Anda di halaman 1dari 6

Teknologi Fuel Cell

Fathin Saifur Rahman1, Erwin Yusuf 2


School of Electrical Engineering and Informatics Institute Technology of Bandung 1 18008022
fathinsr@yahoo.com
2

23211047

Erwin.yusuf@gmail.com

AbstractFuel cell adalah salah satu sumber energi terbarukan yang hanya menghasilkan air sebagai zat sisa utama sehingga sangat ramah terhadap lingkungan. Di masa depan, fuel cell memiliki prospek yang cukup baik karena aplikasinya sederhana, tidak perlu recharge seperti baterai, memiliki efisiensi tinggi, dan tidak bising. Perkembangan fuel cell akan sangat tergantung pada perkembangan material kimia yang digunakan, terutama material elektrolit, sehingga dapat terjadi reaksi kimia yang lebih baik untuk konversi energinya. Pada paper ini, akan dibahas hal-hal mengenai teknologi fuel cell, terutama jenis-jenis fuel cell yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan. Kelebihan dan kekurangan setiap jenis fuel cell akan dibahas sehingga dapat diperoleh gambaran mengenai perkembangan jenis-jenis fuel cell tersebut saat ini dan prospeknya di masa depan Kata KunciFuel cell, hidrogen, oksigen, air, elektroda, elektrolit

Oksigen memasuki katoda (kutub positif). Oksigen bergabung dengan elektron dan ion hidrogen menghasilkan air. Pada fuel cell, peran elektrolit sangat penting. Elektrolit hanya boleh mengizinkan ion yang tepat untuk lewat antara anoda dan katoda. Jika elektron bebas atau zat lain melintasi elektrolit, maka dapat mengganggu reaksi kimia.

1. PENDAHULUAN Fuel cell adalah salah satu jenis sumber energi terbarukan yang memanfaatkan reaksi kimia untuk membangkitkan energi listrik. Dibandingkan baterai, fuel cell memiliki keunggulan, yaitu akan terus menghasilkan listrik selama suplai bahan bakar ada. Fuel cell menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar untuk menghasilkan elektron, proton, panas, dan air. Reaksi kimia yang digunakan pada fuel cell secara umum adalah Reaksi kimia yang digunakan pada fuel cell sebenarnya cukup sederhana. Namun, fuel cell yang sederhana ini memiliki masalah, terutama pada area kontak yang kecil dan resistansi yang tinggi pada elektrolit sehingga arus yang dihasilkan tidak optimal. Untuk mengatasi hal ini, beberapa solusi yang dapat dilakukan adalah menggunakan elektrolit dengan ketebalan yang kecil dan menggunakan elektroda berpori dengan struktur mikro bola. Hal-hal ini dilakukan untuk memperluas area kontak maksimum antara elektroda, elektrolit, dan gas sehingga meningkatkan efisiensi dan arus yang dihasilkan. Komponen utama dari fuel cell adalah elektroda (anoda dan katoda), elektrolit, dan katalis. Cara kerja fuel secara umum adalah sebagai berikut: Hidrogen memasuki anoda (kutub negatif). Kemudian terjadi pelepasan elektron sehingga atom hidrogen terionisasi dan membawa muatan listrik positif melalui elektrolit. Elektron bermuatan negatif menghasilkan arus melalui kabel.

Gambar 1 Reaksi kimia dalam fuel cell

Dalam pengembangannya, fuel secara umum memiliki kelebihan dibanding jenis sumber energi lain. Dalam desainnya fuel relatif sederhana. Tidak seperti baterai, fuel cell pun tidak memerlukan recharge. Kelebihan lain dari fuel cell adalah efisiensi yang tinggi, emisi yang rendah, dan tidak bising. Namun, meskipun memiliki banyak kelebihan, pengembangan fuel cell pun memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain biaya investasi yang mahal (USD3000 - 7500/kW) dengan harga listrik sekitar USD2/kWh, infrastruktur yang masih kurang, dan teknologinya yang belum terlalu familiar. 2. TIPE FUEL CELL Fuel cell umumnya dibagi berdasarkan temperatur operasi dan tipe elektrolit yang digunakan. Jenis-jenis fuel cell yang telah dikembangkan antara lain: Alkaline fuel cell (AFC) Molten-carbonate fuel cell (MCFC) Direct-methanol fuel cell (DMFC) Polymer exchange membrane fuel cell (PEMFC) Phosphoric-acid fuel cell (PAFC) Solid oxide fuel cell (SOFC) 2.1. Alkaline Fuel Cell (AFC)

AFC merupakan desain fuel cell tertua. AFC menggunakan larutan potassium hidroksida (KOH) sebagai elektrolit. Efisiensi dari AFC sekitar 70% dan temperatur operasi 150o 200o C. Keluaran dari AFC adalah antara 300 watt 5 kW. Pada AFC, digunakan tekanan tinggi untuk meningkatkan OCV (Open Circuit Voltage). Aplikasi dari AFC antara lain pada kendaraan luar angkasa Apollo untuk menghasilkan listrik dan air minum.

MCFC antara 60% 80% dan temperatur operasi 600o 700o C (untuk membentuk garam konduktif). MCFC cocok diaplikasikan untuk pembangkit listrik besar. Di Jepang, unit dengan keluaran 2 MW sudah dibangun dan terdapat desain untuk unit sampai 100 MW. MCFC kurang cocok digunakan untuk penggunaan rumah tangga karena temperaturnya yang tinggi.

Gambar 3 Reaksi kimia pada MCFC

Kelebihan dari MCFC antara lain: Tidak perlu logam mulia untuk elektroda. Panas buangan dapat digunakan untuk menghasilkan uap yang selanjutnya dapat memutar pembangkit yang menggunakan uap. CO2 yang dihasilkan pada anoda dapat digunakan pada katoda. Kekurangan utama dari MCFC adalah tidak cocok untuk penggunaan rumah tangga karena temperatur operasinya yang tinggi. 2.3. Polymer Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) PEMFC menggunakan elektrolit polimer dalam bentuk lembaran tipis dan permeable yang dihidrasi. Efisiensi PEMFC antara 40% 50% dan temperatur operasi antara 60o 80o C. MCFC dapat mengeluarkan daya antara 50 250 kW. Karena elektrolit yang digunakan berbentuk padat, maka PEMFC tidak akan bocor atau retak. Hal ini menjadikan PEMFC cocok untuk digunakan pada mobil listrik dan kebutuhan rumah (selain karena temperatur operasinya yang cukup rendah). Pada PEMFC, bahan bakar harus dijernihkan dan harus digunakan katalis platina pada kedua sisi membran sehingga meningkatkan biaya. Namun, karena bentuknya yang padat dan temperatur operasinya yang rendah, maka PEMFC menjadi jenis fuel yang paling banyak diteliti saat ini.

Gambar 2 Reaksi kimia pada AFC

AFC memiliki beberapa kekurangan antara lain: Rentan kontaminasi sehingga perlu oksigen murni. Reaksi KOH dengan CO2 dapat menghasilkan K2CO3 yang dapat menghambat reaksi kimia pada elektrolit. Dapat mengalami kebocoran karena menggunakan elektrolit cair dan tekanan yang tinggi. Untuk mengatasinya, dilakukan pembungkusan fuel cell dengan gas inert. Mahal Sedangkan kelebihan dari AFC adalah elektroda yang tidak perlu dari logam mulia. Karena berbagai kekurangan yang ada ini, AFC kurang populer untuk digunakan. 2.2. Molten-Carbonate Fuel Cell (MCFC) MCFC menggunakan campuran cair logam alkali karbonat temperatur tinggi sebagai elektrolit. Efisiensi

Gambar 5 Reaksi kimia pada DMFC

Kelebihan DMFC antara lain: Menggunakan metanol yang cair pada STP sehingga mudah disimpan. Temperatur operasi rendah. Ukuran kecil dan ringan Kekurangan dari DMFC adalah memungkinkan terjadi chemical short circuit yang menyebabkan inefisiensi dan penggunaan katalis Pt dalam jumlah besar yang rentan keracunan akibat CO. 2.5. Phosphoric-acid fuel cell (PAFC) PAFC menggunakan asam fosfat sebagai elektrolit. Asam fosfat adalah zat yang stabil dan tidak bereaksi dengan CO2 sehingga tidak terjadi pembentukan karbonat. Efisiensi antara 40% 80% dan temperatur operasi antara 150o 200o C. Katalis yang digunakan adalah elektroda platina pada karbon. PAFC merupakan fuel cell pertama yang tersedia secara komersial. PAFC yang sudah ada memiliki keluaran sampai 200 kW. Di Jepang terdapat power plant PAFC terbesar (11 MW). Saat ini, harga teknologi PAFC masih mahal.

Gambar 4 Reaksi kimia pada PEMFC

Pada PEMFC, sebagai elektrolit, membran yang paling umum digunakan adalah membran Nafion yang diproduksi oleh DuPont. Membran ini adalah berupa rantai karbon dengan lapisan fluorine (teflon). Membran Nafion ini sangat resistan secara kimia, kuat secara mekanik, bersifat asam, menyerap air, dan merupakan konduktor proton yang baik jika dihidrasi dengan baik. Kelebihan dari PEMFC adalah dapat beroperasi pada temperatur rendah, memiliki rapat energi tinggi sehingga PEMFC dapat berukuran kecil, umur lebih lama, dan elektrolit berbentuk padat sehingga mudah disusun. Kekurangan dari PEMFC adalah adanya kesulitan pada manajemen air (elektrolit tidak boleh kering) dan dapat terjadi banjir pada elektroda akibat air sebagai produk akhir reaksi kimia. 2.4. Direct-methanol fuel cell (DMFC) DMFC menggunakan campuran metanol dan air sebagai bahan bakar dengan temperatur operasi sekitar 70o C. DMFC menggunakan katalis Platina-Ruthenium. Contoh aplikasi DMFC adalah pada alat elektronik dan mobil (mobil DMFC pertama dibuat pada tahun 2002).

Gambar 6 Reaksi kimia pada PAFC

Kelebihan PAFC antara lain stabil dan tidak bereaksi dengan CO2. Sedangkan kekurangannya adalah titik beku 42o C (dapat menyebabkan internal stress) dan adanya elektrolit asam yang hilang selama operasi sehingga harus diberi elektrolit berlebih.

2.6. Solid oxide fuel cell (SOFC) SOFC menggunakan senyawa keramik logam (seperti kalsium atau zirconium) oksida sebagai elektrolit. Efisiensi SOFC sekitar 60% dan temperatur operasi 700o 1000o C. SOFC memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pembangkit besar yang diam. SOFC dapat digunakan untuk CHP (cogeneration of heat and power), yaitu penggunaan panas buangan untuk menghasilkan uap yang kemudian digunakan untuk menghasilkan listrik.

Fuel Cell Type Molten Carbonate (MCFC)

Common Electrolyte Solution of lithium, sodium, and/ or potassium carbonates, soaked in a matrix

Operating Temperature 600-700C 1112-1292F

Typical Stack Size 300 kW-3 MW 300 kW module

Efficiency 45-50%

Solid Oxide (SOFC)

Yttria stabilized zirconia

700-1000C 1202-1832F

1 kW2 MW

60%

Dikarenakan jenis elektrolit dari fuel cell berbeda. Maka, tidak semua fuel cell dapat diaplikasikan pada bentuk aplikasi yang sama. Hal ini tergantung pada jenis eletrolit, temperatur operasi, efisiensi dan lain-lain. Berikut tabel aplikasi fuel cell beserta kelebihan dan kekurangan dari tipe fuel cell.
TABEL 2 PERBANDINGAN TEKNOLOGI FUEL CELL (SAMBNGAN)
Fuel Cell Type Polymer Electrolyte Membrane (PEM) Applications Backup power Portable power Distributed generation Transporation Specialty vehicles Military Space Advantages Solid electrolyte reduces corrosion & electrolyte management problems Low temperature Quick start-up Cathode reaction faster in alkaline electrolyte, leads to high performance Low cost components Higher temperature enables CHP Increased tolerance to fuel impurities High efficiency Fuel flexibility Can use a variety of catalysts Suitable for CHP High efficiency Fuel flexibility Can use a variety of catalysts Solid electrolyte Suitable for CHP & CHHP Hybrid/GT cycle Disadvantages Expensive catalysts Sensitive to fuel impurities Low temperature waste heat

Alkaline (AFC)

Sensitive to CO2 in fuel and air Electrolyte management Pt catalyst Long start up time Low current and power High temperature corrosion and breakdown of cell components Long start up time Low power density High temperature corrosion and breakdown of cell components High temperature operation requires long start up time and limits

Phosphoric Acid (PAFC)

Distributed generation

Gambar 7 Reaksi kimia pada SOFC

Kelebihan antara lain: Komponen padat. Efektif untuk CHP (cogeneration of heat and power). Tidak perlu logam mulia sebagai elektroda. Dapat menggunakan berbagai macam bahan bakar. Tahan terhadap kontaminasi. Sedangkan kekurangan SOFC adalah tidak cocok untuk penggunaan skala kecil. 3. PERBANDINGAN TEKNOLOGI FUEL CELL Secara umum, semua teknologi fuel cell memiliki konfigurasi dasar yang sama - elektrolit dan dua elektroda. Akan tetapi ada banya perbedaan tipe dari fuel cell. Fuel cell dapat diklasifikasikan terutama oleh jenis elektrolit yang digunakan. Lectrolyte menentukan jenis reaksi kimia yang terjadi dalam sel bahan bakar, suhu operasi, dan faktor lain yang menentukan aplikasi yang paling cocok. Berikut adalah tabel perbandingan tiap-tiap fuel cell berdasarkan jenis elektrolitnya.
TABEL 1PERBANDINGAN TEKNOLOGI FUEL CELL
Fuel Cell Type Polymer Electrolyte Membrane (PEM) Alkaline (AFC) Aqueous solution of potassium hydroxide soaked in a matrix Phosphoric Acid Phosphoric acid (PAFC) soaked in a matrix 150-200C 302-392F 400 kW 100 kW module 40% Common Electrolyte Perfluoro sulfonic acid Operating Temperature 50-100C 122-212F typically 80C 90-100C 194-212F 10100 kW Typical Stack Size < 1kW 100kW 60% transportation 35% stationary 60% Efficiency

Molten Carbonate (MCFC)

Electric utility Distributed generation

Solid Oxide (SOFC)

Auxiliary power Electric utility Distributed generation

4. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI FUEL CELL DI INDONESIA Sebelum membahas perkembangan teknologi fuel cell di Indonesia ada baiknya mengenal sejarah fuel cell di dunia. Diawali pada tahun 1838, Fuel Cell pertama dikembangkan oleh Sir William Robert Grove (1811-1896). Kemudian, Ludwig Mond (1839-1909) bersama asistennya Carl Langer melakaukan eksperimen tentang fuel cell yang menghasilkan 6 amps 0.73 volt perkakipersegi. Pada tahun 1958, Francis Thomas Bacon (1904-1992) mengembangkan alkali fuel cell yang digunakan sebagai sumber bahan bakar Apollo 13. Seiring perkembangan teknologi maka fuel cell telah diaplikasi pada kendaraan. Seperti halnya pada tahun 2007, GM melalui Project Driveway mengembangkan kendaraan sel bahan bakar pada Chevrolt Equinox selain itu Toyota, Honda, Suzuki, BMW dll, terlebih dahulun telah mengembangkan Teknologi Fuel Cell pada Kendaraan. Selain pada kendaraan aplikasi fuel terdapat pula pada peralatan lainnya misalkan pada tahun 2008, NEC mengembangkan konsep ponsel yang menggunakan bahan bakar cair. Pengembangan lainnya diterapkan pada UPS, Laptop, Sumber Listrik Portable dan lain-lain. Adapun pengembangan fuel cell di Indonesia diawali pada tahun 1986, yaitu di lingkungan Kementerian Riset dan

Teknologi telah dibuat rencana penelitian sel bahan bakar melalui program Rusnas (Riset Unggulan Strategis Nasional). Namun, karena kendala dana rencana ditangguhkan. Tahun 1999 beberapa peneliti memprakarsai berdirinya sebuah konsorsium peneliti untuk melakukan riset fuel cell secara terpadu di beberapa lembaga riset di Indonesia, awalnya, Konsorsium Fuel Cell Indonesia hanya menghimpun peneliti dari LIPI, BPPT, Batan, Lemigas, PLN, DJLPE serta periset dari perguruan tinggi (UI dan ITB) maka belakangan mulai melibatkan kalangan industri seperti Pertamina dan Medco. Pengembangan bahan-bahan elektroda pada fuel cell seperti polimer dan karbon aktif dilakukan oleh Puslit Fisika dan Metalurgi LIPI serta Batan. Namun, Puslit Fisika Terapan LIPI juga mengembangkan teknik konversi energi. Sehingga tahun 2003, LIPI telah mampu membuat lembar polimer dan merakitnya menjadi satu stack (lempeng pereaksi) untuk pembangkit listrik berkapasitas 50 watt. Tahap selanjutnya adalah pengembangan kapasitas lebih tinggi menggunakan tujuh stack. Pada 2005, Konsorsium Fuel Cell Indonesia merencanakan pembuatan prototipe pembangkit fuel cell berkapasitas 500 watt dengan kandungan lokal 30 persen. Pada 2011, LIPI merancang sel lipion untuk mesin mobil dan pembangkit listrik. 5. DESAIN STACK FUEL CELL 5.1. Spesifikasi Stack Fuel Cell Stack fuel cell di sini adalah ukuran dengan menentukan standar tegangan dan menghubungkan banyak fuel cell secara seri untuk menghasilkan tegangan yang diinginkan. Densitas Maksimum berdasarkan pada sifat membran, tetapi dapat ditingkatkan dengan memilih luas permukaan sel yang lebih besar. Untuk jumlah yang diberikan daya output, sebuah fuel cell yang berukuran besar mempunyai jumlah daya yang besar. Berarti sistem daya lebih sering beroperasi dengan fraksi yang lebih rendah dari daya maksimum sehingga memiliki tegangan dan efisiensi yang tinggi. Di sisi lain, fuel cell tersebut sangat mahal dan tidak efisien apabila stack sangat besar sehingga membuat fuel cell berat dan mahal, terutama apabila digunakan pada kendaraan yang memerlukan daya maksimun dimensi stack fuel cell yang besar sangat jarang diperlukan. Namun, biasanya standar desain stack menghasilkan daya maksimum kotor sebesar 5,9 kW (dengan daya bersih 5,6 sekitar kW) 5.2. Karakteristik Ukuran Stack Seperti yang telah disinggung sebelumnya, jenis PEM fuel cell yang terbaik untuk saat ini, dan banyak diaplikasikan pada kendaraanatau peralatan lainnya. Adapun karakteristik ukuran stack fuel cell didapat berdasarkan besar kecilnya pasukan daya yang diminta. Dengan melakukan suatu perbandingan hasil penelitian yang diterbitkan misalnya dari kendaraan berdaya fuel cell, dan model-model berdasarkan Teknologi pembuatan fuel cell akan didapat karakteristik ukuran stack fuel cell. Berikut adalah karakteristik stack PEM fuel cell berdasarkan studi untuk kendaraan. Menurut PNGV (Kemitraan untuk Generasi Kendaraan Baru kolaborasi pemerintah/industri), sekitar tahun 2000 massa dan berat fuel cell stack diperkirakan mencapai 0,35 kW/kg dan 0,35 kW/L.

Akan tetapi dengan adanya radiator dan blower, ukuran stack menjadi 0,5 kW/L dan 0.5 kW/kg pada tahun 2004. Untuk menghasilkan daya 5.9 kW sistem maka diperlukan ukuran stack sebesar 12 kg dan 12 L. Namun, perlu dicatat bahwa Ballard mengklaim teknologi stack miliknya mampu mencapai 1 kW/L pada awal tahun 1996. PNGV menetapkan pada tahun 2004, bahwa biaya bersih untuk menghasilkan tenaga listrik sebesar $50/kW dan bila ditambah dengan peralatan pendukung lainnya biayanya akan berkisar dengan $150/kW. Untuk tahun-tahun mendatang diharapkan sebuah sistem 5,6 kW, biayanya diperkirakan serendah-rendahnya sebesar $ 280 jika sistem stack ini digunakan pada skala rendah seperti sepeda motor (scooter). Hal ini tergantung pada penurunan biaya yang signifikan dari harga saat ini, yang berada pada urutan $ 1000/kW. Menurut Ogden et. al. mensurvei harga perkiraan dalam literatur ditemukan kisaran harga dari $ 33 hingga $ 100 per net kW untuk fuel cell stack dan $ 10 hingga $ 20 per kW untuk peaking daya baterai. Rentang biaya diperkiraan $ 185 - $ 560 untuk 5.6 kW fuel stack pada scooter. 5.3. Tipe Saluran Design Stack Aliran plate biasanya memiliki arus hubungan pada permukaan. Bentuk saluran mungkin berbeda pada anoda dan katoda. Arus pada arah elektroda mungkin juga berbeda dengan satu sama yang lain. Selain itu juga untuk aliran searah, aliran berlawanan arah dan juga pola aliran-aliran yang lain. Pemilihan dan optimasi yang bentuk bidang aliran dari dua kutub plate sangat mempengaruhi kinerja dari PEMFC, khususnya melalui pengolahan air dan distribusi gas ke elektroda. Di samping itu pemilihan bentuk dasar, yang merekat dari saluran dan rangka stackdan juga di daerah antara saluran harus dipertimbangkan. Besarnya saluran akan mempengaruhi rangka stack efektifitas gas difusi dan pengaturan air khususnya pada katoda. Kemampuan dari membran untuk menahan perbedaan tekanan juga tergantung pada besarnya saluran. 5.3.1. Saluran berbentuk berkelok-kelok

Gambar 8 The Serpentine Channel Geometry

Salah satu jenis saluran yang sederhana banyak digunakan di prototipe sel dimana satu-satunya bentuk saluran yang berkelok-kelok (Gambar 1). Jenis saluran ini hanya ada satu jalan untuk aliran gas di saluran plate, dan banyak air yang terkumulasi dalam saluran itu sehingga dengan cepat didorong keluar dari dalam sel. Perlu diperhatikan bahwa, ketika gas masuk melalui saluran sel dari tumpukan yang terhubung dalam konfigurasi paralel ada beberapa jalur untuk aliran gas. Penemuan optimasi untuk kinerja saluran jenis ini telah diungkapkan oleh Watkins dkk, (1991) bahwa pemilihan ukuran yang digunakan berkisar antara :

1.14 - 1.4 mm untuk saluran lebar. 0.89 - 1.4 mm untuk dasar yang lebar. 1.02 - 2.04 mm untuk saluran dalam. 5.3.2. Saluran berbentuk konfigurasi paralel lurus dan berkelok-kelok

yang berdampingan. Hal ini berpotensi untuk menghasilkan distribusi oksigen dan air yang banyak hanya dengan satu lintasan berkelok. 5.4. Konstruksi Stack Hasil terangkum di bawah ini untuk tiga ukuran fuel cell stack, masing-masing panjang 56 sel untuk menutup total tegangan 48 V dari beberapa perusahaan otomotif.
TABEL 3 UKURAN STACK, BERAT DAN RINGKASAN HARGA

Gambar 9 Saluran berbentuk konfigurasi paralel lurus dan berkelok-kelok

Saluran berbentuk konfigurasi paralel lurus atau berkelokkelok mempunyai keuntungan yang memungkinkan tekanan rendah yang hilang dalam satu saluran. Sedangkan kerugiannya adalah banyak bagian plate yang berbeda arah aliran sehingga dapat mengakibatkan distribusi air tidak efektif karena adanya kemungkinan arus distribusi yang tidak merata di dalam saluran paralel tersebut. 5.3.3. Saluran berbentuk putus-putus Hasi diatas apabila dibandingkan dengan stack Ballard 37 kW memiliki daya densitas 1.1 kW/L dan 0,8 kW/kg, maka data diatas menjadi suatum hal yang tidak dinginkan. Untuk tujuan perbandingan simplistik dari model DTI hasil fuel cell untuk mesin otomotif memberikan biaya lebih rendah dari $176, $125, dan $96 sekitar dibawah 20 % - 30 %. 6. KESIMPULAN Dalam pengembangannya, fuel secara umum memiliki kelebihan dibanding jenis sumber energi lain. Dalam desainnya fuel relatif sederhana. Tidak seperti baterai, fuel cell pun tidak memerlukan recharge. Kelebihan lain dari fuel cell adalah efisiensi yang tinggi, emisi yang rendah, dan tidak bising. Namun, meskipun memiliki banyak kelebihan, pengembangan fuel cell pun memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain biaya investasi yang mahal (USD3000 - 7500/kW) dengan harga listrik sekitar USD2/kWh, infrastruktur yang masih kurang, dan teknologinya yang belum terlalu familiar. Sedangkan untuk industri otomotif memberikan biaya yang rendah sekitar 42103 $/kW. REFERENCES
[1] Fuel Cell Handbook, U.S. Department of Energy, Office of Fossil Energy, National Energy Technology Laboratory, November 2004 [2] Fuel Cell Technologies Program, EERE Information Center, February 2011 [3] Hydrogen Fuel Cells, DOE Hydrogen Program. [4] The Hydrogen Fuel Cell Power System, EG & G Technical Services Inc., West Virginia, 2004

Gambar 10 Saluran berbentuk putus-putus

Saluran terputus-putus telah diusulkan sebagai solusi yang baik untuk peningkatan difusi gas di lapisan difusi Wilson, (1997). Dari jenis ini, saluran yang terputus-putus akan mendorong gas ke dalam lapisan difusi dan memfasilitasi pemindahan air. Transportasi gas di dalam lapisan difusi harus dipaksa karena tidak bias melakukan konveksi bebas. 5.3.4. Saluran berbentuk spiral

Gambar 11 Saluran berbentuk spiral

Saluran bentuk spiral (gambar 5) merupakan alternatif menarik yang diusulkan oleh Kaskimies, (2000). Ia menggabungkan secara efektif untuk mengeluarkan air dari satu bentuk saluran yang mempunyai keuntungan yaitu saluran tersebut berisi air bersih dan kotor dalam gas katode