Anda di halaman 1dari 9

A.

Pengertian Konseling Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konseling adalah: 1 pemberian bimbingan oleh ahli kepada seseorang dengan metodologi psikologis dsb; pengarahan; 2 proses pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri dalam memecahkan masalah; penyuluhan Konseling merupakan suatu proses yang berawal dari kata penyuluhan yang memiliki arti pemberian penerangan, informasi, atau nasehat kepada pihak lain. Tetapi seiring berjalannya waktu, istilah ini tidak dapat mewakili makna konseling yang sebenarnya. Kata konseling (counseling) berawal dari kata counsel yang diambil dari bahasa Latin yaitu counselium, artinya atau bicara bersama. Makna dari pembicaraan bersama ini adalah pembicaraan antara konselor dan seorang klien (counselee). Konseling merupakan bagian dari bimbingan dan konseling, baik sebagai pelayanan maupun sebagai teknik. Rochman Natawidjaja (1987:32) mendefinisikan konseling adalah suatu jenis pelayanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan, konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu, dimana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (konseli) untuk mencapai pengertian tentang diri sendiri dalam hubungan dengan masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang. Steffler dan Grant menyusun pengertian yang menyimpulkan bahwa ada empat hal yang ditekankan yaitu konseling sebagai proses, konseling sebagai hubungan yang spesifik, konseling adalah membantu klien, dan konseling untuk mencapai tujuan hidup. Ada juga Jones (1963), pengertian konseling adalah sebagai berikut: counseling is talking over a problem with some one. Usually but not always, one of the two facts or experiences or abilities not possessed to the same degree by the other. The process of counseling involves a clearing up of the problem by discussion (jones, 1965, p.291). Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli mengenai konseling:

ANTHONY YEO Konseling merupakan sejenis pertolongan emosional, psikologis, yang disediakan untuk mereka yang menghadapi situasi - situasi hidup yang agak tidak wajar, dimana mereka mengalami sejumlah besar masalah.

ROBINSON, 1986 Konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seseorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan.

GIBSONS, 1981 Konseling adalah hubungan tolong menolong yang berpusat kepada perkembangan dan pertumbuhan seseorang individu serta penyesuaian dirinya dan kehendaknya kepada penyelesaian masalah, juga kehendaknya untuk membuat keputusan terhadap masalah yang dihadapinya.

TAYLER, 1969 Dalam konseling bukan hanya klien yang belajar, tetapi konselor juga belajar untuk memahami dirinya agar suatu persetujuan dapat dicapai.

MACLEAN Konseling merupakan suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.

WREN, 1955

Konseling adalah suatu hubungan yang dinamik dan bertujuan antara konselor dan klien

B. Tujuan Konseling Sebuah konseling pasti mempunyai sebuah tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk membantu klien mencapai perkembangan secara optimal dalam batasbatas potensinya (Williamson, 1961). Tujuan tersebut dapat dirinci menurut Krumboltz dapat diklasifikasi sebagai: mengubah perilaku yang salah penyesuaian, belajar membuat keputusan, dan mencegah timbulnya masalah (Pietrofesa dkk, 1978).

1. Mengubah perilaku yang salah penyesuaian Perilaku yang salah penyesuaian yang dimaksud adalah perilaku yang tidak tepat, yang secara psikologis berupa perilaku yang patologis. Dan hal ini merupakan sebuah perilaku yang tidak sesuai dan sangat menghambat kepribadian individu untuk menyesuaikan diri dengan baik. Konseling diselenggarakan untuk membantu klien mengenali perilakunya yang salah dalam melakukan penyesuaian. Agar klien dapat berperilaku sesuai maka konselor harus benar-benar mempelajari setiap sisi dari konselinya dan berusaha mempengaruhi konseli agar ia dapat merubah dirinya sendiri.

2. Belajar Membuat Keputusan Membuat keputusan merupakan suatu hal yang berat yang dialami oleh seorang klien. Kebanyakan dari mereka berharap dengan dating kepada konselor maka ia akan mendapatkan pemecahan masalah dari konselor itu. Padahal kunci utama pemecahan masalah tersebut sebenrnya ada di dalam diri konseli itu sendiri. Membuat keputusan merupakan hal yang penting bagi klien. Karena itu klien harus membuat keputusan yang lebih tepat untuk dirinya dan masa

depannya, dan kalau dapat klien diajarkan untuk da[at mengubah lingkungannya (Dimick dan Huff, 1970; Corey, 1988). Membuat keputusan bagi klien melalui proses belajar, yaitu mulai belajar mengidentifikasi alternative, memiliki alternative, menetapkan alternative serta memprediksi berbagai konsekuensi dari keputusannya (Black, 1983).

Menurut Corey (1988) tujuan konseling tidak sekedar memperoleh kepuasan klien tetapi justru meningkatkan ketidakpuasan sementara waktu, tetapi dapat menghasilkan kepuasan jangka panjang.

3. Mencegah munculnya masalah Mencegah munculnya masalah mengandung tiga pengertian, yaitu (1) mencegah jangan sampai mengalami masalah di kemudian hari; (2) mencegah jangan sampai masalah yang daialami bertambah berat atau berkepenjangan; (3) mencegah jangan sampai masalah yang dihadapai berakibat gangguan yang menetap (Notosoedirdjo dan Latipun, 1999). Telah disebutkan diatas adalah tujuan konseling jangka pendek dan menengah. Dan konseling tidak dianggap sukses hanya dengan mempunyai tujuan pendek dan menengah tetapi harus mempunyai tujuan akhir. Tujuan akhir dari konseling yaitu bersifat universal dan berlaku kepada siapapun, misalnya aktualisasi diri, realisasi diri, peningkatan diri.

Adapun tujuan konseling di sekolah yaitu membantu siswa dalam : 1) mengatasi kesulitan belajar, 2) mengatasi kebiasaan yang tidak baik pada saat kegiatan belajar maupun dalam hubungan sosial, 3) mengatasi kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani, 4) hal yang berkaitan dengan kelanjutan studi, 5) kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan pekerjaan dan 6) mengatasi kesulitan masalah sosial-emosional yang berasal dari murid berkaitan dengan lingkunga sekolah, keluarga dan lingkungan yang lebih luas.

C. Karakteristik Konseling George dan Cristiani (1990) mengemukakan enam karakteristik dinamika dan keunikan hubungan konseling dibandingkan dengan hubungan membantu yang lainnya. Keenam karakteristik itu antara lain:

1. Afeksi Hubungan yang afektif dalam konseling sangat diperlukan karena dengan adanya hubungan yang saling terbuka antara konselor dan konseli, maka dalam proses konseling pihak konseli tidak akan merasa cemas dan ketakutan.

2. Intensitas Semakin konselor dapat memposisikan diri dan memahami konseli dengan baik, maka konseli dan konselor akan berada dalam hubungan yang intens. Artinya bahwa dalam hubungan membantu itu klien tidak merasa canggung lagi dan merasa lebih terbuka.

3. Pertumbuhan dan Perkembangan Hubungan konseling bersifat dinamis. Hubungan tersebut dapat dikatan dinamis jika dari waktu ke waktu terus terjadi peningkatan hubungan konselor klien, pengalaman bagi klien dan tanggung jawabnya. Dengan demikian pada klien terjadi pengalaman belajar untuk memahami dirinya sendiri sekaligus bertangung jawab atas perkembangan dirinya selanjutnya setelah ia melakukan konseling.

4. Privasi Dalam sebuah konseling diharapkan terdapat keterbukaan antara konselor dan konseli. Hal ini nantinya yang akan menjadi dasar adanya suatu kepercayaan dan kaitannya dengan kerahasiaan masalah yang sedang dihadapai oleh klien. Konselor harus benar-benar menjaga setiap apa yang dibicarakan oleh konseli dan konselor tidak boleh memberitahukan kepada

siapapun hal tersebut tanpa seizin dari klien. Perlindungan atau jaminan inilah yang akan meningkatkan kemauan klien untuk membuka diri.

5. Dorongan Konselor dalam hubungan konseling memberikan dorongan (supportive) kepada klien untuk meningkatkan kemampuan dirinya yang berkembang sesuai dengan kemampuannya. Dan konselor juga harus mempunyai cara yang tepat agar konseli dapat merubah perilakunya yang kurang sesuai dan memberi motivasi untuk berani mengambil resiko dari keputusannya tersebut.

6. Kejujuran Kejujuran merupakan prasyarat bagi keberhasilan konseling. Tanpa kejujuran dalam proses konseling maka tidak akan ada penyelesaian masalah, bahkan dapat terjadi perselisihan antara konseli dan konselor.

D. Konseling sebagai Hubungan yang Membantu Membantu berbeda dengan memberi atau mengambil alih.

Di dalam hubungan yang bersifat membantu, ada unsur memberi kepercayaan klien untuk dihadapinya. Hubungan konseling bukan bermaksud mengalihkan pekerjaan klien kepada konselor. Hubungan membantu (helping relationship) dapat dilihat dari segi struktur dibagi menjadi dua aspek yaitu hubungan membantu yang bersifat professional dan tidak professional. Hubungan membantu yang dapat dikatakan sebagai hubungan professional jika setidaknya terdapat seorang tenaga professional yang membantu pihak lain, dan pekerjaan tersebut dalam konteks profesi yang ditekuninya. Dan dikatakan sebagai hubungan membantu tidak professional jika hubungan itu diluar profesi, missal hubungan persahabatan, kekeluargaan dll. bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah yang

Cirri-ciri dasar hubungan helping menurut Bruche Shertzer dan Shally C. Stone adalah: 1. Hubungan helping adalah penuh makna, bermanfaat; 2. Afeksi sangat mencolok dalam hubungan helping; 3. Keutuhan pribadi tampil atau terjadi dalam hubungan helping; 4. Hubungan helping terbentuk melalui kesepakatan bersama individuindividu yang terlibat; 5. Hubungan saling terjalin karena individu membutuhkan informasi, pelajaran saran, dll; 6. Struktur helping relation adalah jelas atau gamblang. 7. Upaya-upaya yang bersifat kerja sama menandai helping relation. 8. Orang-orang dalam helping relation dapat dengan mudah ditemui atau didekati dan terjamin tetap sebagai pribadi. 9. Perubahan merupakan tujuan hubungan konseling. 10. Helping relation dilangsungkan melalui komunikasi dan interaksi. yang hendak dibantu

A Terry dan Capuzzi mengartikan bahwa hubungan membantu merupakan beberapa individu bekerjasama untuk memecahkan apa yang menjadi perhatiannya atau masalahnya dan/ atau membantu perkembangan di pertumbuhan salah seorang dari keduanya (Capuzzi dan EF, 1991).

Sedangkan George dan Cristiani (1982) lebih menekankan bahwa hubungan membantu itu bersifat dinamis dan unik. Secara lebih mendalam lagi dikemukakan oleh Rogers (1961) bahwa maKsud hubungan tersebut adalah untuk peningkatan pertumbuhan, kematangan, fungsi, cara penanganan kehidupannya dengan memanfaatkan sumber-sumber internal yang ada pada pihak yang diberi bantuan. Hubungan membantu yang ada pada konseling beda dengan hubungan membantu yang ada pada psikiater, psikolog, karena hubungan dalam konseling mempunyai karakteristik yang sangat khusus. Kekhusussan karakteristik ini terdapat pada sasaran yang dibantu, metode hubungannya, dan masalah yang dihadapi.

Hubungan konseling ialah hubungan yang membantu, artinya pembimbing berusaha membantu si terbimbing agar tumbuh, berkembang, sejahtera dan mandiri. Shertzer dan Stone (1980) mendefinisikan hubungan konseling yaitu interaksi antar seseorang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif bagi perbaikan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Dewa Ketut Sukardi dan Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press. Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta. Walgito, Bimo. 2005. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: C.V. ANDI OFFSET.