Anda di halaman 1dari 88

Undang-Undang Narkotik dan Psikotropik

Oleh : Ahmad Rafqi, S.Si., Apt Balai Pengawas Obat dan Makanan di Batam 23 Mei 2011
1

DASAR HUKUM (Cont..)


1. UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika 2. UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika 3. UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 4. Ordonansi tentang obat keras (St. No. 419) Th 1942 5. PP No 1 Tahun 1980 tentang Ketentuan Penanaman Papaver, koka, dan Ganja (Lembaran Negara RI Tahun 1980 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3155) 6. PP No. 72 Tahun 1988 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. 7. PP 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian 8. Kep Pres No 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Non Departemen sebagaimana telah diubah beberapa kali dan yang terakhir dengan Kep Pres No 9 Tahun 2004 9. Per Men Kes No. 28/Menkes/ Per/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. 10.Per Men Kes No. 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi. 11.Kep Men Kes No. 1191/Menkes/Sk/Ix/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 918/Menkes/Per/X/1993 Tentang Pedagang Besar Farmasi 12.Per Men Kes No. 688/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Peredaran Psikotropika 13.Per Men Kes No. 690/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Label dan Iklan Psikotropika 14.Per Men Kes No. 785/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Ekspor dan Impor Psikotropika
2

DASAR HUKUM (Cont..)


15. Per Men Kes No. 912/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Kebutuhan Tahunan dan Pelaporan Psikotropika
16.Per Men Kes No.168/Menkes/Per/II/2005 tentang Prekursor Farmasi 17.Kep Men Kes No. 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan 18.Kep Men Kes No. 1191/MENKES/SK/IX/2002 tentang Perubahan atas Per Men Kes No. 918/MENKES/PER/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi 19.Kep Men Kes No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Per Men Kes No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik 20.Kep Men Kes No. 305/MENKES/SK/III/2008 tentang Penetapan RS Pengampu dan Satelit PTRM

21.Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.3.02152 tahun 2002 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik .
22.Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.35.02771 tahun 2002 tentang Pemantauan dan Pengawasan Prekursor 23.Kep Ka Badan POM Nomor: PO.01.01.31.03660 tahun 2002 tentang Pengaturan Khusus Penyaluran dan Penyerahan Buprenorfin 24.Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.3.2522 tahun 2003 tentang Pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)
3

Badan Pengawas Obat dan Makanan

PETA MASALAH PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA & PSIKOTROPIKA


PENGGUNAAN PENGOBATAN
NARKO/PSIKO GOL II, III, IV (LISIT)

REAL DEMAND

NARKO/PSIKO GOL I (ILLISIT)

CREATING DEMAND

PENYALAHGUNAAN

NILAI SOSBUD HAN KELUARGA

SUPPLY

DEMAND

IMPLIKASI KES,SOS & KAM

UU no. 22/1997 NARKOTIKA

UU No. 35/2009 NARKOTIKA


5

POKOK PERUBAHAN UU No. 35/2009


1. Pengawasan Narkotika dan Prekursor

Narkotika 2. Perubahan penggolongan Narkotika 3. Perkuatan sanksi 4. Perubahan kelembagaan BNN

BAB I KETENTUAN UMUM


DEFINISI NARKOTIKA Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang ini.

(UU No.35/2009)

Menteri menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No.35/2009, Pasal 9 (1)

BAB II DASAR, ASAS DAN TUJUAN


Asas : keadilan, pengayoman , kemanusiaan, ketertiban,

perlindungan, keamanan, nilai-nilai ilmiah, dan kepastian hukum Tujuan :


a. menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; b. mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika; c. memberantas peredaran gelap Narkotika dan PrekursorNarkotika; dan d. menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi Penyalah Guna dan pecandu Narkotika.

BAB III RUANG LINGKUP


Ruang Lingkup pengaturan Narkotika ini adalah segala bentuk kegiatan

dan/ atau perbuatan yang berhubungan dengan narkotika dan prekursor narkotika Narkotika digolongkan ke dalam : a. Narkotika golongan I b. Narkotika golongan II c. Narkotika golongan III Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Narkotika golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan Dalam jumlah terbatas narkotika golongan I dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologidan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala BadanPengawas Obat dan Makanan. 9

BAB IV PENGADAAN
Bagian I .. Rencana Kebutuhan Tahunan
Menkes mengupayakan tersedianya narkotika untuk kepentingan

pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan Untuk keperluan tersedianya narkotika Menkes menyusun rencana kebutuhan narkotika setiap tahun Rencana kebutuhan narkotika menjadi pedoman pengadaan, pengendalian dan pengawasan narkotika secara nasional Narkotika untuk kebutuhan dalam negeri diperoleh dari impor, produksi dalam negeri, dan/atau sumber lain dengan berpedoman pada rencana kebutuhan tahunan Narkotika. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan rencana kebutuhan tahunan Narkotika sebagaimana dimaksud dan kebutuhan Narkotika dalam negeri sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Menteri.

10

Bagian kedua Produksi............


(1) Menteri memberi izin khusus untuk memproduksi Narkotika
kepada Industri Farmasi tertentu yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah dilakukan audit oleh BPOM . (2) Menteri melakukan pengendalian terhadap produksi Narkotika sesuai dengan rencana kebutuhan tahunan Narkotika (3) Badan Pengawas Obat dan Makanan melakukan pengawasan terhadap bahan baku, proses produksi, dan hasil akhir dari produksi Narkotika sesuai dengan rencana kebutuhan tahunan Narkotika (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin dan pengendalian sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan

11

Lanjutan bagian kedua ....


Narkotika golongan I dilarang diproduksi dan/ atau digunakan dalam

proses produksi, kec. dlm jlh terbatas untuk kepentingan pengembangan IPTEK Pengawasan produksi Narkotika Golongan I untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan produksi dan/atau penggunaan dalam produksi dengan jumlah yang sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Menteri.

12

Bagian Ketiga.. Narkotika untuk Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi


Lembaga ilmu pengetahuan yang berupa lembaga pendidikan dan

pelatihan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta dapat memperoleh, menanam, menyimpan, dan menggunakan Narkotika untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi setelah mendapatkan izin Menteri. Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara untuk mendapatkan izin dan penggunaan Narkotika sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Menteri.

13

Bagian Keempat... Penyimpanan dan Pelaporan


Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan

masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus. Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada dalam penguasaannya. Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dan/atau ketentuan mengenai pelaporan dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa: a. teguran; b. peringatan . . . b. peringatan; c. denda administratif; d. penghentian sementara kegiatan; atau e. pencabutan izin.
14

BAB V IMPOR DAN EKSPOR

Bagian Kesatu .....Izin Khusus dan Surat Persetujuan Impor Menteri memberi izin kepada 1 (satu) PBF milik negara yang telah memiliki izin sebagai importir sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan untuk melaksanakan impor Narkotika. Dalam keadaan tertentu, Menteri dapat memberi izin kepada perusahaan lain dari perusahaan milik negara yang memiliki izin sebagai importir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk melaksanakan impor Narkotika. Importir Narkotika harus memiliki Surat Persetujuan Impor dari Menteri untuk setiap kali melakukan impor Narkotika. Surat Persetujuan Impor Narkotika diberikan berdasarkan hasil audit Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan terhadap rencana kebutuhan dan realisasi produksi dan/atau penggunaan Narkotika. Surat Persetujuan Impor Narkotika Golongan I dalam jumlah yang sangat terbatas hanya dapat diberikan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Surat Persetujuan Impor disampaikan kepada pemerintah negara pengekspor.
15

Bagian kedua... Izin Khusus dan Surat Persetujuan Ekspor


Menteri memberi izin kepada 1 (satu) perusahaan PBF milik negara

yang telah memiliki izin sebagai eksportir sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan untuk melaksanakan ekspor Narkotika. Dalam keadaan tertentu, Menteri dapat memberi izin kepada perusahaan lain dari perusahaan milik negara yang memiliki izin sebagai eksportir untuk melaksanakan ekspor Narkotika. Eksportir Narkotika harus memiliki Surat Persetujuan Ekspor dari Menteri untuk setiap kali melakukan ekspor Narkotika. Untuk memperoleh Surat Persetujuan Ekspor Narkotika, pemohon harus melampirkan surat persetujuan dari negara pengimpor. Impor dan ekspor Narkotika dan Prekursor Narkotika hanya dilakukan melalui kawasan pabean tertentu yang dibuka untuk perdagangan luar negeri
16

Bagian Ketiga.... Pengangkutan


Setiap pengangkutan impor Narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen atau surat persetujuan ekspor Narkotika yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di negara pengekspor dan Surat Persetujuan Impor Narkotika yang dikeluarkan oleh Menteri.

Setiap pengangkutan ekspor Narkotika wajib dilengkapi dengan Surat Persetujuan Ekspor Narkotika yang dikeluarkan oleh Menteri dan dokumen atau surat persetujuan impor Narkotika yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di negara pengimpor. Narkotika yg diangkut harus disimpan dalam kemasan khusus atau ditempat aman didlm kapal dgn disegel oleh nahkoda dengan disaksikan pengirim Nahkoda membuat berita acara ttg muatan narkotika yg diangkut Nahkoda dlm waktu paling lama 24 jam setelah tiba dipelabuhan wajib melaporkan narkotika yg dimuat dlm kapalnya kepada Kepala Kantor Pabean setempat Pembongkaran muatan narkotika dilakukan dlm kesempatan pertama oleh nahkoda dgn disaksikan oleh pejabat Bea dan Cukai Ketentuan ini berlaku pula bagi kapten penerbang untuk pengangkutan udara

17

Bagian keempat ... Transito


Transito narkotika harus dilengkapi dgn dokumen persetujuan ekspor

narkotika yg sah dari pemerintah pengekspor dan dokumen persetujuan impor narkotika yg sah dari pemerintah negara pengekspor dan pengimpor
persetujuan impor narkotika sekurang-kurangnya memuat keterangan tentang: a. Nama dan alamat pengekspor dan pengimpor narkotika b. Jenis, bentuk dan jumlah narkotika dan c. Negara tujuan ekspor narkotika

Dokumen persetujuan ekspor narkotika dari pengekspor dan dokumen

Setiap perubahan negar tujuan ekspor narkotika pada transito

narkotika hanya dapat dilakukan setelah adanya persetujuan dari: a. Pemerintah negara pengekspor narkotika b. Pemerintah negara pengimpor atau tujuan semula ekspor narkotika; dan c. Pemerintah negara tujuan perubahan ekspor narkotika
18

Pengemasan kembali narkotika pada transito narkotika hanya dpt

dilakukan terhadap kemasan asli narkotika yg mengalami kerusakan dan harus dilakukan dibawah tanggung jawab pengawasan Pejabat Bea dan Cukai Bagian Kelima ... Pemeriksaan Pemerintah melakukan pemeriksaan atas kelengkapan dokumen impor, ekspor, dan/atau Transito Narkotika. Importir Narkotika dalam memeriksa Narkotika yang diimpornya disaksikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan wajib melaporkan hasilnya kepada Menteri paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya impor Narkotika di perusahaan. Berdasarkan hasil laporan, Menteri menyampaikan hasil penerimaan impor Narkotika kepada pemerintah negara pengekspor.

19

BAB VI PEREDARAN
Peredaran Narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian

kegiatan penyaluran atau penyerahan Narkotika, baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindahtanganan, untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Narkotika dlm bentuk jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes. Narkotika Golongan II dan III yg berupa bahan baku alamiah ataupun sintesis dapat diedarkan tanpa wajib daftar pada Depkes Setiap kegiatan dalam rangka peredaran narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah.

20

Bagian Kedua..... Penyaluran


Narkotika hanya dapat disalurkan oleh Industri Farmasi, pedagang

besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah penyaluran Narkotika dari Menteri. Industri Farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada: a. pedagang besar farmasi tertentu; b. apotek; c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; dan d. rumah sakit.

21

Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan

Narkotika kepada: a. pedagang besar farmasi tertentu lainnya; b. apotek; c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; d. rumah sakit; dan e. lembaga ilmu pengetahuan.
Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu

hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada: a. rumah sakit pemerintah; b. pusat kesehatan masyarakat; dan c. balai pengobatan pemerintah tertentu.

22

Bagian Ketiga .... Penyerahan


Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh:

a. apotek; b. rumah sakit; c. pusat kesehatan masyarakat; d. balai pengobatan; dan e. dokter.
Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:

a. rumah sakit; b. pusat kesehatan masyarakat; c. apotek lainnya; d. balai pengobatan; e. dokter; dan f. pasien.

23

Lanjutan............
Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai

pengobatan hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dapat dilakukan dalam hal: a. Menjalankan praktik dokter dan diberikan melalui suntikan b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan c. Menjalankan tugas didaerah terpencil yg tidak ada apotik Narkotika dlm bentuk suntikan dlm jumlah tertentu yg diserahkan dokter hanya dapat diperoleh dari apotik

24

BAB VII LABEL DAN PUBLIKASI


Industri Farmasi wajib mencantumkan label pada kemasan Narkotika,

baik dalam bentuk obat jadi maupun bahan baku Narkotika. Label pada kemasan Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk tulisan, gambar, kombinasi tulisan dan gambar, atau bentuk lain yang disertakan pada kemasan atau dimasukkan ke dalam kemasan, ditempelkan, atau merupakan bagian dari wadah, dan/atau kemasannya. Setiap keterangan yang dicantumkan dalam label pada kemasan Narkotika harus lengkap dan tidak menyesatkan.

25

BAB VIII PREKURSOR NARKOTIKA


Bagian Kesatu .....Tujuan Pengaturan Pengaturan prekursor dalam Undang-Undang ini bertujuan: a. melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Prekursor Narkotika; b. mencegah dan memberantas peredaran gelap Prekursor Narkotika; dan c. mencegah terjadinya kebocoran dan penyimpangan Prekursor Narkotika. Bagian Kedua .....Penggolongan dan Jenis Prekursor Narkotika Prekursor Narkotika digolongkan ke dalam Prekursor Tabel I dan Prekursor Tabel II dalam Lampiran Undang-Undang ini.

26

Bagian Ketiga...... Rencana Kebutuhan Tahunan


Pemerintah menyusun rencana kebutuhan tahunan Prekursor

Narkotika untuk kepentingan industri farmasi, industri nonfarmasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rencana kebutuhan tahunan disusun berdasarkan jumlah persediaan, perkiraan kebutuhan, dan penggunaan Prekursor Narkotika secara nasional.

27

BAB IX PENGOBATAN DAN REHABILITASI Bagian Kesatu .....Pengobatan Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasien sebagaimana dimaksud diatas dapat memiliki, menyimpan, dan/atau membawa Narkotika untuk dirinya sendiri. Pasien sebagaimana diatas harus mempunyai bukti yang sah bahwa Narkotika yang dimiliki, disimpan, dan/atau dibawa untuk digunakan diperoleh secara sah.
28

Bagian Kedua... Rehabilitasi


Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib

menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

29

Lanjutan....
Rehabilitasi medis Pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang

ditunjuk oleh Menteri. Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis Pecandu Narkotika setelah mendapat persetujuan Menteri. Selain melalui pengobatan dan/atau rehabilitasi medis, penyembuhan Pecandu Narkotika dapat diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan .tradisional

30

BAB X PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pembinaan sebagaimana dimaksud meliputi upaya:

a. memenuhi ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; b. mencegah penyalahgunaan Narkotika; c. mencegah generasi muda dan anak usia sekolah dalam penyalahgunaan Narkotika, termasuk dengan memasukkan pendidikan yang berkaitan dengan Narkotika dalam kurikulum sekolah dasar sampai lanjutan atas; d. mendorong dan menunjang kegiatan penelitian dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan; dan

31

e. meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis bagi Pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Pengawasan meliputi: (pre/post market) a. Narkotika dan Prekursor Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; b. alat-alat potensial yang dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika; c. evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu produk sebelum diedarkan; d. produksi; e. impor dan ekspor; f. peredaran; g. pelabelan; h. informasi; dan i. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

32

BAB XI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN


Bagian Kesatu .....Kedudukan dan Tempat Kedudukan Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, dengan UndangUndang ini dibentuk Badan Narkotika Nasional, yang selanjutnya disingkat BNN. BNN merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. BNN berkedudukan di ibukota negara dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. BNN mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. BNN provinsi berkedudukan di ibukota provinsi dan BNN kabupaten/kota berkedudukan di ibukota kabupaten/kota

33

Bagian Kedua .......Pengangkatan dan Pemberhentian


Kepala BNN diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.

Bagian Ketiga ............Tugas dan Wewenang


BNN mempunyai tugas:

a. menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; b. mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; c. berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

34

Lanjutan.... Tugas BNN


d. meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat; e. memberdayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; f. memantau, mengarahkan, dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; g. melakukan kerja sama bilateral dan multilateral, baik regional maupun internasional, guna mencegah dan memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; h. mengembangkan laboratorium Narkotika dan Prekursor Narkotika; i. melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan j. membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang.
35

BAB XII PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN


Perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor

Narkotika, termasuk perkara yang didahulukan dari perkara lain untuk diajukan ke pengadilan guna penyelesaian secepatnya Pelaksanaan kewenangan penangkapan sebagaimana dimaksud dalam dilakukan paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam terhitung sejak surat penangkapan diterima penyidik. Penangkapan dapat diperpanjang paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam. Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika berdasarkan Undang-Undang ini. Penyidik pegawai negeri sipil tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika 36

Lanjutan penyidikan.............
Penyidik pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan kementerian atau

lembaga pemerintah nonkementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Narkotika dan Prekursor Narkotika berwenang: a. memeriksa kebenaran laporan serta keterangan tentang adanya dugaan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; b. memeriksa orang yang diduga melakukan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; d. memeriksa bahan bukti atau barang bukti perkara penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika;

37

Lanjutan Penyidik tertentu... e. menyita bahan bukti atau barang bukti perkara penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; f. memeriksa surat dan/atau dokumen lain tentang adanya dugaan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; g. meminta bantuan tenaga ahli untuk tugas penyidikan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan h. menangkap orang yang diduga melakukan penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika.
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia atau penyidik BNN

yang melakukan penyitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika, atau yang diduga Narkotika dan Prekursor Narkotika, atau yang mengandung Narkotika dan Prekursor Narkotika wajib melakukan penyegelan dan membuat berita acara penyitaan pada hari penyitaan dilakukan, yang sekurang-kurangnya memuat: a. nama, jenis, sifat, dan jumlah;
38

Lanjutan....... b. keterangan mengenai tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan penyitaan; c. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan d. tanda tangan dan identitas lengkap penyidik yang melakukan penyitaan. Penyidik wajib memberitahukan penyitaan yang dilakukannya kepada kepala kejaksaan negeri setempat dalam waktu paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak dilakukan penyitaan dan tembusannya disampaikan kepada ketua pengadilan negeri setempat, Menteri, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Untuk keperluan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, penyidik BNN, dan penyidik pegawai negeri sipil menyisihkan sebagian kecil barang sitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika untuk dijadikan sampel guna pengujian di laboratorium tertentu dan dilaksanakan dalam waktu paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak dilakukan penyitaan.
39

Lanjutan......
Penyidik wajib membuat berita acara pemusnahan dalam waktu paling

lama 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak pemusnahan tersebut dilakukan dan menyerahkan berita acara tersebut kepada penyidik BNN atau penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia setempat dan tembusan berita acaranya disampaikan kepada kepala kejaksaan negeri setempat, ketua pengadilan negeri setempat, Menteri, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Penyidik POLRI dan penyidik BNN wajib memusnahkan tanaman Narkotika yang ditemukan dalam waktu paling lama 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam sejak saat ditemukan, setelah disisihkan sebagian kecil untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan, dan dapat disisihkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan. Untuk tanaman Narkotika yang karena jumlahnya dan daerah yang sulit terjangkau karena faktor geografis atau transportasi, pemusnahan dilakukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari.
40

BAB XIII PERAN SERTA MASYARAKAT


Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan

serta membantu pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Hak masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika diwujudkan dalam bentuk: a. mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika; b. memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika kepada penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika;
41

Lanjutan...........
menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada

penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika; d. memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum atau BNN; e. memperoleh perlindungan hukum pada saat yang bersangkutan melaksanakan haknya atau diminta hadir dalam proses peradilan. Masyarakat dapat melaporkan kepada pejabat yang berwenang atau BNN jika mengetahui adanya penyalahgunaan atau peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.

42

BAB XV KETENTUAN PIDANA

UU No 35 / 2009 tentang Narkotika Pasal 129133, 136138, 143146, 148


SANKSI PIDANA: Pidana Penjara Pidana Denda Pencabutan Izin Usaha Pencabutan Status Badan Hukum Pidana Mati

43

Lanjutan Ketentuan Pidana.................


Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam,

memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah). (Pasal 111 ayat 1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah). (Pasal 112 ayat 1)

44

Lanjutan.....
Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi,

mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). (Pasal 113 ayat 1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan II, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (Pasal 117 ayat 1) Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). (Pasal 117 ayat 2) 45

Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki,

menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (Pasal 122 ayat 1) Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). (Pasal 122 ayat 2)

46

UU No 35 / 2009 tentang Narkotika Pasal 153 : Perubahan jenis psikotropika gol I dan II sebagaimana tercantum dalam UU No 5/1997 tentang Psikotropika, dipindahkan menjadi Narkotika gol I. Amfetamin, Metamfetamin, MDMA dipindahkan menjadi narkotika gol I harus diawasi dengan ketat

47

PERKUATAN SANKSI PIDANA


UU no 35 / 2009

Memberlakukan sanksi minimal maksimal Membedakan penggunaan untuk orang lain dan untuk diri sendiri Terhadap penyimpangan Narkotika dan Prekursor narkotika
Ps 129 dipidana dg pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 5 milyar setiap orang yg tanpa hak atau melawan hukum : a. Memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika b. Memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika; c. Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika; d. Membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Prekursor Narkotika untuk pembuatan Narkotika 48

PERKUATAN SANKSI PIDANA


UU no 35 / 2009

Pasal 130
(1) ---- apabila dilakukan oleh korporasi ---- dapat dijatuhkan pidana dan denda dg pemberatan 3 (tiga) kali (2) ---- pidana tambahan, pencabutan izin usaha, dan/atau pencabutan status badan hukum

49

Lanjutan perkuatan sanksi pidana..............


Pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 10 (sepuluh

tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah )dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00, bagi :
a. pimpinan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, sarana penyimpanan sediaan farmasi milik pemerintah, dan apotek yang mengedarkan Narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan; b. pimpinan lembaga ilmu pengetahuan yang menanam, membeli, menyimpan, atau menguasai tanaman Narkotika bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan; c. pimpinan Industri Farmasi tertentu yang memproduksi Narkotika Golongan I bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan; atau d. pimpinan pedagang besar farmasi yang mengedarkan Narkotika Golongan I yang bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan atau mengedarkan Narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan
50

UU No. 35/2009 Tentang Narkotika


PENGGOLONGAN NARKOTIKA

I
Hanya untuk IPTEK Dilarang utk pengobatan
Tanaman PAPAVER, OPIUM HEROIN/PUTAW KOKAIN/ CRACK GANJA/MARIHUANA/ CANNABIS OPIUM OBAT CAMP. OPIUM OBAT DG BAHAN LAIN (Doveri tab/ pulvis) MDMA AMFETAMIN (65)

II

PETIDIN MORFIN FENTANIL METADON dll

III
KODEIN ETILMORFINA BUPRENORFIN (14)

(86)

Perpindahan seluruh Gol I & sebagian besar Gol 2 Psikotropika


51

UU no. 5/1997 PSIKOTROPIKA

52

BAB I KETENTUAN UMUM


DEFENISI
Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. (UU No.5/1997)

Pemerintah menjamin ketersediaan Psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan (UU No.5/1997, Pasal 3)

53

BAB II BUANG LINGKUP DAN TUJUAN


Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindrom

ketergantungan sebagaimana dimaksud ayat 1 digolongkan menjadi : a. Psikotropika golongan I b. Psikotropika golongan II c. Psikotropika golongan III d. Psikotropika golongan IV

Tujuan Pengaturan di bidang psikotropika


a. b. c. Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika Memberantas peredaran gelap psikotropika

Psikotropika gol I hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan


54

BAB III PRODUKSI


Psikotropika hanya dapat diproduksi oleh pabrik obat yang telah

memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

BAB IV PEREDARAN
Peredaran psikotropika terdiri dari penyaluran dan penyerahan Psikotropika yang berupa obat hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab terhadap kesehatan. Bagian kedua.... Penyaluran Penyaluran psikotropika hanya dapat dilakukan oleh : a. Pabrik obat, PBF, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan.
55

Lanjutan.... b. PBF kepada ke PBF lainnya, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah, rumah sakit, lemabaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan. c. Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah kepada rumah sakit pemerintah, puskesmas dan balai pengobatan Pemerintah. Psikotropika gol. I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat dan PBF kepada lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan guna kepentingan ilmu pengetahuan. Bagian Ketiga ....... Penyerahan Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan dokter. Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya boleh dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/ pasien.
56

Lanjutan....
Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit balai pengobatan,

dilaksanakan berdasarkan resep dokter. Penyerahan psikotropika oleh dokter dilaksanakan dalam hal : a. Menjalankan praktek terapi dan diberikan melalui suntikan.. b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

57

BAB V EKSPOR DAN IMPOR


Bagian kesatu... Surat Pesetujuan ekspor dan Surat Persetujuan Impor Ekspor psikotropika hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat atau pedagang besar farmasi yang telah memiliki izin sebagai eksportir .... Importir psikotropika hanya dapat dilakukan oleh PBF yg telah memiliki izin sbg importir ....... Eksportir Psikotropika harus memiliki surat persetujuan eksport untuk setiap kali melakukan kegiatan ekspor psikotropika. Importir Psikotropika harus memiliki surat persetujuan impor untuk setiap kali melakukan kegiatan impor psikotropika.

58

Bagian kedua... Pengangkuatan


Setiap pengangkutan ekspor psikotropika wajib dilengkapi dengan

surat persetujuan ekspor psikotropika yg dikeluarkan oleh menteri. Setiap pengangkutan impor psikotropika wajib dilengkapi dengan surat persetujuan impor psikotropika yg dikeluarkan oleh menteri. Bagian Ketiga.... Transito Setiap transito psikotropika harus dilengkapi dengan surata persetujuan ekaspor psikotrika yang terlebih dahulu telah mendapat persetujuan dari dan / atau dikeluarkan oleh pemerintah negara penegkspor psikotropika.

59

Bagian keempat .... Pemeriksaan


Pemerintah melakukan pemeriksaan atas kelengkapan dokumen

ekspor, impor, dan/atau transito psikotropika. Importir psikotropika memeriksa psikotropika yang diimpornya, dan wajib melaporkan hasilnya kepada Menteri, yang dikirim selambatlambatnya 7 (tujuh ) hari kerja sejak diterimanya impor psikotropika di perusahaan.

60

BAB VI LABEL DAN IKLAN


Pabrik obat wajib mencantumkan label pada kemasan psikotropika Label psikotropika adalah setiap keterangan mengenai psikotropika

yang dapat berbentuk tulisan, kombinasi gambar dan tulisan, atau bentuk lain yang disertakan pada kemasan atau dimasukkan dalam kemasan, ditempelkan dan atau merupakan bagian dari wadahdan/atau kemasannya.

61

BAB VII KEBUTUHAN TAHUNAN DAN PELAPORAN


Menteri menyusun rencana kebutuhan psikotropika untuk kepentingan

pelayanan kesehatan ilmu pengetahuan untuk pengetahuan. Pabrik Obat , Pedagang Besar Farmasi, Sarana Penyimpanan Sediaan farmasi, Pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian dan atau lembaga pendidikan wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan dengan psikotropik. Pabrik obat, pedagang besar farmasi, apotek, rumah sakit, puskesmas, lembaga penelitian dan atau lembaga pendidikan wajib melaporkan catatan kepada Menteri secara berkala. Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penyusunan rencana kebutuhan tahunan psikotropika dan mengenai pelaporan kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika diatur oleh Menteri

62

BAB VII PENGGUNA PSIKOTROPIKA DAN REHABILITASI


Pengguna psikotropika hanya dapat memiliki, menyimpan, dan/atau

membawa psikotropika untuk digunakan dalam rangka pengobatan dan atau perawatan dan harus mempunyai bukti bahwa psikotropika yang dimiliki, disimpan dan atau dibawa untuk digunakan diperoleh secara sah. Pengguna psikotropika yang menderita sindroma ketergantungan berkewajiban untuk ikut dalam pengobatan dan atau perawatan yang dilakukan pada fasilitas rehabilitasi. Rehabilitasi bagi pengguna psikotropika yang menderita sindrom ketergantungan dimaksudkan untuk memulihkan atau mengembangkan kemampuan mental dan sosial.

63

Lanjutan...
Rehabilitasi bagi pengguna psikotropika yang terkena sindrom

ketergantungan dilaksanakan oleh rehabilitasi pemerintah yaitu rehabilitasi medis dan sosial yang dilakukan atas izin dari Menteri. Pemilikan psikotropika dalam jumlah tertentu oleh wisatawan asing atau warga negara asing yang memasuki wilayah negara Indonesia dapat dilakukan sepanjang digunakan hanya untuk pengobatan dan atau kepentingan pribadi yang bersangkutan dan harus mempunyai bukti bahwa psikotropika diperoleh secara sah. Pengguna psikotropika yang menderita sindroma ketergantungan yang berkaitan dengan tindak pidana bidang psikotropika dapat diperintahkan oleh hakim yang memutus perkara tersebut untuk menjalani pengobatan dan perawatan.

64

BAB IX PEMANTAUAN PREKURSOR


Prekursor dan alat-alat yang potensial dapat disalahgunakan untuk

melakukan tindak pidana prekursor ditetapkan sebagai barang di bawah pemantauan pemerintah. Menteri menetapkan zat atau bahan prekursor dan tata cara penggunaan ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.

65

BAB X PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Bagian Pertama.. Pembinaan Pemerintah melakukan pembinaan terhadap segala kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika. Pembinaan diarahkan untuk : a. Terpenuhinya kebutuhan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. b. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika. c. melindungi masyarakat dari segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan gangguan dan/atau bahaya akan terjadinya penyalahgunaan d. Memberantas peredaran gelap psikotropika.

66

Lanjutan... e. Mencegah pelibatan anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dalam kegialan penyalahgunaan dan/atau peredaran gelap psikotropika f. Mendorong dan menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi di bidang psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan.
Pemerintah dapat melakukan kerja sama internasional di bidang

psikotropika sesuai dengan kepentingan nasional. Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau badan yang telah berjasa dalam membantu pencegahan penyalah gunaan psikotropika dan atau mengungkapkan peristiwa tindak pisana di bidang psikotropik.

67

Bagian Kedua... Pengawasan


Pemerintah melakukan pengawasan terhadap segala kegiatan yang

berhubungan dengan psikotropika baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Dalam rangka pengawasan pemerintah berwenang : a. Melaksanakan pemeriksaan setempat dan/atau pengambilan contoh pada sarana produksi, penyaluran, penyimpanan, sarana pelayanan kesehatan dan fasilitas rehabilitiasi. b. memeriksa surat dan/atau dokumen yang berkaitan dengan kegiatan di bidang psikotropika. c. Melakukan pengamanan trrhadap psikotropika yang tidak memenuhi standar persyaratan dan d. Melaksanakan evaluasi terhadap hasil pemeriksaan.
Pelaksanaan pengawasan dilandasi dengan surat tugas.
68

Lanjutan...
Dalam rangka pengawasan, menteri berwenang mengambil tindakan

administratif terhadap pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian dan atau lembaga pendidikan dan fasilitas rehabilitasi yang melaksanakan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang. Tindakan Administratif antara lain : Teguran lisan, Teguran Tertulis , Penghentian Sementara Kegiatan, Denda Administratif dan pencabutan izin praktek.

69

BAB XI PEMUSNAHAN
Pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal :

a. Berhubungan dengan tindak pidana, dimusnahkan oleh tim yang terdiri dari pejabat yang mewakili departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, Kepolisian dan Kejaksaan. b. diproduksi tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika; kadaluarsa; tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Pemusnahan dilakukan olehpemerintah, orang atau badan yang bertanggung jawab atas peredaran dan produksi psikotropika dan sarana kesehatan tertentu, sarana pendidikan, dll. Pemusnahan tersebut wajib dibuatkan berita acara.

70

BAB XI PERAN SERTA MASYARAKAT


Masyarakat memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan

serta dalam membantu mewujudkan upaya pencegahan penyalahgunaan psikotropika sesuai dengan undang-undang dan peraturan pelaksanaan. Masyarakat wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang apanbila mengetahui tentang psikotropika yang disalahgunakan dan atau dimilik secara tidak sah. Pelapor perlu mendapat jaminan kemanan dan perlindungan dari pihak yg berwenang.

71

BAB XIII PENYIDIKAN


Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia dapat :

a. Melakukan teknik penyidikan dan penyerahan yang diawasi dan teknik pembelain terselubung. b. Membuka atau memeriksa semua barang kiriman melalui pos atau alat-alat perhubungan lainnya yg diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang menyangkut psikotropika yg sedang dlm penyidikan. c. Menyadap pembicaraan melalui telepon dan/ atau alat telekomunikasi elektronik lainnya yg dilakukan oleh orang yg dicurigai atau diduga keras membicarakan masalah yg berhubungan dengan tindak pidana psikotropika jangka waktu penyadapan berlangsung paling lama 30 hari.

72

BAB IV KETENTUAN PIDANA


PASAL 59 Barangsiapa : a. menggunakan psikotropika Gol I selain dimaksud dalam Pasal 4 ayat(2) atau b. memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi psikotropika golongan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 atau c. mengedarkan psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat 3 atau d. mengimpor psikotropika golongan I selain untuk kepentingan ilmu pengetahuan atau e. secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika golongan I dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun, paling lama 15 (lima belas)tahun dan pidana drnda paling sedikit Rp. 150.000.000,00(seratus lima puluh jula rupiah),dan paling banyak Rp. 750.000.000,00(tujuh ralus lima puluh jula nrpiah). 73

Lanjutan...
Jika tindak pidana tersebut diatas dilakukan secara terorganisasi

dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda sebesar Rp.750.000.000,00(tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Jika tindak pidana dalam pasal ini dilakukan oleh korporasi, maka di samping dipidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00(lima milyar rupiah)

74

PASAL 60 Barangsiapa: a. Memproduksi psikotropika selain yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 5 ayat 1 b. Memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak memenuhi standart dan atau persyaratan dalam pasal 7 c. Memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan sebagaimana pasal 9 ayat 1, Dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas ) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta). Barangsiapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam pasal 12 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

75

Barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan

dalam pasal 12 ayat 2 dipidana pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 Barangsiapa menyerahkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam pasal 14 (ayat 1-4) dipidana pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 Barangsiapa menerima penyerahan psikotropikaselain yang ditetapkan dalam pasal 14 (ayat 1-4) dipidana pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00. Apabila yang menerima pengguna maka dipidana penjara paling lama 3 bulan.

76

PASAL 61 Barangsiapa : a. Mengekspor atau mengimpor psikotropika selain yang ditetapkan dalam pasal 16 b.Mengekspor atau mengimpor tanpa surat persetujuan ekspor dan surat persetujuan impor yang ditetapkan dalam pasal 17 c. Melaksanakan pengangkutan ekspor dan impor tanpa disertai surat persetujuan ekspor dan impor yang ditetapkan pasal 22 (3-4) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah.) Barangsiapa tidak menyerahkan surat dokumen persetujuan ekspor kepada orang yang bertanggung jawab atas pengangkutan ekspor sebagaimana pasal 22 (1-2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000 (enam puluh juta rupiah).

77

PASAL 62 Barangsiapa secara tanpa hak, memiliki, menyimpan, dan atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah). PASAL 63 Barangsiapa ; a. Melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan sebagaimana pasal 10 b. Melakukan perubahan negara tujuan ekspor yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana pasal 24 c. Melakukan pengemasan kembali psikotropika tidak memenuhi ketentuan pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000 (enam puluh juta rupiah).

78

Barangsiapa :

a. Tidak mencantumkan label sebagaimana pasal 19 b. Mencantumkan tulisan berupa keterangan label yang tidak sesuai dengan ketentuan sesuai dengan pasal 30 ayat 1 c. Mengiklankan psikotropika selain yang ditetapkan pada pasal 31 d. Melakukan pemusnahan psikotropika tidak sesuai dengan yang ditetapkan dalam pasal 53 (2-3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah). PASAL 64 Barangsiapa : a. Menghalang-halangi penderita sindroma ketergantungan untuk mendapat pengobatan dan perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana pasal 37 b. Menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi yang tidak mempunyai izin sesuai pasal 39 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah).
79

PASAL 65 Barangsiapa tidak melaporkan adanya penyalahgunaan dan atau pemilikan psikotropika tidak sah sebagaimana pasal 54 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah). PASAL 66 Saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan perkara psikotropika yang dalam pemeriksaan dalam sidang pengadilan yang menyebut nama dan atau alamat yang dapat terungkapnya identitas pelapor dipidana paling lama 1 tahun
PASAL 67 Warga Negara Asing yang melakukan tindak pidana psikotropika dan telah selesai menjalani hukuman pidana dengan putusan pengadilan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dilakukan pengusiran keluar wilayah Indonesia

80

PASAL 68 Tindak pidana psikotropika yang diatur dalam UU ini adalah tindak kejahatan. PASAL 69 Percobaan atau perbantuan untuk melakukan tindak pidana psikotropika dipidana sama dengan jika tindak pidana tersebut dilakukan.
PASAL 70 Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 64 dilakukan oleh korporasi maka disamping tindak pidana, korporasinya dikenakan pidana denda sebanyak 2 kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana tersebut dan dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.

81

PASAL 71 : Barangsiapa bersekongkol atau bersepakat untuk melaksanakan, membantu, menyuruh untuk melakukan, menganjurkan atau mengorganisasikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 60-63 dipidana sebagai permufakatan jahat. Pelaku tindak pidana sebagaimanan dimaksud ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut. PASAL 72 Jika tindak pidana psikotropika dilakukan dengan menggunakan anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah atau orang dibawah pengampunan atau ketika melakukan tindak pidana belum lewat dua tahun sejak menjalani seluruhnya atau sebagian pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya ancaman pidana ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut.

82

UU No. 5/97 Tentang Psikotropika


PENGGOLONGAN PSIKOTROPIKA

II
METIL FENIDAT SEKOBARBITAL

III
AMOBARBITAL FLUNITRAZEPAM DLL (8)

IV
NIMETAZEPAM ALPRAZOLAM DIAZEPAM BROMAZEPAM LORAZEPAM TRIAZOLAM DIETIL PROPION KLORDIAZEPOKSIDA NITRAZEPAM DLL (60)

(0)
(2)

Dipindahkan sebagai narkotika golongan I

Dipindahkan sebagian sebagai narkotika golongan I


83

penggunaan terus menerus jangka panjang

ZAT ADIKTIF

dosis tinggi

ADIKSI

84

Mengapa narkotika, psikotropika dan prekursor perlu diawasi ?

85

ADIKSI Dependensi (+) Gg perilaku (+)


DEPENDEN Dependensi (+) Gg perilaku (-)

MISUSE
Kekeliruan cara pakai

USER
pengobatan (+)

ABUSE
fun Sbg pengobatan (-)
86

PERAN BADAN POM dalam Pengawasan Narkotika


Pengawasan Sarana Produksi Narkotika Pengawasan Penyimpanan Narkotika Pengawasan Pelaporan Narkotika Pengawasan Importasi Narkotika Pengawasan Pengemasan Kembali pada Transito

Narkotika Pendaftaran Obat Jadi Narkotika

87

88