Anda di halaman 1dari 33

(Ayan, sawan, celengan)

Jagentar P. Pane, S. Kep,Ns.

1. Epilepsi dikenal dikalangan masyarakat

dengan istilah sakit ayan, sawan, celengan. 2. Insiden yang paling sering dialami adalah anak-anak, 70% kasus epilepsi terjadi sebelum umur 20 tahun.

A. DEFINISI Epilepsi adalah suatu penyakit serebral dengan karakteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersifat reversibel. Kekejangan ini diakibatkan oleh karena adanya fokus-fokus iritatif pada neuron sehingga menimbulkan letupan muatan listrik spontan.

B. PENYEBAB Dibagi dua yaitu; 1. Epilepsi idiopatik = penyebab tidak diketahui, usia anak menjelang dewasa. 2. Epilepsi Simtomatik, penyebab bervariasi. Trauma lahir, kelainan kongenital, gangguan metabolik, infeksi saraf pusat, kejang demam, trauma kepala, infeksi otak karena pembedahan, tumor otak.

C. PATOFISIOLOGI
Gangguan sistem listrik sel-sel saraf pusat

Predisposisi - Pascatrauma kelahiran, penggunaan obat antikonvulsi, keturunan epilepsi


Sel memberikan muatan listrik yg abnormal

Aktivitas kejang umum lama akut, tanpa perbaikan kesadaran penuh di antara serangan Status Epileptikus

Periode pelepasan impuls yg tidak dinginkan

Kebutuhan metabolik besar Hipoksia otak

Gangguan pernafasan

Kerusakan otak permanen

Edema serebral

Kejang parsial
Gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi dan persepsi

Kejang Parsial

Kejang umum

Peka ransangan

Respon pasca kejang (postikal) Respons fisik . Konfusi dan sulit bangun . Keluhan sakit kepala atau sakit otot

Kejang berulang

Respons psikologis Ketakutan Respon penolakan penurunan nafsu makan Depresi Menarik diri

1. Resiko tinggi cedera

Penurunan kesadaran

4. Nyeri akut 5. Defisit perawatan diri

2. Ketakutan 3. Koping individu tidak efektif

D. GEJALA dan TANDA

ada dua= Kejang umum & parsial 1. Kejang umum a. Petit mall (absen) Muncul umur 4 tahun Kehilangan kesadran sesaat (bengong) tanpa disertai gerakan motorik involunter yang aneh Pikiran kosong sesaat pada saat aktivitas Mungkin menghilang waktu remaja atau berganti dengan serangan tonikklonik

b. Gran mall (tonik-klonik) Melibatkan ekstensi klonik tonik bilatral ekstremitas yang sinkron. Adanya aura seperti sensasi pengelihatan atau pendengaran yang diikuti kehilangan kesadaran secara mendadak. Terdapat kekakuan ektremitas Lidah dapat tergigit, mulut berbusa Inkontinensia urin dan alvi Kehilangan kesadaran yang mendadak Nyeri otot, lemah dan letih, mengantuk dan tidur jangka waktu yang lama Klien lupa apa yang terjadi.

c. Mioklonik
Adanya kontraksi kelompok otot tertentu

secara singkat dan tiba-tiba Biasanya tidak ada kehilangan kesadaran selama serangan

d. Atonik / akinetik
Pasien mengalami kehilangan tonus

tubuh dan kesadaran sangat singkat Klien dapat jatuh secara tiba-tiba Lemas pada lutut

2. Kejang parsial a. Kejang parsial sederhana/ jakson


Pasien sadar akan apa yang terjadi tapi

tidak mampu mengedalikannya Bisa hanya sensorik, motorik, automatik atau ketiganya tergantung dari area yang terkena Gerakan klonik dari jari tangan, kemudian menjalar ke lengan bawah atau keseluruh tubuh. Gerakan kepala dan leher menengok ke satu sisi, adanya halusinasi.

b. Kejang parsial kompleks Terdapat gangguan kesadaran seperti gangguan kognitif, afektif, psikosensori dan psikomotor. Kejang lobus temporal seperti; disfagia, dejavu (dikenal dengan peristiwa yang sebelumnya belum pernah dialaminya) Jamais-vu (tidak dikenal dengan peristiwa yang pernah dialami) Adanya halusinasi Otomatisme (gerakan menguyah-nguyah, menelan)

STATUS EPILEPTIKUS

Merupakan kejang yang paling serius, dimana kejang terjadi terus menerus, 30 menit, disertai penurunan kesadaran. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu bernafas sebagaimana mestinya dan muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas. Status epileptikus dapat menimbulkan ancaman kerusakan sel-sel neuron yang meluas dan permanen sampai terjadi kematian akibat hipoksia jaringan otak, gagal pernafasan, hipertensi, peningkatan TIK sehingga memerlukan perawatan intensif.

Faktor pencetus status epileptikus


Penderita epilepsi tanpa pengobatan/

dosis pengobatan yang tidak memadai Pengobatan yang tiba-tiba dihentikan Kurang tidur, stres psikis Penggunaan alkohol, narkotik Penderita stroke, tumor cerebral, meningitis.

Gejala Kejang Berdasarkan Sisi Otak Yang Terkena


Sisi otak yg terkena Lobus frontalis Lobus oksipitalis Lobus parietalis Lobus temporalis Gejala Kedutan pada otot tertentu Halusinasi kilauan cahaya Mati rasa atau kesemutan di bagian tubuh tertentu Halusinasi gambaran dan perilaku repetitif yang kompleks misalnya berjalan berputar-putar Gerakan mengunyah, gerakan bibir mencium Halusinasi bau, baik yg menyenangkan maupun yg tidak menyenangkan

Lobus temporalis anterior Lobus temporalis anterior sebelah dalam

F. Komplikasi epilepsi

Trauma muskuloskeletal
Aspirasi

Status epileptikus
Hipoksia serebral Kematian

E. Test Diagnostik
1. Computer Tomography

(CT) Scan; adanya perubahan struktur otak 2. Magnetic Resonance Imaging (MRI); adanya perubahan struktur otak 3. Kimia darah; hipoglikemia

G. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan Menyembuhkan dan mengurangi efek samping pengobatan. Prinsip pengobatan
Tegakkan diagnosa dengan

mengklasifikasikan jenis kejang Pilihan obat pilihan utama sesuai dengan jenis kejang Tingkatkan dosis secara lambat sampai mencapai dosis terapi, tentukan efek samping

Jika respon buruk gantikan dengan

obat pengganti secara bertahap Atur dosis obat agar tetap sesuai dengan kadar plasma Jika tidak teratasi rujuk dokter ahli epilepsi

Pembedahan untuk Epilepsi


Tumor otak intrakranial, abses, kista

Jenis epilepsi Prsial /fokal

Grand mall

Petit mall (lena) Mioklonik Atonik

Obat yang efektif Fenobarbital (FB) Difinilhidantoin (FH) Kamamazepine (Kz) Asam valproat (AVP) Fenobarbital (FB) Difinilhidantoin (FH) Etosuksimid (ETS) Asam valproat (AVP) Etosuksimid (ETS) Asam valproat (AVP) Etosuksimid (ETS) Asam valproat (AVP)

Pengkajian
1. Psikososial
Usia Jenis kelamin

Pekerjaan
Peran dalam keluarga

Strategi koping yang digunakan


Gaya hidup dan sistem dukungan

yang ada

2. Riwayat Keperawatan a. Riwayat kesehatan


Riwayat keluarga dengan kejang Riwayat kejang demam Tumor intrakranial, infeksi serebral Trauma kepala terbuka, stroke

b. Riwayat kejang
Berapa sering terjadi kejang Gambaran kejang seperti apa Berapa lama kejang berlangsung Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda kejang Apakah yg dilkakukan klien setelah kejang

c. Riwayat penggunaan obat

Nama obat yang dipakai Dosis obat Berapa kali penggunaan obat Kapan putus obat

3. Pemerikasaan fisik
Tingkat kesadaran

Apakah ada gerakan-gerakan automatisme,

mengedipkan-ngedipkan mata Abnormal posisi mata Perubahan pupil Gerakan atau aktivitas motorik

Tingkah laku setelah kejang Apnea Cyanosis Saliva yang banyak

Lidah tergigit
Inkontinensia urin

4. Pengetahuan pasien dan keluarga


Kondisi penyakit dan pengobatan Kondisi kronik

Kemampuan membaca dan belajar

5. Pemeriksaan diagnostik

a. Laboratorium Darah lengkap Serum elektrolit Fungsi liver Urinalisa b. Radiologi Kelainan organik cerebral Identifikasi disfungsi area cerebral

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


1. Resiko injuri sehubungan dengan aktivitas/ serangan kejang Data pendukung

Riwayat kejang Aktivitas kejang Penggunaan obat anti kejang


Klien bebas dari kejang Mempertahankan integritas fisik Tidak terjadi trauma fisik Tidak terjadi hipoksia dan aspirasi

Kriteria hasil;

Rencana Tindakan
1. Pertahankan posisi tempat tidur lebih rendah 2. Berikan pagar pengaman pada tempat tidur 3. Sebelum kejang lakukan persiapan; spatel lidah, oksigen, suction dekat tempat tidur 4. Monitor aktivitas kejang
5. Catat frekuensi, waktu, bagian tubuh yang terjadi kejang

Rasional
Meninimalkan resiko jika klien jatuh Mencegah pasien jatuh dari tempat tidur Merespon dengan cepat jika pasien terjadi kejang

Mengetahui jenis epilepsi dan penanganan lebih lanjut Membantu mengidentifikasi jenis kejang dan menifestasi yang terjadi

RENCANA TINDAKAN
6. Selama kejang; pertahankan jalan nafas klien, lindungi kepala, pasang spatel jika memungkikan, longgarkan pakaian, jaga privasi pasien 7. Setelah kejang; pertahankan kepatenan jalan nafas, suction jika perlu, miringkan pasien, monitor tanda vital, status neurologi, berikan oksigen sesuai program, orientasikan pada lingkungan, berikan posisi nyaman, jaga kebersihan jalan nafas 8. Laporkan kepada dokter jika kejang tanpa periode kesadaran

RASIONAL
Mencegah hipoksia, aspirasi, trauma kepala dan keselamatan pasien
Mencegah hipoksia dan aspirasi, memonitor respon fisiologi setelah kejang dan memberikan rasa nyaman pasien

Penanganan lebih lanjut

2. Cemas berhubungan dengan terjadi kejang, komplikasi kejang dan penerimaan terhadap lingkungan.
Data pendukung
Pasien mengatakan sering kejang, takut

terulang kembali Ekspresi wajah sedih Klien gelisah Meningkatnya denyut jantung, nadi, pernafasan Tekanan darah menurun

Keluar keringat dingin Pandangan klien menyempit

Sulit tidur
Gemetar/ tremor

Kriteri hasil;
Pasien dapat mengungkapkan kecemasan dan

apa yang sedang dipikirkan Pasien dapat meningkatkan koping yang efektif dalam menghadapi epilepsi

RENCANA TINDAKAN

RASIONAL

1. Kaji status emosional secara Mengidentifikasi respons terus-menerus, penampilan emosional klien dan tingkah laku untuk menetapkan reaksi terhadap diagnosis 2. Berikan kesempatan klien untuk mendiskusikan secara terbuka tentang perasaan, sikap dan kepercayaan 3. Validitas tentang kecemasan klien dan identifikasi metode koping yang tepat untuk pasien Membuka diri dan meningkatkan kepercayaan kepada perawat

Membantu mengidentifikasi kecemasannya sendiri dan memulai memecahkan masalah

RENCANA TINDAKAN

RASIONAL

4. Lakukan intervensi khusus, Membantu menurunkan sesuai dengan masalah masalah pasien dan adaptasi yang dihadapi klien, pasien berikan respons yang positif terhadap

3. Kurang pengetahuan tentang epilepsi dan cara mengontrolnya yang berhubungan dengan kurangnya informasi

TERIMA & KASIH