Anda di halaman 1dari 14

Coretan Tanganku : Harapan Acara Reuni

Sahabat masa lalu terutama warga Den 81 Kopassus pada saat itu dan kini Satuan Penanggulangan Teror (Satgultor) 81 Kopassus dimanapun berada. Saya yakin tulisan ini dalam rangka menyambut Reuni yang rencana akan di selengarakan pada hari Minggu tanggal 9 September 2012 di Hotel Shangrila, Jakarta ini mungkin sebagai gambaran untuk teman teman yang mungkin saat ini sangat Jauh keberadaan entah yang masih di Jakarta, Atau sudah di daerah lain, Mungkin dapat memberikan informasiSemoga Reuni Akbar Den-81 kopassus. sebuah renungan yang saya berharap dapat menjadi dasar mengapa reuni diadakan. Berikut ini tulisannya : Masa lalu jelas sebuah proses. Dan proses itu bisa bermakna ribuan arti dan kenangan. Bagiku, ketika satu wadah pengabdian dulu, kenangan-kenangan itu tetap tak lekang waktu. Kenangan itu tetap hidup mesti rutinitas hidup memakan waktu. Saya masih ingat betul, Komandan faforite saya misalnya yang sepatunya bernomor 8,5, dengan logat bataknya yang kental. Pada Komandan itulah saya juga mendapatkan wejangan yang hingga saat ini masih dalam ingatan Akan kudorong bila kau mau maju, dan akan kutendang bila kau mau mundur. Siapa komandan yang sering disebut Pak Gepeng yang suka merokok ? Jadi apa pentingnya sebuah reuni ? Jangan menyederhanakan masalah, misalnya masa lalu adalah sejarah. Bagiku, sejarah selalu identik dengan fosil dan bebatuan beku. Sejarah adalah kosakata untuk mati. Sementara reuni, sekali lagi bagiku, akan selalu menghadirkan putik dan bunga. Reuni adalah kosakata untuk hidup. Engkau mungkin masih bingung, dengan apa yang aku maksudkan. Tapi percayalah, reuni itu bisa berbunga beribu buah manfaat. Buah itu bisa bermakna silaturahmi, jejaringan, paseduluran, dan kekeluargaan. Lautan kehidupan yang telah engkau arungi selama ini adalah bekal untuk reuni. Engkau telah pergi, bahkan terlalu jauh pergi. Engkau seperti telah hilang dalam hitungan seperti tahun yang terus berganti, Dan kini saatnyalah sayap kehidupanmu untuk beristirahat sejenak. Reuni, bagiku, alangkah indahnya ketika menanggalkan baju kita. Ketika bertemu, bagiku, aku tak perlu menyebutmu misalnya dengan kata komandan, pak wakil komandan, pak kepala seksi, pak pelatih, atau apapun jenis bajumu dan jabatannya. Baju dan jabatan itu akan menjadi tembok penghalang yang aneh ketika engkau seumpama masih memakai baju itu dalam bereuni. Jadi reuni itu, bagiku akan tetap indah, karena aku berangkat hidup pernah mampir di situ (Den-81 Kopassus) dan kerinduan untuk mampir ke situ kembali pasti akan selalu memanggil-manggil kembali setiap saat. Jadi engkau sekarang tahu maksudku bukan ? Ya, ya, aku hanya ingin mengenalmu apa adanya. Pangkat, jabatan, baju yang kau pakai adalah kesemuan yang nyata, kekayaan yang absolut. Aku memang tak ingin memanggilmu, misalnya dengan embel-embel profesimu saat itu pak komandan, pak wakil komandan, pak kepala seksi, atau apapun itu.

Aku hanya ingin mengenalmu dari hatimu, lubukmu, dan sejarah yang telah ku ukir bersamamu. Maka ketika kau telah menanggalkan apapun yang kau kenakan, maka aku ingin lebih intim mengenalmu. Dan sebaliknya, aku ingin berlari menjauh begitu kau mendekatiku, sementara tanganmu menggenggam sekepal pangkat kehidupanmu. Aku memang telah mengenalmu dulu, ketika kurun 1983. Tapi sekarang, ketika berbagai atribut mengelayuti pundakmu, kau menjadi terasa sangat asing bagiku. Kau seperti anak yang baru ku kenal. Aku memang bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Dan karena itulah aku juga ingin mengenalmu yang bukan siapa-siapa, dan yang bukan apa-apa. Ya..pangkat, jabatan, kesuksesan .. itulah yang menjadi alasan mengapa seorang teman yang berdinas sekantorku berkata, Ah malu, aku kan orang yang nggak sukses. Semoga tulisan ini mengingatkan kita tentang reuni, bukan ingin pamer jabatan, kekayaan tapi hanya ingin mengenang masa lalu bersama, itu saja.(Kutulis saat menemui kesombongan)

Tekad Melakukan Reuni


Hidup kebersamaan dalam kebahagiaan dan penderitaan itu indah, kebahagiaan itu dapat dirasakan dan mempunyai arti penting bila tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya suatu kebutuhan bersama yang mengikat sesama perjuangan. Seseorang akan merasakan dirinya menjadi penting atau bermanfaat karena adanya orang lain yang membutuhkannya. Seseorang akan merasa berbahagia apabila dekat dengan orang-orang yang paling dicitai. Cintanya akan selalu ditumpahkan kepada keluarga, saudara, teman perjuangan dan kerabat yang menumbuhkan rasa kasih dan sayang kepada sesama yang dapat tercipta suatu saling asah, asih dan asuh. Perlunya reuni. Reuni sering digunakan orang sebagai pertemuan kembali, momentum ini biasanya dipakai sebagai ajang yang tepat untuk dapat mempertemukan atau menyatukan kembali rekan-rekan seperjuangan lama. Biasanya, pertemuan ini dijadikan sebagai media menyampaikan rasa kangen dan ajang berbagi pengalaman. Namun disisi lain yang dikarenakan profesi, karier dan kebutuhan hidup yang berbeda-beda membuat sulitnya alur komunikasi dengan rekan-rekan atau sukarnya komunikasi antar mantan atasan (Komandan) dengan bawahan (Anak buah). Dengan diadakan reuni ini, diharapkan dapat menumbuhkan kembali rasa kebersamaan yang pernah dirasakan di masa lalu. Keluarga mantan warga Bugis-81/ Satgultor Kopassus yang dulunya Den-81 Kopassus. Demi masa lalu menyongsong masa depan adalah sebuah harapan yang menjadi motivasi dalam membentuk dan mengapresiasikan jati diri mantan warga Bugis 81/Satgultor Kopassus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sebuah Ikatan Keluarga Bugis-81/Satgultor

Kopassus sebagai pelopor kemajuan Satuan yang pernah menjadi wadah mengabdi kepada Negara. Bersamaan uraian tersebut diatas, beberapa alumnus Den-81 Kopassus saat Peringatan ke29 Hari Jadi Satgultor -81/Kopassus di Bugis (yang dikenal Alumnus) Cijantung, Jakarta Timur sepakat untuk melakukan temu kangen. Gagasan tersebut, disambut sesepuh/pendiri Den81. Dengan gagasan tersebut, terbentuklah satu panitya temu kangen dan melakukan rapat rapat kepanityaan beberapa kali di kediaman Letkol Inf Ading Rupadi yang dulunya menjabat sebagai Kasi Logistik yang dikenal Kancil IV. Dalam rapat panitya, membuahkan hasil penentuan waktu, tempat, Thema, dan anggaran serta undangan. Waktu pelaksanaan sesuai dari hasil rapat panitya, jatuh pada hari Minggu,9 September 2012 bertempat di Hotel Shangrila. Adapun thema yang disajikan, Temu Kangen dan Halal Bihalal Warga Bugis-81/Satgultor Kopassus .Sedang undangan, seluruh mantan angguta Den-81 Kopassus baik yang masih berdinas di militer, purna tugas dan yang masih berdinas di likungan satuan yang dicintainya Den-81/kopassus berjumlah 350 undangan. Undangan tersebut disertai dengan istri masing masing.

Reuni untuk Mengingat


Kadang kita mengenal kata lupa sebagai fitrah manusia yang cenderung merepotkan kita, padahal sebenarnya lupa adalah bagian nikmat yang Sang Pencipta berikan kepada manusia. Terbayang, jika kita hidup tanpa pernah lupa, betapa penuhnya otak kita. Jika penuh oleh kenangan indah mungkin tak mengapa, tapi bukankah kenangan itu ada pula mimpi buruk?... dan pada kenyataannya, mimpi buruk justru lebih sulit dilupakan. Kita tidak akan berbincang tentang lupa, namun justru sebaliknya tentang ingatan. Tentang aktifitas kita yang membawa kita ke belakang, dan kita sering menyebutnya dengan nama reuni.

Reuni sebagai Temu Kangen Terhadap Sahabat Lama

Reuni bila diartikan, sebagai sarana berkomunikasi dengan masa lalu. Kita dipertemukan kembali dengan orang-orang yang pernah bersama kita di hari-hari lalu. Dengan bertemu, lalu berbincang, mau nggak mau... otak kita berfikir tentang hari-hari dulu. Otak terlempar ke belakang, kadang rasa pun terbawa. Yang seringkali mengganggu adalah masalah-masalah kita di hari lalu kembali muncul. Kadang hati tiba-tiba saja ngilu. Menyesali langkah-langkah keliru kita di masa lalu. Padahal apa untungnya coba? Tapi namanya juga rasa, siapalah yang bisa menyalahkan? Jadi ada benarnya juga, jika reuni itu dianggap sekedar kegenitan kita bermain-main dengan ingatan akan kenangan. Mungkin masalahnya ada pada menyesalinya saja, jika kita sempurnakan dengan memperbaikinya, maka reuni itu kita perlakukan sebagai sarana menjemput kembali pengalaman masa lalu yang berserakan, untuk kita susun kembali dalam kerangka solusi, dan perbaikan di sana sini. Jadi reuni bukan untuk mencongkel luka lama, melainkan mengobati luka sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup kita. Beberapa teman berpendapat, "reuni" itu penting dalam rangka menyambung silaturahmi. Dengan dalih ini, berarti "reuni" itu bisa menyelamatkan kita dari status "Orang-orang fasiq" dan "orang-orang yang merugi". Berarti paling tidak, ada dua hal yang bisa kita bawa sebagai bekal saat berangkat ke "reuni": (1) Semangat menjadi lebih baik, bukan sekedar genit dengan "rasa" menyesal atau pun ber-asyik dengan kenangan saja. (2) Semangat menyambung hati dengan silaturahmi seperti yang Allah perintahkan, bukan ajang saling berbangga diri, saling mencela dan merendahkan, insya Allah akan membuka pintu rezeki, kasih sayang dan keberkahan kita. Selamat Ber-reuni.............

Reuni, Apakah Selanjutnya ?


Reuni berasal dari kata Re dan Uni. Re mengandung arti kembali, sedangkan Uni berarti satu kesatuan. Sehingga Reuni bermakna sebagai sebuah kegiatan yang menyatukan kembali segenap komponen yang terpisah baik oleh waktu, tempat, profesi bahkan kesibukan.

Mantan dan personil warga bugis-81 Satgultor Kopassus nampak dengan tertib melakukan registrasi

Begitu marak info tentang reuni Warga Bugis 81 ini terutama alumnus Bugis 81 yang berada di Kota Jakarta, setelah Lebaran Idulfitri. Apapun namanya, mulai dari: temu kangen; kembali bersatu; halalbihalal; atau bahkan saling rindu; dan lain lain. Namun sayangnya, reuni ini oleh panitya tidak terbublikasikan melalui media. Meskipun sekadar pertemuan atau kangenkangenan dengan teman semasa bertugas sewadah atau menunjukkan kepada teman lama bagaimana perkembangan hidup dan keadaan keluarga masingmasing. Rasa rindu, senang, terharu, malu berbaur menjadi satu. Sayang sekali jika tidak bisa hadir setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Jejaring sosial, terutama Facebook tidak bisa dipungkiri kadang memaksa untuk berkomunikasi kepada sohib. Namun terkadang ada juga teman yang tidak mau hadir jika diundang untuk menghadiri reuni. Mungkin karena kurangnnya kesuksesan yang diraih pada dirinya, sehingga ada perasaan malu ketika bertemu dengan teman lama. Hal ini menunjukkan pola pikir yang kurang tepat. Pertemuan dalam sebuah reuni sangat banyak faedahnya. Selain menjalin tali silahturahmi dan mengenang manis, pahit yang dirasakan semasa bertugas di

Den-81 Kopassus dulu, juga memberikan inspirasi bagi diri kita melilhat kesuksesan teman lama. Bagaimana teman lama kita dapat meraih sebuah kesuksesan. Seandainya kita tidak sukses dalam karir atau kehidupan, paling tidak kita bisa menjalin sebuah jejaring (networking), atau merajut kembali hubungan pertemanan dan persahabatan. Karena percayalah bahwa dengan banyaknya teman akan membuahkan rejeki. Selain itu ada satu hal yang paling berarti dengan reuni mengingat kembali ke masa bertugas,latihan, pendidikan dan tumbuh bersama, di Satuan yang sama, dengan Komandan yang sama, namun sekian tahun tak bertemu kemudian sudah berbeda perkembanganya masing-masing. Mungkin teman lama kita ada juga yang sudah menduduki posisi puncak sebuah perusahaan, atau di Militer, ada yang sudah menjadi orang terkenal berpangkat Jenderal, ada yang biasabiasa saja, bahkan ada yang baru saja pindah tugas atau bahkan sudah meninggalkan kita terlebih dahulu ke pangkuan Sang Khalik. Mendatangi reuni tentu saja menyenangkan. Bertemu teman yang mungkin sejak lulus Satlat Den-81 Kopassus sudah tidak berjumpa lagi. Itu mungkin sudah tahunan bahkan puluhan tahun lalu. Padahal saling akrab atau teman sebagai pelindung bahkan sebagai tumpahan curhat saat itu. Kita pandangi mereka, ada yang berubah ada yang tidak, cuma kelihatan lebih tua. Dulu yang kurus sekarang gemuk, dulu tampak dekil, sekarang klimis bergaya metroseksual. Dulu tampak pemalu sekarang begitu pede. Paling menyebalkan memang bila bertemu seseorang yang sadar benar apa kelebihannya, dan memamerkannya kemana-mana. Namun, yang seperti itu cuma satu dua. Yang lain dan masih banyak tetap mau menerima kita apa adanya. Bila ada cerita yang gagal, jadikan hikmah. Kenapa bisa seperti itu. Jangan sampai hal ini menimpa kita atau mungkin terjadi juga pada jalan hidup anak kita. Bersyukurlah dan beruntunglah karena sudah mengalami jalan hidup yang seperti ini. Mungkin sebelumnya merasa putus asa atau kecewa dengan hidup. Sekarang menjadi sadar bahwa ada yang lebih kurang beruntung nasibnya. Reuni selalu diawali sebagai ajang bernostalgia atau temu kangen, namun selalu diakhiri oleh pertanyaan yang umum what next?. Apa selanjutnya? Untuk itu, diacara yang serupa tentunya harus di awal perencanaan perlu ditentukan target yang ingin diraih, misalnya: sekadar ingin memperbaharui (update) database, menghidupkan kembali IKA (ikatan alumni), membuat kegiatan-kegiatan lain seperti halalbihalal, arisan, atau cukup berupa aktivitas olahraga rutin seperti futsal atau olah raga lainnya tau yang lebih penting lagi membentuk suatu Paguyuban Alumnus.

Panitya Reuni temu kangen warga Bugis -81 nampak antusias menyambut kehadiran rekan-rekannya Minggu (9/9) Reuni dapat pula menggalang potensi dari anggota. Misalnya pengumpulan dana abadi dari anggota yang sukarela namun dilakukan secara berlanjut yang nantinya bunganya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan anggota, misalnya membuat kegiatan Usaha Kecil Menengah, membantu bea siswa bagi keluarga anggota yang kurang mampu, dan lain sebagainya. Meskipun nilainya kecil namun bila dikumpul secara rutin dari semua anggota hasilnya akan terasa. Reuni bukan sekadar hura-hura tanpa makna. Reuni harus bermakna sebagai alat pemersatu. Memang, bersatu bukan harus seragam, apalagi sama. Bersatu akan lebih punya makna karena keberbedaan yang sudah ada dan harus ada. Beda tingkat sosial ekonomi, beda kepangkatan, beda suku dan rasa serta perbedaan lainnya yang ada pada kita. Sekarang, bila ada undangan reuni, luangkan waktu untuk datang. Jangan malu dan ragu untuk menghadirinya. Apapun yang terjadi bisa menjadi hal yang positif bagi kita semua. Selamat berreuni, Minal aidin wal faidzin.

Reuni dan Sindrom I Am Zero and Nothing


Mungkin satu kata yang teman-teman sukai atau satu kata yang teman-teman benci. Kata ini sering dilontarkan oleh teman-teman seperjuangan, bahkan penugasan kolektif. Dan sebenarnya kata ini sangat umum dan lazim dillontarkan terutama bagi kita yang pernah mengalami satu masa dimana kita pernah satu wadah mengabdi kepada Negara melalui Den-81 Kopassus atau penugasan dan latihan satuan. Hingga akhirnya ketika meninggalkan satuan yang dicintainya tersebut dapat dikatakan sebagai alumni Den-81 Kopassus. Bukan hanya sekedar disebut sebagai alumni saja, tapi ketika dihubungkan dengan satu kata ini bisa jadi akan ada suatu perasaan lain ketika para alumnus itu sudah melampaui rentang waktu yang lama, bisa 10 tahun atau bahkan malah 20 tahun lebih.

Sebenarnya memang tidak perlu waktu 10 tahun atau bahkan 20 tahun lebih. Tetapi di rentang waktu itu bisa jadi akan ada satu sensasi yang berbeda yang mungkin sangat dahsyat yang dialami oleh yang menyebut dirinya alumni tadi. Di rentang waktu itu pula kita bisa memanggil kembali kepingan-kepingan memori di masa dimana kita masih sering mengenakan uniform satuan Den-81 Kopassus atau training biru tua. Mengenang itu semua dapat saja membangkitkan jiwa kita ke masa muda dulu, meskipun raga kita telah benarbenar terbungkus oleh gumpalan daging yang menebal di beberapa bagian tubuh kita atau mungkin juga rambut kita sudah mulai muncul warna lain selain warna hitam sebagai tanda belianya umur kita dulu. Dari sini mungkin kita mulai bisa menebak apa satu kata yang saya maksud dari kalimat pembuka diatas. Satu kata yang bisa menjadi disukai, tapi bisa juga sangat membenci. Kalau bagi saya pribadi jujur kukatakan sangat suka dengan kata ini.Tapi ketika kata yang saya maksud tadi benar-benar dilangsungkan, saya menemukan dari sekian sahabat ada seorang teman yang sangat-sangat benci dengan kata tersebuti (Aneh.Red).

Runi Temu Kangen dan Halal Bihalal Warga Bugis-81/Satgultor Kopassus) Sangrila Hotel Minggu (9/9)

Tak usah berbelit-belit lagi langsung sebut saja, kata yang saya maksud diatas tak lain dan tak bukan adalah Reuni. Berawal dari status saya di Facebook-lah, ide tentang reuni itu dilontarkan. Beberapa teman semasa bertugas di Den-81 Kopassus hingga alih tugas satuan sepakat akan mengajak saya ber-reuni.

Ditengah-tengah Acara Reuni, Warga Bugis 81 Melakukan Foto Bersama di Belakang Hotel Shangrila, Minggu (9/9)

Bagi saya reuni itu sungguh berkesan. Bukan karena saya bisa bernostalgia dengan mantan rekan seperjuangan, seperti yang seringkali terjadi jika ada reuni. Setidaknya saya bisa bersilaturahmi kembali dengan teman-teman saya, bisa bertatap muka langsung dengan mereka dan rasanya sungguh berbeda dengan saat itu ketika kami ngobrol di lapangan tembak, ruang perpustakaan dan fasilitas latihan. Selain itu juga bisa mengenang masa-masa badung saya dulu dengan teman-teman se-gank saya. Di sela-sela ngobrol itulah akhirnya saya menyadari ada seorang teman gank saya dulu yang tidak bisa datang. Melalui telepon yang langsung saya terima, dia menyatakan penyesalannya tidak bisa hadir di reuni temu kangen dan Halal Bihala Warga Bugis 81/Satgultor kopassus pada Minggu (9/9). Alasannya, ada suatu hal yang tidak bisa dia tinggalkan.Padahal sebelum acara itu dilangsungkan, teman tersebut sangat antusias menyambut acara reuni. Ya apa boleh buat, bagi saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman saya yang lain sudah sangat menggembirakan. Belakangan saya baru tahu alasan sebenarnya ketidakhadiran teman saya itu. Melalui note online di wordpress.com-nya yang sengaja di host, saya baru tahu kalau teman saya yang satu itu mengalami apa yang dinamakan sindrom I am zero and nothing. Karena itulah akhirnya teman saya itu jadi sedemikian benci jika mendengar kata reuni. Ternyata teman saya tadi merasa tidak siap jika bertemu dengan teman-teman lainnya, termasuk saya tentunya. Ketidaksiapannya justru bermuara pada kekhawatiran akan pertanyaanpertanyaan yang nantinya akan dilontarkan oleh teman-teman kepadanya. Dia merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaan seputar tinggal dimana?, kerja dimana?, atau anakmu berapa?. Bagaimana dia bisa menjawab tinggal dimana sekarang, jika sampai saat ini dia belum punya tempat tinggal. Selain itu dia juga merasa tidak ada yang bisa dibanggakan darinya karena saat ini pun diusia purna tugas dia hanya kerja serabutan, yang gajinya mungkin tidak seberapa. Padahal jika dilihat dulu, semasa berdinas dia adalah prajurit prestasi dan banyak relasi. Sementara sekarang ini dia merasa tidak ada yang bisa dibanggakan darinya. Karena itulah wajar jika dia bereaksi terlalu berlebihan terhadap rencana reuni ini.

Dalam situasi yang under pressure seperti itu, maka wajar jika ada orang yang sangat sensitif dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat standar dan lazim dilontarkan jika kita lama tidak bersua. Saya bisa membayangkan seandainya teman saya itu hadir di acara reuni, pastilah dia mesti harus memutar otak dan merancang strategi untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dilontarkan itu dengan baik. Kalo saja pada saat reuni dia usianya masih sekitar 10 tahunan, mungkin saja dia itu akan mengajak ibunya untuk menemaninya menghadiri acara reuni tersebut. Persoalannya, waktu itu usianya sudah diatas 50 tahun, sehingga rencana semacam itu tidak mungkin bisa diterapkan. Kalo untuk menjawab masalah lain sih, bisa saja sebenarnya teman saya itu ngarang-ngarang cerita tempat dia kerja, yang penting tidak terlalu muluk-muluk dan memalukan. Tapi giliran masalah pertanyaan tempat tinggal?, apa nggak stress teman saya itu. Oleh karena itu keputusan untuk tidak hadir di acara reuni, bisa jadi solusi yang dianggapnya paling baik daripada harus mengarang-ngarang cerita yang mungkin sama sekali jauh dari kebenarannya. Jadi alangkah baiknya memang jika sebuah acara reuni bisa menjadi sebuah event yang mampu memberdayakan setiap pesertanya. Sebab jika acaranya hanya kangen-kangenan, apalagi kemudian ada acara pentas kesuksesan antar alumni, baik yang bersifat implisit maupun eksplisit, orang-orang yang mengalami perasaan atau sindrom I am zero and nothing seperti teman saya tadi pasti dijamin akan ogah-ogahan untuk datang. Tapi jika acaranya dikemas sedemikian rupa sehingga setiap orang yang datang bisa saling belajar, saling memberi, dan saling memberdayakan, tentu akan lain keadaannya.

Sisi-sisi Lain Keindahan Reuni Akbar


Jakarta, 9 September 2012 .Shangrila Hote - .Tidak terasa sudah duapuluh Sembilan tahun telah berlalu. Perjalanan waktu dan tuntutan tugas memisahkan kebersamaan saat menuntutilmu kemiliteran, latihan, berkarier, tugas-tugas di daerah operasi melalui Satuan Den- 81 KopassusCijantung, Jakarta Timur, di tahun 1982 2003. Sejak dinyatakan alih tugas satuan, dari satuan yang kita cintai ini, bak laron keluar dari sarangnya beterbangan kesegala arah, dengan membawa hoki sendiri-diri menekuni tugas yang baru bahkan ada yang terjun di segala bidang usaha dan kerja untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Sisi-sisi lain dibalik Reuni akbar, tidak lepas dari adanya sesuatu yang menjadikan sangat berkesan, meriah dan sukses ini yaitu adanya berbagai ragam latar belakang teman-temanku dari berbagai angkatan (Satlat), hal itulah menjadikan sesuatu keinginan kuat untuk bisa bertemu kembali, mengenang masa-masa indah saat dalam kebersamaan di Satuan Den-81 Kopassus. Den-81 Kopassus di mata masyarakat identik dengan satuan anti terror atau sering disebut sebagai pasukan elite Indonesia dengan mayoritas personil yang bertugas di Den-81 dari Grup-grup Parako dan Sandha Kopassus.Mereka membuka diri menggali ilmu kemiliteran di wadah satuan Den-81 Kopassus dengan berbagai latarbelakang pendidikan.

Salah satunya penulis sendiri sudah merasakan, diterima (cocok) masuk di Satuan ini , tanpa dibedakan dan tanpa sekat sama sekali antara Satlat I dengan Satlat II. Disanalah saya bisa menemukan ikatan rasa batin akan keindahan, kebersamaan dan kebahagiaan saat-saat bersama menempuh ilmu dunia kemiliteran melalui pendidikan yang sangat sulit saya ungkapkan dengan tulisan. Saya tulis ini, dengan linangan air mata keharuan, atas kebesaran jiwajiwa mereka menerima kami-kami masuk dalam lingkungan kehidupan, kebersamaan berinteraksi, belajar bersama, latihan bersama, dan menjalankan tugas negara mereka dengan tulus iklas menerima dan itu saya rasakan kembali saat diadakan Reuni Akbar Alumni Akbar warga Bugis-81, terselenggara di Hotel Shanrilla, Jakarta, 9 September 2012. Reuni Akbar ini berawal dari ide satu, dua rekan alumni yang ditangkap oleh sebagian besar alumni yang bergabung mengikuti upacara HUT Ke 30 di kesrtyan Bugis. Selain itu, melalui dunia maya,via BBM, FB, dan tweeter, bak gayung tersambut dan didukung oleh teman-teman satu angkatan yang telah sukses dan berhasil dalam kehidupan secara finansial dan sudah mapan. Mereka bersama-sama membentuk Panitia dan berjuang selama kurang lebih tiga bulan lamanya disela-sela kesibukan mereka yang luar biasa. Mereka sempatkan waktu, tanpa lelah dan pamrih untuk merancang, mengorganisir dan melaksanaan hajat besar Reuni Akbar Alumni Bugis-81 (Den81/Kopassus), mengikat kembali tali silahturhim. Perjuangan mereka tidak siasia, Tepat Pukul 10.00 Wib dimulai hajat besar Reuni Akbar Alumni Warga bugis 81, selama satu hari tanggal, 9 September 2012. Hanya satu kata dari saya, Salut and success. Hajat besar inipun tidak melupakan jasa para Pendiri satuan dimasa itu, maka tidak lupa pihak panitia penyelenggara mengundang para mantan Komandan Den-81 Kopassus, Kepala staf, pelatih, Psycolog, pelatih karate. Tapi sayangnya, pihak panitya kelupaan mengundang juru masak yang sabar melayani para prajurit Den-81 selama berdinas disana. Padahal, penulis telah menyidiakan sebuah tanda kasih para juru masak sedikit tanda mata atas jasa-jasa Beliau. Kamipun ngobrol mengenang masa lalu bersama mantan Komandan Tim, sesama rekan perjuangan, rasa haru dan linangan air mata tidak bisa saya bendung, melihat betapa bersahaja mereka, meniti masa tua dalam ketidakberdayaan fisik, sepuhnya. seperti Bapak Jimin yang dulunya Seksi Markas (mantan Satlat Angkatan - I), Bapak Slamet, Suwanda, Ate Sulaeman dan ponijan, beliau-beliau adasebagian memakai tongkat pembantu untuk berjalan yang dikarenakan terindam Stroke, masih sempatkan bisa hadir. Sungguh suatu kehormatan besar dan sangat berarti bagi kami, atas kehadiranya sungguh mengharukan. Dibalik kemeriahan, keindahan dan keharuan, ternyata ada cerita yang terselip dan menyertai hajat besar yang tercecer, bagi saya menarik untuk saya ungkap dalam tulisan ini. Awalnya Saat pendataan, dua bulan sebelum pelaksanaan reuni, saya kedatangan salah satu teman, dengan membawa buku yang berisi foto-foto Alumni. Sayapun dimintai bantuan untuk mencari/menghubungi teman-teman

yang ada dan bisa saya hubungi. Disinilah, saya menemukan salah satu foto yang dicentang merah, sayapun menanyakan kenapa di centang?Yang dicentang itu yang sudah meninggal dunia, katanya? Sayapun tersentak kaget ada satu teman sangat dekat, akrab dan sangat humoris baik hati, dibawah foto ada namanya Ngadiono, alias Pawang nama panggilan akrabnya yang saat ini berdinas di Pusdikter, Cimahi, Jawa Barat, dinyatakan telah meninggal dunia, dan fotonya diberi warna merah? Saat pelaksanaan acara, ternyata Pawang ikut hadir dan saat itu juga aku terkejut atas berita yang dikabarkan tersebut, dengan beribu tanda tanya? Tapi ternyata Pawang masih sehat walafiat, setelah saya ceritakan bahwa dirinya dikabarkan telah meninggal dunia.Bukanya dia tidak suka, malah dia bersyukur dan menyatakan bahwa teman-teman masih memperhatikan dan ingat padanya. Disaat saya bersama teman-teman ngobrol ngalor-ngidul, saya mendapat pengakuan jujur dari salah satu teman saat bersama dalam penugasan di Papua. Dirinya mereview penderitaan selama penugasan di Papua. tapi berkat kegigihannya dan ketabahan yang disertai keuletan akhirnya dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa (KPLB). Ada sedikit yang unik bagi kami mengesankan, sewaktu malam minggu kita berempat charter becak menonton Midnight Show di Cprina Teater, yang sekarang menjadi Cijantung Mall sepungnya Nungsep di depan kolam renang tepatnya di jalan turunan. Keempempat penumpang becak tersebut babak belur. Selain itu juga, disaat acara Reuni ini, penulis sendiri punya kesan yang cukup unik dengan salah satu teman bisa bertemu kembali dengannya, setelah pertemuan terakhir di penugasan di Sulawesi Tengah (Palu) di tahun 2010, bagi saya sangat berkesan dan mengingatkan kembali kenangan saat waktu aku jadi journalist dan dia sebagai pedagang cacao (Screet Mission). Ceritanya saat itu, saya melakukan tugas journalist meliput disebuah acara protokoler kegiatan Gubernur Propinsi Palu, Sulawesi tengah. Sedangkan temenku, Pinangkaan ada tugas yang sama, pemantauan kegiatan tersebut. Usai acara, sepulang dari acara masing masing kembali ke Save House di kubawakan sebos rokok hasil dari liputan ( biasa journalist dalam meiput) pastinya amplop atau materi lainya pasti terpenuhi dari panitya. Apa kata Pinangkaan ? Enak ya jadi wartawan . Pertanyaan yang sangat sederhana dari temenkku ini menyadarkan diriku sebagai journalist harus menolak pemberian dari sumber. Thanks buat sobatku, Pinangkaan Tidak terasa dalam rentang waktu Tigapuluha tahun telah berlalu, dengan cepatnya. Dari jumlah yang emncapai ratusan prajurit Den-81 Kpassus, Alhamdulillah sekitar 350 lebih alumni bisa menghadiri dan datang dari berbagai kota-kota besar di Pulau Jawa, Seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogya, Boyolali, Sumatra Utara, Surabaya dan lain-lain bisa berkumpul kembali selepas purna tugas dari Den-81/Kopassus dan berpisah di tahun tahun yang dialami masing masing alumni, sungguh saya sangat berkesan melihat merekamereka telah berhasil dan sukses, semoga keberhasilan dan kesuksesan Alumni Warga Bugis-81/Kopassus, dalam segala bidang usaha selalu menyertai dan abadi.

Rentang umur, teman-teman satu angkatan sekarang antara empat puluh lima lima puluh tahun, bahkan enampuluh tahun lebih tidak mengurangi rasa bahagia, ceria saat bisa berkumpul kembali, mengenang masa-masa indah dalam kebersamaan waktu mengabdi kepada Negara melalui wadah satuan Den81/Kopassus, dengan segala cerita suka dukanya, sungguh penulis sendiri sulit melukiskan pertemuan tersebut, tiada kata yang saya bisa diungkapkan hanya satu kata, SANGAT INDAH. Tapi keindahan ini, tidak lepas atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dukungan kita semua hajat besar Alumni Warga Bugis-81/Kopassus bisa berhasil dan sukses. Bekasi, 12 September 2012. . Kawan perjuangan yang penuh keindahan jeratan tali silahturahim terpatri dalam ikatan batin, tiga puluh tahun berlalu lahir kembali dalam keindahan kebersamaan, berkumpul bercanda dalam keceriaan terikat kembali. Good Luck .........Sat-81 Gultor/Kopassus

Greeting.

Suasana Reuni Akbar dan Halal Bihalal Warga Bugis-81 Kopassus


Gayeng, riuh, canda dan tawa mewarnai ruang Ceria, Hotel Shangrilla, Jakarta . Sementara di dalam ruangan berbagai acara terus berlangsung mulai dengan pembukaan, sambutan sambutan para sesepuh, acara door price pun tak ketinggalan. Itulah gambaran suana reuni akbar warga Bugis-81 yang baru dua kali ini dilaksanakan. Menurut data yang ada kurang lebih 400 an peserta hadir di acara ini. Sebenarnya acara reuni ini sangat berkaitan dengan akan diresmikannya Paguyupan Alumni warga Bugis-81 Kopassus (Den-81 Kopassus ) yang di motori pendiri Den-81 Kopassus, Jenderal TNI (Purn), LB.Panjaitan. Dengan harapan alumni Satgultor-81 Kopassus bisa bergabung di kegiatan kegiatan selanjutnya.Yang sifatnya sosial dan peduli dengan sesama alumni maupun anak-anaknya yang ber IQ diatas rata-rata. Yang sangat disayangkan dalam acara seperti ini, adanya pandangan negatif alumni yang tidak hadir karena takut ridak ada yang kenal, padahal panitia sudah mengantisipasi dengan memberikan kesempatan perkelompok angkatan untuk mengatur tempat duduknya sendiri. Namun menurut beberapa alumni tahun, kegiatan ini adalah merupakan awal yang baik yang hendaknya bisa dilestarikan keberadaannya.Harapan Warga

Bugis-81 adalah terbetuknya komunitas setiap angkatan Satlat untuk memudahkan koordinasi.Semoga Satgultor-81 Kopassus bisa langgeng keberadaannya dan selalu berhasil setiap dalam melaksanakan tugasnya, Amien............Amin...........Amin.........