
Phytium sp,. Verticilium albo-atrum, Alternaria spp. dan Rhizoctonia solani.
Bio-Pf dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman sayuran (cabe, tomat,
kentang, terong, paprika, kubis, kubis bunga, brokoli, petsay, pakcoy, caisim, sawi hijau,
selada, bawang merah, bawang putih, bawang daun, asparagus, dll.), palawija, tanaman
hias, pembibitan tanmaan buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman kehutanan, dan
berbagai jenis tanaman obat.
2. BIO-GL
Bahan aktif : Gliocladium spp.
Bio-Gl adalah fungisida hayati mengendalikan penyakit tular tanah yang
disebabkan oleh Phomosis sclerotiodes, Phtium spp., Rhizoctonia solani, Sclerotinia
sclerotiorum. Bio-Gl dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman hias, sayuran, buah,
dan pembibitan.
Bio-Gl merupakan fungisida hayati yang tidak berbahaya bagi manusia, ternak, dan
lingkungan. Bio-Gl tidak meninggalkan sisa-sisa racun seperti kimia, karena terdiri dari
mikroba hidup yang bersifat antimikrobial, yaitu memakan cendawan dan bakteri lain
yang merupakan sumber penyakit pada berbagai jenis tanaman(Nuryani, et al. 2006).

2.9. RACUN PERNAPASAN


Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea serangga dalam
bentuk partikel mikro yang melayang di udara. Serangga akan mati bila menghirup
partikel mikro insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan
berupa gas, asap, maupun uap dari insektisida cair.Sifat-sifat atau cara kerja insektisida
tersebut mempunyai spesifikasi terhadap cara aplikasinya :
1. Untuk mengendalikan hama yang berada didalam jaringan tanaman (misalnya
hama penggerek batang, penggorok daun) penanganannya dilakukan dengan
insektisida sistemik atau sistemik local, sehingga residu insektisida akan
ditranslokasikan ke jaringan di dalam tanaman. Akibatnya hama yang memakan
jaringan didalam tanaman akan mati keracunan. Hama yang berada didalam
tanaman tidak sesuai bila dikendalikan dengan aplikasi penyemprotan insektisida
kontak, karena hama didalam jaringan tanaman tidak akan bersentuhan (kontak)
langsung dengan insektisida.
2. Untuk mengendalikan hama-hama yang mobilitasnya tinggi (belalang, kutu gajah
dll), penggunaan insektisida kontak murni akan kurang efektif, karena saat
penyemprotan berlangsung, banyak hama tersebut yang terbang atau tidak berada
di tempat penyemprotan. Namun, selang beberapa hari setelah penyemprotan,
hama tersebut dapat kembali lagi. Pengendalian paling tepat yaitu dengan
menggunakan insektisida yang memiliki sifat kontak maupun sistemik dengan
efek residual yang agak lama. Dengan demikian apabila hama tersebut kembali
untuk memakan daun, maka mereka akan mati keracunan(www.scribd.com:27
Desember 2008).
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam
tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ
pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap
maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun
pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam
tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim
tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida
( www.fp.uns.ac.id/: 27 desember 2008).

2.10.
III. BAHAN DAN METODA

3.1. PENDAHULUAN
3.1.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi (PTA) ini dilakukan di Laboratorium
Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas Andalas,
Padang.
Waktu pelaksanaan dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan, yang dimulai pada bulan 23
Oktober 2008 sampai 18 Desember 2008. Praktikum PTA ini dilakukan sesuai dengan
jadwal,yaitu setiap hari Kamis jam 15.30 WIB.
3.1.2. Alat
Secara umum, alat yang digunakan dalam praktikum Pestisida dan teknik Aplikasi
yaitu :
• Insektisida sintetis lengkap dengan label sebanyak 15 buah dengan merek
dagang yang berbeda (Pengenalan pestisida)
• Cawan petri lengkap dengan tutupnya, pipet mikron, kertas tissue, gelas ukur
100 mL, timbangan analitik, laminar/en case, penggaris, spidol, alat tulis
(Praktikum Uji Hayati dan Toksisitas Fungisida).

3.2. BAHAN DAN CARA KERJA PENGENALAN PESTISIDA

3.2.1. Waktu dan Tempat


Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Pestisida ini dilakukan di Laboratorium
Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas Andalas,
Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 23 Oktober 2008, dimulai
pada jam 15.30 WIB s/d selesai.

3.2.2. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pena, buku tulis. Sedangkan
bahan (objek) yang digunakan adalah pestisida lengkap dengan label dan merek dagang
yang berbeda. Bahan disediakan oleh asisten sebanyak 15 buah.
3.2.3. Cara kerja
Pada praktikum Pengenalan Pestisida ini, praktikan diarahkan untuk
mengindentifikasi pestisida yang disediakan dan mencatat label yang tertulis pada
kotak/kaleng pestisida. Adapun yang diidentifikasi dan dicatat adalah :
- Merek dagang - Kadar/konsentrasi bahan aktif
- Formulasi - Dosis
- Bahan aktif - Sasaran

3.3. BAHAN DAN CARA PENGENALAN ALAT TEKNIK APLIKASI PESTISIDA


3.3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pena, buku tulis. Sedangkan
bahan (objek) yang digunakan adalah alat pestisida yang dimiliki oleh Jutusan Hama
Penyakit Tumbuhan Fakultas Petanian Universitas Andalas.
3.3.3. Cara kerja
Dosen pengasuh praktikum ini memperagakan penggunaan alat aplikasi pestisida,
kemudian menggambarkan alat-alat lain yang sering digunakan oleh petani di lapangan.
Selain itu, dosen pengasuh juga memberikan instruksi-instruksi mengenai penerapan
pestisida di lapangan seperti, keamanan kerja, hal-hal yang harus diperhatikan ketika
menggunakan alat pestisida, penanganan awal apabila keracunan pestisida.

3.4. BAHAN DAN CARA KERJA UJI HAYATI INSEKTISIDA RACUN PERUT
3.4.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.4.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : gelas plastik 2 buah, cawan
petri plastik lengkap dengan tutupnya, pipet mikron, pinset, pipet tetes.
Bahan yang digunakan adalah insektisida racun perut dengan merek dagang DECIS,
aquades, pelet, serangga hama gudang, tissue.
3.4.3. Cara kerja

3.5. BAHAN DAN CARA KERJA UJI HAYATI INSEKTISIDA RACUN KONTAK
3.5.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.5.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : gelas plastik 2 buah, cawan
petri plastik lengkap dengan tutupnya, pipet mikron, pinset, pipet tetes.
Bahan yang digunakan adalah insektisida racun perut dengan merek dagang DECIS,
aquades, pelet, serangga hama gudang, tissue.

3.5.3. Cara kerja


3.6. BAHAN DAN CARA KERJA UJI HAYATI INSEKTISIDA MIKROBA
3.6.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.6.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : gelas plastik 2 buah, cawan
petri plastik lengkap dengan tutupnya, pipet mikron, pinset, pipet tetes, gunting/pisau
cutter.
Bahan yang digunakan adalah insektisida dengan merek dagang THURICIDE,
aquades, daun lobak , larva Croci sp. tissue,.
3.6.3. Cara kerja

3.7. BAHAN DAN CARA KERJA UJI HAYATI INSEKTISIDA BOTANI


3.7.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.7.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : gelas plastik 2 buah, cawan
petri plastik lengkap dengan tutupnya, pipet mikron, pinset, pipet tetes, pisau
cutter/gunting.
Bahan yang digunakan adalah insektisida yang berasal dari ekstrak daun sirih,
aquades, daun lobak , larva Croci sp. tissue,.
3.7.3. Cara kerja

3.8. BAHAN DAN CARA KERJA UJI HAYATI TOKSISITAS FUNGISIDA


3.8.1. Waktu dan Tempat
Praktikum PTA dengan topik Pengenalan Alat teknik Pestisida ini dilakukan di
Laboratorium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan lantai II Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 30 Oktober 2008,
dimulai pada jam 15.30 WIB s/d selesai.
3.8.2. Alat dan Bahan

3.8.3. Cara kerja