Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pengenalan alat-alat praktikum penting dilakukan guna untuk keselamatan kerja dalam melakukan proses penelitian.selain itu juga pengenalan alat praktikum bertujuan agar mahasiswa mengetahui nama dan fungsi dari alat-alat tersebut.Alat-alat praktikum sangat di butuhkan dalam proses penilitian atau pun prktikum terutama dalam proses praktikum kimia.ada banyak sekali alat-alat yang digunakan dan mempunyai fungsi masing-masing didalam bidang keilmuan atau pun proses penilitian tentu tentu alat-alat ini sangat di butuhkan sekali.alat-alat laboratorium juga dapat berbahasa jika terjadi kesalahan dalam prosedur pemakaiannya.maka diperlykannya pengenalan alat-alat laboratorium agar penggunaan alat tersebut dapat dipergunakan dengan fungsi dan prosedur yang baik dan benar,sehingga kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir sedikit mungkin.hal ini penting agar mendapatkan hasil penelitian yang aik dan benar.data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Dalam praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dan alat-alat sterilisasi akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan bahan-bahan dari mikrobia yang tidak diinginkan (soetarto, dkk). Jadi Alat-alat sterilisasi adalah alat yang digunakan untuk membebaskan suatu bahan atau alat lain dari mikrobia yang tidak diinginkan.Pada umumnya kegiatan praktek laboratium diarahkan pada upaya supaya mahasiswa dituntut untuk menguji, memverifikasi atau membuktikan hukum atau prinsip ilmiah yang sudah dijelaskan oleh dosen,asisten dosen atau buku teks. Ada juga percobaan yang dirancang oleh dosen atau asisten dosen adalah mahasiswa disuruh melakukan percobaan dengan prosedur yang sudah terstruktur yang membawa mahasiswa kepada prinsip atau hukum yang tidak diketahui sebelumnya dari data empiris yang mereka kumpulkan hasil dari percobaan tersebut. Namun terdapat berbagai kelemahan dasar dari cara seperti ini, secara logis prinsip ilmiah dan hukum alam tidak dapat dibuktikan secara langsung; prinsip ilmiah dan hukum alam juga tidak dapat diuji hanya dengan jumlah percobaan yang terbatas yang dilakukan oleh mahasiswa. Keterbatasan alat yang digunakan, keterampilan yang dipunyai, waktu yang singkat dan kompleksitas generalisasi, merupakan keterbatasan percobaan mahasiswa yang menunjukkan hal yang hebat kalau mahasiswa bisa menghasilkan prinsip teoritis yang penting dari sekumpulan data mentah hasil percobaan.maka bimbingan dari dosen dan asisten dosen sangat di butuhkan dalam proses penelitian. Banyak sekali alat-alat praktikum yang harus kita kenal dan kita ketahui agar dalam proses penelitian dan praktikum berjalan lancar tanpa ada masalah.pengenalan alat ini juga akan menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana cara kerja alat tersebut besert fungsinya.tentu dari sini kita bisa belajar bagaman penggunaannya agar dalam penelitian kita nanti mendapatkan hasil yang akurat dan dapat dipercaya.hasil penelitan tergantung dari proses penelitian,jika penelitian baik dan penggunaan alatnya benar tentu hasil pengamatan kita baik pula.alat-alat laboratorium juga tidak bisa digunakan jika tidak sesuai dengan fungsinya maka dari itu kita harus teliti dan mebutuhkan pengetahuan bagaimana mengunakan alat tersebut.alat-alat laboratorium juga banyak yang berbahaya seperti alat yang harus seteril maka sebelum

menggunakan alat tersebut kita harus mensterilkan tangan kita.jika tidak hal itu bisa mengganggu proses suatu penelitian dan tentunya akan berdampak pada hasil penelitian tersebut.perhatian terhadap penggunaan alat laboratorium harus di perhatikan guna keselamatan dan keberhasilan kerja atau penelitian. B.Tujuan Untuk mengetahui alat-alat laboratorium dan fungsi alat-alat tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Alat-alat laboratorium merupakan alat yang kita butuhkan dalam proses peneitian atau pun proses praktikum. Dalam praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dan alat-alat sterilisasi akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan bahan-bahan dari mikrobia yang tidak diinginkan (soetarto, dkk). Pada umumnya kegiatan praktek laboratium diarahkan pada upaya supaya mahasiswa dituntut untuk menguji, memverifikasi atau membuktikan hukum atau prinsip ilmiah yang sudah dijelaskan oleh dosen,asisten dosen atau buku teks. Ada juga percobaan yang dirancang oleh dosen atau asisten dosen adalah mahasiswa disuruh melakukan percobaan dengan prosedur yang sudah terstruktur yang membawa mahasiswa kepada prinsip atau hukum yang tidak diketahui sebelumnya dari data empiris yang mereka kumpulkan hasil dari percobaan tersebut. Namun terdapat berbagai kelemahan dasar dari cara seperti ini, secara logis prinsip ilmiah dan hukum alam tidak dapat dibuktikan secara langsung; prinsip ilmiah dan hukum alam juga tidak dapat diuji hanya dengan jumlah percobaan yang terbatas yang dilakukan oleh mahasiswa. Keterbatasan alat yang digunakan, keterampilan yang dipunyai, waktu yang singkat dan kompleksitas generalisasi, merupakan keterbatasan percobaan mahasiswa yang menunjukkan hal yang hebat kalau mahasiswa bisa menghasilkan prinsip teoritis yang penting dari sekumpulan data mentah hasil percobaan.maka bimbingan dari dosen dan asisten dosen sangat di butuhkan dalam proses penelitian. Banyak sekali alat-alat praktikum yang harus kita kenal dan kita ketahui agar dalam proses penelitian dan praktikum berjalan lancar tanpa ada masalah.pengenalan alat ini juga akan menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana cara kerja alat tersebut besert fungsinya.tentu dari sini kita bisa belajar bagaman penggunaannya agar dalam penelitian kita nanti mendapatkan hasil yang akurat dan dapat dipercaya.hasil penelitan tergantung dari proses penelitian,jika penelitian baik dan penggunaan alatnya benar tentu hasil pengamatan kita baik pula.alat-alat

laboratorium juga tidak bisa digunakan jika tidak sesuai dengan fungsinya maka dari itu kita harus teliti dan mebutuhkan pengetahuan bagaimana mengunakan alat tersebut agar tidak terjadi salah penggunaan dan pemakainnya. alat-alat laboratorium juga banyak yang berbahaya seperti alat yang harus seteril maka sebelum menggunakan alat tersebut kita harus mensterilkan tangan kita.jika tidak hal itu bisa mengganggu proses suatu penelitian dan tentunya akan berdampak pada hasil penelitian tersebut.perhatian terhadap penggunaan alat laboratorium harus di perhatikan guna keselamatan dan keberhasilan kerja atau penelitian. Dalam praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dan alat-alat sterilisasi akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan bahan-bahan dari mikrobia yang tidak diinginkan (soetarto, dkk). Jadi Alat-alat sterilisasi adalah alat yang digunakan untuk membebaskan suatu bahan atau alat lain dari mikrobia yang tidak diinginkan.Pada umumnya kegiatan praktek laboratium diarahkan pada upaya supaya mahasiswa dituntut untuk menguji, memverifikasi atau membuktikan hukum atau prinsip ilmiah yang sudah dijelaskan oleh dosen,asisten dosen atau buku teks. Ada juga percobaan yang dirancang oleh dosen atau asisten dosen adalah mahasiswa disuruh melakukan percobaan dengan prosedur yang sudah terstruktur yang membawa mahasiswa kepada prinsip atau hukum yang tidak diketahui sebelumnya dari data empiris yang mereka kumpulkan hasil dari percobaan tersebut. Namun terdapat berbagai kelemahan dasar dari cara seperti ini, secara logis prinsip ilmiah dan hukum alam tidak dapat dibuktikan secara langsung; prinsip ilmiah dan hukum alam juga tidak dapat diuji hanya dengan jumlah percobaan yang terbatas yang dilakukan oleh mahasiswa. Keterbatasan alat yang digunakan, keterampilan yang dipunyai, waktu yang singkat dan kompleksitas generalisasi, merupakan keterbatasan percobaan mahasiswa yang menunjukkan hal yang hebat kalau mahasiswa bisa menghasilkan prinsip teoritis yang penting dari sekumpulan data mentah hasil percobaan.maka bimbingan dari dosen dan asisten dosen sangat di butuhkan dalam proses penelitian BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Gambar alat-alat praktikum laboratorium kimia:

Gelas ukur

Tabung Reaksi

Labu ukur

Pipet tetes

Corong pemisah

Batang pengaduk

Labu kjedahl

Alat destilasi

Tabung silinder

Flamepotometer

Beaker glass

Cawan petri

Lemari asam

Lakmus

Neraca analitik

Muffle fumace

Mesin Pengocok

Magnetic stirrer

Ph meter

Otoklaf

Laminar

burette

Pipet ukur

labu erlenmeyer

Mangkuk pengerus

corong pemisah

Oven pengering

spektrofotometer

B.Pembahasan Adapun alat-alat laboratorium kimia yang digunakan untuk praktikum dan penelitian yakni seperti: 1).Gelas ukur, 2).Gelas beker, 3).Tabung reaksi, 4).Labu erlenmeyer, 5).Labu ukur, 6).Burette, 7).Oktoklaf, 8).Mangkuk pengerus, 9).Corong pemisah, 10).Spektorofotometer, 11).Cawan petri, 12).Alat destilasi, 13). Oven pengering, 14).labu djedal, 15).Pipet tetes, 16).pH meter, 17).Lemari asam, 18).Magnetik stirrer, 19).Neraca analitik, 20).Mesin pengocok, 21).Flamefotometer, 22).Mufle furnace, 23).Spriyer, 24).Pipet ukur, 25).Corong, 26).Laminar, 27).Batang pengaduk, 28).Tabung slinder. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui berbagai macam fungsi dan spesifikasi setiap alat yang ada di laboratorium kimia.ala-alat yang ada sekitar 30 lebih tapi yang di ketahui hanya 28 alat.yang terdiri dari alat ukur,alat pengocok,alat sterilisasi,pengering zat,pengamatan,pengujian dan lain sebagainya.Alat-alat laboratorium ini mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing seperti: Fungsi dari gelas ukur yakni untuk meletakkan dan mengukur volume larutan atau zat cair,beker gelas yakni digunakan sebagai tempat untuk percobaan (difusi osmosis),tabung reaksi yakni digunakan untuk mereaksikan zat,labu erlenmeyer digunakan sebagai tempat membuat larutan,labu ukur yakni diginakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya diguanakan dalam ukuran yangb terbatas,bureete yakni berfungsi untuk eneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan prossei pada eksperimen tirasi,oktoklaf berfungsi untuk melakukan sterilisasi material dengan uap suhu dan tekanan tinggi,mangkuk pengerus yakni berfungsi untuk menghaluskan materi,corong pemisah berfungsimuntuk memisahkan komponen-komponen suatu campuran antara dua pase pelarut dengan identitas berbeda yang tercampur.

Selain itu juga ada spektorofotometer yang berfungsi untuk mengatur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu objek yang disebut kuvet dan cahayan yang dilewati oleh kuvet akan di kalibrasi sebanding dengab konsentrasi larutan didalam kuvet,cawan petri berfungsi sebagai wadah untuk menyeidiki tropi dan juga untuk mengkultur bakteri,khamir,spora atau biji-bijian,alat destilasi untuk memisahkan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan,oven pengering berfungsi untuk mengeringkan atau mengurangi kadar cairan dalam suatu materi atau zat dengan cara dipanaskan dalam oven,labu djedal berfungsi untuk memanaskan suatu zat cair dan dapat langsung terkena api,pipet tetes berfungsi untuk memberikan reagen kepada suatu zat sama seperti pipet ukur namun tanpa diketahui volume yang dipindahkan,ph meter digunakan untukmmengukur derjad keasama dan tingkat kebasahan suatu materi,lemari asam di gunakan untuk mengurangi asap dn kontak seseorang terhadap asam yang berbahaya,magnetik stirrer berfungsi untuk mengaduk materi caur menggunakan medan magnet berputar sangat cepat sehungga mengaduk materi,neraca analitik berfungsi untuk menimbang zat yang dibutuhkan ketelitian tinggi dan dalam skala kecil/mikro,mesin pengocok berfungsi yakni perangkat yang digunakan di laboratorium kimia dan biologi untuk mengaduk cairan dengan cara getaran,flamefotometer berfungsi untuk pengukuran konsentrasi unsur alkali denagn larutan air dan untuk aplikasi analisis dalam proses lainnya,mufle furnace berfungsi untuk membakar bahan subjek dalam suatu tungku yang terisolasi dan semua produk pembakaran manjadi abu,spriyer berfungsi untuk menyemprotkan larutan,pipet ukur berfungsi untuk memindahkan larutan dengan volume yang di ketahui atau tertentu,corong berfungsi untuk menyaring endapan yang bersifat koloid dan biasanya untuk mempercepat proses penyaringan dibantu dengan alat pompa,batang pengaduk,berfungsi untuk mengaduk suatu zat atau materi,tabung slinder berfungsi untuk mengukur volume larutan dalam jumlah yang banyak,laminar berfungsu biological safetim cabinet atau laminar air flow(LAF) adalah alat yang digunakan untuk bekerja sacara aseptis karena memiliki penyaring aliran udara dan sinar UV yang di aplikasikan selama beberapa jam dapat mensterilkan ruan didalam laminar,biasanya digunakan untuk melakukan percobaan yang membutuhkan area yang steril.

BAB IV PENUTUP A.Kesimpulan Dari acara praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diambil kesimpulan bahwa : Setiap alat mempunyai fungsi dan spesifikasi yang berbeda tergantung jenis alatnya.

Namun ada juga alat-alat yang sama sehingga fungsinya juga sama, hanya saja sepesifikasi dari dua alat yang sama tersebut berbeda. Sangat penting sekali mengetahui nama dan fungsi alat laboratorium Alat laboratorium ada yang memang benar-benar membutuhkan ketelitian dan memburtuhkan waktu dalam prosesnya Alat-alat laboratorium sangat banyak dan mempunyai fungsinya masing-masing yang di butuhkan dalam proses penelitian.

B.Saran Saya berharap makalah yang saya buat ini dapat berguna bagi pembaca,terlebih lagi dalam memahami dan mengenal alat-alat praktikum dan juga fungsi-fungsi alat tersebut.agar tidak terjadi kesalahan penggunaan alat dalam suatu proses penelitian serta saya berharap hasil yang di dapat juga bisa akurat.

DAFTAR PUSTAKA Nuryono , Tahir. I, dan Pranowo, D. 2006. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik Untuk Fakultas-Fakultas NonMIPA. Laboratorium Kimia Dasar FMIPA.UGM , Yogyakarta Umbreit, W.W.1960. Aplied Microbiology. Academic Press. London http://www.google.co.id/images?q=alat%20praktikum&oe=utf-8&rls=org.mozilla:enUS:official&client=firefox-a&um=1&ie=UTF8&source=og&sa=N&hl=id&tab=wi&biw=1366&bih=574 http://netsains.com/2008/04/pel atihan-pengajaran-sains-di-laboratorium/ http://www.scribd.com/doc/8288703/Alat-Alat-Di-Laboratorium-Mikrobiologi-Dan-Sterilisasi Day,R.A. dan A.L. Underwood. 1993. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi ke-4. Jakarta :Erlangga.

Dini, P. 2002 Proses Pembentukan Kristalisasi garam. Jakarta. Deparetemen Kelautan dan Perikanan Harjadi,W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia.

===================================================================== ========= MAKALAH KEDUA ===================================================================== =========

PERCOBAAN I PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM

I.

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah memperkenalkan pembakar gas dan alat gelas serta fungsinya dalam praktikum kimia.

1.2 Latar Belakang

Dalam kegiatan ilmiah suatu percobaan biasanya dilaksanakan di laboratorium. Dalam melakukan percobaan di laboratorium tentunya seorang praktikan harus mengenal alat-alat yang akan dipergunakan. Pengenalan alat-alat yang akan dipergunakan dalam laboratorium ini sangat penting guna kelancaran percobaan yang dilaksanakan diantaranya adalah menghindari kecelakaan kerja dan gagalnya percobaan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memperkenalkan alat-alat laboratorium beserta fungsinya dalam praktikum kimia dasar. Praktikan dikenalkan dengan alat-alat yang ada di laboratorium yang akan dipakai ketika melakukan percobaan-percobaan. Kemudian praktikan diajarkan cara memakai alat-alat sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hasil yang didapatkan adalah praktikan dapat mengenal dan mengetahui alat-alat laboratorium beserta fungsinya. Seperti cara pengisian buret yang benar.

II.

DASAR TEORI

Metode ilmiah lebih dari hanya sekedar pernyataan resmi dan langkah-langkah yang selalu kita lakukan untuk memecahkan masalah secara logis. Perhatikan misalnya, bagaimana montir mobil berusaha memperbaiki mobil yang tidak mau hidup mesinnya bila distater. Mula-mula, penyebab yang jelas dari masalah ini akan dilokalisir dengan cara mengamati hasil dari satu atau beberapa percobaan. Selanjutnya bagian/alat yang diperkirakan penyebabnya diganti atau dibetulkan dan kemudian di coba lagi menghidupkan mesin mobil tersebut. Bila montir tersebut tepat memperkirakan penyebab masalah tersebut, mka perkerjaan ini selesai. Jika tidak, maka dilakukan percobaan lainnya, kemudian mengganti dan membetulkannya lagi sampai akhirnya mobil tersebut dapat berjalan kembali. (Braddy, 1995: 2). Bila kita memecahkan suatu masalah dalam ilmu pengetahuan, kita juga akan melaksanakan kita juga akan melaksanakan langkah-langkah yang hampir sama seperti ini. Oleh sebab itu langkah pertama dalam metode ilmu dapat disebut penelitian dan observasi. Hal ini merupakan tujuan eksperimen yang dibuat di laboratorium dimana sifat-sifat dapat diteliti dalam keadaan terkontrol, jadi hasil eksperimen itu dapat diulangi atau diiru kembali (Braddy, 1999: 5). Eksperimen dan praktek laboratorium merupakan bagian dari pengajaran sains ini. Bekerja di laboratorium sains adalah suatu hal yang melibatkan benda nyata dan juga mengamati perubahan yang diamati. Ketika sains bergerak melampaui dunia pengalaman menuju generalisasi yang lebih abstrak yang memungkinkan penjelasan dan peramalan, pengalaman secara dekat adalah titik awal untuk generalisasi ilmiah dan pembuatan teori. Sehingga praktik laboratorium dan eksperimen merupakan bagian yang esensial dalam pengajaran sains sebagai produk ini (Wahyudi, 2011).

Pengajaran metode sains melalui metode praktik laboratorium dapat berperan sebagai (Wahyudi, 2011): 1. Untuk memberikan realitas yang lebih nyata dan tiga dimensi daripada sekedar penjelasan tertulis. 2. Persamaan matematik atau diagram seperti yang ada di buku teks

3. Untuk memberkan bayangan realitas yang memang butuh penjelasan untuk melath penggunaan alat-alat laboratorium beserta teknik-teknik penggunaannya. 4. Untuk menguji atau mengkonfirmasi perkiraan-perkiraan teori-teori ilmiah.

Oleh karena itu pengajaran sains buku teks memerlukan berbagai pendekatan praktek yang beragam dan cocok dalam pemakaian metode praktek laboratorium. Karena sebelum memulai melakukan praktik di laboratorium, praktikan harus mengenal dan memahami cara penggunaan semua peralatan dasar yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia serta menerapkan dilaboratorium. Berikut ini diuraikan beberapa peralatan yang akan digunakan dalam praktikum (Laboratorium Kimia SMA YPPI, 2011):

1.

Labu Takar

Digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada proses reparasi larutan. Alat ini tersedia berbagai macam ukuran.

2.

Gelas Ukur

Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan miniskus pada saat pembacaan skala.

3.

Gelas Beker

Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.

4.

Pengaduk Gelas

Digunakan untuk mengaduk suatu campuran atau larutan kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Digunakan juga untuk menolong pada waktu menuangkan/mendekantir cairan dalam proses penyaringan.

5.

Botol Pencuci

Bahan terbuat dari plastik. Merupakan botol tempat akuades, yang digunakan untuk mencuci, atau membantu pada saat pengenceran.

6.

Corong

Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastik. Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.

7.

Erlenmeyer

Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat gelas tersebut (ralat cukup besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi. Kadang-kadang boleh juga digunakan untuk memanaskan larutan.

8.

Tabung Reaksi

Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk mereaksikan zat zat kimia dalam jumlah sedikit.

9.

Rak Untuk tempat Tabung Reaksi

Rak terbuat dari kayu atau logam. Digunakan sebagai tempat meletakkan tabung reaksi.

10. Kawat Kasa

Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alas saat memanaskan alat gelas dengan alat pemanas/kompor listrik.

11. Penjepit Penjepit logam, digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan, atau untuk membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada kondisipanas.

12. Spatula Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alat bantu mengambil bahan padat atau kristal.

13. Kertas Lakmus Merupakan indikator berbentuk kertas lembaran-lembaran kecil, berwarna merah dan biru. Indikator yang lain ada yang berbentuk cair missal indikator Fenolftalein (PP), Metil Jingga (MO) dan sebagainya. Merupakan alat untuk mengukur atau mengetahui tingkat keasaman (pH) larutan.

14. Gelas Arloji Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat yang akan ditimbang.

15. Cawan Porselein Alat ini digunakan untuk wadah suatu zat yang akan diuapkan dengan pemanasan.

16. Pipet Tetes Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil.

17. Sikat

Sikat dipergunakan untuk membersihkan (mencuci) tabung.

18. Pipet Ukur Adalah alat yang terbuat dari gelas. Pipet ini memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap dengan mulut.

19. Pipet Gondok Pipet digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan.

20. Buret Terbuat dari gelas. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat dilihat pada skala. Dalam praktikum analis yang baik biasanya cermat dalam hal kerapian. Kerapian hendaknya mencakup juga pemeliharaan perabot-perabot laboratorium yang permanen seperti oven, lemari asam dan bak meja. Bahkan korosif yang tumpah harus segera dibersihkan dari peralatan, bangku ataupun lantai. Penting bahwa saluran pembuangan di sterilkan dengan mengguyur asam dan basa dengan banyak air (Underwood, 1991: 1). Analisis tidak boleh dilakukan dengan alat kaca yang tidak bersih. Alat kaca yang bisa dimasuki sikat seperti beker dan erlenmeyer paling baik dibersihkan dengan sabun, deterjen sintetik atau pembersih sintetik lainnya. Pipet, buret, tabung reaksi atau labu volumetrik mungkin memerlukan deterjen panas untuk bisa benar-benar bersih dan hilang atau hilang semua bekas kotoran yang menempel. Jika permukaan kaca belum membuang airnya secara keseluruhan, perlu digunakan larutan pembersih yang sifat oksidasinya kuat sehingga dapat memastikan kebersihan kaca secara keseluruhan. Setelah dibersihkan, alat itu dibilas dengan air kran, kemudian dengan sedikit air suling dan biarkan mengering sendiri tanpa di lap (Underwood, 1991: 578). Maksud penyaringan adalah untuk memisahkan endapan dari larutan induk dan kelebihan reagensia. Umumnya digunakan kertas saring yang tekstur kehalusannya sedang. Tepi kertas saring hendaknya 1 cm dari bagian tepi atas corong (Vogel, 1994: 72).

III.

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Deskripsi Alat Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah: Neraca Analitis Kaca Arloji Sendok Gelas Beker Pengaduk Gelas Corong Kertas Saring Buret Statip Erlenmeyer Labu Ukur Pipet Gondok Kolom Vigraux Soxhlet Kondensor Separator Pipet Mohr

Propipet Botol Semprot Aluminium Foil Botol Semprot Aluminium Foil Botol Terang Botol Gelap pH Indikator Tabung Reaksi Gelas Ukur Rak Tabung Reaksi Pinggan Porselen Pembakar Gas Kaki Tiga Kasa Pemanas Mantel Labu Didih Piknometer Kompor Listrik Pipet Tetes Bunsen Gegep

3.2 Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah: Akuades KMnO4 HCl Larutan NaOH serbuk CaCO3 serbuk

3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 1 2 Penimbangan dan Pembuatan Larutan Mengambil gelas arloji, kemudian memasukkan ke dalam neraca analitis. Mengalibrasi gelas arloji.

3 Mengambil padatan CaCO3, kemudian meletakkan ke atas gelas arloji sedikit demi sedikit hingga mencapai 3 g. 4 Mengambil kembali padatan CaCO3 yang telah ditimbang, lalu memasukkan ke gelas beker. 5 Mencampur padatan CaCO3 dengan akuades, kemudian mengaduk menggunakan pengaduk. 6 Mengamati endapan yang terjadi.

3.3.2 1.

Penyaringan Mengambil kertas saring.

2.

Melipat kertas saring menjadi bagian, kemudian melipat lagi hingga 2-3 lipatan.

3. Meletakkan kertas saring yang telah dilipat pada dinding corong dengan membasahinya dengan menggunakan Akuades. 4. 5. Meletakkan corong yang telah ditempeli kertas corong diatas gelas piala. Memasukkan CaCO3 secara merata pada corong.

6. Menuangkan sedikit demi sedikit larutan CaCO3 dengan gerakan memutar pada kertas corong hingga semua endapan CaCO3 dalam gelas beker habis.

3.3.3

Pengenceran

Pengenceran larutan HCl 1. 2. Mengambil 5 ml HCl dengan menggunakan pipet gondok berukuran 5ml. Memasukkan 5 ml HCl ke labu ukur berukuran 100ml.

3. Memasukkan Akuades ke labu ukur yang sudah diisi 5ml HCl hingga miniskus bawah Akuades mencapai tanda tera 100ml pada labu ukur. 4. Menutup labu ukur, kemudian mengocok labu ukur sebentar

Pengenceran larutan NaOH 1. 2. Mengambil padatan NaOH 8 g. Memasukkan padatan NaOH ke dalam Erlenmeyer 100ml.

3. Memasukkan Akuades ke dalam Erlenmeyer yang berisi padatan NaOH sampai keduanya tercampur. 4. M Mengencerkan dan mengocok agar keduanya homogen dan menjadi larutan NaOH 100ml 2

3.3.4 1. 2.

Titrasi Memasang buret pada statip. Meletakkan labu Erlenmeyer dibawah buret yang sudah dipasang statip.

3. Memasukkan Akuades ke dalam buret hingga volumenya sedikit lebih banyak diatas angka nol. 4. Mengeluarkan Akuades dari buret sampai bagian bawah buret terisi dan sampai permukaan Akuades sejajar angka nol 5. Memasukkan Akuades pada Erlenmeyer kemudian goyangkan

6. Memasukkan Akuades dan serbuk KMnO4 pada gelas beker untuk membuat larutan KMnO4 7. Mengulangi langkah-langkah 16 untuk menitrasi larutan KMnO4

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Tabel 1.1 Macam-macam alat laboratorium dan fungsinya No. Gambar Keterangan 1.

Kolom Vigraux Alat yang digunakan dalam proses destilasi.

2.

Propipet Digunakan sebagai penghisap yang dapat disambung pada pipet (mohr dan gondok). 3.

Soxhlet Digunakan untuk proses pemisahan suatu bahan alam dengan pelarut organik berdasar massa jenis. 4.

Kompor Listrik

Digunakan untuk memanaskan bahan-bahan. 5.

(a)

(b) (a) Pipet Gondok Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume yang tepat (b) Pipet Mohr Digunakan untuk mengukur volume larutan lebih tepat dari gelas ukur.

6.

Rak Tabung Reaksi Untuk menyimpan tabung reaksi. 7.

Batang Pengaduk Kaca Untuk mengaduk suatu campuran agar merata sehingga reaksi lebih sempurna. 8.

Buret Digunakan untuk titrasi dengan variabel volume titran yang dapat diubah-ubah. 9.

Separator Digunakan sebagai pemisah larutan berdasarkan berat jenisnya. 10.

Corong Kaca Sebagai alat bantu dalam penuangan larutan kedalam botol yang mulutnya kecil. 11.

Kaki Tiga Sebagai penyangga/tungku pada pembakaran

12.

Cawan Porselen Digunakan untuk mereaksikan zat dalam suhu tinggi.

13.

Kasa Asbes Sebagai alat untuk membantu meratakan pemanasan ke seluruh bagian bawah alat yang dipanaskan. 14.

Tabung Reaksi Terbuat dari kaca, digunakan untuk mereaksikan zat dalam jumlah sedikit. 15.

Aluminium Foil Digunakan untuk menutup gelas yang mengandung larutan yang mudah menguap. 16.

Gelas Beker Digunakan untuk menyimpan zat sementara serta pemanasan. 17.

Erlenmeyer Digunakan untuk pengukuran volume tidak tahan panas. 18.

Gelas Ukur Digunakan untuk pengukuran volume tidak tahan panas. 19.

Labu Ukur Digunakan untuk membuat larutan standar. Juga bisa digunakan untuk pengenceran. 20.

pH Indikator Digunakan untuk mengukur pH suatu larutan dengan cara dicelupkan ke cairan yang akan di uji pH nya. 21.

Gegep

Digunakan untuk pengambilan alat-alat yang tidak bisa diambil langsung dengan tangan, misalnya tabung reaksi yang sedang dipanaskan. 22.

Bunsen Burner Sebagai pemanas dengan bahan bakar, diletakkan dibawah kaki tiga. 23.

(a)

(b) (a) Botol Gelap

Untuk menyimpan zat yang tidak tahan terhadap cahaya, oksidasi, dan lainnya. (b) Botol Terang Untuk menyimpan zat yang tahan cahaya. 24.

Piknometer Untuk mengukur berat jenis suatu zat. 25.

Kondensor Digunakan sebagai pendingin uap panas dalam proses destilasi. 26.

Kertas Saring Untuk menyaring larutan yang ingin dipisahkan endapannya. 27.

Labu Didih Untuk tempat mendidihkan suatu larutan. 28.

Pemanas Mantel Untuk memanaskan suatu larutan yang ada pada suatu wadah (contoh: labu didih). 29.

Statip Untuk menegakkan buret. 30.

Neraca Analitis Untuk menimbang berat suatu benda dengan ketepatan 4 angka dibelakang koma. 31.

Gelas Arloji Untuk membantu menimbang padatan. 32.

Botol Semprot Untuk menyimpan akuades yang berfungsi sebagai pembersih alat-alat gelas dan pembasah kertas saring agar melekat pada corong pada saat ingin melakukan penyaringan.

4.2 Pembahasan Berikut akan diuraikan pembahasan tentang hasil percobaan ini yang berjudul pengenalan alat-alat laboratorium. Tujuan diadakannya laboratorium ini adalah agar setiap praktikan mampu mengenal dan memahami fungsi, cara penggunaan serta perbedaan berbagai alat yang ada dilaboratorium. Dan diharapkan agar nantinya praktikan tidak canggung lagi di laboratorium. Dalam percobaan yang telah dilakukan, terdapat berbagai macam alat, berikut akan diuraikan pengkategorian dan penanganan alat-alat yang ada di laboratorium berdasarkan kemampuan

yang dimiliki alat untuk mendukung berbagai proses yang dilakukan dalam percobaan kimia ini. Alat-alat pemanasan terdiri atas pembakar gas, pembakar spiritus, pemanas mantel, kompor listrik, kaki tiga, kasa, gelas beker, tabung reaksi, labu didih, penjepit. Untuk alat-alat penimbangan terdiri atas labu ukur, labu erlenmeyer, pipet gondok, gelas beker. Dan terakhir untuk alat titrasi terdiri atas statip, buret, labu erlenmeyer dan corong. Saat praktikum, baik sebelum atau sesudahnya, semua alat yang digunakan mesti dicuci. Ini bertujuan agar alat tetap steril sehingga menunjukkan hasil kerja yang maksimal. Cara mencucinya adalah dicuci dengan sabun, kemudian diguyur dengan air kran hingga bersih, dibilas dengan akuades dan dikeringkan dengan lap dan tisu. Dilaboratorium, bahan-bahan kimia tertentu mesti disimpan dalam botol gelap untuk menghindari bereaksinya bahan ketika terkena cahaya, contohnya adalah hidrogen peroksida. Tetapi, jika suatu bahan tidak sensitif dengan cahaya maka dapat disimpan dalam botol terang, misalnya H2SO4. Dalam kegiatan pemanasan, sebelum meletakkan kaca diatas alat pemanas, harus diletakkan kasa terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar pemanasan dapat merata sehingga memberi hasil yang maksimal. Pada penggunaan pipet, tangan tidak boleh memegangi tabung, tapi cukup dipegang pada pipet pump, ini dilakukan untuk menghindari lepasnya tabung dari pipet pump. Untuk jepit statip dan bagian buret yang akan dijepit harus dililit tisu untuk menghindari pecahnya tabung saat sekrup setiap dikencangkan. Di praktikum kali ini, terdapat kegiatan penimbangan CaCO3. Sebelum menimbang, semua alat seperti gelas arloji, sendok, sudip harus sudah dicuci bersih dan dikeringkan. Ini dilakukan agar tidak ada kekeliruan saat penimbangan dikarenakan alat-alat yang tidak bersih. Setelah itu pastikan penimbangan dilakukan secermat mungkin dan tidak berhamburan. Dengan begitu percobaan akan memberikan hasil yang maksimal pada praktikan. Prinsip penimbangan adalah memanfaatkan neraca dan gaya gravitasi untuk mencari tahu massa suatu benda. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan suatu endapan dari larutan, dalam percobaan kali ini yang digunakan adalah larutan CaCO3. Larutan ini disaring dengan kertas saring yang ditempel pada corong. Endapan larutan CaCO3, nantinya akan tersangkut pada kertas saring, tidak ikut jatuh kembali ke dalam larutan, karena molekulnya lebih besar daripada pori-pori kertas saring, endapan larutan CaCO3 berwarna putih. Gerakan yang dilakukan saat menuang larutan adalah gerakan memutar. Ini bertujuan agar endapan CaCO3 tidak menumpuk disatu titik saja sehingga dapat menyebabkan kertas saring robek. Saat menuang larutan, corong tidak boleh digoyangkan, karena juga dapat menyebabkan kertas saring robek. Prinsip penyaringan adalah menahan partikel yang lebih besar dibanding zat cari yang melarutkannya melalui sebuah media. Media yang dipakai disini adalah kertas saring, saat melakukan penyaringan, larutan dituang sedikit demi sedikit untuk menghindari tumpahnya larutan dan robeknya kertas saring yang dipakai. Prinsip pengenceran yaitu penambahan zat pelarut kedalam suatu larutan agar menghasilkan kadar yang berbeda. Pada percobaan ini bahan yang digunakan adalah HCL dan NaOH. HCl

semula memiliki molaritas 1 M berubah menjadi 0,05 M. Sedangkan percobaan satunya mencari massa NaOH bila yang diketahui molaritas NaOH 2 M dan volume 100ml, setelah dilakukan perhitungan didapat massa NaOH gram. Larutan-larutan yang tersedia didalam laboratorium umumnya terdapat dalam bentuk larutan yang pekat. Dalam percobaan ini, yang diencerkan adalah HCl dan juga menggabung akuades dengan padatan NaOH didalam labu ukur kemudian mengocok kedua bahan dalam labu takar sampai tercampur. Penambahan akuades ini mengakibatkan volume larutan diperbesar tetapi konsentrasi tambah kecil. Selain cara tadi pengenceran dapat dilakukan dengan cara terlebih dahulu menentukan konsentrasi dan volume larutan yang akan dibuat. Cara pengenceran juga termasuk penggunaan alat yaitu labu takar, dihitung jumlah zat yang akan diencerkan kemudian ke dalam labu ukur zat terlarut yang akan diencerkan kemudian kedalam labu ukur zat terlarut yang akan diencerkan diatas dan ditambah akuades sampai tanda batas yang terdapat pada labu. Pada dasarnya semua pengenceran dilakukan dengan memakai labu ukur karena di alat tersebut terdapat tanda patas yang mengandung arti sebatas mana akuades harus ditambah . sebelum pengenceran dilakukan, kadar solute yang akan diencerkan harus dihitung terlebih dahulu. Pada percobaan titrasi dipelajari tentang cara menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang udah diketahui. Larutan yang dipergunakan untuk penggunaan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya, dalam percobaan ini akuades dan KMnO4, diletakkan didalam buret. Larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator. Larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di erlenmeyer, disebut sebagai analit. Saat mengisi buret, isilah agar seluruh bagian buret terisi penuh tetapi dengan keadaan miniskus sejajar dengan skala ukur nol. Cara pembacaan miniskus, skala dan pandangan mata harus sejajar. Jika larutan berwarna gelap seperti KMnO4, maka baca bagian atas miniskus, karena bagian bawah tidak kelihatan. Jika larutan bening, baca miniskus bawah untuk mengetahui volumenya. Gaya yang menyebabkan miniskus cekung dan cembung adalah gaya kohesi dan adhesi. Gaya adhesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang terjadi antara benda-benda yang bersentuhan, misalnya miniskus bawah (cembung), itu disebabkan gaya adhesi molekul zat cair dengan molekul wadah lebih besar dari gaya kohesi antar molekul zat cair. Sedang gaya kohesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang sama, salah satu aspek yang mempengaruhinya adalah kerapatan dan jarak antar molekul yang terdapat didalam suatu benda, seperti pembacaan miniskus cembung, hal itu disebabkan gaya kohesi zat cair lebih besar dari adhesi antar zat cair dan wadah/volume bejana. Dalam menitrasi, titran ditambah sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan dimana titran bereaksi secara ekuivalen dengan analit, artinya semua titran bereaksi dengan analit keadaan ini disebut titik ekuivalen. Titik ekuivalen dapat ditentukan dengan berbagai cara, cara yang umum adalah menggunakan indikator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses titrasi. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya perubahan warna indikator disebut titik akhir titrasi.

Prinsip titrasi adalah, kadar suatu larutan A ditentukan dengan menggunakan larutan B dan sebaliknya. Titran ditambah titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen. Keadaan ini disebut titik ekuivalen. Pada titik ini titrasi dihentikan, kemudian dicatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran.

V.

PENUTUP

5.1 Kesimpulan 1. Setiap kali melakukan praktikum kita harus mengenal dan memahami cara penggunaan alat yang dipakai saat praktikum. 2. Jika larutan berwarna gelap, maka miniskus yang dibaca adalah miniskus atas. Jika larutan tidak berwarna atau bening, maka miniskus yang dibaca adalah miniskus bawah. 3. 4. Penimbangan dilakukan untuk mengetahui massa suatu zat. Pengenceran adalah kegiatan untuk memperbesar konsentrasi dan volume.

5.

Penyaringan adalah untuk memisahkan endapan dan larutan

6. Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya.

5.2 Saran Saran yang dapat diberikan agar semua praktikum menguasai materi percobaan dan cermat serta teliti agar mendapat hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1994. Kimia Universitas Edisi Kelima. Jilid Pertama. Penerbit Erlangga: Jakarta.

Day, R.A. Jr and, A. L. Underwood. 1998. Analisis Kimia Kualitatif. Edisi Revisi Terjemahan. R.Soendoro dkk. Erlangga: Jakarta.

Laboratorium Kimia SMA YPPI. 2011. Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Kimia

http://chemistrylaboratorysma1.blogspot.com/2009/8/pengenalan-alat-alat-laboratoriumkimia.html Diakses tanggal 19 September 2011

Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Organik dan Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Revisi G. Svehla Terjemahan Ir. L. Setrono dan Dr. A. Haelyana Pudjaatmaka. PT Kalman Media Pustaka: Jakarta.

Wahyudi, Adi Ribut. 2011. Pengajaran Sains di Laboratorium. http://yudhiart.blogspot.com/2011/02/pengajaran-sains-di-laboratorium.html Diakses tanggal 19 September 2011.