Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)

1. DEFINISI Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995 ; 341). 2. ETIOLOGI 1. Virus dengue Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36). 2. Vektor Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420). Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk

tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37). 3. Host Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38).

3. PATOFISIOLOGI Infeksi Virus Dengue Terbentuk komplek antigen-antibodi Mengaktivasi sistem komplemen PGE2 Hipotalamus Perbanyak diri di hepar Hepatomegali Mual-Muntah

Dilepaskan C3a dan C5a (peptida) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Melepaskan histamine Permeabilitas membran meningkat Kebocoran plasma Hipovolemia Renjatan hipovolemi dan hipotensi Kerusakan pembuluh darah Kekurangan volume cairan Agregasi Trombosit

Peningkatan suhu tubuh

endotel

Ke ekstravaskuler

Trombositopenia

Merangsang dan Mengaktivasi faktor pembekuan Dalam jangka waktu lama menurun dan terjadi DIC

Efusi pleura dan asites Gangguan pertukaran gas Intoleransi activity Perdarahan

Gangguan perfusi jaringan Hipoksia jaringan Asidosis Metabolik Kematian

Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi virus juga menimbulkan Agregasi trombosit

sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular, (2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan. Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler; (2) kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati; trombositopenia; dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419). 4. MANIFESTASI KLINIS INFEKSI VIRUS DENGUE 5. Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. (Soedarto, 1990 ; 39). 6. Perdarahan Perdaran biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. ( Soedarto, 1990 ; 39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995 ; 349).

7. Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . (Soederita, 1995 ; 39). 8. Renjatan (Syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. (soedarto ; 39). 9. KLASIFIKASI DHF Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 derajat (WHO, 1997) yaitu : a. b. c. Derajat I lain. Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi gelisah. d. Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. 10. TANDA DAN GEJALA Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah : - Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. - Asites - Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) - Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma. - Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium, muntah muntah, diare maupun obstipasi dan kejang kejang. (Soedarto, 1995 ; 39). 11. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSA Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga : Demam dengan test rumple leed positif. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan

dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni : Trombositopenia (< 100.000 / mm3) , Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia (mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis (UPF IKA, 1994). Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI (Haemaglutination ingibition) (Who, 1998 ; 69), yang hasilnya adalah Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya, titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560. Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium rekonvalensi tidak naik lagi. (UPF IKA, 1994 ; 202) Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis xfoto dada, elektro kardio gram, kreatinin serum. Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1997: Klinis: Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari. Menifestasi perdarahan petikie, melena, hematemesis (test rumple leed). Pembesaran hepar. Syock yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan darah menurun, akral dingin dan sianosis, dan gelisah. Laboratorium: Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%. 12. DIAGNOSA BANDING 1. Belum / tanpa renjatan : 1. Campak 2. Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis, demam dari kelompok pnyakit exanthem, hepatitis, chikungunya) 2. Dengan renjatan 1. Demam tipoid 2. Renjatan septik oleh kuman gram negatif lain 3. Dengan perdarahan 1. Leukimia 2. Anemia aplastik

4.

Dengan kejang Ensefalitis meningitis

13. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn didasarkan atas meutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. (Soemarmo, 1998 ; 56) Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo, 1998 ; 57) 1) manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS 2) memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia. 3) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. 4) Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi Menurut Rezeki S, 1998 : 22, Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan melakukan 3M yaitu 1) Menguras tempat tampet penampungan air secara teratur sekurang kurangnya sxeminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya 2) Menutup rapat rapat tempat penampung air dan 3) Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan seperti dilanjutkan di baliknya. 14. PENATALAKSANAAN Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah, 12995 ; 344) Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit ( Purnawan dkk, 1995 ; 571)

Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA, 1994 ; 203) yaitu: Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejangkejang. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet positif/negatif, kesakitan, Hb dan Ht/PCV meningkat, Panas disertai perdarahan, Panas disertai renjatan. Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA, 1994 ; 203 206 adalah. 1. Belum atau tanpa renjatan: Grade I dan II Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan surface cooling. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen,asetosal tidak boleh diberikan Umur 6 12 bulan : 60 mg / kaji, 4 kali sehari Umur 1 5 tahun : 50 100 mg, 4 sehari Umur 5 10 tahun : 100 200 mg, 4 kali sehari Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari Terapi cairan 1) Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama sama di berikan minuman oralit, air bauh susu secukupnya 2) Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak banyaknya dan sesering mungkin. 3) Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut : 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat. 2. Dengan Renjatan ; Grade III 1. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut : 2. 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg. 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg. 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.

Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

3.

Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

15. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN 1. IDENTITAS Umur: DHF merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995). Jenis kelamin: secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki.

Tempat tinggal: penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja, kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di Indonesia, bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat.

2. KELUHAN UTAMA Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun. 3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sering terdapat riwayat sakit kapala, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, panas. Sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati, mual, muntah dan penurunan nafsu makan. 4. RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang dengan strain yang berbeda. 5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Penyakit ini tidak ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu. Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. 6. RIWAYAT KESEHATAN LINGKUNGAN DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk, yaitu 2 nyamuk aedes: Aedes aigepty: Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah, yaitu pada tempat penampungan air bersih, seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. Dengan jarak terbang nyamuk + 100 meter. 1. Aedes albapictus. Riwayat Tumbuh Kembang Teori Kepribadian anak Menurut Teori Psikoseksual Sigmund Freud Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan, kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya. Tiori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 - 1939). Meliputi tahap-tahap : 7. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG

a. b. c. d. e.

Fase oral, usia antara 0 - 11/2 Tahun Fase anal, usia antara 11/2 - 3 Tahun Fase Falik, usia antara 3 - 5 Tahun Fase Laten, usia antara 5 - 12 Tahun Fase Genital, usia antara 12 - 18 Tahun

Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial Erik Erikson. Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan. a. b. c. d. e. f. g. h. Bayi (oral) usia 0 - 1 Tahun Usia bermain (Anal ) yakni 1 - 3 Tahun Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 - 6 Tahun Usia sekolah (latent) yakni 6 - 12 tahun Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih Remaja akhir dan dewasa muda Dewasa Dewasa akhir BILA TUGAS PERMKEMBANGAN Bayi (0 - 1 tahun) Rasa percaya mencapai harapan, Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri. Usia bermain (1 - 3 Tahun) Perasaan otonomi. Mencapai keinginan Memulai kekuatan baru Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan Usia pra sekolah ( 3 - 6 Tahun) Perasaan inisiatif mencapai tujuan Menyatakan diri sendiri dan lingkungan Membedakan jenis kelamin. Usia sekolah ( 6 - 12 Tahun) Perasaan berprestasi Rasa rendah diri Rasa bersalah. Malu dan ragu-ragu TIDAK TERCAPAI Tidak percaya

TUGAS PERKEMBANAGAN

Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru Remaja ( 12 tahun lebih) Rasa identitas Mencapai kesetiaan yang menuju pada pemahaman heteroseksual. Memilih pekerjaan Mencapai keutuhan kepribadian Remaja akhir dan dewasa muda Rasa keintiman dan solidaritas Memperoleh cinta. Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis. Belajar menjadi kreatif dan produktif. Dewasa Perasaan keturunan Memperoleh perhatian. Belajar keterampilan minat efektif aktifitas dalam pada keputusasaan berkomunikasi dan merawat anak Menggantungkan keturunan Dewasa akhir Perasaan integritas Mencapai kebijaksanaan 8. RIWAYAT IMUNISASI Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak. 9. RIWAYAT NUTRISI Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. Status Gizi =
BBSekarang 100 % BBideal

Difusi identitas

Isolasi

Absorpsi diri dan stagnasi

Klasifikasinya sebagai berikut : Gizi buruk kurang dari 60% Gizi kurang 60 % - <80 % Gizi baik 80 % - 110 %

Obesitas lebih dari 120 % 10. DAMPAK HOSPITALISASI Sumber stressor : 1. Perpisahan a. Protes : pergi, menendang, menangis b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi 2. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut. 3. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. 4. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan. 2. PEMERIKSAAN FISIK / PENGKAJIAN PERSISTEM 1. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak, perdarahan melalui hidung (epistaksis), pernapasan dangkal, tachypnea, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, effusi pleura (crackless). 2. Sistem Cardiovaskuler Pada grade I : uji tourniquet positif, trombositipenia, perdarahan spontan dan hemokonsentrasi.Pada grade II disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah (tachycardia),tekanan nadi sempit, grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. 3. Sistem Persyarafan / neurologi Pada grade I dan II kesadaran compos mentis. Pada grade III dan IV gelisah, rewel, cengeng apatis sopor coma. Grade 1 sampai dengan IV dapat terjadi kejang, nyeri kepala dan nyeri di berbagai bagian tubuh, penglihatan fotopobia dan nyeri di belakang bola mata. 4. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam terutama pada grade III, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah. 5. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa disertai dengan ikterus, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, kulit dingin dan lembab.Pada

abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena). 6. Sistem integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering dan ruam makulopapular 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. 3. 4. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. 5. 6. 7. Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factorfakto pembekuan darah ( trombositopeni ) Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

4. INTERVENSI & RASIONAL 1. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan. Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 37, membran mukosa basah, nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt), Nyeri otot hilang. Intervensi : a. Berikan kompres (air biasa / kran). Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi b. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. c. Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah

menyerap keringat pada klien. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai program. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien. 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt), Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill < 3 detik, Pulsasi kuat. Intervensi : a. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b. c. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer Observasi intake dan output. Catat jumlah, warna, konsentrasi, BJ urine. Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. d. e. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral Kolaborasi : Pemberian cairan intravena, plasma atau darah. Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. 3. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a. Monitor keadaan umum pasien Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat. e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. 4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan berat badan, Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien, mual dan muntah berkurang. Intervensi : a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi b. Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas

intervensi. d. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. e. f. Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Rasional : : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. g. h. i. j. k. 5. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan bagi proses penyembuhan. Sajikan makanan dalam keadaan hangat. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual. Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat. Observasi porsi makan klien, berat badan dan keluhan klien.

Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ). Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan. Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, tidak ada perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan melena), trombosit dalam batas normal (150.000/uL). Intervensi : a. Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. b. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan, dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi, hidung(epistaksis), berak darah (melena), atau muntah darah (hematemesis). Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. c. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital

(tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan). Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. d. e. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap). Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tandatanda klinis seperti epistaksis, ptike. f. Monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien. g. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata. Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Mansjoer, Arif & Suprohaita. (2000). Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Jakarta. Ngastiyah (1997). Perawatan Anak Sakit. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Soeparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Penerbit FKUI. Jakarta. Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta. Suharso Darto (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi. F.K. Universitas Airlangga. Surabaya.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DHF PADA AN. DI RUANG PAV V RUMKITAL Dr. RAMELAM SURABAYA I. I. PENGKAJIAN IDENTITAS KLIEN Nama Jenis Kelamin Umur Anak ke Nama Ayah Nama Ibu Pendidikan Ayah Pendidikan Ibu Pekerjaan Ayah Pekerjaan Ibu Agama Suku Alamat Tanggal MRS Diagnosa Medis Sumber Informasi Pengkajian tanggal : An. A : Laki-laki : 4 tahun :I : Tn. A : Ny. S : SMU : SMU : TNI AL : IRT : Islam : Jawa : Trosobo, Sidoarjo : 08 Desember 2009 : DHF : Klien dan orang tua klien. : 09 Desember 2009

Tempat Tanggal Lahir : Banyumas, 27 Januari 2005

II. RIWAYAT KEPERAWATAN 1. Riwayat Keperawatan Sekarang 1) Keluhan Utama :Ibu klien mengatakan anaknya panas dan tidak mau makan 2) Lama keluhan : Sejak 4 hari yang lalu 3) Akibat timbulnya keluhan : Anak tampak lemah 4) Faktor yang memperberat : Klien sering menangis dan tidak mau makan. 5) Upaya untuk mengatasi : Ibu klien telah mengompres anaknya dan memberi obat penurun panas yang di jual di toko dekat rumah, tapi karma panas tidak turun, kemudian oleh ibu klien dibawa ke UGD Rumah Sakit Dr. Ramelan Surabaya, pada tanggal 8 Desember 2009 dengan keluhan panas, tidak mau makan. Setelah dari UGD klien dipindah di PAV 5

untuk menjalani rawat inap. 2. Riwayat Keperawatan Sebelumnya 1) * Prenatal : Selama hamil ibu tidak pernah sakit, minum obat-obatan maupun minum jamu-jamuan. Tidak mempunyai penyakit DM, TBC, Hipertensi dan alergi obat. * Natal : Anak lahir pada usia kehamilan 9 bulan, dengan berat badan lahir 3400 gram, panjang badan 50 cm, ditolong bidan. Lahir spontan langsung menangis, warna kulit merah.Tidak ada penyulit dalam persalinan. * Post-Natal : Perkembangan dan pertumbuhan sampai anak berumur 4 tahun berjalan normal. 2) Tumbuh kembang: 3) Tahap tumbuh kembang anak Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 - 6 Tahun

Pertumbuhan Klien seorang anak laki-laki berumur 4 tahun dengan berat badan 14 Kg. Menurut keluarga, klien adalah anak yang penurut, klien memiliki banyak teman dirumah. Ketika klien diajak bicara oleh tim kesehatan, baik perawat maupun dokter serta tenaga kesehatan lainnya, klien mau menjawab dan tampak tidak merasa takut. Ketika akan dilakukan suatu tindakan pertama klien merasa takut tetapi kemudian setelah diberikan penjelasan klien mau dilakukan tindakan, walaupun rasa takut masih tampak. Perkembangan Psikososial ; klien belum sekolah, termasuk anak yang patuh di rumah, klien suka bermain dengan teman-temannya, hubungan dengan teman sebaya baik. Psikoseksual : klien punya banyak teman sebayanya, anak senang bila dikasih banyak mainan, anak merasa senang bila main bola.

4) Imunisasi : Ibu klien mengatakan mendapatkan imunisasi lengkap : BCG, Polio 3x, DPT 3x Campak 1x dan Hepatitis 3x. 5) Dampak hospitalisasi : Anak takut pada suntikan dan keluarga merasa cemas karena anaknya masuk ke RS dan menangis terus. 6) Status gizi : Ibu klien mengatakan bahwa klien sangat sulit makannya, serta minum susu juga sangat sulit, kadang-kadang klien mau minum susu hanya susu coklat dan tidak setiap hari. Ibu klien mengatakan bahwa sudah membeikan vitamin untuk nafsu makan tetapi tetap makannya sangat sulit. Kadang-kadang tidak mau makan. Kalau sudah tidak mau makan ibu klien

tidak pernah memaksakan untuk makan. Ibu klien mengatakan bahwa sudah berusaha menawarhan makanan yang disukai. Sejak MRS klien sulit makan, klien mengeluh mual dan merasa ingin muntah.BB sebelum MRS 16 kg, setelah MRS 14 kg. Umur 1-6 tahun : BB Normal =Umur (tahun) x 2 + 8 = 4x 2 +8 = 16 kg Jadi berat badan klien kurang dari normal. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga 1) Komposisi keluarga : Klien merupakan anak tunggal dan tinggal bersama kedua orang tuanya. GENOGRAM

: laki-laki / perempuan meninggal : laki-laki / perempuan hidup : Garis keturunan : Garis perkawinan : Pasien --------------- : Tinggal satu rumah 2) Lingkungan rumah dan komunitas : Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih, sekitar rumah terdapat sungai kecil, bak mandi dikuras setiap seminggu 1 kali. Menurut ibu lingkungan wilayah rumah klien pernah di fogging tapi sudah setahun yang lalu, setelah itu belum pernah di fogging lagi. Tinggal dalam satu rumah dengan jumlah penghuni 3 Orang. 3) Pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga : Klien belum bersekolah dan tahun depan berencana untuk sekolah di Taman Kanak-kanak.

4) Kultur dan kepercayaan : Ibu klien menganggap penyakit yang didereita klien adalah suatu cobaan dari Tuhan, dan ibu klien percaya bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. 5) Fungsi dan hubungan keluarga : Keluarga sangat khawatir terhadap penyakit anaknya dan sangat mengharapkan klien cepat sembuh, apapun akan dilakukan oleh keluarga untuk kesembuhan anaknya. 6) Persepsi keluarga tentang penyakit klien : Anggapan keluarga bahwa anaknya menderita penyakit berat dan harus segara ditangani. Menurut keluarga (Ibu) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit DHF. Ibu sangat gelisah atas keadaan anaknya ini. III. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : klien tanpak lemah S 1. : 38 C N : 116 X/menit TD : 100/70mmHg RR : 28X/menit Sistem Respirasi : Bentuk dada normal, Pergerakan napas simetris,bunyi nafas vesikuler tidak ada retraksi otot bantu nafas tidak ada, tidak terdapat pernapasan cuping hidung, batuk tidak ada, sputum tidak ada, pada saat pengkajian tanda-tanda epistaksis sudah tidak ada, Frekuensi napas 25x/menit. Bunyi nafas tambahan tidak terdengar. 2. Sistem Cardiovaskuler : TD : 100/70, nadi 116 x/mnt, tidak ada nyeri dada, irama jantung regular, bunyi jantung S1S2 tunggal, akral dingin, tidak terdapat tanda-tanda cyanosis, capiler refill < 3 detik, tidak terjadi perdarahan spontan, tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat, hanya tanda pethike bekas rumple leed. 3. Sistem Neurosensori : Kesadaran baik, kejang tidak ada, istirahat 8 jam /hari selama di rumah dan selama di RS 4 am /hari dan kadang-kadang terbangun. 4. Sistem Genitourinary : Bentuk alat kelamin normal dan bersih, frekuensi BAK 3-4x /hari, warna kuning agak pekat, produksi urin 500 cc /hari. 5. Sistem Gastrointestinal :

Mulut : mukosa bibir kering, lidah hiperemik, rongga mulut bersih dan tidak ada caries. Abdomen : bentuk normal, kembung, peristaltik lambung 8x/menit, terdapat nyeri tekan daerah hepar dan asites positif serta klien merasa mual. Nafsu makan menurun, anak hanya mau makan 3 sendok makan, minum tidak suka, harus dipaksakan baru mau minum. BAB : 1x /hari, konsistensi lembek, bau khas feses, warna kuning, 6. Sistem muskuloskeletal dan integumen : Kemampuan pergerakan sendi terbatas dengan dipasang infus.Kulit pucat, turgor baik,tidak ada oedema, akral hangat, tidak ada deformitas, keempat ekstremitas simetris, kekuatan otot baik. Pethikae bekas rumple leed, tidak terdapat perdarahan spontan pada kulit. 7. Sistem pengindraan Mata : pupil isokor, reflek cahaya positif, konjungtiva pucat, sklera tidak ikterik, tidak menggunakan kacamata. Hidung : bentuk normal Telinga : tidak berbau, pendengaran normal. 8. Sistem Endokrin : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan pembesaran kelenjar parotis. IV. DIAGNOSTIC TEST / PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : Tgl 08 Desember 2009 Leukosit Haemoglobin Hematokrit Trombosit Leukosit Haemoglobin Hematokrit Trombosit Eritrosit Leukosit Haemoglobin : 5000 /mm3 : 9,2 /g% : 28,4 % : 130.000 mm3 : 4200 /mm3 : 8,6 /g% : 26,3 % : 120.000 mm3 : 3,34 /mm3 : 3200 /mm3 : 8,6 /g%

Tgl 09 Desember 2009

Tgl 10 Desember 2009

Hematokrit Trombosit Eritrosit

: 25,7 % : 130.000 mm3 : 3,33 /mm3

V. PROGRAM TERAPI - Infus D5 1200 cc /24 jam - Minum manis - Vit B compleks 3 x 1 - Diet TKTP 1600 Kkal + 50 gr Protein. - Nasi 3 x sehari - Susu : 3 x 200 cc II. NO ANALISA DAN SINTESA DATA DATA S : Ibu klien mengatakan badan anaknya panas. O : Akral hangat Panas hari ke 4 TTV : S : 38C, Nadi 116 x/mnt, TD : 110/70, RR 28x/mnt. S : Ibu klien mengatakan anaknya tidak mau minum. O : Turgor kulit baik Mukosa bibir kering Urine warna kuning pekat. Panas hari ke 4 Trombosit ; 130.000 /mm3 TD : 110/70 mmHg, N ; 116x/mnt. S : Ibu klien menyatakan anaknya tidak mau makan, dan terasa mual. O : KU lemah Makan pagi hanya mau 3 sendok. BB : 14 kg. ETIOLOGI Proses infeksi virus dengue Viremia Thermoregulasi MASALAH Peningkatan suhu tubuh

Peningkatan suhu tubuh Volume plasma berkurang Kekurangan volume cairan

Kekurangan volume cairan

Nafsu makan menurun Resiko nutrisi kurang dari Intake nutrisi tidak adekuat kebutuhan tubuh Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

III.

DIAGNOSA KEPERAWATAN :

1. 2. 3.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun

IV. NO

INTERVENSI KEPERAWATAN No. Rekam Medis : 312914 KRITERIA INTERVENSI HASIL Kriteria : TTV 1. Berikan kompres air khususnya suhu biasa / kran dalam batas normal (360C 370C), 2. Anjurkan klien untuk Membran mukosa banyak minum 1500 basah, nadi dalam 2000 ml batas normal (80100 x/mnt). 3. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat. Hari Rawat ke : 2. RASIONAL

Nama Klien : Anak A DIAGNOSA TUJUAN KEPERAWATAN 1.Peningkatan suhu tubuh Tujuan jangka berhubungan dengan proses panjang : infeksi virus dengue setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan 1x24 jam suhu tubuh dalam batas normal Tujuan jangka pendek : setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan 1x3 jam suhu tubuh turun

Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi. Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine guna pembuangan panas lewt urine. Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas Deteksi terjadinya 4. Observasi intake dan out kekurangan volume put cairan tubuh. Menentukan intervensi 5. Observasi TTV setiap 1 lanjutan bila terjadi jam perubahan Antipireik berguna bagi 6. Kolaborasi untuk penurunan panas. pemberian antipiretik

2. ekurangan volume cairan Tujuan : Kriteria : Input dan 1. Observasi Vital sign setiap Mengetahui kondisi dan berhubungan dengan Tidak terjadi devisit output seimbang, jam atau lebih. mengidentifikasi

peningkaran suhu tubuh..

voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. Tujuan jangka panjang : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan 2x24 jam input dan output volume cairan seimbang. Tujuan jangka pendek : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan 1x24 jam klien mau minum.

Vital sign dalam batas normal (TD 110/70 mmHg, N: 2. Observasi capillary refill 80-120x/mnt), Tidak ada tanda 3. Observasi intake dan presyok, Akral output, catat jumlah, hangat, Capilarry warna, konsentrasi dan BJ refill < 3 detik, urine. Pulsasi kuat. 4. Kolaborasi pemberian cairan intra vena, plasma atau darah. 5. Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi)

fluktuasi cairan intra vaskuler. Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer. Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh peroral. Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok

3.Resiko nutrisi kurang dari Tujuan jangka panjang : kebutuhan tubuh berhubungan Setelah dilakukan dengan nafsu makan yang tindakan asuhan keperawatan 2x24 menurun. jam nutrisi dapat terpenuhi Tujuan jangka pendek :

Kriteria : Tidak ada 1 tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan 2 berat badan, Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan mampu 3 dihabiskan klien,

Kaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna Berikan makanan kecil tapi sering.

Menentukan selanjutnya.

intervensi

Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal. porsi Menghindari mual dan muntah

Setelah dilakukan mual dan muntah 4 tindakan asuhan berkurang. keperawatan 1x24 jam klien mau makan. 5 6

Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Kolaborasi pemberian cairan parenteral

Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak Beri makanan kesukaan Nutrisi parenteral sangat klien diperlukan jika intake peroral sangat kurang.

V. NO. DX

IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN No. Rekam Medis : 312914 JAM 12.00 1. 2. 3. 4. 5. 6. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Mengobservasi suhu : 38 0C,nadi : 116x/mnt, tensi : 110/70 mmHg. RR 28x/mnt. R/ : Klien kooperatif Mengkaji saat timbulnya demam. R/ : Ibu klien mengatakan saat siang hari suhu tubuh anaknya naik, dan turun pada sore hari. Mengobservasi intake dan out put. R/ : Ibu klien mengatakan anak tidak mau minum 3-4 gelas air putih/hari, BAK 500 cc Memberikan kompres dingin (air biasa / kran). R/ : Klien mau dikompres dengan washlap di dahi dan ketiak. Menganjurkan klien untuk banyak minum 6 8 gelas/hari. R/ : Klien mau minum hanya sedikit-sedikit Menganjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat. R/ : Klien mau diganti bajunya dengan baju yang lebih longgar dan tipis. Menjelaskan pada ibu penyebab timbulnya panas tubuh, panas tubuh disebabkan oleh masuknya virus Hari Rawat ke : 2. EVALUASI (SOAP) S : Ibu klien mengatakan panas badan mulai turun. O : Suhu : 37 5C Nadi :100 x/mt Membran mukosa basah Kompres dingin masih terpasang A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan

Nama Klien : Anak A TANGGAL 09-12-2009

7.

09-12-2009

16.00

dalam tubuh sehingga tubuh melakukan perlawanan terhadap virus tersebut dengan pengaktifan sistem komlemen sehingga sebagai kompensasi adalah timbulnya demam tubuh. R/ : Ibu klien mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh perawat. 8. Menjelaskan pentingya tirah baring adalah untuk menghindari berkembangnya invasi virus yang lebih luas. R/ : Ibu klien mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh perawat 9. Melanjutkan pemberikan cairan perinfus dan memantau tetesan infus D5 1200 cc / 24jam 10. Melakukan observasi : Suhu : 37 5 0C, Nadi :100 x/mt R/ : Klien kooperatif 1 1 Mengobservasi Vital sign setiap jam R/ : Klien kooperatif 1 1 Mengobservasi capillary refill R/ : Klien kooperatif 1 1 Mengobservasi intake dan output 1 1 Menganjurkan anak untuk banyak minum 6 8 gelas /hari (sesuai toleransi), memberikan susu 200 cc. R/ : Klien mau minum hanya sedikit-sedikit 1 1 Menjelaskan pada ibu tanda kekurangan cairan : torgor kulit jelek, bibir/ mulut

S : Ibu klien mengatakan anaknya sudah mulai mau minum O :Klien minum habis 5 gelas Tensi : 110/70 Nadi :100 x/mt Turgor kulit baik. Kulit tidak kering. Mukosa mulut basah. Tidak ada tanda pre shock. Akral hangat. Capilarry refill < 3 detik. Pulsasi kuat. A :Masalah teratasi sebagian

kering. R/ : Ibu klien mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh perawat 1 1 Melanjutkan pemberikan cairan perinfus dan memantau tetesan infus D5 1200 cc /24 jam. 09-12-2009 13.00 16. Mengkaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan. R/ : Ibu klien mengatakan anaknnya tetap tidak mau makan karena merasa mual 17. Memberikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna. R/ : Klien mau makan sedikit-sedikit 18. Menganjurkan makanan porsi kecil tapi sering, jika tidak ada mual muntah teruskan makan. R/ : Ibu mengerti penjelasan dari perawat 19. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. R/ : Ibu mengerti penjelasan perawat. 20. Memantau porsi yang dihabiskan klien. R/ : Klien habis porsi makan hanya 3 sendok makan. 21. Mejelaskan pentingnya nutrisi bagi tubuh yaitu untuk mengganti sel yang rusak, memenuhi kebutuhan asupan makanan, mempertahan kan kondisi tubuh. R/ : Ibu klien mengerti penjelasan klien 22. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral

P :Intervensi dilanjutkan

S :Ibu klien mengatakan nafsu makan masih kurang, kadang masih terasa mual. O :Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Terjadi penurunan berat badan. Nafsu masih menurun Porsi makanan yang disajikan hanya habis 3 sendok Mual dan muntah berkurang. A :Masalah teratasi sebagian P :Intervensi dilanjutkan

R/ : Klien terpasang infus D5 1200cc/24 jam

VI. CATATAN PERKEMBANGAN NO DX 1. TGL/JAM 10-12-2009 20.00 EVALUASI S : ibu klien mengatakan panas badan anaknya sudah menurun. O : S 37 C, membran mukosa basah, akral hangat A : Masalah teratasi P : Intervensi dipertahankan. S : Ibu klien mengatakan anaknya sudag mau minum banyak. O : Klien minum air putih 5 gelas dan 2 gelas susu/24jam Tensi : 110/70 Nadi :110 x/mt Turgor kulit baik. Kulit tidak kering. Mukosa mulut basah. Tidak ada tanda pre shock. Akral hangat. Capilarry refill < 3 detik. Pulsasi kuat. A : masalah teratasi P : intervensi dipertahankan, S :Ibu klien mengatakan nafsu makan mulai meningkat O :Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Nafsu makan meningkat Porsi makanan yang disajikan hampir habis 1 porsi Mual dan muntah sudah tidak ada.. A :Masalah teratasi P :Intervensi dipertahankan.

2.

10-12-2009 20.00

3.

10-12-2009