Anda di halaman 1dari 7

Bagian utama (naskah artikel) diberi nomor halaman menggunakan angka arab ( 1,2,3,dst) di POJOK KANAN ATAS

PERANAN PEER-EDUCATOR DALAM MENGENDALIKAN KONSUMSI ROKOK UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN
Nama penulis dan alamat institusi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus UI Depok Jawa Barat 16424penulis

Anggraini Sari Astuti, Nabila Azmi, dan Nisa Deyasningrum

Panjang abstrak tidak lebih dari 250 kata

ABSTRAK
Abstrak disajikan

Remaja merupakan generasi penerus bangsa. Namun, sangat disayangkan data dari Riskesdas dalam bahasa tahun 2010 menunjukan jumlah perokok pada remaja usia 15-24 tahun mencapai 26,6 %. indonesia dan bahasa Pendidikan sebaya (peer education) adalah sebuah konsep populer yang mengacu pada inggris ,berisi latar berbagai pendekatan seperti saluran komunikasi, metodologi, filosofi, dan strategi. Namun sangat disayangkan, peranan peer-educator dalam mengendalikan konsumsi rokokbelakang,tujuan, kalangan metode, hasil dan remaja ini masih belum diperhatikan karena adanya stigma di masyarakat bahwa konsumsi kesimpulan rokok akibat buruk dari pergaulan sebaya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menjadikan teman sebaya sebagai pengaruh positif untuk mengendalikan konsumsi rokok. Survei ini merupakan studi pendahuluan untuk perencanaan program promosi kesehatan kolaborasi mahasiswa rumpun kesehatan di Universitas Indonesia masa mendatang. Kata Kunci : Peer-Educator, Konsumsi Rokok, Remaja ABSTRACT
Kata kunci ( jumlah kata yang paling sering ditulis ): 3-5 kata, disusun alfabetis

Adolescents are the future generation. However, data from Riskesdas 2010 shows the number of smoker among adolescents aged 15-24 years reached until 26.6%. Peer education is a popular concept that refers to a variety of approaches such as channels of communication, methodology, philosophy, and strategy. Unfortunately, peer-educator role in controlling tobacco consumption among adolescents is still not considered because of the stigma in society that cigarette consumption was the effect of peer interaction. This fact influence authors to make peers as a positive influence to control tobacco consumption among adolescents. This survey was a preliminary study for collaborative health promotion program planning by students from faculty of health at the University of Indonesia. Keywords: Peer-educator, Tobacco consumption, Adolescents
Berisi tentang gambaran umum fenomena yang diangkat : latar Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu belakang, tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat,permasalahan, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Beberapa motivasi yang tujuan,dan manfaat melatarbelakangi seseorang remaja merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory kegiatan.Dapat beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya dilampirkan teori dan tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Prevalensi fakta tertentu dari merokok telah menurun di banyak negara maju dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tetap peneliti lainnya tinggi di negara-negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, untuk memperlihatkan tembakau membunuh lebih dari lima juta orang per tahun dan diproyeksikan akan membunuh kemutakhiran. 10 juta orang sampai tahun 2020. Dari jumlah itu, 70% korban berasal dari negara

PENDAHULUAN

berkembang termasuk Indonesia (Bustan, 2007).


Jumlah halaman tidak diatur.Format penulisan dapat berbeda asalkan mengaju pada jurnal ilmiah yang memiliki ISSNDalam kasus yang demikian, penulis

diwajibkan untuk melampirkan sebuah kopi artikel dari jurnal yang diacu tersebut sebagai bukti

2 Tren Konsumsi Rokok Remaja Indonesia Remaja merupakan generasi penerus bangsa. Namun, sangat disayangkan data dari Riskesdas tahun 2010 menunjukan jumlah perokok pada remaja usia 15-24 tahun mencapai 26,6 %. Hal ini menunjukan terjadi peningkatan jumlah perokok dikalangan remaja dari 19,9% (Riskesdas,2007) menjadi 26,6% (Riskesdas,2010). Data WHO juga semakin mempertegas bahwa jumlah perokok yang ada di dunia sebanyak 30% adalah kaum remaja. Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64.8% pria dan dengan usia di atas 13 tahun adalah perokok (Tandra, 2003). Bahkan menurut data pada tahun 2000 yang dikeluarkan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) dari 2074 responden pelajar Indonesia usia 15 20 tahun, 43.9% (63% pria) mengaku pernah merokok (Mengapa, 2004). Perokok laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan di mana jika diuraikan menurut umur, prevalensi perokok laki-laki paling tinggi pada umur 15-19 tahun. Remaja laki-laki pada umumnya mengkonsumsi 11-20 batang/hari (49,8%) dan yang mengkonsumsi lebih dari 20 batang/hari sebesar 5,6%. Kelompok Smoking and Health memperkirakan sekitar enam ribu remaja mencoba rokok pertamanya setiap hari dan tiga ribu di antaranya menjadi perokok rutin (Stop, 2000). Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin (Laventhal dan Cleary dalam Mc Gee, 2005). Secara garis besar perilaku merokok pada remaja dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor dari dalam diri remaja itu sendiri dan faktor lingkungan. Faktor dari dalam diri remaja terjadi dikarenakan remaja sedang mengalami masa transisi, dimana terjadi krisis psikososial saat remaja mencari jati dirinya. Sedangkan faktor dari luar atau lingkungan dipengaruhi oleh pihak yang berpengaruh dalam sosialisasi remaja. Peranan Peer-Educator Pendidikan sebaya (peer education) adalah sebuah konsep populer yang mengacu pada berbagai pendekatan seperti saluran komunikasi, metodologi, filosofi, dan strategi. Menurut kamus Merriam Webster (1985 dikutip dari UNAIDS, 1999), istilah pendidikan mengacu pada pembangunan, pelatihan, atau bujukan dari pendidik yang diberikan pada kelompok tertentu. Atau ilmu pengetahuan yang merupakan hasil dari suatu proses pendidikan. Dalam prakteknya, pendidikan sebaya telah diambil pada berbagai definisi dan interpretasi tentang siapa yang kelompok sebaya/peer dan apa yang disebut sebagai pendidikannya (misalnya advokasi, konseling, memfasilitasi diskusi, drama, ceramah, mendistribusikan bahan, membuat rujukan ke layanan, memberikan dukungan, dan sebagainya). Shoemaker et al (1998) dan Flanagan et al (1996 dikutip dari UNAIDS, 1999) menyatakan bahwa pendidikan sebaya (peer education) biasanya melibatkan penggunaan anggota kelompok tertentu untuk menghasilkan perubahan di antara anggota lain dalam kelompok yang sama. Pendidikan sebaya sering digunakan untuk mengubah tingkat perilaku pada individu dengan cara memodifikasi pengetahuan, sikap, keyakinan, atau perilaku seseorang. Namun, pendidikan sebaya juga dapat mempengaruhi perubahan di tingkat kelompok atau masyarakat dengan memodifikasi norma-norma dan merangsang tindakan kolektif yang mengarah pada perubahan program dan kebijakan yang ada dalam masyarakat.

3 Promosi Kesehatan Promosi kesehatan adalah tentang meningkatkan status kesehatan dari individu dan komunitas. Promosi dalam konteks kesehatan diartikan sebagai memperbaiki kesehatan : memajukan, mendukung, mendorong dan menempatkan kesehatan lebih tinggi pada agenda perorangan maupun masyarakat umum. WHO berdasarkan hasil Ottawwa Charter, 1986, menyebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya serta untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, dan sosial. Australian Health Foundation (dikutip dari Notoatmodjo, 2007) menyebutkan bahwa promosi kesehatan adalah program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan, sehingga dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan tidak hanya dikaitkan pada peningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik kesehatan saja tetapi juga perbaikan lingkungan. TUJUAN Survei ini bertujuan mengetahui peranan peer-educator dalam mengendalikan konsumsi rokok kalangan remaja untuk merencanakan program promosi kesehatan oleh mahasiswa kesehatan di Universitas Indonesia. Selain itu survei ini juga sebagai salah satu jalan untuk menyadarkan mahasiswa akan pentingnya kepedulian serta tindakan terhadap permasalahan tingginya jumlah perokok remaja di Indonesia. METODE
Judul dapat diganti dengan metode penelitian atau bahan dan metode, sesuai tipe penelitian

Metode peer-education digunakan dalam perencanaan program promosi kesehatan ini. Fakultas rumpun kesehatan di Universitas Indonesia saat ini berjumlah 4 fakultas yakni, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Metode berisi Fakultas Ilmu Keperawatan. Selain fakultas-fakultas tadi, Universitas Indonesia juga waktu,lama,tempat observasimemiliki program vokasi rumpun kesehatan. Pengkategorian mahasiswa rumpun kesehatan terbagi lagi menjadi dua yakni mahasiswa rumpun kesehatan medis dan alat yang bahan dan non-medis. Kolaborasi mahasiswa rumpun kesehatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi digunakan-metode maksimal bagi usaha pengendalian konsumsi rokok di kalangan remaja. Peer-education pengumpulan informasi/datamampu menjembatani ketidaktahuan serta kekhawatiran remaja dan atau teman sebaya untuk cara pengolahan data dan bersikap jujur atas permasalahan yang terjadi pada dirinya yang berujung motivasi untuk analisis yang dilakukan merokok yang berdampak bagi kesehatannya. Remaja di Indonesia enggan menyampaikan keluhan dan permasalahan yang terjadi pada dirinya karena kurangnya akses pelayanan kesehatan yang youth-friendly dan kurang memanfaatkan pengaruh positif dari teman sebaya. Selama ini kelompok teman sebaya selalu dinilai negatif dan memberikan dampak buruk dalam pergaulan. Beberapa penemuan memang mengidentifikasi adanya pengaruh negatif dari kelompok sebaya, oleh karena itu penulis ingin mengubah stigma dan paradigma dari masyarakat sehingga memanfaatkan kelompok sebaya sebagai peer-educator. Inisiatif mahasiswa rumpun kesehatan di Indonesia tergabung dalam sebuah wadah sebagai peer-educator sudah diterapkan dalam sebuah komunitas yang bernama Indonesian Youth Health Ambassadors. Namun, mahasiswa rumpun kesehatan di Universitas Indonesia sendiri belum pernah berkolaborasi dan menyentuh permasalahan rokok di kalangan remaja ini. Sehingga penulis berinisiatif mengadakan studi pendahuluan berupa survei untuk mengetahui peranan peer-educator

4 tersebut sebagai perencanaan program promosi kesehatan mahasiswa rumpun kesehatan di Universitas Indonesia di masa mendatang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan berisi FAKTA sebagai temuan penelitian dan ANALISIS fakta Pendidikan sebaya telah digunakan di berbagai bidang kesehatan publik, termasuk tsb. Analisis juga dapat berisi pendidikan gizi, keluarga berencana, penggunaan narkoba, dan pencegahan kekerasan dalam masyarakat. Namun, pendidikan sebaya dalam usaha pengendalian rokok PERTANYAAN baru yang belum menonjol timbul dan DUGAAN ILMIAH karena anggapan masyarakat terkait pengaruh buruk dari pergaulan sebaya. Survei sebagai jawaban sementara. pendahuluan ini dilakukan kepada 30 mahasiswa rumpun kesehatan di Universitas Indonesia.

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dalam survei penulis menyajikan diagram distribusi Jika ditemukan fakta responden berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan umur, berdasarkan ada atau tidaknya yang memiliki perokok teman yang perokok, bagaimana cara mahasiswa tersebut merespon teman yang perbedaan dengan temuan program serta pertanyaan terkait kesediaan partisipasi responden apabila direncanakan peneliti sebelumnya, promosi kesehatan yang menitikberatkan pada peer-educator dengan kolaborasi mahasiswa juga perlu disebutkan, dengan rumpun kesehatan se-Universitas Indonesia. juga menuliskan prediksi
faktor penyebab.

Jenis Kelamin
Perempuan: 21 (70%) Laki-Laki: 9 (30%)

Diagram 1.1 Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin Responden dalam survei ini lebih didominasi oleh perempuan (70%) hal ini dikarenakan Hindari dengan beberapa mahasiswa laki-laki menolak untuk berpartisipasi. Hanya 9 laki-laki penggunaan warna dalam gambar presentase 30% yang bersedia untuk berpartisipasi dalam survei ini.

Umur
18 tahun ( 46,2%) 19 tahun (33,3%) 20 tahun (13,2%) lainnya (6,6%)

gunakan teknik greyscale untuk mengemulasi warna dalam foto atau diagram, dan gunakan pattern/pola untuk menggantikan warna dalam grafik garis ataupun diagram.

Diagram 1.2 Distribusi Responden berdasarkan Umur

Judul gambar dan penomoran sesuai urutan kemunculan dengan angka arab ( posisi di BAWAH gambar)

5 Berhubung target responden survei ini adalah mahasiswa, oleh karena itu responden terbanyak adalah berumur 18 tahun (46,2%) dan yang paling sedikit adalah umur lainnya yakni 6,6%.

Memiliki Teman Perokok


Ya (99%) Tidak (1%)

Diagram 1.3 Distribusi Responden yang Memiliki Teman Perokok Dari diagram 1.3 di atas menunjukkan bahwa hampir semua responden memiliki teman perokok (99%), hal ini menunjukkan bahwa perlunya perhatian lebih terhadap usaha pengendalian konsumsi rokok di kalangan remaja. Oleh karena itu, hasil dan pembahasan ini diharapkan dapat menjadi studi pendahuluan untuk perencanaan program promosi kesehatan oleh mahasiswa.

Respon terhadap Teman Perokok


Tidak Peduli Meminta untuk Menghindari Tidak menjawab Respon terhadap Teman Perokok

10

15

Diagram 1.4 Respon Mahasiswa terhadap Teman Perokok Diagram di atas menggambarkan respon dari responden terhadap terhadap teman perokok. Sebanyak 14 orang dengan presentase 46,2% meminta untuk berhenti merokok. Sebanyak 13 orang dengan presentase 42,5% memilih untuk menghindarinya. Responden yang memilih tidak peduli dengan teman perokok sebesar 13,2% dan lainnya memilih untuk tidak menjawab (6,6%).

Partisipasi Program Edukasi Sebaya


Bersedia ( 75,9%) Tidak Bersedia ( 13,2%) Tidak Menjawab (9,9%)

6 Diagram 1.5 Partisipasi Program Edukasi Sebaya Diagram di atas menunjukkan bahwa 75,9% responden bersedia untuk berpartisipasi dalam program edukasi kelompok sebaya sebagai perencanaan promosi kesehatan oleh mahasiswa. Sebanyak 13,2% responden tidak bersedia dikarenakan ketersediaan waktu yang terbatas dan 9,9% lainnya memilih untuk tidak menjawab. Seperti yang dikatakan oleh seorang responden dalam survei ini .........seharusnya mahasiswa rumpun kesehatan mengambil tindakan atas tingginya konsumsi perokok di kalangan remaja.......... Responden lain juga menyebutkan ...., teman sebaya memiliki daya influence yang cukup besar terhadap temannya. Responden lainnya juga menyebutkan bahwa .......sangat berpengaruh, karena remaja lebih sering bersama teman-temannya dan mengikuti perilaku yang ada di sekitarnya........

KESIMPULAN

Kesimpulan adalah jawaban atas tujuan yang telah dikemukakan dalam publik, termasuk Pendidikan sebaya telah digunakan di berbagai bidang kesehatan pendahuluan

pendidikan gizi, keluarga berencana, penggunaan narkoba, dan pencegahan kekerasan dalam masyarakat. Namun, pendidikan sebaya dalam usaha pengendalian rokok belum menonjol karena anggapan masyarakat terkait pengaruh buruk dari pergaulan sebaya. Tingginya jumlah remaja yang merokok di Indonesia sangat memprihatinkan. Mahasiswa rumpun kesehatan di Universitas Indonesia diharapkan dapat berkolaborasi mengambil langkah dan tindakan untuk berpartisipasi dalam usaha pengendalian rokok di kalangan remaja Indonesia dengan merencanakan program promosi kesehatan menggunakan metode pendekatan peer-education. Diharapkan survei ini serta perencanaan program promosi kesehatan ini dapat meningkatkan peranan mahasiswa yang masih berstatus remaja untuk membantu usaha pemerintah dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. Hlmn.15-21 Anonim. 2010.http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/download/TabelRiskesdas2010.pdf. diakses Februari 2012 21.05 Komala Sari, Dian dan Evin Fadilla Helmi. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perilaku.pdf diakses Februari 2012 18.45
Daftar pustaka ditulis mengacu kepada

Anonim. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16726/4/Chapter%20II.pdf. Remaja ditail HARVARD style (aturan lebih dan Perilaku Seks Bebas. Diakses Februari 2012 17.15 silakan dieksplorasi lebih lanjut). Anonim. www.who.int/tobacco-consumption-among-adolescents. Tobaco Consumption yang Among Adolescent. Diakses Februari 2012 13.31 dapat dipertanggungjawabkan Anonim. www.cdc.gov/tobacco-control. Tobacco Control. Diakses Februari 2012 13.31 Anonim.www.depkes.go.id. Diakses Februari 2012 13.31
Sumber pustaka berasal dari sumber

keabsahan ilmiahnya (misalnya Jurnal ilmiah, buku, prosiding seminar dll) dan bukan berasal dari opini pribadi yang dipublikasikan di internet atau media lainnya.

TAMBAHAN : Output akhir pkm adalah hardcopy siap terbit (camera ready) serta soft copy dalam CD dengan format doc dan pdf. Foto dan gambar disimpan dalam folder GAMBAR dan diburning dalam CD yang sama. Format gambar adalah JPG, untuk foto bisa berasal dari kamera digital atau hasil digitasi menggunakan scanner. Semua file disimpan dalam sebuah folder/direktori dengan nama folder/direktori mengikuti aturan penamaan sebagai berikut : PKM-KC-12--UI-Indosmesh: national Entrepreneurship----CD dilabeli dengan cetak komputer : jenis PKM,Universitas,tahun, nama ketua, judul PKM