Anda di halaman 1dari 10

I.

JUDUL Melaksanakan Proses Sublimasi mengikuti Prosedur Kerja

II.

SUB JUDUL Proses Sublimasi pada Campuran Kapur Barus dan Pasir

III.

TUJUAN Mengidentifikasi prinsip prinsip dalam proses sublimasi

IV.

DASAR TEORI Sublimasi adalah proses perubahan zat padat menjadi uap dan uap akan terkondensasi langsung menjadi padat tanpa melalui fasa cair.Berdasarkan diagram tekanan suhu (PT) untuk air,sublimasi akan terjadi untuk zat yang mempunyai titik triple diatas titik tripel air.Sehingga pada kondisi kamar zat tersebut dari fasa padat dapat langsung berubah menjadi uap atau sebaliknya tanpa melalui fasa cair. Salah satu perubahan wujud yang dapat digunakan untuk pemisahan campuran adalah menyublim atau sublimasi. Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu, maka partikel tersebut akan menyublim menjadi gas. Sebaliknya, bila suhu gas tersebut diturunkan, maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi padat. Sublimasi merupakan cara yang digunakan untuk pemurnian senyawa senyawa organic yang berbentuk padatan.pemanasan yang dilakukan tehadap senyawa organic akan menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut: apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu zat tersebut akan meleleh kemudian mendidih. Disini terjadi perubahan fase dari padat ke cair lalu kefase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan cair. Pada tekanan dan temperature tertentu (pada titik didihnya) akan berubah menjadi fase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan dan temperature tertentu akan lansung berubah menjadi fase gas tanpa melalui

fase cair terlebih dahulu. Zat padat sebagai hasil reaksi biasanya bercampur dengan zat padat lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan zat-zat padat yang kita inginkan, perlu dimurnikan terlebih dahulu. Prinsip proses ini adalah perbedaan kelarutan zat pengotornya. (Underwood,2002:169). Sublimasi adalah salah satu pemisahan zat-zat yang mudah menyublim. perubahan wujud zat padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suatu zat diberikan kenaikan suhu maka partikel tersebut akan menyublim menjadi gas, sebaliknya jika suhu gas tersebut diturunkan maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi panas. Gas yang dihasilkan ditampung lalu didinginkan kembali. Syarat pemisahan campuran pada sublimasi adalah partikel yang bercampur harus memiliki perbedaan titik didih yang besar sehingga kita dapat menghasilkan uap dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Begitupun syarat sampel untuk sublimasi adalah dengan sifat kimia mudah menguap agar mudah proses sublimasinya. Pada percobaan sublimasi, Pemurnian naftalen dengan menggunakan proses sublimasi dikarenakan karena sifat naftalen yang mudah menyublim dan merupakan padatan Kristal yang tak bewarna (Riswiyanto,2003). Reaksi dari naftalen berlangsung dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan zat padat dalam proses sublimasi mengalami proses perubahan langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan atau kristalkembali. Sehingga dalam proses sublimasi, naftalen tidak berubah menjadi senyawa lain, hanya beubah bentuk (fase) dari padat ke gas. Naftalena (C10H8) merupakan senyawa murni pertama yang diperoleh dari fiksasi didih lebih tinggi dari batu bara. Naftalen mudah di isolasi karena senyawa ini menyublim dari gas sebagai padatan Kristal tak bewarna yang indah, dengan titik leleh 800C. naftalen merupakan molekul planar dengan dua cincin benzene yang berfusi (bergabung). Sedangkan naftol merupakan senyawa yang mempunyai struktur yang mirip atau hampir sama dengan naftalen kecuali ada gugus OH yang berada pada struktur naftol sehingga naftalena dan naftol bukan senyawa yang sama melainkan senyawa yang berbeda. Untuk memisahkan kedua senyawa ini, metode ekstraksi tidak dapat

langsung digunakan melainkan salah satu senyawa tersebut harus ditransformasi menjadi ion sehingga mempunyai kelarutan berbeda (Hart,2003;145-146). a) Sifat Fisika Massa Molar Kepadatan Titik Lebur Titik Didih Kelarutan dalam air 128,17052 g 1,14 g/cm3 80,26 C, 353 K, 176 F 218 C, 491 K, 424 F 30 mg/L

b) Sifat Kimia
Hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan berwarna putih dengan rumus molekul C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang bersatu. Senyawa ini bersifat volatil, mudah menguap walau dalam bentuk padatan. Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar. Naftalena paling banyak dihasilkan dari destilasi tar batu bara, dan sedikit dari sisa fraksionasi minyak bumi. V. WAKTU dan TEMPAT Waktu Tempat VI. : 30 September 2012 : Laboratorium Organik, SMK Negeri 1 Bontang

ALAT dan BAHAN Alat yang digunakan : Beaker Glass Kaca Arloji Kaki Tiga Kasa Asbes Pembakar Spiritus Neraca Analitik Pengaduk

Bahan yang dibutuhkan : VII. Kapur barus atau naftalen Pasir halus Es batu

PROSEDUR KERJA 1) Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan 2) Dirangkai alat untuk sublimasi 3) Ditimbang kapur barus dan pasir dengan perbandingan 1:1. Yaitu, 2 gram kapur barus dan 2 gram pasir menggunakan kaca arloji 4) Kapur barus dan pasir yang telah ditimbang dimasukkan kedalam beaker glass, sedangkan kaca arloji diletakkan diatas beaker glass. Dan diatas kaca arloji diberi es batu 5) Dinyalakan Bunsen dan dipanaskan belerang didalam beaker glass, biarkan sampai semua kapur barus yang ada di dalam campuran menguap. Setelah itu matikan lampu bunsen 6) Amati apa yang terdapat di bawah cawan porselein setelah beberapa saat 7) Setelah semua kapur barus tersublimasi, timbang kristal kapur barus murni (minimal 1 gram)

VIII.

RANGKAIAN ALAT

Kasa asbes Kaki Tiga Pembakar Spiritus

IX.

DATA PENGAMATAN Bahan yang digunakan : a) Kapur Barus 2 gram b) Pasir 2 gram Sifat sifat kapur barus : a) Berbau menyengat b) Berwarna putih c) Berbentuk padatan Yang harus dicatat : a) Waktu selama proses sublimasi b) Pengambilan kapur barus murni c) Perhitungan massa kapur barus yang akan disublimasi d) Perhitungan rendemen kapur barus murni

Penimbangan kapur barus dan pasir untuk sublimasi a) Kapur barus Massa kaca arloji Massa kapur barus (rezero) b) Pasir Massa kaca arloji Massa pasir (rezero) = 32,9990 gram = 2,0002 gram = 32,9981 gram = 2,0020 gram

Selanjutnya, dilakukan sublimasi dengan data yang diperoleh adalah sebagai berikut. Waktu 00:00 Pengamatan Mulai dilakukan praktikum sublimasi kapur barus dan pasir. 01:30 01:45 02:133 Es diatas kaca arloji mulai mencair akibat dilakukan pemanasan. Campuran kapur barus dan pasir didasar beaker glass mulai mencair. Campuran kapur barus dan pasir mulai mendidih pada beberapa sisi beaker glass. 02:45 04:05 05:05 Ruang pada beaker glass terisi uap namun masih tipis. Campuran mulai mendidih secara merata. Terbentuk pisahan uap dan cairan. Pada bagian atas ruang beaker glass uap lebih tebal. Sedangkan bagian bawah berembun. 05:53 07:17 08:50 10:15 Mulai terbentuk kristal pada bagian bawah kaca arloji. Kristal yang terbentuk semakin bertambah. Seiring dengan terbentuknya kristal, uap yang

terbentuk juga semakin tebal. Pada dinding beaker glass mulai mencair (embun) keatas. Sehingga uap terus berkurang. 12:20 Pada mulut beaker glass, terdapat kristal juga.

17:05

Kristal juga menempel di dinding beaker glass bagian atas.

20:20 20:55

Kristal yang terbentuk seperti jarum. Embun di dinding beaker glass menurun kedasar beaker glass.

22:50

Sublimasi dihentikan dan dihitung kapur barus murni yang terbentuk.

Nb : Dikerik hanya bagian yang berwana putih (warna kristal). Penimbangan hasil sublimasi a) Kapur barus Massa kaca arloji Masa kaca arloji + kapur barus murni Kapur barus murni b) Pasir Massa kaca arloji Massa kaca arloji + pasir Pasir Perhitungan rendemen hasil sublimasi a) Kapur barus Rendemen = = = b) Pasir Rendemen = = = Hasil sublimasi campuran kapur barus dan pasir : a) Kapur barus murni yang terbentuk kristal jarum, berwarna putih, tidak berwarna. = 32,8239 gram = 34,5054 gram = 1,9682 gram = 32,8239 gram = 33,8243 gram = 1,0004 gram

X.

PEMBAHASAN Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih dahulu. Misalkan es yang langsung menguap tanpa mencair terlebih dahulu. Pada tekanan normal, kebanyakan benda dan zat memiliki tiga bentuk yang berbeda pada suhu yang berbeda-beda. Pada kasus ini transisi dari wujud padat ke gas membutuhkan wujud antara. Namun untuk beberapa antara, wujudnya bisa langsung berubah ke gas tanpa harus mencair. Ini bisa terjadi apabila tekanan udara pada zat tersebut terlalu rendah untuk mencegah molekul-molekul ini melepaskan diri dari wujud padat. Pemurnian dengan metoda sublimasi ini dapat dilakukan karena adanya perbedaan kemampuan untuk menyublim pada suhu tertentu antara zat murni dan pengotornya. Pemurnian kapur baru atau naftalen dengan menggunakan proses sublimasi dilakukan dikarenakan karena sifat kapur barus yang mudah menyublim dan merupakan padatan Kristal yang tak berwarna. Pada percobaan sublimasi ini 2 gram kapur barus dan 2 gram pasir dimasukkan kedalam beaker glass. Kemudian beaker glass tersebut ditutup dengan menggunakan kaca arloji. Lalu letakkan es batu diatas kaca arloji. Selanjutnya dipanaskan dengan api kecil. Pembakaran dihentikan setelah semua zat yang akan di sublimasi habis yaitu 25 menit. Zat-zat berupa kristal yang ada pada kaca arloji dikumpulkan dan dihitung persentase rendemen hasil sublimasi. Hasil yang diperoleh dari percobaan ini yaitu terbentuknya kristal kapur barus bewarna putih berbentuk seperti jarum - jarum. Kristal kapur barus yang diperoleh ditentukan persentase rendemen hasil sublimasi (kapur barus atau naftalen dan pasir). Pada praktikum ini tidak dilakukan uji titik leleh, namun bertujuan untuk mendapatkan kapur barus murni serta menghitung rendemennya. Reaksi dari kapur barus berlangsung dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan zat padat dalam proses sublimasi mengalami proses perubahan langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan atau kristal kembali. Sehingga dalam proses sublimasi, kapur barus

tidak berubah menjadi senyawa lain, hanya berubah bentuk (fase) dari padat ke gas. Berdasarkan perhitungan rendemen kapur barus murni dan pasir yang terbentuk denagn hasil rendemen kapur barus murni 49,97% dan pasir 98,40%. Nilai rendemen tidak terlalu akurat (tidak mendekati 100% untuk kapur barus). Hal ini disebabkan : a) b) Kapur barus dan pasir kurang merata saat pengadukan, sehingga kapur barus dan pasir mengelompok dan tercecer. Karena beaker glass yang digunakan besarnya tidak sesuai dengan kaca arloji yang digunakan. Sehingga uap saat pemanasan dapat keluar ke lingkungan melalui mulut beaker glass. c) Luas permukaan beaker glass yang besar, sehingga kristal belerang tersebar ke segala bagian bawah beaker glass, baik di tengah ataupun disampingannya, sehingga menyulitkan ketika dilakukan pengambilan dengan spatula. d) Saat pengerikan, tidak semua kapur barus yang dapat dikerik, sehingga ada yang masih tertinggal pada beaker glass. XI. KESIMPULAN Sublimasi zat padat adalah analog dengan proses distilasi dimana zat padat berubah langsung menjadi gasnya tanpa melalui fasa cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan. Setelah dilakukan pemurnian zat (kapur barus dan pasir) diperoleh mass kristal kapur barus murni adalah 1,0004 gram. Dihitung juga % remendemen kristal kapur barus adalah 49,97%. Bentuk kristal kapur barus adalah Kristal jarum. Sedangkan mass pasir yang diperoleh setelah dilakukan sublimasi adalah 1,9682 gram dengan %rendemennya 98,40%. XII. SARAN a) Perhatikan arahan guru saat menjelaskan cara kerja dalam proses sublimasi. b) Gunakan waktu semaksimal mungkin agar waktu tidak terbengkali.

c) Kumpulkan data data yang dianggap penting, agar data selama praktikum tidak sia sia. XIII. DAFTAR PUSTAKA http://www.wikipedia.com/Sublimasi-(kimia).htm http://kusnandini.wordpress.com/2011/04/30/pemisahan-dan-pemurnian-zatpadat http://www.wikipedia.com/Sublimasi-(kimia).htm Bontang, 6 September 2012 Instruktur, Praktikan,

Selfi Sukmawati H, S.Pd NIP 197309132003122002

Anisa Diassaputri NIS 110102005