Anda di halaman 1dari 21

Kendala dan Solusi dalam BLUD

Kamis, 29 Maret 2012 Kendala yang dihadapi RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dalam BLUD
A. KENDALA PERSIAPAN 1. Format dokumen persyaratan administratif antara versi ARSADA dan versi BPKP. Solusi yang dilakukan menyiapkan dokumen menurut kedua versi tersebut. 2. Kegiatan studi banding dijadikan syarat rekomendasi penetapan sebagai PPK BLUD. Solusi tetap melakukan studi banding. 3. Kompetensi SDM RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tentang PPK BLUD masih belum optimal. Solusi mengikuti bimbingan teknis PPK BLUD. B. KENDALA PENETAPAN 1. Penetapan pola tarif layanan BLUD masih dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep, 2. Keputusan Bupati Sumenep tentang Pengangkatan Dewan Pengawas dan Pengangkatan Pejabat Pengelola belum ditetapkan, 3. Pembukaan rekening kas BLUD diharuskan dengan Keputusan Bupati Sumenep, C. KENDALA PENERAPAN 1. Peraturan yang terkait dengan pengelolaan BLUD Rumah Sakit belum semuanya ditetapkan, sehingga pihak RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep masih ragu untuk menjalankan fleksibilitas yang sudah dimilikinya, 2. Tidak boleh menggunakan pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebelum pengesahan RBA, 3. Status BLUD Penuh diartikan biiaya dari APBD hanya gaji Pegawai, biaya lain harus dari pendapatan BLUD, 4. Masalah Pengangkatan pegawai. Kecenderungan anggapan yang berkembang di kalangan stakeholder eksternal adalah bahwa jika RSUD sudah menjadi BLUD maka boleh mengangkat pegawai. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menitipkan sanak keluarga atau kerabatnya ke RSUD, meskipun yang bersangkutan tidak kompeten atau tidak sesuai dengan kebutuhan RS. Untu menghindari hal ini, maka RSUD harus memiliki SOP atau manual mengenai pengelolaan SDM (termasuk prosedur pengangkatan pegawai non PNS) dimana manual ini sebenarnya merupakan bagian dari sistem tata kelola RS dan harus dipatuhi oleh semua, 5. Sosialisasi mengenai PPK-BLU belum dilakukan menyeluruh, 6. Masalah tarif. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa jika RSUD sudah menjadi BLUD maka akan terjadi kenaikan tarif. Sepanjang kenaikan tarif tersebut dilakukan pada pelayanan bukan kelas III dan masih dalam jangkauan daya beli masyarakat, maka

sebenarnya hal itu tidak masalah. Masyarakat bisa memilih pelayanan dengan tarif yang sesuai dengan daya belinya. Namun jika pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif, padahal dari sisi biaya akan ada kenaikan karena RS akan memperbaiki mutu pelayanan, maka selisih antara tarif dan biaya perlu dihitung dan ditanggung oleh pemerintah (atau pihak lain) dalam bentuk subsidi kepada RS. Sebab tidak mungkin pada saat biaya naik (karena meningkatkan mutu pelayanan) tarif tidak dinaikkan dan subsidi juga tidak ada, 7. Kendala eksternal yang dihadapi RSUD adalah belum adanya kesepahaman yang sinergis terkait implementasi BLUD antara pihak Pemkab dengan RSUD,

SOLUSI YANG TELAH DILAKUKAN


Melakukan study banding ke rumah sakit-rumah sakit lain yang telah menerapkan sistem BLUD Melakukan seminar BLUD dengan narasumber eksternal yang sangat berkompeten Dengan membuat Peraturan pelaksanaan BLUD yang belum ada

UPAYA-UPAYA / RENCANA KE DEPAN YANG AKAN DITEMPUH PIHAK RUMAH SAKIT


Salah satu bentuk upaya rumah sakit dengan melakukan pendampingan ke Rumah Sakit lain seperti RS. Moewardi Solo untuk dilakukan pembimbingan maupun pendampingan sistem administrasi BLUD yang dilaksanakan Rumah Sakit.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/kendala-yang-dihadapi-rsud-drh-moh.html

Peraturan Pelaksanaan PPK BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


1. Keputusan Bupati Sumenep Nomor : 188 / 459 / 435.013 / 2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah Yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 2. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Investasi BLUD Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 3. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Pejabat Pengelola BLUD, 4. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pedoman Pembentukan Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 5. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Barang Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 6. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 7. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 tentang Kewenangan Penghapusan Piutang Badan Layanan Umum Daerah,

8. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 7 Tahun 2012 tentang Tatacara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan, dan Perubahan Rencana Bisnis dan Anggaran, serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah, 9. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Remunerasi Pejabat Pengelona, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum Daerah pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 10. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Pada Badan Layanan Umum Daerah, 11. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pedoman Kerjasama Pada Badan Layanan Umum Daerah, 12. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Utang Pada Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 13. Keputusan Direktur RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Nomor : 800 / 071 / 435.210 / 2012 Tanggal 2 Januari 2012 tentang Pengangkatan Bendahara Non APBD / APBN,
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/peraturan-pelaksanaan-ppk-blud-di-rsud.html

Fleksibilitas yang diperoleh RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dalam menerapkan PPK BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tidak disetor ke Rekening Kas Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, tapi disetor ke Rekening Kas RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dan dapat digunakan secara langsung untuk membiayai operasional RS dalam rangka meningkatkan mutu layanan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 2. Belanja BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat melampaui anggaran sepanjang masih dalam ambang batas sesuai RBA, 3. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan kerjasama dengan pihak ketiga, 4. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan utang dan memberikan oiutang kepada pihak lain, 5. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan investasi jangka pendek, dan investasi jangka panjang harus mendapat persetujuan Bupati Sumenep, 6. Pengadaan barang dan jasa dani dana pendapatan non APBD / APBN di BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat tidak menggunakan Perpres tentang Pengadaan Barang dan Jasa sepanjang terdapat alasan yang efektifitas dan efisiensi, 7. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat menghapus aset tidak tetap, 8. Pegawai dan Pejabat Pengelola BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat dari PNS dan Non PNS, 9. Pada BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dimungkinkan ada Dewan Pengawas, tergantung aset dan omset, 10. Remunerasi pegawai BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sesuai tanggung jawab dan profesionalisme,

11. Penetapan tarif layanan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dengan Peraturan Bupati Sumenep, 12. Laporan keuangan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep meliputi laporan operasional, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan laporan kinerja, 13. Surplus pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tidak disetor ke Rekening Kas Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/fleksibilitas-yang-diperoleh-rsud-drh.html

JENIS STATUS BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Status BLUD Penuh Status BLUD Penuh ditetapkan apabila seluruh persyaratan substantif, tekns dan administratif telah dipenuhi dan dinilai memuaskan. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep telah ditetapkan sebagai BLUD dengan status penuh. 2. Status BLUD Bertahap Status BLUD bertahap ditetapkan bila persyaratan substantif dan teknis terpenuhi, namun persyaratan administratif dinilai belum terpenuhi secara memuaskan. Status BLUD bertahap diberikan fleksibilitas pada batas-batas tertentu berkaitan dengan jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan piutang, serta perumusan standar, kebijakan, sistem, dan prosedur pengelolaan keuangan. Status BLUD bertahap tidak diberikan fleksibilitas dalam hal pengelolaan investasi, pengelolaan utang, dan pengadaan barang dan/atau jasa.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/jenis-status-blud.html

Sumenep, Bhirawa

Rumah Sakit Umum Daerah (RSD) dr Moh Anwar Sumenep ditargetkan awal April 2011 berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Namun melihat persiapan yang dilakukan, diperkirakan RS milik pemkab itu tidak akan bisa memenuhi target yang telah ditentukan sebelumnya. Pasalnya untuk menjadi BLU perlu mempersiapkan beberapa persyaratan yang ada. Meski RSUD sudah melakukan audit yang harus dipenuhi sebagai persyaratan untuk menjadi BLU, namun harus menambah beberapa peralatan yang masih dianggap kurang. Dari hasil audit yang dilakukan pihak internal pemkab dan pihak independen, RSUD mempunyai aset akumulatif sebesar Rp 93,4 miliar. Direktur RSUD dr Moh Anwar Sumenep, dr Susianto mengatakan saat ini rumah sakit yang ia pimpin itu masih dalam tahap transisi. Masih banyak kekurangan yang perlu dilengkapi untuk menjadi BLU. Salah satu hal yang perlu diperbaiki adalah sistem administrasi keuangan. Sampai saat ini masih belum siap. "Kalau ditarget berubah menjadi BLU pada April ini, jujur kami masih belum siap. Karena hingga saat ini

ada banyak kekurangan yang perlu penyempurnaan seperti alat-alat yang ada di ruang IGD, ICU, NICU, PICU dan alat anastesi di kamar bedah,"ungkap Susianto, Minggu (27/3) melalui via teleponnya. Untuk itu perlu banyak waktu untuk melengkapi kekurangan tersebut. Namun, pihaknya memastikan dalam tahun ini, RSUD ini sudah berubah menjadi BLU. "Kalau RSUD ini sudah menjadi BLU, pengelolaannya termasuk keuangan sudah dikelola sendiri tanpa bergantung pada pemerintah. Anggaran dari pemerintah sudah di stop. Hanya saja untuk gaji pegawainya saja yang tetap dari APBD," tambahnya. Menurut mantan kepala Dinkes Kab Sumenep ini, sebenarnya pihaknya sangat berharap status RSUD ini berubah karena jika sudah menjadi BLU akan dapat mengelola semua program dan kegiatan yang ada di rumah sakit. Namun konsekuensinya beban yang diemban rumah sakit akan lebih berat. "Beban yang harus dipikul rumah sakit setelah menjadi BLU antara lain harus bisa mengelola keuangan yang dimiliki rumah sakit. Tidak ada dana dari APBD seperti saat sekarang ini. Namun kalau pemerintah memberikan dana, kami tetap terima untuk melengkapi peralatan yang lain," ujarnya. Ia menegaskan, persoalan minimnya jumlah dokter spesialis tidak menjadi alasan untuk mengubah statusnya. Meski saat ini rumah sakit plat merah ini masih kekurangan tenaga medis terutama dokter spesialis, proses BLU akan tetap jalan. "Baru kalau mau mengubah status dari kelas C ke kelas B perlu penambahan dokter spesialis. Kalau hanya akan menjadi badan layanan umum tidak perlu menambah dokter. Kalau untuk status kelas, kami targetkan tahun 2014, rumah sakit Moh Anwar ini bisa menjadi kelas B. Kalau sekarang kami masih memikirkan berubah menjadi BLU dulu,"tuturnya. Ia menjelaskan, jika semuanya sudah siap, pihaknya akan mengajukan kepada pemkab dan kemudian akan diputuskan melalui rapat antara eksekutif dengan legislatif. "Perubahan menjadi BLU ini kan butuh persetujuan dewan, makanya setelah semuanya sudah siap, kami rapatkan melalui persetujuan dewan,"pungkasnya. http://www.harianbhirawa.co.id/publik/27447-rsud-moh-anwar-tak-siap-jadi-blu

Peraturan Pelaksanaan PPK BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


1. Keputusan Bupati Sumenep Nomor : 188 / 459 / 435.013 / 2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah Yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 2. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Investasi BLUD Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 3. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Pejabat Pengelola BLUD, 4. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pedoman Pembentukan Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 5. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Barang Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep,

6. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 7. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 tentang Kewenangan Penghapusan Piutang Badan Layanan Umum Daerah, 8. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 7 Tahun 2012 tentang Tatacara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan, dan Perubahan Rencana Bisnis dan Anggaran, serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah, 9. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Remunerasi Pejabat Pengelona, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum Daerah pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 10. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Pada Badan Layanan Umum Daerah, 11. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pedoman Kerjasama Pada Badan Layanan Umum Daerah, 12. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Utang Pada Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 13. Keputusan Direktur RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Nomor : 800 / 071 / 435.210 / 2012 Tanggal 2 Januari 2012 tentang Pengangkatan Bendahara Non APBD / APBN,
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/peraturan-pelaksanaan-ppk-blud-di-rsud.html

Dasar Hukum BLUD RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


Dasar hukum pelaksanaan PPK BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep antara lain : 1. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Pasal 68 & Pasal 69) 2. PP No. 23 Th. 2005 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPKBLU) 3. PP No. 58 Th. 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 4. Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis PPK-BLUD 5. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 7 Ayat 3 dan Pasal 20 Ayat 3) 6. Keputusan Bupati Sumenep Nomor : 188 / 459 / 435.013 / 2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah Yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD).
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/dasar-hukum-blud-rsud-dr-h-moh-anwar.html

Syarat-Syarat BLUD

Kamis, 29 Maret 2012

1. Persyaratan Substantif Layanan umum pemerintah yang dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD, apabila : menyediakan barang dan/atau jasa, mengelola wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum, dan mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep merupakan SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep yang menyediakan barang dan / atau jasa. 2. Persyaratan Teknis, Layanan umum pemerintah yang dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD, apabila kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLUD dan kinerja keuangannya sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep layak dikelola secara BLUD karena kinerja keuangannya yang selalu meningkat setiap tahunnya. 3. Persyaratan Administratif Persyaratan administratif penerapan PPK BLUD yang telah dipenuhi oleh RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep meliputi : o Dokumen Pola tata kelola (Peraturan Internal) yang baik, o Dokumen Rencana Strategis Bisnis (RSB) Tahun 2011 2015, yang merupakan suatu proses perencanaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun, o Standar Pelayanan Minimum Tahun 2011 2015, yang merupakan ukuran pelayanan yang harus dipenuhi, o Laporan keuangan pokok yang terdiri atas laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan tahunan, o Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, kinerja keuangan, dan kinerja manfaat bagi masyarakat, o Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.

http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/syarat-syarat-blud.html

RSUD sebagai BLUD: Isu-isu Penting


Januari 14, 2010 tags: apbd, BLUD, kebijakan daerah, pemda, RSUD by syukriy

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) adalah unit kerja atau SKPD pemerintah daerah yang paling banyak diubah statusnya menjadi BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Karakter RSUD memang sangat cocok dengan status BLUD, misalnya (1) memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat; (2) menarik bayaran atas jasa yang diberikannya; (3) memiliki lingkungan persaingan yang berbeda dengan SKPD biasa; (4) pendapatan yang diperoleh dari jasa yang diberikannya cukup signifikan; dan (5)adanya spesialisasi dalam hal keahlian karyawannya.

Pengangkatan RSUD menjadi BLUD dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk keprofesional pelayanan publik di pemerintahan daerah. Namun, sebagai pihak mengkritik ini karena sebenarnya menunjukkan bahwa Pemda belum mampu mengelola dan memberdayakan dana berlimpah yang dimilikinya untuk menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. Bahkan ada yang pesimis bahwa BLUD tidak akan berhasil kecuali hanya menjadi sumber penghasilan bagi para pengelolanya. Isu-isu Penting Ada beberapa isu penting terkait penetapan RSUD sebagai BLUD, di antaranya:
1. Penganggaran. Berbeda dengan SKPD yang menyusun dokumen RKA-SKPD, BLUD membuat RBA. 2. Pengelolaan keuangan. Fleksibilitas merupakan salah satu alasan mengapa pengelolaan keuangan BLUD menggunakan pola yang berbeda. BLUD dapat menggunakan pendapatan yang diperoleh dari pelayanan yang diberikannya (charges) untuk membiayai operasional BLUD. 3. Penatausahaan dan akuntansi. Penatausahaan dan akuntansi BLUD didasarkan pada prinsip efektifitas, efisiensi, dan profesionalitas, dan mengikuti apa yang berlaku di bisnis. Standar akuntansi yang diikuti adalah Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 4. Pertanggungjawaban. Pengelola BLUD menyampaikan pertanggungjawaban kepada kepala daerah dan laporan keuangan BLUD akan diintegrasikan dengan laporan keuangan SKPD Pemda lainnya. Oleh karena ada perbedaan antara SAK dengan SAP, maka harus dilakukan penyesuaian atau konversi dari SAK ke SAP. 5. Kerja sama. Sebagai entitas ekonomi yang diberi keleluasaan untuk memperoleh pendapatan sendiri, BLUD dapat melakukan kerja sama dengan pihak ketiga, sesuai dengan fungsi dan bidang bisnisnya. Namun, karena BLUD bukanlah merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, maka kerja sama yang dilakukan masih dalam kerangka atau lingkup kekuasaan kepala daerah. 6. Pengadaan barang dan jasa. Bagi RSUD yang berstatus BLUD penuh, sistem pengadaan barang dan jasa tidak mengikuti Keppres 80/2003. Untuk RSUD, Menteri Kesehatan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa RSUD yang berstatus BLUD penuh tidak mempedomani Keppres 80.

Peraturan Perundangan tentang BLUD Pemerintah telah menerbitkan banyak regulasi terkait dengan pengelolaan keuangan BLU dan BLUD. Berikut disajikan beberapa Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Keuangan (PMK), dan Keputusan Menteri Kesehatan terkait dengan BLU dan BLUD.
1. Peraturan Pemerintah No.23/2005 tentang Pengelolan Keuangan Badan Layanan Umum. (Silahkan unduh di sini) 2. Permendagri No.61/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. 3. Peraturan Menteri Keuangan No. 07/PMK.02/2006 tentang Persyaratan Administratif dalam Rangka Pengusulan dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah untuk Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

4. Peraturan Menteri Keuangan No.08/PMK.02/2006 tentang Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa pada Badan Layanan Umum. 5. Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.02/2006 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan, dan Perubahan Rencana Bisnis dan Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum. 6. Peraturan Menteri Keuangan No.10/PMK.02/2006 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi bagi Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, dan Pegawai Badan Layanan Umum. 7. Peraturan Menteri Keuangan No. 73/PMK.05/2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No.10/PMK.02/2006 Tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, dan Pegawai Badan Layanan Umum. 8. Peraturan Menteri Keuangan No.109/PMK.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum. 9. Peraturan Menteri Keuangan No. 119/PMK.05/2007 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 10. Peraturan Menteri Keuangan No.44/PMK.05/2009 tentang Rencana Bisnis dan Anggaran serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum. 11. Peraturan Menteri Keuangan No.119/PMK.02/2009 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2010. 12. Peraturan Menteri Keuangan No.217/PMK.05/2009 tentang Pedoman Pemberian Bonus atas Prestasi Bagi Rumah Sakit Eks-Perjan yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 13. Keputusan Menteri Kesehatan No. 703/MENKES/SK/IX/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa pada Instansi Pemerintah Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum di Lingkungan Departemen Kesehatan. 14. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. PER-08/PB/2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Dewan Pengawas Badan Layanan Umum di Lingkungan Pemerintah Pusat.

Diskusi tentang pengelolaan keuangan BLUD, khususnya RSUD akan tetap hangat dalam beberapa tahun ke depan, sepanjang peraturan yang dibuat oleh Pemerintah belum sepenuhnya dipahami atau dapat diimplementasikan oleh Daerah.
http://syukriy.wordpress.com/2010/01/14/rsud-sebagai-blud-isu-isu-penting/ Peresmian Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep pada Tanggal 04 Januari 2012 dihadiri oleh beberapa unsur-unsur penting Pemerintah Kabupaten Sumenep seperti : Bapak Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sumenep, dan lain-lain. Tak luput peresmian ini juga mendapat dukungan dari masyarakat Kabupaten Sumenep dan beberapa pihak diantaranya seperti : Bank BCA, Bank BNI, PT. Telkom, Bank BPRS, dan lain-lain. http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/01/peresmian-badan-layanan-umum-daerah.html

Dasar Hukum BLUD RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


Dasar hukum pelaksanaan PPK BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep antara lain : 1. UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Pasal 68 & Pasal 69) 2. PP No. 23 Th. 2005 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPKBLU) 3. PP No. 58 Th. 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 4. Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis PPK-BLUD 5. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 7 Ayat 3 dan Pasal 20 Ayat 3) 6. Keputusan Bupati Sumenep Nomor : 188 / 459 / 435.013 / 2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah Yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD).
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/dasar-hukum-blud-rsud-dr-h-moh-anwar.html

Pengertian, Tujuan dan Azas BLUD di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


PENGERTIAN RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP SEBAGAI POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (PPK BLUD) RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang memberikan pelaya-nan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD) adalah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang diberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. TUJUAN PENERAPAN BLUD DI RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP Penerapan PPK-BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah daerah dalam memajukan kesejah-teraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. AZAS PPK BLUD DI RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP 1. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan PPK BLUD bertujuan memberikan layanan umum secara lebih efektif dan efisien sejalan dengan praktek bisnis yang sehat,

2. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan PPK BLUD merupakan SKPD di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep yang membantu pencapaian tujuan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, dengan status hukum tidak terpisah dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, 3. Pejabat pengelola BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep bertang-gung jawab atas pelaksanaan kegiatan pemberian layanan umum yang didelegasikan oleh Bupati Sumenep, 4. Dalam pelaksanaan kegiatan, BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep harus mengutamakan efektivitas dan efisiensi serta kualitas pelayanan umum kepada masyarakat tanpa mengutamakan pencarian keuntungan, 5. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, 6. Dalam menyelenggarakan dan meningkatkan layanan kepada masyara-kat, BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep diberikan fleksibilltas dalam pengelolaan keuangannya.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/pengertian-tujuan-dan-azas-blud-di-rsud.html

Pengertian, Tujuan dan Azas BLUD di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


PENGERTIAN RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP SEBAGAI POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (PPK BLUD) RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang memberikan pelaya-nan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD) adalah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang diberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. TUJUAN PENERAPAN BLUD DI RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP Penerapan PPK-BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah daerah dalam memajukan kesejah-teraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. AZAS PPK BLUD DI RSUD Dr.H. MOH. ANWAR SUMENEP 1. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan PPK BLUD bertujuan memberikan layanan umum secara lebih efektif dan efisien sejalan dengan praktek bisnis yang sehat,

2. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan PPK BLUD merupakan SKPD di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep yang membantu pencapaian tujuan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, dengan status hukum tidak terpisah dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, 3. Pejabat pengelola BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep bertang-gung jawab atas pelaksanaan kegiatan pemberian layanan umum yang didelegasikan oleh Bupati Sumenep, 4. Dalam pelaksanaan kegiatan, BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep harus mengutamakan efektivitas dan efisiensi serta kualitas pelayanan umum kepada masyarakat tanpa mengutamakan pencarian keuntungan, 5. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, 6. Dalam menyelenggarakan dan meningkatkan layanan kepada masyara-kat, BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep diberikan fleksibilltas dalam pengelolaan keuangannya.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/pengertian-tujuan-dan-azas-blud-di-rsud.html

Syarat-Syarat BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Persyaratan Substantif Layanan umum pemerintah yang dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD, apabila : menyediakan barang dan/atau jasa, mengelola wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum, dan mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep merupakan SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep yang menyediakan barang dan / atau jasa. 2. Persyaratan Teknis, Layanan umum pemerintah yang dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD, apabila kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLUD dan kinerja keuangannya sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep layak dikelola secara BLUD karena kinerja keuangannya yang selalu meningkat setiap tahunnya. 3. Persyaratan Administratif Persyaratan administratif penerapan PPK BLUD yang telah dipenuhi oleh RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep meliputi : o Dokumen Pola tata kelola (Peraturan Internal) yang baik, o Dokumen Rencana Strategis Bisnis (RSB) Tahun 2011 2015, yang merupakan suatu proses perencanaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun, o Standar Pelayanan Minimum Tahun 2011 2015, yang merupakan ukuran pelayanan yang harus dipenuhi, o Laporan keuangan pokok yang terdiri atas laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan tahunan,

o o

Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, kinerja keuangan, dan kinerja manfaat bagi masyarakat, Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.

http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/syarat-syarat-blud.html

Proses Penetapan RSUD dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebagai PPK BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Pencanangan tekad menuju penerapan PPK BLUD oleh Direktur RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep pada bulan Maret 2011 2. Pembentukan Tim Persiapan BLUD pada bulan Maret 2011 3. Penyusunan dokumen persyaratan administratif dari bulan Maret 2011 s/d bulan Oktober 2011 4. Penilaian dokumen persyaratan administratif oleh Tim Pemkab Sumenep dari bulan Nopember 2011 s/d Desember 2011 5. Penetapan RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebagai PPK BLUD pada akhir Bulan Desember 2011 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2012 6. Penyusunan peraturan-peraturan pelaksanaan PPK BLUD

Manfaat Penerapan PPK BLUD di RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


Keuntungan RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep yang menerapkan PPK BLUD yaitu : 1. Tata kelola keuangan RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep lebih baik dan transparan karena menggunakan pelaporan standar akutansi keuangan yang memberi informasi tentang laporan aktivitas, laporan posisi keuangan, laporan arus kas dan catatan laporan keuangan. 2. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep masih mendapat subsidi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep seperti biaya gaji pegawai, biaya operasional, dan biaya investasi atau modal. 3. Pendapatan RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat digunakan langsung untuk membiayai kegiatan peningkatan mutu pelayanan RS dan tidak disetor ke kantor kas Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, dan hanya dilaporkan saja ke PPKD. 4. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat mengembangkan pelayanannya karena tersedianya dana untuk kegiatan operasional RS, baik dari subsidi pemerintah maupun dari pendapatan fungsionalnya sendiri. 5. Membantu RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep meningkatkan kualitas SDM nya dengan perekrutan pegawai non PNS yang sesuai kebutuhan dan kompetensi. 6. Adanya sistem remunerasi yang berbasis kinerja di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/manfaat-penerapan-ppk-blud-di-rsud-dr-h.html

JENIS STATUS BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Status BLUD Penuh Status BLUD Penuh ditetapkan apabila seluruh persyaratan substantif, tekns dan administratif telah dipenuhi dan dinilai memuaskan. RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep telah ditetapkan sebagai BLUD dengan status penuh. 2. Status BLUD Bertahap Status BLUD bertahap ditetapkan bila persyaratan substantif dan teknis terpenuhi, namun persyaratan administratif dinilai belum terpenuhi secara memuaskan. Status BLUD bertahap diberikan fleksibilitas pada batas-batas tertentu berkaitan dengan jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan piutang, serta perumusan standar, kebijakan, sistem, dan prosedur pengelolaan keuangan. Status BLUD bertahap tidak diberikan fleksibilitas dalam hal pengelolaan investasi, pengelolaan utang, dan pengadaan barang dan/atau jasa.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/jenis-status-blud.html

Fleksibilitas yang diperoleh RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dalam menerapkan PPK BLUD

Kamis, 29 Maret 2012


1. Pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tidak disetor ke Rekening Kas Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, tapi disetor ke Rekening Kas RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dan dapat digunakan secara langsung untuk membiayai operasional RS dalam rangka meningkatkan mutu layanan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 2. Belanja BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat melampaui anggaran sepanjang masih dalam ambang batas sesuai RBA, 3. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan kerjasama dengan pihak ketiga, 4. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan utang dan memberikan oiutang kepada pihak lain, 5. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep boleh melakukan investasi jangka pendek, dan investasi jangka panjang harus mendapat persetujuan Bupati Sumenep, 6. Pengadaan barang dan jasa dani dana pendapatan non APBD / APBN di BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat tidak menggunakan Perpres tentang Pengadaan Barang dan Jasa sepanjang terdapat alasan yang efektifitas dan efisiensi, 7. BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat menghapus aset tidak tetap,

8. Pegawai dan Pejabat Pengelola BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dapat dari PNS dan Non PNS, 9. Pada BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dimungkinkan ada Dewan Pengawas, tergantung aset dan omset, 10. Remunerasi pegawai BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sesuai tanggung jawab dan profesionalisme, 11. Penetapan tarif layanan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dengan Peraturan Bupati Sumenep, 12. Laporan keuangan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep meliputi laporan operasional, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan laporan kinerja, 13. Surplus pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tidak disetor ke Rekening Kas Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/fleksibilitas-yang-diperoleh-rsud-drh.html

Peraturan Pelaksanaan PPK BLUD di RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep

Kamis, 29 Maret 2012


1. Keputusan Bupati Sumenep Nomor : 188 / 459 / 435.013 / 2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah Yang Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 2. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Investasi BLUD Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 3. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Pejabat Pengelola BLUD, 4. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pedoman Pembentukan Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah Pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 5. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Barang Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 6. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, 7. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 tentang Kewenangan Penghapusan Piutang Badan Layanan Umum Daerah, 8. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 7 Tahun 2012 tentang Tatacara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan, dan Perubahan Rencana Bisnis dan Anggaran, serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah, 9. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Remunerasi Pejabat Pengelona, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum Daerah pada RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep, 10. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Pada Badan Layanan Umum Daerah, 11. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pedoman Kerjasama Pada Badan Layanan Umum Daerah, 12. Peraturan Bupati Sumenep Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Utang Pada Badan Layanan Umum Daerah RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep,

13. Keputusan Direktur RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep Nomor : 800 / 071 / 435.210 / 2012 Tanggal 2 Januari 2012 tentang Pengangkatan Bendahara Non APBD / APBN,
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/peraturan-pelaksanaan-ppk-blud-di-rsud.html

Kendala dan Solusi dalam BLUD

Kamis, 29 Maret 2012 Kendala yang dihadapi RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep dalam BLUD
A. KENDALA PERSIAPAN 1. Format dokumen persyaratan administratif antara versi ARSADA dan versi BPKP. Solusi yang dilakukan menyiapkan dokumen menurut kedua versi tersebut. 2. Kegiatan studi banding dijadikan syarat rekomendasi penetapan sebagai PPK BLUD. Solusi tetap melakukan studi banding. 3. Kompetensi SDM RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep tentang PPK BLUD masih belum optimal. Solusi mengikuti bimbingan teknis PPK BLUD. B. KENDALA PENETAPAN 1. Penetapan pola tarif layanan BLUD masih dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep, 2. Keputusan Bupati Sumenep tentang Pengangkatan Dewan Pengawas dan Pengangkatan Pejabat Pengelola belum ditetapkan, 3. Pembukaan rekening kas BLUD diharuskan dengan Keputusan Bupati Sumenep, C. KENDALA PENERAPAN 1. Peraturan yang terkait dengan pengelolaan BLUD Rumah Sakit belum semuanya ditetapkan, sehingga pihak RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep masih ragu untuk menjalankan fleksibilitas yang sudah dimilikinya, 2. Tidak boleh menggunakan pendapatan BLUD RSUD Dr.H. Moh. Anwar Sumenep sebelum pengesahan RBA, 3. Status BLUD Penuh diartikan biiaya dari APBD hanya gaji Pegawai, biaya lain harus dari pendapatan BLUD, 4. Masalah Pengangkatan pegawai. Kecenderungan anggapan yang berkembang di kalangan stakeholder eksternal adalah bahwa jika RSUD sudah menjadi BLUD maka boleh mengangkat pegawai. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menitipkan sanak keluarga atau kerabatnya ke RSUD, meskipun yang bersangkutan tidak kompeten atau tidak sesuai dengan kebutuhan RS. Untu menghindari hal ini, maka RSUD harus memiliki SOP atau manual mengenai pengelolaan SDM (termasuk prosedur

pengangkatan pegawai non PNS) dimana manual ini sebenarnya merupakan bagian dari sistem tata kelola RS dan harus dipatuhi oleh semua, 5. Sosialisasi mengenai PPK-BLU belum dilakukan menyeluruh, 6. Masalah tarif. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa jika RSUD sudah menjadi BLUD maka akan terjadi kenaikan tarif. Sepanjang kenaikan tarif tersebut dilakukan pada pelayanan bukan kelas III dan masih dalam jangkauan daya beli masyarakat, maka sebenarnya hal itu tidak masalah. Masyarakat bisa memilih pelayanan dengan tarif yang sesuai dengan daya belinya. Namun jika pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif, padahal dari sisi biaya akan ada kenaikan karena RS akan memperbaiki mutu pelayanan, maka selisih antara tarif dan biaya perlu dihitung dan ditanggung oleh pemerintah (atau pihak lain) dalam bentuk subsidi kepada RS. Sebab tidak mungkin pada saat biaya naik (karena meningkatkan mutu pelayanan) tarif tidak dinaikkan dan subsidi juga tidak ada, 7. Kendala eksternal yang dihadapi RSUD adalah belum adanya kesepahaman yang sinergis terkait implementasi BLUD antara pihak Pemkab dengan RSUD,

SOLUSI YANG TELAH DILAKUKAN


Melakukan study banding ke rumah sakit-rumah sakit lain yang telah menerapkan sistem BLUD Melakukan seminar BLUD dengan narasumber eksternal yang sangat berkompeten Dengan membuat Peraturan pelaksanaan BLUD yang belum ada

UPAYA-UPAYA / RENCANA KE DEPAN YANG AKAN DITEMPUH PIHAK RUMAH SAKIT


Salah satu bentuk upaya rumah sakit dengan melakukan pendampingan ke Rumah Sakit lain seperti RS. Moewardi Solo untuk dilakukan pembimbingan maupun pendampingan sistem administrasi BLUD yang dilaksanakan Rumah Sakit.
http://peduli-pelanggan-rs.blogspot.com/2012/03/kendala-yang-dihadapi-rsud-drh-moh.html Jurnalnet.com (Jakarta): Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengimbau semua pemerintah daerah agar menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayahnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU) supaya rumah sakit yang bersangkutan bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. "Sebab bagaimana mereka bisa mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat jika mereka mempunyai kewajiban rutin untuk menyetorkan pendapatannya kepada pemerintah daerah," katanya pada pembukaan Pertemuan Perencanaan Kesehatan Nasional Tahun 2007 di Jakarta, Selasa (19/9). Pada pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 1.200 pejabat Dinas Kesehatan daerah, 106 pejabat Departemen Kesehatan dan Direktur RSUD dari seluruh Indonesia itu menteri juga mengatakan bahwa seharusnya pemerintah daerah memberi kesempatan kepada RSUD di wilayahnya untuk mengelola

instansinya secara mandiri. "RSUD harus diberi kesempatan untuk mengelola pendapatannya sendiri dan tidak perlu menyetorkan pendapatan kepada pemerintah daerah supaya dapat meningkatkan kualitas layanan," katanya serta menambahkan kebijakan itu tetap harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang ketat supaya tidak terjadi penyimpangan. Hal itu, menurut dia, semestinya dilakukan karena meskipun pemerintah daerah memiliki payung hukum untuk menarik setoran dari pendapatan RSUD namun di sisi lain pemerintah daerah juga berkewajiban memberikan layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat karena merupakan amanat undang-undang. "Peraturannya tentang itu memang ada, karena itu saya tidak bisa memaksa. Saya hanya mengimbau agar semua RSUD dijadikan BLU karena itu juga bagian dari amanat dari undang-undang yang harus dilaksanakan," tambahnya. Di samping itu keberadaan Undang-undang Nomor 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara yang ditindaklanjuti dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 40/2005 tentang Badan Layanan Umum (BLU) juga memungkinkan pengelolaan institusi layanan publik milik pemerintah secara mandiri yang ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme pelayanan dengan tidak mengutamakan pencarian keuntungan. Menteri Kesehatan mengatakan saat ini pemerintah tengah menyiapkan produk hukum guna mendorong perubahan RSUD menjadi BLU. "Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang hal itu sedang dibahas," katanya. Sementara itu Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Husein mengemukakan, saat ini di seluruh Indonesia terdapat sekitar 1.000 RSUD dan 27 rumah sakit umum vertikal atau rumah sakit yang langsung berada di bawah koordinasi Departemen Kesehatan. "Dari 27 rumah sakit vertikal yang ada baru 13 rumah sakit yang sudah menjadi BLU sedangkan sisanya masih dalam proses untuk menjadi BLU," katanya. Rumah sakit vertikal yang telah menjadi BLU di antaranya adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (Jakarta), Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (Jakarta), Rumah Sakit Kanker Dharmais (Jakarta), Rumah Sakit dr.Sardjito (Yogyakarta), Rumah Sakit Adam Malik (Medan), Rumah Sakit Sanglah (Denpasar) dan Rumah Sakit dr.Karyadi (Semarang). Sedangkan hampir semua RSUD yang jumlahnya sekitar 1.000 rumah sakit di seluruh Indonesia, menurut dia, hingga saat ini belum menjadi BLU.

Walaupun mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp1,7 triliun per tahun namun RSUD tersebut masih harus menyetorkan pendapatan rumah sakit sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada pemerintah daerah. http://www.jurnalnet.com/konten.php?nama=Aktualita&id=464 http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/14099/H09nas_abstract.pdf?sequence=1 http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2011/09/artikel-tesis.pdf http://eschedulling.pembangunanpamekasan.info/content/rup/pdf.php?idnya=3&tahun=2012
Sumenep (beritajatim.com) - Jumlah pasien yang berobat ke Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. H. Moh. Anwar Sumenep menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data di Rumah Sakit plat merah yang sekarang sudah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), untuk pasien tahun 2011, mulai Januari - Agustus, jumlahnya sudah melebihi jumlah pasien selama tahun 2010. Bupati Sumenep A Busyro Karim, Sabtu (21/01/12), mengaku mengapresiasi terhadap membludaknya jumlah pasien tersebut. "Itu berarti ada peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit daerah Sumenep. Membludaknya pasien ini karena tidak hanya dari Sumenep, tetap warga Sampang dan Pamekasan, juga banyak yang datang berobat ke rumah sakit Sumenep," katanya. Namun menurut Busyro, peningkatan jumlah pasien itu juga merupakan tantangan, karena berarti sarana dan prasarana yang ada di rumah sakit harus dicukupi. "Ini yang terus kami upayakan solusinya. Karena dengan jumlah pasien yang membludak, terjadi antrian untuk pasien rawat inap. Ruangannya penuh semua. Yang mau masuk harus antri," ujarnya. Busyro mengungkapkan, RSD Sumenep tahun 2011 mendapat grojokan dana Rp 3 milyar dari APBN. Dana tersebut dibelanjakan untuk alat-alat kesehatan. Namun untuk tahun 2012, dana dari APBN ini diharap bisa digunakan untuk perbaikan gedung-gedung rawat inap. "Saya lihat disini ada gedung yang ruangannya kosong tidak digunakan karena rusak dan takut ambruk. Nah, ini mungkin bisa didahulukan untuk diperbaiki, untuk mengurangi antrian pasien rawat inap," terangnya. Lebih lanjut Buysro memaparkan, RSD Sumenep mendapat kucuran dana Rp 10,9 milyar dari APBD, untuk pasien Jamkesda yang dirawat di kelas III. "Kami memberi perhatian serius pada pasien dari warga miskin yang dirawat inap di rumah sakit secara gratis di kelas III. Makanya kami siapkan dana khusus," ungkapnya. Ia menambahkan, karena saat ini rumah sakit daerah sudah berstatus sebagai BLUD, maka pengelolaan keuangan langsung dilakukan oleh rumah sakit, tanpa melalui APBD. "Tahun 2011, retribusi yang masuk ke kas daerah dari rumah sakit sebesar Rp 18,9 milyar. Kalau tahun ini, retribusinya tidak lagi masuk ke kas daerah, tapi dikelola sendiri oleh rumah sakit. Ini supaya mereka bisa lebih berkreasi untuk peningkatan pelayanan terhadap pasien," ucapnya.

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/11/Pendidikan_&_Kesehatan/2012-0122/124671/Pasien_RSD_Sumenep_Membludak

RS Sumenep Rawat Puluhan Pasien DBD


Seiring tingginya curah hujan bulan ini, warga yang terserang Demam Berdarah Dengoe (DBD) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur terus bertambah dan dalam waktu sekitar seminggu ini sudah puluhan penderita dirawat di rumah sakit setempat. Dalam kurun waktu satu minggu ini, sudah 31 penderita DBD dirawat di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Moh Anwar Sumenep dan dua diantaranya meninggal dunia, kata Direktur RSD Moh Anwar Kabupaten Sumenep, Dr Dzulkifli Mahmudz, Rabu. "Setiap hari pasien DBD tidak pernah kosong. Mereka mayoritas anak-anak usia 10 tahun ke bawah," kata Dzulkifli. Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep, Dr Susiyanto, mengatakan, untuk menekan angka kasus DBD, Dinkes telah aktif melakukan sosialisasi dan pengasapan (fogging) di sejumlah daerah rawan. "Kami akan berupaya maksimal agar kasus DBD dapat ditekan," katanya. Pemerintah Kabupaten Sumenep juga telah menyiagakan petugas-petugas kesehatan di Puskesmas dalam 24 jam. Di Sumenep, DBD antara lain menyerang Kecamatan Batang-Batang, Dongkek, dan Kecamatan Saronggi
http://devsite.sabak.org/arsada/berita-2.php

http://staff.ui.ac.id/internal/140163956/material/RumahSakitSebagaiBadanLayananUmum.pdf

Bertekad Tingkatkan Pelayanan


July 19th, 2012 | Cat: Kesehatan

Sertijab Direktur RSUD dr H Moh. Anwar KOTA-Pucuk pimpinan di RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep, kini berganti orang. Selasa (17/7) lalu, bertempat di Aula Pertemuan RSUD yang sudah berstatus badan layanan umum daerah (BLUD) ini, berlangsung serah terima jabatan (sertijab) dari direktur lama dr Susianto ke direktur yang baru dr Fitril Akbar.

Acara yang digelar sekitar pukul 10.00 tersebut, berlangsung sangat khidmat dan penuh rasa haru. Terutama, saat semua karyawan akan ditinggalkan oleh direktur lama karena sudah memasuki masa pensiun. Seperti biasa, pada saat sertijab, antara pejabat lama dan yang baru memberikan sepatah kata terkait kesan selama dia men-jabat dan target ke depan bagi direktur yang baru. Saat sambutan, direktur lama RSUD dr Susianto menyatakan, selama pihaknya menakhodai RSUD yang beralamat di Jalan dr Cipto itu, sudah banyak hal yang dilakukan, baik di bidang pelayanan maupun yang lain. Namun, kata mantan kepala dinas kesehatan ini, hal itu harus ditingkatkan oleh direktur yang baru, agar ke depan RSUD dr Moh. Anwar semakin terdepan dalam segala hal. Baik pelayanan prima terhadap pasien maupun di bidang manajemen yang lain. Karakter melayani harus mengakar di semua lini, dari semua struktur yang ada di manajemen rumah sakit kita ini, katanya. Sementara, direktur yang baru dr Fitril Akbar MKes sangat siap melanjutkan hal-hal baik yang telah diterapkan kepemimpinan sebelumnya. Dengan harapan, saran dan masukan dari elemen terkait, terutama dari mantan direktur RSUD dr Susianto. Kita adalah kerja tim, maka kekompakan dan keterlibatan secara nyata dari jajaran terkait di RSUD menjadi modal utama kesuksesan dalam pelayanan, tandas mantan Kabid Penunjang RSUD dr Moh. Anwar ini. Saat itu, direktur sempat mengulas ulang terkait visi misi lembaganya. Yaitu, rumah sakit yang terbaik dan dikagumi dan menjadi pilihan utama masyarakat. Dengan misi, rumah sakit yang tepercaya, paling sehat dan inovatif dengan mengedepankan kebutuhan masyarakat, katanya. Dia juga mengaku siap membuat terobosan baru demi pelayanan di lembaganya.
http://www.sumenep.in/bertekad-tingkatkan-pelayanan.html