Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA III ISOTERM ADSORPSI

OLEH: NAMA NIM : ADE AYU WULAN SUCI : 1008105034

KEL/GEL : 3/1

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA BUKIT JIMBARAN 2012

ISOTERM ADSORPSI

I.

Tujuan Percobaan Menentukan isoterm adsopsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam klorida pada arang.

II.

Dasar Teori Adsorpsi adalah proses yang terjadi pada fluida (cair atau gas) yang terakumulasi pada permukaan dari padatan atau cairan (adsorben), membentuk lapisan tipis (adsorbat) pada permukaannya. Adsorpsi berbeda dengan absorbsi di mana pada proses absorbsi, substansi yang diserap terdifusi ke dalam cairan atau gas membentuk sebuah larutan. Berdasarkan sifatnya, adsorpsi terbagi menjadi dua, yaitu adsorpsi fisik dan kimia. Perbedaan secara mendasar dari adsorpsi fisik dan kimia adalah adsorpsi fisik terjadi karena adanya gaya Van der Waals partikel adsorbat pada permukaan adsorben yang terjadi secara spontan serta menghasilkan energi yang relatif rendah karena molekul terikat sangat lemah. Sedangkan adsorpsi kimia terjadi karena adanya ikatan kimia (biasanya kovalen) antara partikel

adsorbat dengan permukaan adsorben yang diawali dengan adsorpsi fisik terlebih dahulu, barulah adsorpsi kimia yang sesungguhnya berlangsung. Kekuatan interaksi adsorbat dengan adsorben dipengaruhi oleh sifat dari adsorbat maupun adsorbennya. Gejala yang umum dipakai untuk meramalkan komponen mana yang diadsorpsi lebih kuat adalah kepolaran adsorben dengan adsorbatnya. Apabila adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat polar akan terikat lebih kuat dibandingkan dengan komponen yang kurang polar. Percobaan mengenai adsorpsi seringkali dilangsungkan pada temperatur konstan atau sering disebut isotherm adsorpsi. Pada isotherm adsorpsi menurut Freundlich, akan ditentukan hubungan antara jumlah adsorbat pada absorben sebagai fungsi dari tekanan (apabila yang teradsorpsi adalah gas) dan konsentrasi (apabila yang teradsorpsi adalah cairan). Teori yang diajukan Freundlich bahwa permukaan adsorben adalah heterogen (kasar).

didasarkan pada asumsi

Freundlich menyatakan berikut:

teorinya itu dalam suatu persamaan empirik sebagai

(1) Dimana: x : jumlah zat yang teradsorpsi (gram) k,n : konstanta adsorben m : massa adsorben (gram) C : konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan

Pada percobaan ini, kita akan mencari besarnya k dan n dengan memplotkan kurva log C terhadap log (x/m) dengan hubungan sebagai berikut :

(2) Besarnya k dan n ditentukan melalui regresi linear dari data yang diperoleh dari data percobaan.

Gambar 1 Kurva isoterm adsorpsi Freundlich

III.

Alat dan Bahan Alat: Cawan porselin Labu Erlenmeyer bertutup 250 mL 1 buah 12 buah

Pipet 10 mL Pipet 25 mL Buret 10 mL Corong Labu ukur 100 mL Pemanas

1 buah 1 buah 2 buah 6 buah 1 buah

Bahan: Larutan HCl 0.500 M Adsorben arang Larutan standar NaOH 0.1 M Indikator fenolftalin Kertas saring

IV.

Prosedur Kerja Arang diaktifkan dengan cara dipanaskan di atas cawan porselin. Ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer bertutup sebanyak 1 gram pada tiap tabungnya. Larutan HCl 0,5 M diencerkan dengan konsentrasi 0,25 M; 0,125 M; 0,0625 M; 0,0313 M dan 0,0156 M. Sebanyak 100 mL larutan HCl dengan variasi konsentrasi dimasukkan ke dalam erlenmeyer bertutup yang telah berisi arang. Didiamkan selama 30 menit dengan pengocokan setiap 10 menit. Larutan kemudian disaring dengan kertas saring yang kering. 10 mL larutan dengan konsentrasi 0,5 M dan 0,25 M dipipet dan dititrasi menggunakan NaOH 0,1 M. untuk larutan dengan konsentrasi 0,125 M dititrasi sebanyak 25 mL sedangkan larutan dengan konsentrasi 0,0625 M; 0,0313 M dan 0,0156 M dititrasi sebanyak 50 mL.

V.

Hasil Pengamatan

CNaOH = 0,1 M

mArang (g)

[HCl]Awal (M)

VHCl (mL) V1

VNaOH (mL) V2 31,20 71,60 36,10 34,40 15,00 5,90

1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

0,5000 0,2500 0,1250 0,0625 0,0313 0,0156

10,0 10,0 25,0 50,0 50,0 50,0

32,30 72,80 37,10 35,50 16,00 6,90

VI.

Pengolahan Data Menghitung Jumlah HCl Teradsopsi (x) Erlenmeyer 1

[HCl]awal = 0,5 mol/L mmol [HCl]awal = 0,5 mmol/mL x 100 mL = 50 mmol

[NaOH] = 0,1 mol/L

mmol {NaOH] = 0,1 mmol x 31,75 mL = 3,175 mmol

HCl (aq) + NaOH (aq)

NaCl (aq) + H2O (l)

mmol HCl = mmol NaOH = 3,175 mmol mmol HCl sisa dalam 100 mL =

mmol HCl teradsorpsi

= n HCl awal n HCl sisa = 50 mmol 31,75 mmol = 18,25 mmol

Massa HCl teradsorpsi (x)

= mmol HCl x BM HCl = 18,25 mmol x 36,5 mg/mol = 666,125 mg = 0,6661 g

log C = log [HCl] sisa = log 0,3175= -0,4983

Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut: m (g) 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 CAwal (M) 0,5000 0,2500 0,1250 0,0625 0,0313 0,0156 Csisa (M) 0,3175 0,7220 0,1464 0,0699 0,0310 0,0128 x (g) 0,6661 -1,7228 -0,0781 -0,0270 1,09x10-3 0,0102 0,6661 -0,8103 -0,0781 -0,0270 1,09x10-3 0,0102 -0,1765 -2,9626 -1,9905 log Csisa -0,4983 -0,1415 -0,8345 -1,1555 -1,5086 -1,8928

Kurva antara x/m (y) terhadap C (x) Misalkan : x = C

y = x/m Maka, x (C) 0,3175 0,7220 0,1464 0,0699 0,0310 0,0128

y (x/m) 0,6661 -0,8103 -0,0781 -0,0270 1,09x10-3 0,0102

x2 0,1008 0,5128 0,0214 4,886x10-3 9,61x10-4 1,6384x10-4

y2 0,4437 0,6566 6,0996x10-3 7,29x10-4 1,1881x10-6 1,0404x10-4

x.y 0,2115 -0,5850 -0,0114 -1,8873x10-3 3,379x10-5 1,3056x10-4

x= 1,2996 n = 6

= -0,2380

x2 = 0,6410

y2 = 1,1072

xy = -0,3866

y n x n

0 , 2380 6 1, 2996 6

0 , 0397

x b

0 , 2166 ( 6 ( 0 , 3866 )) (1, 2996 ( 0 , 2380 )) ( 6 0 , 6410 ) (1, 2996 ) 2 , 0103 6 , 4955 0 , 3095
2

n xy x y nx
2

( x )

2 , 3196 0 , 3093 3 ,8460 1, 6889

y b x a

a y b x

= -0,0397 (-0,3095 x 0,2166) = -0,0397 + 0,0670 = 0,0273 Jadi, Persamaan regresi linearnya: y = bx + a y = -0,3095 x + 0,0273

Kurva antara log x/m (y) terhadap log C (x) Misalkan : x = log C

y = log x/m Maka, x (log C) -0,4983 -0,1415 -0,8345 -1,1555 -1,5086 -1,8928

y (log x/m) -0,1765 -2,9626 -1,9905

x2 0,2483 0,0200 0,6963 1,3352 2,2758 3,5826

y2 0,0312 8,7769 3,9621

x.y 0,0879 4,2694 3,7676

x = -6,0312

y = -5,1296

x2 = 8,1582

y2 = 12,7702

xy = 8,1249

n = 6

y n x n

5 ,1296 6 6 , 0312 6

0 ,8549 1, 0052 ( 6 8 ,1249 ) ( 6 , 0312 )( 5 ,1296 ) ( 6 8 ,1582 ) ( 6 , 0312 ) 17 , 8118 12 , 5738 1, 4166
2

x b

n xy x y nx
2

( x )

48 , 7494 30 , 9376 48 , 9492 36 , 3754

y b x a

a y b x

= - 0,8549 {(1,4166 (1,0052)} = - 0,8549 (- 1,4239) = - 0,8549 + 1,4239 = 0,5690

Jadi, Persamaan regresi linearnya:

y = bx + a y = 1,4166 x + 0,5690

Penentuan Nilai k dan n Persamaan Freundlich


x m log x m log x m n log C log k log k n log C k .C
n

y = bx + a maka: y = log n
x m

b x = n log C dan a = log k

= b = 1,4166

log k = a = 0,5690 k = anti log 0,5690 = 3,7068

VII.

Pembahasan Pada percobaan ini dilakukan proses isotherm adsorpsi untuk mencari hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi pada adsorben sebagai fungsi dari konsentrasi yang didasarkan pada persamaan Freundlich. Prosedur yang dilakukan adalah penambahan karbon aktif pada HCl yang disertai dengan pengadukan secara teratur dan akhirnya titrasi asam-basa untuk menentukan konsentrasi akhir kedua asam tersebut untuk menentukan banyaknya zat yang teradsorpsi. Karbon aktif yang digunakan pada percobaan ini adalah arang. Arang yang atom-atomnya merupakan atom karbon dapat berfungsi sebagai adsorben apabila atom-atom tersebut dapat diubah dari bentuk amorf menjadi bentuk polikristal. Proses aktivasi ini harus dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi. Dengan pemanasan tersebut, maka atom-atom karbon akan mengatur diri sedemikian rupa sehingga terbentuk polikristal. Pada karbon aktif, terdapat banyak pori yang

berukuran mikro hingga nano meter. Sedemikian banyaknya pori sehingga dalam satu gram karbon aktif apabila semua dinding pori nya direntangkan memiliki luas permukaan hingga ratusan sampai ribuan meter persegi (perkiraan luasnya mencapai 500 m2 atau seluas 2 lapangan tenis). Inilah sebabnya karbon aktif merupakan adsorben yang sangat baik, karena ia memiliki luas permukaan yang sangat besar sehingga mampu mengadsorpsi lebih baik daripada zat lain. Dengan alasan yang sama pula pada percobaan ini menggunakan serbuk arang, bukan arang dalam bentuk padatan. Secara fisik, karbon aktif mengikat material dengan gaya Van der Waals. Selain bertujuan untuk aktivasi karbon aktif, pemanasan juga dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada arang. Diharapkan, pengotor yang bersifat volatil dapat menguap saat dilangsungkannya pemanasan sehingga arang menjadi lebih murni dan efisiensi adsorpsi pada percobaan ini meningkat sehingga data yang didapatkan diharapkan dapat menjadi seakurat mungkin. Setelah dilakukan pemanasan, dilakukan pengocokan dengan labu erlenmeyer tertutup. Pengocokan dilakukan selama 1 menit, lalu didiamkan 10 menit dan begitu seterusnya hingga 30 menit. Proses pengocokan ini

dimaksudkan agar campuran tersebut dapat tercampur secara homogen dan juga agar proses adsorpsi dapat berlangsung lebih cepat karena jumlah tumbukan yang terjadi juga meningkat . Tujuan dilakukan pendiaman adalah agar gaya Van der Waals di mana terjadi adsorpsi antara partikel adsorbat dengan permukaan adsorben dapat berlangsung secara optimal. Adsorpsi ini tidak dapat terjadi secara optimal pada pengocokan karena partikel-partikel campuran terus bergerak secara aktif dan sulit bagi partikel adsorbat untuk masuk ke dalam pori kosong dari permukaan adsorben sehingga agar proses adsorpsi dapat berlangsung dengan baik, harus disediakan jeda waktu untuk dilakukan pendiaman. Setelah proses adsorpsi selesai, maka dilakukan penyaringan dengan media kertas saring yang bertujuan untuk memisahkan antara karbon yang telah mengadsorpsi sebagian asam dengan asam yang masih ada pada campuran.

Kemudian, filtrat yang diperoleh dititrasi dengan menggunakan standar NaOH 0.1 M untuk menentukan berapa banyak asam yang teradsorpsi oleh arang, untuk berikutnya ditentukan persamaan Freundlich, bagi masing-masing sistem isotherm adsorpsi. Dari proses titrasi diperoleh volume larutan NaOH 0,5 M yang diperlukan untuk menetralkan asam dalam larutan yaitu asam asetat. Adapun volume NaOH yang diperlukan untuk konsentrasi asam asetat 0,5 N ; 0,25 N ; 0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313 N dan 0,0156 N berturut -turut adalah 32,3 mL dan 31,2mL ; 72,8 mL dan 71,6 mL ; 37,1 mL dan 36,1 mL ; 35,5 mL dan 34,4 mL ; 16,0 mL dan 15,0 mL serta 6,90 mL dan 5,90 mL. Volume larutan NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam asetat seharusnya berbanding lurus dengan konsentrasi asam asetat tersebut. Semakin besar konsentrasi larutan asam asetat, maka semakin banyak pula voleme NaOH yang digunakan, demikian pula sebaliknya. Namun dalam percobaan ini tidak demikian. Hal ini terjadi karena kesalahan dalam prosedur titrasi, pada saat titrasi volume NaOH yang digunakan terlalu berlebih sehingga melewati titik ekivalen, dan menyebabkan kesalahan dalam pembacaan buret. Dari volume NaOH ini, dapat dilakukan perhitungan untuk mencari massa asam asetat yang teradsorpsi (x) dan konsentrasi asam asetat sisa (C). Adapun dari percobaan ini dapat dilakukan perhitungan untuk mencari persamaan regresi linear yang digunakan untuk membuat kurva. Kurva yang dibuat ada 2 yaitu kurva hubungan x/m (sebagai ordinat) dengan C (sebagai absis) dan kurva hubungan log x/m (sebagai ordinat) dengan log C (sebagai absis). Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = -0,3095 x + 0,0273 sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C adalah y = 1,4166 x + 0,5690. Selain persamaan regresi linear, dalam perhitungan juga ditentukan nilai tetapan k dan n. Untuk tetapan n memiliki nilai yang sama dengan nilai slope (b) dari persamaan regresi linear log x/m terhadap log C yaitu 1,4166. Sedangkan nilai tetapan k diperoleh sebesar 3,7068.

VIII. Kesimpulan 1. Pemanasan pada arang dilakukan agar arang dapat membentuk polikristal yang berpori banyak sehingga mampu menyerap adsorbat lebih banyak. Selain itu juga agar pengotor yang persifat volatile dapat hilang. 2. Volume NaOH yang diperlukan dalam proses titrasi adalah sebagai berikut: Untuk HCl 0,5000 M : 32,3 mL dan 31,2mL Untuk HCl 0,2500 M : 72,8 mL dan 71,6 mL Untuk HCl 0,1250 M : 37,1 mL dan 36,1 mL Untuk HCl 0,0625 M : 35,5 mL dan 34,4 mL Untuk HCl 0,0313 M : 16,0 mL dan 15,0 mL Untuk HCl 0,0156 M : 6,90 mL dan 5,90 mL

3. Persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = -0,3095 x + 0,0273 sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C adalah y = 1,4166 x + 0,5690. 4. Besar tetapan n dan k diperoleh dari persamaan regresi linier untuk log x/m terhadap log C yaitu sebesar n adalah 1,4166 dan k adalah 3,7068.

Daftar Pustaka

1) Atkin, P, W, 1990, Kimia Fisika, Jilid 2, Edisi ke-4, Erlangga, Jakarta. 2) Bird, Tony, 1993, Kimia Fisika untuk Universitas, Gramedia, Jakarta. 3) Dogra, S dan S.K Dogra, 1990, Kimia Fisik dan Soal-Soal, Universitas Indonesia Press, Jakarta. 4) Sukardjo, 1989, Kimia Fisika, Bina Aksara, Yogyakarta. 5) Tim Laboratorium Kimia Fisika, 2012, Penuntun Praktikum Kimia Fisika III, Jurusan Kimia F.MIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran 6) http://www.scribd.com/doc/64576117/G4-Isoterm-Adsorpsi, diakses pada 6 Oktober 2012 7) http://damandiri.or.id/file/nyomansukartaipbbab2.pdf, diakses pada 6 Oktober 2012

LAMPIRAN Jawaban Pertanyaan 1. Proses adsorpsi pada percobaan ini merupakan jenis adsorpsi kimia (khemisorpsi), karena pada proses adsorpsi ini terjadi pembentukan lapisan monomolekuler adsorbat pada permukaan melalui gaya-gaya valensi sisa dari molekul-molekul permukaan. 2. Perbedaan antara adsorpsi fisik dngan adsorbsi kimia adalah: Adsorpsi Fisik Molekul terikat pada adsorben oleh gaya van der Waals Entalpi reaksi 4 sampai 40 kJ/mol Dapat membentuk lapisan multilayer Adsorpsi hanya terjadi pada suhu di bawah titik didih adsorbat Jumlah adsorpsi pada permukaan Adsorpsi Kimia Molekul terikat pada adsorben oleh ikatan kimia Entalpi reaksi 40 sampai 800 kJ/mol Membentuk lapisan monolayer Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi Jumlah adsorpsi pada permukaan

merupakan fungsi adsorbat

merupakan karakteristik adsorben dan adsorbat

Tidak melibatkan energi aktifasi tertentu Bersifat tidak spesifik

Melibatkan energi aktifasi tertentu Bersifat sangat spesifik

Contoh adsorpsi fisik adalah adsorpsi gas pada charcoal Contoh adsorpsi kimia adalah adsorpsi O2 pada Ag, Pt dan adsorpsi asam asetat serta amonia oleh arang aktif. 3. Jika arang diaktifkan dengan cara pemanasan, maka sifat adsorpsinya adalah adsorpsi fisik. Hal ini bertujuan untuk membuka pori-pori arang sehinga dapat mengadsorpsi lebih mudah dan juga dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminan arang dan uap air yang terikat pada arang. 4. Isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat secara empirik dan hanya berlaku untuk gas yang bertekanan rendah. 5. Isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsorpsi Langmuir. Hal ini disebabkan

karena pada isoterm adsorpsi Freundlich nilai batas Vm (volume gas) tidak akan dicapai walaupun tekanan gas terus dinaikkan. Bentuk isoterm adsorpsi ini adalah isoterm BET (Brunaeur, Emmett, dan Teller) Isoterm BET ini mengembangkan isoterm Langmuir dimana dalam isoterm BET diasumsikan bahwa molekul-molekul adsorbat dapat membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di permukaannya. Selain itu teori ini menganggap bahwa adsorpsi juga dapat terjadi di atas lapisan adsorbat monolayer. Sehingga, isoterm adsorpsi BET dapat diaplikasikan untuk adsorpsi multilayer. Adapun proses pada adsorpsi BET yang terjadi adalah: a. Penempelan molekul pada permukaan padatan (adsorben) membentuk lapisan monolayer. b. Penempelan molekul pada lapisan monolayer membentuk lapisan multilayer.

Dimana persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut:


P V ( P0 P ) 1 Vm
C

( C 1) Vm
C

P P0

Dimana: P0 = Tekanan uap jenuh Vm = Kapasitas volume monolayer C = Konstanta