Anda di halaman 1dari 13

BAB II DASAR TEORI

2.1 Pengertian gelombang bunyi Gelombang bunyi adalah gelombang yang dirambatkan sebagai gelombang mekanik longitudinal yang dapat menjalar dalam medium padat, cair dan gas. Medium gelombang bunyi ini adalah molekul yang membentuk bahan medium mekanik ini (Sutrisno, 1988). Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi/getaran molekul-molekul zat dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi bahakan tidak pernah terjadi perpindahan partikel (Resnick dan Halliday, 1992). Berbicara tentang substansi yang menjalar, apabila gelombang bunyi mencapai tapal batas maka gelombang bunyi tersebut akan terbagi dua yaitu sebagian energi ditransmisikan/diteruskan dan sebagian lagi

direfleksikan/dipantulkan. Suatu penelitian mengenai terjadinya penjalaran bunyi, mendeteksi dan penggunaan bunyi sangat penting untuk mengetahui lebih lanjut akan pengalihan energi mekanik (Giancoli, 1998). Binatang menggunakan gelombang bunyi/suara untuk memperoleh informasi dan untuk endeteksi lokasi dari suatu objek. Misalnya ikan lumba-lumba, kelelawar, menggunakan gelombang bunyi untuk menentukan lokasi makanan, apabila cahaya tidak cukup untuk melihat. Manusia berusaha menggunakan gelombang bunyi sebagai pengganti cahaya (Ackerman et al, 1988). 2.2 Pengertian Gelombang Ultrasonik

Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi di antara 40-50KHz. Gelombang ini dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas, hal ini disebabkan karena gelombang ultrasonik merupakan rambatan energi dan momentum mekanik sehingga merambat sebagai interaksi dengan molekul dan sifat inersia medium yang dilaluinya (Bueche, 1986). Karakteristik gelombang ultrasonik yang melalui mediu mengakibatkan getaran partikel sejajar dengan arah rambat secara longitudinal sehingga menyebabkan partikel medium membentuk rapatan (Strain) dan rengangan (Stress). Proses kontinyu yang menyebabkan terjadinya rapatan dan regangan di dalam medium disebabkan oleh getaran partikel secara periodik selama gelombang ultrasonik melaluinya (Resnick dan Halliday, 1992). Gelombang ultrasonik ini sering dipergunakan untuk pemeriksaan kualitas produksi di dalam industri. 2.3 Sifat Gelombang Ultrasonik Gelombang ultrasonik mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap oleh suatu medium/jaringan. Apabila gelombang ultrasonik ini mengenai permukaan jaringan, maka sebagian dari gelombang ultrasonik ini akan dipantulkan dan sebagian lagi akan diteruskan/ditransmisikan seperti pada gambar berikut.

Gambar 2.1Gelombang Ultrasonik dating normal pada bidang batas medium 1 dan medium 2.

Ao R T

: amplitudo gelombang ultrasonik mula-mula (cm). : amplitudo gelombang ultrasonik yang dipantulkan (cm). : amplitudo gelombang ultrasonik yang ditransmisikan (cm).

Gelombang ultrasonik yang keluar dari sumber transduser mengalir keluar ke semua arah dalam tiga dimensi. Gelombang ultrasonik merambat keluar, energi yang dibawanya tersebar ke permukaan yang makin lama makin luas, area merambat dalam arah tiga dimensi.

2.4 Sensor Ultrasonik Ping Sensor Ultrasonik Ping adalah sensor produksi Parallax yang sering digunakan pada aplikasi untuk mengukur jarak.

Gambar 2.2 Sensor Ultrasonik Ping

Sensor Ultrasonik Ping mendeteksi jarak obyek dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik kemudian menerima pantulannya. Spesifikasi sensor : Catu daya Arus Jarak Input trigger Echo pulse : 5VDC : 30mA; 35mA maksimal : 3cm s/d 3m : positive TTL pulse, 2s min, 5s type. : positive TL pulse, 115s to 18.5 ms

Echo Hold-off : 750s from fall of trigger pulse Frekuensi : 40kHz for 200s

Indikator aktifitas sensor : LED Delay pengukuran selanjutnya : 200s Ukuran : 22mm H x 46mm W x 16mm D

Gambar 2.3 Ilustrasi cara kerja sensor ultrasonic ping

Gelombang Ultrasonik merambat melalui udara dengan kecepatan 344m/s akan memantul saat terbentur obyek dan kembali ke sensor. Sensor Ultrasonik Ping akan mengeluarkan pulsa output high pada pin SIG setelah memancarkan gelombang ultrasonic dan setelah gelombang pantulan terdeteksi, sensor akan membuat output low pada SIG. Lebar pulsa high (tIN) akan sesuai dengan lama waktu tempuh gelombang ultrasonic untuk dua kali jarak tempuh obyek. Maka jarak yang diukur adalah [(tIN s 344ms)/2].

Gambar 2.4 Diagram waktu sensor ultrasonik ping

2.5 YS1020 RF Data Transceiver YS1020 merupakan modul komunikasi yang aman, mempunyai 8kanal dengan frekuensi yang berbeda. Frekuensi yang digunakan pada sistem ini adalah 433 MHz. Jarak jangkauan komunikasi sekitar 800 meter pada baudrate 9600bps dan 1000 meter pada baudrate 1200bps. Gambar ys Spesifikasi YS1020 :

RF power: 50mW/ 17dBm Receiving current: <25mA Transmitting current: 55mA


Sleep current: <20uA

Power supply: DC 5v or 3.3V Receiving sensitivity: 115 dBm (@9600bps) 120 dBm (@1200bps)

Size: 47mm26mm10mm (without antenna port ).

Range: 0.8Km (BER=103 @9600bpswhen antenna is 2m above ground in open area), 1Km (BER=103@1200bpswhen antenna is 2m above ground in open area).

2.5 Antena Penguasaan pengetahuan antena perlu dipelajari tersendiri disamping teknik radio, walaupun antena itu sendiri merupakan bagian dari radio. Pesawat radio dalam kondisi baik belum tentu dapat beroperasi secara optimal apabila dalam penginstalasian antenanya tidak sesuai/tidak tepat dan mengabaikan ketentuanketentuan sesuai teknik antena. Demikian pula penggunaan antena yang tidak benar akan dapat menyebabkan kerusakan pada pesawat yang bersangkutan. Sehingga penggunaan dan instalasi antena harus sesuai dengan ketentuan teknis serta kepentingan teknis. Seperti diketahui bersama antena mentransfer energi RF yang dihasilkan oleh sebuah pemancar radio, ketempat lain pada jarak tertentu. Energi dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Selama diradiasikan, gelombang bergerak melalui ruang, dan sebagian gelombang tersebut diserap oleh antena radio penerima. Sebuah tegangan diinduksikan ke antena penerima, kuat lemahnya tegangan tersebut tergantung dari intensitas gelombang yang dipancarkan, dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, misal : jarak penerima ke pemancar, tinggi antena dan gangguan selama perambatan. Antena terbuat dari bahan konduktor, dengan ukuran dan bentuk yang dibuat sedemikian sehingga memiliki pola tertentu, serta berfungsi menangkap dan atau memancarkan sinyal radio[8].

Didalam mempelajari antena kita kenal beberapa istilah/variabel yang erat kaitannya dalam pemilihan dan penggunaan sebuah antena. a. Panjang antena Panjang fisik antena dihitung berdasarkan panjang gelombang atau (Lamda) frekuensi kerja pesawat yang menggunakan antena tersebut. Panjang gelombang dihitung dalam satuan meter atau feet.

Rumusan diatas diperoleh dari kecepatan rambat gelombang radio diruang bebas yaitu 299,793,097 meter dan dibulatkan menjadi 300 meter per detik, atau 983,573, 087 feet per detik, yang dihitung jarak antar cycle atau periode. Oleh karenanya bila ingin menghitung panjang antena setengah panjang gelombang dapat juga langsung menggunakan rumus :

Sehubungan adanya perbedaan kecepatan rambat gelombang radio diudara dengan disuatu penghantar (conductor) maka dalam menghitung panjang fisik antena pada umumnya masih harus dikurangi faktor kependekan , sebesar 5% Contoh : Carima HF bekerja pada frekwensi : 10 MHZ.

Bila ingin dibuat antena dengan panjang setengah panjang gelombang :

Panjang fisik antena menjadi 15 (5%.15) = 14,25 meter.

b. Distribusi arus dan tegangan Bila kepada sebuah antena dicatukan energi RF, maka pada panjang antena tersebut terjadi arus dan tegangan. Contoh :

Gambar 2.10 Panjang Gelombang Arus dan Tegangan Sumber : Safiis Bobby, 2009

Arus dan tegangan mengalami nilai maksimum dan minimum. Pada antena dengan setengah panjang gelombang (half wave lenght) sebagaimana gambar diatas, nilai maksimum dan minimum arus dan tegangan akan terjadi pada setiap panjang kelipatan setengah panjang gelombang. c. Impedansi antena (antena impedance)

Impedansi antena diperoleh dari adanya harga dan tegangan sepanjang antena. Mengingat harga arus dan tegangan yang tidak sama disepanjang konduktor, maka nilai impedansi antena yang diperoleh tidak sama disepanjang antena. Pada ujung antena dengan panjang setengah lamda terdapat impedansi maksimum, sedangkan di titik tengah (center) antena tersebut terdapat impedansi minimum. Harga impedansi antena perlu dikenali dalam rangka penyesuaian impedansi (impedansi matching) terhadap saluran transmisi yang digunakan. Jadi bila energi RF dari radio pemancar disalurkan melalui saluran transmisi dengan impedansi karakteristik 75 ohm maka titik catu pada antena dicari pada impedansi yang mendekati 75 ohm[8]. d. Polarisasi Polarisasi adalah arah getaran komponen listrik (E) gelombang elektomagnetik yang bersangkutan terhadap bumi. Penerimaan antena akan lebih efektif bila dipasang sesuai polarisasi sinyal yang diterimanya. Sebagai ilustrasi perhatikan gambar di bawah ini[8].

Gambar 2.11 Polarisasi Sinyal Sumber : Safiis Bobby, 2009

e. Penguatan (Gain) Antena Sebagaimana telah dikemukaan terdahulu adanya perbedaan pengarahan antena timbul perbedaan intensitas penerimaan pada suatu titik. Gain antena

menggambarkan seberapa baik suatu antena memancarkan energi RF nya dan

seberapa kuat intenitas penerimaan pada suatu titik dari antena tersebut. Dengan kata lain antena yang radiasinya terarah akan mempunyai faktor penguatan yang lebih baik dibanding yang omnidirectional[8].

Keterangan : G K P P av = Gain = efisiensi (power yang diradiasikan dibandingkan power input) antena = rapat daya pada titik maksimum. = rata-rata rapat daya.

f. Panjang gelombang frekuensi Gelombang radio yang dipancarkan dari antena pemancar berjalan melalui atmosfer sebagai pemampatan dan pembiasan garis gaya elektris. Panjang gelombang dari puncak ke puncak atau dari lembah ke lembah disebut panjang gelombang atau dalam istilah ilmiahnya disebut lambda () seperti terlihat pada Gambar 2.12 Gelombang radio berjalan dari antena dengan kecepatan 3x108 m/detik atau sama dengan kecepatan cahaya, dengan kata lain gelombang radio berjalan sejauh 7,5x keliling bumi dalam 1 detik[3].

Gambar 2.12 Bentuk Gelombang Radio Sumber : Saparno Agus, 2008

Bentuk gelombang dari titik A ke C yang berulang-ulang dengan sendirinya disebut siklus, cacah siklus tiap detik disebut dengan frekuensi. Frekuensi satuannya adalah Hertz (Hz). Jika panjang gelombang adalah lambda (), cepat rambat gelombang adalah v (m/det), dan frekuensi adalah f (Hz), maka:

Gelombang yang mempunyai frekuensi yang lebih rendah akan mempunyai lambda yang lebih panjang, begitu sebaliknya gelombang yang mempunyai frekuensi yang tinggi mempunyai lambda yang pendek[3]. g. Pita Frekuensi ITU (International Telecommunication Union) menggolongkan spektrum frekuensi radio secara berkesinambungan dari frekuensi 3 kHz sampai dengan 3000 GHz dan membaginya menjadi 9 rentang pita frekuensi sebagai berikut : [9]
Tabel 2.2 Frekuensi dan Panjang Gelombang Sumber : http://denysetia.files.wordpress.com/2011/09/lampiran-permen-29-2009tabel-alokasi-spektrum-frekuensi-radio-indonesia.pdf

Catatan 1 : Pita N (N=Nomor Pita) berlaku dari 0.3 x 10N Hz s/d 3 x 10N Hz. Catatan 2 : Awalan : k = kilo (103 ), M = mega (106 ), G = giga (109 ).[9]