Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan organisasi, gaya kepemimpinan seorang pemimpin adalah hal yang penting diperhatikan. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi dituntut untuk bisa membuat individu-individu dalam organisasi yang dipimpinnya bisa berperilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi. Maka dari itu seorang pemimpin haruslah bisa memahami perilaku individu-individu di dalam organisasi yang dipimpinnya untuk bisa menemukan gaya kepemimpinan yang tepat bagi organisasinya. Perilaku individu berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini tergantung dari stimulus atau hal-hal yang bisa memotivasi individu tersebut untuk berprilaku dan juga bagaimana individu tersebut mengelola menindaklanjuti stimulus tersebut. Perbedaan inilah yang memunculkan adanya perilaku yang bersifat positif dan negative. Perilaku individu yang bersifat positif dan negative tersebut tentunya juga berhubungan dengan gaya kepemimpinan. Hal tersebut dapat dilihat pada teori perilaku yang dipaparkan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side of Enterprises (1983) yaitu teori X dan Y. Teori ini menyebutkan bahwa individu terbagi menjadi dua karakteristik yang berbeda. Teori X mengasumsikan individu bersifat negative dan teori Y mengasumsikan individu bersifat positif. Salah satu asumsi dari teori X adalah kebanyakan orang harus dikontrol secara ketat dan seringkali dipaksa untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan asumsi teori Y adalah kebanyakan orang bersifat self-directed dalam pekerjaannya jika motivasi diberikan dengan cara yang tepat. Gaya atau perilaku kepemimpinan terkait dengan karakteristik tersebut. Gaya kepemimpinan menurut Kenneth Blanchard (1988, p.1) adalah pola perilaku pada saat seseorang mencoba mempengaruhi orang lain dan mereka menerimanya. Pemimpin dapat dapat memimpin dengan gaya kepemimpinan yang disesuaikan dengan perilaku teori X dan Y yang dimiliki oleh pegawai/ karyawannya. Penyesuaian ini dibutuhkan agar pemimpin dapat memimpin dengan baik dan tepat sehingga tidak salah arahan ataupun sasaran.

1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan kesesuaian gaya kepemimpinan dengan perilaku individu dalam suatu organisasi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Proses Terbentuknya Perilaku Individu Perilaku merupakan basil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon Skinner, cit. Notoatmojo 1993). Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (wartawarga.gunadarma.ac.id). Individu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang seorang; pribadi orang (terpisah dari yang lain), organisme yg hidupnya berdiri sendiri, secara fisiologi ia bersifat bebas (tidak mempunyai hubungan organik dengan sesamanya). Perilaku individu dalam suatu organisasi adalah sikap dan tindakan (tingkah laku) seorang manusia (individu) dalam organisasi sebagai ungkapan dari kepribadian, persepsi dan sikap jiwanya, dimana bisa berpengaruh terhadap prestasi (kerja) dirinya dan organisasi (one.indoskripsi.com). Manusia atau juga disebut sebagai individu diciptakan berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang salah satunya dapat terlihat dari perilaku mereka. Dalam suatu organisasi, terkadang kondisi ini dapat menjadikan organisasi tersebut tidak bisa berjalan dengan efektif karena masing-masing manusia di dalamnya memiliki perilaku yang berbeda. Inilah yang menjadi tugas seorang pemimpin untuk bisa menyamakan perilaku individu-individu di dalam organisasi yang dipimpinnya agar bisa memiliki perilaku yang sama dan sangat mendukung pencapaian tujuan organisasi. Pada dasarnya tingkah laku adalah respon atau stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori S O - Ratau Stimulus Organisme Respon. Mekanisme pembentukan perilaku terbagi atas 2 aliran, yaitu: 3

1. Aliran Behaviorisme: S > R atau S > O > R S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini: W>S>O>R>W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : - Lingkungan objektif (umgebung= segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S) - Lingkungan efektif (umwelt= segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya). 2. Aliran Holistik atau Humanis Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik) Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Perilaku Oleh Skiner (1938)
STIMUL US ORGANISM E RESPONS

Stimulus (rangsangan) berupa lingkungan, manusia, benda dan hal lain yang bisa memotivasi organisme tersebut. Pada gambar di atas, stimulus yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima maka proses berhenti disini. Tetapi bila stimulus tersebut diterima oleh organisme berarti stimulus tersebut efektif dan dilanjutkan kepada proses berikutnya. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap). Akhirnya dengan adanya dukungan dan dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu berupa respon. Respon inilah yang disebut dengan perilaku individu. Skiner kemudian membedakan adanya dua jenis respon yaitu: 1. Respondent respon atau reflexsive, yaitu respon yang ditimbulkan oleh rangsangan rangsangan (stimulus) tertentu yang dapat menimbulkan respon respon yang relatif tetap. Misalnya makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, bagitu juga respon yang mencakup perilaku emosional. 2. Operant respon atau instrumental respon, yaitu respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu yang dapat memperkuat respon. Misalnya pemberian penghargaan terhadap pegawai yang berprestasi dapat menjadikan pegawai tersebut terpacu untuk lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya. Di atas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Ini dipengaruhi oleh dua variabel seperti yang dikemukakan oleh Gibson, Ivancevich dan Donnely:
1. Variabel (Karakteristik) Individu, terdiri dari beberapa faktor, yaitu:

Faktor Fisiologis yaitu kemampuan dan keterampilan phisik yang dimiliki manusia, seperti kemampuan fisik dan kemampuan mental.
Faktor Psikologis yaitu tanggapan psikologis individu yang bersangkutan,

seperti: persepsi, sikap, kepribadian, belajar, pengalaman, motivasi. Faktor Demografi, terdiri dari: umur, jenis kelamin, dan etnis. 2. Variabel Lingkungan, terdiri dari beberapa faktor yaitu:

Lingkungan kerja (di dalam organisasi kerja), terdiri dari: kebijakan dan aturan organisasi, kepemimpinan, struktur organisasi, desain pekerjaan, dan system kompensasi. Lingkungan non kerja (di luar organisasi kerja), terdiri dari: keluarga, masyarakat (sosial) dan budaya, dan pendidikan atau sekolah. Pembentukan perilaku adalah secara sistematis menegaskan setiap urutan langkah yang menggerakkan seorang individu lebih dekat terhadap respons yang diharapkan. Terdapat empat cara pembentukan perilaku: 1. Penguatan positif: jika suatu respon diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan, misalnya pujian. 2. Penguatan negatif: jika suatu respon diikuti oleh dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya berpura-pura bekerja lebih rajin saat pengawas berkeliling. 3. Hukuman: mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya : Penskorsan 4. Pemusnahan: menyingkirkan penguatan apa saja yang mempetahankan perilaku. Misalnya tidak mengabaikan masukan dari bawahan akan menghilangkan keinginan mereka untuk menyumbangkan pendapat. 2.2 Motivasi Individu Motivasi adalah kondisi psikologis yang menimbulkan, mengarahkan, dan mempertahankan tingkah laku tertentu (Pitrinch & Schunk, dalam Sukadji & SinggihSalim, 2001). Winkel (1996) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arahan pada kegiatan belajar itu demi mencapai tujuan. Motivasi merupakan syarat mutlak untuk belajar dan mempengaruhi arah aktivitas yang dipilih serta intensitas keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas. McClelland (dalam Sukadji dan Singgih-Salim, 2001) mengemukakan bahwa manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya dipengaruhi oleh motif. Ada 3 kelompok motif yang dikemukakan olehnya, yaitu : Motif untuk berhubungan dengan orang lain (Affiliation Motive), yaitu motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang untuk berhubungan dengan orang

lain. Yang menjadi tujuan adalah suasana akrab dan harmonis. Ciri-ciri orang dengan motif afiliasi tinggi adalah : senang berada di dalam suasana akrab, risau bila harus berpisah dengan sahabat, berusaha diterima kelompok, dalam bekerja atau belajar melihat dengan siapa ia bekerja atau belajar. Motif untuk berkuasa (Power Motive), yaitu motif yang menyebabkan sieseorang ingin menguasai atau mendominasi orang lain dalam berhubungan dengan orang lain dan cenderung bertingkah laku otoriter. Motif untuk berprestasi, yaitu motif yang mendorong seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu ukuran keunggulan, baik yang berasal dari standar prestasinya sendiri di waktu lalu atau prestasi orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana caranya ia dapat mencapai suatu prestasi tertentu. Motivasi individu dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang individu yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;

(7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; dan (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. 2.3 Bentuk Perilaku Individu Bentuk-bentuk perilaku individu tidak terlepas dari kepribadian yang dimilikinya. Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian ini terdiri dari tiga elemen, yaitu id, ego, dan superego. Ketiga kepribadian inilah yang bekerja sama untuk menciptakan bentuk-bentuk perilaku manusia yang kompleks. 1. Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan segera atau ketegangan. Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan. 2. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan ego pada akhirnya 8

akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
3. Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego.

superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatankekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu. Perilaku individu terdiri dari berbagai macam bentuk, tergantung dari aspek mana dilihatnya, seperti perilaku termotivasi, perilaku tidak termotivasi, perilaku reflek, perilaku otomatis, perilaku yang dipelajari, perilaku instingtif, dan sebagainya. Secara psikologi, bentuk-bentuk perilaku individu yaitu berupa: Perilaku sadar (yaitu perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan syaraf). Perilaku sadar ini hanya sekitar 40% yang dialami oleh manusia. Perilaku tidak sadar (perilaku yang sopan atau instingtif). Perilaku ini terjadi di ambang sadar atau alam tidak sadar. Perilaku tidak sadar ini biasanya untuk menyimpan semua harapan, keinginan, dan ketakutan manusia; Perilaku tampak dan tidak tampak; Perilaku sederhana dan kompleks; Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor. Perilaku pasif (respons internal) Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu dan tidak dapat diamati secara langsung. Perilaku ini sebatas sikap belum ada tindakan yang nyata.Contoh : berpikir, berfantasi, berangan-angan. Perilaku aktif (respons eksternal)

Selain itu terdapat pula bentuk-bentuk perilaku dilihat dari jenis responnya, yaitu:

Perilaku yang sifatnya terbuka. Perilaku aktif adalah perilaku yang dapat diamati langsung, berupa tindakan nyata. Contoh: mengerjakan ulangan, membaca buku pelajaran. 2.4 Teori X dan Y Dalam perkembangannya dengan kepemimpinan, terdapat beberapa teori motivasi yang muncul dan berkembang seperti teori hierarki kebutuhan Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor, teori motivasi Higiene, teori kebutuhan McClelland, teori harapan Victor Vroom, Teori Keadilan dan motivasi dan Reinforcement Theory. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan kesesuaian antara gaya kepemimpinan dengan perilaku individu, oleh karena itu dipilihlah teori X dau Y yang berkaitan dengan perilaku yang dimiliki pegawai/ karyawan dalam organisasi tersebut. Teori X dan Teori Y merupakan salah satu teori motivasi manusia yang diciptakan dan dibangun oleh Douglas McGregorpada 1960-an (www.wapedi.mobi). McGregor adalah psikolog sosial yang terkenal dengan teorinya tersebut McGregor menjelaskan bahwa para manajer/pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai/karyawan yaitu teori X atau teori Y. Teori X Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi (www.organisasi.com). Oleh karena itu, teori X memberikan petuah manajer harus memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan imbalan atau hukuman. Proposisi utama teori X, yaitu: 1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengatur unsur-unsur dari usaha produktif-uang, bahan, peralatan, dan orang-dalam kepentingan ekonomi berakhir; 2. Menghormati orang lain, ini adalah proses mengarahkan usaha mereka, memotivasi mereka, mengendalikan tindakan mereka, dan memodifikasi perilaku mereka agar sesuai dengan kebutuhan organisasi; dan

10

3. Tanpa intervensi aktif oleh manajemen, orang akan pasif-bahkan resistenuntuk kebutuhan organisasi. Oleh karena itu mereka harus dibujuk, dihargai, dihukum, dan dikendalikan. Kegiatan mereka harus diarahkan. Lebih lanjut menurut asumsi teori Y, orang-orang ini pada hakikatnya menganggap bahwa: 1. Tidak menyukai bekerja; 2. Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah; 3. Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalahmasalah organisasi; 4. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja; dan 5. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mencapai tujuan organisasi. Menyadari kelemahan dari asum teori X itu maka McGregor memberikan alternatif teori lain yang dinamakan teori Y. Teori Y Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja (www.organisasi.com). Proposisi utama dari Teori Y adalah sebagai berikut: 1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengatur unsur-unsur dari usaha produktif-uang, bahan, peralatan, dan orang-orang dalam kepentingan ekonomi berakhir. 2. 3. Orang tidak dengan sifat pasif atau resisten terhadap kebutuhan organisasi. Mereka telah menjadi begitu sebagai hasil dari pengalaman dalam organisasi. Motivasi, pengembangan potensi, kapasitas untuk mengasumsikan tanggung jawab, dan kesiapan untuk mengarahkan perilaku ke arah tujuan organisasi semuanya hadir dalam orang-manajemen tidak menempatkan mereka di sana. 11

Ini adalah tanggung jawab manajemen untuk memungkinkan orang untuk mengenali dan mengembangkan karakteristik manusia ini untuk diri mereka sendiri. 4. Tugas pokok manajemen adalah untuk mengatur kondisi organisasi dan metode operasi agar orang dapat mencapai tujuan-tujuan mereka sendiri dengan mengarahkan usaha mereka ke arah tujuan-tujuan organisasi. Lebih lanjut menurut asumsi teori Y, orang-orang ini pada hakikatnya menganggap bahwa: 1. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan. 2. Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi. 4. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan. 5. Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan. 6. Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat. Dengan memahami asumsi dasar teori Y ini, McGregor menyatakan selanjutnya bahwa merupakan tugas yang penting bagi menajemen untuk melepaskan tali pengendali dengan memberikan desempatan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang sesuai bagi orang-orang untuk mencapai tujuannya sendiri sebaik mungkin, dengan memberikan pengarahan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi.

12

managem Gambar 2. ent

2 Teori X dan Y oleh McGregor

Theory X

Theory Y

staff

Theory X - authoritarian, repressive style. Tight control, no development. Produces limited, depressed culture.

staff

Theory Y - liberating and developmental. Control, achievement and continuous improvement achieved by enabling, empowering and giving responsibility.

staff

Sumber: Alan Chapman,

staff
2001 (www.businessballs.com)

management

2.5 Kesesuaian Teori Perilaku X dan Y Dengan Gaya Kepemimpinan Jika melihat teori perilaku X dan Y, gaya kepemimpinan yang sesuai diterapkan dalam suatu organisi adalah otoriter dengan demokratis atau sentralistik dengan partisipatif. Pegawai/ karyawan dengan asumsi berperilaku teori X, maka pemimpinnya akan cenderung menggunakan gaya otoriter atau sentralistik. Hal ini disebabkan para pegawai/ karyawan ini membutuhkan tekanan atau dorongan kuat dari atasan/ pemimpinnya untuk bekerja lebih giat. Mereka membutuhkan arahan dari pimpinannya karena mereka tidak dapat bergerak sendiri. Menurut Rivai (2003), kepemimpinan otoriter adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi. Pemimpin ini memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya secara penuh. Selain itu, pemimpin ini akan membagi tugas dan tanggung jawab 13

sesuai keinginannya sendiri, sedangkan bawahannya hanya akan melaksanakan tugas yang diberikan tersebut. Berikut ciri-ciri gaya kepemimpinan bertipe otoriter: 1. Tanpa musyawarah; 2. Tidak mau menerima saran dari bawahan; 3. Mementingkan diri sendiri dan kelompok; 4. Selalu memerintah; 5. Memberikan tugas mendadak;
6. Cenderung menyukai bawahan yang ABS (asal bapak senang);

7. Sikap keras terhadap bawahan; 8. Setiap keputusannya tidak dapat dibantah; 9. Kekuasaan mutlak di tangan pimpinan; 10. Hubungan dengan bawahan kurang serasi; 11. Bertindak sewenang-wenang;
12. Tanpa kenal ampun atas kesalahan bawahan;

13. Kurang mempercayai bawahan; 14. Kurang mendorong semangat kerja bawahan; 15. Kurang mawas diri; 16. Selalu tertutup; 17. Suka mengancam; 18. Kurang menghiraukan usulan bawahan; 19. Ada rasa bangga bila bawahannya takut;
20. Tidak suka bawahan pandai dan berkembang;

21. Kurang memiliki rasa kekeluargaan; 22. Sering marah-marah; dan 23. Senang sanjungan. Ciri-ciri gaya kepemimpinan otoriter di atas sesuai/ cocok dengan individu/ pegawai yang diasumsikan berperilaku teori X. Pegawai dengan perilaku teori X diasumsikan tidak dapat berbuat apa-apa, cenderung malas, dan cenderung menunggu perintah dari atasan. Oleh karena itu, dibutuhkanlah pemimpin dengan gaya otoriter seperti ciri-ciri di atas, cenderung mengambil keputusan sendiri dan cenderung senang memerintah bawahannya. Hal ini juga berlaku untuk pemimpin dengan gaya kepemimpinan sentralistik. Pemimpin dengan gaya seperti ini mengambil keputusan

14

secara terpusat atau keputusan berada di tangannya sendiri. Pemimpin ini tidak menghendaki adanya campur tangan dari bawahannya. Pegawai/ karyawan dengan asumsi berperilaku teori Y, maka akan sesuai dengan pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan demokratis atau partisipatif. Pegawai ini cenderung berinisiatif tinggi dalam mengerjakan pekerjaannya dan tidak perlu menunggu disuruh untuk bekerja. Oleh karena itu dibutuhkan pemimpin yang demokratis, yaitu pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan. Setiap kali ada permasalahan, pemimpin dengan tipe ini selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Selain itu, pemimpin juga memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab bawahannya. Berikut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis:
1. Pendapatnya terfokus pada hasil musyawarah;

2. Tenggang rasa; 3. Memberi kesempatan pengembangan karier bawahan; 4. Selalu menerima kritik bawahan; 5. Menciptakan suasana kekeluargaan; 6. Mengetahui kekurangan dan kelebihan bawahan; 7. Komunikatif dengan bawahan; 8. Partisipasif dengan bawahan; 9. Tanggap terhadap situasi; 10. Kurang mementingkan diri sendiri; 11. Mawas diri; 12. Tidak bersikap menggurui; 13. Senang bawahan kreatif; 14. Menerima usulan atau pendapat bawahan; 15. Lapang dada; 16. Terbuka;
17. Mendorong bawahan untuk mencapai hasil yang baik;

18. Tidak sombong; 15

19. Menghargai pendapat bawahan; 20. Mau membirnbing bawahan; 21. Mau bekerja sama dengan bawahan; 22. Tidak mudah putus asa; 23. Tujuannya dipahami bawahan; 24. Percaya pada bawahan; 25. Tidak berjarak dengan bawahan; 26. Adil dan bijaksana;
27. Suka rapat (musyawarah);

28. Mau mendelegasikan tugas kepada bawahan; 29. Pemaaf pada bawahan; dan 30. Selalu mendahulukan hal-hal yang penting Berdasarkan ciri-ciri kepemimpinan demokratis tersebut, maka akan sesuai dengan pegawai yang diasumsikan memiliki perilaku teori Y. Selain gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan partisipatif juga sesuai dengan pegawai berperilaku teori Y ini. Gaya kepemimpinan partisipatif yaitu pemimpin yang menghendaki para bawahannya untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan. Pemimpin cenderung mendorong para bawahannya untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan ini. Teori X melihat pegawai dari segi pesimitik, sehingga pemimpin akan memimpin dengan gaya otoriter dan sentralistik, cenderung mengubah kondisi kerja dan mengefektifkan penggunaan reward & punishment untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Sedangkan teori Y melihat pegawai dari segi optimistik, sehingga pemimpin akan memimpin dengan gaya demokratis dan partisipatif, cenderung melakukan pendekatan humanistik kepada mereka, menantang mereka untuk lebih berprestasi, mendorong pertumbuhan pribadi, dan mendorong kinerja. Namun bukan berarti pemimpin akan menghilangkan pengawasan pada mereka. Pemimpin memang menghendaki para pegawai memberikan saran dan masukan dalam pengambilan keputusan, namun tetap pemimpinlah yang akan menjaga kekuasaan untuk melaksanakan keputusan tersebut.

BAB III 16

KESIMPULAN Individu (pegawai/ karyawan dalam suatu organisasi) diasumsikan oleh McGregor memiliki perilaku berdasarkan teori X dan teori Y. Teori X yaitu dimana seseorang berperilaku cenderung tidak memiliki motivasi, menunggu untuk diperintah atasan, tidak memiliki inisiatif, dan sebagainya. Sedangkan teori Y yaitu kebalikan dari teori X, dimana seseorang bermotivasi dan berkembang, dan sebagainya. Antara teori X dan teori Y ini sebenarnya bukan berarti yang satu lebih baik dariapada yang lainnya. Namun teori ini lebih untuk mengarahkan kepada bagaimana tindakan seseorang pemimpin untuk memimpin atau menghadapi pegawai/ karyawannya yang memiliki berbagai perbedaan karakter/ perilaku. Bagi pegawai yang diasumsikan berperilaku teori X, maka gaya kepemimpinan yang tepat yaitu dengan gaya otoriter dan sentralistik. Sedangkan bagi pegawai yang berperilaku teori Y, maka gaya kepemimpinan yang tepat adalah gaya demokratis dan partisipatif. Dengan teori ini para pemimpin dapat memberikan sikap yang tepat sehingga pegawai/ karyawannya dapat melaksanakan tugas dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu, berdasarkan penjelasan teori X dan Y ini dapat diketahui bahwa seorang pemimpin terkadang harus egois dan terkadang pula harus demokratis, tergantung perilaku pegawai/ karyawan yang dipimpin. berinsiatif tinggi, mudah

DAFTAR PUSTAKA 17

Freud, Sigmund and Strachey, James. 1991. Introductory Lectures on Psychoanalysis. Penguin Books. Gibson, James L., Ivancevivh, John M., and Donnelly, James H. 1973. Organizations: Structure, process, and Behaviour. Business Publications. Rivai, Vethzal. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Robbins, Stephen P. and Coulter, Mary K. 2002. Management Ed. 7th. Prantice Hall. Singgih-Salim, E.E. dan Sukadji, S (Eds.) Sukses Belajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Panduan. Yusuf, Syamsu. 2002. Pengantar Psikologi. Bandung: Publikasi Jurusan PPB FIP UPI. Sumber internet: en.wikipedia.org id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran+pembentukan+perilaku+individu www.bus.ucf.edu www.evitadewiblogqu.blogspot.com www.wartawarga.gunadarma.ac.id www.organisasi.org

18