Anda di halaman 1dari 12

A.

TEKNIK MEMPERSIAPKAN KONSELING Mohammad Surya dalam bukunya Psikologi Konseling mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan oleh konselor dalam mempersipakan dan memilai proses konseling, yaitu : (1) membentuk kesiapan untuk konseling, (2) memperoleh informasi riwayat kasus, dan (3) evaluasi psikodiagnostik. 1. Kesiapan Untuk Konseling Kesiapan merupakan suatu kondisi yang dipenuhi sebelum konseli membuat hubungan konseling. Kesiapan konseli untuk konseling ini ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu (1) motivasi untuk memperoleh pengetahuan, (2) pengetahuan konseli tentang konseling, (3) kecakapan intelektual, (4) tingkat pengetahuan/tilikan/pemahaman terhadap masalah dan dirinya sendiri, (5) harapanharapan terhadap peranan konselor, (6) sistem pertahanan dirinya. Beberapa hambatan yang seering dijumpai dalam mencapai proses konseling, seperti: a. c. e. f. Penolakan secara kultural terhadap faktor-faktor persiapan dalam konseling. Pengalaman pertama dalam konseling yang tidak menyenangkan (konseli). Kurang dapat melakukan pendekatan (konselor). Dalam lembaga, kurang terdapat iklim penerimaan terhadap konseling. Untuk mencapai kesiapan konseli dalam konseling dapat ditempuh dengan metode-metode, sebagai berikut: a. Melalui pembicaraan dengan pihak/lembaga mengenai berbagai topik masalah dan pelayanan konseling yang diberikan. b. Menciptakan iklim kelembagaan yang merangsang untuk meminta bantuan c. Menghubungi sumber-sumber referal misalnya dari organisasi, sekolah, guru, dan sebagainya. d. Memberikan informasi kepada konseli tertentu tentang diri dan prospek konselor. e. Melalui proses pendidikan itu sendiri. b. Situasi fisik dalam konseling. d. Kurang pengertian terhadap konseling.

f.

Teknik-teknik survey terhadap masalah-masalah konseli.

g. Orientasi pra-konseling 2. Riwayat Kasus Riwayat kasus (Case history) adalah suatu kumpulan fakta yang sistematis tentang kehidupan konseli sekarang dan masa lalu. Riwayat kasus ini sangat penting artinya sebagai salah satu metode suatu proses konseling. Riwayat kasus dapat dibuat dalam berbagai bentuk, yaitu: a. b. c. e. Riwayat konseling psikoterapeutik, lebih memusatkan kepada masalah-masalah psikoterapeutik dan diperoleh melalui wawancara konseling. Catatan kumulatif (cumulative record), yaitu catatan tentang berbagai aspek yang menggambarkan perkembangan seseorang. Biografi atau autobiografi. Grafik waktu tentang kehidupan kasus. d. Tulisan-tulisan yang dibuat kasus sebagai dokumen pribadi.

3. Psikodiagnosis Psikodiagnosis mempunyai dua arti. Pertama adalah sebagai suatu klasifikasi deskriptif atau taksonomi masalah-masalah yang sama dengan klasifikasi psikiatris untuk gangguan neurotisa, psikosis, dan karakter. Sering disebut proses diagnose deferensial. Pengertian yang kedua, adalah sebagai suatu prosedur menginterpretasikan data kasus. Sering disebut proses diagnosis structural. Penggunaan metode diagnosis dalam proses konseling hendaknya dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan hal-hal seperti berikut ini: a. c. e. Data terbatas atau kurang memadai, padahal kehidupan manusia sangat kompleks Terlalu cepat menggunakan tes Pengaruh sikap menilai dari konselor b. Konselor kurang memperhatikan keadaan tingkah laku konseli sekarang d. Hilangnya pemahaman terhadap individualitas atau keunikan system self konseli

Tes dalam psikodiagnostik didasarkan pada asumsi bahwa kepribadian sebagai suatu yang dinamis dan dapat diukur melalui sampel tingkah laku serta asumsi lain yaitu bahwa pola berpikir konseli yang diperoleh melalui tes menggambarkan struktur dasar karakter konseli. Fungsi penggunaan tes psikodiagnostik, yaitu: Menyeleksi data yang diperlukan dalam proses konseling Meramalkan keberhasilan konseling Memperoleh informasi yang lebih terperinci Merumuskan diagnostic yang lebih tepat

B. TEKNIK-TEKNIK HUBUNGAN 1. Teknik Umum a. Teknik rapport, tujuannya adalah menjembatani hubungan antara konselor dank lien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam antara konselor dengan konseli dan masalah-masalahnya. Beberapa teknik yang digunakan untuk mencapai rapport, antara lain : 1) Pemberian salam yang menyenangkan 2) Topik pembicaraan yang sesuai 3) Susunan ruangan yang menyenangkan Ukuran minimal ruangan konseling adalah 3X3m. Dalam tata ruang kantor seorang konselor diusahakan mengenakan dan menarik. Apabila suasana ruang kantor mendatangkan rasa indah, ekspresi dan pengungkapan isi hati diharapkan akan menjadi lancar. Saranan-sarana yang digunakan dalam proses konseling hendaknya direncanakan dan diatur untuk mendatangkan rasa senang dan santai. Keadaan serta lingkungan yang menyenangkan dan mendatangkan rasa indah bagi konselor dapat membatu konseli berfungsi lebih baik. 4) Sikap yang ditandai dengan : Kehangatan emosi

Realisasi tujuan bersama Menjamin kerahasiaan Kesadaran terhadap hakekat konseli secara alamiah. b. Empati, kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan konseli, merasa dan berpikir bersama konseli dan bukan untuk atau tentanng konseli. Empati ada 2 macam : 1) 2) Empati primer, suatu bentuk empati yang hanya memahami perasaan, pikiran dan pengalaman konseli. Empati tingkat tinggi, apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran, dan pengalaman konseli lebih mendalam dan menyentuh konseli karena konselor ikut terlibat dalam perasaan itu. c. Refleksi perasaan, merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap yang esensial (perlu). Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu : 1) Refleksi perasaan 2) Refleksi pengalaman 3) Refleksi pikiran (content) d. Eksplorasi, ketrampilan konselor untuk menggali perasaan, pengalaman dan pikiran konseli. Eksplorasi ada 3 macam : 1) Eksplorasi perasaan 2) Eksplorasi pengalaman 3) Eksplorasi pikiran e. Menangkap pesan utama (Paraphrasing), tujuan dari paraphrase adalah ntuk mengatakan kembali esensi atau inti ungkapan konseli. Ada 4 tujuan utama : 1) Untuk mengatakankembali kepada konseli bahwa kojnselor bersama dia, dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan konseli. 2) Mengendapkan apa yang dikemukakan konseli dalam bentuk ringkasan. 3) Memberi arah wawancara konseling 4) Pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan konseli.

f.

Bertanya untuk membuka percakapan (open question), untuk memulai bertanya, sebaiknya tidak menggunakan kata mengapa dan apa sebabnya pertanyaan-pertanyaan terbuka (open-ended) yang baik dimulai dengan kata-kata apakah, bagaimana, adakah, bolehkah, dapatkah. Pertanyaan terbuka dimaksudkan untuk mendapat jawaban yang berupa penjelasan konseli.

g. Bertanya tertutup, tujuan keterampilan bertanya tertutup adalah: 1) Untuk mengumpulkan informasi 2) Untuk menjernihkan atau memperjelas sesuatu 3) Menghentikan omongan konseli yang melantur atau menyimpang jauh. h. Teknik penerimaan, merupakan cara bagaimana konselor melakukan tindakan agar konseli merasa diterima dalam proses konseling. Teknik penerimaan terdiri dari 3 unsur, yaitu : 1) Ekspresi air muka 2) Tekanan suara 3) Jarak dan perawakan Disebut juga perilaku attending yang merupakan kombinasi antara komponen kontak mata, bahasa badan dan lisan. Penampilan attending yang baik antara lain : 1) Kepala, melakukan anggukan jika setuju 2) Posisi tubuh, agak condong kea rah konseli, duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Ekspresi wajah, tenang, ceria, senyum. Tangan, variasi gerakan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakakn tangna sebagai isyarat. 3) Mendengarkan, aktif penuh perhatian, menunggu ucapan konseli hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatuan terarah pada lawan bicara. i. Teknik structuring, proses penetapan batasan oleh konselor tentang hakekat, batasbatas dan tujuan proses konseling pada umumnya, dan hubungan tertentu pada khususnya. Struktur konseling mempunyai dua unsure,yaitu :

1) Unsure implicit di mana peranan konselor yang secara umum diketahui konseli. 2) Struktur formal berupa pernyataan konselor untuk menjelaskan dan membatasi proses konseling Dalam proses konseling ada lima macam struktur, yaitu : 1) Batas-batas waktu baik dalam satu individu, maupun seluruh proses konseling. 2) Batas-batas tindakan baik konselor maupun konseli. 3) Batas-batas peranan konselor. 4) Batas-batas proses prosedur. 5) Structuring nilai proses. j. Diam, sebagai suatu teknik mempunyai manfaat dalam proses konseling, antara lain : 1) Mendorong konseli untuk berbicara 2) Membantu konseli untuk lebih memahami dirinya 3) Mengurangi kecepatan interview 4) Menunjang perilaku attending dan empati sehingga konseli bebas berbicara. Diam bukan berarti tidak ada komunikasi akan tetapi ada yaitu melalui perilaku nonverbal. Diam paling ideal 5-10 detik dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minimal. Tetapi jika konselor menunggu konseli berpikir mungkin diamnya bias lebih dari 5 detik. Hal ini tergantung pada feeling konselor. k. Teknik-teknik memimpin, agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak melantur atau menyimpang, seorang konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga nantinya mencapai tujuan. l. Memberikan jaminan, hakekatnya adalah semacam pemberian ganjaran di masa yang akan datang. Pemeberian jaminan ini dapat dilakukan dengan teknik : 1) Pernyataan persetujuan 2) Prediksi hasil 3) Postdiksi hasil 4) Kondisi interview 5) Jaminan factual 6) Mengembalikan pertahanan diri.

m. Ketrampilan mengakhiri, dapat dilakukan dengan cara : 1) Mengatakan bahwa waktu sudah habis 2) Merangkum isi pembicaraan 3) Menunjukkan kepada pertemuan yang akan dating 4) Berdiri 5) Isyarat gerak tangan 6) Menunjukkan catatan-catatan singkat 7) Memberikan tugas-tugas tertentu

2. Teknik Khusus a. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih konseli yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. b. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. c. Pengkondisian Aversi Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan konseli agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

d. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada konseli, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada konseli tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. e. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara konseli dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. f. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu konseli agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta konseli untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian konseli menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : dan saya bertanggung jawab atas hal itu. g. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada konseli untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. h. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta konseli untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.

i.

Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk konseli yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong konseli untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

j.

Home work assigments, Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh konseli dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri konseli dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

k. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan konseli untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri konseli. l. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga konseli dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. m. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. C. TEKNIK INTERPRETASI Interpretasi dapat diartikan sebagai usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli. Konelor membantu konseli dengan memberikan suatu hipotesa tentang hubungan atau makna tingkah laku untuk dipertimbangkan oleh konseli. Data yang diinterpretasikan konseli digolongkan menjadi 2 kategori, yaitu : a. Data obyektif, data yang dijabarkan dari data eksternal. b. Data yang dijabarkan dan data interpersonal yang dihasilkan selama proses konseling.

1. Teknik Interpretasi Secara terapeutik, tahap interpretasi merupakan tahap terakhir dari tahap-tahapp yang berkelanjutan dimulai dari refleksi perasaan. Tahao-tahap interpretasi adalah : a. Refleksi perasaan, terapis tidak pergi lebih jauh dari apa yang telah dinyatakan oleh konseli. b. Klarifikasi, menjelaskan apa yang tersirat dalam apa yang telah dikatakan konseli. c. Refleksi, konselor memberian penilaian terhadap apa yang tersirat dalam kesadarannya. d. Konfrontasi, konselor membawa kepada perhatian cita-cita dan perasaan konseli yang tersirat tetapi tidak disadari. e. Interpretasi, konselor memperkenalkan konsep-konsep, hubungan dan pertalian baru yang berakar dalam pengalaman konseli. 2. Tipe-tipe Interpretasi Menurut Karl Menninger, tipe-tipe interpretasi yang berdasarkan urutan waktu dalam psikoterapi adalah sebagai berikut : a. c. e. Interpretasi persiapan Interpretasi resistensi Interpretasi ulangan. Metode-metoda interpretasi umum adalah : a. Pendekatan tentatife, metoda dengan memberikan interpretasi semester (tentative) terhadap suatu masalah. b. Asosiasi bebas, dengan memberikan kebebasan interpretasi kepada konseli berdasarkan asosiasi yang terjadi secara bebas kepada konseli. c. Interpretasi dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang lunak atau halus. Dengan metoda ini resistensi konseli dapat diminimalkan. b. Interpretasi riil (isi) d. Interpretasi transferensi 3. Metoda Interpretasi

d.

Pertanyaan-pertanyaan interpretative, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang interpretasi.

D. PENGGUNAAN NASEHAT, INFORMASI DAN TES. 1. Nasihat dalam konseling Nasihat adalah bentuk psikoterapi dan konseling yang tertua dan bertujuan untuk mengalihkan sikap dan tingkah laku konseli.dalam situasi tertentu nasihat diperlukan dalam konseling terutama kepada konseli yang bersifat sederhana. Nasihat juga diperlukan dalam situasi kritis untuk mempersiapkan konseli kepada penyesuaian diri dan mencegah trauma (kejutan) emosional. Tetapi ini berarti tanggung jawab pemecahan masalah dipindahkan ke tangan konselor dan membatasi kesempatan kepada konseli untuk mengubah ssendiri sikap penilaian diri yang fundamental. 2. Tes dan observasi dalam konseling Bagi konselor tes membantu dalam menelaah dan mendiagnosa karakteristik dan masalah kepribadian konseli dengan tujuan untuk memberi informasi yang berguna tentang kepribadiaanya sendiri. Penggunaan tes dalam konseling mempunyai 3 fungsi, yaitu : a. c. Sebagai alat diagnostic Membuat prediksi tingkah laku Dalam memilih tes dalam konseling beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain : a. c. e. 1) Standard tes yang digunakan Memilih topic tes Prosedur pemilihan tes, dengan langkah-langkah sebagai berikut : Konseli dan konselor menetapkan data apa yang diperlkan untuk membantu memecahkan masalah. b. Memilih waktu yang penggunaan tes yang tepat d. Partisipasi konseli dalam meilih tes b. Menemukan minat dan nilai

2) Konselor menggambarkan macam-macam teori tes 3) Konselor memberikan rekomendasi kepada tes tertentu yang dapat memberikan datayang diperlukan. 4) Konselor membiarkan konseli untuk memberikan reaksi terhadap pemilihan tes 5) Mengatur pelaksanaan tes. 3. Prinsip-prinsip penggunaan tes dalam konseling Dalam menggunakan tes untuk proses konseling sebaiknya diperhatikan prinsip-prinsip berikut ini ; a. Mengetahui tes secara menyeluruh tes-tes yang pernah dialaminya. c. Perlu pengaturan pertemuan interpretasi tes agar konseli siap untuk menerima informasi. d. Arti skor tes harus dibuat secepatnya dalam diskusi. e. f. Kerangka acuan hasil tes hendaknya dibuat dengan jelas. Hasil tes harus diberikan kepada konseli. b. Penjajagan terhadap alasan konseli menginginkan tes dan pengalaman konseli dalam

g. Hasil tes harus selalu terjabarkan h. Konsellor hendaknya bersifat netral. i. j. a. Konselor hendaknya memberikan interpretasi secara berarti dna jelas. Hasil tes harus memberikan prediksi dengan tepat. Beberapa tes yang digunakan dalam proses konseling antara lain : Inventori kepribadian secara tertulis (Paper-and pencil personality Inventory), missal MMPI, The Bell Adjusment Inventory b. Teknik-teknik proyektif, seperti TAT, dan Test Rorchach. c. Observasi terhadap perbuatan-perbuatan ekspresif. Preference Record, dan Allport-Verson Study of Values. d. Inventori minat dan nilai, seperti SV IB (Strong1s Vocational Interest Blank ), Kuder