Anda di halaman 1dari 2

Fisiologi berbahasa Kemampuan berbahasa adalah salah satu contoh yang sangat baik mengenai plastisitas korteks dini

digabungkan dengan sifat menetap kemudian. Tidak seperti daerah sensorik dan daerah motorik yang ditemukan di kedua hemisfer, daerah-daerah yang bertanggungjawab untuk kemampuan berbahasa hanya dijumpai di satu hemisfer-hemisfer kiri pada sebagian besar populasi manusia. Bahasa adalah suatu bentuk komunikasi kompleks dengan kata-kata tertulis atau lisan melambangkan benda dan menyampaikan gagasan. Bahasa melibatkan integrasi dua kemampuan terpisah, yaitu ekspresi dan pemahaman. DDaraerah primer spesialisasi kortika untuk bahasa adalah daerah broca dan wernicke. Daerah broca, yang bertanggung jawab untuk kemampuan berbicara,terletak di lobus hemisfer dominan yang biasanya terdapat di hemisfer yang dominan. Daerah wernicke berhubungan dengan kemampuan pemahaman bahasa. Daerha ini berperan dalam pemahaman bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Daerah wernicke menerima masukan sensorik visual dari lobus occipitalis, suatu jalur yang penting dalam pemahaman membaca dan menjelaskan suatu benda yang tampak. Serta dari korteks auditorius, suatu jalur yang penting untuk pemahaman bahasa lisan. Jalur kortikal untuk mengucapkan kata atau memberi nama suatu benda yang terlihat dapat dijelaskan. Untuk menjelaskan sebuah benda yang tampak, otak mula-mula mengirim informasi penglihatan dari kortek visual ke daerah spesifik (girus angularis) korteks asosiasi parietal-temporal-occipital, suatu daerah yang berkaitan dengan integrasi masukan sensoris, misalnya penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Dari sini, informasi dipindahkan ke daerah wernicke, dimana daerah ini bertanggung jawb dalam pemahaman informasi yang ada. Setelah informasi ini diolah di wernicke, informasi kemudian diteruskan ke daerah broca yang pada gilirannya menerjemahkan pesan dari daerah wernicke menjadi suatu pola suara terprogram dan disampaikan ke daerah yang tepat pada korteks motorik primer untuk mengaktifkan otot-otot wajah yang sesuai, Demikian pula otot-otot tangan yang sesuai dapat diperintahkan untuk menulis katakata yang diinginkan. Fisiologi kesadaran Di daerah batang otak dan ke dalam talamus berjalan suatu jaringan luas neuron yang saling berhubungan yang disebut fomatio retikularis. Jaringan ini menerima dan mengintegrasikan semua masukan sinaps. Serat-serat ascendens yang berasal dari fomatio retikularis membawa sinyal ke daerah korteks untuk mengaktifkan korteks cerebrum. Serat-serat ini menyusun reticular activating system (RAS). Kesadaran mengacu pada kesadaran subjektif mengenai dunia luar dan diri, termasuk kesadaran mengenai dunia pikiran sendiri: yaitu, kesadaran mengenai pikiran, persepsi,mimpi, dan sebagainya. Ketajaman perhatian maksimum bergantung pada masukan sensorik penarik-perhatian yang memberi kekuatan pada RAS dan mengaktifkan korteks cerebrum secara keseluruhan. Gangguan pada pusat kesadaran akan mengakibatkan terjadinya gangguan kesadaran, seperti delirium, stupor, somnolent, bahkan ke koma.

Faktor-faktor penyesuaian peredaran darah Ekstrinsik 1. Tekanan darah sistemik

Kemampuan ini diukur dari curah jantung. Kelola simpatetik dan parasimpatetik yang berlaku untuk jantung dan juga pembuluh darah perifer adalah peranan pusat vasomotor di medulla oblongata dan korteks cerebri (area 12, 23, dan 32). Selain itu ada peranan dari baroreseptor dari sinus karotikus dan arcus aorta. Pada orang-orang yang sehat, kenaikan tekanan darah sistemik tidak menimbulkan perubahan pada cerebral blood flow, oleh karena sirkulasi serebral mempunyai mekanisme autoregulasi. 2. kemampuan pompa jantung Pada penyakit jantung kongestif, cardiac output akan menurun. Tetapi CBF bisa tetap konstan berkat autoregulasi cerebral. Pada keadaan tertentu cardiac output akan menurun secara drastis dan akan menurunkan perfusi ke aotak 3. kualitas pembuluh darah CBF total bergantung pada volume darah yang diperfusikan. Volume darah ini bergantung pada kualitas pembuluh darah yang ada. Pada kasus pasien aterosklerosis, apabila apa plaque yang ada pada pembuluh darah, maka aliran darah otak akan ikut tereduksi sampai batas dimana terjadi hipoksia karena penyempitan lumen pembuluh darah. 4. Kualitas darah Jumlah darah yang disampaikan ke otak bergantung pada viscositasnya. Pada anemia, CBF bertambah karena viscositasnya berkurang sedangkan pada polisitemia ADO akan berkurang karena viscositas darah bertambah. Faktor intrinsik 1. autoregulasi arteri serebral Pembuluh darah cerebral menyesuaikan lumennya pada ruang lingkup sedemikian rupa sehingga aliran darah tetap konstan. 2. faktor biokimiawi regional