Anda di halaman 1dari 18

SISTEM EKSKRESI

Sistem ekskresi merupakan hal yang pokok dalam homeostasis karena sistem tersebut membuang limbah metabolism dan merespons terhadap ketidakseimbangan cairantubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan.

GINJAL

Sebagian besar sistem ekskresi menghasilkan urin dengan cara menyaring filtrat yang diperoleh dari cairan tubuh: gambaran umum

Sistem ekskresi sangat beraneka ragam, tetapi semuanya mempunyai kemiripan fungsional. Secara umum, sistem ekskresi menghasilkan urin mellaui dua proses utama: filtrasi cairan tubuh dan penyulingan larutan cair yang dihasilkan dari filtrasi itu. Pertama, selama filtrasi, darah dan cairantubuh lain, bergantung pada jenis sistem ekskresi, terpapar ke suatu perkakas penyaringan yang terbuat dari membrane epithelium transpor yang selektif permeable. Membrane itu menahan protein dan molekul besar lainnya dalam cairan tubuh; tekanan hidrostatik (tekanna darah pada banyak hewan) memaksa air dan zat terlarut kecil, seperti garam, gula, asam amino, dan limbah bernitrogen, melewati perkakas itu dan masuk ke dalam sistem ekskresi. Larutan cair dalam sistem ekskresi itu disebut sebagai filtrate. Sitem ekskresi menghasilkan urin dari filtrate melalui dua mekanisme, dan keduanya melibatkan tranpor aktif. Transport selektif air dan zat-zatterlarut penting, seperti glukosa, garam, dan asam amino, dari filtrate dan kembali ke dalam cairan tubuh disebut sebagai reabsorpsi. Karena filtrasi bersifat nonselektif, sangatlah penting bahwa molekul kecil yang esensial bagi tubuh akan dikembalikan ke cairan tubuh. Dalam sekresi, zat-zat terlarut (misalnya, kelebihan garam dan toksin) dikeluarkan dari cairan tubuh hewan dan ditambahkan ke dalam filtrate. Keseluruhan pengaruh filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi analog dengan pembersihan lemari (cairan tubuh) dengan pertama tama mengeluarkan barang-barang kecil, seperti sepatu dan penggantung pakaian yang sudah rusak (filtrasi), dan mengembalikan barang-barang yang bermanfaat (mungkin sepatu) ke dalam lemari (reabsorpsi), penyorotiran barang-barang besar seperti pakaian dan menempatkan akaian yang tidak disukai lagi ke keranjang sampah (sekresi), dan kemudian membuang semua barangbarangyang tidak dikehendaki itu (ekskresi).

Nefon dan pembuluh darah yang terkait merupakan unit fungsional ginjal mamalia Pada mamalia, gnjal adalah sepasang organ berbentuk biji kacang merah (sekitar 10 cm panjangnya pada manusia). Darah memasuki masing-masing ginjal melalui arteri renal dan meninggalkan masing-masing ginjal melalui vena renal. Meskipun ginjal manusia hanya meliputi sekitar 1% bobot tubuh, ginjal menerima sekitar 20% dari

darah yang dipompakan dalam setiap denyutan jantung. Urin keluar meninggalkan ginjal melalui duktus yang disebut ureter. Ureter kedua ginjal tersebut mengosongkan isinya ke dalam kandung kemih (urinary bladder). Selama urinasi, urin meninggalkan tubuh dari kandung kemih melalui saluran yang disebut dengan uretra, yang mengosongkan isinya dekat vagina pada perempuan atau melalui penis pada laki-laki. Otot sfingter yang dekat dengan persambungan uretra dan kandung kemih mengontrol proses urinasi atau pengeluaran urin.

Struktur dan fungsi nefron serta struktur terkait

Ginjal mamalia mempunyai dua daerah yang berbeda, yaitu korteks renal di bagian luar dan medulla renal di bagian dalam. Yang membungkus kedua daerah tersebut adalah tubula ekskresi mikroskopis, yang disebut nefron, dan duktus pengumpul, dimana keduanya berkaitan dengan pembuluh-pembuluh darah kecil. Nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal vertebrata, terdiri atas sebuah tubula panjang tunggal; dan sebuah

bola kapiler yang disebut glomerulus. Ujung buntu tubula itu membentuk pembengkakan mirip piala, yang disebut kapsula Bowman (Bowmans capsule), yang mengelilingi glomerulus. Filtrasi darah. Filtrasi terjadi ketika tekanan darah memaksa air, urea,, dan zat terlarut kecil lainnya dari darah dalam glomerulus masuk ke dalam lumen kapsul bowman. Kapiler berpori, bersama-sama sdengan sel-sel khusus kapsula itu yang disebut sebagai pedosit, yang berfungsi sebagai filter, karena bersifat permeable terhadap air dan zat terlarut kecil namun tidak permeable terhadap sel darah atau molekul yang lebih seperti protein plasma . Filtrasi bersifat nonselektif terhadap molekul kecil,setiap zat yang cukup kecil yang dapat dipaksa lolos melewati dinding kapiler dan antara sel-sel podosit oleh tekanan darah,dapat memasuki lumen tubula nefron .Filtrat kapsula Bowman mengandung zat terarut seperti garam,glukosa, dan

vitamin ; limbah bernitrogen seperti urea; dan molekul kecil lainnya , suatu campuran yang merupakan cerminan konsentari zat-zat ini dan osmolaritas plasma darah . Jalur Filtrasi. dari kapsula Bowman,filtrate lewat secara berurutan melalui tiga daerah nefron : Tubula Proksimal ; Lengkung Henle (Loop of Henle) Lengkungan berbentuk seperti jepit ramb ut dengan saluran menurun dan saluran menanjak ; dan Tubulus Distal. Tubulus distal mengosongkan isinya kedalam duktus pengumpul (collecting duct) yang menerima filtrate dari banyak nefron . Duktus pengumpul ginjal yang banyak itu mengosongkan isinya ke dalam pelvis renal. Pada Ginjal manusia, sekitar 80% nefron,yang dinamakan nefron kortikal, memiliki lengkung Henle yang tereduksi dan hampir keseluruhannya berada hanya pada korteks renal. Nefron sisanya (20%), yang dinamakan nefron jukstamedulari (juxtamedullary nephron) , mempunyai lengkungan yang berkembang baik yang menjulur sampai ke dalam medulla renal. Nefron dan duktus pengumpul dilapisi oleh epithelium transpor yang memproses filtrate it untuk membentuk urin . Dari sekitar 1100 sampai 2000 L darah yang mengalir melalui ginjal manusia setiap hari (sekitar 275 kalitotal volume darah dalam tubuh) , nefron dan duktus pengumpul memproessekitar 180 L fitrat, tetapi ginjal

mengeksresikan hanya sekitar 1,5L urin . Sisa filtrate lainnya termasuk 99% dari air diserap kembali kedalam darah . Pembuluh Darah yang Terkait dengan Nefron . Setiap nefron dialir darah oleh arteriola aferen (afferent arteriole) ,yang merupakan cabang arteri renal yang membagi diri menjadi kapiler glomerulus . Kapiler-kapiler itu menyatu ketika mereka meninggalkan glomerulus dan membagi arteriola eferen (efferent arteriole) . Pembuluh itu membagi itu membagi lagi sekali lagi menjadi -jaringan kapiler kedua, yaitu kapiler peritubuler . Kapiler tersebut saling jalin-menjalin dengan tubulus distal dan proksimal nefron . Kapiler tambahan menjulur kearah bawah untuk membentuk vasa rekta, sistem kapiler yang mengalir Lengkung Henle . Vasa rekta juga merupakan suatu lengkungan,dengan pembuluh yang turun(descending) dan pembuluh naik (ascending) yang mengalirkan darh dengan arah yangberlawanan. Meskipun tubulus ekskretorisdan kapiler sekitarnya sangat berkaitan erat , tubulus dan kapiler itu tidak mempertukarkan zat-zat sacara langsung . Tubulus dan kapiler terendam dalam cairan interstisial, ditempat dilaluinya berbagai zat yang mengalir keluar masuk antara plasma di dalam kapiler dan filtrate didalam tubula nefron. Sekresi. Tubula Proksimal dan distal adalh tempat sekresi yang paling umum. Sekresi adalah suatu proses yang sangat selektif yang melibatkan transport pasif maupun transport aktif. Sebagai contoh, sekresi terkontrol ion hidrogen dari cairan interstisial kedalam tubula nefron penting dalam mempertahankan pH yang konstan bagi cairan tubuh . Reabsorpsi (Pe nyetapan Kembali). Tubula Proksimal dan tubula distal serta lengkung Henle semuanya memberikan kontribusi terhadap reabsorpsi, seperti halnya duktus pengumpul. Hampir semua glukosa,asam amino,dan sejumlah besar ion-ion anorganika (Na+, K+ , Ca++ , Cl-, HCO3- , PO4- b,SO4- ,) yang ditemukan dalam filtrate awal akhirnyaakan diserap kembali. Reabsorpsi dan sekresi selektif bersama-sama mengontrol kensentari berbagai garam dalam cairan tubuh . Fungsi kunci nefron duktus pengumpul memodifikasi komposisi filtrate, yang meningkatkan konsentrasi beberapa zat dan menurunkan konsentasi bahan lain dalam urin yang akhirnya diekskresikan.

Dari Filtrat darah menjadi urin : pendalaman

Tubulus Proksimal . Sekresi dan reabsorpsi oleh epithelium transport tubula proksimal secara signifikbagai can mengubah volume dan komposisi filtrat.Sebagai contoh, sel-sel epitulium transport tersebut membantu mempertahankan pH cairan tubuh yang konstan dengan cara mengontrol sekresi ion hidogen. Sel-sel itu juga mensintesis dan mensekresi amonia, yang menetralkan asam dan mempertahankan filtrat itu sehingga tidak menjadi terlalu asam. Semakin asam filtrat itu, maka semakin banyak amonia yang dihasilkan dan disekresikan oleh sel tersebut. Sel-sel tubula proksimal juga menyerap kembali sekitar 90% penyangga(buffer) bikarbonat penting(HCO3-) dari filtrat tersebut.Obat-obatan dan racun lain yang telah diproses dalam hati juga disekresikan kedalam filtrat oleh epithelium tubula proksimal. Zat-zat itu lewat darikapiler peritubuler kedalam cairan interstisial, dan kemudian menembus epithelium tubula kedalam lumen . Sebaliknya , nutrien-nutrien ini akan hilang bersama urin . Kalium(K+) diserap kembali. Salah satu fungsi tubula yang paling pentingadlah reabsorpsi NaCl (garam) dan air . Garam dalm filtrate itu berdifusi kedalam sel epitelium transpor , dan membran sel-sel itu secara aktif mentranspor Na+ keluar dari sel dan kedalam cairan interstisial. Transfer muatan positif ini diseimbangkan oelh transpor pasif Cl- keluar dari tubula . Ketika garam bergerak keluar dari filtrat kecairan interstisial,air akan mengikuti secara pasif melalui osmosis . Sisi epithelium yang menghadap eksterior tubula itu mempunyai luas permukaan yang jauh lebih kecil

dibandingkan dengan sisi yang menghadap kelumen , yang meminimalkan kebocoran garam dan air kembali ke dalam tubula. Garam dan air itu sekarang berdifusi dari cairan interstisial kedalam kapiler peritubuler. Saluran menurun pada lengkung Henle. Reabsorpsi air terus berlangsung selama filtrat itu bergerak disepanjang tubula saluran Henle.Disini epithelium transport sangat permeable terhadap air tetapi sangat tidak permeable terhadap garam dan zat terlarut kecil lainnya.Supaya air dapat bergerak keluar tubula itu melalui osmosis,cairan interstisial yang menggenagi tubula itu harus berada dalam keadaan hiperosmotik dibandingkan dengan filtrat itu. Osmolaritas cairan interstisial pada kenyataannya meningkat secara perlahan-lahan,menjadi semakin besar dari arah korteks bagian luar medulla bagian dalam ginjal.Dengan demikian,filtrat yang bergerak turun dari korteks ke medulla didalam saluran Lengkung Henle yang menurun itu terus kehilangan air kedalam cairan interstisial yang osmolaritasnya semakin besar dan semakin besar lagi. Pada saat yang bersamaan,konsentrasi NaCl filtrate itu meningkat ketika air keluar dengan cara osmosis. Saluran menaik pada Lengkung Henle. Filtrat mencapai ujung lengkung yang terletak jauh didalam medulla renal pada nefron jukstamedulari,kemudian bergerak ke korteks sekali lagi didalam saluran menaik lengkungan Henle . Berlawanan dengan saluran menurun itu, epithelium transport pada saluran yang menaik bersifat permeabel terhadap air.Saluran yang menaik sebenernya mempunyai dua daerah khusus : segmen tipis yang dekat dengan ujung lengkung itu dan segmen tebal yang menuju ke tubulus distal. Ketika filtrate naik pada segmen tpis itu, NaCl yang semakin dipekatkan pada saluran yang menaik itu,berdifusi keluar dari tubula itu kedalam cairan interstisial. Kehilangan gar mini turut menyebabkan osmolaritas yang tinggi dari cairan interstisial dalam medulla . Eksodus garam dari filtrattus berlangsung dalam segmen tebal saluran yang menaik itu ,tetapi disini epithelium transport aktif mengangkut NaCl kedalam cairan interstisial .Dengan adanya kehilangan garam tanpa terjadinya kehilangan air. Filtrat tersebut secara progesif menjadi lebih encer seiring pergerakan filtrate naik ke korteks sekali lagi dalam saluran menaik lengkungan Henle.

Tubula Distal. Tubula Distal adalah tempat penting untuk sekresi dan reabsorpsi. Seperti Tubula Proksimal ,tubula distal juga mempengaruhi pengaturan pH ,melalui sekresi terkontrol H+ dan melalui penyerapan kembali ion bikarbonat (HCO3-) . Duktus pengumpul . Duktus pengumpul membawa filtrat kembali menuju medulla,dan pelvis renal.Epitelium transport duktus pengumpul ini memaikan peranana besar dalam menentukan berapa banyak garam yang sesungguhnya dieksresikan dalam urin dengan cara menyerap kembali NaCl secara aktif . Epitelium tersebut permeabel terhadap air akan tetapi tidak terdap garam. Dengan demikian ,ketika duktus pengumpul ini menembus gradien osmolaritas itu dalamcairan interstisial, filtrate akan kehilangan lebih banyak air melalui osmosis kecairan hiperosmotik diluar saluran. Hilangnya air itu akan memekatkan urea dalam filtrat , tetapi tidak semua urea ini dengan serta merta dilewatkan kepelvis renal dalam urin. Pada bagian dasar duktus pengumpul itu,yaitu pada bagian dalam medulla,epithelium saluran itu permeabel terhdap urea. Karena konsentrasi urea yang tinggi dalam filtrate pada titik ini,maka sebagian dari urea itu berdifusikeluar dari saluran itu dan masuk ke dalam cairan interstisial , yang menggenangi bagian nefron dibagian medulla. Urea interstisial ini merupakan zat terlarut utama yang berkonstribusi,bersama-sama dengan NaCl , kepada osmolaritas cairan interstisial yang tinggi inilah yang memampukan ginjal menghemat air dengan cara mengeksresikan urin yang hiperosmotik dibandingkan dengan cara tubuh pada umumnya.

Mekanika Pembuangan Proses pembuatan urine berlangsung tanpa henti-hentinya.Setiap saluran pengumpul menguras urine dari beberapa nefron kedalam pelvis ginjal. Lalu urine itu mengalir dari ginjal kegelembung melalui saluran yaitu Ureter. Gelembung itu adalah organ berotot yang kosong yang menggembung ketika urine masuk kedalamnya dari kedua ginjal.Bila kantung kemih ini berisi urine, maka sfingter berotot yang mengawasi keluarnya dapat dikendurkan sehingga urine mengalirkan keluar melalui uretra. Kedua ureter ini masuk kedalam kantung kamih sedemikian sehingga keluarnya itu menjadi dipaksa tertutup ketika terjadi tekanan dalam kantung kemih tersebut. Urinenya mulai terhimpun dalam ureter dan bahkan dalam pelvis ginjal-ginjal tesebut.Bila

kantung kemih ini akhirnya kosong,akumulasi ini dibiarkan mengalir turun. Jadi orangnya merasakan urinasi yang tertunda yang tertunda lama itu diikuti dengan cepat untuk mengeluarkannya yang kedua kalinya.

Penyakit ginjal 1. Gagal Ginjal

Gagal ginjal adalah kelainan ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya (sebagai alat penyaring darah). Ada dua macam gagal ginjal yaitu gagal ginjal yang bersifat sementara dan gagal ginjal tetap.

Penderita gagal ginjal sementara dapat ditolong dengan cuci darah secara berkala. Dengan menggunakan alat yang disebut dialisator darah dari penderita dikeluarkan dari arteri (tabung atas), melewati perangkap gelembung, dan masuk ke dalam ginjal tiruan. Darah yang sudah dimurnikan keluar dari ginjal buatan (bawah), dan dikembalikan ke urat dalam lengan (tabung bawah).

Jadi, penderita penyakit ginjal dapat ditolong dengan ginjal tiruan. Ginjal tiruan ternyata sangat efektif dalam menolong korban yang ginjalnya tidak berfungsi dengan baik sehingga dapat mengatasi krisis sampai ginjalnya dapat kembali berfungsi. Nginjal buatan itu juga memungkinkan penderita kondisi kronik tetap hidup, walaupun amat memerlukan banyak waktu (acap kali tiga masa setiap 6 jam atau lebih seminggunya) uang dan kesehatan psikologis. Alternative yang dapat diharapkan untuk dialis berjangka panjang bagi kerusakan ginjal yang kronik ialah pencangkokan ginjal baru. Operasinya secara teknis sederhana. Ginjal donor ditempatkan di bawah dalam rongga perutdan arteri dan vena disambung pada arteridan vena usas (liliak) masing-masing. Dengan mudahureter dihubungkan dengan kandung kemih. Masalah utama pada pencangkokan ginjal adalah masalah penolakan imun. Kecuali si penyakit itu mempunyai kembar identik sebagai donor, sistem umumnya akan mengenali ginjal cangkokan itu sebagai asing dan terus merusaknya. Akan tetapi, berbagai obat ditemukan yang efektif untuk menekan mekanisme imun tubuhnya. Dengan menggunakannya secara hati-hati, banyak ginjal yang dicangkok tetap berfungsi selama bertahun-tahun.

2.

Batu Ginjal

Batu ginjal terbentuk karena adanya endapan garam kalsium yang makin lama makin mengeras dan membesar. Endapan ini pada mulanya terdapat Sistem Ekskresi pada Manusia 13 di rongga ginjal, kemudian terbawa arus urine, juga

terdapat di ureter dan kantong kemih. Batu ginjal dapat dihilangkan dengan beberapa cara antara lain dengan pengobatan, yaitu mengkonsumsi obat yang dapat menghancurkan batu ginjal. Namun bila dengan pengobatan sulit hancur dapat dilakukan dengan pembedahan untuk mengambil batu ginjal tersebut.

3.

Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang penderitanya mengeluarkan urine terlalu banyak. Penyebab penyakit ini adalah kekurangan hormon ADH (Anti Diuretic Hormone), yaitu hormon yang mempengaruhi proses reabsorbsi cairan pada ginjal. Bila kekurangan hormon ADH, jumlah urine dapat meningkat sampai 30 kali lipat.

4.

Nefritis

Nefritis adalah peradangan pada nefron terutama glomerulus. Penyebabnya adalah infeksi bakteri Streptococcus.

KULIT
Kulit merupakan lapisan terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dari kerusakan/pengaruh lingkungan. Kulit berfungsi sebagai pelindung terhadap kerusakan-kerusakan fisik akibat gesekan, penyinaran, kuman-kuman, panas, zat kimia, dan lain-lain. Selain itu, kulit juga berfungsi untuk mengurangi kehilangan air, mengatur suhu tubuh, menerima rangsang dari luar, dan ekskresi. Sebagai alat ekskresi, kulit terutama mengeluarkan limbah metabolism berupa garam-garam (terutama garam dapur) dan sedikit urea, yang dibuang melalui pengeluaran keringat. Dari kapiler darah yang terdapat pada kulit, kelenjar keringat akan menyerap air dan larutan garam serta sedikit urea. Air beserta larutan garam dan urea yang terlarut kemudian dikeluarkan melalui pembuluh darah ke permukaan kulit tempat air diuapkan dan merupakan penyerap panas tubuh kita. Kulit memiliki banyak fungsi karena di dalamnya terdapat berbagai jaringan.

1.

Epidermis (Kulit Ari)

Epidermis tersusun oleh sejumlah lapisan sel yang pada dasarnya terdiri atas dua lapisan yaitu: a. Lapisan tanduk

Merupakan lapisan epidermis paling luar. Pada lapisan ini tidak terdapat pembuluh darah dan serabut saraf, karena merupakan sel-sel mati dan selalu mengelupas. Lapisan ini jelas sekali terlihat pada telapak tangan dan telapak kaki. b. Lapisan malpighi Lapisan ini terdapat di bawah lapisan tanduk. Sel-selnya terdapat pigmen yang menentukan warna kulit.

2.

Dermis (Kulit Jangat)

Merupakan lapisan kulit di bawah epidermis, di dalam lapisan ini terdapat beberapa jaringan yaitu: Kelenjar keringat, yang berfungsi untuk menghasilkan keringat. Keringat tersebut bermuara pada pori-pori kulit. Aktivitas kelenjar keringat ada di bawah pengaruh pusat pengatur suhu badan dan system saraf pusat. Sistem ini dirangsang oleh perubahan-perubahan suhu di dalam pembuluh darah, kemudian rangsangan dipindahkan oleh saraf simpatetik menuju kelenjar keringat. Oleh karena itu, jumlah kandungan larutan ataupun banyaknya keringat yang dikeluarkan selalu berbeda, semuanya ditujukan agar suhu badan selalu

tetap.Pengeluaran keringat yang berlebihan, seperti pada orang-orang yang bekerja keras akan menyebabkan lebih cepat merasa haus dan sering mengalami lapar garam. Demikian pula orang yang terkena terik matahari, keringat yang keluar akan banyak mengandung larutan garam. Kehilangan garam-garam dari larutan darah ini dapat menimbulkan kejang-kejang dan pingsan. Kelenjar minyak, yang berfungsi untuk menghasilkan minyak guna menjaga rambut tidak kering. Kelenjar ini letaknya dekat akar rambut. Pembuluh darah, yang berfungsi untuk mengedarkan darah ke semua sel atau jaringan termasuk akar rambut. Ujung-ujung saraf. Ujung saraf yang terdapat pada lapisan ini adalah ujung saraf perasa dan peraba.

3.

Jaringan Ikat Bawah Kulit

Di bagian ini terdapat jaringan lemak (adiposa). Fungsinya antara lain untuk penahan suhu tubuh dan cadangan makanan.

Dengan adanya berbagai jaringan yang terdapat di dalamnya, maka kulit dapat berfungsi sebagai: indra peraba dan perasa, pelindung tubuh terhadap luka dan kuman, tempat pembentukan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan sinar ultraviolet cahaya matahari, penyimpan kelebihan lemak, pengatur suhu tubuh, Alat pengeluaran (ekskresi) dalam bentuk keringat. Dari berbagai fungsi tersebut yang berkaitan dengan sistem ekskresi adalah kemampuan kulit sebagai pengatur suhu tubuh. Suhu tubuh diatur oleh pusat pengatur panas di sumsum lanjutan agar konstan 36o 37,5o C. Bila suhu badan meningkat, maka kapiler darah melebar, kulit menjadi panas dan kelebihan panas dipancarkan ke kelenjar keringat. Sehingga terjadi penguapan cairan dalam bentuk keringat pada permukaan

tubuh. Sebaliknya bila tubuh merasa kedinginan, pembuluh darah mengkerut, kulit menjadi pucat dan dingin, keringat dibatasi pengeluarannya. Keringat yang dikeluarkan oleh kelenjar keringat berisi larutan garam, urea dan air. Banyaknya keringat yang dikeluarkan tergantung dari beberapa faktor antara lain aktivitas tubuh, suhu lingkungan, makanan, kesehatan dan emosi.

PARU-PARU

o Selain berfungsi sebagai alat pernapasan, paru-paru juga berfungsi sebagai alat ekskresi. Zat sisa yang dikeluarkan oleh paru-paru adalah karbondioksida dan uap air. Proses pengikatan O2 dan pelepasan CO2 oleh darah terjadi di dalam alveolus. Alveolus merupakan bagian dari paru-paru yang berupa gelembung-gelembung kecil.

HATI

Pada tubuh manusia, hati merupakan kelenjar besar yang memiliki peranan penting dalam sistem organ. Hati terletak pada bagian kanan di atas rongga perut (otot diafragma). Beratnya sekitar 1,5 kg atau 3-5% dari total berat tubuh kita. Pada bagian luar hati terdapat suatu selaput tipis yang dinamakan selaput hati (kapsula hepatis). Darah disuplai ke dalam hati melalui dua pembuluh yaitu arteri hati dan vena porta hepatis. Arteri hati membawa darah dengan kandung an oksigen dari jantung. Sedangkan vena porta membawa darah yang mengandung sari makanan dari usus halus. Selain berperan dalam proses pencernaan makanan, hati juga berfungsi sebagai alat ekskresi. Zat yang dikeluarkan dari hati adalah cairan empedu. Cairan empedu merupakan cairan berwarna hijau kebiruan yang berfungsi dalam mencerna makanan berlemak. ini disimpan dalam suatu bagian yang disebut kantung empedu. Zat-zat yang terkandung dalam cairan empedu yakni garam mineral, pigmen (bilirubin dan biliverdin), kolesterol, fosfolopid, dan air. Di dalam hati terdapat sel yang berfungsi merombak sel darah merah yang sudah tua dan rusak. Sel yang demikian dinamakan sel histiosit. Sel darah merah yang tua dan rusak di dalam hati sekitar lebih dari 10 juta sel. Dalam proses perombakannya, hemoglobin (Hb) dipecah menjadi zat besi (Fe), hemin, dan globin. Zat besi akan diambil dan di simpan dalam hati, yang selanjutnya dikembalikan ke sumsum tulang sehingga terbentuk eritrosit baru. Globin akan dibentuk menjadi Hb baru. Sementara hemin dipecah menjadi bilirubin dan biliverdin yang berwarna hijau biru. Zat warna

empedu dikeluarkan ke usus 12 jari dan dioksidasi menjadi urobilin yang berwarna kuning coklatan. Warna ini akan memberikan warna khas tersendiri pada feses dan urine yang kita keluarkan setiap harinya. Apabila terjadi gangguan, pembuluh empedu dapat mengalami penyumbatan. Penyebabnya adalah adanya pengendapan kolesterol yang membentuk batu empedu. Alhasil, feses yang keluar berwarna cokelat abu-abu. Oleh karena pembuluh empedu mengalami penyumbatan, empedu akan masuk ke dalam peredaran darah, sehingga mengakibatkan darah berwarna kekuning-kuningan. Keadaan demikian lazim dinamakan penyakit kuning. Organ hati dapat pula menghasilkan enzim arginase. Enzim

arginase merupakan enzim yang berperan dalam proses penguraianasam amino. Prosesnya dinamakan deaminasi. Asam amino yang diuraikan yakni asam amino arginin menjadi ornitin dan urea. Ornitinakan mengikat amonia dan karbondioksida yang bersifat racun. Selanjutnya ornitin akan dinetralkan dalam hati. Adapun urea akan diserap ginjal untuk dikeluarkan bersama urine. Dengan demikian, dari penjelasan di atas ada beberapa fungsi hati bagi tubuh manusia. Fungsi itu antara lain penyimpan lemak dalam bentuk glikogen, perombak dan pembentuk protein, penawar racun pada makanan, dan perombak sel darah merah.

Daftar Pustaka
Artikel : http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/13/sistem-ekskresi-manusia/.

http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/07/sistem-ekskresi-pada-manusia.html

Campbell ,2002 , Biology erlangga Jakarta , Seri 3 jilid 5

Kimball,John W, 2000 , Biologi umum , JIlid 2 ,edisi 5


http://www.google.co.id/imgres?q=fungsi+kunci+dalam+eksresi

SISTEM EKSKRESI MANUSIA


Kelompok 5: -Ayu Ulfa H.Y (1213023009) -Dika Pratiwi Budianto (1213023019) -Sinta Chintia Tampubolon (1213023065)

Pendidikan Kimia Universitas Lampung Tahun Pelajaran 2012-2013