Anda di halaman 1dari 4

KRITERIA DIAGNOSA PADA ANXIETAS DAN DEPRESI ABSTRAK

PASIEN

DENGAN

GANGGUAN

CAMPURAN

Ansietas dan depresi merupakan bentuk emosional yang terbanyak. Ansietas adalah suatu keadaan aprehensi atau khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Ansietas merupakan suatu fenomena kompleks yang menandakan adanya dinamika kehidupan dan bagian dari proses psikis yang memberikan isyarat fisik dan mental bahwa terdapat perubahan internal dan eksternal. Gangguan campuran anxietas dan depresi mencakup pasien yang memiliki gejala kecemasan dan depresi, tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan kecemasan maupun suatu gangguan mood. Manifestasi klinis Kombinasi beberapa gejala gangguan kecemasan dan beberapa gejala gangguan depresi. Key word : anxietas, depresi, diagnosa

KASUS Wanita usia 29 tahun kontrol di poli spesialis jiwa karena masih merasa sering khawatir. Pasien juga masih merasa gampang terharu, mencemaskan keluarga, usahanya dan kesehatannya. Pasien memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ayahnya, karena pasien bukan anak yang diharapkan oleh ayahnya. Sejak lahir pasien di asuh oleh kakak perempuan ibunya. Pasien bekerja sebagai pengusaha salon tetapi beberapa kali bermasalah dengan partner kerja. Pasien juga mengaku pernah menyukai pria lain selain suaminya, hubungan social dengan tetangganya juga kurang karena pasien merasa tidak diterima di kalangan masyarakat. Pasien sering mengeluh gelisah, susah tidur, mulai malas beraktifitas baik bekerja maupun mengurusi keluarganya, gampang menangis, selain itu pasien setiap hari juga merasa sesak dadanya seperti tertekan benda berat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak cemas, kesadaran compos mentis, tanda vital tensi 110/70 mmHg, nadi 72x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,4C. Status lokalis kepala, thorax, abdomen dan ekstremitas dalam batas normal. Pemeriksaan status mental didapatkan: deskripsi umum : penampilan tampak wanita sesuai umur kontak mata cukup perawatan diri baik status gizi baik, penilaian kesadaran orientasi waktu tempat,orang dan situasi baik, perilaku dan aktivitas psikomotor didaptkan selama wawancara

pasien tidak menghindari tatapan. Pasien menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan,pembicaraan cukup, menjawab spontan dengan volume suara yang cukup, sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Mood disforik, ekspresi afektif enyempit, roman muka sedikit mimic, perhatian mudah ditarik, mudah dicantum. Proses piker arus piker yaitu produktivitas cukup ide, kontinuitas spontan, relevan,isi pikir tidak ada waham. Tidak ada gangguan persepsi (tidak ada halusinasi, ilusi), insight: derajat 6

DIAGNOSIS
-

Aksis I Aksis II Aksis III

: Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi (F41.2) : Ciri kepribadian cemas (menghindar) : Belum dapat dinilai

Aksis IV : Pasien mempunyai masalah dengan ayahnya dan pernah juga dengan teman dekatnya. Pasien juga mempunyai kesulitan dalam hubungan dengan tetangganya. Aksis V : 70 61 : beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,

secara umum masih baik.

PENATALAKSANAAN Pasien dengan gangguan campuran anxietas depresi diberikan terapi secara komprehensif yaitu Psikofarma dan Psikoterapi. Psikofarma diberikan amitriptilin 25 mg 1x1/hari, lorazepam 0,5 mg 1x1 diberikan malam hari. Psikoterapi berupa : psikoventilasi yaitu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk mengemukakan isi hatinya (Sikap terapis menjadi pendengar yang baik dan penuh pengertian), sugesti yaitu menanamkan kepercayaan kepada pasien bahwa gejala-gejalanya akan berkurang, problem solving yaitu dianjurkan pada pasien untuk melakukan aktivitas fisik seperti gerak badan dan olahraga,terapi relaksasi, mendekatkan diri kepada Tuhan YME , terapi keluarga sebaiknya dilakukan pendekatan pada keluarga tentang kondisi dan hal-hal yang menjadi penyebab permasalahan yanng dihadapi pasien. Keluarga diharapkan memberikan dukungan serta meluangkan waktu untuk membantu menyelesaikan masalah.

DISKUSI

Dari pemeriksaan yang telah dilakukan didapatkan sindrom depresi maupun anxietas. Sindroma depresi yang ditemukan yaitu mood disforik, pola tidur terganggu (inisial insomnia), kehilangan kegembiraan, rasa percaya diri berkurang, nafsu makan berkurang ,kehilangan minat untuk beraktivitas,perasaan bersalah pesimistik. Sedangkan sindroma cemas yaitu kecemasan berlebih ketakutan akan kematian, ketegangan motorik (gelisah dan tidak dapat santai),overaktivitas otonomik (keluhan saluran pernafasan). Menurut PPDGJ disebutkan bahwa pasien didiagnosis gangguan anxietas depresi F(41.2) jika terpenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan. 2. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas fobik. 3. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakkan masingmasing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran anxietas tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan. 4. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stress kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian Gangguan ini mencakup pasien yang memiliki gejala kecemasan dan depresi, tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan kecemasan maupun suatu gangguan mood. Kombinasi gejala depresi dan kecemasan dapat menyebabkan gangguan fungsioanal yang bermakna pada orang yang terkena. KESIMPULAN Gangguan ansietas umumnya terjadi bersamaan dengan gangguan depresi dan banyak juga gangguan depresi terjadi bersamaan dengan gangguan ansietas, sehingga sampai saat ini hubungan antara gangguan ansietas dan gangguan depresi masih sering diperdebatkan. Untuk membuat diagnosis diperlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik lengkap, dan pemeriksaan laboratorium penunjang. KEPUSTAKAAN

1. 2.

American Psychiatric Association, Diagnostic Creteria, DSM -IV - TR, 2005 : 209 -223 Departemen Kesehatan R.l. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik 1993: 171 -195. Gangguan campuran anxietas dan depresi diakses dari http://www.

3.

metiychan.wordpress.com/ pada desember 2009.


4.

Sadock BJ, Sadock VA: Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry 10 th.ed. Lippincott Williams & Wilkins, 2007:579- 633.

PENULIS Fitria Rahmawati, bagian Ilmu Penyakit Dalam, RSU Tidar Magelang, Jawa Tengah, 2011