Anda di halaman 1dari 4

Bela Diri

Seorang pemuda secara luar biasa mampu melompat dari gedung dua lantai dengan cara bersalto dan mendarat secara empuk dengan kedua ujung kakinya, dan hebatnya dia tidak mengalami cedera sedikitpun. Hal berbahaya seperti ini bisa dia lakukan berkat ketekunannya belatih Parkour. Olahraga ini berkembang cukup pesat dan banyak diminati, terutama oleh kaum muda. Hal ini terjadi karena Parkour, memungkinkan pelakunya untuk melakukan gerakan-gerakan 'keren', seperti yang tadi itu, melompat dari atap gedung dua tingkat dengan selamat. Meski demikian bukanlah ke-keren-nan yang dicari oleh seorang Traceur (sebutan untuk atlit Parkour) sejati, namun justru lebih ke ekspresi seni. Parkour, secara resmi didirikan tahun 1995 oleh David Belle, seorang pria berkebangsaan Perancis, bersama beberapa orang kawannya. Meski demikian gerakan maupun metoda latihan Parkour bukanlah 'barang baru'. Aktifitas yang menyerupai Parkour sudah ada sejak lama, dan dipraktekan orang di berbagai negara. Bagi para traceur, Parkour adalah seni. Dengan ini dia bisa mengekspresikan dirinya, menyalurkan energinya, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. "L' art du deplacement" atau seni berpindah tempat, demikianlah mereka menyebut aktifitasnya itu. Mereka bisa bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dan mengatasi berbagai rintangan, entah itu tembok tinggi, tangga, parit lebar, celah sempit, dsb. Kita bisa melihat aksi-aksi luar biasa para traceur lewat video yang mereka upload ke Internet. Yang paling gampang kita bisa melihatnya di youtube. Tinggal buka website www.youtube.com lalu masukan kata kunci Parkour. Hasilnya banyak sekali video-video berisi aksi luar biasa para traceur. Setelah kita melihat aksi mereka, kita mungkin akan merenung, bagaimana bisa, si traceur yang tubuhnya terdiri dari daging dan tulang seperti kita, bisa melompat dari atap gedung ke tanah tanpa cedera. Padahal dalam keadaan normal dan bagi orang biasa, tindakan seperti itu sama saja bunuh diri, atau kalau pun tidak sampai tewas minimal cedera berat. Namun itulah istimewanya tubuh manusia. Meski terdiri dari tulang dan daging, jika dilatih dengan metoda tertentu dan secara berkesinambungan, maka sebentuk tulang dan daging ini bisa melompat tinggi, mengangkat beban sangat berat, memecahkan benda-benda keras, bahkan menahan sayatan benda tajam, dsb. Kunci dari pencapaian luar biasa ini terletak pada metoda latihan dan ketekunan. Dalam acara ulang tahun sebuah perguruan tinggi, pada salah satu segmen acara, tampil seorang pria. Dengan berseragam sebuah perguruan Silat, dia maju ke tengah lapangan dengan membawa kapas, lakban hitam, ikat kepala, dan kantung kain tebal berwarna hitam. Ditengah lapangan dia mulai beraksi. Kapas ditempelkan menutupi kedua matanya. Kemudian kapas tersebut diikat dengan lakban hitam. Untuk memastikan bahwa dia memang menjadi tidak bisa melihat, dia ikat lagi matanya yang telah tertutup lakban itu dengan ikat kepala. Masih merasa kurang juga, dia menutup kepalanya dengan kantung kain tebal yang dibawanya. Kemudian beberapa orang yang sepertinya anggota perguruan Silat yang sama, terlihat dari seragamnya, mulai menebarkan kartu-kartu bergambar huruf dan angka. Yang lain ada yang memasang tiang-tiang yang terbuat dari pipa pralon yang diberi kaki, kaleng bekas cat yang diisi semen. Ada juga yang menyimpan buah semangka pada sebuah meja kecil. Dan yang seorang lagi memasang beberapa bendera berwarna pada ujung atas beberapa tiang pralon. Dan orang terakhir mengikatkan balon pada pucuk salah satu tiang yang lebih tinggi dari tiang-tiang lainnya.

Sang pria berpenutup kepala mula-mula memberi hormat kepada para tamu, dan kemudian para hadirin. Setelah itu, dia mulai bergerak melangkah. Dengan dibantu kedua telapak tangannya yang dihadapkan kedepan, dia mulai berjalan melewati berbagai rintangan. Mungkin dia menggunakan kedua telapak tangannya itu sebagai radar. Dan memang luar biasa, si pria bisa berjalan melewati tiangtiang tanpa menyenggol apalagi sampai menjatuhkannya. Aksipun berlanjut, satu-persatu kartu bergambar huruf dan angka yang tersebar di seantero lapangan dia ambil, dan dibacanya dengan benar. Dia pun bisa mengambil semua bendera yang dipasang di pucuk tiang dan menyebutkan warnanya dengan tepat. Aksi berikutnya, dengan mata tertutup rapat, dia berjalan keluar lapangan, mengambil sebilah golok yang diselipkan pada batang sebuah pohon. Dengan menenteng golok tersebut, dia mencari meja kecil yang diatasnya disimpan semangka. Setelah berhasil menemukannya, dia pun membelah semangka tersebut. Dan sebagai aksi terakhir, dia menghampiri meja panitia, disitu telah tersedia sebuah senapan angin. Si pria tersebut mengambilnya, kemudian dengan bantuan telapak tangannya yang diarahkan dan digerakan seperti mencari, dia membidik ke arah balon yang diikat pada tiang tinggi. Untunglah tiang tempat balon ini diikat cukup tinggi, sehingga kalau sampai peluru senapan angin ini meleset, pelurunya akan terbang ke udara terbuka dan tidak sampai mengenai penonton. Dengan mantap dia menarik pelatuk, dan pop! balon meletus diterjang peluru senapan angin. Aksi luar biasa ini tak pelak mendapat sambutan meriah. Semua hadirin tepuk tangan. Si pria kembali ketengah lapangan. Sesampainya ditengah dia pun membuka satu persatu barang-barang yang menutupi matanya tadi. Setelah itu dia pun memberi hormat kepada semua hadirin. Cerita diatas bukanlah adegan dalam sebuah film, namun aksi nyata yang dilakukan oleh murid perguruan Silat Merpati Putih (MP). MP sendiri adalah sebuah perguruan Silat yang berpusat di Jogjakarta. Setelah melakukan latihan-latihan tertentu, seorang murid MP akan memiliki kemampuan yang dalam istilah mereka disebut "ilmu getaran". Dengan kemampuan ini, dia bisa menggunakan indra selain matanya untuk "melihat". Sekilas mungkin ini terdengar mistis, namun para murid MP mengklaim bahwa tidak ada mistis dalam latihan-latihan mereka. Mereka bisa mencapai hal tersebut berkat teknik olah nafas. Pada beberapa tahun yang lalu, Indonesia pernah kedatangan rombongan biksu dari Kuil Shaolin China. Pada kesempatan tersebut, para biksu ini memperkenalkan hasil-hasil luar biasa dari latihan olah tubuh yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun. Ada yang tubuhnya kebal tak mempan ditusuk tombak, ada yang kepalanya mampu menghancurkan beton, memainkan berbagai jenis senjata dengan indah namun sekaligus berbahaya (baca mematikan), dll. Sebenarnya setiap kebudayaan di seluruh permukaan bumi ini mempunyai apa yang disebut dengan seni bela diri. Di Indonesia ada Silat, di China ada Kung Fu, Jepang Karate, di Brazil ada Capoeira, India ada Kalaripayattu, Rusia punya Sistema, dll. Yang kesemuanya dapat membuat orang yang berlatih seni bela diri tersebut, bisa mencapai hal-hal atau kemampuan diluar kemampuan orang biasa yang tidak berlatih. Sayangnya, bagi kebanyakan orang dijaman sekarang ini, Ilmu Silat atau Ilmu Beladiri lainya dipandang sebagai hal yang membahayakan, atau setidaknya Silat dianggap hal yang tidak penting, masih lebih penting kursus bahasa asing. Memang tiap orang mempunyai hobi masing-masing, punya kecenderungan bahkan prioritas yang berbeda-beda. Sehingga dalam hal ilmu beladiri pun kita tidak bisa mengatakan bahwa Silat itu hal yang sangat penting. Namun demikian, kalaupun kita tidak bisa memasukkan Silat ke daftar hal-hal yang akan kita pelajari, setidaknya kita bisa merubah cara pandang kita terhadap Silat, yang selama ini mungkin hanya sebatas

netral atau bahkan negatif, menjadi lebih positif. Karena Silat tidaklah beda dengan ilmu-ilmu lainya, seperti fisika, kimia, ekonomi, dsb. Ilmu Silat juga merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Kalau ilmu matematika yang kita kenal sekarang merupakan hasil karya para jenius dibidangnya, maka Silat pun sama. Ilmu-ilmu olah tubuh yang dimiliki perguruan-perguruan Silat, merupakan hasil karya para jenius dibidang ilmu Silat. Para pendekar pencipta ilmu Silat, telah melewati berbagai hal untuk meciptakan suatu ilmu. Semua proses itu melibatkan pengenalan mendalam tentang sifat tubuh, mekanisme gerakan tubuh, aliran darah, pola bernafas, dan banyak lagi. Selain mengenali tubuhnya sendiri, mereka pun berusaha mengenal dan memahami alam sekitar. Kesemua pengetahuan itu kemudian diikat dan disusun menjadi suatu pola latihan tubuh, baik latihan tubuh secara sendiri maupun latihan tubuh dengan memanfaatkan bantuan alam. Dengan ilmu kimia dan metalurgi, kita bisa merubah besi yang tadinya regas dan mudah berkarat kalau terkena air, menjadi baja stainless yang alot dan tahan karat. Ilmu Silat pun sama, dengan ilmu Silat, kita bisa merubah tubuh yang rapuh sakit-sakitan menjadi lebih sehat, kuat, dan penuh vitalitas. Malahan pada beberapa orang, kebiasaan bersilat bisa membuat panjang umur lho. Salah satu contoh adalah Ibu Eni Rukmini, guru besar Perguruan Silat Panglipur, yang berpusat di Garut, Jawa Barat. Di usianya yang hampir mencapai 100 tahun, beliau masih segar bugar dan tangkas. Memang zaman sekarang ini bukanlah zaman "Dunia Persilatan", dimana ilmu Silat menjadi alat dominan untuk bertahan hidup dan menyelesaikan masalah. Namun manfaat positif dari ilmu Silat masih tetap berguna bagi kita, karena bisa membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Selain itu, kalau kita sedikit tahu caranya bela diri, seandainya kita mengalami hal tak terduga seperti kejahatan penodongan misalnya, kita bisa lebih bisa mempertahankan diri. Dan diatas itu semua, ilmu Silat seperti juga ilmu-ilmu lainya, bisa menghantarkan kita pada pemahaman tentang diri sendiri, alam sekitar, dan puncaknya, berupa kesadaran akan posisi kita sebagai ciptaan Allah. Dengan kesadaran kita sebagai 'barang ciptaan', kita bisa lebih baik lagi dalam menjalankan tugas yang diberikan Sang Pencipta. Tidak ada sifat sombong, tidak ada takabbur. Yang ada hanyalah menghamba. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah sekitar 237,56 juta jiwa (suber: vivanews). Seandainya sepersepuluhnya saja atau sekitar 24 juta orang adalah praktisi bela diri, syukur-syukur mencapai tataran Pendekar. Tidakkah itu menjadi aset besar bagi pertahanan Negara. Pada film berjudul "300", ada satu adegan dimana raja Leonidas membandingkan susunan tentaranya dengan tentara negara sekutunya. Tentara negara sekutu tersusun oleh berbagai orang dengan berbagai profesi. Ada yang pemahat, petani, dsb. Mendengar itu, raja Leonidas dengan percaya diri bertanya pada para tentaranya yang hanya 300 orang itu: "Spartan! what is your profession?", pertanyaan ini disambut dengan pekik serentak "AHU!!!", suatu seruan yang menandakan bahwa mereka, meski hanya 300 orang, namun terdiri dari orang-orang yang terlatih. Dan terbukti, di celah sempit Thermopylae, 300 orang ini mampu menahan gelombang-demi gelombang serangan tentara Persia. Meski kemudian harus hancur karena pengkhianatan Ephialtes. Memang kita mempunyai TNI, dan saat ini jumlahnya sekitar kurang lebih 500.000 yang aktif. Meski demikian, tidakkah lebih baik jika Indonesia, penduduknya itu bukan orang-orang yang lemah. Dengan demikian rasa bangga kita menjadi Bangsa Indonesia, bisa memancar lebih terang, setelah selama ini redup bahkan mungkin padam di dada kita. Sekarang kita tahu, betapa banyak hal-hal bermanfaat yang bisa terjadi jika kita belajar ilmu Silat (atau bela diri lainnya).Gimana, mulai berubah pikiran? :)

Segera hubungi perguruan-perguruan Silat terdekat.***