Anda di halaman 1dari 15

Home About

Pengobatan Flu Burung


June 5th, 2008 Pengobatan Penanganan flu burung dapat dilakukan dengan pengobatan atau pemberian obat flu seperti Tamiflu atau jenis lainnya, tapi harus tetap dalam pengawasan dokter atau pihak rumah sakit yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan RI. Jenis obat penanggulangan infeksi flu burung ada 2, pertama adalah obat seperti amantadine dan rimantadine yaitu ion channel (M2) blocker, yang menghalagi aktivitas ion channel dari virus flu jenis A dan bukan jenis B sehingga aliran ion hydrogen dapat diblok dan virus tidak dapat berkembang biak. Sayang sekali bahwa jenis obat yang pertama ini dapat memicu tingkat resistensi virus terhadap zat obat, sehingga di hari ke 5 hingga ke 7 setelah konsumsi obat, 16-35% dari virus akan resisten karena adanya mutasi pada protein M2 pada virus. Oleh karena itu, obat jenis ini tidak dijual bebas di sembarang apotik, meskipun dengan pemberian resep dokter, karena dikhawatirkan kesalahan pemberian obat dapat menimbulkan munculnya jenis virus baru yang lebih ganas dan kebal terhadap obat ini. Jenis obat yang kedua adalah Neurimidase (NA) inhibitor, jenis seperti Zanamivir dan Oseltamivir, dengan protein NA-nya yang berfungsi melepaskan virus yang bereplikasi di dalam sel, sehingga virus tidak dapat keluar dari dalam sel. Virus ini nantinya akan menempel di permukaan sel saja dan tidak akan pindah ke sel yang lain. Jenis obat yang kedua ini tidak menimbulkan resisten pada tubuh virus seperti jenis pada ion channel blocker. Hingga sekarang peneliti telah berusaha keras untuk menciptakan jenis vaksin yang dapat mengantisipasi pandemik virus H5N1, namun karena virus ini selalu bermutasi maka dirasa penciptaan vaksin yang efektif tidak dapat cukup kuat melawan jenis virus H5N1 yang sekarang walaupun dirasa dapat efektif untuk mengantisipasi jenis baru yang akan muncul. Walaupun penelitian vaksin jenis baru sedang digalakkan, WHO mengatakan bahwa percobaan klinis virus jenis pertama haruslah tetap dilakukan sebagai langkah yang esensial untuk mengatasi pandemik yang mungkin akan terjadi. Walaupun begitu, alangkah lebih baik jika masyarakat melakukan pencegahan dan melakukan beberapa tindakan yang benar untuk mengantisipasi serangan flu burung. Tak perlu panik dan berlebih, hanya perlu untuk memperhatikan beberapa hal berikut : Vetenarian

1. Gunakan pelindung (Masker, kacamata renang, sarung tangan) setiap berhubungan dnegan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas 2. Setiap hal yang berasal dari saluran cerna unggas seperti sekresi harus ditanam/dibakar supaya tidak menular kepada lingkungan sekitar 3. Cuci alat yang digunakan dalam peternakan dengan desinfektan 4. Kandang dan Sekresi unggas tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan 5. Memasak daging ayam dengan benar pada suhu 80 derajat dalam 1 menit dan membersihkan telur ayam serta dipanaskan pada suhu 64 derajat selama 5 menit. 6. Menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri. Yang paling penting adalah : 1. Menjauhkan unggas dari pemukiman manusia untuk mengurangi kontak penyebaran virus 2. Segera memusnahkan unggas yang mati mendadak dan unggas yang jatuh sakit utnuk memutus rantai penularan flu burung, dan jangan lupa untuk mencuci tangan setelahnya. 3. Laporkan kejadian flu burung ke Pos Komando Pengendalian Flu Burung di nomor 0214257125 atau dinas peternakan-perikanan dan dinas kesehatan daerah tempat tinggal anda.

Apakah Flu Burung Bisa Menyebar Lewat Udara?


April 16th, 2011 Yusnu Iman Nurhakim

Penyebaran flu burung dapat terjadi melalui dua cara. Cara pertama, penyebaran flu burung lewat media jaringan hidup. Cara kedua, penyebaran lewat media benda-benda mati. Penyebaran pertama menggunakan jaringan hidup. Virus flu berada dalam keadaan aktif. Virus flu mula-mula menempel pada sel hidup. Kemudian inti virus flu melakukan penetrasi ke dalam sel. Inti virus flu berkembang biak di dalam sel hidup membentuk virus-virus baru. Selama pembentukan virus-virus baru, virus flu mengubah protein di dalam sel sebagai energi. Rusaknya protein sel tersebut yang menyebabkan unggas jadi terserang penyakit flu burung.

Proses ini begitu cepat menjangkiti antar sel dalam waktu singkat. Semua organ unggas menjadi tidak berfungsi. Akibatnya unggas yang terserang penyakit flu burng akan mati. Virus flu burung dapat dijumpai pada air liur, darah, tinja. Dengan tes anigen, virus flu burung di dalam bahan organik tersebut dapat diketahui oleh kita. Saat bahan organik terpapar sinar matahari, bahan organik tersebut akan mengering. Pada suhu kamar, virus flu burung memasuki fase dorman. Virus flu seperti layaknya benda mati. Lapisan dinding terluar virus akan mengalami penebalan. Karena ukuran yang sangat mikroskopis, virus flu ini dapat menempel pada benda-benda mati. Benda-benda mati tersebut antara lain bulu unggas, air, angin. Selama virus flu burung pada fase dorman, virus ini tidak akan menjadi penyakit flu burung. Penyebaran virus flu burung melalui udara dapat dibawa oleh burung dan angin. Perilaku burung pada musim-musim tertentu melakukan migrasi. Migrasi burung terjadi pada saat di bumi belahan utara memasuki musim dingin. Burung dari belahan bumi utara yang membawa virus dorman terbang ke daerah di belahan bumi selatan. Selama perjalanan burung ini menuju ke tempat tujuan akan singgah di tempat tertentu. Hal ini yang menyebabkan virus flu dapat tersebar luas. Virus flu burung memiliki ukuran yang sangat kecil. Hal ini memudahkan virus ini terbawa oleh angin. Jangkauan angin dapat melintasi antar benua dan samudera. Virus flu yang sudah menyebar lewat perantara burung dan angin akan masuk ke dalam jaringan hidup. Virus ini masuk melalui pernapasan, makanan dan minuman. Saat metabolisme unggas mengalami gangguan, virus ini masuk ke dalam jaringan hidup melalui saluran jaringan pengangkut. Lemahnya imunitas tubuh unggas mengakibatkan virus ini tidak bisa hancur. Virus flu mulai mengaktifkan inti virus. Saat itu juga unggas terserang penyakit flu burung. Siklus ini akan terjadi terus-menerus.

Gejala pada Manusia


June 5, 2008 3:41 am Gejala pada Manusia Virus Flu Burung yang pada awalnya diketahui hanya bisa menular antar sesama unggas, menciptakan mutasi baru yang dapat juga menyerang manusia. Mutasi virus ini dapat menginfeksi manusia yang berkontak langsung dengan sekresi unggas yang terinfeksi. Manusia yang memiliki resiko tinggi tertular adalah anak-anak, karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah, pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas, serta pemilik unggas peliharaan rumahan. Masa inkubasi virus adalah 1-7 hari dimana setelah itu muncul gejala-gejala seseorang terkena flu burung adalah dengan menunjukkan ciri-ciri berikut : 1. Menderita ISPA

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Timbulnya demam tinggi (> 38 derajat Celcius) Sakit tenggorokan yang tiba-tiba Batuk, mengeluarkan ingus, nyeri otot Sakit kepala Lemas mendadak Timbulnya radang paru-paru (pneumonia) yang bila tidak mendapatkan penanganan tepat dapat menyebabkan kematian

Mengingat gejala Flu burung mirip dengan flu biasa, maka tidak ada yang bisa membedakan flu burung dan flu biasa. Jika ada penderita yang batuk, pilek dan demam yang tidak kunjung turun, maka disarankan untuk segera mengunjungi dokter atau rumah sakit terdekat. Penderita yang diduga mengidap virus Flu burung disebut penderita suspect flu burung dimana penderita pernah mengunjungi peternakan yang berada di daerah yang terjangkit flu burung, atau bekerja dalam laboratorium yang sedang meneliti kasus flu burung, atau berkontak dengan unggas dalam waktu beberapa hari terakhir. Kasus probable adalah kasus dimana pasien suspek mendapatkan hasil tes laboratorium yang terbatas hanya mengarah pada hasil penelitian bahwa virus yang diderita adalah virus jenis A, atau pasien meninggal karena pneumonia gagal. Sedangkan kasus kompermasi adalah kasus suspek atau probable dimana telah didukung dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan bahwa virus flu yang diderita adalah positif jenis H5N1, PCR influenza H5 positif dan peningkatan antibody H5 membesar 4 kalinya. Namun, gejala yang dimunculkan oleh virus H5N1 ini berbeda-beda dimana ada kasus seorang anak laki-laki yang terinfeksi virus H5N1 yang mengalami diare parah dan diikuti dengan koma panjang tanpa mengalami gejala-gejala seperti influenza, oleh karena itu pemeriksaan secara medis penting dilakukan terutama bila mendapati timbulnya gejala penyakit yang tidak wajar.

Gejala Unggas Terinfeksi Flu Burung Ciri-ciri Flu Burung pada Unggas
Penularan flu burung yang dibawa oleh unggas liar kepada unggas ternak menjadi momok tersendiri oleh para peternak. Belum juga hilang bayangan ketakutan akan tertularnya diri sendiri dan keluarga oleh keganasan virus flu burung, peternak juga dibayangi kerugian akan matinya unggas-unggas peliharaan mereka. Sebelum flu burung menggemparkan dunia sejak ditemukan pada tahun 1997 di Hong Kong, telah banyak penyakit muncul pada unggas yang di Indonesia sempat dikenal dengan penyakit New Castle dan Tetelo. Namun karena tidak menular kepada manusia, kedua penyakit tersebut tidak menjadi pandemik yang ditakutkan.

Penyakit flu burung ditularkan baik ke sesama unggas ataupun spesies lainnya dan manusia melalui kotoran burung. Satu tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat membunuh 1 juta burung. Virus ini kemudian menempel pada berbagai media seperti sarana transprotasi ternak, peralatan kandang yang tercemar, pakan dan minuman unggas yang tercemar, pekerja di peternakan dan burung-burung liar. Untuk mengenali unggas yang terinfeksi flu burung, anda dapat mengenali dari gejala klinis yang ditemukan pada unggas tersebut yaitu : 1. Jengger dan pial yang bengkak dan berwarna kebiruan 2. Pendarahan yang rata pada kaki unggas berupa bintik-bintik merah (ptekhi) biasa disebut dengan kaki kerokan 3. Adanya cairan di mata dan hidung serta timbul gangguan pernafasan 4. Keluarnya cairan jernih hingga kental dari rongga mulut 5. Timbulnya diare berlebih 6. Cangkang telur lembek 7. Tingkat Kematian yang tinggi mendekati 100% dalam 2 hari hingga 1 minggu Segera laporkan pada Dinas Kesehatan jika anda mendapati unggas peliharaan anda mengalami cirri-ciri seperti yang disebutkan di atas.

Cara-Cara Penularan Flu Burung

Flu burung terdengar sangat mengerikan, mengingat banyak korban jiwa yang sudah jatuh karenanya. Mengetahui tentang mekanisme penularan sebuah penyakit akan membuat kita jauh lebih waspada akan penyakit tersebut. Dengan mengetahui secara detail tentang penularan penyakit flu burung, kita akan bisa mengetahui cara-cara untuk menghindarinya dengan tepat, tanpa membuat aksi yang berlebihan. Berikut ini cara-cara penularan flu yang disebabkan oleh virus H5N1 ini. 1. Secara garis besar, kita pasti mengetahui bahwa kontak langsung dengan sumber penyakit akan membuat kita terjangkit. Hal yang sama juga berlaku pada penyakit flu burung. Berdasarkan pendapat para ahli, disimpulkan bahwa vektor utama penyakit ini adalah unggas. Bersentuhan langsung dengan unggas yang sakit, atau produk dari unggas sakit tersebut akan membuat Anda tertular. Pencegahan yang dilakukan hanya bisa dilakukan dengan membakar bangkai hewan tersebut. Akan tetapi, metode pembakaran yang digunakan harus tepat guna mencegah asap dan material lain tersebar ke tempat lain. Material-material tersebut masih memiliki potensi menularkan virus H5N1. Cara yang dianggap lebih efektif adalah dengan mengubur bangkai ternak tersebut dalam-dalam. 2. Media lain untuk menularkan penyakit flu burung ini adalah lingkungan sekitar. Jika Anda tinggal di sekitar kandang ternak unggas, atau memiliki burung peliharaan yang tiba-tiba mati, waspadalah. Udara sekitar kandang sangat mengandung berbagai material yang ada dalam kotoran ternak. Jika unggas terjangkit virus H5N1, bisa dipastikan bahwa udara sekitar sudah mengandung virus flu burung tersebut. Udara dan peralatan yang tercemar kotoran ternak unggas akan menjadi media perantara penularan virus H5N1 yang sangat baik. 3. Penularan flu burung juga dapat terjadi dengan perantara manusia. Akan tetapi, disinyalir penularan lewat manusia merupakan media yang sangat tidak efektif. Kasus penularan lewat manusia sangat jarang terjadi. Virus H5N1 berbeda karakter dengan virus H1N1 penyebab flu babi yang sangat efektif ditularkan lewat manusia. Meski begitu, tetaplah waspada jika Anda berada didekat pasien flu burung. 4. Cara lain penularan flu burung adalah melewati produk dari ternak unggas. Sebagian orang memilih mengkonsumsi produk unggas mentah atau tidak dimasak sempurna. Fillet ayam, telur mentah dan beragam produk mentah unggas dapat menjadi media menularkan virus H5N1 pada pengkonsumsinya. Virus flu burung ini akan mati apabila produk unggas tersebut dimasak secara sempurna (benar-benar matang).Mengkonsumsi daging setengah matang dan telur setengah matang masih berpeluang terjangkit virus flu burung ini jika unggas yang dipotong sudah terjangkiti oleh virus ini. Untuk itu, jika Anda akan mengkonsumsi unggas yang berasal dari daerah yang dicurigai terjangkiti virus H5N1, pastikan daging atau telur unggas tersebut dimasak hingga benar-benar matang hingga aman untuk dikonsumsi.

Program Pemerintah tentang Flu Burung


June 5th, 2008 Vetenarian

Program Pemerintah tentang Flu Burung Program pengendalian Flu Burung di Indonesia didukung oleh bantuan USAID yang memegang peranan penting secara keseluruhan. Bantuan dana sebesar 42,88 juta US Dollar telah dicairkan untuk mencegah dan mengendalikan flu burung di Indonesia sejak tahun 2005. Adapun program yang dijalankan adalah : Persiapan dan Pengendalian Flu Burung Membentuk program pengendalian berbasis masyarakat yang diberi nama Community-Based Avian Influenza Control (CBAIC), yang memprakarsai dan mengkoordinasi berbagai kegiatan di sektor dan tingkatan pemerintahan. Contoh kegiatannya adalah melatih para coordinator Flu Burung di desa-desa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali gejala awal flu burung. Mengawasi dan Menangani Flu Burung Membangun dan Melaksanakan kegiatan pengawasan unggas secara aktif, dengan melatih petugas kesehatan hewan dan melengkapinya dengan keterampilan pengawasan dan pengendalian penyakit, serta melengkapinya dengan peralatan yang sesuai untuk dapat melakukan aktivitas lapangan. Selain itu juga bekerjasama dengan LSM lokal untuk menyebarkan informasi pencengahan, pengawasan dan pelaporan penanggulangan Flu Burung ke desa-desa, dan melatih sukarelawan desa untuk turut serta melakukan usaha pencegahan flu burung dengan menyebarkan informasi ke masyarakat supaya dapat mengubah kebiasaan atau perilaku yang mungkin berbahaya. Mengawasi Perkembangan Influenza pada Manusia Berupaya supaya pasien suspek flu burung mendapatkan penanganan yang tepat dengan adanya konfirmasi dari kasus unggas yang dapat dideteksi dalam waktu kurang lebih 24 jam. USAID mendukung berdirinya NAMRU-2 di berbagai daerah untuk mengawasi perkembangan penyakit yang berbasis laboratorium terutama untuk daerah yang beresiko tinggi terkena flu burung. Penyuluhan melalui Perubahan perilaku

Mengembangkan pesan-pesan yang utama tentang flu burung dan menyebarkan pesan tersebut melalui berbagai media massa dan materi informasi lainnya seperti poster dan brosur untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat dengan materi informasi dan edukasi tersebut sehingga diharapkan masyarakat dapat mengubah perilaku untuk mengurangi penyebaran flu burung dan resiko yang mengenai pada manusia itu sendiri. Penelitian Melakukan penelitian operasional dengan bekerja sama dengan ILRI (International Livestock Research Institute) untuk menemukan cara penanggulangan yang efektif demi menanggulangi dampak flu burung di Indonesia.

Virus Flu Burung Sejarah Penyebaran Virus

Flu burung, atau yang juga disebut Avian Flu, sentak menyita perhatian semua pihak di seluruh dunia. Kecepatan virus yang menyebar dimana-mana dan kemampuannya bermutasi dengan cepat sehingga mampu menyerang baik hewan dan manusia menimbulkan kekhawatiran akan keganasan virus yang dapat menyebabkan kematian. Saat ini Flu Burung diketahui telah menyerang hampir seluruh Negara di Asia, Belanda, Rusia, Australia, Itali, Chile, Meksiko, Belanda, Belgia dan Jerman serta Amerika dan saat ini merambah Afrika.

Sebenarnya kasus flu burung telah muncul sejak tahun 1878 di Italia, dimana pada saat itu banyak ditemukan unggas yang mati mendadak. Namun penyebab matinya unggas tersebut baru diketahui pada tahun 1955 yang ternyata adalah virus influenza. Pada awalnya virus ini dikenal tidak berbahaya karena tidak dapat menyerang spesies lain termasuk manusia karena perbedaan jenis reseptor virus, namun setelah ditemukan bahwa flu yang menyerang unggas ini juga menyerang 2 anak laki-laki pada tahun 1997 di Hongkong dan menyebar ke seluruh Asia, serentak kasus flu burung menjadi pandemik yang mengkhawatirkan semua pihak di dunia. Tiongkok, lagi-lagi ditunjuk sebagai Negara tempat asal muasal dimana virus yang menyerang unggas ini dapat bermutasi menyerang manusia. Propinsi Guandong diketahui merupakan sumber asal timbulnya keturunan virus Flu burung paling ganas yang kemudian menyebar secara internasional. Penemuan ini dihasilkan dari penelitian yang mencari rentetan genetik virus yang disimpan dalam Bank gen, sebuah akses umum yang menyimpan sumber data informasi genetika. Dari hasi kerangka model pohon, diketahui virus dari Tiongkok merupakan versi dasar virus yang diteliti dan diambil dari beberapa kasus flu burung di seluruh dunia. Besarnya peternakan unggas di Tiongkok dan minimnya pengetahuan serta kedekatan jarak antara tempat tinggal peternak dan kandang menjadi salah satu faktor yang memicu cepatnya mutasi dan penyebaran virus ini. Propinsi lainnya yang diduga menjadi daerah tempat penyebaran virus lain adalah propinsi Qinghai yang berada di sebelah barat laut Tiongkok. Penyebaran virus ini sangat cepat terutama di Negara-negara sekitar seperti Indochina, India, Asia Tenggara dan juga benua Eropa. Namun di Negara-negara tersebut virus mematikan H5N1 terbukti tidak menyebar kemana-mana dan hanya menjangkiti daerah tersebut. Virus flu burung dapat dengan mudah tersebar dan untuk wilayah dimana terdapat banyak peternakan unggas resiko terjangkit penyakit ini menjadi lebih besar. Penyebarannya dari Negara satu ke Negara lainnya diketahui disebarkan oleh migrasi burung liar dimana virus berpindah dari tetesan sekresi burung yang terinfeksi yang mengenai peternakan unggas komersial dan juga lingkungan disekitarnya. Resikonya menjadi lebih besar bilamana peternakan tersebut berada di alam terbuka dimana burung liar atau unggas domestik dapat dengan mudah bergabung dan mencemari sumber air/makanan dengan tetesan sekresi yang terinfeksi virus flu burung. Selain itu pasar burung yang becek serta kondisi sanitasi yang tidak baik dapat menjadi kondisi yang pas untuk penyebaran penyakit. Virus yang hidup dalam tubuh burung yang terinfeksi dikeluarkan dalam jumlah yang besar lewat tetesan sekresi burung yang dapat mencemari debu dan tanah tempat mereka singgah atau tinggal. Virus itu kemudian berterbangan di udara dan dihirup oleh burung lain sehingga menyebabkan burung tersebut terinfeksi. Virus ini juga dapat terbawa oleh kaki dan badan hewan serta tubuh serangga yang berfungsi sebagai perantara penyebaran. Tikus dan lalat serta hewan yang tinggal di tempat yang kotor merupakan vector mekanis utama penyebaran virus flu burung. Pada manusia, virus dapat disebarkan saat manusia bersentuhan dengan sekresi burung yang terinfeksi. Virus dapat menempel di peralatan, kendaraan, pakan dan kandang serta pakaian yang nantinya berpindah dari satu lahan peternakan ke yang lain. Virus

yang menempel ini dapat menginfeksi manusia saat tidak sengaja menghirup atau tertelan ke dalam tubuh. Virus ini juga masih dapat hidup dalam daging unggas yang tidak dimasak dengan benar dan menginfeksi manusia kala memakan daging yang mengandung virus tersebut. Virus flu burung dapat hidup pada suhu dingin, dan kotoran yang terkontaminasi selama 3 bulan. Virus dapat bertahan dalam air selama 4 hari dengan suhu 22 derajat celcius dan lebih dari 30 hari di suhu 0 derajat. Dalam 1 gram kotoran yang terkontaminasi, terdapat virus yang dapat menyerang 1 juta burung. Flu burung menyebar dari satu Negara ke Negara lainnya melalui perdagangan hewan ternak yang masih hidup, migrasi burung dan burung air. Infeksi virus yang dibawa oleh mereka hanya menyebabkan pengaruh yang kecil bagi tubuh mereka tapi dapat dengan mudah ditularkan melalui tetesan sekresi sekali saja dalam penerbangan yang sangat jauh. Di Indonesia, pada rentang jarak antara bulan Oktober 2003 hingga Februari 2005, virus flu burung telah merenggut nyawa 60 orang dan mematikan 14,7 juta ekor ayam. Penyebarannya di Indonesia ditengarai diawali dari kabupaten Indramayu dimana di kabupaten tersebut kerap menjadi lalu lintas migrasi jutaan burung terutama saat perpindahan musim. Kepulauan rakit, yaitu pulau Rakit Utara, Pulau Gosong, dan Pulau Rakit Selatan adalah tempat beristirahatnya burung-burung dari Australia dan Eropa yang bermigrasi.

Prosedur Perawatan Penderita Flu Burung


April 4th, 2011 Leoni Putri

Penderita flu burung memang perlu mendapat penanganan khusus. Hal ini karena penyakit flu burung tergolong serius dan bisa mewabah. Kenalilah gejala flu burung sejak dini supaya bisa segera ditangani. Terlambat mendiagnosa bisa berakibat fatal pada kematian. Gejala flu burung antara lain mengalami demam tinggi sekitar 38 derajat Celcius, sakit kepala, nyeri pada tenggorokan seperti terkena radang dan mengalami gejala penyakit flu seperti batuk, pilek, dan bersin. Jika penderita diketahui telah mengadakan kontak dengan unggas atau mengunjungi tempat yang mengalami kematian unggas maka kemungkinan besar terkena penyakit ini.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah segera membawa pasien ke dokter atau rumah sakit terdekat. Dokter akan melakukan cek laboratorium untuk memastikan pasien positif mengidap flu burung. Jika terbukti, penderita flu burung akan diisolasi kurang lebih selama 7 hari untuk menghindari penularan. Waktu 7 hari merupakan waktu yang rentan bagi penderita. Pasien yang mengalami sesak nafas akan diberi oksigenasi. Selama masa perawatan, penderita akan diinfus dan diharuskan untuk minum banyak air guna mencegah terjadinya dehidrasi. Pasien juga akan mendapatkan obat flu. Penderita flu burung harus mendapatkan istirahat dan tidur yang sangat cukup. Selain itu, mereka harus selalu menjaga kebersihan diri terutama dengan rajin mencuci tangan atau menggunakan desinfektan untuk mencegah penularan. Obat yang diminum penderita haruslah telah disetujui oleh dokter, jangan menyamakan dengan obat flu biasanya. Walaupun memang obat batuk dan demam bisa sedikit mengurangi gejala flu burung tapi bisa saja timbul efek samping. Oleh sebab itu, penderita harus sering melakukan konsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan memberikan obat untuk menurunkan demam dan obat anti virus. Perawatan penderita flu burung juga diikuti dengan prosedur mendeteksi dan melacak kontak pasien dan pencegahan infeksi lebih lanjut. Kasus flu burung ditangani dengan berpedoman pada sistem rujukan penderita serta memeriksa laboratorium. Tidak semua rumah sakit bisa menangani kasus flu burung ini. Sejauh ini baru terdapat sekitar 40 rumah sakit di seluruh Indonesia.

Penanganan Flu Burung pada Ternak


June 5, 2008 3:38 am

Penanganan Flu Burung pada Ternak


Jika anda mendapati bahwa unggas ternak anda terjangkit flu burung, maka ada serangkaian tindakan yang merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan terutama setelah anda melapor pada Dinas Kesehatan. Tindakan yang berjumlah 9 langkah itu adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Meningkatkan keamanan biosekuriti Melakukan vaksinasi terhadap unggas Melakukan depopulasi atau pemusnahan terbatas di daerah yang tertular Mengendalikan lalu lintas keluar masuk unggas dan menghalangi masuknya unggas liar Melakukan pengamatan dan penelurusan kembali bagaimana unggas bisa terkena flu burung Mengisi kandang kembali Memusnahkan keseluruhan unggas di daerah yang baru tertular Meningkatkan kesadaran masyarakat atas bahayanya virus flu burung Melakukan monitor dan evaluasi

Untuk melindungi ternak unggas anda supaya tidak terjangkit wabah flu burung, anda harus :

1. Menjaga ternak supaya dalam kondisi baik, dengan menyediakan akses air bersih dan makanan yang memadai, kandang yang memadai, dan memberi ternak produk bebas cacing yang sudah diberi vaksin 2. Menjaga ternak supaya tetap berada dalam lingkungan yang terlindung 3. Memeriksa barang-barang yang masuk ke dalam peternakan Ketika flu burung sudah merebak, maka yang harus anda lakukan untuk melindungi peternakan anda adalah : 1. 2. 3. 4. Memelihara ternak di tempat yang terlindungi Tidak membeli atau menerima hewan lagi di peternakan Membatasi dan mengendalikan orang yang masuk ke peternakan Bersihkan pekarangan, kandang, semua peralatan, sepeda motor dan barang-barang yang ada dikandang secara berkala 5. Jauhkan pupuk kandang dari kolam dan sumur

Dampak Flu Burung Dampak Flu Burung


Munculnya penyakit Flu burung menimbulkan dampak yang luar biasa terutama di bidang perekonomian di suatu Negara. Kerugian di Industri peternakan menyebabkan hilangnya keuntungan milyaran rupiah yang dialami baik peternak ataupun Negara, terutama bagi Negara berkembang yang bergantung pada industri tersebut sebagai salah satu sumber pendapatannya. Bayangkan saja dengan merebaknya virus flu burung, banyak masyarakat yang membatalkan mengkonsumsi daging ayam dan harga daging unggas menjadi turun. Dan jika penyakit semakin menyebar, maka pengendaliannya di suatu Negara makin sulit untuk dilakukan, dan pemerintah sudah pasti harus mengambil langkah yang agresif untuk mengendalikan penyakit dan menghindarkan untuk timbulnya banyak korban. Selain itu penyakit ini telah menghabiskan dana milyaran dollar untuk penelitian dan persiapan untuk penanganan pandemic, lebih dari 10 milyar dollar dikeluarkan untuk memusahkan unggas untuk menghindarkan mewabahnya H5N1. Dibandingkan dengan AIDS yang membunuh 50 juta jiwa dalam jangka waktu 25 tahun, pandemic flu dapat membunuh 50 juta jiwa dalam waktu 25 minggu saja. Oleh karena itu banyak pihak yang khawatir serangan H5N1 akan separah serangan virus Flu Spanyol di awal tahun 1900an. Namun, kekhawatiran yang berlebih seharusnya tidak terjadi, karena faktanya masih banyak orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia, tingkat kecelakaan yang tinggi masih

membayangi di beberapa Negara berkembang dan juga beberapa penyakit lainnya yang mematikan seperti kanker, darah tinggi dan lain-lain. Walaupun Flu Burung masih menjadi topik yang paling diperhatikan, tapi dengan pencegahan yang tepat yang dilakukan seluruh pihak, maka penyakit ini tidak akan menjadi pandemik yang

Epidemiologi Flu Burung


March 11th, 2011 Andew

Flu burung atau avian influenza adalah infeksi yang disebabkan oleh virus influenza yang disebarkan melalui unggas (burung). Ada banyak subtipe virus flu burung, tetapi hanya beberapa strain dari empat subtipe yang telah sangat patogen pada manusia. Jenis tersebut adalah H5N1, H7N3, H7N7 dan H9N2. Virus ini secara alamiah terjadi pada burung. Burung liar di seluruh dunia membawa virus ini dalam usus mereka, namun penyakit flu terhadap burung liar tersebut tidak mematikan pada mereka. Akan tetapi, flu burung akan sangat menular dan dapat membuat beberapa burung peliharaan, seperti ayam, itik dan kalkun yang terserang penyakit flu, mati dengan cepat. Kandang burung atau unggas dapat terinfeksi virus flu dari air liur, sekresi hidung serta kotoran mereka. Unggas lain pun juga dapat terserang penyakit ini jika melakukan kontak dengan sekresi atau ekskresi dari unggas yang terinfeksi, kontak dengan kotoran dan kandang yang telah terkontaminasi, serta ketika mengkonsumsi air atau pakan yang telah terkontaminasi oleh virus tersebut. Ada dua bentu infeksi yang terjadi akibat virus flu burung ini, yaitu low pathogenic dan extremes pathogenic. Gejala yang terjadi pada low pathogenic kadang tidak dapat diteksi dan biasanya hanya menyebabkan gejala ringan seperti bulu yang kusut serta produksi telur yang menurun. Sedangkan extremes pathogenic dapat menyebar lebih cepat melalui kawanan unggas, serta dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa organ sehingga menyebabkan kematian yang dapat mencapai 90 hingga 100 persen, dalam waktu empat puluh delapan jam. Menurut data WHO pada 19 November 2010, telah terdapat jutaan unggas yang telah terinfeksi virus serta 302 jiwa yang telah meninggal akibat virus H5N1 ini. Flu burung telah menewaskan 300 orang di Azerbaijan, Cina, Mesir, Indonesia, Irak, Laos, Nigeria, Pakistan, Thailand, Turki

dan Vietnam. Flu burung telah menyebabkan keprihatinan global, sebagai potensi ancaman pandemi. Penyakit flu yang termasuk ke dalam subtipe influenza A virus ini, telah membunuh jutaan unggas di banyak negara, seperti di Asia, Eropa dan Afrika. Para ahli kesehatan khawatir bahwa keberadaan epidemiologi virus flu manusia dan virus flu burung (terutama H5N1) akan bermutasi sehingga memungkinkan terciptanya strain virus influenza baru yang mudah menular dan lebih mematikan bagi manusia. Sejak wabah flu burung pertama kali terjadi pada tahun 1987, telah terjadi peningkatan jumlah Highly Patogenik Avian Influenza (HPAI) dari unggas ke manusia, yang menyebabkan infeksi berat dan fatal bagi manusia. Namun, karena ada perbedaan spesies yang signifikan antara burung dan manusia, virus ini tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Meskipun beberapa kasus infeksi masih diteliti untuk mengetahui apakah penularan pada manusia melalui manusia dapat terjadi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami patogenesis dan epidemiologi flu burung pada manusia.

Vaksin Influensa Penangkal Penyebaran Flu Burung


March 29th, 2011 Aliyah

Wabah flu burung yang mulai terjadi pada tahun 2003 telah mendorong Organisasi Kesehatan Dunia dan berbagai pihak lain untuk berusaha menemukan vaksin penangkalnya. Berdasarkan laporan WHO, hingga pertengahan 13 Januari 2011 masih terjadi kasus flu burung di dunia, kali ini terjadi di Mesir. Ternyata wabah penyakit ini masih saja mengancam kesehatan manusia, meskipun telah ada langkah yang dilakukan oleh hampir semua negara di dunia untuk mengatasi dan mencegahnya. WHO telah merekomendasikan vaksin influensa untuk mencegah penularan flu burung, dan setiap tahunnya WHO melakukan dua kali evaluasi terhadap komposisi vaksin tersebut untuk menguji kemampuannya menangkal penyakit yang berbahaya dan mampu menimbulkan kematian ini. Selain itu karena obat flu yang telah ada selama ini tidak mampu mengatasinya. Food and Drugs Administration of United States of America telah menyetujui penggunaan vaksin influensa H5N1 yang diproduksi oleh perusahaan Sanofi Pasteur pada 17 April 2007 berdasarkan uji klinis laboratorium. Penelitian ini memiliki visi utama untuk mendeteksi dan

meminimalkan resiko dari vaksin wabah influensa, serta untuk memaksimalkan manfaatnya bagi kondisi wabah. Vaksin ini aktif untuk digunakan oleh orang dengan rentang usia 18-64 tahun. Vaksin ini berupa suspensi yang harus diberikan dengan suntikan intramuskular, terutama pada bagian lengan atas orang dewasa. Setiap 1 ml vaksin ini, mengandung 90 mikrogram hemaglutinin virus influensa tipe A (berasal dari Vietnam) yang telah dilemahkan. Hemaglutinin adalah protein yang terdapat pada permukaan virus yang membuat virus dapat mengikatkan dirinya pada sel darah merah seseorang yang terinfeksi. Meskipun tidak diketahui secara pasti kinerjanya terhadap tubuh manusia, tetapi vaksin ini mampu menginduksi antibodi seseorang terhadap hemaglutinin virus yang terdapat dalam vaksin, sehingga ketika kemudian virus flu burung masuk akan terhalangi atau tidak dapat mengikat dirinya pada sel epitel pernafasan orang tersebut. Studi yang dilakukan pada vaksin influensa ini menunjukkan bahwa 50% dari sejumlah orang yang mendapatkan vaksinasi memiliki ketahanan terhadap penyakit flu burung. Meskipun demikian, penggunaan vaksin ini menimbulkan efek samping seperti diare, Guillain-Barr Syndrome, dan reaksi alergi pasca vaksinasi. Di sisi lain keberhasilan vaksin juga ditunjukan oleh hasil riset di Hunggaria dan Inggris. Penelitian dilakukan terhadap sejumlah orang dewasa sehat dan juga beberapa orang yang berusia tua. Mereka mendapatkan 3,5 hingga 12 mg vaksin. Selama pengamatan terjadi rasa nyeri, demam, dan kelelahan pasca vaksinasi. Hasil akhirnya, vaksin influensa aman dan efektif digunakan untuk mencegah flu burung. Dan menyimpulkan bahwa vaksin influensa merupakan pendekatan yang paling efektif untuk meminimalkan penyebaran dan kematian akibat pandemi flu burung. Fakta lain adalah bahwa dari sejumlah riset, vaksin influensa dapat ditoleransi oleh tubuh dengan baik serta bersifat immunogenic yaitu mampu mendorong tubuh seseorang untuk dapat menghasilkan respon imun yang aman. Dan pada 26 April 2007 di Jenewa, WHO merekomendasikan vaksin influensa sebagai cara global untuk mencegah penularan flu burung di banyak negara. Sementara di Indonesia pada tahun 2009 juga telah dikembangkan riset oleh Departemen Kesehatan untuk memproduksi vaksin flu burung. Sementara itu, untuk mengatasi penularan flu burung pada hewan vaksin influensa terbukti bekerja meskipun belum maksimal. Dari hasil penelitian di Universitas Pittsburg diperoleh hasil bahwa vaksin ini mampu mengisolasi virus yang masuk ke dalam saluran pernafasan hewan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang kompleks pada hewan terinfeksi dan terhindar dari kematian.

SUMBERNYA DARI : http://fluburung.org/