Anda di halaman 1dari 36

TUGAS ASUHAN KEBIDANAN IV MASA NIFAS

Dosen Pembimbing: Sri Utami S.ST, M.MKes

Nama Anggota: Alifiyah Lailatul Fitri Ayu Ilmiya Dia Ayu Perwita Sari Firmanida Kurnia Ika Dewi Afriyanti Iluk Rahmawati Maulina Mafika Sari Risa Agustin Sofi Ferdiana Kelas : IV / C (1004.097) (1004.101) (1004.104) (1004.108) (1004.112) (1004.113) (1004.118) (1004.130) (1004.137)

AKADEMI KEBIDANAN DELIMA PERSADA GRESIK 2011 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat, hidayah dan inayah-Nya, suatu kebahagiaan yang tiada terkira, satu keagungan dari Sang Pencipta ALLAH SWT melalui tangan dan pikiran penulis Insya Allah dengan ijin-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas yang berjudul MASA NIFAS. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Sri Utami, SST.,M.Mkes selaku Direktur Akademi Kebidanan Delima Persada Gresik. 2. Teman-teman yang telah membantu terseleseikannya makalah kami. Demi pengembangan kreativitas dan kesempurnaan buku materi ini penulis menunggu saran dari para pembaca, baik dari segi isi, istilah serta pemaparannya. Harapan penulis, semoga buku materi ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi para pembaca. Disadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu kami mohon maaf serta mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya dengan iringan doa yang tulus ikhlas semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Gresik, 13 Maret 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Masa nifas adalah Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari

menurut hitungan awam merupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk terus dipantau. Nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu.

1.2

Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Dengan adanya makalah ini secara umum bertujuan untuk menyelesaikan tugas asuhan kebidanan IV tentang Masa Nifas.

bertujuan secara umum juga agar pembaca dapat lebih memahami isi makalah yang kita sajikan. 1.2.2 Tujuan khusus Dan dengan adanya makalah ini bertujuan agar penulis dapat memahami dan menambah pengetahuan bagi penulis.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Deteksi Dini Komplikasi Masa Nifas 2.1.1 Perdarahan Pervaginam Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan, terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini :

Perkiraan kehilangan darah biasannya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam ember dan lantai.

Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.

Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok. Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan

akan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan fase persalinan.

2.1.2

Infeksi Masa Nifas Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan,

Infeksi masa nifas masih merupakanpenyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas kesaluran

urinary, payudara, dan pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas, malaise, denyut nadi cepat. Gejala lokal dapat berupa Uterus lembek, kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria.

2.2.3

Sakit Kepala, Nyeri Epigastrik, Penglihatan Kabur Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya Eklampsia post

partum, bila disertai dengan tekanan darah yang tinggi.

2.2.4

Pembengkakan di Wajah atau Ekstrenitas Ini berhubungan dengan no 3.

2.2.5

Demam, Muntah, Rasa Sakit Waktu Berkemih Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan

air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang ditimbulkan oleh epiosomi yang lebar, laserasi, hematom dinding vagina.

2.2.6 Payudara yang Berubah Menjadi Merah, Panas, dan Terasa Sakit Disebabkan oleh payudara yang tidak disusu secara adekuat, putting susu yang lecet, BH yang terlalu ketat, ibu dengan diet jelek, kurang istirahat, anemia.

2.2.7

Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu yang Lama Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat mengganggu

nafsu makan,sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin berikan ibu minuman hangat,susu,kopi atau teh yang bergula untuk mengembalikan tenaga yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya ringan,karena alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.

2.2.8

Rasa Sakit, Merah, Lunak dan Pembengkakan di Kaki Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-

vena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi.

2.2.9 Merasa Sedih atau Tidak Mampu Mengasuh Sendiri Bayinya dan Dirinya Sendiri Penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami kebanyakan wanita hamil dan melahirkan, rasa nyeri pada awal masa nifas,kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan, kecemasan akan kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit, ketakutan akan menjadi tidak menarik lagi.

2.2

Infeksi Masa Nifas 2.2.1 Definisi Menurut Krisnadi (2005), infeksi nifas adalah infeksi jalan lahir pascapersalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Demam nifas juga disebut morbiditas nifas dan merupakan indeks

kejadian infeksi nifas. Demam dalam nifas selain oleh infeksi nifas juga dapat disebabkan oleh pielitis, infeksi jalan pernafasan, malaria, dan tifus. Dalam Manuaba (1998) dijelaskan bahwa setelah persalinan, terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya

pembentukan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningktan suhu badan sekitar 0,5C yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam tubuh sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Oleh karena itu, infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genetalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama 2 hari.

Joseph dan Nugroho (2010) dan Prawirohardjo (2006) juga memberikan definisi yang sama mengenai infeksi nifas yaitu infeksi

bakteri pada dan melalui traktus genitalia yang terjadi sesudah melahirkan , ditandai kenaikan suhu sampai 38C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi di dalam masa nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak ditemukan sebab-sebab ekstragenital

(Prawirohardjo, 2006).

2.2.2

Infeksi Luka Perineum dan Luka Abdominal 2.2.2.1 Etiologi Disebabkan oleh keadaan yang kurang bersih dan tindakan pencegahan infeksi kurang baik (Prawirohardjo, 2006).

2.2.2.2 Manifestasi Klinis Menurut Krisnadi (2005), manifestasi klinis infeksi luka perineum dan abdominal yaitu: 1) Luka perineum menjadi nyeri, merah, dan bengkak akhirnya luka terbuka dan mengeluarkan getah bernanah. Perasaan nyeri dan panas timbul pada luka yang terinfeksi dan jika terjadi pernanahan dapat disertai dengan dengan suhu yang tinggi dan menggigil. 2) Infeksi luka serviks jika lukanya dalam sampai ke parametrium, dapat menimbulkan parametritis

2.2.2.3 Penanganan Penanganan spesifik pada infeksi luka perineum dan luka abdominal menurut Prawirohardjo (2006) yaitu: 1) Bedakan antara wound abcess, wound seroma, wound hematoma, dan wound cellulitis. a) Wound abcess, wound seroma, dan wound hematomaI suatu pengerasan yang tidak biasa dengan

mengeluarkan cairan serousatau kemerahan dan tidak ada / sedikit erithema sekitar luka. b) Wound cellulitis didapatkan eritema dan edema meuluas mulai dari tempat insisi dan melebar. 2) Bila didapatkan pus dan cairan pada luka, buka, dan lakukan pengeluaran. 3) Daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan debridement 4) Bila infeksi sedikit tidak perlu antibiotika 5) Bila infeksi relative superficial, berikan ampisilin 500 mg per oral setiap 6 jam dan metronidazol 500 mg per oral 3x/hari selama 5 hari 6) Bila infeksi dalam dan melibatkan otot dan menyebabkan nekrosis, beri penisilin G 2 juta U IV setiap 4 jam (atau ampisilin inj 1 g 4x/hari) ditambah dengan gentamisisn 5 mg/kg berat badan perhari IV sekali ditambah dengan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam, sampai bebas panas selama 24 jam. bila ada jaringan nekrotik harus dibuang. Lakukan jahitan sekunder 2-4 minggu setelah infeksi membaik. 7) Berikan nasehat kebersihan dan pemakaian pembalut yang bersih dan sering diganti.

2.2.3

Endometritis/Metritis Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan

salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kuirang adekuat dapat menjadi abses pelvic, peritonitis, syok septic, thrombosis vena yang dalam, emboli pulmonal, infeksi pelvic yang menahun, dispareunia, penyumbatan tuba, dan infertilitas (Prawirohardjo, 2006).

2.2.3.1 Patologi Infeksi puerperalis paling sering menjelma sebagai endometritis. Setelah masa inkubasi, kuman-kuman menyerbu ke dalam luka endometriumm, biasanya pada bekas perlekatan plasenta. Leukosit-leukosit segera membuat pagar pertahanan dan keluarlah serum yang mengndung zat anti, sedangkan otot-otot berkontraksi dengan kuat, rupanya dengan maksud menutup aliran darah dan limfe. Ada kalanya endometritis menghalangi involusi (Krisnadi, 2005).

2.2.3.2 Manifestasi Klinis Menurut Krisnadi (2005), manifestasi klinis infeksi luka perineum dan abdominal yaitu: 1) Gambaran klinik endometritis berbeda-beda bergantung virulensi kuman penyebabnya. Biasanya demam mulai 48 jam pascapersalinan dan bersifat naik turun (remitten). 2) His royan lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan. Lokea bertambah banyak, berwarna merah atau coklat, dan berbau. Lokea yang berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering ada subinvolusi. Leukosit naik antara 15000-30000/mm3. 3) Sakit kepala, kurang tidur, dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Jika infeksi tidak meluas, suhu turun berangsur-angsur dan normal pada hari ke-7-10.

2.2.3.3 Penanganan Penanganan spesifik pada infeksi luka perineum dan luka abdominal menurut Prawirohardjo (2006) yaitu: 1) Berikan transfuse jika dibutuhkan. Berikan Packed Red Cell. 2) Berikan antibiotika broadspektrum dalam dosis yang tinggi. Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam ditambah

gentamisisn 5 mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam. Lanjutkan antobiotika ini sampai ibu tidak panas dalam 24 jam. 3) Pertimbangkan pemberian antitetanus profilaksis 4) Bila dicurigai adanya sisa placenta, lakukan pengeluaran (digital atau dengan kuretase yang lebar) 5) Bila ada pus lakukan drainase (kalau perlu kolpotomi), ibu dalam posisi semi fowler. 6) Bila tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif dan ada tanda peritonitis generalisata lakukan laparatomi dan keluarkan pus. Bila pada evaluasi uterus nekrotik dans septic lakukan histerektomi subtotal.

2.2.4

Tromboflebitis Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan invasi

mikroorganisme pathogen yang mengikuti aliran darah vena di sepanjang vena dan cabang-cabangnya sehingga terjadi tromboflebitis

(Praworohardjo, 2006). Penjalaran infeksi melalui vena sering terjadi dan merupakan penyebab terpenting dari kematian karena infeksi puerperalis (Krisnadi, 2005).

2.2.4.1 Tromboflebitis Pelvika/Pelviotromboflebitis a. Patologi Yang paling sering meradang ialah vena ovarika karena mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri.Penjalaran tromboflebitis pada vena ovarika kiri ialah ke vena renalis dan vena ovarika kanan ke vena kava inferior. Trombosis yang terjadi setelah peradangan bermaksud untuk menghambat perjalanan mikroorganisme. Dengan proses ini, infeksi dapat sembuh, tetapi jika daya tahan tubuh kurang, thrombus dapat menjadi nanah (Krisnadi, 2005).

Bagian-bagian kecil thrombus terlepas dan terjadilah emboli atau sepsis dan karena embolus ini mengandung pus disebut juga pyaemia. Embolus ini biasanya tersangkut pada paru, ginjal, atau katub jantung. Pada paru dapat menimbulkan infark,. Jika derah yang mengalami infark meluas, pasien meninggal dengan mendadak dan jika pasien tidak meninggal, dapat timbul abses paru (Krisnadi, 2005). b. Manifestasi Klinis Biasanya terjadi pada minggu ke-2 seperti demam menggigil, biasanya pasien sudah memperlihatkan suhu yang tidak tenang seperti pada endometritis sebelumnya. Jika membuat kultur darah, sebaiknya diambil waktu pasien menggigil atau sesaat sebelumnya. Penyulit adalah abses paru, pleuritis, pneumoni, dan abses ginjal. Kematian biasanya karena penyulit paru (Krisnadi, 2005). Manifestasi klinis lain dalam (Prawihardjo, 2006) antara lain: 1) Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas. 2) Penderita tampak sakit berat 3) Menggigil berulang kali. Menggigil inisial terjdi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas. 4) Suhu badan naik secara tajam (36C menjadi 40C), yang diikuti dengan penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis) 5) Penyakit dapat berlangsung 1-3 bulan. 6) Cenderung terbentuk pus yang menjalar kemana-mana terutama ke paru-paru.

7) Pada pemeriksaan dalam hampir tidak ditemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika, yang sukar dicapai pada pemeriksaan dalam. 8) Gambaran darah: a) Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leucopenia) b) Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat yang tepat sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya anaerob. c. Penanganan Dalam (Prawihardjo, 2006) dijelaskan penanganan

tromboflebitis pelvic sebagai berikut: 1) Rawat inap: penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya emboli pulmonal. 2) Terapi medik: pemberian antibiotika (lihat antibiotika kombinasi dan alternatif, seperti pada penatalaksaan korioamnionitis), heparin jika terdapat tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum 3) Terapi operatif: pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septic terus berlangsung sampai mencapai paru-paru, meskipun sedang dilakukan heparinasi. d. Komplikasi Komplikasi-komplikasi (Prawihardjo, 2006) antara lain: 1) Komplikasi pada paru-paru: infark, abses, penuemonia 2) Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti dengan proteinuria dan hematuri 3) Komplikasi pada persendian, mata, dan jaringan subkutan yang dapat timbul dalam

2.2.4.2 Tromboflebitis Femoralis a. Patologi Dapat terjadi tromboflebitis vena safena magna atau peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran tromboflebitis vena uterine (vena uterine, vena hipogastrika, vena iliaka eksterna, vena femoralis), dan akibat parametritis. Tromboflebitis vena femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat di daerah lipat paha karena vena tersebut, yang tertekan oleh ligament inguinale, juga karena dalam masa nifas kadar fibrinogen meninggi (Krisnadi, 2005). Pada tromboflebitis femoralis terjadi edema tungkai yang mulai pada jari kaki, naik ke kaki, betis, dan paha, bila tromboflebitis itu mulai pada vena safena atau vena femoralis. Sebaliknya bila terjadi sebagai lanjutan dari tromboflebitis pelvika, edema mulai terjadi pada paha dan kemudian turun ke betis (Krisnadi, 2005). Biasanya hanya satu kaki yang bengkak, tetapi kadangkadang keduanya. Tromboflebitis femoralis jarang menimbulkan emboli. Penyakit ini juga terkenal dengan nama phlegmasia alba dolens (radang yang putih dan nyeri) (Krisnadi, 2005). b. Manifestasi Klinis Dalam Krisnadi (2005) dan Prawihardjo (2006) manifestasi klinis dari tromboflebitis femoralis antara lain: 1) Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 710 hari, kemudian mendadak naik kira-kira pada hari ke 1020, yang disertai dengan menggigil nyeri sekali pada tungkai, biasanya yang kiri. 2) Kaki yang sakit biasanya lebih panas dari kaki yang sehat. 3) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar bergerak. 4) Palpasi menunjukkan adanya nyeri hebat (pada lipat paha dan daerah paha) sepanjang salah satu vena kaki yang

teraba sebagai alur yang keras dan tegang biasanya pada paha. 5) Timbul edema yang jelas sebelum atau setelah nyeri, yang biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan kemudian naik ke atas. Edema ini lambat sekali hilang. Keadaan umum pasien tetap baik. Kadang-kadang terjadi tromboflebitis pada kedua tungkai. 6) Reflektorik akan terjadi spasmus srteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin, dan penurunan pulsasi. 7) Nyeri pada betis yang dapat terjadi spontan atau dengan memijit betis atau dengan meregangkan tendon achiles (tanda Hoffman). c. Penanganan Penangan tromboflebitis femoralis dalam Prawihardjo (2006) antara lain: 1) Perawatan: kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan kompresi pada kaki. Setelah mobilisasi kaki hendaknya tetap dibalut elastik atau memakai kaos kaki panjang yang elastik selama mungkin. 2) Mengingat kondidi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan menyusui. 3) Terapi medik: pemberian antibiotic dan analgesia

2.2.5

Sepsis Puerperalis 2.2.5.1 Patologi Terjadi kalau setelah persalinan ada sarang sepsis dalam badan yang secara terus-menerus atau periodic melepaskan mikroorganisme pathogen ke dalam peredaran darah (Krisnadi, 2005). Pada sepsis ini dibedakan menjadi: 1) Port dentre: biasanya bekas insersi placenta

2) Sarang sepsis primer: tomboplebitis pada vena uterine atau vena ovarika 3) Sarang sepsis sekunder (metastasis): misalnya di paru sebagai abses paru atau pada katup jantung sebagai endokarditis ulserosa septika. dasamping itu, dapat terjadi abses di ginjal, di hati, limpa, dan otak (Krisnadi, 2005).

2.2.5.2 Manifestasi Klinis Suhu tinggi (40C atau lebih, biasanya remittens), menggigil, keadaan umum memburuk (nadi kecil dan tinggi, nafas cepat, dan gelisah), dan Hb menurun karena hemolisis dan lekositosis (Krisnadi, 2005).

2.2.6

Peritonitis 2.2.6.1 Patologi Infeksi puerpuralis melalui saluran getah bening dapat menjalar ke peritoneum hingga terjadi peritonitis atau ke parametrium menyebabkan parametritis. Jika peritonitis ini terbatas pada rongga panggul disebut pelveo peritonitis, sedangkan jika seluruh peritoneum meradang kita mengahadapi peritonitis umum. Prognosis peritonitis umum jauh lebih buruk dari pelveo peritonitis (Krisnadi, 2005).

2.2.6.2 Manifestasi Klinis Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi, demam menggigil, nadi tinggi dan kecil, perut kembung (kadang-kadang ada diare), muntah, pasien gelisah dan mata cekung dan sebelum mati ada delirium dan koma (Krisnadi, 2005).

2.2.6.3 Penanganan Dalam berdasarkan Prawihardjo penyebaran (2006) penanganan akibat dibedakan peritonitis

atau

keparahan

dijelaskan sebagai berikut:

Abses pelvis 1) Bila pelvic abses ada tanda cairan fluktuasi pada daerah cul-de-sac, lakukan kolpotomi atau dengan laparotomi. Ibu posisi Fowler. 2) Berikan antibiotika broadspektrum dalam dosis yang tinggi. Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam. lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panas selama 24 jam Peritonitis 1) Lakukan nasogastric sunction 2) Berikan infus (NaCl atau Ringer Laktat) 3) Berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam. Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr selama 6 jam, ditambah gentamisisn 5mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam. 4) Laparatomi diperlukan untuk pembersihan perut

(peritoneal lavage)

2.2.7

Parametritis (cellulitis pelvic) 2.2.7.1 Patologi Menurut Mochtar (1998) parametritis dapat terjadi dengan 3 cara yaitu: a. Melalui robekan serviks yang dalam b. Penjalaran endometritis atau luka serviks yang terinfeksi melalui saluran getah bening c. Sebagai lanjutan tromboflebitis pelvika Jika terjadi infeksi parametrium, timbulah pembengkakan yang mula-mula lunak, tetapi kemudian menjadi keras sekali. Infiltrat ini dapat terjdi hanya pada dasar ligament latum, tetapi dapat juga bersifat luas, misalnya dapat menempati seluruh

parametrium sampai dinding panggul dan dinding perut perut depan di atas ligament inguinale. Jika infiltrate menjalar ke belakang dapat menimbulkan pembengkakan di belakang serviks (Krisnadi, 2005). Eksudat ini lambat laun diresorpsi atau menjadi abmemecah di daerah lipat paha di atas ligament inguinale atau ke dalam cavem Douglas. Parametritis biasanya unilateral dan karena biasanya sebagai akibat luka serviks, lebih sering terdapat pada primipara daripada multipara (Krisnadi, 2005). 2.2.7.2 Manifestasi Klinis Parametritis harus dicurigai bila suhu pasca persalinan tetap tinggi lebih dari 1 minggu. Gejala berupa nyeri pada sebelah atau kedua belah perut bagian bawah sering memancar pada kai. Setelah beberapa waktu pada pemeriksaan dalam, dapat teraba infiltrate dalam parametrium yang kadang-kadang mencapai dinding panggul. Infiltrat ini dapat diresorpsi kembali, tetapi lambat sekali, menjadi keras, dan tidak dapat digerakkan. Kadang-kadang infiltrate ini menjadi abses (Krisnadi, 2005).

2.2.8 Radang Payudara (Mastitis) Proses infeksi pada payudara menimbulkan pembengkakan lokal atau seluruh payudara, merah dan nyeri. Peradangan mengenai stroma payudara yang terdiri dari jaringan ikat, lemak, pembuluh darah, dan getah bening. Biasanya terjadi pada minggu kedua, ibu merasa demam umum seperti influenza (Krisnadi, 2005). Biasanya didahului oleh putting lecet, payudara bengkak atau sumbatan saluran susu. Ibu dengan anemi, gizi buruk, kelelahan dan stress juga merupakan factor predisposisi. Penanggulangannya adalah sebagai berikut: a. Ibu harus terus menyusui agar payudara b. Kompres hangat dan dingin seperti pada payudara bengkak c. Memperbaiki posisi menyusui, terutama bila terdapat putting lecet

d. Istirahat cukup, makanan yang bergizi e. Minum sekitar 2 liter per hari f. Antibiotic g. Analgesic Dalam Prawirohardjo (2006), penanganan untuk ibu yang menusui bayinya dan tidak menyusui dibedakan. Bila ibu menyusui bayinya: a. Susukan sesering mungkin b. Kedua payudara disusukan c. Kompres hangat payudara sebelum disusukan d. Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui e. Sangga payudara f. Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui g. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam h. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasil Bila ibu tidak menyusui bayinya: a. Sangga payudara b. Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit c. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral selama 4 jam d. Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara.

2.3

Perdarahan Post Partum 2.3.1 Definisi Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam massa 24 jam setelah anak lahir. (Sinopsis Obstetri: 298) Perdarahan post partum adalah prdarahan yang melebihi 500 cc dalam 24 jam pertama setelah anak lahir. (Obstetri Patologi: 231) Kesimpulannya perdarahan postpartum adalah perdarahan 500 cc atau lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir).

2.3.2

Jenis

1. Perdarahan postpartum dini bila terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. 2. Perdarahan postpartum lambat bila terjadi setelah 24 jam pertama.

2.3.3

Atonia Uteri Suatu kondisi kegagalan uterus dalam berkontraksi dengan baik

setelah persalinan, sedangkan atonia uteri juga didefinisikan sebagai tidak adanya kontraksi uterus segera setelah plasenta lahir. Pada atonia uteri tidak mengadakan kontraksi dengan baik, dan ini merupakan sebab utama dari perdarahan postpartum. uterus teregang (hidroamnion, kehamilan ganda atau kehamilan dengan janin besar), partus lama dan pemberian narcosis predisposisi unutk terjadinya atonia uteri.

2.3.3.1 Faktor Predisposisi Dalam kasus atonia uteri penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Namun demikian ada beberapa faktor predisposisi yang biasa dikenal. Antara lain: 1. Distensi rahim yang berlebihan Penyebab distensi uterus yang berlebihan antara lain: a. Kehamilan ganda b. Poli hidramnion c. Makrosomia janin (janin besar) Peregangan uterus yang berlebihan karena sebab-sebab tersebut akan mengakibatkan uterus tidak mampu

berkontraksi segera setelah plasenta lahir. 2. Pemanjangan masa persalinan (partus lama) dan sulit Pada partus lama uterus dalam kondisi yang sangat lelah, sehingga otot-otot rahim tidak mampu melakukan kontraksi segera setelah plasenta lahir.

3. Grandemulitpara (paritas 5 atau lebih) Kehamilan seorang ibu yang berulang kali, maka uterus juga akan berulang kali teregang. Hal ini akan menurunkan kemampuan berkontraksi dari uterus segera setelah plasenta lahir. 4. Kehamilan dengan mioma uterus Mioma yang paling sering menjadi penyebab perdarahan post partum adalah mioma intra mular, dimana mioma berada di dalam miometrium sehingga akan menghalangi uterus berkontraksi. 5. Persalinan buatan (SC, Forcep dan vakum ekstraksi) Persalinan buatan mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera mengeluarkan buah kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin menjadi lelah dan lemah untuk berkontraksi. 6. Persalinan lewat waktu Peregangan yang berlebihan ada otot uterus karena besarnya kehamilan, ataupun juga terlalu lama menahan beban janin di dalamnya menjadikan otot uterus lelah dan lemah untuk berkontraksi. 7. Infeksi intrapartum Korioamnionitis adalah infeksi dari korion saat intrapartum yang potensial akan menjalar pada otot uterus sehingga menjadi infeksi dan menyebabkan gangguan untuk

melakukan kontraksi. 8. Persalinan yang cepat Persalainan cepat mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera mengeluarkan buah kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin menjadi lelah dan lemah untuk berkontraksi.

9. Kelainan plasenta Plasenta akreta, plasenta previa dan plasenta lepas prematur mengakibatkan gangguan uterus untuk berkontraksi.

Adanya benda asing menghalangi kontraksi yang baik untuk mencegah terjadinya perdarahan. 10. Anastesi atau analgesik yang kuat Obat anastesi atau analgesi dapat menyebabkan otot uterus menjadi dalam kondisi relaksasi yang berlebih, sehingga saat dibutuhkan untuk berkontraksi menjadi tertunda atau terganggu. Demikian juga dengan magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada

preeklamsi/eklamsi yang berfungsi sebagai sedativa atau penenang. 11. Induksi atau augmentasi persalinan Obat-obatan uterotonika yang digunakan untuk memaksa uterus berkontraksi saat proses persalinan mengakibatkan otot uterus menjadi lelah. 12. Penyakit sekunder maternal Anemia, endometritis, kematian janin dan koagulasi intravaskulere diseminata merupakan penyebab gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan tonus uterus terhambat untuk berkontraksi.

2.3.3.2 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala atonia uteri adalah: 1. Perdarahan pervaginam Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah tidak merembes. Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan, hal ini terjadi karena tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku darah.

2. Konsistensi rahim lunak Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya. 3. Fundus uteri naik Disebabkan adanya darah yang terperangkap dalam cavum uteri dan menggumpal 4. Terdapat tanda-tanda syok Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain.

2.3.3.3 Penatalaksanaan Atonia Uteri Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penanganan kasus atonia uteri: 1. Berikan 10 unit oksitosin IM. 2. Lakukan massage uterus untuk mengeluarkan gumpalan darah. Periksa lagi dengan teknik aseptik apakah plasenta utuh. Pemeriksaan menggunakan sarung tangan DTT atau steril, usap vagina dan ostium serviks untuk menghilangkan jaringan plasenta atau selaput ketuban yang tertinggal. 3. Periksa kandung kemih ibu jika kandung kemih ibu bisa dipalpasi atau gunakan teknik aseptik untuk memasang kateter ke dalam kandung kemih (menggunakan kateter karet steril/DTT). 4. Gunakan sarung tangan DTT/steril, lakukan KBI selama maksimal 5 menit atau hingga perdarahan bisa dihentikan dan uterus berkontraksi dengan baik. 5. Anjurkan keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan. 6. Jika perdarahan bisa dihentikan dan uterus berkontraksi baik, teruskan KBI selama 1-2 menit. 7. Keluarkan tangan dengan hati-hati dari vagina.

8. Pantau

kala

IV

dengan

seksama,

termasuk

sering

melakukan masase, mengamati perdarahan, tekanan darah dan nadi. 9. Jika perdarahan tidak terkendali dan uterus tidak

berkontraksi dalam waktu 5 menit setelah dimulainya KBI, ajari salah satu keluarga melakukan KBE. 10. Keluarkan tangan dari vagina dengan hati-hati. 11. Jika tidak ada tanda-tanda hipertensi pada ibu, berikan methergin 0,2 mg IM 12. Mulai infus RL 500cc + 20 unit oksitosin menggunakan jarum berlubang besar (16/18 G) dengan teknik aaseptik. Berikan 500cc pertama secepat mungkin dan teruskan dengan IV RL + 20 unit oksitosin kedua. 13. Jika uterus tetap tidak kontraksi maka ulangi KBI. 14. Jika berkontraksi, lepaskan tangan anda perlahan-lahan dan pantau kala IV dengan seksama. 15. Jika uterus tidak berkontraksi, rujuk segera. 16. Dampingi ibu ke tempat rujukan, teruskan infus dengan kecepatan 500cc/jam hingga ibu mendapatkan total 1,5 liter dan kemudian turunkan hingga 125cc/jam.

2.3.4 Laserasi Jalan Lahir Perlukaan serviks, vagina dan perineum dapat menimbulkan perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan postpartum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan postpartum dengan uterus yang

berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robelan servik atau vagina. 1. Robekan atau perlukaan serviks Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9. bibir depan dan bibir belakang servik dijepit dengan klem

fenster

kemudian

serviks

ditariksedidikit

untuk

menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit dengan catgut kromik dimulai dari ujung untuk menghentikan perdarahan. Ciri-ciri perdarahan karena robekan serviks: a. Kontraksi uterus kuat b. Darah berwarna merah muda karena berasal dari arteri c. Biasanya timbul setelah persalinan operatif Penyebab robekan serviks: a. Partus presipitatus b. Trauma krn pemakaian alat-alat operasi c. Melahirkan kepala pada letak sungsang secara paksa, pembukaan belum lengkap d. Partus lama 2. Robekan atau perlukaan vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan perinium tidak seberapa sering terdapat.Mungkin

ditemukan sesudah persalinan biasa,tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam,lebih-lebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan dengan spekulum.Perdarahan biasanya banyak, tapi mudah diatasi dengan jahitan. Kadang-kadang robekan bagian atas vagina terjadi sebagai akibat menjalarnya robekan serviks.Apabila ligamentum latium terbuka dan cabang-cabang arteri terputus,timbul banyak perdarahan yang membahayakan jiwa

penderita.Apabila perdarahan demikian itu sukar dikuasai dari bawah,terpaksa dilakukan laparatomi dan ligamentum latium dibuka untuk menghentikan perdarahan, jika hal yang terakir ini tidak berhasil,arteri hipogaspika yang bersangkutan perlu dilihat.

3. Robekan atau perlukaan perineum Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika Ada 4 tingkatan robekan yang dapat terjadi pada persalinan: a. Robekan tingkat I yang mengenai mukosa vagina dan jaringan ikat. b. Robekan tingkat II mengenai alat-alat dibawahnya. c. Robekan tingkat III mengenai M.Spingter Ani. d. Robekan tingkat IV mengenai mukosa rectum. Yang dapat menyebabkan terjadinya ruptura perimi; a. Partus Presipatatus b. Kepala janin besar dan janin besar c. Pada persentasi defleksi(dahi,muka) d. Pada primi graviga(pora) e. Pada letak sungsang dan after Coming Head f. Pimpinan persalinan yang salah g. Pada obstetri speratif forceps,versi per dan vaginam,ekstrosi ekstraksi serta

vakum,ekstresi embriotomi

h. Kepala anak terlalu cepat lahir i. Arcus pubis sempit j. Vagina sempit k. Perinium kaku l. Posisi Occipito posterior

2.3.5 Hematoma Hematoma yang biasanya terdapat pada daerah-daerah yang mengalami laserasi atau pada jahitan perineum. Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik. Hematoma yang kecil diatasi dengan es, analgesic dan pemantauan yang terus menerus. Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik. Hematoma yang kecil diatasi dengan es, analgesic dan pemantauan yang terus menerus. Biasanya hematoma ini dapat diserap kembali secara alami.

2.3.6 Lain-lain a. Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus, sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka. b. Ruptura uteri Robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. Robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya

perioneum visceral Etiologi Riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus Induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan yang lama Presentasi abnormal (terutama terjadi penipisan pada segmen bawah uterus)

Tanda dan Gejala

Nyeri tajam, yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat memuncak

Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri

Perdarahan hemoragi)

vagina

(dalam

jumlah

sedikit

atau

Terdapat tanda dan gejala syok, denyut nadi meningkat, tekanan darah menurun dan sesak

c. Inversion uteri Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta. Pembagian inversio uteri : 1. Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri namun belum keluar dari ruang rongga rahim. 2. Inversio uteri sedang : Terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina. 3. Inversio uteri berat : Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina. Penyebab inversio uteri : 1. Spontan : grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan, tekanan intra abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk). 2. Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang dipaksakan, perlekatan plasenta pada dinding rahim. Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri : 1. Uterus yang lembek, lemah, tipis dindingnya.

2. Tarikan tali pusat yang berlebihan. Gejala klinis inversio uteri : Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat, perdarahan yang banyak sampai syok. Apalagbila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis. Pemeriksaan dalam : 1. Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam. 2. Bila komplit, di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak. 3. Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik). Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan postpartum, yaitu: 1. Penghentian perdarahan 2. Jaga jangan sampai timbul syok 3. Penggantian darah yang hilang

2.4

Gangguan Psikologi Masa Nifas 2.4.1 Depresi Pasca Kelahiran (Post Partum Blues) 2.4.1.1 Pengertian Post Partum Blues Post Partum Blues (PBB) sering juga disebut sebagai maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yangsering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.

2.4.1.2 Penyebab Post Partum Blues Dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan, tetapi bila tidak ditatalaksanai dengan baik dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang

mengalaminya, dan bahkan gangguan ini dapat berkembang

menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama dalam hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anknya.

2.4.1.3 Gejala Post Partum Blues Gejala-gejala yang terjadi: reaksi depresi/sedih/disforia, tidak sabar, tidak percaya diri, menangis tanpa sebab, mudah tersinggung atau iritabilitas, cemas tanpa sebab, labil, cendrung menyalahkan diri sendiri, Merasa kurang menyayangi

bayinya, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.

2.4.1.4 Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan Banyak faktor yang dianggap mendukung pada sindroma ini: 1. Faktor hormonal yang terlalu rendah 2. Faktor demografik yaitu umur dan parietas 3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan 4. Latar belakang psikososial yang bersangkutan Cara mengatasinya : Mempersiapkan persalinan dengan lebih baik, maksudnya disini tidak hanya menekankan pada materi tapi yang lebih penting dari segi psikologi dan mental ibu. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik. Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : 1. Mendorong pasien mampu meredakan segala

ketegangan emosi. 2. Dapat memahami dirinya 3. Dapat mendukung tindakan konstruktif.

Dengan cara peningkatan support mental/ dukungan keluarga. 1. Minta bantuan suami atau keluarga yang lain, jika membutuhkan kelelahan. 2. Beritahu suami mengenai apa yang sedang ibu rasakan. Mintalah dukungan dan pertolongannya. 3. Menyarankan ibu untuk membuang rasa cemas dan kekhawatiran akan kemampuan merawat bayi karena semakin sering merawat bayi, ibu akan semakin terampil dan percaya diri. 4. Menyarankan ibu untuk mencari hiburan dan istirahat untuk menghilangkan

meluangkan waktu untuk diri sendiri. Pencegahannya dapat dilakukan dengan: 1. Beristirahat ketika bayi tidur 2. Berolah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu 3. Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi 4. Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan 5. Bersikap fleksibel dan bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru 6. Kesempatan merawat bayi hanya datang satu kali

2.4.2 Depresi Post Partum 2.4.2.1 Pengertian Depresi Post Partum Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari, dapat terjadi kapan pun bahkan sampai 1 tahun kedepan. Pitt tahun 1988 dalam Pitt(regina dkk,2001) depresi post paruma dalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan

kehilangan libido(kehilangan selerau ntuk berhubungan intim dengan suami). Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan, wanita tersebut secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi post partumadalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus-menerus sampai6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

2.4.2.2 Penyebab Depresi Post Partum Disebabkan karena gangguan hormonal. Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone. Pittregina (2001) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi post partum: 1. Faktor konstitusional 2. Faktor fisik hormonal 3. Faktor psikologi 4. Faktor social dan karateristik ibu yang etrjadi karena ketidakseimbangan

2.4.2.3 Gejala Depresi Post Partum Gejala yang menonjol dalam depresi post partum adalah trias depresi yaitu: 1. Berkurangnya energy 2. Penurunan efek 3. Hilang minat (anhedonia)

Ling dan Duff(2001) mengatakan bahwa gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain: 1. Trauma terhadap intervensi medis yang terjadi 2. Kelelahan dan perubahan mood 3. Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur 4. Tidak mau berhubungan dengan orang lain 5. Tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.

2.4.2.4 Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan Monks dkk (1988) mengatakan depresi post partum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas efek, kecemasan dan depresi padaibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan. Faktor resiko: 1. Keadaan hormonal 2. Dukungan social 3. Emotional relationship 4. Komunikasi dan kedekatan 5. Struktur keluarga 6. Antropologi 7. Perkawinan 8. Demografi 9. Stressor psikososial dan lingkungan Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin,steroid, progesteron dan estrogen. Untuk

mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihatsedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk: 1. Beristirahat dengan baik

2. Berolahraga yang ringan 3. Berbagi cerita dengan orang lain 4. Bersikap fleksible 5. Bergabung dengan orang-oarang baru 6. Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

2.4.3 Post Partum Psikosa 2.4.3.1 Pengertian Post Partum Psikosa Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.

2.4.3.2 Penyebab Post Partum Psikosa Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.

2.4.3.3 Gejala Post Partum Psikosa Gejala yang sering terjadi adalah: 1. Delusi 2. Halusinasi 3. gangguan saat tidur 4. obsesi mengenai bayi

2.4.3.4 Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan Pada wanita yang menderita penyakit ini dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalamwaktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.

Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian. Saran kepada penderita untuk: 1. Beristirahat cukup 2. Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang 3. Bergabung dengan orang-orang yang baru 4. Bersikap fleksible 5. Berbagi cerita dengan orang terdekat 6. Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Jadwal kunjungan rumah bagi ibu post partum mengacu pada kebijakan

teknis pemerintah, yaitu 6 hari, 2 minggu, dan 6 minggu post partum. Di setiap kali pertemuan atau kunjungan ibu nifas, bidan harus selalu memasukkan kegiatan penyuluhan dalam perencanaan asuhan.

3.2

Saran Diharapkan dengan adanya amakalah ini dapat memberi manfdaat dan

pengetahuan bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Ed.2, Jil.1. Jakarta : EGC. Padjajaran, Universitas. 2000. Obstetri Patologi. Bandung : Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Sulistyowati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Ed 1. Yogyakarta: CV Andi Offset Krisnadi, Sofie. 2005. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Ed 2 FK Universitas Padjadjaran. Jakarta: EGC. Manuaba, Ida. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo. Joseph, H. K dan Nugroho. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri (Obsgyn). Yogayakarta: Nuha Medika. http://www.scribd.com/doc/31925054/Gangguan-Psikologi-Postpartum-HANDOUT http://poizoneya.blogspot.com/2010/07/askeb-iv-gangguan-psikologipostpartum.html