Anda di halaman 1dari 18

POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA

TEKNIK SUPERVISI
Uraian Teknik Supervisi

LUTVI FITRIANTO
0420110030
TO 3B

Jl. Gaya Motor Raya No.8 Sunter II Jakarta Utara 14330

TEKNIK SUPERVISI

1.1 Latar belakang


Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini (Suharsimi Arikunto,2004). Kegiatan serupa yang dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan, supervisi merupakan bagian dari proses administrasi dan manajemen. Kegiaan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan. Dengan supervisi, akan memberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih mudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yang bersangkutan. Praktek supervisi selalu berubah seiring dengan tumbuhnya kesadaran para pemangku kepentingan untuk meningkatkan penjaminan mutu. Kesadaran akan pentingnya

meningkatkan mutu terkait pada peran, fungsi, dan pembagian tugas dalam organisasi. Pelaksanaannya selalu terkait pada konsistensi lembaga, kegiatan akademik, profesionalisme, dan kesungguhan penyelenggara pendidikan akan pentingnya memastikan bahwa mutu yang diharapkan dapat terus terjaga sejak langkah perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauannya. Jadi supervisi merupakan bagian dari manajemen.

2.1 Pengertian Supervisi


Pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataanya (morfologi), maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu ( semantik ).

Secara Etimologis menurut S. Wajowaskito dan W.J.S. Poerwadarminta dalam N.A Ametembun yang dikutip Yudi Wirawan (2005:17), supervisi dialih bahasakan dari perkataan Inggris Supervision yang artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara morfologis menurut N.A Ametembun dalam Yudi Wirawan (2005 :17) menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataanya. Supervisi terdiri dari dua kata, super dan vision. Super adalah atas, lebih sedangkan vision adalah lihat, titik, awasi. Hal ini senada dengan pendapat Sindu Mulianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006 :3). Istilah supervisi diambil dari bahasa Inggris yaitu Supervision. Super diartikan sebagai sifat lebih, hebat, istimewa. Sementara vision adalah visi atau seni melihat sesuatu atau juga melihat tingkah laku,ulah, dan kerja orang lain. Pengertian supervisi secara sematik adalah pengertian yang dirumuskan oleh para ahli, yaitu untuk memperoleh suatu gambaran komparatif. George R. Terry dan Leslie W.Rue (1982: 1) mengatakan bahwa Supervision is the process encouranging the members of the work unit to contribute positively toward accomplishing the organization goals. ( Supervisi adalah suatu proses dalam mendorong anggota unit kerja untuk sungguh-sungguh berpartipasi terhadap pencapaian tujuan organisasi ). Menurut Aliminsyah dan Pudji (2004 : 130) supervision (supervisi) adalah Pengarahan pegawai-pegawai secara langsung dalam tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka Lebih ilmiah, G.R terry dalam Sindu Mulianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006 :3) mengatakan bahwa : supervision is the achieving of desired result by means of the intellegent utilization of human talents and faciliating resources in manner that provides the greatest challenge and interest to the human talent. ( supervisi adalah usaha mencapai hasil yang diinginkan dengan cara mendayagunakan bakat/kemampuan alami manusia dan sumber-sumber yang memfasilitasi, yang ditekankan pada pemberian tantangan dan perhatian yang sebesar-besarnya terhadap bakat/kemampuan alami manusia). M. Moh Rifai (1982 : 125) berpendapat bahwa, Supervisi adalah pengawasan terhadap manusianya yang kemudian dipakai sebagai dasar usaha peningkatan kemampuan mereka, agar mereka dapat meningkatan usaha dan hasilnya. Menurut Kimball Wiles (1967). Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation.

Supervisi adalah strategi manajemen yang terdiri atas serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standar yang telah ditentukan. Supervisi yang merupakan salah satu strategi untuk memastikan bahwa seluruh langkah pada proses penyelenggaraan dan semua komponen hasil yang dicapai memenuhi target. Kegiatan supervisi bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak

mengandung unsur pembinaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.

2.2 Model Supervisi


2.2.1 Model supervisi konvensional (tradisonal) Model ini adalah refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi adalah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan. 2.2.2 Model supervisi ilmiah Supervisi ini memilki ciri-ciri, diantaranya : Dilaksanakan secara berencana dan kontinu, Sistematis, dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu, menggunakan intrumen pengumpulan data dimana data tersebut obyektif yang diperoleh dari keadaan yang riil. 2.2.3 Model supervisi klinis Supervisi klinis difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. Beberapa ciri supervisi klinis adalah bantuan yang diberikan bukan bersifat intruksi atau memerinta tetapi tercipta hubungan manusiawi. 2.2.4 Model supervisi artistic

Supervisi artistik memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup/keahlian khusus untuk memahami yang dibutuhkan seseorang yang sesuai dengan harapannya. Model artistik terhadap supervise memerlukan laporan yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor dengan supervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan yang di lakukan oleh kedua belah pihak.

2.3Prinsip Prinsip Supervisi


Menurut Agus Dharma(2003:16-21) prinsip-prinsip supervise yang efektif meliputi : a) Kejelasan berkomunikasi Kejelasan komunikasi merupakan prinsip yang sangat penting dan prinsi-prinsip lainnya sebenarnya hanya berfungsi sebagai penunjang. Taktik dasar untuk berkomunikasi dengan jelas adalah sebagai berikut : Gunakan kata-kata atau istilah yang mudah dipahami Langsung Ringkas Hindarrkan pesan-peasan yang bertolak belakang b) Harapkan yang terbaik Biasanya orang-orang atau bawahan akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang pimpinan harapkan untuk mereka lakukan. Dalam kaitan ini,terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan,yaitu : Hargai martabat bawahan Sampaikan harapan melambung Tekankan pada kebutuhan masa dating bukan pad waktu lampau

c) Berpegang pada tujuan

Agar dapat berpegang pada tujuan,perhatikan hal-hal berikut : Berfokus pada satu topic Dorong adanya perilaku yang mengarah pada tujuan Batasi adanya interupsi d) Mendapatkan komitmen Persetujan dan komitmen dapat diperoleh dengan menggunakan cara-cara berikut: Ringkasan dan ulangi kembali hal-hal yang telah dibicarakan Keikutsertaan Mendengarkan dengan sunguh-sunguh apabila seseorang sedang berbicara Pastikan bahwa orang lain memahami hal-hal yang telah pimpinan kemukakan Menindaklanjuti hal-hal yang telah dibicarakan atau yang telah diputuskan

2.3.1 Ciri-ciri Supervisi yang efektif


Menurut R. Keith Mobley dalam Sindu Mulianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006 : 8-12). Ciri-ciri supervise yang efektif yaitu : 1. Pendelegasian Dalam hal ini supervisor harus dapat membawa timnya kearah target yang telah ditetapkan. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, akan lebih efektif jika supervisor mendelegasikan sebagian tugas-tugasnya, terutama yang bersifat teknis kepada anak buahnya atau anggota timnya. 2. Keseimbangan Seorang pimpinan diberikan otoritas untuk mengambil keputusan dan memberikan tugas kepada orang-orang dibawah tanggung jawabnya. Otoritas ini harus digunakan dengan tepat, artinya supervisor harus menyeimbangkan penggunaan otoritas tersebut.

Supervisor perlu tahu kapan hars menggunakan otoritas ini, dan kapan harus menahan diri, dan membiarkan anak buah bekerja dengan mengoptimalkan kreativitas mereka. Keseimbangan juga mengacu pada sikap yang diambil oleh seorang pemimpin, kapan harus bersikap tegas dan kapan harus member kesempatan kepada anak buahnya untuk menyampaikan pendapat. 3. Jembatan Supervisor atau manajer merupakan jembatan antara staf yang mereka pimpin dan manajemen puncak. Jadi, ia harus dapat menyampaikan keinginan atau usulan karyawan pada pihak manajemen. Sebaliknya, ia pun harus dapat menyampaikan visi dan misi yang telah ditetapkan serta keputusan lain yang telah dibuat manajemen puncak untuk diketahui oleh para karyawan yang menjadi anggota timnya. 4. Komunikasi Komunikasi disini bukanlah satu arah (memberikan tugas-tugas saja) tetapi yang lebih utama adalah komunikasi multiarah yang juga mencakup kemampuan mendengarkan keluhan, masukan, dan pertanyaan dari karyawan. Dalam mengkomunikasikan tugastugas, supervisor perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang harus melaksanakan tugas tersebut, yakni bahasa yang sejajar dengan kemampuan , dan cara berpikir anak buah.

2.4 Tokoh-tokoh pelopor manajemen supervisi


1. Tahalele (1979) mengemukakan bahwa prinsip supervisi digolongkan menjadi prinsip positif dan negatif. Prinsip positif berisi anjuran untuk memedomani sesuatu yang baik dalam pelaksanaan supervisi, sementara prinsip negatif berisi anjuran untuk meninggalkan sesuatu yang tidak baik, yang berakibat terhalangnya pencapaian tujuan pendidikan. Adapun prinsip-prinsip positif supervisi menurut Tahalele (1979) adalah: Ilmiah, yaitu dilaksanakan secara sistematis, objektif, dan menggunakan instrumen. Sistematis, maksudnya berurut dari masalah satu ke masalah berikutnya secara runtut. Objektif maksudnya apa adanya, tidak mencari-cari atau mengarang-ngarang.

Menggunakan instrumen, maksudnya, dalam melaksanakan supervisi pembelajaran harus ada instrumen pengamatan yang dijadikan sebagai panduan, Kooperatif, artinya terdapat kerja sama yang baik antara supervisor dan karyawan, Konstruktif, artinya dalam melaksanakan supervisi, hendaknya mengarah kepada perbaikan, apapun perbaikannya dan seberapun perbaikannya, Realistik, sesuai dengan keadaan, tidak terlalu idealistik, Progresif, artinya dilaksanakannya maju selangkah demi selangkah namun tetap mantap, Inovatif, yang berarti mengikhtiarkan pembaruan dan berusaha menemukan hal-hal baru dalam supervisi, Memberikan kesempatan kepada supervisor dan karyawan untuk mengevaluasi diri mereka sendiri, dan menemukan jalan pemecahan atas kekurangannya. 2. Djajadisastra (1976) mengemukakan prinsip supervisi adalah prinsip fundamental dan prinsip praktis. Prinsip fundamental adalah supervisi dipandang sebagai bagian dari keseluruhan proses pendidikan yang tidak terlepas dari dasar-dasar pendidikan nasional Indonesia yakni Pancasila. Supervisi pendidikan haruslah menggunakan prinsip-prinsip sila pertama sampai sila kelima Pancasila. Prinsip fundamental ini haruslah menjiwai kegiatan supervisi. Prinsip praktis adalah kaidah-kaidah yang harus dijadikan pedoman praktis dalam pelaksanaan supervisi. Prinsip praktis ini dibagi lagi menjadi prinsip positif dan negatif. 3. Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. 4. Mc. Nerney meninjau supervise sebagai suatu proses penilaian mengatakan: supervise adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran. Dalam pelaksanaannya, supervise bukan hanya mengawasi apakah para guru atau pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan intruksi atau ketentuan-ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar mengajar.

2.4.1 Fungsi Supervisi


G.R Terry dan Leslie W. Rue (1982:2) mengatakan bahwa terdapat empat macam fungsi supervise, keempat fungsi tersebut adalah planning, organizing, motivating, and controlling. a. Perencanaan meliputi penentuan cara yang paling efektif dalam pencapaian pekerjaaan yang akan dilakukan. b. Pengorganisasian meliputi pendistribusian pekerjaan diantara kelompok kerja dan mengatur pekerjaan agar berjalan lancer c. Motivasi meliputi memperoleh karyawan yang mempunyai usaha atau kemampuan maksimal dalam melakukan pekerjaan d. Pengawasan dibangun untuk menindaklanjuti melalui kegiatan mengoreksi jika diperlukan untuk mencapai hasil yang memuaskan 2.4.2 Metode Supervisi Banyak metode yang dapat ditempuh dalam supervise,menurut Komaruddin (1994:831),metode supervise yaitu : 1) Supervisi preventif Supervise preventif bertujuan untuk mencegah kemungkinan penyimpangan atau kesalahan dari sejak awal 2) Supervisi korektif Supervisi korektif menyelidiki penyimpangan kesalahan dan kelainan. Bilamana telah ditemukan,maka penyimpangan, kesalahan dan kelainan itu dikembalikan dan diperbaiki berdasarkan standar. Sifat supervise korektif adalah represif, artinyan penyimpangan terjadi lebih dahulu. 3) Supervise konstruktif Supervise konstruktif mengutamakan kesempurnaan kegiatan yang dilaksanakan dan sikap untuk saat ini dan saat yang akan datang. Oleh karena itu, kesalahan

dan penyimpangan yang sudah terjadi menjadi masukan bagi penyempurnaan masa yang akan datang. 4) Supervise kreaktif Karakteristik supervise konstruktif juga merupakan salah satu karakteristik supervise kreatif. Walaupun demikian, supervise kreatif mempunyai sasaran yang lebih jauh. Supervise ini lebih mengutamakan pengembangan daya imajinasi dan daya kreatif sehingga bawahan mempunyai prakarsa sendiri. 5) Supervise kooperatif Supervise kooperatif mengawali asumsinya, bahwa organisasi merupakan suatu kelompok yang terintegrasi yang terdiri dari sejumlah unsure mencapai sasaran yang sama. Dengan asumsi itu, penyelia atau supervisor tidak bertindak sendiri untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Ia membutuhkan bantuan fungsional dari segala unsure organisasi . Karena itu supervise mengutamakan kerja sama. Tidak ada gagasan dan tidak ada sasaran yang dapat dilaksanakan tana kerja sama dan persepsi yang sama terhadap sasaran. Oleh karena itulah, supervise kooperatif memandang perlu setiap partisipasi dari unsure sebagai suatu kesatuan sistim.

2.5Peranan dan kegiatan Supervisor 2.5.1 Pengertian Supervisor


Menurut Sindu Mullianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006 :3) bahwa Supervisor adalah orang yang memiliki kelebihan atau mempunyai keistimewaan, yang tugasnya melihat dan mengawasi pekerjaan orang lain. Sementara menurut Komaruddin (1994:832) supervisor, mandor, pengawas pelaksana atau penyelia yaitu : a. Seseorang yang mempunyai tugas utama untuk mengawasi kelangsungan pekerjaan bawahannya b. Program pengawasan yang menetapkan jadwal dan mengelola sumber-sumber computer. Keith Davis dan John W. Newstrom (1990:168) mendefinisikan bahwa Penyelia (supervisor) adalah pemimpin yang menduduiki posisi pada tingkat manajemen paling bawah dalam organisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli sebagaimana diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa supervisor adalah pemimpin yang menduduki posisi pada tingkat bawah dalam organisasi yang bertugas melihat dan mengawasu pekerjaan bawahannya agar sesuai dengan arah dan target perusahaan. 2.5.2 Fungsi Supervisor Terdapat beberapa pendapat menurut para ahli mengenai fungsi supervisor. Menurut Sindu Mulianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006 :67) seorang supervisor memiliki peran ganda atau dwi fungsi. Suatu saat ia mewakili perusahaan menyampaikan instruksi kerja, perintah atau informasi lain kepada bawahan serta harus menjaga kepentingan perusahaan. Disaat lain, ia harus menyampaiakan keluhan karyawan kepada atasan, memperjuangkan kebutuhan karyawan, dan membela nasib karyawan sesuai dengan normanorma, peraturan, perundang-undangan yang berlaku. Keith davis dan John W. Newstrom (1990: 168-170) mengemukakan bahwa terdapat lima pandangan yang agak berbeda tentang peran atau fungsi supervisor. Lima pandangan tersebut yaitu : a. Orang penting dalam manajemen. Pandangan manajemen tradisional tentang penyelia adalah bahwa mereka merupakan orang penting dalam manajemen (key person in management). Mereka mengambil keputusan, mengendalikan pekerjaan, menafsirkan pekerjaan, dan umumnya merupakan orang penting dalam proses penyelesaian pekerjaan. Mereka mewakili pimpinan kepada karyawan dan mereka juga mewakili karyawan kepada pimpinan. Mereka dapat menahan segala sesuatu yang mengalir ke atas atau ke bawah. b. Penyelia di tengah. Menurut sudut pandang di tengah ( in the middle of view point ). Para penyelia terhimpit diantara berbagai kekuatan social pimpinan dan karyawan yang saling berlawanan. c. Penyelia pinggiran. Penyelia pinggiran ( marginal supervisor ) disisihkan dari atau pada bagian pinggiran, aktivitas, dan pengaruh yang mempengaruhi departemennya. Tidak diterima oleh pimpinan, diabaikan oleh staf, dan bukan salah satu dari karyawan biasa, penyelia benar merupakan orang-orang yang bekerja sendiri. d. Karyawan lain. Pandangan keempat tentang penyelia adalah bahwa mereka dalam segala hal tetap merupakan pegawai biasa kecuali jabatan. Pertama, mereka sering

kurang memiliki wewenang. Pusat pengambilan keputusan berad ditempat lain, jadi penyelia hanya melaksanakan keputusan, melakukan pekerjaan secara operasional, melaksanakan perintah, berkomunikasi, dan pola pemikiran mereka jauh lebih dekat dengan para karyawan ketimbang dengan pimpinan yang lebih tinggi. e. Spesialis perilaku. Dalam situasi tertentu pimpinan memandang para penyelia terutama sebagai spesialis perilaku. Para peneyelia adalah spesialis yang sama seperti semua staf umumnya dengan siapa mereka berinteraksi. Mereka membina sisi manusia dalam pengoperasian perusahaan, dan staf menangani aspek teknisnya. Mereka bukan pejabat utama melainkan termasuk dalam kalangan spesialis yang menangani masalah operasional. 2.5.3 Kegiatan Supervisor Semua organisasi memiliki tujuan yang berbeda-beda dan para karyawan yang disupervisi melaksanakan fungsi yang tidak serupa. Dengan demikian, masalah yang dihadapi para supervisor dan kegiatan yang mereka lakukan tentunya berbeda. Supervisor adalah manajer tingkat pertama yang langsung berhubungan dengan karyawan. Menurut Agus Dharma (2003: 5-6) sebagai manajer, supervisor terlihat dalam setiap kegiatan manajemen, kegiatan tersebut adalah :

LINGKUP PENGAWASAN

PERENCANAAN PENGAWASAN

PENGORGANISA SIAN

PELAKSANAN PENGAWASAN

PENGENDALIA N

Koordinasi Pengawasan dan Jaminan Kualitas

a. Perencanaan. Menetapkan tujuan, memutuskan cara pencapaian tujuan, menetapkan arah tindakan, serta menetapkan kebijakan dan prosedur. b. Pengorganisasian. Menetapkan pembagian kerja, penugasan kerja, pengelompokan pekerjaan untuk koordinasi, serta menetpkan wewenang dan tanggung jawab. c. Pendayagunaan SDM. Ikut menyeleksi orang untuk melaksanakan pekerjaan, menempatkan dan memberikan orientasi untuk melaksanakan pekerjaan serta melatih dan menilai kinerja karyawan. d. Pembinaan. Member contoh, memotivasi, dan memberdayakan karyawan. Termasuk disini adalah upaya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi karyawan untuk berkinerja bagus. e. Pengendalian. Menghimpun informasi tentang pencapaian hasil, membandingkannya dengan standar/rencana, dan melakukan tindakan perbaikan jika perlu. Hal senada juga diungkapkan oleh Christina Christenson, Thomas W. Johnson dan John E. Stinson (1982: 6-7) bahwa sebagai manajer supervisor melakukan berbagai kegiatan manajemen,yaitu : a. Perencanaan meliputi menetapkan tujuan, memutuskan cara pencapaian tujuan, menetapkan arah tindakan, menetapkan kebijakan dan prosedur. b. Pengorganisasian meliputi menetapkan pembagian kerja, pengelompokan pekerjaan untuk koordinasi serta menetapkan wewenang dan tanggung jawab. c. Pendayagunaan pegawai, menempatkan dan memberikan orientasi untuk

melaksanakan pekerjaan, melatih karyawan dan menilai kinerja karyawan. d. Pengaturan meliputi menuntun dan mempengaruhi karyawan dalam melaksanakan pekerjaan, berkomunikasi dengan karyawan, membuat motivasi yang positif serta menangani masalah karyawan. e. Pengendalian meliputi menghimpun informasi tentang pencapaian hasil,

membandingkannya dengan standar/rencana, dan melakukan tindakan perbaikan jika diperlukan. Menurut Sindu Mulianto, Eko R. Cahyadi dan M. Karebet (2006:7-8) bahwa peran manajerial seorang supervisor adalah mencakup : a. Perencanaan. Pembuatan rencana mencakup rencana kerja dan interaksi antar anggota tim. Perencanaan juga perlu memerhatikan keterbatasan sumber daya yang dimiliki

dan keterbatasan waktu yang dialokasikan untuk mencapai target yang telah ditentukan. b. Pengorganisasian. Supervisor atau manajer perlu melakukan pengorganisasian orang, tugas,waktu dan fasilitas yang diperlukan. Dalam menjalankan fungsi ini, supervisor atau manajer perlu menempatkan orang yang tepat didalam pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan minat orang tersebut (staffing). Pekerjaan ini juga menuntut supervisor membuat jadwal untuk mengatur lalu lintas orang dan kegiatan agar tidak ada yang berbenturan. c. Implementasi. Dalam tahap ini perlu disusun berbagi scenario implementasiyang sesuai dengan rencana dan jenis pekerjaan yang harus diselsesaikan. d. Evaluasi dan pengawasan. Evaluasi dan pengawasan ini tidak hanya dilakukan satu titik (titik awal atau titik akhir), melainkan secara regular dibeberapa titik sepanjang perjalanan menjuju target. Fungsi evaluasi dan pengawasan ini adalah untuk melihat apakah semua kegiatan sudah lancer dan menuju arah yang benar.yaitu pencapaian target. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan dari supervisor meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, pemberdayaan SDM, pembinaan, dan pengawasan. 2.6 Keterampilan Dasar Supervisor Agar efektif melaksanakan pekerjaan supervisinya, para supervisor memerlukan suatu keterampilan. Keterampilan dasar seorang supervisor menurut Kimball Wiles, 1955) dalam Piet Sahertian (2008:18) yang harus dimiliki supervisor yaitu : 1. Keterampilan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan. 2. Keterampilan dalam proses kelompok. 3. Keterampilan dalam kepemimpinan pendidikan. 4. Keterampilan dan mengatur personalia sekolah. 5. Keterampilan dalam evaluasi. Karena setiap profesi membutuhkan keterampilan, maka keterampilan berikut juga harus dimiliki oleh seorang supervisor untuk menunjang pekerjaannya:

1. Keterampilan Teknis Pengetahuan produk sendiri atau product knowledge, produk pesaing, dan produk pengganti, keterampilan menjual dan bernegosiasi, pengetahuan pelanggan (Customer relationship manajement), segmentasi dan area kerja pengetahuan pasar/industri. Memahami betul apa itu segmentasi, targeting, positioning, differentation, selling, brand dan process. Keterampilan ini berguna untuk melatih team dan tenaga penjual, mealith salesman baru dan mempresentasikan produk di hadapan beberapa pelanggan sekaligus jika diperlukan. 2. Keterampilan Human Relations Bekerja sendiri sebagai sales berbeda sekali dengan bekerja sebagai supervisor dengan memimpin suatu kelompok kerja, menjadi supervisor harus mempunya ketarampilan human relationship, bekerja efektif dengan orang lain, team, atasan, administrasi. Oleh karena itu, bacaan tentang kepemimpinan, komunikasi, teknik pendelegasian, konseling dan coahing dan problem solving menjadi bacaan wajib untuk supervisor. Supervisor tidak semata-mata berurusan dengan aspek meteril tetapi berhadapan dengan manusia-manusia yang berbeda perilaku. a) Hubungan pribadi : pribadi orang yang bersangkutan; b) Hubungan fungsionil : fungsi yang dijalankan seseorang; c) Hubungan instrumental : didasarkan atas pandangan memperalat bawahan; d) Hubungan konvensionil : didasarkan atas kebiasaan atau kelaziman yang berlaku. 3. Keterampilan administratif Keterampilan ini kelihatannya yang banyak dilupkan, itu karena supervisor ketika menjadi sales selalu melimpahkan tugas ini pada administrasi. Menjadi Seorang Supervisor membutuhkan teterampilan mengorganisir dan manajemen sehingga menyeimbangkan antara orientasi pekerjaan dan orientasi manusia. Kemudian setelah memenuhi keterampilan diatas, kita akan mengetahui berbagai macam tipe-tipe seorang supervisor. Tipe-tipenya antara lain: 1. Otokratis : supervisor penentu segalanya. 2. Demokratis : mementingkan musyawarah mufakat dan bekerjasama atau gontong royong secara kekeluargaan. 3. Manipulasi diplomatis : mengarahkan orang yang disupervisi untuk melaksanakan apa yang dikehendaki supervisor dengan cara musulihat.

4. Laissez-faire : memberikan kebebasan dan keleluasan kepada orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggap mereka baik.

2.6 Contoh kasus Manajemen Supervisi 2.7 Penerapan Manajemen Supervise Pendidikan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan supervisi kelas dalam pembinaan keterampilan mengajar guru di SMP Muhammadiyah se-Kota Malang, (2) Pelaksanaan supervisi klinis dalam pembinaan keterampilan mengajar guru di SMP Muhammadiyah se-Kota Malang, dan (3) Upaya apa saja yang dilakukan kepala sekolah dalam pembinaan keterampilan mengajar guru di SMP Muhammadiyah se-Kota Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Informasi dan Sampel Penelitian adalah 5 kepala sekolah dan 5 guru masing-masing SMP Muhammadiyah di wilayah Kota Malang. Teknik pengambilan data untuk pendekatan kualitatif menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Supervisi pengajaran menurut kepala sekolah diperoleh modus (Mo) 3.28, median (Me) 3.44, nilai rata-rata (Mean) 3.489, dan standar deviasi (s) 0.2056. sedangkan supervisi pengajaran menurut guru diperoleh modus (Mo) 3.28, median (Me) 3.44, nilai rata-rata (Mean) 3.489, dan standar deviasi (s) 0.2056. Prosedur pelaksanaan supervisi kelas terdiri atas: (1) Tahap Persiapan, meliputi; (a) menyiapkan instrumen dan (b) menyiapkan jadwal bersama, (2) Tahap Pelaksanaan, yaitu pelaksanaan observasi supervisi kepala sekolah, (3) Tahap Pelaporan, meliputi; (a) mengidentifikasi hasil pengamatan pada saat observasi di kelas, (b) menganalisis hasil supervisi, (c) mengevaluasi bersama antara kepala sekolah dan guru, dan (d) membuat catatan hasil supervisi yang didokumentasikan sebagai laporan, dan (4) Tahap Tindak lanjut, meliputi; (a) mendisukusikan dan membuat solusi bersama, (b) memberitahukan hasil pelaksanaan kunjungan kelas, dan (c) mengkomunikasikan kepada guru.

Sedangkan pelaksanaan supervisi klinis belum berjalan secara optimal. Upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah memahami dan memecahkan masalah-masalah proses belajar-mengajar dan membantu guru memecahkan masalahmasalah yang dihadapinya sehari-hari dalam melaksanakan tugas pokoknya. Mengikutsertakan kegiatan yang dilakukan di Musyawarah Guru Mata Pelajaran

(MGMP), KKG, maupun di PKG menyangkut teknis-edukatif yang ditujukan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar

Jika merujuk pendapatnya Glickman (1985) peranan supervisi. Pertama, seharusnya supervisi dijadikan sebagai sarana untuk pemberian bimbingan dan bantuan kepada guru dan staf tata usaha agar mampu meningkatkan kinerjanya, Kedua, Pemberian bimbingan dan bantuan dilakukan secara langsung dan tidak perlu ada perantara, Ketiga, Pemberian bantuan dan bimbingan harus dikaitkan dengan peristiwa yang memerlukan bimbingan, keempat, Kegiatan supervisi dilakukan secara berkala agar terjadi mekanisme yang ajeg dan rutin, Kelima, Supervisi terjadi dalam suasana yang kondusif penuh sifat kekeluargaan agar terjalin kerjasama yang baik, dan keenam, Supervisi dilakukan dengan mengunakan catatan agar apa yang dilakukan dan ditemukan tidak hilang. Temuan dan hal-hal penting lainnya merupakan bahan binaan yang sangat penting artinya dan dapat dibahas dalam pertemuan rutin pengawas dan kepala sekolah. Seorang supervisor berperan penting dalam pembinaan keterampilan mengajar guru. Jika dilihat perannya, peran supervisor adalah memberi support (supprting), membantu (assisting), dan mnegikutsertakan (sharing). Peranan seorang supervisor ialah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan ptensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggungjawab. Suasana yang demikan hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokratis. Sehingga pada gilirannya guru-guru dapat tumbuh secara personal maupun profesional.

III.Penutup 3.1 Kesimpulan Berdasarkan beberapa kajian dan isi materi dapat disimpulkan bahwa : Supervisi yang berarti juga pengawasan adalah strategi manajemen yang terdiri
atas serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standar yang telah ditentukan. Prinsip-prinsip supervivi mencakup kejelasan berkomunikasi, harapan yang terbaik, berpegang pada tujuan, dan mendapatkan komitmen. Ciri-ciri supervisi yang efektif yaitu : Pendelegasian Keseimbangan Jembatan Komunikasi Ada 4 fungsi supervisi atau supervisior yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), motivasi (motivating), pengawasan (controling) Ada beberapa Meroda supervisi yakni 1. Supervisi preventif 2. Supervisi koektif 3. Supervisi konstruktif 4. Supervis kreatif 5. Supervisi kooperatif Supervisior merupakan orang yang memiliki kelebihan atau mempunyai keistimewaan, yang tugasnya melihat dan mengawasi pekerjaan orang lain Beberapa fungsi supervisior adalah sebagai orang pening dalam manajemen, penyelia di tengah, penyelia pinggiran, karyawan lain, dan sosialisasi perilaku Supervisior merupakan element atau karyawan mutlak yang seharusnya ada dalam suatu perusahaan.