Anda di halaman 1dari 17

JAMUR (FUNGI) ASCOMYCOTA REPRODUKSI ASEKSUAL

Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Mikrobiologi dan Bioteknologi Pertanian I

DISUSUN OLEH: Kelompok 6

Wulan Feitriani Astrid Natasha S. Fardhani D.A. Putri Fitri Fajriyanti

150110080191 150110080192 150110080194 150110080195

JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJAJARAN JATINANGOR 1

2009

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

.................................................................................. ii ..................................................................... iii

KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

....................................................................... 1

.................................................................................. 1

.............................................................................................. 2 ...................................................................... 3 ....................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Karakteristik Umum

2.2 Reproduksi................................................................................... 5 2.3 Contoh siklus hidup Ascomycota 2.4 Peranan jamur Ascomycota BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA ............................................... 7 ........................................................... 10

...................................................................... 12 ...................................................................... 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, pemilik alam semesta yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulisan makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi dan Bioteknologi Pertanian I. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam menyusun makalah ini. 2. Orang tua kami yang tercinta yang telah memberikan kami dukungan moral, materil dan finansial. 3. Rekan-rekan kami di Fakultas Pertanian yang memberikan dorongan semangat kepada kami. Kami berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca pada khususnya dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, besar harapan kami agar para pembaca dan dosen pembimbing dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran. Demikan makalah ini kami selesaikan dengan sebaik-baiknya, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jatinangor, Oktober 2009


3

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Jamur ( fungi ) termasuk makhluk hidup eukariot yang tidak berklorofil. Ciri khas lainnya adalah dinding sel jamur tarsusun atas zat kitin. Kitin adalah zat pada kulit udang dan kepiting. Tubuhnya terdiri dari satu sel atau berbentuk benang yang disebut hifa. Jamur tidak berfotosintesis, sehingga jamur mengambil makanan dari lingkungannya ( heterotrof ). Jamur hidup secara saprofit atau parasit. Yang hidup secara saprofit banyak dijumpai di atas tanah, kayu lapuk, atau bingkai binatang. Contoh jamur saprofit adalah jamur kayu, jamur kuping, jamur merang, dan jamur karat. Jamur yang hidup parasit misalnya jamur panu yang hidup parasit pada kulit manusia. Tubuh jamur yang terdiri dari satu sel misalnya jamur ragi ( khamir ), contohnya Saccharomyces. Jamur tempe ( Rhizopus ) atau jamur oncom ( Neurospora ) mempunyai hifa. Hifa jamur tempe atau oncom tampak seperi serabut kapas. Hifa tumbuh bercabang cabang membentuk anyaman yang disebut miselium. Tubuh jamur terdiri dari kumpulan miselium. Bentuk tubuh jamur bermacam macam. Jamur yang berbentuk seperti payung misalnya jamur merang, sedangkan jamur yang berbentuk lembaran misalnya jamur kuping. Cara perkembangbiakan jamur dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu secara aseksual ( vegetatif ) dan secara seksual ( generatif ).

1. Perkembangbiakan aseksual adalah perkembangbiakan tanpa adanya pertemuan sel kelamin jantan dan betina. Caranya dengan membentuk spora, bertunas, atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah saccharomyces. Hifa jamur dapat terputus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi hifa baru. 2. Perkembangbiakan seksual terjadi dengan meleburnya dua hifa dari jamur berbeda untuk membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi tubuh buah. Jamur dapat diklasifikasikan berdasarkan hifa dan alat reproduksinya. Salah satunya divisi dari jamur adalah ascomycota. Ascomycota dapat bereproduksi seksual dan aseksual. Pada reproduksi aseksual, dulunya lebih dikenal dengan deuteromycota.

1.2.Tujuan Divisi ascomycota pada reproduksi aseksual dulunya dikenal dengan Deuteromycota. hampir semua jamur ascomycota yang tidak diketahui reproduksi seksualnya dimasukkan kedalam divisi deuteromycota. Dengan adanya pembahasan mengenai jamur, khususnya jamur divisi ascomycota pada reproduksi aseksual, diharapkan pengetahuan mengenai divisi ascomycota ini dapat bertambah.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Umum Ascomycota disebut juga jamur kantong. Jamur ini dapat berkembang biak secara aseksual dan seksual. Ascomycota menghasilkan spora sebagai hasil dari perkembangbiakkan seksual. Spora terdapat di dalam askus yang menyerupai kantong. Di dalam kantong terdapat 8 spora. Ascomycota dapat ditemukan pada makanan yang busuk. Warnanya dapat merah, cokelat, atau hijau. Ascomycota dapat mengakibatkan penyakit tanaman, misalnya pada kacang, stroberi, dan apel. Pada manusia dan hewan lainnya, ascomycota dapat mengakibatkan penyakit kaki atlet dan infeksi mulut. Ada pula ascomycota yang digunakan untuk industri kecap dan tahu. Ciri-ciri dari ascomycota yaitu :

Heterotrof saprofit Bersifat saprofit, parasit, atau bersimbiosis Ada yang uniseluler (mis : Saccharomyces) dan multiseluler. Tubuh disusun oleh hifa dan miselium, dan ada yang memiliki tubuh buah. Hifa bersekat dan senositik. Spora dihasilkan oleh konidiospora bila secara aseksual dan sel askus bila spora dihasilkan secara seksual.
6

Reproduksi menghasilkan spora dilakukan melalui 2 cara : 1. Aseksual : dilakukan saat kondisi lingkungan mendukung. 2. Seksual : dilakukan bila kondisi lingkungan kurang mendukung

Habitat Ascomycota umumnya hidup saprofit pada tanah dan sisa organisme. Sebagian ascomycota lainnya merupakan parasit pada tumbuhan dan hewan. Jamur ascomycota ada yang hidup di laut dan merupakan salah satu saproba utama.

Cara Hidup Jamur ini bersifat saprofit dibanyak jenis materi organic, sebagai parasit pada tanaman tingkat tinggi, dan perusak tanaman budidaya dan tanaman hias. Jamur ini juga menyebabkan penyakit pada manusia, yaitu dermatokinosis (kurap dan panu) dan menimbulkan pelapukan pada kayu. Contoh klasik jamur ini adalah Monilia sitophila, yaitu jamur oncom. Jamur ini umumnya digunakan untuk pembuatan oncom dari bungkil kacang. Jamur ini juga dapat tumbuh dari roti, sisasisa makanan, tongkol jagung, pada tonggak tonggak atau rumput sisa terbakar, konodiumnya sangat banyak dan berwarna jingga. Fase pembiakan secara vegetative pada Monilia sp. Ditemukan oleh dodge (1927) dari amerika serikat, sedangakan fase generatifnya ditemukan oleh dwidjoseputro (1961), setelah diketahui fase generatifnya, kenudian jamur ini dimasukkan golongan ascomycocetes dan diganti namanya menjadi Neurospora sitophilla atau Neurospora crassa. Reproduksi generative Monilia sp dengan menghasilkan askospora. Askus askus yang tumbuh pada tubuh buah dinamakan peritesium, tiap askus mengandung delapan spora. Contoh lain jamur yang tidak diketahui alat reproduksi seksualnya
7

antara lain : Chalado sporium, Curvularia, Gleosporium, dan Diploria. Untuk memberantas jamur ini digunakan fungisida , misalnya lokanol dithane M-45 dan copper Sandoz.

2.2. Reproduksi Pada ascomycota uniseluler

Reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk kuncup atau tunas Pembentukan ini merupakan pembentukan pertumbuhan keluar (outgrowth) yang kecil (tunas) dari suatu sel induk. Pada waktu dibentuk tunas, intinya membelah menjadi dua inti anakan, yang satu perpindah ke tunas. Tunas akan bertambah besar selama masih melekat pada sel induk, tetapi kemudian terlepas dan membentuk individu baru. Spora yang dibentuk dengan cara bertunas disebut blastospora.

Reproduksi seksual terjadi dengan penyatuan dua sel haploid berbeda jenis yang berfungsi sebagai gamet Pada ascomycota multiseluler

Reproduksi aseksual dilakukan dengan fragmentasi miselium dan pembentukan konidia (spora konidia) Fragmentasi adalah cara normal untuk perbanyakan jenis semua jamur yang membentuk miselium. Fragmentasi dapat terjadi secara kebetulan karena kekuatan luar. Sepotong kecil miselium dalam kedaan lingkungan yang cocok dapat tumbuh menjadi individu baru. Hifa dapat terputus menjadi selsel komponennya disebut Oidia atau artrospora yang berfungsi sebagai spora. Jika sel hifa membentuk dinding sel yang tebal dan protoplasnya berubah menjadi cadangan dan seluruh sel berfungsi sebagai spora istirahat, maka spora demikian disebut klamidospora.

Sedangkan pembentukan spora merupakan cara perkembangbiakan aseksual yang paling umum pada jamur. Pada jamur tingkat tinggi, seperti pada ascomycota, sporangium hanya berisi satu spora dimana dinding antara keduanya melekat sehingga sporangium itu sendiri berfungsi sebagai satu spora. Sporangium yang demikian dinamakan konidia, Cabang hifa yang langsung mendukung konidia disebut konidifor. Konidiofor dapat dibentuk tersebar bebas satu sama lain, tetapi dapat pula dibentuk sangat rapat dan teratur pada atau di dalam badan tertentu yang disebut badan buah. Macammacam badan buah atau tempat terbentuknya konidiofor dan konidia antara lain :
-

sinemata (sinema, kalau banyak): yaitu kumpulan konidiofor yang terjalin kuat pada bagian dasarnya sehingga berbentuk seperti menara. Konidia dapat terbentuk sepanjang sinema atau pada ujungnya saja

sporodokium (sporodokia jika banyak) : yaitu

stroma (kumpulan hifa

tempat terbentuknya organ reproduksi) yang menonjol sehingga seperti bantalan, di mana diatasnya terbentuk konidiofor-konidiofor yang rapat serta konidia
-

aservulus (aservuli) yaitu badan buah tempat terbentuknya konidiofor yang berbentuk seperti cawan piknidium (piknidia) : yaitu badan buah tempat terbentuknya konidiofor yang berbentuk seperti botol atau bulat dengan lubang tempat pengeluaran konidia (ostiol) pada ujungnya

Aservulus

sinemata

piknidium

sporodokium Reproduksi seksual dilakukan dengan perkawinan antara hifa

haploid berbeda jenis yang kemudian membentuk askus

2.3. Contoh siklus hidup Ascomycota Contohnya : Neurospora

10

2.4. Peranan jamur Ascomycota

Yang menguntungkan manusia Nama Jamur Peran Gambar

No

Saccharomyces Cereviceae

Untuk pembuatan roti dan pembuatan alcohol

Aspergillus flavus

yang hidup pada Kacang dan media lain yang sejenis, dapat membahayakan lever dan mengandung karsinogenik

Merupakan truffle 3 Tuber magnatum putih yang digunakan dalam kuliner.

11

Neurospora Crassa

Untuk pembuatan oncom

Morchella Esculenta

Tubuh buahnya dapat dimakan

Sarcoscypha Coccinea

Tubuh buahnya dapat dimakan

12

Yang merugikan manusia

No Nama Jamur

Peran

Gambar

Venturia Inaequalis

Penyebab penyakit buah apel

Penyebab 2 Claviceps Purpurea penyakit ergot pada tanaman gandum

3. Alternaria porii

penyebab busuk pada tanaman budidaya, tomat dan kentang.

4. Fusarium sp.

menyerang tanaman kubis, tomat, padi, pisang dll.

13

5. Epidermoph yton floccosum

penyakit kaki atlit pada manusia.

BAB III KESIMPULAN

14

Ascomycota disebut juga jamur kantong. Jamur ini dapat berkembang biak secara aseksual dan seksual. Ciri-ciri dari ascomycota yaitu : heterotrof saprofit, bersifat saprofit, parasit, atau bersimbiosis, ada yang uniseluler (mis : Saccharomyces) dan multiseluler, tubuh disusun oleh hifa dan miselium, dan ada yang memiliki tubuh buah, hifa bersekat dan senositik, spora dihasilkan oleh konidiospora bila secara aseksual dan sel askus bila spora dihasilkan secara seksual. Reproduksi menghasilkan spora dilakukan melalui 2 cara : 1. Aseksual : dilakukan saat kondisi lingkungan mendukung. 2. Seksual : dilakukan bila kondisi lingkungan kurang mendukung Pada ascomycota uniseluler reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk kuncup atau tunas. Pembentukan ini merupakan pembentukan pertumbuhan keluar (outgrowth) yang kecil (tunas) dari suatu sel induk. Pada waktu dibentuk tunas, intinya membelah menjadi dua inti anakan, yang satu perpindah ke tunas. Tunas akan bertambah besar selama masih melekat pada sel induk, tetapi kemudian terlepas dan membentuk individu baru. Spora yang dibentuk dengan cara bertunas disebut blastospora. Sedangkan pada ascomycota multiseluler, reproduksi aseksual dilakukan dengan fragmentasi miselium dan pembentukan konidia (spora konidia). Fragmentasi adalah cara normal untuk perbanyakan jenis semua jamur yang membentuk miselium. Fragmentasi dapat terjadi secara kebetulan karena kekuatan luar. Sepotong kecil miselium dalam kedaan lingkungan yang cocok dapat tumbuh menjadi individu baru. Hifa dapat terputus menjadi sel-sel komponennya disebut Oidia atau artrospora yang berfungsi sebagai spora. Jika sel hifa membentuk dinding sel yang tebal dan protoplasnya berubah menjadi cadangan dan seluruh sel berfungsi sebagai spora istirahat, maka spora demikian disebut klamidospora. Pembentukan spora merupakan cara perkembangbiakan aseksual yang paling umum pada jamur. Pada jamur tingkat tinggi, seperti pada ascomycota, sporangium hanya berisi satu spora dimana dinding antara keduanya melekat sehingga sporangium itu sendiri berfungsi sebagai satu spora. Sporangium yang demikian dinamakan konidia, Cabang hifa yang langsung mendukung konidia
15

disebut konidifor. Konidiofor dapat dibentuk tersebar bebas satu sama lain, tetapi dapat pula dibentuk sangat rapat dan teratur pada atau di dalam badan tertentu yang disebut badan buah. Macam-macam badan buah atau tempat terbentuknya konidiofor dan konidia antara lain : Sinemata, sporodokium, aservulus, piknidium.

DAFTAR PUSTAKA

Akko-ikka. 2009. Fungi. Available at http://akkoikka.blogspot.com/2009/02/fungi.html diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 19.40.

16

Anonim. 2009. Deuteromycota. available at http://educorollanovi.blogspot.com/2009/03/deuteromycota.html diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 19.43. Jar. 2009. Jamur. Available at http://vlial.wordpress.com/2009/09/10/jamur/ diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 20.10. Putra, Wahyu. 2009. Fungi (Jamur) - Biologi. Available at http://www.prsekolah.co.cc/2009/02/fungi-jamur-biologi.html diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 19.45. Sam, Ariyanto. 2009. Fungi/Jamur. Available at http://sobat baru.blogspot.com/ diakses pada 11 Oktober 2009 pukul 07.10.

17