Anda di halaman 1dari 81

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

J ob S he e t : 0 6

ELIMINASI FEKAL DAN BAK

PENGANTAR
Eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang esensial dan berperan penting dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Eliminisi terbagi dalam dua bagian utama yaitu: Eliminasi Pekal (buang air besar) dan Eliminasi Urine (buang air kecil).

TUJUAN
TUJUAN Setelah mempelajari modul ini peserta didik dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah gangguan kebutuhan eliminasi BAB dan BAK. Modul ini akan memberikan wawasan pada peserta didik tentang konsep kebutuhan eliminasi BAB dab BAK dan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah gangguan kebutuhan eliminasi BAB dan BAK serta mampu meningkatkan keterampilan dalam membantu klien dengan ganguan eliminasi.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Memberikan gambaran tentang tindakan enema , BAB, dan kolostomy sesuai dengan tujuan dan tata prosedur pelaksanaan.

BAHAN BACAAN
Eliminasi produk pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor pola dan kebiasaan eliminasi berfariasi diantara individu namun telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering dalam jumlah besar dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kanker kolesterol (Robinson dan Weigley,1989). Untuk menangani masalah eliminasi perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor-faktor yang meningkatkan atau

menghambat eliminasi. Asuhan kaperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus

meminimalkan rasa ketidaknyamanan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Eliminasi adalah Proses pengeluaran sisi pembakaran melalui paru2, ginjal, kulit dan ampas ampas makanan melalui anus. Tujuannya

agar tubuh tidak terganggu dari keracunan oleh zat-zat & ampas makanan yg tidak diperlukan oleh tubuh.

Anatomi Fisiologi colon Colon: 1. Merupakan pipa lumen muskuler yang dilapisi membran mukosa. 2. Serat ototnya sekuler & longitudinal sehingga memungkinkan terjadi kontraksi 3. Bentuknya berliku-liku/lekuk-lekuk karena otot longitudinal lebih pendek dari panjang colon Makanan yang sudah melewati usus halus : chyme akan sampai direktum empat hari setelah ditelan. Jumlah chyme yg direabsorbsi 350 ml

Panjang colon Orang dewasa 125 150 cm Panjang rektum bervariasi sesuai dengan usia : 1. Bayi 2,5 3,8 cm 2. Todler 4 cm 3. Anak usia sekolah 10 cm

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4. Dewasa 10 - 15 CM 5. Makanan yg sudah melewati usus halus : chyme akan sampai direktum empat hari setelah ditelan 6. Jumlah chyme yg direabsorbsi 350 ml

Fungsi colon 1. Absorbsi air dan nutrient 2. Proteksi / perlindungan dengan mensekresikan mukus yang akan melindungi dinding usus dari trauma oleh faeces & aktifitas bakteri 3. Mengantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan cara berkontraksi.

Gerak colon a. Haustral shuffling : yaitu gerakan mencampur chyme untuk membantu absorbsi air b. Kontraksi haustral yaitu : gerakan untuk mendorong materi cairan dan semi padat sepanjang colon. c. Peristaltik yaitu gerakan berupa gelombang merupakan gerakan maju menuju anus.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Eliminasi Alvi ( BAB ) Sistem yang berperan dalam eliminasi Alvi (BAB) Sistem tubuh yang memiliki peran dalam proses eliminasi alvi adalah sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atas duodenum, jejenum, dan ileum dengan panjang kurang lebih 6 m dengan diameter 2,5 cm. Serta berfungsi absorbsi elektrolit Na+,CL,K+,mg,HCO3 dan

kalsium. Usus besar di mulai dari rektum, kolon hingga anus yang memiliki panjang kurang lebih 1,5m atau 50-60 inci dengan diameter 6 cm. Pada batas di antara usus besar dan ujung usus halus terdapat katup ilcocaccal. Katup ini biasanya mencegah zat yang masuk ke usus besar sebelum waktunya dan mencegah produk buangan untuk kembali ke usus halus. Produk buangan yang memasuki usus besar isinya berupa cairan. Setiap hari saluran anus menyerap sekitar 800-1000 ml cairan. Penyerapan inilah yang menyebabkan feses mempunyai bentuk dan setengah padat, feses ini lunak dan cair. Kalau feses terlalu lama dalam usus besar, maka terlalu banyak air yang di serap sehingga feses menjadi kering dan keras.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Kolon sigmoid mengandung feses yang sudah siap di buang dan di teruskan kedalam rectum dalam rektum terdapat 3 lapisan jaringan tranversal segitiga lapisan tersebut merupakan rektum menahan feses untuk sementara dan setiap lipatan lapisan tersebut mempunyai arteri dan vena. Makanan yang di terima oleh usus halus dan lambung dalam bentuk setengah padat atau dikenal dengan nama chyme, baik berupa air, nutirien, maupun elektrolit kemudian akan diabsorsi. Usus

mensekresi mukus, kalium, bikarbonat dan enzim secara umum, kolon sebagai tempat absorbsi, proteksi, sekresi, dan eliminasi. Proses perjalanan makanan dari mulut hingga sampai rektum membutuhkan waktu selama 12 jam. Proses perjalanan makanan khusus pada daerah kolon memiliki beberapa gerakan diantaranya haustral suffing atau dikenal sebagai garakan mencampur zat makanan dalam bentuk padat untuk mengabsorpsi air kemudian diikuti dengan kontraksi haustral atau gerakan mendorong zat makanan atau air pada daerah kolon dan terakhir terjadi gerakan peristaltik yaitu gerakan maju ke anus.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Fisiologi Proses Buang Air Besar (DEFEKASI) Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi yang terletak dimedula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sfingter anus bagian dalam akan mengendor dan usus besar menguncup. Reflek defekesi dirangsang untuk buang air besar, kemudian sfingter anus bagian luar yang diawali oleh syaraf parasimpatis setiap waktu menguncup atau mengendor selama defekasi berbagai otot lain membantu proses itu seperti otot dinding perut, diafragma dan otot-otot dasar pelvis. Secara umum, terdapat 2 macam reflek yang membantu proses defekasi yaitu, pertama, reflek defekasi interinsik yang mulai dari zat sisa makanan (feses) dalam rektum sehingga terjadi distensi, kemudian flexus mesenterikus merangsang gerakan peristaltik, dan akhirnya feses sampai di anus. Lalu pada saat sfingter interna relaksasi, maka terjadilah proses defekasi. Kedua, reflek defekasi parasimpatis adanya feses dalam rektum yang merangsang saraf rectum ke spinal cord dan merangsang ke kolon desenden, kemudian ke sigmoid, lalu ke rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sfingter interna, maka terjadilah proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

1. Reflek Defikasi Intrinsik Feces masuk rektum Distensi Rektum Rangsangan Pleksus Mesentrikus Terjadi peristaltik di Colon Acenden, Sigmoid, Rektum Feces terdorong ke anus Spinter internal membuka, spinter external relaksasi

2. Reflek Defekasi Parasimpatis Feces Masuk Rektum Rangsangan Saraf rektum Dibawa ke Spinal cord Kembali ke Colon Decenden, Sigmoid & rectum Intensifkan Peristaltik, Relaksasi Sfingter Intrinsik, Intensifkan Reflek Intrinsik Defikasi BAB Kontraksi Otot Abdominal Tekanan Intra Abdominal Otot Levator Ani Kontraksi Menggerakan Feces untuk milli kanal anal Defekasi Flkesi otot femur : Tekanan abdominal Posisi jongkok : Tekanan pada rectum

Pola Defikasi 1. Pola defikasi bersifat sangat individual, bervariasi mulai dari beberapa kali sehari hingga 2- 3 kali perminggu. 2. Tergantung latihan dan kesesuaian seseorang. Jumlah feses tergantung makanan yang dimakan, normal mengandung 75 persen air dan 25 persen materi padat konsistensi lunak dan berbentuk.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

3. Berwarna coklat karena mengandung strekobilin dan urobilin yang berasal dari bill dan faktor lain yg mempengaruhi warna feces adalah bakteri

Faktor- faktor yg mempengaruhi proses defekasi

1. Diet Diet Bulk (selulosa, serat) yang cukup diperlukan untuk memberikan volume pada feces. Orang yang makan pada waktu yang sama memilki respon fisiologis yang teratur terhadap peristaltik. Diet atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi proses defekasi makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang di konsumsi pun dapat mempengaruhinya. 2. Asupan Cairan Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras oleh karena proses absorbsi yang kurang sehingga dapat mempengaruhi kesulitan proses defekasi. Cairan Eliminasi alvi yang sehat memerlukan asupan cairan 2000 3000 ml.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

3. Aktivitas Aktivitas dapat mempengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot, abdomen, pelvis dan diafragma dapat

membantu kelancaran proses defekasi, sehingga proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik dan

memudahkan untuk kelancaran proses defekasi. Aktivitas akan menstimulasi peristaltik sehingga akan memfasilitasi pergerakan kimus disepanjang kolon. 4. Faktor Psikologis 5. Pengobatan Pengobatan juga dapat mempengaruhi proses defekasi seperti penggunaan obat-obatan laksatif atau antasida yang terlalu kering. 6. Anestesi dan pembedahan (anestesi umum) 7. Kondisi Patologis Cedera medula spinalis dan kepala dapat menurunkan stimulasi defikasi 8. Posisi

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

9. Usia Setiap tahap perkembangan atau usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda pada bayi belum memiliki kemampuan mengotrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, kemudian pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan.

10. Gaya hidup Gaya hidup dapat mempengaruhi proses defekasi. Hal ini dapat dilihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet maka ketika seseorang tersebut buang air besar di tempat yang terbuka atau tempat yang kotor maka ia akan mengalami kesulitan dalam proses defekasi. 11. Penyakit Beberapa penyakit dapat mempengaruhi proses defekasi biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan sistem pencernaan seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.

12. Nyeri

Adanya nyeri dapat mempengarihi kemampuan/keinginan untuk berdefekasi seperti nyeri pada kasus hemoroid dan episiotomy.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

13. Kerusakan motorik dan sensorik

Kerusakan pada sistem sensoris dan motorik dapat mempengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam berdefekasi hal tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan pada tulang belakang atau kerusakan saraf lainnya. No 1. Keadaan Warna Normal Bayi : Kuning Abnormal Penyebab kadar perdarahan cerna atau bagian

Putih, hitam / Kurangnya tar, merah atau empedu, saluran atas, saluran bawah.

perdarahan bagian

cerna

Dewasa: coklat

Pucat berlemak

Malabsorpsi lemak.

2.

Bau

Khas fases dan Amis

dan

Darah dan infeksi.

dipengaruhi oleh perubahan makanan 3. Konsistensi Lunak berbentuk. 4. Bentuk Sesuai diameter Kecil, rectum bentuknya seperti dan bau Cair Diare kurang. Obstruksi dan peristaltik yang cepat. dan absorpsi

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

pensil. 5. Konstituen Makanan tidak bakteri mati, yang Darah, pus, Internal bleeding, infeksi, dicerna, benda asing, tertelan benda, iritasi,

yang mukus, atau atau inflamasi. lemak, cacing.

pigmen empedu, mukosa air. usus,

Meningkatkan kebiasaan defekasi secara rutin Salah satu kebiasaan paling penting yang dapat perawat ajarkan tentang kebiasaan defekasi ialah menetapkan waktu untuk melakukan defekasi untuk memiliki kebiasaan defekasi yang teratur, seorang klien harus mengetahui kapan keinginan untuk defekasi muncul secara normal. Perawat menganjurkan klien untuk mulai menerapkan waktu defekasi yang paling memungkinkan dalam sehari yang akan dijadikan sebagai rutinitas, biasanya satu jam setelah makan, apabila klien harus menjalani tirah baring atau membutuhkan bantuan dalam berjalan perawat harus menawarkan sebuah pispot atau membantu klien mencapai kamar mandi. Meningkatkan defekasi normal Untuk membantu klien berdefekasi secara normal dan tanpa rasa tidak nyaman, sejumlah intervensi dapat menstimulasi refleks defekasi mempengaruhi karakter feses atau meningkatkan peristaltik.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Posisi jongkok, perawat mungkin perlu membantu klien yang memiliki kesulitan untuk mengambil posisi jongkok akibat kelemahan otot atau masalah-masalah mobilitas. Toilet umum biasanya terlalu rendah untuk mengambil posisi jongkok akibat menderita penyakit sendi atau penyakit yang menyebabkan kehilangan masa otot. Klien dapat membeli tempat duduk toilet yang dapat ditinggikan untuk digunakan di rumah. Dengan tempat duduk seperti ini, klien tidak perlu melakukan banyak upaya untuk berdiri atau duduk. Mengatur posisi di atas pispot, klien yang menjalani tirah baring harus menggunakan pispot untuk defekasi. Wanita menggunakan pispot sebagai tempat untuk mengeluarkan urine dan feses, sementara pria menggunakan pispot dapat sangat tidak nyaman. Perawat harus membantu klien mengambil posisi yang nyaman. Saat mengatur posisi klien penting mencegah agar otot tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Klien tidak pernah boleh dibiarkan duduk diatas pispot dan membiarkan tempat tidurnya dalam posisi datar, kecuali jika restriksi aktivitas membuat tempat tidurnya harus dalam posisi datar, apabila tempat tidur datar panggul akan berada dalam posisi hiperekstensi. Saat membantu klien keatas pispot, mungkin tempat tidur memang harus datar. Setelah klien berada diatas pispot, perawat meninggikan kepala tempat tidur dengan sudut 30 derajat. Meninggikan klien dengan dengan sudut 90 derajat akan membuat sulit pengaturan posisi.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Dalam posisi duduk, klien harus mengangkat tubuhnya dengan menggunakan kekuatan lengannya sementara perawat meletakkan pispot. Kebanyakan klien terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut. Klien yang baru menjalani bedah abdomen, takut kalau jahitannya terkoyak akibat regangan yang mereka lakukan. Terlebih lagi, perawat membuat klien beresiko mengalami cidera dengan berupaya

mengangkat klien keatas pispot.

Masalah-masalah Umum Pada Bowel Eliminasi

1. Konstipasi Merupakan keadan individu yang mengalami atau resiko tinggi statis untuk besar sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras; keluarnya tinja terlalu kering dan keras. Terjadi ketika pergerakan chyme dalam usus lambat, penyerapan cairan yg ber kurang. Tanda klinis : a. Adanya feses yang keras b. Defekasi yang kurang dari 3 kali seminggu c. Menurunnya bising usus d. Adanya keluhan dari rectum

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

e. Nyeri saat mengejan dan defikasi f. Adanya perasaan masih ada sisa feses Kemungkinan penyebab : a. Tidak teratur BAB/ pola BAB b. Penggunaan laxatif c. Psikologis stress : 1. Menghambat peristaltik 2. Kram abdominal d. Diit yang tepat (rendah serat) e. Meditasi/ pengobatan f. Kurang exercise g. Usia h. Defek persarafan: kelemahan pelvis, imobilitas karena

cedera serebrospinalis, CVA, i. Nyeri saat defekasi karena hemeroid

2. Fecal Impaction Adalah masa feces yang keras, disebabkan oleh tertahannya feces yang terlalu lama di colon. Merupakan masa feses keras di lipatan rektum yang di akibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan penyebab konstipasi asupan kurang aktivitas kurang, diet rendah serat, kelemahan tonus otot.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Penyebab : 1. Barium untuk rongent 2. Masuk cairan yang kurang 3. Diet 4. Kelemahan tonus otot

3. Diare Adalah Pengeluaran feces dalam bentuk cair dan jumlah yang meningkat Merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dengan bentuk cair. Diare di sertai kejang usus, mungkin ada rasa mual dan muntah. Tanda klinis a. Adanya pengeluaran feses cair b. Frekuensi lebih dari 3 kali c. Nyeri/kram abdomen d. Bising usus meningkat

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Kemungkinan penyebab a. Mengabsorbsi atau inflamansi proses infeksi b. Peningkatan peristaltik karena peningkatan metabolisme c. Efek tindakan pembedahan usus d. Efek penggunaan obat (antibiotika) e. Stres psikologis f. Kecemasan g. Alergi makanan / cairan h. Penyakit mal absorption

4. Flatulece Adalah Pengeluaran gas dari traktus gastrointestinal

Penyebab : - Aktivitas bakteri - Udara yang ditelan - Gas yang masuk dari aliran darah (usus) N: 0,6 ltr gas diabsorpsi menuju kapiler usus

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

5. Inkontinensia Alvi Adalah Hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feces dan gas melalui spingter ani akibat kerusakan fungsi sfingter atau persyarafan di daerah anus. Feces mengandung sejumlah enzim pencernaan dan bersifat asam sehingga dapat mengiritasi. Merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal mengalami proses pengeluaran feses tidak di sadari; yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sfingter sehingga mengakibatkan kerusakan pada sfingter. Kemungkinan penyebab a. Gangguan sfingter rektal akibat cedera anus, pembedahan,dll b. Disfensi rektum berlebihan c. Kurangnya kontrol sfingter akibat cedera medula spinalis,dll d. Kerusakan kognitif e. Penyekit neuromuskuler f. Trauma spinal cord g. Tumor spfingter anus sxterna

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Tanda dan gejala : - Penguaran feses yang tidak di kehendaki - Feces bersifat iritan - Iritasi sekitar anus atau bokong 6. Kembung Merupakan penuh udara dalam perut karena pengumpulan secara berlebihan dalam lambung atau usus. Flatus adalah udara yang berlebihan karena terlalu banyaknya udara dalam intestinal

Penyebab : - Konstipasi - Penggunaan obat- obat barbiturat (anxietas, penurunan aktifitas intestinal) - Konsumsi makan yg menghasilkan gas - Efek anestesi

7. Hemorroid Merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan daerah anus yang dapat di sebabkan karena kontipasi perenggangan saat defekasi.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

HUKNAH Konsep Dasar Enema Secara umum Enema atau huknah adalah tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan kedalam rectum dan colon sigmoid. Enema atau huknah diberikan tujuannya adalah untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik dan juga sebagai alat transportasi obat-obatan yang menimbulkan efek lokal pada mukosa rectum. (Perry,Potter.2005:1768). Huknah/ Enema adalah memasukkan suatu larutan ke dalam rectum dan kolon sigmoid. Alasan utama enema ialah untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik. Volume cairan, yang

dimasukkan, memecah masa feses, merenggangkan dinding rectum, dan mengawali reflek defekasi. Enema juga diberikan sebagai alat transportasi obat-obatan yang menimbulkan efek lokal pada mukosa rektum. Enema paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi untuk sementara. Indikasi lain antara lain : membuang feses yang mengalami impaksi, mengosongkan usus sebelum menjalani pemeriksaan

diagnostik, pembedahan atau melahirkan, dan memulai program bowel training.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Macam dan Tujuan Enema atau huknah Enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan menurut cara kerjanya diantaranya : 1. Cleansing (membersihkan) 2. Carminative (untuk mengobati flatulence) 3. Retensi (menahan) 4. Mengembalikan aliran.
1. Cleansing Enema

Merangsang peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rektum dan atau dengan meregangkan intestinal dengan memasuki volume cairan. Enema Pembersih sebelum dilakukan tindakan operasi atau pemeriksaan diagnostik - menstimulasi peristaltik dan mendistensi usus dengan cairan yang dimasukkan Ada 2 cleansing enema yaitu : a. Huknah rendah (LOW ENEMA) Adalah tindakan keperawatan dengan cara memasukkan cairan hangat ke dalam kolon dessendens melalui anus dengan menggunakan kanula rektal. Kanul masuk 10-15 cm ke dalam rektal dengan ketinggian irigator 50 cm dengan posisi sims kiri.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Low enema (huknah rendah) diberikan hanya untuk membersihkan rektum dan kolon sigmoid. Sekitar 500ml larutan diberikan pada orang dewasa, klien dipertahankan pada posisi sims / miring kekiri selama pemberian. Tujuan huknah rendah diberikan adalah : 1. Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy 2. Merangsang peristaltik usus, sehingga pasien dapat buang air besar karena kesulitan untuk defekasi (obstipasi konstipasi) 3. Tindakan pengobatan/pemeriksaan diagnostik 4. Memberi rasa nyaman Indikasi : 1. Pasien yang obstipasi 2. Pasien yang akan di operasi 3. Persiapan tindakan diagnostika misalnya (Pemeriksaan radiologi) 4. Pasien dengan melena (tinja yang hitam akibat pendarahan gastrointestinal)

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

b. Huknah tinggi

Adalah tindakan keperawatan dengan cara memasukkan cairan hangat ke dalam kolon assendens melalui anus dengan

menggunakan kanula rekti. Kanul masuk 15-20 cm ke dalam rektal dengan ketinggian irigator 30 cm dengan posisi sims kanan. High enema (huknah tinggi) diberikan untuk membersihkan kolon sebanyak mungkin, sering diberikan sekitar 750-1000ml larutan untuk orang dewasa, dan posisi klien berubah dari posisi lateral kiri ke posisi dorsal recumbent dan kemudian ke posisi lateral kanan selama pemberian ini cairan dapat turun ke usus besar. Cairan diberikan pada tekanan yang tinggi dari pada low enema. Oleh karena itu, wadah dari larutan digantung lebih tinggi. Cleansing enema paling efektif jika diberikan dalam waktu 5-10 menit. Tujuan huknah tinggi diberikan untuk : 1. Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal 2. Membantu defaksi yang normal sebagai bagian dari program latihan defakasi (bowel training program) 3. Tindakan pengobatan/pemeriksaan diagnostik 4. Merangsang peristaltik usus

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

2. Huknah Gliserin/Enema Karminatif (perangsang flatus)

Memasukkan cairan melalui anus ke dalam kolon sigmoid dengan menggunakan spuit gliserin bertujuan untuk melunakkan fases dan merangsang buang air besar serta mendistensi usus sehigga merangsang peristaltik sebagai tindakan pengobatan.
3. Retention Enema

Retention enema (feces yang tertahan atau sembelit), dimasukkan oil (pelumas) kedalam rektum dan kolon sigmoid, Minyak bekerja melunakkan feces dan melumasi rektum Enema Aliran balik/ harris flush/irigasi kolon digunakan untuk mengeluarkan flatus dan

merangsang peristaltik, pelumas tersebut tertahan untuk waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rektum dan kanal anal, yang akhirnya memudahkan jalannya fases sehingga memfasilitasi pengeluaran feces. Enema Terapeutik menghantar nutrien atau obatobatan (kortikosteroid, antibiotik)
4. Carninative Enema

Carminative enema terutama diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukkan kedalam rektum untuk mengeluarkan gas dimana ia meregangkan peristaltik. Untuk orang dewasa dimasukkan 60-180ml. Contoh enema carminative ialah larutan GMW, yang mengandung 30ml magnesium, 60ml gliserin, dan 90ml air.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

5.

Enema bilas Harris

Enema Bilas Harris (Enema arus balik), kadang kadang mengarah pada pembilasan kolon, digunakan untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam rektur dan pengaliran cairan dari rektum. Pertama-tama larutan (100-200ml untuk orang dewasa) dimasukkan ke rektum dan kolon sigmoid klien, kemudian wadah larutan direndahkan sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal tube ke dalam wadah. Pertukaran aliran cairan ke dalam dan keluar ini berulang 5-6 kali, sampai (perut) kembung hilang dan rasa tidak nyaman berkurang atau hilang. Banyak macam larutan yang digunakan untuk enema. Larutan khusus mungkin diminta oleh dokter.

Panduan pemberian enema 1. Sebelum memberikan enema apakah dibutuhkan program dokter, pada beberapa institusi merupakan program dokter, tapi pada institusi lain merupakan kebijaksanaan perawat 2. Suhu air 40 - 43 C, kecuali ditetapkan lain, suhu yang tinggi dapat mencederai mukosa usus sedangkan membuat klien tidak nyaman dan dapat memicu spasme otot sfingter 3. Tekanan aliran larutan ditentukan oleh : a. Tinggi wadah larutan b. Ukuran slang c. Viskositas cairan d. Resistensi rektum

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4. Waktu yg dibutuhkan untuk memberikan enema sangat tergantung pada jumlah cairan yang dimasukkan dan toleransi klien

Macam-macam larutan enema

1. Larutan hipertonik a. 90 - 120ml (natrium fosfat) b. Menarik air kedalam kolon c. Reaksi 5- 10 menit d. Efek merugikan : retensi natrium

2. Hipotonik a. 500- 1000 ml (air kran) b. Mendistensi kolon, menstimulasi peristaltik, dan melunakkan feces c. Reaksi 15- 20 menit d. Efek merugikan: Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, intoksikasi air 3. Isotonik a. 500- 1000 ml normal salin (9 ml NaCl dengan 1000 ml air) b. Mendistensi kolon, menstimulasi peristaltik dan melunakkan feces c. Reaksi 15- 20 menit d. Efek merugikan: Retensi natrium

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4 Buih sabun a. 500 1000 ml (3-5 ml sabun dg 1000 ml air) b. Mendistensi kolon, mengiritasi mukosa, mendistensi kolon c. Reaksi 10 15 menit d. Efek merugikan : mengiritasi dan dapat merusak mukosa 5. Minyak (minyak mineral, minyak zaitun, minyak biji kapas) a. 90 120 ml b. Reaksi 30 60 menit

Indikasi 1. Konstipasi a. Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur b. Penggunaan laxative yang berlebihan c. Peningkatan stress psikologis d. Impaksi fases e. Kebiasaan buang air besar yang teratur f. Konstipasi g. Persiapan pre operasi h. Untuk tindakan diagnostik misalnya pemeriksaan radiologi. i. Pasien dengan melana

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Kontra Indikasi 1. Pasien dengan diverticulis, ulcerative colitis, crhons disease 2. Post operasi 3. Pasien dengan gangguan fungsi jantung atau gagal ginjal, hemoroid, tumor rectum dan kolon 4. Dampak Pemberian Huknah : 1. Dampak positif a. Membersihkan kolon bagian bawah (desenden) menjelang

tindakan operasi seperti sigmoidoscopy atau colonoscopy b. Sebagai jalan alternatif pemberian obat c. Menghilangkan distensi usus d. Memudahkan proses defakasi e. Meningkatkan mekanika tubuh

2. Dampak negatif a. Jika menggunakan larutan terlalu hangat akan membakar mukosa usus dan jika larutan terlalu dingin yang diberikan akan menyebabkan kram abdomen b. Jika klien memiliki kontrol sfingter yang buruk tidak akan mampu menahan larutan enema (perry,peterson,potter.2005)

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Beberapa perbedaan dalam tindakan cleansing enema : No Perbedaan 1. Tindakan Huknah rendah Tindakan memasukkan hangat kedalam desenden dari Huknah tinggi Tindakan cairan memasukkan rectum cairan hangat dari kolon rectum dimasukkan kedalam asenden 2. Tujuan Mengosongkan sebagai tindakan colonoscopy usus Membantu kolon

persiapan mengeluarkan operasi, fases konstipasi impaksi fekal akibat atau

3.

Kanul enema

Kanula Recti

Kanula usus

4.

Posisi

Posisi kekiri

sims

miring Posisi sims miring ke kanan

5.

Jumlah hangat diberikan dewasa

cairan 500 ml yang untuk

750-1000ml

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

6.

Tinggi irrigator

30 cm dari tempat 30-45 cm dari tidur tempat tidur

Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada jenis enema, berdasar usia dan jumlahh cairan yang bisa disimpan : No 1. Usia Bayi Jumlah Larutan 150 250 ml

2.

Toddler atau preschool

250 350 ml

3.

Anak sekolah

usia

300 250 ml

4.

Remaja

500 750 ml

5.

Deawasa

750 1000 ml

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Pemberian enema aliran balik 1. Jumlah larutan sebanyak 100- 200 ml (pada orang dewasa) dimasukkan kedalam rektum dan kolon sigmoid 2. Wadah larutan direndahkan sehingga aliran cairan kembali keluar melalui slang rektal dan masuk kedalam wadah, mengakibatkan flatus tertarik keluar bersama keluarnya cairan 3. Proses aliran masuk dan aliran keluar diulang sebanyak 5- 6 kali untuk menstimulasi peristaltik dan mengeluarkan flatus 4. Larutan dapat diganti beberapa kali selama prosedur jika larutan tersebut kental dan berisi feses Evaluasi. 1. Menetapkan waktu yang teratur untuk defakasi. 2. Berpartisipasi dalam program latihan yang teratur. 3. Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan. 4. BAB dengan nyaman dan lancar. 5. Minum 2000ml cairan / hari. 6. Tidak terjadi defakasi pada saat dilakukan tindakan operasi. 7. Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Dokumentasi a. Catat tindakan yang dilakukan dan hasil pada lembar catatan klien b. Catat respon klien c. Catat jumlah fases yang keluar d. Catat warna serta konsistensi dari fases yang keluar setelah melakukan tindakan e. Catat tanggal dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

Diversi Usus Penyakit tertentu menyebabkan kondisikondisi yang mencegah

pengeluaran fases secara normal dari rectum. Hal ini menimbulkan suatu kebutuhan untuk membentuk suatu lubang (stoma) buatan yang permanen/ sementara. Lubang yang dibuat melalui upaya bedah (ustomi) paling sering dibentuk di ileum (ileustumi) atau dikolon (kolostomi). Ujung usus kemudian ditarik kesebuah lubang didinding abdomen untuk membentuk stoma. Bergantung pada tipe prosedur bedah yang dilakukan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Jenis stoma yang dibentuk ada dua yakni klien tidak akan memiliki control terhadap materi fases yang keluar dari stoma (istomi inkontinen) atau klien memiliki kontrol terhadap pengeluaran fases (ostomi kontinen). Untuk ostomi inkontinen, stoma ditutupi dengan sebuah kantung (dilekatkan) atau apa yang klien sebut sebagai sebuah kantung untuk mengumpulkan materi fases. Ostomi inkontinen adalah sebuah ileostomi merupakan jalan pintas keluarnya fases sehingga fases tidak melalui seluruh bagian usus besar. Akibatnya fases keluar lebih sering dan cair juga terjadi pada kolostomi di kolon asenden. Lokasi kolostomi ditentukan oleh masalah medis dan kondisi umum klien.

Terdapat 3 jenis bentuk kolostomi : 1. Loop Colostomy biasanya dilakukan dalam kondisi kedaruratan medis yang nantinya kolostomi tersebut akan ditutup. Jenis kolostomi ini biasanya mempunyai stoma yang berukuran besar, dibentuk dikolon transversal dan bersifat sementara. 2. End Colostomy terdiri dari satu stoma, yang dibentuk dari ujung proksimal usus dengan bagian distal saluran GL dapat dibuang atau dijahit tertutup (disebut kantung Hartmann) dan dibiarkan didalam rongga abdomen.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Pada banyak klien, end colostomy merupakan hasil terapi bedah pada kanker kolorektal. Pada kasus tersebut, rectum juga mungkin dibuang. Klien yang menderita divertikulitis dan ditangani melalui upaya bedah sering kali menjalani end colostomy yang bersifat sementara. 3. Tidak seperti loop colostomy, usus dipotong melalui pembedahan kedalam bentuk double barrel colostomy dan kedua ujungnya ditarik keatas abdomen. Duble barrel colostomy terdiri dari dua stoma yang berbeda. stoma proksimal ynag berfungsi dan stoma distal yang tidak berfungsi. Ostomi yang sering mengeluarkan fases cair (mis ileostomi) menciptkan suatu tantangan dalam perawatannya. Ostomi kontinen ini juga disebut diversi kontinen atau reservoar kontinen. Pada sebuah prosedur yang disebut ilenoal pull-trough, kolon diangkat dan ileum dianastomosis atau disambungkan ke sfingter anus yang utuh (Corman,1989;Dalton-loehner dan Connor,1989) tidak setiap klien yang menjalani kolektomi merupakan kandidak yang dilakukan prosedur ini untuk menentukan kriteria pilihan, dibutuhkan koordinasi yang baik antara klien dan ahli bedah. Ileostomi kontinen kock adalah tipe ostomi kontinen lain yang baru (Rolstad dan Hoyman,1992). Pada prosedur ini reservoar atau kantung internal dibentuk dari potongan usus halus klien.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Bagian kantung ditarik keluar abdomen klien sebagai sebuah stoma internal. Tidak seperti stoma ostomi lainnya, stoma eksternal dari ileostomi kontinenkock biasanya terletak sangat rendah pada abdomen klien. Biasanya dibawah garis celana dalam klien. Pada bagian ujung kantung internal terdapat tonjolan katup satu arah yang memungkinkan pencapaian kontinensia. Katup ini hanya memungkinkan isi fases keluar dari kantung jika kateter eksterna ditempatkan kedalam stoma secara intermiten karena kantung fases yang dikeluarkan dari kantung kock jika di intubasi dengan kateter, tidak seperti individu lain yang menggunakan ostomi. Perawatan Pasien Ileostomi Ileostomi adalah bukaan buatan permanent pada ileum, seperti pada kolostomi, bukaan atau stoma berada dipermukaan dinding abdomen. Drainese dari ileum berbentuk cair dan mengandung enzim pencernaan. Perawatan pasien ileostomi mempunyai beberapa kesamaan dengan perawatan pasien kolostomi. Perawatan pasien dengan ileostomi baru dilakukan oleh perawat yang berpengalaman. Perawatan rutin dapat dilakukan oleh asisten keperawatan. Drainese/keluaran bersifat sangat iritatif pada kulit, sehingga perawatan kulit disekitar stoma sangatlah diperlukan. Kesesuaian ukuran cincin ileostomi merupakan hal yang penting agar tidak terjadi kebocoran.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Proses Keperawatan (Pengkajian) 1. Pola Defikasi Frekwensi dan waktu defekasi klien sehari-hari, apakah berubah dari pola biasanya, apakah klien mengetahui faktor yg mempengaruhi 2. Pola prilaku Penggunaan enema, laxatif, cairan, dan metode lainnya untuk mempertahankan defekasi normal. Rutinitas apa yang klien lakukan untuk mempertahankan pola defekasi normal (mis: segelas juice lemon hangat ketika sarapan pagi)

2. Diet Makanan Apa yang klien percaya diet dapat mempengaruhi defekasi

3. Asupan cairan Jenis cairan dan berapa banyak jumlah cairan yg dikonsumsi setiap hari (air putih 6 gelas atau kopi berapa cangkir)

4. Olahraga Olahraga harian apa yg biasa dilakukan oleh klien

5. Pengobatan Apakah klien mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi saluran Gastrointesinal (mis: zat besi, antasid, analgesik narkotik)

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

6. Penyakit atau pembedahan Terkait apakah klien pernah mengalami pembedahan atau penyakit yang mempengaruhi saluran usus (apakah ada ostomi)

Pemeriksaan fisik( observasi, palpasi, perkusi, auskultasi) a. Distensi abdomen Distensi akan tampak sebagai suatu tonjolan abdomen secara menyeluruh dengan kulit tampak kencang dan tegang. Pada saat dipalpasi, abdomen terasa keras. b. Bising usus Auskultasi keempat kuadran abdomen selama 5-15 detik untuk menentukan derajat aktivitas atau frekuensi bising usus. c. Kaji area perianal dan anus Inspeksi adanya kelainan warna, inflamasi, jaringan parut, lesi, fisura, fistula atau hemoroid. d. Kaji adanya nyeri abdomen dan nyeri rektal. e. Kaji konsistensi dan warna feces : 1. Tentukan kapan klien BAB terakhir kali dan kaji jumlah, warna dan konsistensi feces, adanya distensi abdomen 2. Apakah klien memiliki kontrol sfingter yang baik 3. Apakah klien dapat menggunakan toilet atau pispot di tempat tidur

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Perencanaan Pemberian enema dapat didelegasikan, akan tetapi tanggung jawab ada ditangan perawat. Perawat harus menginterpretasikan ketidakmampuan memasukkan ujung alat enema (kanul) dan ketidakmampuan klien menahan cairan enema yang masuk.

Klien yang beresiko dalam eliminasi 1. Cairan dan serat dalam diet yang tidak cukup 2. Kurang berolah raga 3. Menggunakan obat-obat untuk konstipasi 4. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gas

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

STANDAR OPERASIONAL 1. Membantu klien menggunakan pispot PROSEDUR Menolong membuang air besar dengan menggunakan pispot merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien yang tidak mampu buang air besar secara sendiri dikamar kecil dengan cara menggunakan pispot (penampung) untuk buang air besar ditempat tidur, dengna tujuan memenuhi kebutuhan eliminasi alvi (BAB).

a. Persiapan alat-alat 1. Pispot yang bersih dan tutupnya 2. Tissue toilet dan botol cebok berisi air 3. Baskom berisi air, sabun, waslap dan handuk 4. Penyegar aerosol (pilihan) 5. Perlengkapan untuk mengumpulkan spesiment k/p 6. Sarung tangan disposable 7. Pengalas 8. Selimut mandi 9. Sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

b. Pelaksanaan 1. Jelaskan kepada pasien apa yg akan dilakukan, mengapa hal tersebut dilakukan dan diskusikan bagaimana pasien bisa bekerjasama 2. Cuci tangan dan pasang sarung tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang sesuai 3. Berikan privasi pasien 4. Pasang selimut mandi, buka pakaian bagian bawah, pasang penghalas 5. Pasng pispot untuk pasien yang dapat mengangkat bokong minta pasien memfleksikan lutut dan mengalihkan BB pd punggung dan tumit dan kemudian menaikkan bokong dengan menahan telapak tangan. 6. Bagi klien yang tidak dapat mengangkat bokong: 7. Bantu klien ke posisi miring, tempatkan pispot pd bokong, gulingkan bokong klien dengan tenang ke atas pispot 8. Tinggikan kepala tempat tidur ke posisi semi fowler, jika klien tidak mampu tempatkan sebuah bantak kecil dibawah punggung atau bantu pasien ke posisi nyaman lainnya 9. Naikkan pagar tempat tidur pastikan bel/ lampu panggil dapat berfungsi, tinggalkan pasien dalam keadaan aman

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

10. Setelah pasien selesai bersihkan dengan menyiram air dan keringkan dengan tisu kloset, kemudian miringkan pasien bersihkan bokong dan area anal dengan tisu, sabuni dan lap yang bersih dengan air kemudian keringkan 11. Mengangkat pispot:
12. Atur posisi tempat tidur dan klien ke posisi semula, angkat

pispot dengan cara yang sama dengan meletakkan, pegang pispot dengan satu tangan dan tutup, tempatkan diatas kursi 13. Tawarkan kepada pasien untuk keringkan 14. Membuka selimut mandi, dan angin-anginkan di rak handuk 15. Membuka gordyn / scherem, alat-alat dirapihkan dan perawat mencuci tangan 16. Mendokumentasikan pada catatan perawatan mencuci tangan dan

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

2. Enema adalah tindakan memasukkan larutan kedalam rektum dan kolon sigmoid

Fungsi adalah mengeluarkan feces dan atau flatus

Persiapan alat-alat : 1. Bantalan disposible / penghalas 2. Selimut mandi 3. Pispot atau commode 4. Sarung tangan disposible 5. Pelumas larut air 6. Handuk 7. Alat-alat untuk BAB (kalau pasien tidak bisa ke toilet) 8. Pada enema volume besar siapkan irigator lengkap dengan slang dan kanulnya serta klem larutan, jumlah dan suhu yang tepat, tiang infus 9. Pada enema volume kecil : wadah larutan enema kemasan dengan ujung slang yang sudah dilumasi

Pelaksanaan 1. Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan, alasan/ tujuan dan apa yang akan dirasakan pasien. 2. Mencuci tangan, pasang sarung tangan bersih dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang tepat. 3. Berikan privasi pasien

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4. Atur posisi pasien lateral kiri, dengan tungkai difleksikan dan pasang penghalas. 5. Beri pelumas pada kanul rektal sepanjang 5 cm dan alirkan sedikit cairan untuk mengeluarkan udara dan klem 6. Masukkan slang rectal : a. Untuk klien dalam posisi lateral kiri, angkat bagian atas bokong untuk memastikan visualisasi anus yang baik. b. Masukkan slang secara halus (perlahan-lahan) kedalam rektum, arahkan slang menuju umbilikus mengikuti kountur normal rektum sepanjang 7-10 cm c. Apabila ditemukan adanya tahanan di sfingter interna, minta klien untuk menarik nafas dalam, kemudian masukkan sejumlah kecil larutan untuk merelaksasi sfingter anal internal. d. Jangan pernah memaksa slang untuk masuk apabila tahanan tetap ada, tarik slang, bertanggung jawab. 7. Masukkan larutan enema ecara perlahan-lahan : a. Tinggikan wadah larutan, dan buka klem larutan mengalir. b. Tekan wadah yang lentur dengan menggunakan tangan. c. Selama pemberian enema tingkat rendah, pegang atau gantung wadah larutan tidak lebih tinggi dari 30 cm diatas rektum dan untuk enema tinggi tinggi gantung wadah setinggi 45 cm diatas rektum karena cairan dimasukkan lebih jauh untuk membersihkan seluruh usus. untuk membiarkan dan laporkan pada perawat yg

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

d. Berikan cairan secara perlahan-lahan, apabila klien merasa penuh ataun nyeri klem sekitar 30 detik dan kemudian buka klem untuk untuk melanjutkan. e. Apabila menggunakan wadah plastik komersial, gulung wadah tersebut keatas pada saat cairan dimasukkan untuk mencegah larutan terisap kedalam wadah tersebut. f. Setelah semua larutan dimasukkan atau jika klien tidak dapat menahan dan merasa sangat ingin defikasi / BAB tutup klem dan lepaskan slang rektal dari anus 8. Dorong klien untuk menahan enema : a. Minta klien untuk tetap berbaring b. Minta klien menahan larutan selama waktu yg sesuai (5-10 menit) untuk enema pembersih, 30 menit untuk enema retensi. 9. Bantu klien untuk defikasi sesuai dengan kebutuhan pasien di commode atau toilet bagi pasien yang tidak mampu untuk menahan langsung diberikan pispot untuk bab 10. Rapihkan alat-alat perawat cuci tangan 11. Dokumentasikan hasil enema pada catatan perawatan (tipe larutan, lama, jumlah, warna dan konsistensi cairan yang kembali dan

redanya distensi abdomen.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Enema glycerin Adalah memasukkan cairan melalui anus dengan menggunakan spuit glicerin kedalam kolon sigmoid

Tujuan : 1. Sebagai tujuan pengobatan 2. Merangsang buang air besar 3. Melunakkan Persiapan alat-alat 1. Selimut mandi atau kain penutup 2. Perlak dan penghalas 3. Spuit glicerin, bengkok 4. Glicerin dalam tempatnya yang direndam dalam air panas 5. Mangkok kecil 6. Pispot dan alat untuk cebok (botol cebok tissue closet, baskom 2 buah berisi air, waslap 2 buah, sabun 7. Handuk 8. sampiran

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Prosedur pelaksanaan 1. Jelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 2. Pasang sampiran 3. Pasang selimut mandi dan tarik selimut tidur 4. Lepas pakaian bagian Bawah 5. Atur posisi pasien : a. Dewasa miring kekiri dengan lutut kanan fleksi b. Bayi dan anak rekumbent dorsal dibawahnya diberi pispot 6. Pasang penghalas dan perlaknya 7.Teteskan glicerin pada punggung tangan untuk memeriksa

kehangatan, kemudian tuangkan ke mangkok kecil. 8. Isi spuit glicerin 10 20 ml dan keluarkan udara, letakkan bengkok diantara kedua paha 9. Setelah pasien berada pada posisi miring, mendorong bokong keatas sambil memasukkan spuit glicerin perlahan-lahan hingga ke rektum. 10. Masukkan spuit glicerin 7 10 cm o/ orang dewasa, 2,5 3,75 cm untuk bayi. 11. Masukkan glicerin perlahan-lahan sambil menganjurkan pasien tarik nafas panjang dan dalam. 12. Cabut spuit dan letakkan dalam bengkok. 13. Bantu pasien bab : a. Bantu pasien ke toilet untuk pasien yang bisa ke toilet b. Untuk pasien yang lemah dan tirah baring, pasang pispot

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

14. Angkat pispot,bersihkan daerah perianal : a. Bersihkan dengan tissue b. Ambil waslap dan bersihkan dengan air sabun c. Bilas dengan air bersih d. Keringkan dengan handuk 15. Bantu pasien mengenakan pakaian bawah 16. Tarik alas dan perlak 17. Ganti selimut mandi dengan selimut tidur 18. Buka sampiran 19. Rapikan alat-alat dan perawat cuci tangan 20. Dokumentasikan

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Menyiapkan fases untuk bahan pemerikasaan Menyiapkan fases untuk bahan pemeriksaan merupakan cara yang dilakukan untuk mengambil fases untuk bahan pmerikasaan, yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan) Pemeriksaan fases lengkap merupakan pemeriksaan fases yang terdiri atas pemeriksaan warna, bau, konstostensi, lendir, darah, dll. Pemeriksaan fases kultur merupakan pemerikasaan fases melalui biakan dengan cara toucher. Alat : 1. Tempat penampung atau botol penampung beserta penutup. 2. Etiket khusus. 3. Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil fases. Prosedur kerja. 1. Cuci tangan. 2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. 3. Anjurkan untuk buang air besar lalu ambil fases melalui lidi kapas yang telah dikeluarkan. Setelah selesai anjurkan untuk membersihkan daerah anus. 4. Asupan bahan pemeriksaan ke dalam botol yang telah disediakan. 5. Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

6. Cuci tangan.

Tindakan Huknah Tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan ke dalam rectum dan colon sigmoid. Pemberian melalui slang rectal dengan wadah enema pada enema rendah dan enema tinggi.

Persiapan alat 1. Wadah enema (huknah) 2. Volume larutan hangat : a. Dewasa : 700 - 1000ml, dengan suhu 40,5 - 43C b. Anak anak c. Bayi : 150 - 250ml d. Usia bermain (toddler) : 250 - 350ml e. Usia sekolah : 300 - 500ml f. Remaja : 500-700

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Catatan : Suhu cairan yang digunakan untuk anak-anak adalah 37,7C,sedang untuk dewasa dihangatkan 40,5-43C 3. Slang rectal dengann ujung bulat : a. Dewasa : No.22-30 G French(fr) b. Anak anak : No.12-18 fr 4. Slang menghubungkan slang rectal ke wadah (slang irrigator) 5. Klem pengatur pada slang 6. Termometer air untuk mengukur suhu larutan 7. Pelumas lautan dalam air 8. Perlak pengalas 9. Selimut mandi 10. Kertas toilet 11. Pispot 12. Baskom, waslap dan handuk, serta sabun 13. Sarung tangan sekali pakai 14. Tiang intravena 15. Cuping

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

16. Desinfektan

Persiapan alat pada enema bilas harris (enema arus balik) 1. Wadah enema 2. Slang enema dan klem 3. Pelumas 4. Tutup Troli 5. Perlak 6. Tisu toilet 7. Larutan : 500ml ledeng dengan suhu 105C 8. Sarung tangan sekali pakai Persiapan pasien 1. Mengucapkan salam terapiutik 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan pad aklien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan 4. Membuat kontak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan) 5. Selama komunikansi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam 6. Klien atau keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klasifikasi 7. Memperlihatkan kesabaran, punuh empati, sopan, dan perhatian serat respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan 8. Pasien disiapkan dlam posisi yang sesuai

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Persiapan lingkungan 1. Ruangan terutup 2. Pastikan semua jendela atau pintu dakam keadaan tertutup agar privasi terjaga. 3. Pasang sekat atau sampiran 4. Gunakan selimut untuk melindungi daerah privasi pasien

Prosedur pelaksanaan Penatalaksanaan cleansing enema yang terdiri dari low enema (huknah rendah) dan high enema (huknah tinggi), diantaranya : 1. Jelaskan prosedur kepada klien. Mengurangi ansietas klien dan meningkatkan kerja sama prosedur. 2. Tutup ruangan / tirai. Memberikan privasi pada klien. 3. Bantu klien untuk pada posisi miring ke kiri (lateral kiri) untuk huknah rendah dan miring ke kanan untuk huknah tinggi dengan lutut kanan fleksi. Persiapan alat untuk huknah gliserin 1. Selimut mandi atau kain penutup

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

2. Perlak atau pengalas 3. Spuit gliserin 4. Bengkok 5. Gliserin dalam tempatnya yang direndam air panas 6. Mangkok kecil 7. Pispot 8. Sampiran 9. Tisu 10. Waslap 2 buah 11. Baskom 2 buah 12. Handuk serta sabun

Pemeberian melalui kemasan sekali pakai ( enema retensi minyak ) 1. Batang dengan ujung slang rectal 2. Sarung tangan sekali pakai 3. Pelumas larut dalam air 4. Perlak pengalas 5. Selimut mandi 6. Kertas Toilet 7. Pispot 8. Baskom 9. Waslap dan handuk, serta sabun

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Biasanya ditempatkan pada posisi rekumben dorsal. Posisikan klien dengan sedikit control sfingter pada pispot. Memungkinkan larutan enema mengalir kebawah dengan bantuan gravitasi sepanjang lengkung natural kolon sigmoid rectum, sehingga memperbaiki retensi larutan (klien dengan control sfingter buruk tidak akan mampu menahan larutan enema). 4. Letakkan perlak pengalas dibawah pantat klien Agar linen tempat tidur tidak basah 5. Selimut butuh dan ekstrimitas bawah klien dengan selimut mandi, biarkan hanya anal yang kelihatan. Mencegah pemajanan bagian tubuh yang tidak perlu dan mengurangi rasa malu klien.
6. Susun wadah enema, hubungkan slang, klem, dan selang rectal.

Slang rectal harus cukup kecil untuk diameter anus klien, tetapi cukup besar untuk mencegah kebocoran disekitar slang. 7. Tutup klem pengatur Mencegah kehilangan larutan awal saat ditambah ke wadah 8. Tambahkan larutan hangat kedalam wadah. Hangatkan air seperti layaknya mengalir dari kran. Letakkan wadah salin normal dalam baskom kedalam baskom air panas sebelum menuangkan salin normal

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

dalam baskom kedalam wadah enema. Periksa suhu larutan dengan thermometer air atau dengan meneteskan sedikit larutan diatas pergelangan tangan sebelah dalam. Air panas dapat membakar mukosa usus sedangkan air dingin dapat menyebabkan karam abdomen dan sulit menahan air. 9. Bilas wadah, isis dengan larutan, lepaskan klem, dan biarkan larutan keluar sampai tak ada udara. Tempatkan dekat dengan unit tempat tidur untuk memenuhi slang. Klem kembali slang. Membuang udara dari dalam slang dan mencegah kehilangan cairan. 10. Letakkan pispot dekat dengan tempat tidur. Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema. 11. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. Mengurangi transmisi mikro organisme 12. Beri pelumas 3-4 cm pada ujung slang rectal dengan pelumas jeli. Memungkinkan insersi halus slang tanpa resiko iritasi atau trauma pada mukosa rectal 13. Alirkan sebagian kecil cairan keluar, sepanjang slang rectal untuk mengeluarkan udara dalam slang. Kemudian tutup kembali klem.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

14. Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instrusikan klien untuk rileks dengan menghembuskan nafas pada perlahan melalui mulut. Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat. 15. Masukkan ujung slang rectal secara perlahan dengan mengarahkanny ke umbilicus klien. Panjang insersi beragam ; 7,4-10 cm untuk orang dewasa, 5-7,5 cm untuk anak-anak, dan 2,5-3,25 cm untuk bayi. Tarik slang dengan segera, jika ditemukan obstruksi. Insersia hati-hati mencegah trauma pada mukosa rectal akibat penusukan slang secara tidak sengaja pada dinding. Insersi yang melebihi batas dapat menyebabkan perforasi usus. 16. Terus pegang slang sampai pengisian cairan berakhir. Kontraksi otot dapat menyebabkan ekspultasi rectal. 17. Buka klem pengatur dan biarkan larutan masuk dengan perlahan dengan wadah pada setinngi pinggul klien. Penginfusan cepat dapat merangsang evakuasi dini, sebelum volume yang cukup dapat diinfuskan. 18. Naikkan wadah secara perlahan sampai pada ketinggian diatas anus (30-45 cm untuk ketinggian enema tinggi, 30 cm untuk enema rendah,

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

dan 7,5 cm untuk bayi). Waktu pengaliran sesuai dengan pemberian volume larutan (missal,1 liter dalam 10 menit). Memungkinkan penginfusan perlahan terus-menerus, sebelum volume yang cukup diinfuskan. Jika wadah dinaikkan terlalu tinggi, tetesan infuse akan cepat dan memungkinkan akan nyeri akibat detensi kolon. 19. Rendahkan wadah atau klem slang selama 30 detik, kemudian alirkan kembali secara lebih lambat jika klien mengeluh kram. Penghentian sementara penginfusan adalah untk mencegah kram. Kram dapat menghambat klien menaahan semua cairan. 20. Klem slang setelah semua larutan dialirkan. Mencegah masuknya udara kedalalm rectum. 21. Letakkan lapisan tisu toilet disekitar slang pada anus dan dengan perlahan tarik slang. Memberikan kenyamanan pada klien dan kebersihan. 22. Jelaskan pada klien bahwa prasaan distensi adalah normal. Minta klien untuk menahan larutan selama mungkin saat berbaring ditempat tidur (untuk bayi atau anak kaci, dengan perlahan pegang kedua sisi pantat selama beberapa menit). Larutan akan mendesak usus. Lamanya retensi beragam dengan tipe enema dan kemampuan klien untuk mengontruksi sfingter ani. Makin

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

ditahan, perangsangan peristaltic dan defakasi akan lebih efektif (bayi dan anak-anak mempunyai control sfingter yang buruk). 23. Bereskan wadah enema dan sleng pada tempat yang telah disediakan atau cuci secara menyeluruh dengan air hangat dan sabun bila akan digunakan ulang. Mengontrol transmisi mikro organisme. 24. Lepaskan sarung tangan dengan cara menariknya hingga terbalik dan taruh ke dalam wadah yang telah disediakan. Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi. 25. Bantu klien ke kamar mandi atau mengatur posisi pispot. Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi. 26. Observasi feses dan larutan (peringatkan klien agar jaringan menyiram toilet sebelum perawat menginspeksi). Jika enema diinstruksikan sampai bersih, penting untuk

mengobservasi isi larutan yang dikeluarkan. 27. Bantu klien sesuai kebutuhan untuk mencuci area anal dengan air hangat dan sabun. Isi fases dapat mengiritasi kulit. Kebersihan meningkatkan

kenyamanan klien.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

28. Cuci tangan anda catat hasil enema pada catatan perawat.

Penatalaksanaan huknah gliserin : 1. Jelaskan tujuan dan proseedur pelaksaan. 2. Pasang sampiran. 3. Pasang selimut mandi dan tarik selimut tidur. 4. Lepas pakaian bagian bawah. 5. Atur posisi pasien :
a. Dewasa : miring kekiri dengan lutut kanan fleksi b. Bayi dan anak : rekumben dorsal dibawahnya diberi pispot

6. Pasang alat dan perlaknya. 7. Teteskan gliserin pada punggung tangan untuk memeriksa kehangatan kemudian tuangkan mangkok kecil. 8. Isi spuit gliserin 10 20 cc dan keluarkan udara. 9. Setelah pasien berada pada posisi miring, tangan kiri dan kanan mendorong pantat ke atas sambil memasukkan spuit perlahan-lahan hingga rectum. 10. Masukkan spuit gliserin 7-10 cm untuk orang dewasa dan 5-7,5 cm untuk anak serta 2,5-3,75 cm untuk bayi. 11. Masukkan gliserin perlahan-lahan sambil menganjurkan pasien untuk menarik napas panjang dan dalam. 12. Cabut spuit dan letakkan dalam bengkok.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

13. Bantu pasien BAB : a. Bantu pasien ke toilet untuk pasien yang bisa ke toilet b. Untuk pasien dengan keadaan umum yang lemah dengan tirah baring, pasang pispot 14. Ambil pispot 15. Bersihkan daerah perianal pada pasien yang buang air besar pada pispot : a. Bersihkan dengan tisu b. Ambil waslap dan bersihkan dengan air sabun pada daerah perianal c. Bilas dengan air bersih d. Keringkan dengan handuk 16. Tarik alas dan perlak. 17. Ganti selimut mandi dan selimut tidur. 18. Bantu pasien mengenakan pakaian bawah. 19. Buka sampiran . 20. Rapikan alat kemudian cuci tangan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

21.

Dokumentasikan warna dan konsistensi fases, adanya distensi

abdomen.

Penatalaksanaan enema dengan unit sekali pakai (enema retensi minyak). 1. Ikuti langkah 1 sampai 5 slang rectal dengan wadah enema. 2. Letakkan pispot dekat tempat tidur. Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema 3. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. Mengurangi transmisi mikroorganisme 4. Kenakan sarung tangan sekali pakai. Menurunkan transmisi mikroorganisme dari feses 5. Lepaskan kap plastik dari ujung rectal. Meskipun ujung sudah berpelumas, jeli tambahan dapat diberikan sesuai kebutuhan. Pelumas memudahkan insersi slang rectal tanpa menyebabkan iritasi atau trauma pada rectal 6. Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instruksikan klien untuk rileks dengan menghembuskan napas pada perlahan melalui mulut.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat 7. Masukan ujung botol secara perlahan kedalam rectum. Masuknya sejauh 7,5 9 cm untuk orang dewasa (anak-anak dan bayi biasanya tidak mendapat enema hipertonik perkemasan). Insersi perlahan mencegah trauma pada mukosa rectal 8. Peras botol sampai semua larutan telah masuk rectum dan kolon. (kebanyakan botol mengandung kurang lebih 250ml larutan). Larutan hipertonik memrlukan hanya sedikit volume untuk merangsang defekasi 9. Ikuti langkah 20 sampai 27 slang rectal dengan wadah enema sebelumnya Penatalaksanaan Enema bilas harris (enema arus balik) 1. Jelaskan tujuan dan prosedur kepada klien. 2. Pasang sampiran. 3. Tuanglah larutan kedalam wadah plastik dan tutupi wadah tersebut. Bawa Troli kesisi tempat tidur. 4. Letakkan perlak dibwah pasien. 5. Tempatkan pelumas diatas tisu. Oleskan pelumas tersebut pada ujung slang enema. 6. Alirkan sedikit air didalam slang untuk mengeluarkan udara. 7. Pakai sarung tangan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

8. Masukkan slang ke dalam rectum sepanjang 10 cm. 9. Lakukan bilas harris sebagai berikut untuk mempengaruhi peristaltik :
a. Buka klem, naikkan kaleng irigasi setinggi 30 45 cm diatas panggul

pasien alirkan 200 ml cairan di atas rectum.


b. Turunkan kaleng irigasi sekitar 30 cm dibawah tempat tidur dan biarkan air mengalir keluar dari rectum ke dalam kaleng.

10. Lanjutkan prosedur gas keluar. Jika semua cairan telah kembali ke luar, klem slang tersebut dan amgkat. 11. Angkat penutup tempat tidut. 12. Kembalikan troli ke ruang peralatan. Buang isi kaleng, bersihkan peralatan pada enema biasa. Lepas sarung tangan dan buang dengan benar. 13. Dokumentasikan waktu adanya distensi abdomen dan reaksi pasien.

Hal hal yang perlu diperhatikan : 1. Penggunaan enema yang tidak benar dapat menyebabkan

terganggunyakeseimbangan elektrolit tubuh. 2. Pemberian enema berulang dapat membuat perlakuan pada jaringan kolon. 3. Tindakan enema tidak dapat diberikan selagi adanya nyeri perut yang belum dikethui penyebabnya.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4. Peristaltik usus dapat menyebabkan peradangan apendiks hingga pecahnya apendiks.

Melakukan Perawatan Stoma Rutin (Colostomy) Alat dan Bahan :


1. 2.

Kantong Colostomy Bak instumen, terdiri atas : a. Pinset anatomi b. Pinset cirugis c. Kom kecil d. Gunting
e. Kapas

f. Kasa steril g. NaCl h. Zink salp bila diperlukan i. j. Sarung tangan Bengkok

k. Perlak l. Kantong plastic dan tempat sampah

Prosedur Pelaksanaan : 1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

2. Dekatkan alat kedekat pasien. 3. Pasang tirai atau sketsel untuk menjaga privasi pasien. 4. Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi. 5. Mengatur posisi pasien ( supinasi ). 6. Pasang perlak disisi kanan atau kiri sesuai letak stoma. 7. Letakkan bengkok didekat klien. 8. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. 9. Mengobservasi produksi stoma ( warna dan konsistensinya ). 10. Membuka kantong kolostomy perlahan dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien. Buang kantong kolostomi pada kantong plastik yang sudah tersedia. 11. Membersihkan dengan perlahan daerah disekitar stoma dengan tisu toilet menggunakan NaCl atau air hangat, hindari terjadinya

pendarahan. 12. Mengeringkan kulit sekitar stoma dengan kasa steril. 13. observasi stoma dan kulit disekitar stoma. 14. Memberikan salep jika terjadi iritasi pada kulit sekitar stoma. 15. Mengukur kantong stoma dan membuat kantong kolostomy sesuai ukuran stoma. 16. masukkan stoma melalui lobang kantong kolostomy. 17. Lepas dan buang sarung tangan dengan tepat.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

18. Ganti selimut mandi dengan selimut tempat tidur buat pasien merasa nyaman 19. Bereskan peralatan. 20. Cuci tangan 21. dokumentasikan

Perawatan Pasien Ileostomi Ileostomi adalah bukaan buatan permanent pada ileum, seperti pada kolostomi, bukaan atau stoma berada dipermukaan dinding abdomen. Drainese dari ileum berbentuk cair dan mengandung enzim

pencernaan. Perawatan Rutin Ileostomi (Pasien berada ditempat tidur) 1. Lakukan semua tindakan awal prosedur. 2. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien dan memberi privasi. 3. Siapkan peralatan yang diperlukan : a. Baskom berisi air hangat b. Perlak c. Selimut mandi d. Bedpan e. Sarung tangan sekali pakai

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

f. Appliance (kantong) baru dan sabuk g. Klem kantong h. Peralut yang diserapkan & pipet i. Bola kapas j. Deodoran k. Zat pembersih l. Cincin karaya m. Kasa segi empat 44 n. Tisu toilet o. Handuk kertas 4. Pasang penghalang tempat tidur untuk keselamatan. Tinggikan kepala tempat tidur danbantu pasien untuk miring kearah anda. 5. Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi. 6. Letakkan perlak dibawah pasien. 7. Pakai sarung tangan sekali pakai 8. Letakkan bedpan diatas perlak dibelakang pasien. 9. Letakkan ujung kantong ileostomi didalam bedpan. Buka klem dan biarkan keluar. Catat jumlah dan karakter drainase. 10. Bersihkan ujung kantong drainase dengan tisu toilet dan keluarkan isinya. Letakkan tisu didalam bedpan, tutupi bedpan. 11. Lepaskan sabuk dari kantongnya dan lepaskan dari tubuh pasien.taruh diatas handuk kertas 12. Dengan pipet, teteskan sedikit pelarut disekitar cincin kantong. Pelarut ini akan melonggarkannya sehingga dapat dilepas. Tunggu beberapa detik jangan paksakan melepas kantong tsb. 13. Tutup stoms dengan kasa :
a. Inspeksi kulit disekitar stoma dengan cermat

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta b. Jika daerah tersebut mengalami iritasi atau luka tutupi pasien dengan selimut mandi, pasang penghalang tempat tidur dan turunkan tempat tidur c. Lepas sarung tangan dan buang dengan tepat d. Cuci tangan anda e. Laporkan pada perawat untuk meminta instruksi.

14. Dengan hati hati bersihkan dearah sekitar stoma dengan bola kapas. Gunakan larutan pembersih yang direkomendasikan, keringkan dengan perlahan. 15. Angkat kasa dari stoma dan letakkan diatas handuk kertas. 16. jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, basahi cincin tersebut, biarkan menjadi lengket dan pasang pada stoma. Jika kantong tersebut mengunakan strip perekat berlapis kertas disekitar bukaan stoma, lepaskan bagian kertasnya dan pasang disekeliling stoma. 17. Klem kantong tersebut, tambahkan deodoran dan pasang cincinnya 18. Atur letak sabuk mengelilingi tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya. 19. Ambil bedpan yang tertutup dan letakkan diatas kursi diatas handuk kertas 20. Angkat perlak dan letakkan diatas bedpan : a. Periksa sprei bagian bawah untuk memastikan bahwa bagian tersebut dalam keadaan kering b. Ganti jika perlu
21. Ganti selimut mandi dengan selimut tempat tidur

22. Kumpulkan peralatan yang kotor dan bedpan : a. Bawa keruang peralatan

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

b. Buang sesuai ketentuan yang berlaku c. Jika sabuk dan kantongnya dapat digunakan kmbali, cuci dan biarkan mongering.
23. Kosongkan, cuci dan keringkan bedpan, kembali kekamar pasien.

24. Lepas dan buang sarung tangan dengan tepat. 25. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan tanggal, waktu, perawatan ileostomi, karakter dan jumlah drainase yang keluar dan raeksi pasien.

PERAWATAN RUTIN ILEOSTOMI (di kamar mandi) 1. Lakukan semua tindakan awal prosedur 2. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien, dan memberi privasi. 3. Siapkan peralatan yang diperlukan : a. Sarung tangan sekali pakai b. Kantong (appliance) baru dan sabuk pengikatnya c. Selimut mandi d. Klem kantong e. Bola kapas f. Pelarut dan pipet

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

g. Deodoran h. Zat pembersih i. Cincin karaya j. Kasa segi empat 4 x 4 k. Handuk kertas 4. Bawa peralatan ke kamar mandi pasien 5. Bantu pasien memakai sandal dan mantel mandinya 6. Bantu pasien ke kamar mandi. Posisikan ke toilet 7. Letakkan selimut mandi di atas kaki pasien. Naikkan baju dan gulung sampai ke pinggang, buka kantongnya. Beritahu pasien untuk membuka kakinya. 8. Pakai sarung tangan. Buka kantong ileostomi, arahkan ke toilet 9. Dengan pipet teteskan sedikit pelarut disekitar cincin karaya untuk melonggarkan dari kulit. Jangan menekan kulit untuk melepaskan cincin 10. Tutupi stoma dengan spons kasa untuk mengumpulkan drainase. 11. Bersihkan daerah sekitar stoma dengan bola kapas serta air hangat dan sabun atau zat pembersih (jika daerah kulit luka, tanyakan padad perawat tentang instrusinya). Tepuk-tepuk hinnga kering daerah tersebut 12. Angkat kasa dari stoma dan letakkan pada handuk kertas 13. Jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, biarkan cincin tersebut menjadi lengket dan tempelkan pada stoma. Jika kantong memakai strip adesif bertutup kertas, lepaskan kertas tersebut dan tempelkan disekeliling stoma. 14. Klem kantong tersebut dan pasang pada cincinnya 15. Lepas dan buang sarung tangan dengan benar

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

16. Atur sabuk pengikat yang bersih disekeliling tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya 17. Angkat selimut mandi dan bantu pasien untuk mencuci tangan dan kembali ke tempat tidur. 18. Bersihkan kamar mandi pasien. Cuci sabuk pengikat dan peralatan jika dapat digunakan kembali, dan biarkan sampai kering 19. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan tanggal, waktu perawatan ileostomi, tipe dan jumlah drainase yang keluar, dan reaksi pasien.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

TUGAS

1. Fungsi colon untuk................. 1. Absorbsi air dan nutrient 2. Proteksi/perlindungan dengan mensekresikan mucus yang akan melindungi dinding usus dari trauma oleh feces dan aktifitas bakteri 3. Mengantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan cara berkontraksi 4. Menyimpan makanan 2. Faktor yang mempengaruhi defekasi adalah.................. 1. Diit 2. Cairan 3. Aktivitas

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

4. Factor psikologis 3. Masalah-masalah yang mempengaruhi defekasi.................... 1. Konstipasi 2. Fecal impaction 3. Diare 4. kembung 4. Klien yang beresiko dalam eliminasi........... 1. Konsumsi makanan yang mengandung banyak serat 2. Kurang olahraga 3. Banyak minum air putih 4. Konsumsi makanan yang banyak mengandung gas

5. Suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan2 lingkungan internal dan external unutk mempertahankan keadaan kesejahteraannya disebut 1. Sakit. 2. Sejahtera. 3. Homeostasis 4. Sehat.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Karakteristik sehat( WHO ) menurut Edelman dan Mendle adalah.. 1. Memperhatikan manusia sebagai sistem yang menyeluruh. 2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lengkungan internal dan external. 3. Penghargaan terhadap petinganya peran individu dalam hidup. 4. Menghargai manusia sebagai mahluk sosial. 7. Sehat sebagai totalitas dari seluruh proses kehidupan manusia termasuk memandang sakit sebagai sebuah proses menurut.
a. Newman b. Abraham Maslow

c. W.H.O d. Florence e. Calista Roy 8. Yang termasuk lingkungan eksternal adalah................... 1. Variabel lingkungan fisik 2. Variabel lingkungan psikologis 3. Hubungan social dan ekonomi 4. Proses penyakit.

9. Lingkungan internal terdiri dari berbagai factor..................... 1. Psikologis. 2. Dimensi intelektual dan spiritual. 3. Proses penyakit 4. Sosial ekonomi

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

10. Prilaku sehat yang positif dapat berupa............ 1. Imunisasi. 2. Pola tidur yang sehat. 3. Olah raga yang adekwat 4. Nutrisi yang adekwat.

KRITERIA KEBERHASILAN

Kunci Jawaban :
1. A 2. B 3. D 4. A 5. E 6. D 7. E 8. D 9.D 10. B

Tingkat penguasaan =

Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal

100%

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

NILAI

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

TOPIK DISKUSI
Diskusikan dengan kelompok Anda hal-hal berikut: Coba lakukan macam-macam cara enema sesuai dengan materi yang telah dijelaskan diawal.

Selamat Berdiskusi

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

laporan hasil
1. Tuliskan hasil praktikum macam-macam cara enema yang telah didemonstrasikan

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

REFLEKSI DIRI
1. Kendala apa saja yang ditemukan. ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... 2. Bagian yang paling berkesan selama melakukan kegiatan. ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... 3. Apa yang dapat Anda kembangkan setelah menyelesaiakan job sheet ini. ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ...................................................................................................................

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Aziz.2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. ECG:Jakarta Iqbal Mubarak, Wahit. 2007. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:EGC Kusyati,eni.2006, Keterampilan Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC dan Prosedur Laboratorium

Perry,potter.2005. Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Jakarta : EGC Perry,Peterson,Potter. 2005. Keterampilan dan Prosedur Dasar. Eds 5 jakarta : EGC Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533. Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87 Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan. Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 7680

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296

Job Sheet

MODUL PR AKTIKU M
Akademi Keperawatan Harum Jakarta

Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136. Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63 Tarwoto.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses keperawatan. Jakarta:Salemba Medika.

Akademi Keperawatan Harum Jakarta

296