Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan untuk kemajuan suatu bangsa. Masalah kesehatan yang dihadapi dunia antara lain adalah penyakit campak. Campak dan polio adalah penyakit yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah (Depkes RI, 2011). Hasil dari paparan World Health Organization (WHO) menyebutkan, pada periode Januari hingga Juli 2011, tercatat ada 26 ribu kasus campak di 40 negara di benua Eropa. Jumlah kasus yang berhasil terekam WHO itu, menunjukkan kasus campak di benua Eropa meningkat 276 % dibandingkan periode yang sama pada 2007 lalu.Hingga saat ini Indonesia belum bisa terlepas dari penyakit campak, data terakhir menunjukkan penyakit campak sebanyak 11.704 kasus pada tahun 2011 (Dirjen P2PL, 2012).

Campak merupakan suatu infeksi penyakit akut yang menular , disebabkan oleh paramixovirus dengan genus morbilivirus yang pada umumnya menyerang anak-anak (Julia andriani, 2009). Penyakit campak termasuk penyakit yang sering menyerang anak-anak, karena itu penyakit akibat virus ini sering disepelekan dan masyarakat kita masih berpikiran kalau anak kena campak adalah hal yang biasa dan wajar (Soedjatmiko, 2011).

B. Tujuan Surveilans campak bertujuan untuk mempelajari gambaran epidemiologi dari kasus campak sehingga dapat diketahui: 1. Mengetahui siapa orang yang dapat terserang atau beresiko campak 2. Mengetahui tempat kejadian atau terjadinya campak 3. Mengetahui waktu kejadian campak 4. Mengetahui faktor resiko terjadinya campak 5. Bagaimana pencegahan dan penanggulangan campak

C. Manfaat 1. Sebagai ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penyusun dan pembaca. 2. Diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pekasanaan survilans epidemiologi campak. 3. Dibuatnya makalah surveilans ini adalah sebagai tugas kelompok mata kuliah surveilans Epidemiologi.

BAB II SURVEILANS EPIDEMIOLOGI CAMPAK A. Epidemiologi Campak a. Etiologi Penyebab campak adalah Paramyxoviridae (RNA), jenis Morbillivirus yang mudah mati karena panas dan cahaya. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar. Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus (Dirjen P2PL, 2008).

b. Cara dan Masa Penularan Cara dan masa penularan campak adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) : 1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung. 2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit. c. Gejala dan tanda-tanda Gejala dan tanda-tanda campak adalah sebaai berikut (Dirjen P2PL, 2008). 1. Panas badan biasanya > 38 derajat celcius selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau lebih gejala batuk, pilek, mata merah atau mata berair 2. Khas (Pathognomonis) ditemukan Kopliks spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam (mucosa bucal) 3. Bercak kemerahan/rash yang dimulai dari belakang telinga pada tubuh berbentuk makulo papular selama 3 hari atau lebih, beberapa hari (4-7 hari) keseluruh tubuh. 4. Bercak kemerahan makulo papular setelah 1 minggu sampai 1 bulan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit bersisik. Untuk
3

kasus yang telah menunjukkan hiperpigmentasi (kehitaman) perlu dilakukan anamnesis dengan teliti, dan apabila pada masa akut (permulaan sakit) terdapat gejala-gejala tersebut di atas maka kasus tersebut termasuk kasus campak klinis.

d. Komplikasi Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 th. Kasus campak pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta imun defisiency (HIV), campak dapat menjadi lebih berat atau fatal. Komplikasi yang sering terjadi yaitu Diare, Bronchopneumonia, Malnutrisi, Otitis media, Kebutaan, Encephalitis, Measles encephalitis hanya 1/1000 penderita campak, Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), hanya 1/100.000 penderita campak, Ulkus mucosa mulut (Dirjen P2PL, 2008). e. Penyebab kematian Kematian penderita

campak

umumnya

disebabkan

karena

komplikasinya, seperti : Bronchopneumonia, Diare berat dan gizi buruk serta penanganan yang terlambat (Dirjen P2PL, 2008). f. Diagnosa banding Diagnosa banding penyakit campak adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008). 1. Rubella (campak Jerman), terdapat pembesaran kelenjar getah bening di belakang telinga. 2. DHF atau DBD, dalam 2-3 hari bisa terjadi mimisan, turniket test (Rumple Leede) positip, perdarahan diikuti shock, laboratorium menunjukkan trombosit <100.000/ml dan serologis positif DHF (spesimen akut dan spesimen penyembuhan) 3. Cacar air (varicella), ditemukan vesikula atau gelembung berisi cairan 4. Allergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/disuntik, disertai gatal-gatal. 5. Miliaria atau keringat buntet : Gatal-gatal, bintik kemerahan.

g. Patogenesis Campak adalah penyakit infeksi sistemik yang dimulai infeksi pada bagian epitel saluran pernafasan di nasopharing. Virus campak dikeluarkan dari nasopharing mulai dari masa prodromal sampai 3 -4 hari setelah rash (Dirjen P2PL, 2008).

h. Imunitas Infeksi alami karena infeksi penyakit campak cenderung menimbulkan antibody lebih baik disbanding antibody yang terbentuk karena vaksinasi campak. Stelah terjadi infeksi virus, maka terjadi respon seluler segera yang kemudian diikuti oleh respon imunitas pada saat timbulnya rash. Bila seorang anak tidak terdeteksi adanya titer antibody campak, maka anak tersebut kemungkinan masih rentan. Penyembuhan terhadap penyakit campak tergantung kepada kemampuan respon dari T-Cell yang adekuat (Dirjen P2PL, 2008).

B. Surveilans Campak a. Defenisi kasus campak Definisi Kasus Campak yang digunakan dalam sistem surveilans epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) : Kasus klinis Demam, bercak merah berbetuk mokulopapular dan satu atau lebih gejala berikut : Batuk, pilek atau mata merah (conjunctivitis) atau didiagnosa oleh dokter sebagai kasus campak Kasus konfirmasi Pasti secara laboratorium : Kasus campak klinis yang telah dilakukan konfirmasi laboratorium dengan hasil positif campak. Pasti secara epidemiologi : Semua kasus klinis yang mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus yang pasti secara laboratorium.

Bukan kasus campak (Discarded) : Kasus tersangka campak , yang setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, hasilnya negatif. b. Kematian campak Kematian campak adalah kematian dari seorang penderita campak pasti (klinis, laboratorium maupun epidemiologi) yang terjadi dalam 30 hari setelah timbul rash, bukan disebabkan oleh hal-hal lain seperti : trauma atau penyakit kronik yang tidak berhubungan dengan komplikasi campak (Dirjen P2PL, 2008). c. Daerah resiko campak Daerah risiko tinggi campak yaitu daerah yang berpotensi terjadinya KLB campak, dilihat dari (Dirjen P2PL, 2008) : Daerah dengan cakupan imunisasi rendah (< 80%) Lokasi yang padat dan kumuh antara lain pengungsian Daerah rawan gizi Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi

d. Kegiatan surveilans campak Kegiatan surveilans Campak yang digunakan dalam sistem surveilans epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) : Tingkat Puskesmas Pengumpulan data dari puskesmas, pembantu, praktek dokter,bidan, perawat dan pelayanan kesehatan swasta lainnya, masyarakat/Posyandu maupun petugas desa siaga. Setelah dilaksanakan pengumpulan data lalu dilakukan pencatatan dan pelaporan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Tingkat Rumah Sakit Kegiatan surveilans campak di RS lebih ditekankan pada penemuan kasus secara aktif. Setiap hari petugas kesehatan di bangsal dan poliklinik anak memeriksa adanya kasus maupun kematian campak. Perlu diingat bahwa
6

kematian akibat campak sebagian besar disebabkan oleh komplikasi terutama broncho pneumonia, diare dan encephalitis. Setelah penemuan kasus lalu dilakukan pencatatan dan pelaporan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. e. KLB Campak Penyelidikan KLB campak bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi KLB berdasarkan waktu kejadian, umur dan status imunisasi penderita, sehingga dapat diketahui luas wilayah yang terjangkit dan kelompok yang teresiko. Disamping itu juga untuk mendapatkan faktor risiko terjadinya KLB sehingga dapat dilakukan tindak lanjut. Suatu kondisi dinyatakan sebagai KLB campak apabila terdapat kasus campak di suatu wilayah yang melebihi dari kondisi biasa, seperti meluasnya wilayah yang terjangkit dan meningkatnya jumlah populasi yang terserang, atau adanya kematian karena campak atau jika ada 5 kasus dalam satu wilayah puskesmas dalam kurun waktu 4 minggu (tidak cluster) maka harus diambil spesimennya untuk membuktikan apakah merupakan kasus campak atau bukan (Dirjen P2PL, 2008) f. Penanggulangan campak Langkah-langkah penanggulangan campak dalam sistem surveilans epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008). Langkah-langkah penanggulangan : Tata laksana kasus adalah kegiatan yang meliputi pengobatan penderita yang tidak komplikasi, pemberian vitamin A, pengobatan Komplikasi di puskesmas (antibiotik ), apabila keadaan penderita cukup berat, segera rujuk ke rumah sakit. Imunisasi Respon imunisasi pada KLB campak dapat dilakukan seperti berikut, sesuai situasi :

Imunisasi selektif, dengan cara meningkatkan cakupan imunisasi rutin di desa terjangkit dan sekitarnya, upayakan cakupan 100 % dan melakukan imunisasi campak kepada seluruh anak usia 6 bl 5 th yang tidak mempunyai riwayat imunisasi campak yang berkunjung ke puskesmas maupun posyandu hingga 1 bulan dari kasus terakhir

Pemberian imunisasi campak masal : yaitu memberikan imunisasi campak secara masal kepada seluruh anak pada golongan umur tertentu tanpa melihat status imunisasi anak tersebut. Pelaksanaan imunisasi masal ini harus dilaksanakan sesegera mungkin, sebaiknya pada saat daerah tersebut diperkirakan belum terjadi penularan secara luas. Selanjutnya cakupan imunisasi rutin tetap dipertahankan tinggi dan merata.

Penyuluhan Masyarakat diingatkan akan bahaya penyakit campak dan pentingnya imunisasi dan makanan cukup gizi. Segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan bila ada gejala panas. Mencegah kematian dan komplikasi dengan pemberian vitamin A.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 th Campak dapat menyerang semua golongan umur, namun resiko campak lebih besar pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 th. Campak dapat terjadi dimana saja, mamun campak mempunyai resiko lebih besar terjadi pada daerah yang cakupan imunisasi rendah (<
80%), daerah kumuh atau pengungsian, daerah yang rawan gizi, daerah sulit dijangkau dari pelayanan kesehatan dan daerah yang masyarakatnya tidak menerima imuisasi.

B. Saran

Waktu terjadinya campak dapat terjadi kapan saja, tidak bergantung musim.

Masyarakat harus memberi imunisasi pada anaknya Masyarakat harus menjaga gizi anak Masyarakat harus menjaga kesehatan lingkungannya dan kebersihan dirinya

DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011). Pedoman

Pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak dan Polio. Dirjen P2PL, Jakarta Dirjen P2PL (2008). Petunjuk Teknis Surveilans Campak. Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi, Jakarta . (2011). Penyakit Campak (Jurnal Elektronik) Diakses 29 Mei 2012 ; http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/458034/ Soedjatmiko.Jangan.Anggap.Remeh.Campak Pada Balita Elektronik) Diakses 29 Mei 2012; http://health.kompas.com/read/ (Jurnal

10