Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN BLOK COMMUNITY HEALTH AND ENVIRONMENTAL MEDICINE-1

Pembimbing: drg. Fanni Kusuma Djati Disusun Oleh: Oktalia Ika Puspita Arif Rachman Pradiptana Unggul Tsar Nabilakanesar Nurina Habsah Gelar S. Ramdhani Vetria Merdiyana Advaitha Visnu Manitis Oshada Dewi Herdifa Fadhlia Nur Aini (G1G009003) (G1G009005) (G1G009008) (G1G009011) (G1G009014) (G1G009020) (G1G009035) (G1G009037) (G1G009040) (G1G009056)

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

2010 KATA PENGANTAR Terima kasih atas kehadirat Allah S.W.T. yang telah memberikan hidayah, inayah, dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan mengenai praktik lapangan yang telah diadakan di Pasar Wage Purwokerto. Laporan ini akan menjelaskan mengenai higiene dan sanitasi lingkungan Pasar Wage; ciri-ciri bahan makanan kadaluarsa, mengandung formalin, pewarna berbahaya, melamin, pemutih, daging gelonggongan, tiren dan sebagainya yang terdapat dan dijual di Pasar Wage; cara pembuangan sampah di Pasar Wage; dan agen agen berbahaya yang membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, penulis berharap dengan laporan ini, pembaca dapat mengetahui higiene dan sanitasi lingkungan pasar; mengetahui ciri-ciri bahan makanan kadaluarsa, mengandung formalin, pewarna berbahaya, melamin, pemutih, daging gelonggongan, tiren dan sebagainya yang terdapat dan dijual di pasar; mengetahui cara pembuangan sampah pasar; mengetahui agen agen berbahaya yang membahayakan kesehatan manusia; dan dapat menambah dan mengembangkan pengetahuan/wawasan pembaca. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Tetapi penulis menyadari, bahwa laporan ini masih memerlukan kritik dan saran yang membangun untuk penulisan laporan berikutnya. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamin. Ya Robal Alamin.

Purwokerto, Februari 2010

Penulis

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Gambaran Umum Pasar Wage 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1.5 Hambatan Pelaksanaan 1.6 Metodologi BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pasar 2.2 Pengelompokkan Pasar 2.2.1 Menurut Segi Fisiknya 2.2.1 Berdasarkan Jenis Barang yang Dijual 2.3 Persyaratan Pasar yang Baik 2.4. Hasil Observasi 2.4.1 MCK yang Bergabung Dengan Mushola 2.4.2 Penjualan Makanan yang Kadaluarsa dan Berjamur 2.4.3 Penjualan Ikan Busuk yang Ada Luka dan Sudah Berjamur 2.4.4 Air Keruh 2.4.5 Warung Minuman yang Dekat Dengan Tempat Penampungan Sampah 2.4.6 Buang Air Kecil Di Sudut Tangga 2.4.7 Perebusan Bakso Di Dekat Tumpukan Sampah 2.4.9 Sampah 2.4.10 Daging 18 18 19 22 24 7 8 8 11 14 16 6 6 6 6 1 2 3 4 4 4 iv v i ii

2.4.8 Penjualan Tembakau yang Mengganggu Sistem Pernapasan 21

2.4.11 Karat Dalam Alat Makanan 2.4.12 Polusi BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

25 27 30 32

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Situasi Di Luar Pasar Gambar 2 Toilet Bergabung Dengan Mushola Gambar 3 Air yang Keruh Pada WC Gambar 4 Jamur Kembang Kol Gambar 5 Apel Busuk Gambar 6 Jamur Pada Ikan Patin Gambar 7 Penggunaan Air Keruh Untuk Mencuci Gambar 8 Minuman yang Tidak Higienis Gambar 9 Peringatan Dilarang Buang Air Kecil Gambar 10 Perebusan Bakso Dekat Tempat Sampah Gambar 11 Perebusan Bakso Di Lantai Gambar 12 Tembakau Kering Gambar 13 Penumpukkan Sampah Pada Atap Kios Gambar 14 Genangan Air Pada Sampah Gambar 15 Daging yang Terdapat Lalat Gambar 16 Lalat Pada Hati Ayam Gambar 17 Alat Penggiling Cabai Berkarat Gambar 18 Polusi Kendaraan Bermotor 9 12 13 14 16 18 19 21 21 22 22 22 24 24 25 27 3 9

DAFTAR TABEL Tabel 1 Fasilitas Pasar 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada blok CHEM (Community Health and Environmental Medicine) I mahasiswa diberi pembekalan berupa materi tentang kesehatan masyarakat dan lingkungan. Dalam blok CHEM I, selain mahasiswa mengikuti kegiatan kuliah dan melakukan diskusi, mahasiswa juga melakukan praktek lapangan untuk melatih keterampilan mahasiswa. Praktek lapangan dalam blok CHEM I bertujuan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi sumber-sumber agen lingkungan yang terdapat pada lingkungan sekitar yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Lingkungan merupakan tempat untuk kehidupan berbagai macam organisme yang terdapat di alam ini. Dari lingkunganlah organisme organisme tersebut mendapat suply makanan untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kehidupannya. Dan berawal dari lingkungan pula akibat ketidakseimbangannya dapat menyebabkan kematian terhadap organisme organisme yang hidup di dalamnya. Meskipun tujuan utamanya adalah mengidentifikasi agen-agen lingkungan, mahasiswa diharapkan dapat pula mengidentifikasi dan menjelaskan secara ringkas dan sederhana tentang media transmisi agen lingkungan, rute pemajanan atau pintu masuk (port de entry) agen lingkungan tersebut ke dalam tubuh manusia serta akibat-akibat yang ditimbulkan oleh agen lingkungan tersebut dalam tubuh manusia. Dalam kenyataannya masih banyak penyakit yang disebabkan oleh tercemarnya lingkungan akibat ulah manusia itu sendiri sehingga menimbulkan kerugian yang imbas dampaknya kembali ke masyarakat yang bersangkutan. Hal ini terjadi akibat minimnya kepedulian masyarakat terhadap keadaan lingkungan sekitarnya dan berbagai oknum-oknum tak bertanggung jawab yang tambah memperburuk keadaan dengan alasan himpitan ekonomi. Seperti yang kita ketahui, bahwa maraknya kejadian mencampur bahan makanan dengan

bahan-bahan kimia berbahaya yang terjadi di berbagai pasar, menjadi salah satu objek pengamatan dari kunjungan penulis ke Pasar Wage. 1.2 Gambaran Umum Pasar Wage Praktek Lapangan hari kedua pada tanggal 13 Januari 2010 berlangsung di Pasar Wage, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas memiliki 21 pasar yang tersebar di seluruh daerahnya dan terbagi menjadi 4 Unit Pasar Terpadu (UPT). Pasar Wage adalah pasar terbesar yang terdapat di Kabupaten Banyumas. Pasar Wage ini terletak di Jalan Brigjen Katamso Nomor 1, Kelurahan Purwokerto Wetan, Kecamatan Purwokerto Timur. Pasar Wage memiliki luas 10.305,44 meter persegi sehingga tidak heran bila Pasar Wage adalah tempat pertukaran barang dan jasa yang terbesar di Banyumas. Pasar Wage dilengkapi dengan 14 buah blok yang tersebar di lantai atas dan lantai bawah. Lantai bawah terdiri dari blok A, B, C, los daging, dan los ikan tawar. Lantai atas terdapat blok campuran yang terdiri dari kios sembako, sayur-mayur, dan pakaian. Pasar Wage juga dilengkapi dengan 6 buah WC/lavatori, 2 pos keamanan, 1 pos kesehatan, dan 2 kantor. Sedangkan sarana prasarana kebersihan dan keamanan dilengkapi dengan 95 buah tabung pemadam, 6 buah tabung hidrant, 1 buah Tempat Pembuangan Sementara (TPS), 15 buah gerobag sampah, 1 unit truk sampah, dan 2 buah senter. Berikut ini adalah rincian fasilitas pasar :

NO 1 2 3 4 5 6

FASILITAS Los Kios / toko WC / Lavatori Kantor Pos kesehatan Pos keamanan

UNIT 2.330 267 6 2 1 2

LUAS (m2) 5.683 3.887 28 47 12 24

KONSTRUKSI Dinding papan / tong Tembok/beton permanen Tembok beton Tembok beton Tembok beton Tembok beton

Tabel 1. Fasilitas pasar

Banyak hal yang dapat diamati di lingkungan sekitar pasar. Diantaranya adalah banyak ruko yang tidak digunakan dan dibiarkan berdebu dan kotor, banyak ditemukan sampah-sampah yang menumpuk di sudut-sudut tangga pasar, banyak kendaraan yang lalu lalang di lorong pasar, penjual dan pembeli yang merokok, dan hiegenitas pada barang dagangan terutama makanan, ikan, daging, dan lain sebagainya yang kurang diperhatikan. Selain itu juga, TPS yang ada, keadaannya tidak tertutup sehingga banyak sampah yang berserakan di sekitar TPS dan letaknya berdekatan dengan kios-kios pedagang yang menjual makanan, ayam potong, dan bahkan warung makan yang berada di dalam pasar.

Gambar 1. Situasi di luar pasar

1.3 Tujuan a. Tujuan Umum Mahasiswa diharapkan mengetahui hubungan antara agen, penjamu, dan lingkungan melalui sumber-sumbernya, transmisi, rute pemajanan serta akibat dan dampak dari kontaminasi atau penularan dari agen tersebut. b. Tujuan Khusus Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan mengidentifikasi macammacam agen yang terdapat di Pasar Wage serta pengaruhnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan sekitar.

1.4 Manfaat a. Manfaat Teoritis Mahasiswa mengetahui hubungan antara agen, penjamu, dan lingkungan melalui sumber-sumbernya, transmisi, rute pemajanan serta akibat dan dampak dari kontaminasi atau penularan dari agen tersebut. b. Manfaat Praktis Mahasiswa mengidentifikasi macam-macam agen yang terdapat di Pasar Wage serta pengaruhnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan sekitar. Selanjutnya mahasiswa memberikan solusi terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan akibat dan dampak tersebut.

1.5 Hambatan Pelaksanaan Hambatan yang penulis temui selama melaksanakan praktek lapangan di Pasar Wage diantaranya adalah sebagai berikut. 1. penjual. 2. Banyak pedagang yang tidak bersedia untuk diwawancarai Praktek lapangan yang dilakanakan di Pasar Wage berlangsung

mulai pukul 08.00 yaitu pada waktu dimana pasar ramai oleh pembeli dan

ataupun barang dagangannya di foto sebagai dokumentasi. 3. Kesibukan yang terjadi di pasar membuat penulis sedikit

kesulitan untuk melakukan observasi karena hal tersebut dimungkinkan akan mengganggu kegiatan dari penjual maupun pembeli.

1.6 Metodologi a. Studi Pustaka Metode yang dilakukan dengan mencari sumber belajar dari referensi buku, jurnal, atau karya ilmiah.

10

b. Browsing Internet Metode yang dilakukan dengan mencari sumber belajar dari situs-situs internet yang terpercaya. c. Wawancara Metode yang dilakukan dengan mencari sumber belajar dari hasil tanya jawab dengan narasumber secara langsung.

11

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Pasar Menurut kajian Ilmu Ekonomi memiliki pengertian, pasar adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan. Jadi setiap proses yang mempertemukan antara pembeli dan penjual, maka akan membentuk harga yang disepakati antara pembeli dan penjual. 2.2 Pengelompokkan Pasar 2.2.1 Menurut segi fisiknya Pasar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di antaranya: a. Pasar tradisional b. Pasar raya c. Pasar abstrak d. Pasar konkrit e. Toko swalayan f. Toko serba ada 2.2.1 Berdasarkan jenis barang yang dijual Pasar dibedakan menjadi beberapa macam di antaranya: a. Pasar ikan b. Pasar sayuran c. Pasar buah-buahan d. Pasar barang elektronik e. Pasar barang perhiasan f. Pasar bahan bangunan g. Bursa efek dan saham

12

2.3 Persyaratan Pasar yang Baik Ada beberapa syarat-syarat sanitasi pasar yang baik, yaitu sebagai berikut : a. Pembagian Tata Ruang Untuk menjamin sanitasi pasar, faktor yang penting adalah pembagian tata ruang yang sesuai dengan peruntukkannya. Hal ini sangat perlu, sebab tempat berjualan ikan atau daging tidak boleh berdekatan dengan rumah makan ataupun kios pakaian. Yang paling menonjol dalam hal pembagian tata ruang pasar adalah faktor estetika. b. Klasifikasi Barang Dagangan Agar memudahkan pengumpulan sampah di pasar, maka klasifikasi barang dagangan sangat penting. Dagangan yang banyak mengeluarkan sampah (buah-buahan) sebaiknya diklasifikan dagangan yang mengeluarkan sampah, seperti halnya dengan kelapa dan sayuran. Meletakkan warung yang memakai kompor atau api berjauhan dengan dagangan-dagangan yang mudah terbakar (flameable substance), misalnya kain dan barang kelontong. Dengan alasan-alasan tersebut di atas, maka pembagian tata ruang dan klasifikasi barang dagangan sangat perlu. c. Tempat Sampah Sementara Hal ini diperlukan agar pedagang bisa membuang sampah dengan cukup mudah tanpa meninggalkan terlalu jauh barang dagangannya. Jadi tidak ada alasan para pedagang membuang sampah di sembarang tempat karena tidak ada tempat sampah sementara. Tempat sampah sementara tersebut sangat vital, karena berfungsi untuk menampung sampah sebelum dibuang atau diproses di tempat pembuangan akhir. d. Saluran Untuk Limbah Cair Saluran di pasar sangat penting untuk estetika, kebersihan, dan kenyamanan. Saluran berfungsi untuk pembuangan benda cair yang terutama berasal dari kios daging, ikan, dan warung. Saluran di dalam pasar harus dikontrol agar para pedagang tidak membuang sampah seenaknya saja di got/saluran air. Dengan demikian para pedagang akan menggunakan semua fasilitas seperti sebagaimana mestinya. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan

13

pendidikan kesehatan kepada para pedagang. Pentingnya pendidikan kesehatan tersebut antara lain : 1. Pedagang menggunakan fasilitas kesehatan di pasar seperti sebagaimana seharusnya. 2. Pedagang mengerti akibat dari tidak dilakukannya aturan-aturan tentang kebersihan/kesehatan. 3. Pedagang mengerti bahwa beberapa penyakit dapat disebabkan oleh vektor (tikus, kecoa, lalat, nyamuk). 4. Para pedagang agar menyadari bahwa membuang sampah (khususnya puntung rokok) yang apinya masih hidup sangat berbahaya. e. Fasilitas Umum MCK (mandi, cuci, kakus) Di dalam lingkungan pasar seharusnya ada fasilitas umum seperti tersebut di atas. Kebersihan fasilitas umum tersebut sangat penting, sebab berkaitan dengan sumber vektor. f. Tempat Parkir Kendaraan Bermotor Hal ini kelihatannya tidak ada hubungannya dengan sanitasi dan kesehatan. Tetapi tempat parkir tersebut, selain berhubungan dengan kesehatan juga berhubungan dengan keselamatan. Tempat parkir berhubungan dengan kesehatan karena asap mobil yang keluar dari knalpot. Apabila tempat parkir terlalu dekat dengan pedagang, maka akan terpapar terus dengan asap yang mengandung bahan-bahana kimia berbahaya misalnya CO, HC, Pb. Bahan kimia tersebut akan bisa terakumulasi di tubuh manusia dan akan bisa menyebabkan gangguan fungsi dari tubuh manusia. 2.4. Hasil Observasi Berikut ini ada beberapa pengamatan penulis tentang pengabaian persyaratan diatas, yaitu : 2.4.1 MCK yang bergabung dengan Mushola Menurut persyaratan sanitasi pasar, MCK haruslah bersih dan terawat dan tidak boleh menjadi satu dengan ruangan lain. Tetapi di Pasar Wage ini, MCK menjadi satu dengan Mushola. Di sana terdapat beberapa

14

alat sholat yang dijemur sembarangan sehingga bila diamati akan menjadi tempat bersarangnya nyamuk dan dikhawatirkan dapat menyebabkan terjadinya penyakit Demam Berdarah akibat penyebaran agen yang pesat karena kondisi yang mendukung.

Gambar 2. Toilet bergabung dengan mushola

Gambar 3. Air yang keruh pada WC a. Jenis Aktivitas Fasilitas MCK di Pasar Wage letaknya menjadi satu dengan mushola, dan pada tahun 2007 di muka salah satu MCK dari keenam WC yang ada terdapat warung makanan. Hal ini yang menjadikan individu yang berada di lingkungan tersebut dapat terpapar dengan aktivitas agen berbahaya. b. Agen Berbahaya

15

1. Agen biologi dari jenis mikroorganisme dalam kandungan feses manusia dapat menjadi agen yang paling berbahaya terhadap lingkungan sekitar. Misalnya bakteri E. coli dan bakteri tifoid yang terdapat pada feses. Sedangkan bakteri yang terdapat pada urine antara lain Klebsiella atau Enterobacter, Proteus, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis, Enterococci, Candida albicans dan Staphylococcus aureus (Ruller,1990). MCK yang kotor juga mengundang beranekaragam virus yang terdapat dalam tinja manusia, Enterovirus diketahui menyebar melalui rute fecal-oral sebagai contoh virus polio (dapat menyebabkan gangguan pencernaan, demam dan kelumpuhan). Bau yang sangat tidak sedap di kawasan ini juga menjadi salah satu parameter pencemaran yang terdapat dalam kawasan MCK ini. 2. Agen fisik yang terdapat disini adalah kondisi kelembaban ruangan yang mendukung timbulnya berbagai jenis jamur yang terdapat dalam WC seperti jamur Candida albicans, dari urine yang dapat menyebabkan penyakit Candidias (keputihan) pada saluran kelamin manusia. 3. Agen kimia berbahaya juga dapat tumbuh dalam lingkungan ini. Limbah organik jelas bisa menimbulkan gas metana CH4, karena limbah ini biasanya belum terurai secara biokimia dengan sempurna (misalnya kotoran manusia di WC, kotoran hewan dikandang yang tertutup, tumpukan sampah yang sangat banyak/tinggi). 4. Agen mekanik dalam hal ukuran serta model kakus juga turut mempengaruhi terhadap terjadinya pemaparan agen patogen terhadap manusia. Luas tempat kakus yang hanya berukuran sekitar 2x2 m tanpa adanya ventilasi dan penggunaan air yang sangat keruh untuk membilas jelas menyebabkan berbagai ancaman penyakit didalamnya dan fasilitas penyediaan air bilas yang sangat keruh tanpa disertai adanya sabun. c. Transmisi agen

16

Tansmisi masuknya agen melalui udara, air, arthropoda dengan lalat dan nyamuk sebagai vektor. d. Rute Pemajanan Mekanisme masuknya agen lewat transmisi udara dari bakteri Enterovirus yang selanjutnya dihirup manusia (inhalasi). Fecal-oral melalui sisa feses dalam kloset menyebabkan timbulnya bakteri penyebab diare atau bisa juga melalui kandungan air yang tercemar bakteri tersebut yang digunakan untuk minum ataupun mencuci peralatan makan ( ingesti). Kontak kulit dengan percikkan air dalam kloset, yang dapat menyebabkan penyakit hepatitis B. Lalat sebagai vektor yang berada dalam kloset dapat menyebabkan penyakit tifus pada manusia. 2.4.2 Penjualan makanan yang kadaluarsa dan berjamur Di pasar ini penulis juga menemukan roti yang berjamur dan kembang kol yang berjamur. Hal ini sangat membahayakan konsumen yang membeli bahan makanan dan makanan instan tersebut. Penulis juga menemukan sejumlah kembang kol yang sudah berjamur di salah satu kios sayuran. a. Jenis Aktivitas Perdagangan untuk konsumsi dari makanan dan sayuran serta buah buahan busuk masih terdapat di Pasar Wage. Pada dasarnya sayur yang ditumbuhi jamur merupakan parameter bahwa kondisi sayur tesebut tidak baik dan telah busuk. Namun, hal seperti ini masih saja dijual belikan oleh pedagang seperti misalnya brokoli yang busuk. Di sisi lain buah yang telah mengalami kebusukan juga masih diperjualbelikan dengan tanda berwarna kecokelatan dan daging buahnya sudah sangat lembek. Makanan seperti itu, dapat mengganggu kesehatan dengan masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh. Dalam perdagangan bahan makanan yang dijual di dalam pasar, penulis melihat penjualan roti roti kadaluarsa tanpa label masa expired. Hal ini menjadikan sebuah pemikiran bahwa penjualan roti kadaluarsa yang

17

sudah ditumbuhi jamur masih bebas diperjualbelikan untuk kepentingan konsumsi umum. b. Agen Berbahaya Menurut Prof. Roostita L. Balia, agen biologi yang menyebabkan rusaknya (busuknya) sayur dan buah dapat disebabkan oleh berbagai sebab, diantaranya adalah dilihat dari kerusakan dan penyebabnya. Kapang yang biasanya tumbuh dalam roti kadaluarsa adalah Aspergillus dan Penicilium. Spesies yang umumnya dijumpai adalah A. niger, A. galucus dan A. flavus (Hutkins,2006). Sedangkan kapang penicilium yang umumnya dijumpai dalam roti kadaluarsa adalah Paecilomyces variotii, Eurotium Amstelodami, Moniliella suaveolans, Neuruspora stophila, Cladosphorium sp, Rhizopus nugricans, dan Mucor sp ( ICMFS,2005 ; Hutkins,2006 ; Cauvani and Young,2007). Selain kapang, khamir juga tumbuh dalam roti yang kadaluarsa Endomyces fibuliger, Zygosaccharomyces bailli, Hypophicia butoni, Saccharomyces serevisiae (ICMFS,2005) 1. Organisme pada kembang kol yang menyebabkan Busuk Hitam (Black Rot) Jenis bakteri : Alternaria, Ceratostomella, Physalospora Menyebabkan keracunan saluran pencernaan.

Gambar 4. Jamur kembang kol 2. Pada apel yang busuk terdapat mikotoksin Patulin yang berasal dari kapang penghasil A. clavatus, P.Patulum, P. expansum. Menyebabkan kecokelatan pada kulit apel, hingga bonyok berair.

18

Pada manusia mengakibatkan kerusakan dan kanker hati.

Gambar 5. Apel busuk a) Agen fisik kelembaban yang tinggi menyebabkan pertumbuhan jamur, kapang, semakin cepat begitu pula dengan mikroorganisme di dalamnya. Kelembaban dan suhu yang tinggi menyebabkan pertumbuhan jamur pada roti lebih cepat dari kelembaban normal. Kondisi lembab di kawasan pasar memungkinkan pertumbuhan bakteri tersebut lebih besar lagi. b) Agen kimia pada penyemprotan pestisida pada sayur dan buah, kandungan zat toksiknya masih menempel dan membahayakan manusia. Pada buah dan sayur yang busuk tidak terdapat ulat, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam sayur dan buah terdapat pestisida. Karena pestisida tidak menimbulkan ulat, karena bersifat sebagai toksik hama namun berakibat karsinogen bagi manusia. c. Transmisi Agen Transmisi masuknya mikroorganisme patogen kedalam tubuh manusia disebabkan oleh makanan dan lalat pada sayur dan buah yang busuk serta kontak langsung dari kulit manusia ke buah. d. Rute Pemajanan Bakteri penyebab busuknya sayur dan buah tadi dapat masuk melalui saluran percernaan tubuh manusia setelah memakan berbagai makanan yang tercemar oleh bakteri tersebut (ingesti). Memang tidak semua bakteri itu bersifat patogen, namun beberapa lainnya dapat

19

mengganggu

kesehatan

individu yang mengonsumsinya seperti

Pseudomonas, Clostridium, Bacillus sp. Pada sayur dan buah berpestisida juga dapat mencemari manusia melalui kontak langsung pada tangan penjual maupun pembeli, karena tidak menggunakan sarung tangan. Apabila orang tersebut tidak mencuci tangannya lagi, menyebabkan karsinogen. 2.4.3 Penjualan ikan busuk yang ada luka dan sudah berjamur Selanjutnya kunjungan penulis adalah los ikan Pasar Wage, disini penulis menemukan kejanggalan, yaitu ada seorang penjual ikan yang menjual ikan patin (Pangasius sp)yang terdapat luka di permukaan tubuhnya dan sepertinya ikan itu sudah mati dan membusuk. a. Jenis Aktivitas Penjualan ikan yang tidak segar sampai busuk masih terdapat dalam pasar ini. Dan anehnya, penjualan ikan laut yang masih segar dan telah busuk dijadikan satu dalam wadah yang besar untuk kemudian di jual belikan. Pembeli yang tidak berhati hati dalam memilih dapat salah mengambil ikan yang telah busuk. maka akan terpapar pestisida yang

Gambar 6. Jamur pada ikan patin Namun pada dasarnya, ikan yang sudah busuk dan masih segar dapat dibedakan dengan melihat tanda-tanda kerusakan yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pada ikan yang belum diolah yaitu : (sumber data ITB,2005)

20

1. Pembentukan lendir pada permukaan ikan. 2. Bau busuk karena terbentuknya amonia, H2S dan senyawa-senyawa berbau busuk lainnya. Perubahan bau busuk (anyir) ini lebih cepat terjadi pada ikan laut dibandingkan dengan ikan air tawar. 3. Perubahan warna, yaitu warna kulit dan daging ikan menjadi kusam atau pucat. 4. Peruhahan tekstur, yaitu daging ikan akan berkurang kekenyalannya. 5. Ketengikan karena terjadi pemecahan dan oksidasi lemak ikan. b. Agen Berbahaya 1. Agen Biologis sangat banyak terdapat dalam ikan yang sudah busuk, seperti bakteri patogen (penyebab penyakit), seperti Salmonella, Vibrio, dan Clostridium. Vibrio parahaemolyticus adalah kontaminan yang umum terdapat pada ikan dan makanan laut lainnya. Agen biologis lain seperti pertumbuhan jamur pada ikan laut yang dijajakan di pasar pasar biasanya telah terkontaminasi oleh jamur Scopulariopsis yang berhabitat di tanah. Jamur ini mengkontaminasi bersama debu dan kertas bekas pembungkus belanjaan. Tidak hanya itu masih terdapat jamur jamur yang berada pada ikan yakni A. niger, Khamir, A. ochraceus, Rhizopus sp, dan Moniliella sp, Penicillium, Scopulariopsis (sumber data ITB,2005). 2. Agen nutrisi terdapat pada pengkonsumsian ikan laut dengan kadar protein histamine tinggi. Pada dasarnya ikan air laut memiliki kandungan histamin lebih besar dari ikan air tawar khusunya ikan tongkol dan ikan kembung. Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Ikan dengan jumlah histamin diatas nilai ambang batas > 100 ppm akan menyebabkan penyakit pada manusia. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak

21

hiegenis. Penyakit ini mengakibatkan efek keracunan makanan pada manusia seperti mual, pusing, dan muntah. c. Transmisi agen Transmisi agen yang menjadi jalan masuk patogen ke dalam tubuh melalui makanan, serta dapat pula melalui tanah dengan mengontaminasi bersama debu terhadap ikan. Vektor lalat juga berperan dalam transmisi agen. d. Rute Pemajanan Ikan yang sudah busuk mengandung berbagai mikroorganisme berbahaya yang sangat membahayakan kesehatan individu apabila mengkonsumsinya. Jamur dan berbagai jenis bakteri patogen akan masuk kedalam tubuh melalui saluran pencernaan (ingesti). Vektor lalat yang mengerumuni juga dapat menyebabkan penyakit lain pada manusia. 2.4.4 Air Keruh

Gambar 7. Penggunaan air keruh untuk mencuci a. Jenis Aktivitas Air keruh yang terdapat dalam lingkungan pasar berasal dari sumur bawah tanah yang dialirkan melalui ledeng ke para pedagang makanan khususnya untuk mencuci peralatan mereka. Penggunaan air mengalir yang ditampung dalam sebuah baskom besar untuk mencuci serta merebus air yang selanjutnya digunakan untuk memasak walau setelah dilihat lebih jauh air yang ditampung berada pada kondisi yang keruh dan berwarna kecokelatan.

22

b. Agen Berbahaya Agen Biologis yang menyebabkan gangguan kesehatan terhadap manusia yaitu bakteri Chlamydia trachomatis di tempat-tempat yang kualitas sanitasinya buruk dan kualitas air yang tidak adekuat. Tidak hanya itu, terdapat pula virus dalam air (Salmonella sp. dan virus Dengue), jamur (Candida albicans), dan plasmodium berada dalam air yang tidak terjaga kondisi higienisnya. Di lain pihak terdapat pula Leptospira dan juga Shigella yang dapat menyebarkan penyakit melalui air apabila mereka masuk ke sumber pembuangan, kemudian mencemari air konsumsi manusia. Sejumlah bakteri lain yang dapat hidup dalam air dan yang dapat menyebabkan penyakit perut dan diare serius adalah Dyspepsi coli dan sejumlah jenis Pseudomonas, mereka ini khususnya berbahaya bagi bayi dan anak-anak. c. Transmisi agen Transmisi dalam pencemaran air keruh tentunya mengenai lingkungan airnya, namun udara juga dapat menyebabkan jalan masuk bagi agen pencemar. Dan arthropoda, seperti lalat dan nyamuk yang membawa agen penyakit dari air sampai ke manusia. Peralatan makan dan minum juga menjadi transmisi sementara mikroorganisme patogen sebelum masuk ke pencernaan manusia. d. Rute pemajanan Agen berbahaya dan mikroorganisme berbahaya yang terdapat dalam air dapat masuk melalui pencernaan manusia ketika kita meminumnya (ingesti). Kontak langsung pada air yang tercemar yang mengandung telur cacing pada saat mencuci sehingga telur cacing berada dalam kuku manusia dan menyebabkan penyakit cacingan pada manusia (kontak kulit).

Warung minuman yang dekat dengan tempat penampungan sampah

23

Menurut persyaratan sanitasi pasar semestinya para pedagang yang berjualan tidak berjualan di tempat yang membahayakan konsumen. Disini penulis menemukan ada satu kios minuman yang berjualan dekat tempat penampungan akhir sampah pasar. Mungkin pedagang dan pembeli ini tidak menyadari bahwa banyak penyakit yang mengancam bila meminum minuman yang tidak higienis tersebut. Salah satunya yang sering terjadi adalah penyakit diare yang bisebabkan oleh Rotavirus dengan lalat sebagai vektornya.

Gambar 8. Minuman yang tidak higienis Buang air kecil di sudut tangga Satu hal ini merupakan pencemaran fisik dengan udara sebagai transmisi agennya adalah udara, bahan pencemarnya adalah aroma yang tidak sedap. Ada satu alasan mengapa oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal ini, yaitu karena letak WC yang berjauhan. Selain itu, hal ini juga berbahaya pada bahan makanan yang dijual di dekat tangga tersebut karena lalat yang hinggap di kotoran itu bisa hinggap juga di bahan makanan maupun minuman. Salah satu yang menjadi bukti bahwa ada oknum tertentu yang buang air kecil sembarangan adalah gambar di bawah ini, bahwa ada tulisan berbunyi aja pada nguyuh nang kene ya.

24

Gambar 9. Peringatan dilarang buang air kecil Perebusan bakso di dekat tumpukan sampah Pada los daging di Pasar Wage ini juga menjual bakso siap beli, para penjual biasanya membuat baksonya secara manual di los itu juga. Tapi, ada salah satu yang kurang sedap dipandang, yaitu para penjual merebus baksonya memakai kompor gas lantai dan posisinya begitu dekat dengan tempat sampah. Berbagai agen pencemar bisa masuk ke dalamnya salah satunya adalah debu sandal dari para pengunjung, mikroba sampah, dan berbagai agen pencemar lainnya. a. Jenis aktivitas Proses perebusan bakso dalam pasar ini dilakukan di tempat penjualan daging dengan kondisi berlalat, dan di sekitarnya terdapat tumpukkan sampah sampah. Tidak hanya itu yang menjadikan proses perebusan bakso ini penuh dengan agen penyakit, namun juga karena peletakkan panci kompor dan peralatan lainnya di lantai. Perlu diketahui, bahwa pada lantai tempat penjualan daging terdapat banyak sekali ceceran ceceran darah segar yang menetes dan mengakibatkan genangan pada lantai dengan ceruk sebelum darah tersebut mengering, dalam prosesnya panci untuk merebus juga tidak menggunakan tutup dan bakso yang telah matang diletakkan disampingnya dengan wadah terbuka pula. Sehingga dapat dibayangkan bahwa betapa tidak higienisnya proses dan lingkungan pembuatan bakso ini.

25

b. Agen Berbahaya Agen biologi berbahaya yang terdapat dalam aktivitas ini adalah mikroorganisme yang terdapat dalam sampah. Bakteri patogen yang berada dalam sampah bisa dengan mudahnya mencemari bakso walau sampah yang ditumpuk merupakan sampah kering dengan bau yang sangat tidak sedap. Mengenai ceceran darah hewan yang terdapat diceruk ceruk lantai, kemungkinan patogen didalamnya dapat menginfeksi dimana makanan berfungsi sebagai medium kultur untuk pertumbuhan patogen hingga mencapai jumah yang memadai untuk menimbulkan infeksi bagi pengkonsumsi makanan tersebut. Infeksi ini disebabkan oleh Salmonela sp, Listeria, Vibrio parahaemolyticus, dan Escherichia coli, enteropatogenik. c. Transmisi agen Dalam menyebarkan patogen, transmisi lingkungan dapat melalui udara dan makanan d. Rute Pemajanan Masuknya patogen kedalam tubuh dapat melalui dua cara yakni melaui pencernaan dengan menempelnya mikroorganisme patogen kedalam makanan (ingesti) dan patogen dalam darah serta sampah dapat pula masuk menuju tubuh melalui hirupan udara yang mengandung mikroorganisme (inhalasi).

26

Gambar 10. Perebusan bakso dekat tempat sampah

Gambar 11. Perebusan bakso di lantai 2.4.8 Penjualan Tembakau yang Mengganggu Sistem Pernapasan Penjualan tembakau dapat mengganggu sistem pernapasan manusia, karena didalam tembakau terkandung bahan-bahan berbahaya seperti tar, nikotin, dan karbon monoksida, serta bau. Bahan berbahaya tersebut diinhalasi oleh manusia melalui transmisi udara. Bahan berbahaya tersebut termasuk ke dalam agen kimia.

27

Gambar 12. Tembakau kering 2.4.9 Sampah

Gambar 13. Penumpukkan sampah pada atap kios a. Jenis Aktivitas

Gambar 14. Genangan air pada sampah

Penumpukan sampah di sudut sudut pasar dan di tempat yang terbuka sehingga penumpukkan menimbulkan genangan air yang mengalir memasuki kawasan pedagang yang menjajakan dagangannya. Tidak hanya itu, penumpukkan sampah pun terjadi pada atap kios lantas satu yang berasal dari pembuangan sampah pedagang - pedagang dari lantai dua. Meskipun biasanya sampah sampah yang ditumpuk merupakan sampah organik. Di muka salah satu tempat penumpukkan sampah yang paling besar terdapat tempat penjualan minuman.

28

b. Agen Berbahaya 1. Agen biologis menjadi sumber pencemar yang terbesar dari aktivitas ini. Dalam kegiatan penumpukan sampah menimbulkan lalat lalat yang berterbangan, apalagi penumpukan sampah biasanya dilakukan dekat dengan kawasan perdagangan. Hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan. Tidak hanya lalat, namun dalam sampah terdapat ratusan mikroorganisme lain penyebab penyakit. Khususnya mikroba dalam genangan air sampah seperti virus dalam air (Salmonella sp. dan virus Dengue) dan plasmodium. Pada sampah organik terdapat mikroba jenis bakteri Selulotik, bakteri Proteolitik, jamur Rhizobium dan Candida albicans, Azospirilum, Mikoriza, Actinomycetes dan larva cacing Taenia sp. Pada sampah anorganik terdapat mikroba bakteri Sphingomonas dan Pseudomonas. 2. Agen kimia juga menduduki peranannya dalam aktivitas ini. Dalam penumpukan sampah biasanya terdapat kehadiran zat metan hasil dari penumpukan sampah selama beberapa lama (antara 5 jam 10 jam). Pembentukan gas metan sangat dipengaruhi oleh aktivitas bakteri metan. Dalam aktivitasnya bakteri metan juga memerlukan kondisi lingkungan yang optimum. c. Transmisi agen Transmisi jalan masuk bagi agen berbahaya lewat udara dan tanah. d. Rute Pemajanan Mekanisme masuknya agen penyakit terhadap manusia dalam masalah penumpukan sampah ini adalah lewat hirupan udara yang telah tercemar oleh patogen dalam penumpukan sampah, dapat pula melalui kontak kulit apabila terdapat orang yang tidak sengaja menyentuh sampah yang didalamnya terdapat mikroorganisme sehingga pada akhirnya dapat masuk kedalam tubuh kita melalu ingesti.

29

2.4.10 Daging a. Jenis Aktivitas Penjualan daging ayam dan jeroan didalam pasar ini tidak memenuhi standar hiegene yang cukup baik. Masih sangat banyak lalat berkerumun menghinggapi dagangan yang dijajakan. Tidak jarang dikawasan penjualan daging tersebut terjadi penumpukan sampah yang menyebabkan semakin banyaknya lalat yang terbang mengelilingi sampah dan dagangan yang dijajaki tersebut.

Gambar 15. Daging yang terdapat lalat b. Agen Berbahaya Agen Biologis terdapat

Gambar 16. Lalat pada hati ayam

dalam

aktivitas

ini.

Berbagai

mikroorganisme yang terdapat dalam tubuh lalat dapat terbawa dan menempel pada bahan makanan yang dijajakan tersebut. Mikroorganisme yang terdapat pada hewan hidup dapat terbawa ke dalam daging segar dan mungkin bertahan selama proses pengolahan. Banyak hewan-hewan yang disembelih membawa mikroorganisme seperti Salmonella dan Campylobacter, selain mikroorganisme yang secara alami terdapat pada saluran pencernaan seperti Clostridium perfringens, Escherichia coli, Yersinia entercolitica dan Listeria monocytogenes. Selain itu daging yang telah tercemar sebelumnya memungkinkan terdapat berbagai parasit penyebab penyakit yang masih berada dalam daging berupa larva dari Taenia saginata, Diphyllobothrium latum, Taenia solium, Trichinellaspiralis yang menyebabkan penyakit cacingan pada manusia.

30

c. Transmisi Agen Transmisi agen pencemaran dalam hal ini adalah lalat sebagai vektor penyakit, makanan dan air yang tercemar. d. Rute Pemajanan Masuknya mikroorganisme patogen yang dibawa oleh vektor yaitu lalat dari tumpukan sampah ke dalam bahan makanan yang dijajakan seperti daging, ayam dan jeroan. Sehingga apabila bahan bahan tersebut pada saat dimasak tidak dilakukan proses pengolahan yang sempurna, kandungannya masih terdapat dalam makanan sehingga akan menyebabkan penyakit pada manusia. 2.4.11 Karat dalam Alat makanan

Gambar 17. Alat penggiling cabai berkarat a. Jenis aktivitas Penggunaan alat parutan kelapa dan alat pengiling cabe yang sudah sangat lama dipakai memang selalu berdampak pada timbulnya karat besi di bagian alat pemarut tersebut. Tidak hanya itu pisau yang telah berkarat masih digunakan para pedagang untuk memotong bahan dagangannya seperti daging dan ikan. Hal inilah yang menyebabkan individu terinfeksi penyakit berbahaya akibat penggunaan alat pengolah makanan yang tidak memenuhi standar kebersihan yang seharusnya.

31

b. Agen Berbahaya 1. Agen mekanik menjadi dasar penyebab penyakit dalam hal ini. Penggunaan peralatan besi tanpa mengindahkan kebersihan dan perawatan pergantiannya menyebabkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi bila individu pengguna tidak berhati hati dengan penggunaan alat tersebut, maka kecelakaan dalam kerja. 2. Agen biologi terdapat dalam mikroorganisme yang timbul akibat perkaratan besi di dalam penggunaan alat parut tersebut. Bakteri yang biasanya timbul dalam kondisi seperti ini adalah Clostridium tetani. Bakteri ini sangat patogen apabila telah menginfeksi manusia, sehingga manusia yang terpapar dapat terkena penyakit tetanus yang dapat menyebabkan penyakit serius yang berujung kematian. 3. Agen kimia yang terdapat dalam proses pemarutan kelapa dapat timbul akibat persenyawaan yang terjadi dalam kondisi karat dalam besi sehingga pada akhirnya muncur infektifitas oleh logam seperti Fe. Karat dengan rumus kimia Fe2O3.xH2O dapat timbul pada peralatan dari besi yang merupakan hasil dari korosi. Korosi timbul karena reaksi kimia yang permukaannya terkena langsung pada air dan oksigen (oksidasi). Dan karat ini sangat mudah larut dalam makanan. Agen kimia lain berupa gas yang ditimbulkan dalam proses penggilingan kelapa, pada saat melakukan proses penggilingan mesin mengeluarkan gas mengepul yang dapat memenuhi ruangan. Kandungan CO (karbon monoksida) dalam asap tersebut sangat membahayakan kesehatan saluran pernafasan individu yang menghirupnya. c. Transmisi agen Masuknya penyakit ke dalam tubuh manusia dapat melalui transmisi udara, air, makanan dan kontak langsung. d. Rute Pemajanan Rute pemajanan agen terhadap tubuh manusia dapat melalui kontak secara langsung yaitu terhadap peralatan berkarat yang dapat melukai individu secara langsung, dengan cara kandungan Fe mikroorganisme lain individu tersebut dapat mengalami

32

langsung masuk kedalam tubuh melalui peredaran darah pada kulit dengan luka terbuka (kontak kulit). Rute lainnya yang sangat memungkinkan untuk masuknya agen penyakit melalui makanan yang diproses di dalam peralatan yang telah berkarat dapat masuk ke dalam tubuh individu melalui saluran pencernaan ( ingesti). Dan rute melalui hirupan individu yang berada dalam lingkungan tersebut saat mesin penggiling beroperasi, sehingga asap yang mengandung karbon monoksida dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan (inhalasi). 2.4.12 Polusi

Gambar 18. Polusi kendaraan bermotor a. Jenis Aktivitas Polusi yang dimaksud dalam aktivitas ini adalah pada saat lalu lalang kendaraan bermotor disepanjang pasar. Sehingga kandungan dari polusi udara dapat mencemari barang barang dagangan tersebut. Biasanya pedagang yang menjajakan bahan makan seperti ayam, ikan, buah buahan, sayuran, dan kue - kue tidak memakai tutup untuk melindungi barang dagangannya dan menghindarinya dari pencemaran polusi.

b. Agen Berbahaya

33

Agen Kimia berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh individu biasanya berupa kandungan logam berat yang terkandung dalam asap kendaraan bermotor yang dapat berupa unsur-unsur beracun seperti : 1. Karbon monoksida (CO) 2. Karbon dioksida (CO2) 3. Partikulat 4. Ozon 5. Timbel( Pb) 6. Sulfur dioksida ( SO2) Zat zat berbahaya tadi pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dapat menimbulkan penyakit yang berhubungan seperti : 1. Bronchitis kronika. 2. Emphysema pulmonum. 3. Bronchopneumonia. 4. Asthma bronchiale. 5. Cor pulmonale kronikum. c. Transmisi agen Transmisi agen yang dapat dijumpai melalui udara dan makan. d. Rute pemajanan Masuknya zat berbahaya dalam asap kendaraan bermotor ke dalam tubuh dapat terjadi saat individu menghidup asap secara langsung tanpa menutupi mulut atau hidungnya. Dan para pedagang yang biasanya sibuk menjual dagangannya berada di bawah tanpa menggunakan meja sudah pasti tidak akan menutup mulut atau hidungnya. Lokasi pedagang yang hanya menggunakan karung sebagai alas barang dagangannya tanpa menggunakan meja, memberikan kemudahan dalam penghirupan asap dari knalpot motor yang kebetulan lewat dihadapannya dan zat toksik tadi akan memasuki tubuh melewati saluran pernapasan (inhalasi). Tidak hanya itu agen kimia juga dapat mengendap sebagian melalui partikelnya di dalam bahan makanan yang dijual tanpa menggunakan

34

pembungkus dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan (ingesti).

35

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Lingkungan merupakan salah satu pengaruh perilaku kesehatan, seperti dalam konsep perilaku kesehatan H.L Blum, dalam teori John Gordon, lingkungan juga menjadi salah satu penguat terjadinya penyakit. Pencemaran lingkungan yang ada di lingkungan sekitar kita yaitu pencemaran udara ambien, pencemaran air, pencemaran sampah padat, pencemaran pestisida, pencemaran tanah, dan pencemaran suara. Pencemaran tersebut dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang agennya pun beragam. Agen-agen pencemar pun mempunyai 6 jenis yaitu agen biologi, agen fisik, agen kimia, agen mekanik, agen nutrisi, dan agen sosial. Transmisi agen-agen tersebut dapat melalui 3 cara, yaitu melalui udara, air, makanan dan tanah. Pemaparan penyakit tersebut dapat melalui inhalasi, ingesti, dan kontak kulit. Masih banyak pencemaran yang belum bisa tertangani secara baik. Interaksi manusia dengan lingkungan merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggal. Akan tetapi, dalam proses interaksi tersebut tidak selalu didapatkan keuntungan, kadang-kadang bahkan manusia mendapat kerugian. Hal ini berdasarkan hubungan timbal balik yang dilakukan manusia dengan lingkungannya, apabila manusia berbuat yang terbaik bagi alam, maka alam pun akan bertindak demikian bagi manusia. Kebalikannya, apabila manusia melakukan kerusakan, maka alam pun akan membalasnya. Jadi, di dalam lingkungan terdapat faktor-faktor yang dapat menguntungkan manusia (eugenik) dan ada pula yang merugikan manusia (disgenik). Usaha-usaha di bidang kesehatan lingkungan ditujukan untuk meningkatkan daya guna faktor eugenik dan mengurangi peran atau mengendalikan faktor disgenik. Secara naluriah manusia memang tidak dapat menerima kehadiran faktor disgenik di dalam lingkungan hidupnya, oleh karenanya ia selalu berusaha untuk selalu berusaha untuk selalu memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya. Sehingga untuk mengurangi pencemaran tersebut harus dimulai dari diri kita sendiri dan pada saat ini juga dengan menjaga lingkungan seperti contoh tidak membuang sampah sembarangan.

36

DAFTAR PUSTAKA

37

Achmad, Rukaesih.2004.Kimia Lingkungan.Yogyakarta:ANDI Cauvain, S.P.A & L.S.Young.2007.Technology of Bread Making.NewYork:Spanger Chandra, Budiman.2007.Pengantar Kesehatan Lingkungan.Jakarta:EGC Fardiaz, Srikandi.1992.Polusi Air dan Udara.Yogyakarta:Kanisius Mukono.2003.Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran Pencernaan.Surabaya:Airlangga University Mukono.2005.Toksikologi Lingkungan.Surabaya:Airlangga University Mukono, H. J.2000.Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan.Surabaya:Airlangga University Press Palar, Heryando.1994.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.Jakarta:Rineka Cipta Sastrawijaya, Tresna.2009.Pencemaran Lingkungan.Jakarta:Rineka Cipta Soemirat, Juli.1994.Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Wardhana, Wisnu Arya. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: ANDI Kompas, Rabu 19 Januari 2005 http://ilmupangan.com/index.php? option=com_content&task=view&id=39&Itemid=44 http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/pengantar-pengolahan-airbersih-compatibility-mode.pdf http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-albiner3.pdf http://sains.kompas.com/read/2009/12/07/07514859/.racun.di.asap.kendaraan http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/padresources/No.02%20pa per-skim-Roni1.pdf http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/udejournal/gunam0702020 08(1).pdf http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/waspadai-histamin-padaikan/

38

http://www.docstoc.com/docs/21188524/KECEPATAN-DEKOMPOSISI-DANKUALITAS-KOMPOS-SAMPAH-ORGANIK-Teguh http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=4&fname=eko105_04.htm http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelFeatures.php?artikelID=446 http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_168Potensiairkelapa.pdf/10_168Potensiair kelapa.html http://www.who.or.id/ind/contents/aceh/wsh/Pengukuran%20Residu%20Klorin.pd

39