Anda di halaman 1dari 12

Mengganti zakat fitrah (zakat fitri) dengan uang Assalamu alaikum.

Ustadz, bagaimana jika saya membayar zakat fitrah dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? Jazakallahu khairan. Jawaban: Waalaikumussalam. Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan dan kelompok yang memiliki semangat dalam dunia Islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat. Sebagian melarang pembayaran zakat fitrah dengan uang secara mutlak, sebagian memperbolehkan zakat fitrah dengan uang tetapi dengan bersyarat, dan sebagian lain memperbolehkan zakat fitrah dengan uang tanpa syarat. Yang menjadi masalah adalah sikap yang dilakukan orang awam. Umumnya, pemilihan pendapat yang paling kuat menurut mereka, lebih banyak didasari logika sederhana dan jauh dari ketundukan terhadap dalil. Jauhnya seseorang dari ilmu agama menyebabkan dirinya begitu mudah mengambil keputusan dalam peribadahan yang mereka lakukan. Seringnya, orang terjerumus ke dalam qiyas (analogi), padahal sudah ada dalil yang tegas. Uraian ini bukanlah dalam rangka menghakimi dan memberi kata putus untuk perselisihan pendapat tersebut. Namun, ulasan ini tidak lebih dari sebatas bentuk upaya untuk mewujudkan penjagaan terhadap sunah Nabi dan dalam rangka menerapkan firman Allah, yang artinya, Jika kalian berselisih pendapat dalam masalah apa pun maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. (Q.s. An-Nisa:59) Allah menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka setiap ada masalah, dia wajib mengembalikan permasalahan tersebut kepada Alquran dan As-Sunnah. Siapa saja yang tidak bersikap demikian, berarti ada masalah terhadap imannya kepada Allah dan hari akhir. Pada penjelasan ini, terlebih dahulu akan disebutkan perselisihan pendapat ulama, kemudian ditarjih (dipilihnya pendapat yang lebih kuat). Pada kesempatan ini, Penulis akan lebih banyak mengambil faidah dari risalah Ahkam Zakat Fitri, karya Nida Abu Ahmad. Perselisihan ulama zakat fitrah dengan uang Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini (zakat fitrah dengan uang). Pendapat pertama, memperbolehkan pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) menggunakan mata uang. Pendapat kedua, melarang pembayaran zakat fitri menggunakan mata uang. Permasalahannya kembali kepada status zakat fitri. Apakah status zakat fitri (zakat fitrah) itu sebagaimana zakat harta ataukah statusnya sebagai zakat badan? Jika statusnya sebagaimana zakat harta maka prosedur pembayarannya sebagaimana zakat harta perdagangan. Pembayaran zakat perdagangan tidak menggunakan benda yang diperdagangkan, namun menggunakan uang yang senilai dengan zakat yang dibayarkan. Sebagaimana juga zakat emas dan perak, pembayarannya tidak harus menggunakan emas atau perak, namun boleh menggunakan mata uang yang senilai. Sebaliknya, jika status zakat fitri (zakat fitrah) ini sebagaimana zakat badan maka prosedur pembayarannya mengikuti prosedur pembayaran kafarah untuk semua jenis pelanggaran. Penyebab adanya kafarah ini adalah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh badan, bukan kewajiban karena harta. Pembayaran kafarah harus menggunakan sesuatu yang telah ditetapkan, dan tidak boleh menggunakan selain yang ditetapkan. Jika seseorang membayar kafarah dengan selain ketentuan yang ditetapkan maka kewajibannya untuk membayar kafarah belum gugur dan harus diulangi. Misalnya, seseorang melakukan pelanggaran berupa hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan, tanpa alasan yang dibenarkan. Kafarah untuk pelanggaran ini adalah membebaskan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin, dengan urutan sebagaimana yang disebutkan. Seseorang tidak boleh membayar kafarah dengan menyedekahkan uang seharga budak, jika dia tidak menemukan budak. Demikian pula, dia tidak boleh berpuasa tiga bulan namun putus-putus (tidak berturut-turut). Juga, tidak boleh memberi uang Rp. 5.000 kepada 60 fakir miskin. Mengapa demikian? Karena kafarah harus dibayarkan persis sebagaimana yang ditetapkan. Di manakah posisi zakat fitri (zakat fitrah)? Sebagaimana yang dijelaskan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwasanya zakat fitri (zakat fitrah) itu mengikuti prosedur kafarah karena zakat fitri (zakat fitrah) adalah zakat badan, bukan zakat harta. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa zakat fitri adalah zakat badan bukan zakat harta adalah pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiallahu anhuma tentang zakat fitri. Ibnu Umar radhiallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa . (H.r. Al-Bukhari dan Muslim) Ibnu Abbas radhiallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri (zakat fitrah), sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok .(H.r. Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani) Dua riwayat ini menunjukkan bahwasanya zakat fitri berstatus sebagai zakat badan, bukan zakat harta. Berikut ini adalah beberapa alasannya: 1. Adanya kewajiban zakat bagi anak-anak, budak, dan wanita. Padahal, mereka adalah orang-orang yang umumnya tidak memiliki harta. Terutama budak; seluruh jasad dan hartanya adalah milik tuannya. Jika

zakat fitri merupakan kewajiban karena harta maka tidak mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki harta diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya. 2. Salah satu fungsi zakat adalah penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta perbuatan atau ucapan jorok. Fungsi ini menunjukkan bahwa zakat fitri berstatus sebagaimana kafarah untuk kekurangan puasa seseorang. Apa konsekuensi hukum jika zakat fitri (zakat fitrah) berstatus sebagaimana kafarah? Ada dua konsekuensi hukum ketika status zakat fitri itu sebagaimana kafarah: 1. Harus dibayarkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan yaitu bahan makanan. 2. Harus diberikan kepada orang yang membutuhkan untuk menutupi hajat hidup mereka, yaitu fakir miskin. Dengan demikian, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada amil, mualaf, budak, masjid, dan golongan lainnya. (lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam, 25:73) Sebagai tambahan wacana, berikut ini kami sebutkan perselisihan ulama dalam masalah ini. Pendapat yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang Ulama yang berpendapat demikian adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, Tidak mengapa memberikan zakat fitri dengan dirham. Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitri) dengan beberapa dirham yang senilai bahan makanan. Diriwayatkan dari Atha bin Abi Rabah, bahwa beliau menunaikan zakat fitri dengan waraq (dirham dari perak). Pendapat yang melarang pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) dengan uang Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama. Mereka mewajibkan pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan dan melarang membayar zakat dengan mata uang. Di antara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafii, dan Imam Ahmad. Bahkan, Imam Malik dan Imam Ahmad secara tegas menganggap tidak sah jika membayar zakat fitri mengunakan mata uang. Berikut ini nukilan perkataan mereka. Perkataan Imam Malik Imam Malik mengatakan, Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi. (Al-Mudawwanah Syahnun) Imam Malik juga mengatakan, Wajib menunaikan zakat fitri senilai satu sha bahan makanan yang umum di negeri tersebut pada tahun itu (tahun pembayaran zakat fitri). (Ad-Din Al-Khash) Perkataan Imam Asy-Syafii Imam Asy-Syafii mengatakan, Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut. (Ad-Din Al-Khash) Perkataan Imam Ahmad Al-Khiraqi mengatakan, Siapa saja yang menunaikan zakat menggunakan mata uang maka zakatnya tidak sah. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah) Abu Daud mengatakan, Imam Ahmad ditanya tentang pembayaran zakat mengunakan dirham. Beliau menjawab, Aku khawatir zakatnya tidak diterima karena menyelisihi sunah Rasulullah. (Masail Abdullah bin Imam Ahmad; dinukil dalam Al-Mughni, 2:671) Dari Abu Thalib, bahwasanya Imam Ahmad kepadaku, Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang. Kemudian ada orang yang berkomentar kepada Imam Ahmad, Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membayar zakat menggunakan mata uang. Imam Ahmad marah dengan mengatakan, Mereka meninggalkan hadis Nabi dan berpendapat dengan perkataan Fulan. Padahal Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu sha kurma atau satu sha gandum. Allah juga berfirman, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Ada beberapa orang yang menolak sunah dan mengatakan, Fulan ini berkata demikian, Fulan itu berkata demikian. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2:671) Zahir mazhab Imam Ahmad, beliau berpendapat bahwa pembayaran zakat fitri dengan nilai mata uang itu tidak sah. Beberapa perkataan ulama lain:

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, Allah mewajibkan pembayaran zakat fitri dengan bahan makanan sebagaimana Allah mewajibkan pembayaran kafarah dengan bahan makanan. (Majmu Fatawa) Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafii, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafii) mengatakan, Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini. (Kifayatul Akhyar, 1:195) An-Nawawi mengatakan, Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat. (Al-Majmu)

An-Nawawi mengatakan, Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir. (Al-Majmu) Asy-Syairazi Asy-Syafii mengatakan, Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak. (Al-Majmu) Ibnu Hazm mengatakan, Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu sha campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah. (Al-Muhalla bi Al-Atsar, 3:860) Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan. (As-Sailul Jarar, 2:86)

Di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan adalah Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Al-Utsaimin, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi, dan yang lain. Mereka mengatakan bahwa zakat fitri tidak boleh dibayarkan dengan selain makanan dan tidak boleh menggantinya dengan mata uang, kecuali dalam keadaan darurat, karena tidak terdapat riwayat bahwa Nabi mengganti bahan makanan dengan mata uang. Bahkan tidak dinukil dari seorang pun sahabat bahwa mereka membayar zakat fitri dengan mata uang. (Minhajul Muslim, hlm. 251) Dalil-dalil masing-masing pihak Dalil ulama yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang: 1. Dalil riwayat yang disampaikan adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Al-Hasan Al-Bashri. Sebagian ulama menegaskan bahwa mereka tidak memiliki dalil nash (Alquran, al-hadits, atau perkataan sahabat) dalam masalah ini. 2. Istihsan (menganggap lebih baik). Mereka menganggap mata uang itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan. Dalil dan alasan ulama yang melarang pembayaran zakat dengan mata uang: Pertama, riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa zakat fitri harus dengan bahan makanan.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu; beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha kurma kering atau gandum kering . (H.r. Al-Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, sebagai makanan bagi orang miskin . (H.r. Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani) Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu; beliau mengatakan, Dahulu, kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha bahan makanan, satu sha gandum, satu sha kurma, satu sha keju, atau satu sha anggur kering. (H.r. Al-Bukhari dan Muslim) Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu mengatakan, Dahulu, di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha bahan makanan. Kemudian Abu Said mengatakan, Dan makanan kami dulu adalah gandum, anggur kering (zabib), keju (aqith), dan kurma. (H.r. Al-Bukhari, no. 1439) Abu Hurairah radhiallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitri). Kemudian datanglah seseorang mencuri makanan, lalu aku berhasil menangkapnya .(H.r. Al-Bukhari, no. 2311)

Kedua, alasan para ulama yang melarang pembayaran zakat fitri dengan mata uang. 1. Zakat fitri adalah ibadah yang telah ditetapkan ketentuannya. Termasuk yang telah ditetapkan dalam masalah zakat fitri adalah jenis, takaran, waktu pelaksanaan, dan tata cara pelaksanaan. Seseorang tidak boleh mengeluarkan zakat fitri selain jenis yang telah ditetapkan, sebagaimana tidak sah membayar zakat di luar waktu yang ditetapkan. Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafii mengatakan, Bagi mazhab kami, sandaran yang dipahami bersama dalam masalah dalil, bahwa zakat termasuk bentuk ibadah kepada Allah. Pelaksanaan semua perkara yang merupakan bentuk ibadah itu mengikuti perintah Allah. Kemudian beliau membuat permisalan, Andaikan ada orang yang mengatakan kepada utusannya (wakilnya), Beli pakaian! sementara utusan ini tahu bahwa tujuan majikannya adalah berdagang, kemudian utusan ini melihat ada barang yang lebih manfaat bagi majikannya (daripada pakaian), maka sang utusan ini tidak berhak menyelisihi perintah majikannya. Meskipun dia melihat hal itu lebih bermanfaat daripada perintah majikannya . (Jika dalam masalah semacam ini saja wajib ditunaikan sebagaimana amanah yang diberikan, pent.) maka perkara yang Allah wajibkan melalui perintah-Nya tentu lebih layak untuk diikuti. Harta yang ada di tangan kita semuanya adalah harta Allah. Posisi manusia hanyalah sebagaimana wakil. Sementara, wakil tidak berhak untuk bertindak di luar batasan yang diperintahkan. Jika Allah memerintahkan kita untuk memberikan makanan kepada fakir miskin, namun kita selaku wakil justru memberikan selain makanan, maka sikap ini termasuk bentuk pelanggaran yang layak untuk mendapatkan hukuman. Dalam masalah ibadah, termasuk zakat, selayaknya kita kembalikan sepenuhnya kepada aturan Allah. Jangan sekali-kali melibatkan campur tangan akal dalam masalah ibadah karena kewajiban kita adalah taat sepenuhnya.

Oleh karena itu, membayar zakat fitri dengan uang berarti menyelisihi ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah diketahui bersama, ibadah yang ditunaikan tanpa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah ibadah yang tertolak. 2. Di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu anhum sudah ada mata uang dinar dan dirham. Akan tetapi, yang Nabi praktikkan bersama para sahabat adalah pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan, bukan menggunakan dinar atau dirham. Padahal beliau adalah orang yang paling memahami kebutuhan umatnya dan yang paling mengasihi fakir miskin. Bahkan, beliaulah paling berbelas kasih kepada seluruh umatnya. Allah berfirman tentang beliau, yang artinya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasi lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.s. At-Taubah:128) Siapakah yang lebih memahami cara untuk mewujudkan belas kasihan melebihi Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah). Artikel www.KonsultasiSyariah.com ABOUT THE AUTHOR

Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Mahasiswa Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.com, KonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus UGM.

Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/#ixzz23UOcebYb Read more about by www.konsultasisyariah.com

Bolehkah Zakat Fitrah dengan Uang? Posted by Farid Ma'ruf pada 29 Agustus 2010 Tanya : Ustadz, apakah boleh kita membayar zakat fitrah dalam bentuk uang? Jawab : Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah ini menjadi dua pendapat. Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. (As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu al-Fatawa, XXV/83). Dalil mereka antara lain firman Allah SWT (artinya),Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. (QS atTaubah [9] : 103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. (Rabi Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Thaam, hal. 4) Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW,Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari memintaminta pada hari seperti ini (Idul Fitri). (HR Daruquthni dan Baihaqi). Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang. (Abdullah AlGhafili, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat al-Fithr, hal. 3) Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah. (AlMudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu, VI/112; Al-Mughni, IV/295). Dalil mereka antara lain hadits Ibnu Umar RA bahwa,Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha kurma atau satu sha jewawut (syair) atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum muslimin. (HR Bukhari, no 1503). Hadits ini jelas menunjukkan zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan, bukan dengan dinar dan dirham (uang), padahal dinar dan dirham sudah ada waktu itu. (Rabi Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Thaam, hal. 9). Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur yang tak membolehkan zakat fitrah dengan uang dan mewajibkannya dalam bentuk makanan pokok. Alasan kami : Pertama, ayat QS at-Taubah : 103 memang bersifat global (mujmal), yaitu zakat itu diambil dari harta (mal). Namun telah ada penjelasan (bayan) dari As-Sunnah yang merinci bahwa harta yang dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah bahan makanan, bukan uang. Kedua, hadits yang dijadikan dalil adalah dhaif (lemah), karena ada seorang periwayat hadits bernama Abu Masyar yang dinilai lemah. Demikianlah menurut Imam Nawawi (al-Majmu, VI/126), Ibnu Hazm (al-Muhalla, VI/121), Imam Syaukani (Nailul Authar, IV/218), Imam az-Zailai (Nashbur Rayah, II/431), Ibnu Adi, (al-

Kamil fi adh-Dhuafa, VII/55), dan Imam Nashiruddin al-Albani (Irwa`ul Ghalil, III/844). Padahal hadits dhaif tidak layak dijadikan dasar hukum. Kalaupun dianggap sahih, hadits itu bersifat mutlak, tanpa penjelasan bagaimana caranya mewujudkan kecukupan (ighna`). Maka as-Sunnah memberikan pembatasan (taqyid) mengenai caranya, yaitu mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan, bukan dengan uang. (Nada Abu Ahmad, Ahkam Zakat al-Fithr Hal Yajuzu Ikhrajuha Qiimah, hal. 35). Kesimpulannya, tidak boleh membayar zakat fitrah dalam bentuk uang, melainkan wajib dalam bentuk bahan makanan pokok. Wallahu alam. (www.konsultasi.wordpress.com) Yogyakarta, 28 Agustus 2010 Muhammad Shiddiq al-Jawi

Assalamualaikumwarahmatullahwabarakatuh Bolehkan membayar zakat fitrah atau zakat yang lain dengan menggunakan uang? Apakah harus memberikan zakat fitrah kepada orang yang berhak dalam bentuk makanan pokok? Muhammad S di Jakarta jawab: Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh Saudara Muhammad S yang dirahmati Allah swt. Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan pokok. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra, Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha kurma atau satu sha gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau saw memerintahkannya dilakasanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari Muslim). Lantas, apakah boleh seseorang mengeluarkan zakat fitrah atau zakat yang lainnya dengan uang? Para ulama berbeda pendapat terkait masalah ini. Pendapat pertama: boleh membayar zakat fitrah dan yang lainnya dengan menggunakan qimah (mata uang). Pendapat kedua: tidak boleh membayar zakat dengan qimah (mata uang). Ketiga: diperbolehkan membayar zakat dengan qimah bila ada kemaslahatan. Pendapat pertama adalah pendapat ulama hanafiah. Pendapat kedua adalah pendapat ulama syafiiah dan ulama hanabilah. Sedangkan pendapat ketiga adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan salah satu riwayat Imam Ahmad (majmu fatawa Ibnu Taimiyah: Jilid 25/82). Menurut hemat kami, kemaslahatan membayar zakat dalam bentuk uang pada saat ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Kebutuhan mustahik sangat beragam. Tidak hanya sebatas bahan makanan pokok. Bahkan, kadang kala memberikannya dengan bahan pokok justru merugikan penerima zakat. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan yang lain, ia harus menjual lagi harta zakat yang ia terima dengan harga di bawah standar. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi memberikan suatu argument yang cukup kuat alasan Rasulullah saw, pada waktu itu, memerintahkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Kala itu, tidak semua orang memiliki dinar atau dirham. Akses mereka terhadap bahan pokok lebih mudah. Dengan begitu, apabila beliau saw memerintahkan zakat dalam bentuk uang tentu akan membebani umat muslim. Maka, beliau saw memerintahkan zakat dalam bentuk bahan makanan pokok. Berbeda halnya saat ini, situasi telah berubah. Seseorang lebih mudah mendapatkan uang daripada bahan makanan pokok. Dengan demikian, memberikan zakat dalam bentuk uang memang benar-benar memberikan maslahat. Wallahu alam.

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Berikut kami sarikan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pembimbingan Kerajaan Saudi Arabia (Rois Al Aam Li-idarot Al Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta wad Dawah wal Irsyad). Alhamdulillahi robbil alamin wa shallallahu wa sallam ala abdihi wa rosulihi Muhammad wa ala alihi wa ashhabihi ajmain. Wa badu: Beberapa saudara kami pernah menanyakan kepada kami mengenai hukum membayar zakat fitri dengan uang. Jawabannya: Tidak ragu lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang hanif (lurus) ini adalah syahadat Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar

Rasulullah. Konsekuensi dari syahadat laa ilaha illallah ini adalah seseorang harus menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat Muhammad adalah Rasul-Nya yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah hanya dengan menggunakan syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. (Telah kita ketahui bersama) bahwa zakat fitri adalah ibadah berdasarkan ijma (kesepakatan) kaum muslimin. Dan hukum asal ibadah adalah tauqifi (harus berlandaskan dalil). Oleh karena itu, setiap orang hanya diperbolehkan melaksanakan suatu ibadah dengan menggunakan syariat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Allah telah mengatakan mengenai Nabi-Nya ini,

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An Najm [53]: 3-4) Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak. (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) Dalam riwayat Muslim, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim no. 1718) Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga telah menjelaskan mengenai penunaian zakat fitri -sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih- yaitu ditunaikan dengan 1 sho bahan makanan, kurma, gandum, kismis, atau keju. Bukhari dan Muslim -rahimahumallah- meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma-, beliau berkata,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri berupa satu sho kurma atau satu sho gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Beliau shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ied. (HR. Bukhari no. 1503) Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu mengatakan,

Dahulu di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fitri berupa 1 sho bahan makanan, 1 sho kurma, 1 sho gandum atau 1 sho kismis. (HR. Bukhari no. 1437 dan Muslim no. 985) Dalam riwayat lain dari Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985 disebutkan, Atau 1 sho keju. Inilah hadits yang disepakati keshahihannya dan beginilah sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam menunaikan zakat fitri. Telah kita ketahui pula bahwa ketika pensyariatan dan dikeluarkannya zakat fitri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin -khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi shallallahu alaihi wa sallam -pen)-. Namun, beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fitri. Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fitri, tentu beliau shallallahu alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu alaihi wa sallam membayar zakat fitri dengan uang, tentu para sahabat -radhiyallahu anhum- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang membayar zakat fitri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fitri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syariat lainnya dinukil (sampai pada kita). Allah taala berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21) Allah taala juga berfirman,

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selamalamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah [9]: 100) Dari penjelasan kami di atas, maka jelaslah bagi orang yang mengenal kebenaran bahwa menunaikan zakat fitri dengan uang tidak diperbolehkan dan tidak sah karena hal ini telah menyelisihi berbagai dalil yang telah kami sebutkan. Aku memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agamanya, agar tetap teguh dalam agama ini, dan waspada terhadap berbagai perkara yang menyelisihi syariat Islam. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211) Peringatan: Melalui penjelasan di atas kami rasa sudah cukup jelas bahwa pembayaran zakat fitri dengan uang tidaklah tepat. Inilah pendapat mayoritas ulama termasuk mazhab Syafiiyah yang dianut oleh kaum muslimin Indonesia. An Nawawi mengatakan, Mayoritas pakar fikih tidak membolehkan membayar zakat fitri dengan qimah (dicocokkan dengan harganya), yang membolehkan hal ini hanyalah Abu Hanifah. (Syarh Muslim, 3/417). Namun, sayangnya kaum muslimin Indonesia yang mengaku bermazhab Syafii menyelisihi imam mereka dalam masalah ini. Malah dalam zakat fitri, mereka manut mazhab Abu Hanifah. Ternyata dalam masalah ini, kaum muslimin Indonesia tidaklah konsisten dalam bermazhab. Kami hanya bisa menghimbau kepada saudara-saudara kami selaku Badan Pengurus Zakat agar betul-betul memperhatikan hal ini. Tidakkah kita merindukan syiar Islam mengenai zakat ini nampak? Dahulu, di malam hari Idul Fitri, banyak kaum muslimin berbondong-bondong datang ke masjid-masjid dengan menggotong beras. Namun, syiar ini sudah hilang karena tergantikan dengan uang. Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memudahkan mereka mengikuti syariat-Nya. (Perkataan Nabi Syuaib): Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. *** Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal Murojaah: Ustadz Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id

Zakat Fitrah Dengan Uang Lebih Bermanfaat dan Praktis Tidak lama lagi kita akan mengakhiri puasa Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, insya Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan puasa Ramadhan kepada kita agar kita meraih kemuliaan di sisi-Nya. Sebagai manusia biasa kita tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan, bahkan kesalahankesalahan dalam melaksanakan puasa ini. Karena itulah, begitu kita memasuki malam Idul Fitri, kita diwajibkan oleh syara untuk mengeluarkan zakat fitrah satu sha (sekitar 2,5 kg) makanan pokok sebagai pembersih dari perbuatan sia-sia dan perbuatan buruk dan untuk memberi makanan kepada orang-orang miskin. waktunya berlaku hingga dimulainya shalat Id. Setelah itu zakat fitrah tidak sah dan menjadi sedekah biasa. Yang menjadi pokok pembahasan di sini, kita masyarakat Indonesia secara umum biasa mengeluakan zakat fitrah dengan beras. Tidak ada yang salah dalam hal ini karena memang mayoritas madzhab kaum muslimin di Indonesia menganut madzhab Syafii. Dan madzhab Syafii sebagaimana madzhab Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa zakat fitrah harus memakai makanan pokok suatu negeri atau jenis-jenis yang telah ditetapkan dalam nash, misalnya gandum dan kurma. Adapun madzhab Hanafi berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dikeluarkan dengan nilai barang atau uang. Khalifah Umar bin Abdil Aziz, Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, dan Imam al-Bukhari juga berpendapat demikian. Ibnu Rusyd sebagaimana yang dikutip Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (3/100) mengatakan, Imam Bukhari sependapat dengan madzhab Hanafiyah dalam masalah ini, padahal ia banyak berselisih dengan mereka. Namun, dalillah yang menuntunnya demikian. Setelah mengkaji mazhab ulama tentang masalah ini dan melihat realita perkembangan masyarakat, saya cenderung agar kebiasaan zakat fitrah dengan beras diganti dengan uang karena hal ini insya Allah akan lebih bermanfaat dan lebih praktis, disamping memiliki landasan dalil yang kuat. Syaikh Yusuf Qardhawi telah menjelaskan dengan penjelasan yang memuaskan tentang zakat fitrah dengan uang dalam karya besarnya

Fiqh az-Zakah. Maka barangsiapa yang ingin memahaminya lebih komprehensif, saya persilakan merujuk kitab tersebut. Berikut ini dalil-dalil naqli dan aqli zakat fitrah dengan uang. 1. Allah swt berfirman, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. (at-Taubah: 3) Uang termasuk harta. Adapun tidak diberlakukannya zakat dengan uang pada zaman nabi karena untuk memudahkan mereka. Pada zaman itu umat Islam belum memiliki uang tersendiri. Uang dinar berasal dari Romawi dan uang dirham berasal dari Persia. 2. Sahabat Muadz ketika di Yaman berkata, Bawalah baju Khamis atau lainnya kepadaku. Aku mengambilnya dari kalian sebagai ganti zakat, karena hal itu lebih mudah bagi kalian dan lebih bermanfaat bagi kaum Muhajirin di Madinah. (HR. Baihaqi dan Imam Bukhari. Dalam riwayat lain disebuatkan, sebagai ganti dari jagung dan gandum. (HR. Baihaqi) Ketika itu masyarakat Yaman terkenal dengan produksi pakaian, sementara mayoritas penduduk Madinah petani. Maka membayar zakat dengan pakaian sebagai ganti dari jagung dan gandum lebih mudah bagi mereka dan lebih bermanfaat bagi para sahabat di Madinah. Perlu diketahui bahwa sahabat Muadz telah disaksikan oleh Nabi saw. sebagai orang yang paling tahu tentang halal dan haram. 3. Imam Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi saw. marah ketika melihat unta tua yang dimasukkan dalam harta zakat. Beliau bersabda, Celakalah orang yang mengambil unta ini! Orang yang mengambilnya lalu berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku akan menggantinya dengan dua unta dari unta-unta kecil zakat. Beliau bersabda, Kalau begitu, ya. Hadits ini memiliki sanad yang dapat dijadikan hujjah. Mengganti satu unta dengan dua unta adalah mempertimbangkan nilai dan ini sama dengan membayar zakat dengan uang. 4. Muawiyah berkata, Sesungguhnya aku melihat dua mud Samra` (gandum Syam) setara dengan satu sha kurma. (HR. Muslim, Nasa`i, Baihaqi dan lainnya) Di sini sahabat Muawiyah ra. membolehkan satu Sha kurma diganti dengan dua mud gandum Syam. Ini menunjukkan bolehnya membayar zakat dengan nilai atau uang. 5. Zakat bukanlah jenis ibadah yang murni seperti shalat. Di dalamnya terdapat tujuan-tujuan yang bisa dipahami oleh akal manusia. Dengan kata lain, ada sisi-sisi kemanusiaannya yang bisa dijadikan acuan untuk istidlal aqli. Jika pada zaman nabi tidak ada zakat uang, itu karena kondisinya menuntut seperti itu. Kondisinya berbeda setelah itu. Kita bisa memahami Imam Abu Hanifah yang membolehkan zakat fitrah dengan uang karena beliau hidup di negeri Irak yang corak kehidupannya sudah metropolitan, disamping beliau sendiri juga seorang pedagang. Sesungguhnya kondisilah yang menuntut demikian. Beliau melihat zakat dengan uang lebih mudah, lebih praktis, dan lebih bermanfaat untuk fakir miskin. 6. Masyarakat yang tidak memiliki banyak beras akan membeli beras untuk membayar zakat. Setelah membayarkannya, panitia mengumpulkannya dan membutuhkan banyak tenaga untuk mendistribusikannya. Setelah didistribusikan kepada penerima zakat, penerima zakat menjualnya lagi kepada toko yang tentunya dengan harga di bawah standar. Bahkan, ada juga panitia yang menjual beras-beras itu secara langsung. Maka kerepotan-kerepotan ini akan hilang jika pembayaran zakat menggunakan uang. Membawanya ke panitia mudah, lalu panitia menyerahkannya kepada penerima zakat juga mudah, tanpa banyak tenaga dan biaya. Manfaatnya bagi penerima zakat juga lebih besar dan lebih leluasa, terlebih pada zaman sekarang yang secara umum tidak kekurangan masalah makanan. Sumber artikel: muslim.or.id dan redaksi

Yang Benar tentang Zakat Fithri


Agustus 13th, 2012 | Author: pak Ashadi

Zakat yang diwajibkan atas setiap muslim seiring dengan datangnya waktu fithr (berbuka) di akhir bulan Ramadhan, karena itulah zakat ini disebut dengan zakat fithri.

Ibnu Umar berkata, Rasulullah shallallahu alai mewajibkan zakat fithri satu sha kurma atau satu sha gandum atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin, beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat ke (tempat) shalat. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini menjelaskan: 1Hukum zakat fithri, bahwa ia wajib. 2Kadar yang diwajibkan, yaitu satu sha. 3Dengan apa ia ditunaikan, yaitu dengan makanan pokok suatu negeri. 4Kepada siapa ia diwajibkan, kaum muslimin tanpa kecuali. 5- Waktu pembayaran, yaitu sebelum berangkat shalat Idul Fitri. Hikmah Abdullah bin Abbas berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberi makan bagi orang-orang miskin. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Zakat untuk Orang yang Wajib Dinafkahi Pada dasarnya zakat fitrah diwajibkan atas setiap pribadi kaum muslimin, yakni setiap muslim harus membayar zakatnya sendiri, sekalipun dia masih anak-anak berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas, namun karena keterbatasan anak-anak, wanita dan hamba sahaya, maka zakat mereka ditanggung oleh pihak yang wajib menafkahi mereka. Waktu Pembayaran Waktu wajib, yaitu waktu berbuka, saat matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan, maka siapa pun yang mendapatkan waktu ini, dia wajib membayar zakat fithri, seandainya janin lahir di waktu ini, maka orang tuanya menunaikan zakat untuknya, bila sesudahnya, maka zakatnya mustahab, dianjurkan. Waktu utama, sebelum berangkat shalat, sebagai mana dalam hadits Ibnu Umar di atas. Waktu jawaz (boleh), diperselisihkan. Pendapat pertama: Satu atau dua hari sebelum Idul Fitri menurut Malikiyah dan Pendapat kedua: Di awal bulan menurut Syafiiyah dan sebagian Pendapat ketiga: Mutlak, sekalipun sebelum Ramadhan, ini adalah madzhab Hanafiyah. Hanabilah. Hanabilah.

Dalil pendapat pertama: Ibnu Umar berkata, Orang-orang membayar zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Mendahulukan zakat satu atau dua hari tidak meniadakan hikmah disyariatkannya zakat fithri, yaitu membuat orang-orang fakir berkecukupan sehingga mereka tidak meminta-minta di hari Idul Fitri. Dalil pendapat kedua: Sebab zakat fithri adalah puasa dan berbuka, bila salah satu dari keduanya sudah ada, maka boleh membayar zakat fithri, seperti zakat mal setelah memiliki nishab. Dalil pendapat ketiga: Sebab diwajibkannya zakat ini telah terwujud, yaitu seseorang yang wajib mengeluarkannya, sehingga menyegerakan setelah terwujudnya sebab dibolehkan seperti menyegerakan zakat. Pendapat pertama adalah pendapat yang rajih, yaitu tidak boleh mendahulukan zakat fithri sebelum Idul Fitri lebih dari dua hari, karena hal tersebut diriwayatkan dari para sahabat, di samping ia sejalan dengan hikmah disyariatkannya zakat ini. Zakat Fithri dengan Uang Pertama: Tidak boleh membayar zakat fithri dengan uang, tetapi dengan bahan makanan, ini adalah pendapat jumhur dari madzhab Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Kedua: boleh membayar zakat fithri dengan uang secara mutlak, ini adalah pendapat Hanafiyah. Pendapat pertama berdalil kepada hadits Ibnu Umar di atas yang menetapkan bahan makanan sebagai zakat, bukan uang, juga hadits Abu Said al-Khudri, Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha kurma atau sha gandum atau satu sha susu kering atau sha kismis. Diriwayatkan oleh Muslim.

Pendapat kedua beralasan, hikmah zakat fithri adalah mencukupi hajat orang fakir miskin, dan mencukupi tidak harus dengan bahan makanan, karena uang juga bisa mencukupi. Pendapat pertama rajih, karena: 1- Zakat fithri dengan makanan ditetapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan diamalkan para sahabat, padahal saat itu uang sudah ada, namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menyinggungnya. 2- Nabi shallallahu alaihi wasallam mengetahui bahwa orang fakir tidak hanya butuh makan, dia juga butuh uang, namun beliau menunjuk bahan makanan. 3- Nabi shallallahu alaihi wasallam menetapkan beberapa jenis makanan yang harganya berbeda, hal ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ingin makanan itu sendiri, bukan uang. Wallahu alam.

Fatwa Ulama Zakat Firi dalam bentuk Uang Tunai


Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin

Pertanyaan (14): Apakah diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang tunai ?
Jawab : Zakat fitrah tidak sah jika dikeluarkan dalam bentuk uang tunai. Karena Nabi mewajibkannya dalam bentuk makanan pokok, baik berupa buah kurma, gandum (atau makanan pokok yang lainnya). Dan Abu Said Al khudri telah berkata : Dahulu kami mengeluarkan zakat fitrah pada hari ied (sebelum sholat ied) pada masa nabi berupa satu shodari makanan pokok. Dan adalah makanan pokok kami pada waktu itu berupa buah kurma, biji gandum, anggur yang kering, dan al aqt (makanan dari susu yang diaduk kemudian dikeringkan). Maka tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah kecuali dengan apa-apa yang diwajibkan oleh Nabi . Dan berdasarkan hadits Nabi dari jalan Ibnu Abbas bahwa beliau (Rasulullah) mewajibkan dikeluarkannya zakat fitrah dalam rangka mensucikan atau membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan sia-sia, dan dalam rangka memberi makan orang-orang miskin.Dan pelaksanaan ibadah tidak boleh melampaui batas-batas syari, meskipun hal itu dianggap baik. Maka ketika nabi mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk makanan dalam rangka memberi makan orang -orang miskin, hal ini karena uang tunai tidak bisa langsung dimakan. Uang tunai masih harus dipergunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik itu makanan, minuman, pakaian dan selainnya. Kemudian juga jika zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk uang tunai maka akan mudah disembunyikan dan dikorupsi. Hal ini karena kebiasaan orang meletakkan uang di sakunya. Maka jika seseorang menemukan seorang yang fakir kemudian memberikan zakat fitrah padanya dalam bentuk uang, maka tidak akan terang dan jelas kadarnya bagi keluarga miskin tersebut. Dan jika zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk uang , terkadang seorang salah dalam memperkirakan jumlah uang yang harus dia keluarkan. Terkadang dia mengeluarkan dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang seharusnya. Hal yang demikian belum membuat dia terbebas/lepas dari tanggungannya untuk mengeluarkan zakat sesuai kadarnya. Dan sesungguhnya Rasulullah telah mewajibkan penunaian zakat fitrah dalam bentuk berbagai jenis makanan pokok yang ada, yang bermacam-macam/ berbeda-beda jenisnya dan kadar harganya. Berbeda dengan uang tunai. Kalau sekiranya uang tunai bisa digunakan untuk menunaikan zakat fitrah, maka harus digunakan satu jenis mata uang, atau apa-apa yang sebanding Adapun perkataan bahwa uang tunai itu lebih bermanfaat bagi si miskin maka jawabannya adalah: bila si miskin menginginkan uang, maka dia bisa menjual zakat fitrah yang diterimanya tersebut. Adapun muzakky (orang yang mengeluarkan zakat) tetap wajib berzakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. (Syaikh Utsaimin)

Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan Majmu Fataawa Syaikh Shalih Fauzan. Murajaah Al Ustadz Abu Isa Nurwahid) Sumber URL : http://darussalaf.or.id ***

Dalam Bentuk Apa Zakat Fitrah dikeluarkan?


Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang lalu. Dan lebih jelas lagi dengan riwayat berikut: : Dari Abu Said radhiallahu anhu, ia berkata: Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha dari makanan, 1 sha kurma, 1 sha gandum, ataupun 1 sha kismis (anggur kering). (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat no. 1508 dan 1506, dengan Bab Zakat Fitrah 1 sha dengan makanan. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2280) Kata (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Said yang lain: Ia mengatakan: Kami mengeluarkannya (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri. Abu Said mengatakan lagi: Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma. (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Qablal Id, AlFath, 3/375 no. 1510) Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir dan miskin. Sehinggaseandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran. Inilah pendapat yang kuat yang dipilih oleh mayoritas para ulama. Di antaranya Malik (At-Tamhid, 4/138), AsySyafii dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah (Majmu Fatawa, 25/69), Ibnul Mundzir (AlFath, 3/373), Ibnul Qayyim (Ilamul Muwaqqiin, 2/21, 3/23, Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim hal. 234), Ibnu Baz dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/365, Fatawa Ramadhan, 2/914) Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk makanan yang disebutkan dalam hadits Nabi. Ini adalah salah satu pendapat Al-Imam Ahmad. Namun pendapat ini lemah. (Majmu Fatawa, 25/68)

Bolehkah Mengeluarkannya dalam Bentuk Uang?


Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Pendapat pertama: Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafii, Ahmad, dan Dawud. Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihinya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Taala. Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya. Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut dalam hadits. An-Nawawi mengatakan: Ucapan-ucapan Asy-Syafii sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang). (Al-Majmu, 5/401) Abu Dawud mengatakan: Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: Bolehkah saya memberi uang dirham yakni dalam zakat fitrah-? Beliau menjawab: Saya khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah. Ibnu Qudamah mengatakan: Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat. (Al-Mughni, 4/295) Pendapat ini pula yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat Fatawa Ramadhan, 2/918-928) Pendapat kedua: Boleh mengeluarkannya dalam bentuk uang yang senilai dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-Majmu, 5/402, Bada`iush-Shana`i, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379) Pendapat pertama itulah yang kuat. (Yaitu Zakat firah berupa makanan) Atas dasar itu bila seorang muzakki (yang mengeluarkan zakat) memberi uang pada amil, maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil dari muzakki. Selanjutnya, amil tersebut membelikan beras misalnya untuk muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras, bukan uang. Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu ketika yang demikian itu lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih mempermudah bagi orang kaya. Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullahu mengatakan: Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya, seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau

gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya. (Dinukil dari Tamamul Minnah, hal. 380) Beliau juga mengatakan dalam Majmu Fatawa (25/82-83): Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yang kuat maka tidak boleh . Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan Adapun mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka tidak mengapa. Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana disebutkan dalam kitab Tamamul Minnah (hal. 379380) Yang perlu diperhatikan, ketika memilih pendapat ini, harus sangat diperhatikan sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam menentukan, sehingga berakibat menggampangkan masalah ini. Sumber URL : http://darussalaf.or.id/stories.php?id=388